KABAR

SAJAK

ESAI

Recent Posts

Rasa Hormat Maksimal Terhadap Puisi (2)

ADMIN SASTRAMEDIA 8/17/2019
Maka jika kita ingin memberikan apresiasi yang maksimal terhadap puisi di kalangan masyarakat luas, termasuk para siswa sekolah lanjutan misalnya, pada mereka ini harus bisa kita tunjukkan pencapaian puisi semacam itu. Pemahaman terhadap sajak-sajak yang memberikan inspirasi bagi masyarakat luas atau bangsa (berikut dengan argumentasinya kenapa sajak-sajak itu bisa memberikan inspirasi bagi masyarakat dan bangsa), itulah yang terutama ditampilkan dan dinalarkan kepada para siswa dan masyarakat, sehingga dengan demikian puisi bisa meraih kehormatan yang tinggi dan maksimal. Tidak hanya kehormatan sekadar sebagai hiburan yang menyegarkan jiwa atau sekadar sejenis kritik sosial yang ditulis dengan kata-kata indah atau retorik yang menarik, yang bagaimanapun juga tidak jarang ia hanya sekedar upaya tambal sulam dalam suatu paradigma realitas atau peristiwa sosial yang lebar terhadap sajak-sajak yang saya maksudkan itu.

Untuk memberikan contoh lebih transparan dan mudah dipahami, baiklah saya ingatkan pada tulisan saya di koran Media Indonesia nomor milenium dan di Ruangan "Bentara" Kompas bulan Juni yang lalu berjudul “Puisi Besar”.

Dalam tulisan itu, saya utarakan bagaimana teks Sumpah Pemuda itu bisa dipandang sebagai teks puisi. Teks Sumpah Pemuda bisa dipandang sebagai teks puisi yang ditulis dalam bahasa prosa, yang sarat dengan unsur puisi. Dalam gaya pengungkapannya sebagai puisi ia jauh lebih berhasil dibanding dengan penyair Pujangga Baru Rustam Effendi misalnya, yang ingin melepaskan diri dari bentuk persajakan tradisional namun tetap saja masih dalam bentuk pengungkapan tradisional yang ingin diberontakinya. 

Bahkan sebagai puisi dengan gaya bahasa prosa teks Sumpah Pemuda yang diciptakan tahun 1928 oleh "para penyair kolektif", yakni para perumus teks tersebut, begitu maju dan modern sehingga baru pada tahun 70-an bentuk pengungkapan prosa dalam puisi menjadi lazim seperti kelihatan pada beberapa sajak Taufig Ismail, Sapardi Djoko Damono, Hamid Jabbar, dan Darmanto Jatman misalnya

Sebagai puisi teks Sumpah Pemuda menciptakan sebuah dunia imajinasi, suatu dunia tersendiri yang tak dapat dirujuk pada realitas yang ada pada waktu itu. Sajak Sumpah Pemuda itu menyebut "putera-puteri Indonesia" sedangkan dalam realitas pada waktu itu tidak ada putera-puteri Indonesia. Yang ada dalam realitas adalah putera-puteri Jawa, Sunda, Minangkabau, Ambon dan lain lain. Juga tidak ada dalam realitas pada waktu itu "bangsa Indonesia", yang ada orang atau bangsa Jawa, Sunda, Minang, Ambon dan seterusnya. Juga tidak ada bahasa Indonesia, yang ada lingua franca yang tidak berkaitan dengan ungkapan "berbangsa satu bertanah air satu" yang diungkapkan dalam larik-larik Sumpah Pemuda. Di seluruh dunia banyak orang menggunakan bahasa Inggris tetapi itu tidak merujuk bahwa setiap pemakai bahasa Inggris adalah berkebangsaan Inggris atau warganegara Inggris. Juga dalam realitas pada waktu itu belum ada "tanah air Indonesia", yang ada hanya tanah Jawa, Parahyangan (Sunda) dan seterusnya.

Maka jika puisi Sumpah Pemuda dibaca dengan dikaitkan pada realitas waktu itu terasa absurd. Namun keabsurdannya itulah pula yang menyebabkan ia kental dalam otonominya sebagai sebuah puisi dengan dunia tersendiri. Dan sebagai suatu dunia imajinasi yang berdiri sendiri (otonom) ia seakan asyik sendiri, tidak melibatkan diri, tidak campur tangan menuding, menggurui, memperbaiki dan mengkritik realitas yang ada pada masa kolonial itu. Namun semua orang tahu teks Sumpah Pemuda itu memberikan inspirasi dan semangat bagi terjadinya perubahan besar atau paradigma baru dalam seluruh kehidupan sosial-politik dan budaya di Nusantara. Setiap orang menyadari bahwa peranannya dan anggapan sebagai teks sosial-politik yang terutama menyebabkan perubahan besar itu terjadi di Nusantara Namun itu tidak menggugurkan pendapat bahwa teks tersebut bisa dilihat sebagai puisi berikut dengan konsekuensi pengaruhnya sebagai puisi terhadap para pembacanya.

Bandingkanlah ini dengan sajak-sajak protes sosial yang mungkin karena tak sabar atau penasaran melihat kepincangan dalam realitas sosial politik lantas kata-kata puisi langsung masuk ke dalam (merujuk) realitas dan mencoba memperbaiki atau
mengguruinya. Jika kepada masyarakat, termasuk para siswa, ditampilkan peran inspiratif dari puisi terhadap orang banyak atau bangsa, di samping perannya sebagai memberi kesegaran pada kehidupan dan jiwa para individu pembaca, sebagaimana halnya teks Sumpah Pemuda itu, maka pada hemat saya rasa hormat, respek dan bersyukur terhadap puisi—yang semuanya dapat dirangkum dengan kara apresiasi—bisa menjadi maksimal.

Saya kira dalam ukuran atau relativitas tertentu, tidak sedikit dari puisi kita yang bisa memberikan inspirasi bagi masyarakat banyak atau pun bangsa sebagaimana halnya teks puisi Sumpah Pemuda itu. Misalnya sajak-sajak Muhammad Yamin yang pada mulanya menganggap tanah airnya Sumatra kemudian dua hari sebelum Sumpah Pemuda ia menulis sajak yang menyebut tanah airnya Indonesia. Sajak ini bisa dianggap sebagai sajak yang berdepan-depan dengan Sumpah Pemuda atau dengan sejarah.

Pada tahun 70-an sejumlah penyair cenderung kembali pada keakraban kepada akar kebudayaan lokal (daerah) tanpa menafikan unsur-unsur luar (Barat) yang sudah terasa akrab secara individual. Puisi Indonesia pada waktu itu marak dengan ekspresi daerah seperti kata-kata dari bahasa daerah, mantera, lirik yang diambil atau dipengaruhi lagu dolanan anak anak, dan juga kata-kata atau ungkapan dalam bahasa asing (Inggris). Jika para penguasa pada waktu itu peka terhadap sisi inspiratif dari puisi, mulai saat itulah sebaiknya masalah otonomi daerah yang berkesadaran global diantisipasi dan dibenahi. Jika sajak-sajak para penyair tahun 70-an bisa dipetik hikmahnya oleh para penguasa pada waktu itu sebagai suatu inspirasi terhadap otonomi daerah, saya kira mungkin tidak terjadi keresahan dan kerusuhan yang kini marak di daerah-daerah atau sekurang-kurangnya bisa diminimalisir. Tetapi pada kenyataan para penguasa Orde Baru lebih memilih sikap paranoid terhadap sastra atau puisi. 

Begitu pula sajak-sajak religius dan sajak-sajak bertema sosial yang muncul beberapa tahun sebelum realitas gerakan reformasi diluncurkan mahasiswa. Jika para penguasa waktu itu bisa mengambil inspirasi dari sajak-sajak itu, para penguasa atau pejabat mungkin bisa terangsang untuk memperbaiki akhlaknya dan memperbaiki pemerintahannya. Mungkin tidak berlebihan kalau saya katakan justru para pembangkang pemerintahlah (para reformis) yang mengambil inspirasi dari sajak-sajak tersebut. Atau dengan kata lain, sajak sajak reformasi telah ditulis oleh para penyair jauh sebelum gerakan reformasi dicanangkan secara —konkret di dalam realitas oleh para mahasiswa.

Dalam penalaran apresiasi puisi seharusnya para penalar mampu menampilkan sajak-sajak yang inspiratif bagi masyarakat ataupun bangsa, yakni sajak sajak yang sarat mengandung apa yang saya sebut dengan depan-sadar. Yakni hasil dari dialog
misterius dari perbenturan atau campuran unsur-unsur kesadaran; belakang-sadar (kesadaran akan hikmah nilai-nilai masa lampau), sadar-sadar (kesadaran terhadap realitas kekinian) yang secara misterius turun dari langit kebakatan seorang penyair dan hinggap pada larik-larik sajaknya dalam upaya untuk mempertahankan kelangsungan peninggian martabat kemanusiaan di masa depan.

Dalam bentuk konkretnya depan-sadar ini sering muncul dalam sajak seorang penyair sebagai ungkapan atau kata-kata yang biasanya absentia di dalam realitas sehari-hari. Ia hadir dalam puisi seorang penyair dan kehadirannya membentuk suatu depan-sadar bagi para pembacanya, suatu faktor kreatif yang bisa memberikan kelangsungan pada upaya manusia untuk memanifestasikan dan mengekspresikan peninggian martabat kemanusiaannya.

Dalam konteks puisi, "survival of the fittes" bagi saya adalah "survival of the depan-sadar". Memberikan perhatian terhadap sisi samping berikut dengan faktor depan-sadarnya, serta tentu saja dengan faktor keindahan dari sebuah puisi, pada hemat saya akan bisa meraih apresiasi maksimal. Inilah tantangan bagi mereka yang bergelut dalam bidang sosialisasi penalaran apresiasi puisi baik untuk masyarakat umum ataupun untuk para siswa di sekolah.

Sumber: Horison, XXXIV/7/2001.

Rasa Hormat Maksimal Terhadap Puisi

ADMIN SASTRAMEDIA 8/17/2019
oleh Sutardji Calzoum Bachri



SASTRAMEDIA.COM - Sejauh pengamatan saya, upaya meningkatkan apresiasi puisi sering terfokuskan pada segi keindahan sajak. Perhatian terutama ditekankan pada bagaimana menikmati keindahan sebuah puisi dan dengan kemampuan menikmati puisi bisalah timbul kesegaran jiwa atau kesegaran dalam menghadapi kehidupan. Dengan demikian sebagai sesuatu yang bisa menyegarkan jiwa, puisi dapat dikelompokkan dalam bidang-bidang lain seperti bidang hiburan, lawak misalnya. Karena lawak juga bisa menyegarkan jiwa. Jojon, Asmuni, Tarzan, Basuki adalah para pelawak dan tontonan mereka bisa menghibur jiwa. Rendra, Taufig Ismail, Goenawan Mohamad, Hamid Jabbar adalah sebagian dari para penyair kita. Tak heran kalau tak jarang di kalangan masyarakat dan para penguasa tidak membedakan kesenimanan para penyair dengan kesenimanan para penghibur tadi.

Karena sama-sama penghibur, maka dianggap kesenimanannya sama, tanpa memedulikan "genre"-nya. Lagipula dalam pembicaraan-pembicaraan tentang puisi di sekolah-sekolah maupun di hadapan masyarakat umum, tak jarang—mungkin untuk menghilangkan rasa kantuk hadirin— sastrawan atau penyair serta "presenter"-nya yang tampil sering memamerkan "lawak", sehingga penyair atau sastrawan dengan citra badut dan lawak itu semakin tertanam di kalangan masyarakat sejak mereka di sekolah lanjutan.

Sebenarnya para sastrawan atau penyair bisa juga dikelompokkan sebagai olahragawan, karena olahraga di samping menyehatkan badan, juga bisa menghibur dan menyegarkan jiwa. Namun masyarakat tidak pernah memasukkan penyair dalam kelompok olahragawan, mungkin karena biasanya penyair hanya - kuat pikiran dan imajinasi sedangkan ototnya sering kelihatan lembek dibanding olahragawan.

Di sisi lain penyair dikenal masyarakat luas sebagai tukang kritik, terutama terhadap masalah sosial dan politik. Citra sebagai tukang kritik inilah yang membikin para penyair dengan sajak-sajak kritik sosialnya, dan bahkan juga dengan kelakuan pembangkangannya sering menimbulkan citra "hero" di kalangan masyarakat banyak. Ini tentu saja menaikkan citra penyair dan sajaknya di kalangan masyarakat. Sedangkan di kalangan rezim yang berkuasa timbul sikap paranoid terhadap puisi.

Puisi adalah suatu dunia tersendiri, dunia imajinasi yang diciptakan lewat kata-kata. Itulah hakikat yang lazim ada pada sebuah puisi. Pada puisi yang mengemban hakikat ini secara ekstrem, atau katakanlah yang ideal, kemandiriannya sebagai dunia tersendiri begitu menonjol, sehingga tidak perlu merujuk pada realitas, termasuk pada realitas sumber atau rangsangan yang menimbulkan terciptanya puisi itu. Dalam kualitas seperti itu puisi menjadi sebuah dunia tersendiri, dunia imajinasi yang terdiri dari kata-kata, dari ungkapan, dari metafora. Karena itu tidaklah pantas untuk merujuknya pada realitas, tetapi lebih tepat atau lebih layak untuk dijadikan bandingan (komparasi) bagi realitas.

Dengan melakukan perbandingan antara dunia sana (dunia dari sebuah puisi) dengan dunia sini, yaitu realitas tertentu, orang bisa mengambil hikmah dari puisi tersebut. Tentu saja ada puisi yang tidak sepenuhnya merupakan dunia tersendiri. Sering ia bukan hanya sekedar merujuk pada realitas atau peristiwa-peristiwa tertentu, tetapi bahkan melakukan reaksi langsung terhadap realitas. Kata-kata dalam sajak dijadikan tangan untuk masuk pada dunia realitas, berupaya menuding, mendukung, membenahi atau memperbaiki realitas. Sebagian besar sajak-sajak protes atau kritik sosial adalah jenis puisi semacam ini. Mungkin karena tidak sabar dengan bobroknya realitas, banyak para penyair yang merelakan sajaknya menjadi tangan untuk menguak realitas dan berupaya menuding atau memperbaikinya. Puisi semacam ini cenderung reaktif terhadap realitas atau merupakan reaksi terhadap realitas, dan kurang cenderung merupakan puisi yang inspiratif bagi realitas atau terhadap keadaan.

Pada puisi yang reaktif, para penyair membiarkan sajaknya memainkan bola yang dilemparkan realitas, sebagaimana halnya kebanyakan sajak-sajak protes (kritik) sosial-politik. Mereka tidak membiarkan sajaknya menciptakan permainannya
sendiri atau dunianya sendiri. Sedangkan para penyair yang menciptakan sajak-sajak yang lebih otonom, yang membiarkan sajak-sajaknya sebagai sebuah dunia tersendiri, tidak membiarkan sajaknya ikut terpancing memainkan bola yang dilemparkan realitas. Sajak-sajak semacam ini membuat permainannya sendiri, karena itu cenderung dianggap sebagai sajak yang asyik (dengan permainannya) sendiri dan tidak mengacuhkan realitas.

Karena menciptakan dunia tersendiri atau permainannya sendiri, sajak semacam ini tak bisa dirujuk pada realitas yang sedang main. Sebagai sebuah dunia imajinasi yang otonom dengan permainannya sendiri, ia tidak langsung terkesan sebagai upaya untuk mengkritik, mendukung atau menegur, memperbaiki realitas. Namun sajak semacam ini bisa menjadi bandingan terhadap realitas. Sebagai bandingan terhadap realitas bisa menjadi tandingan terhadap realitas. Para pembaca yang terpesona dan terinspirasi oleh sajak semacam ini pada gilirannya akan menciptakan imajinasi dalam dan dari dunia puisi itu menjadi suatu realitas dalam kenyataan sehari-hari. 

Dalam masyarakat luas, sajak-sajak yang merujuk pada realitas—terutama sajak-sajak sosial politik—lebih dikenal dan mendapatkan apresiasi luas dibanding dengan sajak-sajak yang otonom itu. Ini dapat dipahami karena seorang penyair tentulah lebih artikulatif dan retorikal dalam menuangkan snegwoeg dan eupbora masyarakat dibandingkan dengan masyarakat umum. Sebagai ventilasi derita dan kegembiraan masyarakat, tak heran kalau sajak-sajak semacam ini mudah populer. Bahkan popularitas puisi semacam ini sangat luas di kalangan masyarakat. Boleh dikata apresiasi masyarakat berputar sekitar puisi yang bisa dirujukkan pada realitas dan terutama realitas sosial-politik.

Bahkan dalam anggapan orang banyak, puisi menjadi benar-benar berarti bila dalam perannya sebagai sesuatu yang memberikan kritik terhadap situasi sosial atau politik. Atau dengan kata lain terhadap sajak sajak yang merujuk pada realitas sosial politik. Irilah faktor utama yang menimbulkan rasa hormat dan terimakasih (apresiasi puisi) masyarakat terhadap sajak dan juga penyairnya.

Apresiasi semacam ini tertanam luas dan dalam di kita. Kritikus legendaris H.B. Jassin selalu menciptakan angkatan sastra (puisi) dengan meletakkan karya sastra dalam kaitan peristiwa besar sosial-politik. Angkatan 45 diletakkan dalam peristiwa sosial-politik tahun sekitar itu. Begitu pula Angkatan 66 dalam peristiwa sosial-politik sekitar tahun 66. Maka semakin tertanam pandangan di kalangan masyarakat bahwa puisi hanya sekedar mengikuti sejarah, mengelu-elukannya atau, walaupun melakukan kritik, masih tetap dalam konteks "paradigma" dari realitas peristiwa yang dikritiknya itu. Dengan kata lain puisi, baik mengelu-elukan atau mengkritik realitas sosial-politik, ia dapat dipandang sebagai budak sejarah dari peristiwa sosial politik yang terjadi dalam sejarah yang juga membuat sejarah. Bukan menjadi sesuatu yang memberikan inspirasi bagi sejarah. Bukan sesuatu yang berada di luar sejarah, di depan sejarah atau berhadap-hadapan dengan sejarah. Puisi sekedar menjadi budak sejarah. Dalam konteks ini dapat saya katakan, meskipun menganut paham humanisme universal dengan visi kebebasan kreatif, para penyair serta kritikusnya tetap berada dalam paham (peristiwa sosial) politik menjadi panglima.

Sikap semacam inilah yang menyebabkan rasa hormat terhadap puisi, atau apresiasi terhadap puisi kurang bisa maksimal. Sehebat-hebatnya puisi semacam ini masih lebih hebat sejarah yang menciptakannya. Puisi yang otonom sebagai dunia imajinasi yang melepaskan diri dari rujukan realitas, cenderung bisa membebaskan diri sebagai budak sejarah atau budak dari peristiwa realitas sosial-politik. Ia malahan bisa menjadi bandingan untuk sejarah yang sedang terjadi, menjadi inspirasi bagi sejarah dan memengaruhinya. Atau dengan kata lain bisa memegang peranan untuk membentuk realitas (sejarah) baru, merangsang dalam terbentuknya sebuah paradigma baru. Dalam posisi pencapaian begitu, bisa diberikan rasa hormat yang maksimal terhadap puisi.

Berlanjut: Rasa Hormat Maksimal Terhadap Puisi (2)

Pengantar Buku: Dari Sunyi ke Bunyi

ADMIN SASTRAMEDIA 8/14/2019
oleh Goenawan Mohamad



SASTRAMEDIA.COM Melalui pengalaman, saya tahu bahwa penyair-penyair yang buruk adalah penyair yang menulis prosa yang buruk. Puisi kadangkala menyesatkan. Gairah yang menggerakkan seseorang untuk menulis sajak memberinya alasan yang sah buat menyusun sesuatu yang tidak terlampau urut, terang, dan padu -yang oleh orang Inggris disebut lucidity-. Di hadapan sebuah sajak kita tidak mempertengkarkan apa yang dikatakan seorang penyair, bagaimana proses diskursifnya, apa pula argumentasinya untuk sampai kepada suatu pernyataan, suatu kesimpulan. Ini tidak berarti bahwa puisi tidak memerlukan sebuah koherensi. Puisi menuntut disiplin agar koherensi itu terjaga, dalam imaji, bunyi, sugesti, kontras, dan keseimbangan. Hanya saja prosesnya melintasi jalan yang berbeda dengan prosa. 

Tidak mengherankan bila mereka yang tidak memiliki daya untuk menjadi koheren dalam menulis puisi, -satu hal yang diperlukan dalam menulis puisi- pada akhirnya akan dapat diketahui dalam tulisannya yang lain. 

Hartojo Andangdjaja adalah salah satu penyair Indonesia yang dengan segera dapat diketahui mutunya justru melalui esai-esainya. Ia menulis sajak sejak akhir tahun 1940-an. Ia lebih dikenal sebagai penyair. Namun bagi saya telaahnya tentang puisi, pemikiran dan pendapatnya tentang itu, merupakan model lucidity yang dalam kesusastraan Indonesia modern pada masanya hanya ditemukan dalam tulisan Sutan Takdir Alisjahbana dan Asrul Sani (setelah Hartojo Andangdjaja nama yang harus disebut di sini agaknya ialah Sapardi Djoko Damono). 

Kekhususan Hartojo ialah bahwa ia sepenuhnya memikirkan puisi, dan tidak nampak mempunyai ambisi untuk menulis pelbagai hal lain di luar itu dengan gagasan-gagasan besar. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa gayanya -yang bukan saja jernih, tetapi juga merupakan suatu gelombang kalimat yang teratur- menunjukkan bahwa ia memang seseorang yang menulis dengan puisi terngiang-ngiang di kepalanya terus-menerus.

Saya mengenal Hartojo di tahun 1962. la baru datang dari Sumatera Barat, tempat ia pernah hidup dan mengajar sebagai guru. Yang memperkenalkan adalah D.S. Moeljanto, agaknya satu-satunya orang di Indonesia yang mengenal betul penyair yang agak misterius ini, karena mereka pernah hidup satu kota di Surakarta, dan Moeljanto praktis merupakan orang tempat ia berdialog sejak mula.

Dengan reputasinya sebagai penyair yang sudah berpengalaman, Hartojo agak membuat saya gentar mula-mula. Ia tidak banyak berbicara. Tubuhnya kecil dan kurus seperti orang yang menderita sakit. Tetapi ada kerapian dalam penampilannya yang sederhana dalam puisi dan prosanya. la bukan sosok yang liar dan garang, tetapi ia nampak dalam seperti sungai yang tidak banyak riak. 

Dan ia memang dalam, perspektif, peka, -dan hampir semua percakapan kami hanya mengenai puisi. la, sepulang dari Sumatera Barat, mendapatkan kerja di majalah Si Kuncung, sebuah majalah kanak-kanak terkemuka waktu itu. Ia juga tinggal di sebuah kamar di kantor majalah itu, di Jalan Madura (kini Jalan Muhammad Yamin) no. 2, tempat dulu, sebelumnya, majalah Kisah juga berkantor. Saya sering datang ke sana, terkadang ikut menumpang tidur di dekatnya: sebuah kamar sempit yang panas, 2 x 4 meter persegi, tanpa ranjang. Bila malam, Hartojo tergeletak di atas tikar di lantai. Di dekatnya buku-buku. la selalu membaca. Ia agaknya -kerapian yang juga nampak dan hampir semua menyimpan beberapa buku sendiri, dan terkadang meminjamnya dari kamar kumuh Wiratmo Soekito yang tinggal tidak jauh dari sana, di Jalan Cikini.

Puisi dan kesusastraan bagi Hartojo nampaknya merupakan fokus hidupnya, meskipun ia praktis tak mendapatkan apa-apa dari itu, selain pengakuan dan rasa kagum dari segelintir orang. Ia tidak banyak bergaul, selain dengan sejumlah teman sastrawan, terutama Gerson Poyk. Hartojo lebih sering menyendiri; saya bahkan jarang tahu bagaimana dan di mana ia sarapan dan makan siang dan makan malam. Makan, dan kebutuhan biologis lain, nampaknya sesuatu yang marginal dalam hidupnya. Tubuhnya yang ringan itu, yang dibungkus pakaian seadanya tetapi bersih, seakan-akan hanya berisi "rasa". Bila kami berbicara politik satu hal maka hal itu pasti ada kaitannya dengan puisi. Tidak mengherankan bagi saya bila Hartojo cemas akan kecenderungan waktu itu, ketika suara paling kuat ialah "mengabdikan kesusastraan untuk Revolusi" dan pendirian yang jarang pendirian "realisme-sosialis" diumumkan dan mereka yang bersikap lain, seperti Hartojo dan saya dan sejumlah teman, didesak untuk setuju atau dicerca. Itulah sebabnya kemudian ia, dan saya, termasuk orang yang menjadi penanda tangan Manifes Kebudayaan, yang menegaskan bahwa kesusastraan tidak bisa dikendalikan oleh kekuasaan politik.

Saya bergembira, bahwa Hartojo kemudian menuliskan pikiran-pikirannya di saat itu, seperti yang terdapat dalam kumpulan esai ini. Di tahun 1965 saya berpisah dari dia. Saya ke Eropa, dan sampai dengan tahun 1967 Indonesia bergolak hebat. Saya tidak mendengar apa yang terjadi dengannya. Kemudian saya tahu bahwa kembali di Surakarta ia berkeluarga dan mempunyai anak keadaan yang sangat bersahaja di tengah pertumbuhan ekonomi yang terjadi. Bukunya terbit: kumpulan sajaknya dan terjemahannya atas Tagore, atas usaha Ajip Rosidi yang memimpin penerbitan Pustaka Jaya. Namanya akan dikenang sebagai penyair dan penerjemah puisi yang mengagumkan. Kumpulan esainya ini akan membuktikan, bahwa ia tidak dan hidup dalam hanya akan dikenang karena itu saja. Sebab, di dalan kumpulan ini kita akan menemukan pemikiran yang serius tentang persajakan Indonesia, dengan uraian yang bisa menunjukkan bagaimana besarnya cintanya kepada puisi.

Yang lebih menarik, Hartojo (dalam esai-esai yang sudah dan belum pernah diterbitkan) menguraikan, dengan jujur dan gamblang, proses penciptaan puisinya yang terkenal. Terus terang, dalam suasana sekarang, saya ragu tidakkah orang seperti dia terasa sebagai sebuah anakronisme: seseorang yang hanya menekuni sajak-sajak ketika di sekitar orang berbicara tentang soal-soal lain yang lebih "riil", seseorang yang melihat puisi sebagai keindahan tersendiri yang harus dirawat ketika orang memperlakukannya sebagai hanya alat komunikasi di pentas. Tetapi, kalau pun dia akan nampak sebagai anakronisme, saya yakin bahwa hal itu, seperti pilihannya untuk menyendiri, mengandung yang heroik. Membaca esai-esai ini bagi saya bukan hanya mengenang sebuah periode yang menarik, tetapi mendapatkan inspirasi bahwa ada hal yang sangat berharga dari percintaan Hartojo Andangdjaja dengan puisi.