Masyarakat Dan Pendidikan Seni - MS Hutagalung

ADMIN SASTRAMEDIA 4/07/2020
Masyarakat Dan Pendidikan Seni 
Oleh MS Hutagalung



SASTRAMEDIA.COM - Dalam situasi nasib sastra atau seni umumnya yang suram dewasa ini, hati terdorong lagi menulis sesuatu. Tak kurang dari sastrawan sendiri, seperti Goenawan Mohamad yang sangat sangsi atas peranan sastra pada masyarakat kita dewasa ini. Juga ia sering mengungkapkan bahwa di negara Barat yang sangat maju, sastra yang banyak dibaca adalah mitos belaka. Puisi hanya dibaca oleh kalangan yang sangat terbatas. 

Pernyataan Goenawan di atas sebenarnya ada gunanya bagi orang yang masih sering bermimpi tentang "kejayaan sastra" dan bagi orang yang suka memistik-mistikkan peranan kesusastraan bagi kehidupan dewasa ini. Memang sebaiknya kita lebih realistis melihat atau menghadapi persoalan ini. Kalau kita suka melihat kenyataan, maka nyatalah bahwa sastra atau seni pada umumnya dewasa ini tak begitu berperan pada kehidupan kita. Kehidupan kita kini dikuasai oleh ilmu dan teknologi. Memang peranan sastra tidaklah begitu nyata, tetapi kita juga dapat memahami apabila bekas Menteri Agama Mukti Ali pernah berkata, bahwa hidup tanpa seni akan berarti kekasaran. Mungkin kita akan lebih dapat memahami betapa peranan kesenian itu bagi kehidupan kita, apabila kita mencoba membayangkan hidup kita ini tanpa seni, tanpa musik, tanpa sastra, dan lain-lain. Akan terbayang betapa gersangnya hidup ini bila tujuan kita hanya mencari nafkah sehari-hari dan berpikir hanya untuk menimbun barang-barang mewah. Saya menjamin bahwa banyak dari orang yang hidup sekarang, tak mungkin lagi hidup tanpa seni itu. 

Rasanya apa yang digambarkan oleh Goenawan di atas tidaklah seratus persen benar. Di negeri Belanda misalnya murid-murid sekolah menengah tahu isi buku-buku yang menonjol pada waktu itu di negerinya dan juga mengenai beberapa tokoh sastrawan luar negeri yang terkenal. Mereka juga mengenal buku-buku pengarang-pengarang mereka yang terkemuka. Buku pengarang terkenal seperti Jan Wolker, Cornelis van 't Reve dapat mengalami cetak ulang lebih dari sepuluh kali. Simon Carmigelt pasti menerbitkan buku kumpulan cerita-cerita pendeknya setiap tahun dengan oplah 20 ribu eksemplar dan saya pernah melihat kumpulannya yang sudah mengalami cetakan ketujuh. Pecandu seni pop juga berjubel di sana, tetapi tak kalah dengan jumlah penggemar pertunjukan berat: musik klasik, balet, drama, opera, dan lain-lain. Kita bisa tak kebagian karcis bila tak memesannya beberapa minggu atau sebulan sebelumnya. Dan baru-baru ini Prof. Paul Angle, penyair dari Amerika Serikat, bercerita bahwa di sana kumpulan sajak cukup laku, yang berarti banyak juga penggemar atau pembacanya. Kita perlu bertanya bukankah seni, sebagaimana juga olah raga dapat menyita sebagian dari waktu yang terasa berlebihan bagi remaja kita dewasa ini? Saya kira seni pada umumnya atau sastra pada khususnya akan dapat mengisi tempat kosong di hati mereka, mengurangi sedikit rasa frustrasi mereka. 

Melihat kehidupan seniman dewasa ini, memang banyak di antara orang tua yang tak ingin melihat anaknya kelak jadi seniman. Dan memang tak ada orang tua mau melihat anaknya menjadi susah dan melarat. Tetapi hemat saya pendidikan kesenian bukanlah terutama mendidik anak-anak menjadi seniman. Yang utama adalah agar anak-didik itu kelak menjadi pecinta seni atau paling sedikit dapat menghargai kesenian sebagai suatu hal yang ada gunanya bagi kehidupan. Dan menurut hemat saya, tak seorang pun pecinta seni merasa menyesal karena mereka sanggup menikmati pelbagai macam Kesenian, sebagaimana juga seseorang yang telah dapat membaca koran tidak ingin lagi menjadi buta huruf. Mereka bahkan merasa bersyukur karena dapat merasakan kenikmatan dan kegunaan seni itu dalam kehidupan mereka. 

Seperti telah saya kemukakan, seni atau sastra pada khususnya tidak hanya memberikan hiburan atau kesenangan, tetapi juga berguna memberikan rangsangan kepada kita untuk dapat lebih memahami dan menghargai kehidupan. Sastra sering memberikan kearifan-kearifan hidup yang terasa menarik karena penampilannya yang istimewa: dengan gaya yang menarik dan tidak menggurui pembaca. Dengan dapatnya para remaja menikmati dan memahami sastra, besar harapan bahwa mereka akan segera muak membaca bacaan-bacaan picisan yang biasanya bersifat pornografi. Di samping itu, sastra akan merangsang kegiatan-kegiatan penting dari diri mereka: kreativitas, kekayaan imajinasi, emosi, dan juga intelegensi. Tentu saja hanya bila sastra itu diajarkan dengan baik. Sudah sering saya ungkapkan bahwa secara potensial orang dapat menikmati seni. Apabila dewasa ini kita merasakan bahwa banyak orang tidak dapat menghargai seni yang agak lumayan, itu adalah disebabkan oleh kemampuan yang dimilikinya sejak kecil tidak dikembangkan. Menurut penelitian, bayi dan bahkan anjing dapat menjadi tenang dengan mendengar lagu klasik. Barangkali tak ada murid taman kanak-kanak yang tak gemar bernyanyi dan tak menikmati sajak lagu-lagu itu. Dan di mana-mana anak-anak selalu gemar mendengar cerita. Maka apabila kini kelihatannya orang tak dapat menghargai seni yang baik dan bacaan yang baik, maka hal itu adalah karena kesalahan kita: masyarakat dan para pendidik.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »