Terkini

Hasil Kurasi Puisi PPN XI Kudus 2019

2/22/2019 1 Comment

PENGUMUMAN HASIL KURASI PPN XI KUDUS 2019 (Final)

Tim kurator PPN XI Kudus telah memilih dan meloloskan 50 penyair Indonesia (non-Jawa Tengah) dan 50 penyair Jawa Tengah sebagai peserta Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XI  yang akan berlangsung di Kudus pada 28-30 Juni 2019.
Mereka dipilih dari 579 penyair Indonesia dan 178 penyair Jawa Tengah yang telah mengirimkan karya ke Panitia. Pilihan murni berdasarkan kualitas karya dan kesesuaian dengan tema yang ditetapkan oleh Panitia, yakni "kemanusiaan dan persaudaraan".
Berdasarkan hasil penilaian tersebut, para penyair yang puisinya lolos adalah:

I. Penyair Indonesia (Non-Jawa Tengah)

A. Rahim Eltara
Membaca Airmata
Di Atas KM Kambuna

Alexander Robert Nainggolan
Doa yang Subuh
Kilau Musi

Ali Ibnu Anwar
Mantra Bumi Gora
Kontemplasi Tsunami

Arco Transept
Rindu dan Epos Nablus
Jam Malam

A’yat Khalili
Tanah yang Tanah Kita
Bersyair Setangkai Daun

Ayi Jufridar
Tumbal Rasa

Aslan Abidin
Abu Goerge Bar Damaskus
The End

Ayu Cipta
Dan Kematian Tak Meinggalkanmu
189 Nyawa

Ardi Susanti
Tuhan Kita Sama
Bertamu ke Rumahku

Anwar Putra Bayu
Surat Imajiner Bana Alabed

Badruz Zaman
Bahasa Murni Bahasa Hati
Kepul Tungku Dunia Ibu

Bode Riswandi
Enam Bait Stanza untuk Indonesia
Kepada Waktu

Dinullah Rayes
Pohon Berbuah Cinta

Dewa Putu Sahadewa
Paranoia

Dedy Try Riyadi
Lamentasi

Emi Suy
Lukisan
Cinta Semesta

Fakhrunnas MA Jabbar
Mari Lepaskan Burung-burung Asa di Ladang Mimpi Kita
Seberapa Jauh Lagi Sungai Kecewa Ini Bemuara

Fikar W. Eda
Bunga di Boncengan Sepeda
Gerombolan Ajing Liar dari Netherland

Fathurrohman
Izrail Membawa Bunga

Imam Ma'arif
Aku Mencintaimu, Ina
Tubuh Panggung

Iman Sembada
Seorang Ibu Sebatang Kara
Lewat Jalan Lain

Isbedy Stiawan ZS
Orang Suci dan Cerita dari Jalan

Ibnu PS Megananda
Ballada Gendang Jaipongan
Ballada Puisi Pertanda

Kunni Masrohanti
Kekasih dan Bunga Padi
Anak-anak Langit

Larasati Sahara
Kita Bertukar Kabar dalam Airmata
Tapalu’e

Marhalim Zaini
Agama Manusia
Agama Burung

Mustofa W Hasyim
Keroncong dan Balada

Mustafa Ismail
Tirom
Ladong

Mahwi Air Tawar
Kopi Batok
Pengakuan Cinta

Mezra E. Pellondou
Ikan Foti
Tiga Bocah Kenari

Muhammad De Putra
Kami Anak-anak di Bandar Bakau Dumai

M. Raudah Jambak
Tanda Bahasa dan Kata Jiwa
Membaca Awan Menghitung Rintik Hujan

Ni Wayan Idayati
Di Lorong Rumah Sakit
Doa Seekor Ikan

Pranita Dewi
Benteng
Chaplin

Putu Fajar Arcana
Dari Rum ke Manhattan
Keroncong Fado

Raedu Basha
Kepulangan Pertama
Membajak Senyum Getir

Rida K Liamsi
Jejak Tapak Sang Laksamana
Seperti Elang, Tun dan Parameswara

Rini Intama
Surat untuk Oy
Rindayu

R Giryadi
Pohon Asam
Manuskrip Kota (20)

Salman Yoga S
Bersama di Bawah Langit

Sulaiman Juned
Tanda Cinta
Gerimis Jadikan Cinta

Sofyan RH. Zaid
Mata Hati Matahari
Penjaga Api

Tjahjono Widarmanto
Mangkok dan Kitab Puisi
Mampus Aku Dikutuk Kangen

Tri Astoto Kodarie
Mencintaimu Setulus Laut pada Musim

Taufik Ikram Jamil
Menulismu Lagi Dan Lagi
Kau Kabarkan Lagi

Tulus Wijanarko
Tuah Para Hang
Betepe

Ulfatin CH
Serpihan Doa dari Sigi
Catatan Ibu pada Anaknya yang Terluka

Warih Wisatsana
Bukan Hanya di Panggung
Kemolekan Landak

Wayan Jengki Sunarta
Kucing Biru
Latupa

Willy Ana
Miqna
Singal


II. Penyair Jawa Tengah

Achiar M. Permana
Kisah Sepasang Amandava
Kisah Nyeri dari Sudut Gaza

Ade Achmad Ismail
Cerita Luka Batas Desa

Aditya Galih Erlangga
Eulogi dan Perihal Kontemplasi

Agustav Triono
Air Mata Rohingya

Ahmad Dzikron Haikal
Di Antara Pecahan Cahaya

Ali D. Musrifa
Lirik Jaka Pekik

Apito Lahire
Pupuh Keluh Megatruh

Arif Hidayat
Aku yang Mengantarkanmu

Bambang Supranoto
Borobudur

Dharmadi
Semesta
Masihkah Akan Diledakkan

Dian Khristiyanti
Penjual Koran Dekat Tugu Muda

Didid Endro S.
Orang-orang Kalah

Didiek W.S
Kemanusiaan Matahari dan Rembulan

Dimas Nugroho
Bukan Api Tapi Anggur

E.S. Wibowo
Sandyakalaning Buana

Fadlillah Rumayn
Planet Baru

Hafizh Pandhitio
Teruntuk Apa

Heru Mugiarso
Palastra

Irna Novia Damayanti
An Najah

Jesy Segitiga
Si Kaku Biru

Joshua Igho
Mata Kanak-kanak

Jusuf A.N.
Serpihan Gerimis

Kahar Dp

Golden Retriever
Percakapan

 Leenda Madya
Hujan Mawar di Somalia

M. Enthieh Mudakir
Di Kursi Nomor 13-D Tegal Express

M. Najibur Rohman
Gaza

M.M. Bhoernomo
Mari Bernyanyi

Mohamad Iskandar
Duka Cita bagi Rohingya

Muhamad Arifin
Surat Cinta untuk Saudaraku

Muhsi Siradj
Merindu Gerimis

Niken Bayu Argaheni
Sebuah Ketika

Reno Septia Budi Laksono
Di Bawah Langit Kudus
Tempo Kini

Rohadi Noor
Di Singapura

Roso Titi Sarkoso
Senusantara Sekeluarga

Serunie Unie
Sebaris Waktu di Ubud

Setia Naka Andrian
Berjalan ke Timur

Soekoso D.M.

Luka Persaudaraan
Kala Kaucari

Sri Budiyanti
Air Mata Rohingya

Sri Wintala Achmad
Rumah Cinta

Sulis Bambang
Persaudaraan Kita

Sulis Setiani
Ironi Kemanusiaan

Sus S. Hardjono
Happynes is Pass to Life within Scare

Tegsa Teguh Satriyo
Meneroka Arah

Tiyo Ardianto
Moga

Ustadji Pantja Wibiarsa
Bersaudara Kita

Warsono Abi Azzam
Puisi Putih

Widya Prona Rini
Pintu Depan

Yani Al-Qudsy
Kanibal

Yanu Faoji

Menatap Mata Palestina
Imigran dari Surga

Yuditeha
Engklek

Demikian hasil kurasi ini ditetapkan oleh para kurator yang terdiri dari Ahmadun Yosi Herfanda, Chavchay Syaefullah, dan Kurnia Effendi (Kurator Nasional), Jumari HS, Mukti Sutarman Espe, dan Sosiawan Leak (Kurator Jawa Tengah).


Terima Kasih
Panitia Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XI Kudus

KUDUS, 22 Februari 2019     

   
 KETUA
Mukti Sutarman Espe      
SEKRETARIS       
 Reyhan M Abdurrohman

Note:
Para penyair yang telah lolos kurasi akan mendapatkan undangan untuk hadir pada PPN XI 2019 di Kudus.
Perserta juga akan mendapatkan surat pernyataan kesediaan untuk hadir pada perhelatan PPN XI 2019 di Kudus.
Keputusan hasil kurasi dari kurator bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Momentum Sastra Monumental

2/21/2019 Add Comment
oleh Maman S Mahayana

Sastra tidak datang dari langit. Tidak juga diturunkan para malaikat. Sastra lahir dari proses yang kompleks. Ke belakang, ada kegelisahan sastrawan dalam menyikapi situasi sosial di sekitarnya. Ke depan, ada visi tertentu yang menjadi tujuan. Pada saat karya itu terbit, ada momentum. Momentum inilah yang sering kali justru membawa karya itu menjadi monumen. Sejarah telah berbicara banyak mengenai itu.

Puisi Muhammad Yamin? Indonesia Tumpah Darahku? (1928) muncul dengan momentum Sumpah Pemuda. Ia menjadi monumental lantaran terbit pada saat dan peristiwa yang tepat. Padahal, dilihat dari semangat keindonesiaan, Yamin mengawalinya lewat antologi puisi ?Tanah Airku? (1922) yang dari perspektif estetika dan tema Indonesia yang diusungnya, punya kualitas yang tak jauh berbeda. Keadaan yang sama terjadi pada naskah drama Bebasari (1926) Rustam Effendi. Sesunguhnya, ditinjau dari berbagai aspek, Bebasari sangat pantas ditempatkan sebagai perintis, tetapi tokh ia tetap tenggelam dan orang lebih banyak membicarakan antologi puisinya, Percikan Permenungan (1926).

Novel Azab dan Sengsara (1920) karya Merari Siregar juga sebenarnya perintis untuk novel terbitan Balai Pustaka. Tetapi yang menonjol kemudian Sitti Nurbaya (1922) karya Marah Rusli yang lebih dramatis dan Salah Asuhan 1928) karya Abdoel Moeis yang ketika itu, masalah persamaan hak sedang menjadi isu aktual. Bahkan, pada cetakan ke-9 (1990), cetakan pertama karya Merari Siregar tertulis tarikh 1927 yang mengesankan adanya pemanipulasian sejarah. Sementara itu, novel lain karya Adinegoro, Muhammad Kasim, Tulis Sutan Sati, Hamka, dan Suman Hs, jadinya sekadar pelengkap tema sejenis.

Begitulah, sejumlah karya sastra Indonesia seperti punya nasibnya sendiri. Karya-karya itu bagai bayi yang dilahirkan prematur, lewat operasi caesar, atau secara normal. Tetapi, masing-masing akan menggelinding, membawa garis peruntungannya sendiri, dan melemparkan atau melambungkan pengarangnya entah ke mana: tenggelam atau cemerlang.

Nasib novel Belenggu (1940) karya Armij Pane, lain lagi. Redaktur Balai Pustaka menilai novel itu lucah dan tidak senonoh. Bukankah perselingkuhan dokter (Tono) dengan pelacur (Yah) dapat menjatuhkan reputasi dokter? Balai Pustaka pun tak mau menerbitkan. Tetapi, Sutan Takdir Alisjahbana menilainya lain. Novel itu bagus, banyak menyodorkan hal baru. Penerbit Dian Rakyat, milik Alisjahbana, serta-merta menerbitkannya. Belakangan novel itu menghebohkan dan menjadi salah satu monumen perjalanan novel Indonesia.

Keadaannya berbeda dengan yang terjadi pada Suwarsih Djojopuspito atas novelnya Manusia Bebas (1975). Novel ini selesai ditulis tahun 1937 dalam bahasa Sunda. Setelah diindonesiakan, naskahnya dikirim ke penerbit Balai Pustaka, namun ditolak karena isinya menyuarakan semangat nasionalisme. Tahun 1940, novel ini terbit dalam bahasa Belanda di Utrecht, Belanda, berjudul Buiten het Gareel (Di Luar Garis) dengan kata pendahuluan diberikan E. D. Perron. Jika saja novel itu diterbitkan Balai Pustaka akhir tahun 1930-an, boleh jadi ia akan menjadi monumen mengingat penggambaran tokoh wanita dan temanya mengangkat persoalan nasionalisme. Ketika novel itu terbit dalam bahasa Indonesia tahun 1975, ia sudah kehilangan momentum.

Chairil Anwar lain lagi ceritanya. Sutan Takdir Alisjahbana yang waktu itu menjadi redaktur Balai Pustaka, menolak puisi-puisi ?Binatang Jalang? itu, karena semangatnya yang aneh dan tak sesuai dengan estetika Pujangga Baru. Redaktur Balai Pustaka yang lebih muda, H.B. Jassin, menyimpan naskah puisi itu di laci kerja dan tak mengembalikan pada penyairnya. Setelah Alisjahbana tak lagi duduk di jajaran redaktur penerbit itu dan Jassin punya kewenangan, diterbitkanlah puisi-puisi Chairil Anwar. Lalu, apa yang terjadi setelah itu? Nama Chairil Anwar justru menjadi monumen perpuisian Indonesia.

***

Perjalanan nasib sebuah karya memang penuh misteri. Novel Pulang (1958) karya Toha Mohtar dianggap sebagai salah satu novel psikologis terbaik. Pada awalnya, ia lahir dari proses keterpaksaan. Sebagai redaktur majalah Ria (1952?1953), Toha Mohtar kerap dipusingkan oleh ketiadaan naskah. Untuk mengisi kekosongan itu, diusulkan pemuatan cerita bersambung. Usul itu diterima. Tetapi, celakanya, sampai menjelang majalah itu terbit, naskah yang ditunggu belum juga datang. Tak ada pilihan, Toha Mohtar sendiri yang harus mengisinya. Mulailah ditulis bagian pertama cerita bersambung itu dengan nama pena Badarijah UP. Setelah rampung seluruhnya, baru diterbitkan penerbit Pembangunan. Dua tahun kemudian novel itu memperoleh Hadiah Sastra BMKN tahun 1960.

Momentum sering menentukan nasib sebuah karya. Tak jarang justru menjadi faktor utama yang mengangkat reputasi. Itulah yang dialami Iwan Simatupang. Banyak pengamat sastra Indonesia menempatkan Merahnya Merah (1968) sebagai novel pertamanya, karena ia terbit lebih awal. Padahal, Ziarah (1969) selesai ditulis Iwan tak lama setelah kematian istrinya, Cornelia Astrid van Geem tahun 1960, dan Merahnya Merah rampung setahun kemudian (1961). Karya pertamanya drama Bulan Bujur Sangkar ditulis di Eropa (1957) dipublikasikan tahun 1960, dan nyaris tak mendapat tanggapan apa pun. Tahun 1966, terbit dua drama berikutnya, RT Nol/RW Nol dan Petang di Taman, tetapi juga tak ada sambutan.

Karya Iwan Simatupang mulai menghebohkan, bahkan memunculkan polemik, justru setelah terbit Merahnya Merah dan terutama Ziarah. Tampak di sini, tanggapan atas novel Iwan Simatupang begitu semarak, bersifat polemis, dan penting bagi perkembangan kritik sastra. Sangat mungkin tanggapan pembaca akan berbeda jika novel itu terbit tahun 1960-an ketika politik menjadi panglima. Jadi, terbitnya novel Iwan Simatupang selepas tragedi 1965, seperti memperoleh momentum. Sejak itu berlahiran karya sejenis dari sastrawan lain yang memperlihatkan semangat eksperimentasi. Iwan Simatupang menjadi tokoh penting. Betapa ramai tanggapan pembaca, dapat dilihat dari semua tulisan tentang Iwan Simatupang yang mencapai lebih dari 300-an, mulai resensi, esai sampai disertasi.

Sementara itu, Taufiq Ismail nyaris kehilangan momentum. Di sela-sela aksi demonstrasi yang merebak selepas tragedi 1965, ia membacakan sejumlah puisinya yang masih berceceran. Sebagian dibawa rekannya, Soe Hok Djin (Arief Budiman), sebagian yang lain berdesakan dalam tas ranselnya yang dibawa terus ke mana pun. Musibah terjadi. Di stasiun Gambir, tas ransel itu raib. Tirani dan Benteng yang terbit dalam bentuk stensilan itulah sejumlah puisi Taufiq Ismail yang dibawa Soe Hok Djin. Belakangan, H.B. Jassin menempatkan antologi puisi itu sebagai ikon sastrawan Angkatan 66.

Nasib novel Cermin Merah (2004) Nano Riantiarno, lebih unik lagi. Tahun 1973, naskah novel ini rampung dan segera ditawarkan ke sejumlah penerbit. Namun, semua menolak karena temanya ?berbahaya?. Tak putus asa, Nano mendatangi suratkabar dan majalah agar memuat novel itu sebagai cerita bersambung. Hasilnya sama: menolak karena isinya menyinggung peristiwa 1965 dan persoalan homoseksual. Selama hampir 20 tahun naskah itu tersimpan rapi, meski semangat untuk menerbitkannya sudah berantakan.

Ketika Dewan Kesenian Jakarta menyelenggarakan Sayembara Menulis Novel 2003, di antara keputusasaan dan semangat yang redup, Nano Riantiarno mengirimkannya ke Panitia sayembara itu. Dewan Juri, Sapardi Djoko Damono, Budi Darma, dan Maman S. Mahayana, sepakat memilih Cermin Merah masuk 10 besar. Belakangan setelah diputuskan para pemenangnya, baru diketahui, Cermin Merah adalah karya Nano Riantiarno, yang juga menjadi Juri Sayembara Penulisan Naskah Drama DKJ 2003. Bahwa Cermin Merah masuk 10 besar, pertimbangannya, selain narasinya yang lancar mengalir dan begitu filmis, secara tematik, menyodorkan hal baru berkenaan dengan kehidupan homoseks yang digambarkan lewat sentuhan kuat aspek psikologis dan sosiologis. Begitu juga, teknik berceritanya yang mempermainkan flashback dan di beberapa bagian menyelusup imaji-imaji liar yang agak surealis, menjadikan novel itu kaya style.

Setelah Grasindo menerbitkan novel itu, sambutan pembaca cukup mencengangkan. Selain masuk nomine Khatulistiwa Award (2004), juga sedikitnya ada ratusan komentar mengenai novel itu, termasuk polemik yang terjadi di Millis Pasar Buku. Bagus juga novel itu terbit setelah tumbang rezim Orde Baru, jika tidak, tentu Nano Riantiarno akan menghadapi serangkaian pencekalan.

***

Momentum yang membawa karya tertentu jadi monumen, tentu saja yang terutama lantaran kualitasnya. Tetapi, penerbitan pada momen, peristiwa, zaman, dan penerbit yang tepat, tidak jarang ikut berpengaruh. Keluarga Gerilya (1948) Pramoedya Ananta Toer, adalah salah satu novel Indonesia terbaik. Tetapi, ia seperti tenggelam ketika tetralogi Bumi Manusia (1980) terbit pada saat rezim Orde Baru berada di puncak kekuasaan.

Saman (1998) Ayu Utami, di samping kualitasnya kuat, terbit pada momen yang tepat. Ia bagai memberi inspirasi bagi penulis perempuan lain sejalan dengan perubahan zaman. Secara tematis, Namaku Teweraut (2000) Ani Sekarningsih, Tarian Bumi (2000) Oka Rusmini, Supernova (2001) Dewi Lestari, Jendela-Jendela (2001) Fira Basuki, Cala Ibi (2003) Nukila Amal, Dadaisme (2004) Dewi Sartika, Geni Jora (2004) Abidah el Khalieqy, Tabularasa (2004) Ratih Kumala, sesungguhnya berpotensi menghebohkan jika saja novel-novel itu terbit sebelum Saman.

Dalam persoalan seks yang menjadi tema cerita, novelis perempuan yang kemudian tampak seperti berlomba menelanjangi diri sendiri. Tentu akan sangat menghebohkan jika karya-karya itu terbit sebelum Saman. Sebut saja, Ode untuk Leopold von Sacher?Masoch (2002) Dinar Rahayu, Nayla (2005) dan sejumlah cerpen Djenar Maesa Ayu, Mahadewa Mahadewi (2003) Nova Riyanti Yusuf atau Swastika (2004) Maya Wulan. Kehebohan Saman sesungguhnya juga tidak terlepas dari faktor momentum.

***

Begitulah, kisah di balik sukses karya-karya monumental, menegaskan, bahwa karya sastra lahir dari sebuah proses yang rumit, penuh misteri. Ia tidak dapat melepaskan diri dari berbagai faktor yang mengelilinginya: pengarang, penerbit?temasuk di dalamnya redaktur dan editor, pembaca, masyarakat, dan pemerintah. Di antara kepungan berbagai faktor itulah karya sastra menggelinding membawa nasibnya, mencari dan menemukan momentumnya sendiri.

Hasil Kurasi Puisi DNP 9 (Tahap Kedua)

2/20/2019 Add Comment

Dari ratusan nama-nama yang mengirimkan puisi-puisinya (tahap pertama), di bawah ini dinyatakan masuk seleksi tahap kedua Pesisiran:

1. A. Machyoedin Hamamsoeri, Jakarta
2. A. Mussabih, Tegal, Jawa Tengah
3. A. Rahim Eltara, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat
4. A’yat Khalili, Sumenep, Madura, Jawa Timur
5. Aan Setiawan, Banjarbaru, Kalimantan Selatan
6. Abdul Aziz HM Basyro, Indramayu, Jawa Barat
7. Abdul Wahchid BS, Yogyakarta
8. Abdurrahman El Husaini, Martapura, Kalsel
9. Abu Ma’mur MF, Brebes, Jawa Tengah
10. Acep Kusmana, Palembang, Sumatera Selatan
11. Acep Zamzam Noor, Tasikmalaya, Jawa Barat
12. Adri Darmadji Woko, Depok, Jawa Barat
13. Adnan Guntur, Surabaya, Jawa Timur
14. Agus Manaji, Yogyakarta
15. Agus Pramono, Mojokerto, Jawa Timur
16. Ahmad Sabirin, Pontianak, Kalimantan Barat
17. Ahmad Wahid F., Sumenep, Madura, Jawa Timur
18. Ahmad Zaini, Lamongan, Jawa Timur
19. Ahmad Zubaedi, Sumenep, Madura, Jawa Timur
20. Akhmad Asy’ari, Sumenep, Madura
21. Akhmad Sekhu, Jakarta
22. Alam Terkembang, Pekanbaru, Riau
23. Aldi Istanzia Wiguna, Bandung, Jawa Barat
24. Alex R. Nainggolan, Tangerang, Banten
25. Alfred B. Jogo Ena, Yogyakarta
26. Ali Ibnu Anwar, Jember, Jawa Timur
27. Aliff Ss. (Supali Kasim), Indramayu, Jawa Barat
28. Aloeth Pathi, Pati, Jawa Tengah
29. Alvin Shul Vatrick, Luwu, Sulawesi Selatan
30. Ambarsari, Yogyakarta
31. Andane, Sumedang, Jawa Barat
32. Andi Jamaluddin, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan
33. Anjrah Lelono Broto, Mojokerto, Jawa Timur
34. Apito Lahire, Tegal, Jawa Tengah
35. Ardi Susanti, Ngawi, Jawa Timur
36. Arie Png Adadua, Palembang, Sumatera Selatan
37. Arie Siregar, Labuhan Batu, Sumatera Utara
38. Arief Joko Wicaksono, Depok, Jawa Barat
39. Arnis Silvia, Adelaide, Australia
40. Arther Phanter Olii, Manado, Sulawesi Utara
41. Asep Muhlis, Serang, Banten
42. Aspar Paturusi, Jakarta
43. Asril Koto, Padang, Sumatera Barat
44. Aswar Sutan Malaka, Jakarta
45. Ayi Jufridar, Lhokseumawe, Aceh
46. B. Priyono Soediono, Tangerang, Banten
47. Bambang Supranoto, Cepu, Jawa Tengah
48. Bambang Widiatmoko, Bekasi, Jawa Barat
49. Benedikt Agung Widyatmoko, Surabaya, Jawa Timur
50. Beni Setia, Madiun, Jawa Timur
51. Budhi Setyawan, Bekasi, Jawa Barat
52. Budi Hatees, Lampung
53. Cahaya Buah Hati, Pekanbaru, Riau
54. Chenchen Parase, Batam
55. Daviatul Umam, Sumenep, Madura, Jawa Timur
56. Dedi Tarhedi, Tasikmalaya, Jawa Barat
57. Denis Hilmawati Sahil, Solo, Jawa Tengah
58. Dgkumarsana, Labuapi, Lombok Barat
59. Dharmadi Putra, Purwokerto, Jawa Tengah
60. Dian Rusdiana, Bekasi, Jawa Barat
61. Dimas Indiana Senja, Bumiayu, Jawa Tengah
62. Eddie MNS Soemanto, Padang, Sumatera Barat
63. Eddy Pramduane, Depok, Jawa Barat
64. Eddy Pranata PNP, Cilacap, Jawa Tengah
65. Eddy Priyatna, Depok, Jawa Barat
66. Efen Nurfiana, Purwokerto, Jawa Tengah
67. Eka Budianta, Jakarta
68. Eko Ragil Ar-Rahman, Pekanbaru, Riau
69. Eko Roesbiantono, Malang, Jawa Timur
70. Elis Tatang Bardiah, Bandung, Jawa Barat
71. Emi Suy, Jakarta
72. Endang Soepriadi, Depok, Jawa Barat
73. Endy S. Johan, Sumenep, Madura, JawaTimur
74. Ersis Warmansyah Abbas, Banjarbaru, Kalsel
75. Erwan Juhara, Bandung, Jawa Barat
76. ES Wibowo, Magelang, Jawa Tengah
77. Evan Ys., Jakarta
78. Ewith Bahar, Jakarta
79. Fahmi Wahid, Balangan, Kalimantan Selatan
80. Faidi Rizal Alief, Sumenep, Madura, Jawa Timur
81. Faiz Aditian, Purwokerto, Jawa Tengah
82. Fakhrunnas MA Jabbar, Pekanbaru, Riau
83. Farikhatul ‘Ubudiyah, Purwokerto, Jawa Tengah
84. Fariz Al Faishal, Indramayu, Jawa Barat
85. Fathurrohman, Bandar Lampung, Lampung
86. Fazlur Rahman, Sumenep, Madura, Jawa Timur
87. Feni Effendi, Payahkumbuh, Sumatera Barat
88. Frid Dacosta, Belu, Nusa Tenggara Timur
89. Free Hearty, Jakarta
90. Galih M. Rosyadi, Tasikmalaya, Jawa Barat
91. Gunoto Saparie, Semarang, Jawa Tengah
92. Gerardus Nuba Bibang, Jakarta
93. Gm. Sukawidana, Denpasar, Bali
94. Hadi Sastra, Tangerang, Banten
95. Handrawan Nadesul, Jakarta
96. Handry Tm., Semarang, Jawa Tengah
97. Hardho Sayoko SPB, Ngawi, Jawa Timur
98. Harmany, Pamekasan, Madura, Jawa Timur
99. Hasan Aspahani, Jakarta
100. Hasan Bisri Bfc, Bogor, Jawa Barat
101. Hendro Siswanggono, Sidoarjo, Jawa Timur
102. Heni Hendrayani, Ciamis, Jawa Barat
103. Heri Mulyadi, Rajabasa, Bandarlampung, Lampung
104. Herisanto Boaz, Bandung, Jawa Barat
105. Herman Syahara, Bogor, Jawa Barat
106. Heru Antoni, Bandarlampung, Lampung
107. Heru Mugiarso, Semarang, Jawa Tengah
108. Heru Mulyadi, Lhokseumawe, Aceh
109. Heryus Saputro, Tangerang Selatan, Banten
110. Hida Syifa, Palembang, Sumatera Selatan
111. Hoerudin/Khoer Jurzani, Sukabumi, Jawa Barat
112. Hudan Nur, Banjarbaru, Kalimantan
113. Husen Arifin, Bandung, Jawa Barat 
114. Iberamsyah Barbary, Banjarbaru, Kalsel
115. Ida Bagus Herry Wijaya, Manado, Sulut
116. Imam Eka Puji AlGazhali, Sumenep, Madura, Jatim
117. Imam Subagyo, Semarang, Jawa Tengah
118. Iman Sembada, Depok, Jawa Barat
119. Indri Yuswandari, Kendal, Jawa Tengah
120. Irawan Massie, Jakarta
121. Irawan Sandya Wiraatmaja, Jakarta
122. Irna Novia Damayanti, Purbalingga, Jawa Tengah
123. Irvan Mulyadie, Tasikmalaya, Jawa Barat
124. Irvan Syahril, Subang, Jawa Barat
125. Isbedy Stiawan ZS, Lampung
126. Iswandi Bahardur, Padang, Sumatera Barat
127. Jack Effendi, Mojokerto, Jawa Timur
128. Jasman Bandul, Kepulauan Meranti, Riau
129. Jefrianto, Banyumas, Jawa Tengah
130. Jimat Kalimasadha, Kudus, Jawa Tengah
131. Jimmy Tega Hayong, Mozambique
132. Johan Kusuma, Jakarta
133. Juli Prasetya Alkamzy, Purwokerto, Jawa Tengah
134. Julia Daniel Kotan, Depok, Jawa Barat
135. Jumari Hs, Kudus, Jawa Tengah
136. Kahar Dp, Semarang, Jawa Tengah
137. Khalil Satta Elman, Sumenep, Madura, Jawa Timur
138. Khanafi, Banyumas, Jawa Tengah
139. Kholil Ar-Rohman, Malang, Jawa Timur
140. Kim Al Ghozali AM, Denpasar, Bali
141. Kurnia Effendi, Jakarta
142. Kurniawan Junaedhie, BSD, Banten
143. L. Surajiya, Yogyakarta
144. Listin Wahyuni, Depok, Jawa Barat
145. Liswindio Aendicaesar, Bogor, Jawa Barat
146. LK Ara, Jakarta
147. Lukman Asya, Jakarta
148. M. Anton Sulistyo, Jakarta
149. M. Enthieh Mudakir, Tegal, Jawa Tengah
150. M. Johansyah, Tanah Bumbu, Kalsel
151. Mahdi Idris, Tanah Luas, Aceh Utara, Aceh
152. Marlin Dinamikanto, Palembang, Sumatera Selatan
153. Martin da Silva, Jakarta
154. Matroni Musèrang, Sumenep, Madura, Jawa Timur
155. Mezra E. Pellondou, Kupang, Nusa Tenggara Timur
156. Mimin Mintarsih, Tulang Bawang Barat, Lampung
157. Mira Marwani, Oman/Cianjur, Jawa Barat
158. Moh. Ghufron Cholid, Bangkalan, Madura, Jatim
159. Moh. Oktaviano, Tanjung Pinang, Riau
160. Moh. Rosli Bakir, Johor, Malaysia
161. Muhammad Daffa, Banjarbaru, Kalimantan Selatan
162. Muhammad de Putra, Pekanbaru, Riau
163. Muhammad Esqalani Eneste, Pekanbaru, Riau
164. Muhammad Ibrahim Ilyas, Padang, Sumatera Barat
165. Muhammad Lefand, Jember, Jawa Timur
166. Muharsyah Dwi Anantama, Banyumas, Jateng
167. Muhisom Setiaki, Temanggung, Jawa Tengah
168. Mukti Sutarman Espe, Kudus, Jawa Tengah
169. MZ Billal, Inderagiri Hulu, Riau
170. Nadjib Kartapati Z., Jakarta
171. Nanang Suryadi, Malang, Jawa Timur
172. Naning Scheid, Belgia
173. Neni Yulianti, Cirebon, Jawa Barat
174. Nia Samsihono, Bekasi, Jawa Barat
175. Niken Bayu Argaheni, Pati, Jawa Tengah
176. Nila Hapsari, Bekasi, Jawa Barat
177. Norham Abdul Wahab, Magetan, Jawa Timur
178. Novia Rika Permatasari, Tangerang Selatan, Banten
179. Nuriman N. Bayan, Morotai, Maluku Utara
180. Oekusi Arifin Siswanto, Ngawi, Jawa Timur
181. Ons Untoro, Yogyakarta
182. P. Nuraeni, Sukabumi, Jawa Barat
183. Pensil Kajoe, Banyumas, Jawa Tengah
184. Pipie J. Egbert, Surabaya
185. Prasetyohadi Prayitno, Depok, Jawa Barat
186. Pringadi Abdi Surya, Jakarta
187. Profijesarino Ubud, Bandung, Jawa Barat
188. Puput Amiranti, Blitar, Jawa Timur
189. Q Alsungkawa, Lampung Barat, Lampung
190. Ragdi F. Daye, Padang, Sumatera Barat
191. Rahmat Ali, Jakarta
192. Ratna Ayu Budhiarti, Garut, Jawa Barat
193. RD Kedum, Bengkulu
194. Refdinal Muzan, Agam, Sumatera Barat
195. Reyhan M Abdurrohman, Kudus, Jawa Tengah
196. Rezqie Muhammad AlFajar Atmanegara, HST, Kalsel
197. Rhauda M. Rio, Ternate, Maluku Utara
198. Rianti Saud, Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat
199. Riduan Hamsyah, Pandeglang, Banten
200. Rini Febriani Hauri, Jambi
201. Rini Intama, Tangerang, Banten
202. Risfan Munir, Jakarta
203. Rismudji Rahardjo, Yogyakarta
204. Rofiki Asral, Sumenep, Madura, Jawa Timur
205. Rofqiel Junior, Sumenep, Madura, Jawa Timur
206. Rohani Din, Singapura
207. Romzul Falah, Sumenep, Madura, Jawa Timur
208. Roso Titi Sarkoro, Temanggung, Jawa Tengah
209. Roymon Lemosol, Ambon, Maluku
210. Rut Retno Astuti, Sumedang, Jawa Barat
211. Sahaya Santayana, Tasikmalaya, Jawa Barat
212. Saifa Abidillah, Yogyakarta
213. Salama Elmie, Yogyakarta
214. Salimi Ahmad, Jakarta
215. Sam Mukhtar Chaniago, Bekasi, Jawa Barat
216. Sami’an Adib, Jember, Jawa Timur
217. Sang Sukmanbrata, Bandung, Jawa Barat
218. Setiyo Bardono, Depok, Jawa Barat
219. Shinta Miranda, Bogor, Jawa Barat
220. Shoimatun Nur Azizah, Klaten, Jawa Tengah
220. Siamir Marulafau, Medan, Sumatera Utara
221. Sigit Susanto, Zug, Switzerland
222. Sobirin, Pangandaran, Jawa Barat
223. Sofyan RH Zaid, Bekasi, Jawa Barat
224. Soni Farid Maulana, Ciamis, Jawa Barat
225. Sufyan Abi Zet, Sumenep, Madura, Jawa Timur
226. Sugiono MP, Bogor, Jawa Barat
227. Sujud Arismana, Pekanbaru, Riau
228. Sukma Putra Permana, Yogyakarta
229. Sulis Bambang, Semarang, Jawa Tengah
230. Supali Kasim, Indramayu, Jawa barat
231. Sus S. Hardjono, Sragen, Jawa Tengah
232. Sutirman Eka Ardhana, Yogyakarta
233. Suyitno Etex, Mojokerto, Jawa Timur
234. Syaiful Anwar, Sumenep, Madura, Jawa Timur
235. Syarief Hidayatullah, Marabahan, Kalsel
236. Syarifuddin Arifin, Padang, Sumatera Barat
237. Syihabul Furqon, Sumenep, Madura, Jawa Timur
238. Tati Y. Adiwinata, Bandung, Jawa Barat
239. Tengsoe Tjahjono Malang Jawa Timur
240. Tjahjono Widarmanto, Ngawi, Jawa Timur
241. Tri Astoto Kodarie, Pare-Pare, Sulawesi Selatan
242. Ujianto Sadewa, Garut, Jawa Barat
243. Ummi Rissa, Bekasi, Jawa Barat
244. Viddi Ad Daery, Lamongan, Jawa Timur
245. Vonny Aronggear, Jayapura, Papua
246. Wahyu Toveng, Tangerang, Banten
247. Waluya Dimas, Melbourne, Australia
248. Warih Wisatsana, Denpasar, Bali
249. Wayan Jengki Sunarta, Denpasar, Bali
250. Windu Setyaningsih, Purbalingga, Jawa Tengah
251. Yahya Andi Saputra, Jakarta
252. Yandris Tolan, Larantuka, Flores, NTT
253. Yanti S. Sastroprayito, Semarang, Jawa Tengah
254. Yeni Sulistyani, Lampung Timur, Lampung
255. Yoseph Yapi Taum, Yogyakarta
256. Yuditeha, Karanganyar, Jawa Tengah
257. Yulia Sugiarti Achdris, Garut, Jawa Barat
258. Zham Sastera, Pandeglang, Banten
259. Zhee Lalune, Tanjung Gading, Sumatera Utara
260. Zulkarnain Al Idrus, Siak, Riau

Nama-nama di atas nantinya akan diseleksi kembali oleh kurator/editor, sehingga yang terpilih di tahap ketiga merupakan final yang karyanya dimuat dalam Pesisiran (Dari Negeri Poci 9).

Demikianlah maklum hendaknya.

Salam,

Jakarta, 15 Februari 2019
Komunitas Radja Ketjil/Dari Negeri Poci
Prijono Tjiptoherijanto
Handrawan Nadesul
Kurniawan Junaedhie
Adri Darmadji Woko

Sajak

Sayembara

Warta