Kata Pengantar Penyair Dan Kematian Makin Akrab - Subagio Sastrowardoyo

ADMIN SASTRAMEDIA 7/18/2020
Kata Pengantar Penyair Dan Kematian Makin Akrab
Oleh Subagio Sastrowardoyo


SASTRAMEDIA.COM - Penyair yang menyekatkan perhatian pada diri sendiri hanya menghasilkan sedu-sedan dan keluh-kesah, bukan sajak yang cukup berarti. Nilai sajak baru diperoleh setelah ia sanggup mengatasi perhatian pada diri sendiri dan mempertalikan diri dengan lingkaran dunia yang lebih luas. Dunia di luar dirinya itu adalah segala yang hadir sebagai alam fisik, seperti batu dan pasir, angin dan laut, tetumbuhan dan hewan, maupun yang berkembang sebagai alam kejiwaan dan kerohanian dalam ujud tanggapan dan pengertian yang terekam di dalam seni, ilmu dan filsafat. Dunia luar itu membebaskan penyair dari kesempitan cintanya kepada diri sendiri dan melibatkan kepentingan dirinya dengan peri kehidupan yang lebih luas dengan menyangkut pengalaman manusia yang beragam-ragam.

Perhatian kepada dunia luar itu mengandung pengertian menaruh atau memberi hati, perbuatan yang dekat persinggungannya dengan mencintai. Karena itu, di dalam tulis- an sajak, tema cinta berulang, karena lekat pada sikap batin penyair yang paling mendasar dalam mengungkapkan pengalamannya. Cinta itu dapat berhenti pada "perhatian dan menaruh hati" itu saja, tetapi dapat pula meluap sebagai nafsu dan rindu yang ingin meluluhkan diri dengan subyek cintanya, apakah itu bunga dan langit yang menawan, anak atau kekasih yang disayang, atau keindahan dan kebenaran yang didambakan. Tema cinta itu adalah abadi di dalam sajak karena timbul dari dorongan pertama penyair hendak menulis sajak.

Sajak-sajak yang terpilih dari beberapa kumpulan sajak ini merupakan jejak-jejak pengalaman penyair dalam mendapatkan cinta di dalam melibatkan diri dengan dunia di luar dirinya. Setiap sajak boleh dipandang sebagai catatan pengalaman batinnya dalam menangkap dan merasakan cinta. Tetapi mengapa berulangkali kembali kepada tema maut, seperti yang memberi judul himpunan sajak terpilih ini?

Maut adalah tabir terakhir yang menghalangi kemungkinan kembali melibatkan diri dengan dunia yang kita cintai. Yang akan tinggal hanya pengandaian dan harapan semoga cinta kepada pengalaman hidup yang beragam-ragam terus dapat berlangsung tanpa ada ubahnya, seperti yang telah berlalu di sini. Atau kita berserah saja kepada keheningan yang kita tak tahu kapan bermula dan berakhir. Tetapi saat itu sajak sudah tak perlu lagi.

Juni 1994
Subagio Sastrowardoyo

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »