Showing posts with label Sajak. Show all posts
Showing posts with label Sajak. Show all posts

Memandangi Lukisan Affandi di Kawedanan - Eko Setyawan

@kontributor 6/09/2024
Eko Setyawan
Memandangi Lukisan Affandi di Kawedanan




di hadapan kanvas Affandi,
aku mematung
melihat potret diri
yang hidup tapi bergeming murung.

kami bercakap dan bersenda gurau.
ia berkata kasihan padaku.
aku tertawa.

ada benarnya apa yang ia katakan.
sebab di sini hari-hari hanya diliputi kesedihan.

aku menatapnya.
lantas berpikir untuk apa ia kemari.
aku curiga
ia punya dendam pada negara
tapi tak seseorang pun memedulikannya.

di hadapan lukisan Affandi,
aku mematung.
kulihat wajah negara yang beringas
meski apa yang dibenci juga turut serta dicintai.

(Bengkulu, 2023)

Merangkul Jalan - Said S. Tejasmoro

@kontributor 6/09/2024
Said S. Tejasmoro
Merangkul Jalan




Kukira sekali tempa
Seterusnya akan tajam

Kukira sekali sapa
Seterusnya akan kenal

Kukira sekali berdiri
Seterusnya akan tegar

Nyatanya serupa roda
Oleh waktu kita habis
Oleh jalanan kita terkikis

Menyaksikan Lelaki Tua Diciptakan Kembali - Imam Budiman

@kontributor 6/02/2024

Imam Budiman

Menyaksikan Lelaki Tua Diciptakan Kembali

—the old man and the sea


-ernest hemingway-






Tengah abad dua puluh pengarang itu tiba di satu kota kecil
menyinggahi tepi aciarolli—pasca kejatuhan fasis mussolini
kota harum sejarah yang senantiasa menguarkan bau merah.

Ia menerjemahkan segala gelagat; angin yang bimbang, lindap
langit di barat, beserta isyarat tubuh laut semeja dengan taktik
masstracio. sejak perjumpaan itu, lengkung joran menghantui
setiap sudut rumah—dapur, ruang kerja, dan seisi kepalanya.

Ada mata kail yang menarik lengan tangannya ke mesin ketik

kasur seolah menolak tubuh di mana lelap tak seutuhnya jenak

barangkali sebuah prosa satu tokoh, tanpa syak harus berakhir

pada sebuah toko buku—kemudian pantas bunuh diri.

-santiago-

Tujuh camar berparuh masa lalu terlahir yatim, bermain di antara
kapal-kapal tua pesisir kuba. matahari belum tanak memanggang
kanal—seorang kanak menyelundup kaleng sarden sebagai bekal.

Delapan puluh empat kali layar mesti susut dan jatuh—tetapi
adakah yang lebih menyakitkan dari sepi dalam penderitaan?

Dan tidak pula hari ini, gulf stream telah memanggil namaku
sebelum mengangkat sauh, nelayan sial berpenyakit kulit itu
tak putus berdoa, kuatkan kenurku dan turunkan kepadaku
sejenis musim ajaib dari surgamu, tuhan, yang memenuhi
lambung perahu kecilku dengan wangi darah ikan segar.

Hari-hari gugur dan sederet gigi koloni hiu nyaris menyusut
cita-citanya. dayung bermata pisau menjelma pedang sabit
demi menyelamatkan tubuh marlin itu; meski yang tersisa
hanya separuh kepala dan belulangnya.


2024

Menyaksikan Kisah Akhir Dua Bibliofil - Imam Budiman

@kontributor 6/02/2024

Imam Budiman

Menyaksikan Kisah Akhir Dua Bibliofil

—la casa de papel

-profesor bluma-




Perempuan paruh baya itu naik ke surga semakin lekas
tanpa balon gas atau spacex atau burak—atau sejenisnya
lantas emily dickinson meraih tangannya sebelum dicegat
semacam malaikat penyiksa manusia-manusia pemurung.

Ia menjumpai ilah dengan ratusan puisi yang dipilah
kenangan masa kecil, seutas cinta, kastil cambridge.

Tetapi kesialan memang tidak pula mengenal alamat pasti
belum sempat berkemas, ia merelakan dirinya digilas roda
hanya buku puisi yang masih terbuka di tangannya—bercak
darah masih menempel di marjin paling atas halaman tiga.

Betapa cita-cita tercapai sudah, penuh segala pengabdian
kepada kata dan bahasa sebagaimana kelakar yang kerap
diutarakannya: sastra tak hanya memberi kita hidup


      —melainkan juga kematian.

-carles brauer-

Dan lelaki itu kini tenggelam dalam lautan indeks, menyalin
dini hari ke pekan, yang dirumuskan atas kehendak ilusinya
sendiri. ia tak pernah percaya bagaimana katalogisasi milik
perpustakaan kota, yang kaku dan membosankan itu
dapat bekerja dengan efektif pada rak-rak buku.

Ia mencintai buku-buku melebihi dirinya sendiri—sebelum api
terkutuk membawa kabur mimpi-mimpinya. buku menjelma
karib makan malam, dengan steik tenderloin kelas dua
beserta seloki anggur putih dari mendoza.

Ia menyusun buku-buku, sedemikian bernyali, menjadi teman
tidur di malam-malam berikutnya. tetapi, kesepian dan putus
asa mengantarkan buku-buku pada sebuah beting yang jauh.

Hanya nelayan, anak-anak tak bersekolah, serta badai yang
kapan saja bisa membunuhnya. sebuah rumah, tersusun
dari buku; pintu, jendela, kusen dan sedikit hidupnya.

2024

 

Pada Sebuah Teras - Budhi Setyawan

@kontributor 5/26/2024
Budhi Setyawan 
Pada Sebuah Teras




sebuah teras menyediakan dirinya
bagi pergantian lakon pertemuan dan perpisahan
hingga jendela ikut berkaca kaca
meski tak ada lagi nako di sana

sebuah teras seperti membisikkan ucapan
bahwa semua peristiwa terasa bertiup
ke saluran napas hari dengan aroma haru
mengisi cuaca saat ini dengan detak dahulu

Bekasi, 1 Mei 2024