Problematika Penulisan Sejarah Sastra Indonesia

ADMIN SASTRAMEDIA 7/24/2020
Problematika Penulisan Sejarah Sastra Indonesia
oleh Rosida Erowati dan Ahmad Bahtiar


SASTRAMEDIA.COM - Penulisan Sejarah Sastra dengan demikian memiliki aspek yang beragam sehingga jika ditulis hanya berdasarkan satu perspektif akan menunjukkan betapa kurangnya gambaran yang dapat kita peroleh dari penulisan semacam itu. Penulisan sejarah sastra sangatlah rumit dan komplek. Hal itu disebabkan karena batasan atau pengertian sastra Indonesia sangat kabur. Banyak pendapat dari berbagai pakar beserta  argumen-argumennya yang menjelaskan awal dari sastra Indonesia. Hal itu menyebabkan titik tolak awal perkembangan kesusastraan Indonesia pun berbeda pula. Perbedaan tersebut juga dalam  memandang setiap peristiwa atau persoalan yang kaitannya dengan kehidupan sastra.

Akibatnya sebuah peristiwa dalam pandangan seorang penulis dianggap penting sehingga harus dimasukkan dalam  sejarah kesusastraan Indonesia. Tetapi penulis lain dapat beranggapan berbeda sehingga peristiwa tersebut tidak perlu menjadi catatan dalam Perkembangan Kesusastraan Indonesia. Beberapa peristiwa  berkenaan dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan beberapa pengaranngya tidak pernah dibicarakan atau pun kalau dibicarakan hanya mendapat porsi yang kecil oleh para penulis dan pemerhati sejarah sastra Indonesia.

Kesulitan lainnya ialah walaupun usia sastra Indonesia belumlah sepanjang sastra negara lain tetapi objek karya sangat berlimpah. Penelitian Ernst Ulrich Kratz mencatat 27.078 judul karya sastra dalam majalah berbahasa Indonesia yang terbit tahun 1922 -1982 (dalam Bibliografi Karya Sastra Indonesia yang terbit di koran dan majalah). Pamusuk Eneste mencatat dalam Bibliografi  Sastra Indonesia terdapat 466 judul buku novel, 348 judul kumpulan cerpen, 315 judul buku drama, dan 810 judul buku puisi.

Sedangkan  A. Teeuw mencatat, selama hampir 50 tahun (1918-1967), Kesusastraan  modern Indonesia asli hanya ada 175 penulis dengan sekitar 400 buah karya. Kalau dihitung sampai tahun 1979, sebanyak 284 penulis dan 770 buah karya. Hal di atas belum termasuk karya yang tersebar di koran, majalah, lebih-lebih yang terbit pada masa silam. Jakob Sumardjo memberikan gambaran bahwa sejak Merari Siregar menulis Azab dan Sengsara (1919) sampai 1986 telah dihasilkan 1.335 karya sastra yang berupa kumpulan cerpen, kumpulan puisi, roman, atau novel, drama, terjemahan sastra asing dan kritik serta esai sastra. Tercatat juga 237 nama  sastrawan yang penting  (1970-an). Hampir setengah dari jumlah sastra kita menulis puisi (49,3%), selanjutnya cerita pendek (47,6%), novel (36%), esai (23, 2%), drama (18,9%) dan sisanya penerjemah serta kritik sastra.

Kesulitan lainya ialah objek sastra  selain karya sastra  yang berupa jenis- jenis  (genre) sastra: puisi,  prosa dan drama juga meliputi objek-objek lain yang sangat luas meliputi pengarang, penerbit, pembaca, pengajaran, apresiasi, esai, dan penelitian. Perkembangan jenis-jenis sastra itu sendiri di Indonesia  mengalami perkembangan sendiri-sendiri. Awal pertumbuhan dan perkembangan novel, misalnya, tidak sejalan dengan puisi dan drama. Novel atau roman Indonesia sudah dimulai pada tahun 1920-an  sedangkan puisi Indonesia dimulai pada tahun 1928an. Sementara perkembangan cerpen semarak pada tahun 1950-an walaupun pada pertumbuhan sastra Indonesia  cerpen sudah mulai muncul di berbagai media massa.

>Sumber: Sejarah Sastra Indonesia, Rosida Erowati dan Ahmad Bahtiar, LP-UIN Sahid, 2011

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »