Peran Majalah Daya bagi Perkembangan Sastra Indonesia

ADMIN SASTRAMEDIA 6/18/2020
Peran Majalah Daya bagi Perkembangan Sastra Indonesia


Majalah Daya adalah sebuah majalah ilmiah populer yang terbit karena desakan masyarakat yang haus akan bacaan. Permintaan itu muncul karena majalah Panca Raja yang juga diterbitkan oleh Balai Pustaka berhenti terbit. Dikatakan ilmiah populer karena informasi dalam majalah Daya ini disajikan secara ringan dan dapat diterima oleh segala lapisan masyarakat.

Sesuai dengan alamat penerbitannya, Balai Pustaka, Jalan Dr. ImageWahidin No. 1, Jakarta Pusat, alamat majalah Daya pun bertempat di lokasi yang sama. Sebagai majalah dwimingguan, majalah ini hanya dapat bertahan sampai Nomor 4 saat memasuki Tahun II -(1950) sejak kelahirannya mulai Februari 1949.

Penyebarluasan majalah Daya mencapai wilayah dalam tingkat nasional. Kota-kota tempat agen surat kabar/majalah itu berada, antara Iain Bandung, Semarang, Banjarmasin, Surabaya, Denpasar, dan Singaraja dengan oplah lebih dari 10.000 eks.

Dapat dikatakan, majalah Daya adalah majalah ilmiah populer yang menyediakan rubrik kesusastraan berupa cerita pendek, puisi, dan esai sastra.

Karya-karya sastra yang dimuat dalam majalah Daya pernah terbit pula dalam bentuk buku cetak. Karya tersebut adalah cerpen-cerpen karya M. Balfas dan Pramudya Ananta Toer. Misalnya. cerpen "Si Enoh Buta" karya M. Balfas dimuat kembali dalam kumpulan cerpen Lingkaran-Lingkaran Retak terbitan Balai Pustaka (1952) dan cerpen "Mencari Anak Hilang" karya Pramudya Ananta Toer dimuat kembali dalam kumpulan cerpen Percikan Revolusi terbitan Balai Pustaka (1950).

Sajak yang dimuat, antara lain, adalah "Daya Hidup" (1949) karya A.A.; "Aku" (1949) karya Chairil Anwar; "Bunga Matahari dan Melati" (1949) karya Hajati; "Merana" (1949) karya Josha; "Guna Apa Kekayaan" (1949) karya MAS; "Gurindam" (1949) karya MB; "Isolasi" (1949), "Rabuk" (1949), "Seminar Kasih" (1949), "Sepantun Kupu" (1949) karya SK Muljadi; "Tak Putus Asa" (1949), "Waktu" (1949) karya Musi; "Diri Pelupa" (1949) karya M. Mustafa Aysa; "Kejauhan" (1949) karya Rachmat; "Kenangan Lama" (1949) karya Raif; "Insyaflah" (1949) karya Rajati; "Sunyi" (1949) karya Ravo; "Nanti" (1949), "Tak sampai Hatiku" (1949) karya Riff; "Padi Hampa" (1949) karya M. A. Salmun; "Getaran Jiwa" (1949) karya Soegiri; "Kukira" (1949) karya M. Thaib.

Cerita pendek yang dimuat, antara lain, adalah "Si Enoh Buta" (1949) karya M. Balfas; "Permulaan Hidup" (1949) karya Lily; "Awas Anjing Galak!" (1949), "Rekomba" (1949) karya S. Mundingsari; "Kuntum Zainab" (1949) karya Mutijar; "Bukan Pilihan" (1949), "Antara Mimpi dan Nyata" (1950) karya Nilakusuma; "Pelaut" (1949), "Kusir" (1950) karya Rijono Pratikto; "Belokan Nasib" (1949), "Pesan yang Penghabisan" (1949), "Sampah Sinta" (1949) karya Ragawa; "Gilingan Roda Hidup" (1949) karya Ravo; "Saat Khilaf" (1949) karya MA Salmun; "Si Bisu" (1949) karya A. Subyanto; "Laki-Laki" (1949) karya Suriasaputra; "Anak Haram" (1950), "Mencari Anak Hilang" (1950) karya Pramoedya Ananta Toer; "Dua Patah Kata" (1950) karya I Wanto.

Esai yang pernah dimuat, antara lain: "Nilai Lakon Lutung Kasarung" (1948) karya A.K.M.; "Resensi: Atheis" dan "Resensi: Widiyawati" (1949) karya Amal; "Azab dan Sengsara't'", "Cerita Pendek" (1949), "Isi Jiwa Pengarang", Manifestasi dalam Kesusastraan""Hasil•  Sastra Abstrak" "Bentuk dalam Kesusastraandan "Teknik dalam Kesusastraan" karya H, Am; "Arti Kesusastraan" "Watâk dalam Kesusastraan% "Polemik Kesusastraan: Sambutan atas Idrus Berteori", "Esai dalam Kesusastraan" karya Idrus; "Sandiwara Lutung Kasarung" dan esai "Buku Sandiwara", karya Ujah.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »