TERKINI

Ini “Teman Duduk” Kita Sekarang, bukan “Teman Duduk”nya M. Kasim - Arbi Tanjung

@kontributor 4/07/2024

Ini “Teman Duduk” Kita Sekarang, Bukan “Teman Duduk”nya M. Kasim

(Membaca Cerpen Bulan Maret di Sastramedia.com )

Arbi Tanjung



Sebelum perang dunia kedua, cerita pendek di Indonesia di rintis oleh M.Kasim dan Suman Hs. Keduanya, memulai menulis cerita pendek dengan cerita lucu-lucu saja, sebagaimana dongeng-dongeng lucu yang dimiliki hampir semua suku bangsa di Indonesia. Cerita pelipur lara, yang seolah-olah cuma mengajak para pendengar (pembacanya) tertawa melupakan kesukaran dan penderitaan hidup sehari-hari. Khusus karya M. Kasim, cerita-cerita itu pula kemudian dihimpun dan diterbitkan oleh Balai Pustaka dalam sebuah buku: Teman Duduk (1936). Begitu sejarah mencatat awal cerita pendek di Indonesia tumbuh, kemudian berkembang menjadi seperti yang kita kenal sekarang.

Cerita pendek adalah teman duduk. Ia lahir dari galian cerita-cerita yang masih hidup dari mulut ke mulut dalam keseharian. Atau cerita baru dengan bahan lama, kadang-kadang cerita yang sama sekali baru yang ditukik dari pergaulan keseharian.

Sebagai salah satu penyedia tetap rubrik cerpen sejak November 2021, Sastramedia.com tentu punya cara dan pilihannya sendiri untuk menentukan apa dan bagaimana cerpen sebagai “teman duduk” yang akan disuguhkan kepada pembaca. Apakah masih cerita sekadar pelipur lara sebagaimana awal tumbuhnya di masa M. Kasim dan Suman Hs?

Khusus edisi Maret 2024, apakah setelah membaca cerpen karya Iin Farliani, Didik Wahyudi, Rici Swanjaya, Yin Ude dan Bonie Chandra yang terbit di Sastramedia masih membuat pembaca tertawa mengakak sampai-sampai kulit perut kita sakit seperti efek membaca kumpulan cerita “Teman Duduk”nya M. Kasim?

Benarkah cerita ular, kucing mati, parasit, arwah, penyakit tbc yang mengisi penuh rubrik cerpen Sastramedia bulan Maret 2024 membuat orang-orang yang membacanya tertawa terpingkal-pingkal? Begitukah!

Semengerikan dan semenyeramkan inikah keseharian kita akhir-akhir ini, sampai-sampai cerita “teman duduk” pun adalah deretan binatang, makhluk gaib, dan penyakit yang penuh ancaman, semisal: ular, kucing mati, parasit, arwah dan penyakit tbc?

Cerita pendek, karena bentuknya, dapat dengan cepat merefleksikan kenyataan di sekitar kita secara lebih cepat dan lebih beragam dibanding dengan novel misalnya. Inilah sebabnya cerpen banyak dipakai oleh para pengarang untuk berbicara. Begitu tulis Jakob Sumardjo empat puluh sembilan tahun silam dalam esainya Mencari Tradisi Cerpen Indonesia yang terhimpun dalam buku Cerpen Indonesia Mutakhir (1983).

Ular, binatang yang menakutkan dan mengerikan bagi banyak orang, terutama anak-anak menjadi topik “teman duduk” pembaca dalam cerpen Esyil dan Ular Ayah (3/3/2024) yang ditulis Iin Farliani. Karena ular, seorang anak perempuan menderita depresi berat sejak umur 7 tahun hingga ia remaja. Ayahnya yang berprofesi sebagai penyamak kulit ular, memaksa Esyil untuk membantunya memegang pisau dan menguliti kulit ular. Karena hal itu, ia menanggung derita mental terus menerus.

“Coba kau bayangkan, anak kecil diminta untuk memegang pisau pengulit dan menguliti ular itu satu-persatu.Waktu itu aku baru berumur tujuh tahun. Ayahku akan memang gilku dengan suara yang menggelegar, memaksaku untuk memegang pisau pengulit, dan ia mulai membentangkan ular itu, dan memintaku untuk mengulitinya. Seorang anak perempuan berusia tujuh tahun dipaksa menguliti ular. Gila, bukan?” Begitu curhatan tokoh Esyil kepada tokoh aku. Tokoh-tokoh yang ada dalam cerpen ini dominan perempuan: Esyil, Aku, Ibu Aku, Ibu Esyil. Perempuan-perempuan yang keceriaan dan kebahagiaannya di “lahap” oleh tingkah ayah dan ularnya. Ibu Esyil, perempuan yang kerap menerima kekerasan fisik dan kata dari ayahnya. Ibuku, perempuan yang bekerja sebagai pembantu di rumah Esyil turut menanggung beban karena perlakuan ayah Esyil. Esyil, perempuan yang selalu ketakutan saat ayah ibunya bertengkar akan menghisap habis perhatian ibuku kepadanya. Dan aku? Perempuan yang cemburu karena perhatian ibuku tersedot habis untuk Esyil.

Esyil tak berhenti bercerita kepadaku “Kadang aku berpikir ular-ular itu tak jauh nasibnya dengan diriku. Di tangan ayahku, aku dan ular-ular itu memiliki nasib yang serupa. Kami sama-sama dikuliti. Dikuliti! Begitulah.Perlakuan kejam ayahku kepadaku sejak dulu seperti mengulitiku hidup-hidup. Menjelma tekanan mental yang tak sembuh-sembuh”

Lewat cerita Iin Farliani, tak ada ruang dan celah untuk bisa tertawa. Tawa tak bisa menyusup dalam kesadisan. Bagaimana dengan cerita kucing mati?

 

Lain Ular, Lain Kucing Mati

Jika Iin Farliani, merefleksikan kenyataan ‘gangguan’ mental manusia karena ular, Yin Ude melalui cerpen Kucing Mati (24/3/2024) mengingatkan kemanusiaan manusia lewat seekor kucing mati. Kematian seekor kucing karena lapar usai melahirkan, jauh lebih penting dari pembahasan memperjuangkan kemanusiaan korban perang di Palestina.

Burhan dan enam rekan aktivis kemanusiaan sibuk membahas perjuangan kemanusiaan untuk Palestina, tetapi abai kepada seekor kucing yang kelaparan di hadapan mereka. Kucing itu akhirnya mati. Tokoh aku sangat mengutuk dan kecewa kepada suaminya (Burhan) dan kawan-kawannya. “Sebelum rapat kami melihat kucing itu di sudut pekarangan kita. Mengeong-ngeong lemah sekali. Kami pikir karena lapar. Tak kami pedulikan. Lalu saat rapat, ia melintas di ruang tamu. Jalannya limbung dan sempat kuhardik. Lalu masuk ke ruang dalam…”

Tokoh aku mengakui “Ya, ingin kucetuskan sesuatu yang merayapi dadaku semalam, yang hari ini kian bergolak, dalam bentuk teriakan, “ Palestina terlalu jauh, Kak! Kemarin ada seekor kucing, makhluk Tuhan juga, yang kelaparan, butuh bantuan, di dekat Kakak, tapi tak Kakak bantu!”

Sekali lagi, bila kita tetap ingin membanding-bandingkan masa awal tumbuhnya cerita pendek di Indonesia dengan cerita ini, maka ini bukan cerita lucu-lucuan. Ini kisah ambruknya kemanusiaan manusia. Akibat keambrukan itu, manusia bisa mengganggu manusia atau makhluk lainnya. Semisal parasit, mungkin.

 

Parasit “teman duduk” yang Mengganggu

Dari kelima cerpen bulan Maret di Sastramedia.com, cerpen Parasit (17/3/2024) karya Rici Swanjaya merupakan ”teman duduk” yang cukup mengganggu pembaca (atau jangan-jangan hanya aku saja). Gangguan yang paling terasa (mungkin hanya bagiku) adalah kesulitan untuk memahami isi cerita. Itu aku alami, jika membacanya hanya sekali. Beda bila dibaca berkali-kali. Gangguan lain yaitu kalimat atau kata yang terkesan “dipaksa” harus ada dalam tulisan. Semisal: (1) semacam mekanisme pertahanan diri…(2) Dengan penuh determinasi aku bersumpah…(3) Bertengger bersama kantuk dan residu mimpi buruk…dan lain sebagainya.

Tokoh aku tak kuasa atas dorongan diluar dirinya untuk meminum darah dari apa dan siapa saja, terutama manusia. Tak terkecuali mertuanya sendiri. Dorongan yang tak menentu waktu datangnya.

Dunia sekitar dan dunia dalam dirinya menjadi sumber yang kaya bagi manusia yang menjalani hidupnya, tiap manusia mempunyai pengalamannya sendiri-sendiri tentang alam dan kejadian. Di dalam cerita-ceritalah kita melihat kehidupan angan-angan dan pikiran, kekayaan alam rohani yang dibentuk oleh pengalaman manusia, begitu tulis H.B. Jassin dalam esainya “Kisah: Bulanan-Cerpen Pertama di Indonesia” (1959). Sebagaimana yang disebutkan Jassin, Rici Swanjaya merangkai cerita ‘parasit’nya entah lewat angan atau lewat pikiran atau kekayaan alam rohani pengalamannya. Parasitkah segala penyakit yang diidap manusia?

 

Penyakit TBC dan Arwah yang Melihat Bapak Tidur

Tbc atau tuberculose adalah salah satu penyakit langganan masyarakat di Hindia Belanda, begitu Deddy Arsya menulis dalam bukunya Wabah, Rempah, Sejarah (Jbs, 2023, h.41). Penyakit yang banyak mengantarkan pengidapnya ke pintu kematian. Pintu yang memanggil dan membawa masuk tokoh aku dalam cerpen Melihat Bapak Tidur (10/3/2024) karya Didik Wahyudi. Penyakit yang juga menyerang Pace David, tokoh dalam cerpen Darah yang Tercecer di Nabunage (31/3/2024) karya Bonie Chandra. Penyakit tuberculose merupakan penyakit yang mencemaskan dan mengancam sejak masa silam hingga hari ini.

Tokoh aku mati karena tbc, kemudian arwahnya masih harus menyaksikan derita yang dialami bapaknya. Bapak yang selalu tidur dan sering menangis sejak kematian istri dan aku (anak lelaki satu-satunya). Bapak, seorang lelaki ringkih yang dikepung beban.

Didik Wahyudi menulis “Sekarang bapak sedang tidur berselimut beban sekali lagi. Dan aku tak bisa membantunya sama sekali. Dia butuh uang dengan segera. Pemilik rumah di pinggir jalan itu beberapa kali datang. Mereka minta bapak segera melunasi pembayarannya. Rumah itu rumah waris. Hasil penjualannya dibagikan kepada para ahli waris yang tak semuanya mau sabar menunggu bapak. Ditambah lagi biaya untuk pengacara dan ongkos penyelesaian sengketa tanah yang berlarur-larut. Habis. Dan tak seorang pun yang diharapkan bisa membantu… Bapak masih tidur. Ini sama sekali tidak biasa. Sebab, bapak sendiri pernah berkata, hanya orang bobrok yang tidur pada jam-jam seperti saat itu”

Berbeda dengan tokoh aku, tbc yang menggerogoti Pace David dalam cerpen Darah yang Tercecer di Nabunage belum sampai merenggut nyawanya. Namun, penyakit itu menjauhkan ia dari pelanggan-pelanggan yang biasa membeli pinang, sirih dan kapur dagangannya. Dagangan yang menjadi sumber utama memenuhi kebutuhan hidup Pace David. Berawal dari ketidaksengajaan tokoh aku menyebut di hadapan kawan-kawannya (Od, Musa dan Enek) bahwa batuk berkepanjangan yang selama ini menjangkiti Pace David pertanda penyakit tbc. Penyakit yang menular. Penyakit yang dijadikan senjata ‘utama’ bagi sesama penjual (khususnya Musa dkk) untuk melumpuhkan kepercayaan pelanggan membeli pinang, sirih dan kapur kepada Pace David.

Bonie menulis “Saat sedang ramai-ramainya pembeli di lapak mereka, Musa datang dan menyampaikan ke orang-orang bahwa Pace David mengidap penyakit tbc yang menular. Ia juga menyebut bahwa aku juga sudah tertular. Musa menghasut agar orang-orang mengusirku dan Pace David dari pasar itu. Sejak itu, kios yang biasa Aku dan Pace David sewa, diminta oleh pemiliknya. Sakit Pace David semakin bertambah. Sementara, Aku dan ia tak lagi bisa berjualan pinang demi makan dan pembeli obatnya. Akhirnya, aku menjual pinang dalam bentuk bungkusan kecil yang dititipkan ke kios-kios di Tolikara, sebagaimana yang pernah dilakoni Pace David merintis usaha jual pinangnya”

Kelima cerpen bulan Maret 2024 yang terbit di Sastramedia.com ini jelas sebagai “teman duduk” kita masa sekarang, yang jauh dari cerita-cerita lucu. Ini cerita nasib dan wajah takdir manusia masa kini. Nasib dan takdir yang sungguh merindukan keriangan dan keceriaan yang bisa melipur lara sebagaimana dalam buku “Teman Duduk”nya M. Kasim. Begitu! 

Kacamata Slamet - Abul Muamar

@kontributor 4/07/2024

Kacamata Slamet

Abul Muamar



Jalan Malioboro begitu ramai siang itu. Sepeda motor, becak kayuh, mobil, andong, semuanya berjalan merayap. Para pejalan kaki—yang rata-rata wisatawan dari luar kota—berlalu-lalang di sepanjang jalan. Ada yang berjalan kaki di trotoar, sebagian menyeberang jalan, dan ada yang duduk di bangku kayu, berswafoto, berfoto bersama, atau sekadar beristirahat—menikmati libur akhir pekan.

Slamet berdiri di pinggir jalan, persis di seberang Mal Malioboro. Ia mematung dan hanya bergerak ketika lalat menggelitikinya atau seseorang menyentuhnya. Tatapannya hanya bisa terarah ke depan karena sekeliling matanya tertutupi kacamata. Kepalanya menunduk dalam-dalam. Air liur menggantung di tepi mulutnya dan menetes setiap beberapa puluh detik sekali.

Seorang wisawatan perempuan berjalan mendekati Slamet. Ia mengeluarkan ponsel dari tas kecil, dan berswafoto. Pada jepretan kedua, perempuan itu mendekatkan wajahnya ke wajah Slamet. Slamet bergeming, hanya matanya yang berkedip-kedip dan hidungnya mengendus-ngendus. Setelah beberapa kali jepretan, perempuan itu mengelus-ngelus kepala Slamet dan segera beranjak mengejar teman-temannya yang sudah berjalan jauh ke arah selatan.

Satu jam yang lalu, Slamet baru saja membawa rombongan wisatawan mengelilingi Istana Keraton. Dari Malioboro, ia membawa mereka ke Alun-Alun Utara, ke Jalan Wijilan, ke Alun-Alun Selatan, ke Jalan Mataram, sebelum kembali lagi ke Malioboro. Ia belum menenggak setetes pun air setelah itu. Air liur terus merembes dari mulutnya.

Secara fisik, Slamet sulit dibedakan dengan kuda-kuda lain yang berasal dari Bantul. Bulunya berwarna coklat dan memiliki poni pendek di bagian atas kepalanya. Bulu-bulu halus yang sedikit lebih panjang tumbuh rapi di atas punggungnya.

Kini Slamet hampir berusia 18 tahun. Empat belas tahun lebih ia menarik kereta andong di kawasan Malioboro, sampai-sampai ia hafal setiap jengkal jalan yang ia lewati, dan itu membuat Lekwar—pemiliknya—tak perlu bersusah payah mengendalikannya. Seringkali, dalam sekali putaran, ia membawa 5-6 penumpang sekaligus. Dalam sehari, ia biasanya membawa penumpang sebanyak enam hingga delapan kali. Pada hari-hari libur nasional, frekuensinya bisa mencapai 10 sampai 12 kali. Setiap kali melewati medan jalan yang menanjak, Lekwar akan memecutnya agar berjalan lebih cepat. Beberapa penumpang pun terkadang ikut-ikutan mencambuknya, menirukan tingkah polah Lekwar.

Selama 14 tahun, hampir setiap hari Slamet bekerja dari pagi sampai malam. Ia berangkat dari Kampung Kenalan di Banguntapan, menempuh jarak sekitar 12 kilometer ke Malioboro. Namun, usia membuat tenaganya berangsur-angsur melemah. Siang itu, ia baru dua kali membawa penumpang, namun air liur tak henti-henti keluar dari mulutnya—petanda bahwa ia sangat kelelahan.

Lekwar tak pernah peduli soal itu. Ia hanya akan memberi makan dan minum Slamet selepas membawa penumpang ketika suasana hatinya sedang bagus, dan itu sangat ditentukan oleh banyaknya penumpang di hari itu.

***

Setelah hampir 5 jam menunggu sampai tertidur di kursi andong, Lekwar akhirnya mendapatkan penumpang lagi: satu keluarga dari luar kota yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak. Dua anak itu masing-masing berusia 8 dan 5 tahun. Hari sudah petang saat penumpang membangunkannya untuk menanyakan tarif. Ia bilang, dua ratus ribu untuk sekali putaran keliling kompleks Keraton. Si ayah memprotes, kemahalan, katanya. Seratus ribu, deal, katanya lagi. Lekwar menolak dan meminta jalan tengah, dan akhirnya disepakati tarif Rp150 ribu.

Namun, penumpang kali ini agak merepotkan Lekwar. Raisa, si anak pertama, tidak mau naik ke kereta andong. Ia maunya naik di punggung kuda. Ia mencak-mencak ketika ayah dan ibunya menjelaskan bahwa itu tidak boleh, sesuai kata Lekwar.

“Tidak mau! Tidak mau! Aku mau naik di badan kudanya!” kata bocah itu.

Adiknya, Bintang, ikut menyetujui kemauan kakaknya. Setelah tawar-menawar, dengan tarif kembali dinaikkan menjadi Rp200 ribu, Lekwar akhirnya luluh. Namun, karena aturan tidak membolehkan hal itu, Lekwar membawa mereka terlebih dulu keluar dari Jalan Malioboro. Tiba di Jalan Parangtritis, barulah ia membolehkan dua bocah itu menaiki kuda.

“Hei, Kuda. Bawa aku dan adikku jalan-jalan,” kata Raisa.

“Baik!” kata Slamet, membalas ucapan Raisa. Tapi, hanya Raisa dan Bintang yang bisa mendengar ucapan Slamet. Itu mengejutkan Raisa dan Bintang untuk sesaat, tapi kemudian membuat mereka semakin kegirangan.

Raisa dan Bintang telah naik ke atas punggung Slamet. Ketika Lekwar hendak naik juga untuk mengawasi dan menjaga keselamatan dua bocah itu, Slamet memberontak.

“Aku tidak mau ditemani! Aku pergi berdua saja sama Bintang! Ayo, Kuda, cepat kita jalan!”

Dalam hitungan detik, Slamet berlari sekencang-kencangnya membawa Raisa dan Bintang. Dua bocah itu bersorak kegirangan. Ajaibnya, mereka aman di atas punggung Slamet meski belum pernah sekalipun naik kuda. Slamet menjaga mereka tetap aman dengan keseimbangan tubuhnya. Ayah dan ibu bocah itu cemas. Mereka hendak mengejar, tapi apa daya, Slamet berlari terlalu kencang, jauh lebih kencang dari yang pernah disaksikan Lekwar sepanjang hidupnya. Lekwar pikir, kudanya mungkin kerasukan jin.

Di tengah keramaian dan lalu lalang kendaraan, Lekwar mencoba mencari tumpangan atau kendaraan yang bisa ia pinjam untuk mengejar Slamet. Namun, upayanya gagal karena tak ada seorang pun kenalannya yang lewat di jalan itu sore itu. Akhirnya, ia menelepon satu per satu temannya, mengabarkan tentang kaburnya Slamet.

***

Ketika sudah cukup jauh dan tak lagi terlihat oleh Lekwar, Slamet berhenti.

“Kau hebat, Kuda!” kata Raisa.

“Namaku Slamet.”

“Slamet?”

“Ya, Slamet Sedoyo.”

“Kalau pemilikmu itu?”

“Lekwar.”

“Lekwar?”

“Ya, Lekwar Congo.”

“Lekwar Congo?”

“Ya.”

“Nama yang aneh.”

“Lekwar Congo adalah orang yang kejam, seperti kebanyakan manusia.”

“Kejam bagaimana?”

“Dia punya banyak kuda. Aku salah satunya.”

“Ada berapa banyak?”

“Aku tidak tahu pasti berapa banyak. Tapi dua belas pernah menarik andong, termasuk aku. Beberapa dia sewakan ke orang lain. Semua di Jalan Malioboro.“

“Terus? Kejam bagaimana dia?”

“Setelah belasan tahun menjadi penarik andong, semua kuda itu akan ia potong.”

“Dipotong?”

“Ya, dipotong, dijadikan sate, tongseng, dan lain-lain.”

“Ih ngeri.”

“Beberapa adik dan saudaraku, yang tak kuat menarik andong dan roboh di jalan, bukannya dia rawat, tapi ia cambuk. Kalau masih bertahan hidup dan bisa pulang, mereka akan dicambuki lagi sampai mereka tak mampu lagi memekik. Jika sudah mau mati, cepat-cepat ia sembelih leher mereka.”

“Lalu, kamu bagaimana?”

“Selama ini aku ingin untuk kabur, tapi kesempatan itu tak pernah datang. Pernah suatu hari, sekelompok aktivis perlindungan hewan mencoba membantuku kabur, tapi mereka malah ditangkap dengan tuduhan pencurian. Salah seorang dari mereka nyaris tewas karena sempat diamuk warga. Sekarang, kau telah membantuku.”

“Aku membantumu?”

“Ya. Berkatmu, aku bisa kabur sekarang. Setelah ini, aku tidak bisa mengantarkanmu kembali ke sana, tapi aku sudah membantu agar kamu dan adikmu bisa dengan mudah ditemukan. Di sini, ayah dan ibumu akan segera menemukan kalian.”

“Lalu kau akan pergi ke mana?”

“Untuk sementara, aku akan kabur ke hutan di sebelah selatan sana. Setelah itu akan aku pikirkan nanti.”

“Hati-hati, Slamet.”

“Terima kasih. Aku pergi dulu. Tolong, jangan beri tahu mereka ke mana aku pergi.”

“Sebentar! Tadi kau bilang, kebanyakan manusia kejam seperti Lekwar. Kejam bagaimana?”

“Mereka menjadikan kami, kuda dan hewan-hewan lainnya, hanya sebagai alat untuk tujuan hidup mereka. Untuk kesenangan mereka. Sebagian dimakan, sebagian diperah tenaganya, sebagian disiksa, dan sebagian dijadikan objek hiburan di sirkus dan kebun binatang dengan dalih konservasi.”

“Aku tidak seperti itu. Aku tidak suka kebun binatang. Binatang-binatang di sana selalu tampak murung, seperti merindukan keluarganya yang entah dimana. Aku juga tidak suka menonton sirkus. Pernah sekali aku menonton bersama guru dan teman-teman sekolahku. Hewan-hewan di sirkus tampak seolah-olah mereka bahagia dengan akrobat-akrobat yang mereka tunjukkan, tapi aku tahu mereka sedih.”

“Begitulah. Aku tahu sejak awal kau datang, kau anak yang baik. Semoga kau tumbuh besar menjadi manusia dewasa yang baik.”

“Terima kasih, Slamet.”

“Sudah ya. Aku harus segera pergi sebelum mereka datang. Sampai jumpa.”

“Sampai jumpa, Slamet. Semoga kita bisa bertemu lagi.”

***

Tidak sampai satu jam, Raisa dan Bintang telah ditemukan. Ayah dan ibu mereka mengecek kondisi tubuh mereka berulang-ulang.

“Aku dan Bintang tidak kenapa-kenapa, kok.”

“Terus kudanya ke mana?”

“Tidak tahu.”

Lekwar, yang berdiri tak jauh dari mereka, terlihat murka, dan jari telunjuknya mengarah ke Raisa dan Bintang.

“Ini gara-gara kalian!”

“Lha, kenapa Anda salahkan anak saya? Kami, kan, sudah tambahin bayarannya dan Anda sepakat,” kata si Ayah, tak terima anaknya disalahkan.

Dibalas begitu, Lekwar tak bisa bilang apa-apa lagi. Ia terus menelepon beberapa kerabat dan kenalannya dan meminta mereka untuk menangkap Slamet bila menemukan.

***

Hari telah gelap saat Slamet berhasil mencapai hutan di sebelah selatan. Beberapa penduduk telah mencoba mencegatnya di jalan, namun tak ada yang berhasil. Slamet melompat setinggi-tingginya seolah memiliki sayap setiap kali orang-orang menghadangnya. Kakinya menyepak orang-orang yang mencoba menangkapnya.

Malam itu, ia adalah satu-satunya spesies kuda di hutan sebelah selatan Bantul yang nyaris tak lagi memiliki spesies liar. Kunang-kunang yang dulu beterbangan di kala malam, kini telah lenyap. Begitu juga dengan tonggeret dan burung hantu. Semua menghilang akibat proyek pengembangan pariwisata alam yang diklaim berkelanjutan dan ramah lingkungan. Yang tersisa hanyalah sayup-sayup suara kepakan sayap kelelawar dan jangkrik.

Dari atas ketinggian bukit, Slamet menatap kelap-kelip cahaya pemukiman penduduk dan kendaraan di jalan. Ia tidak tahu besok akan ke mana. Kacamata yang melingkari matanya masih terpasang. Kacamata itu membuatnya tak dapat melihat sekelilingnya selama belasan tahun. Tapi, dengan kacamata itu, ia masih dapat menyaksikan kerakusan dan kekejaman manusia. 

Lagu Perpisahan - Agus Widiey

@kontributor 4/07/2024
Agus Widiey
Lagu Perpisahan




Dan inilah satu-satunya lagu yang dapat didengarkan
saat orang-orang meratapi perpisahannya
ia dituliskan; tepat ketika bulan miring ke kanan
dan bayang-bayang uzlah dari keramaian.

—Keinginan yang berubah bentuknya,
 masa lalu setiap detiknya—

Barangkali, perpisahan lebih banyak dipertanyakan
ketimbang mempernyatakan kembali pertemuan pertama kali.
dan sepertinya setiap orang mesti bertanya;
mengapa  setiap pertemuan dirayakan dengan perpisahan,_pada akhirnya.

Yogyakarta, 2023

- Sengat Ibrahim

@kontributor 3/31/2024
Sengat Ibrahim
                                   




tuhan kecil dari 
utara tak pernah kesepian
hanya saja ia tak betah hidup sendirian.
aku tahu kesepian adalah saudara kembar kematian
namun bagi tuhan kecil dari utara, kesepian adalah pintu masuk(ku)
 
ke dunia yang sembunyi di luar pikiran manusia.
entah dunia apa, mungkin semacam dunia
cinta—memabukkan pemiliknya melalui ketololan yang sempurna.
ingin sekali aku memeluk tuhan dari utara 
lalu mengecup bibirnya
 
dengan secakap-kecupan yang mencakup 
atau cukup-sekecupan tetapi berlarut-larut—sebagai
ritual 
ibadahku
 
untuknya.
tuhan kecil dari utara tahu kalau 
aku bukan penulis kesepian melainkan pencipta kesepian:
ruang di mana aku & tuhan kecil dari utara menikmati pertemuan hingga
akhirnya saling meniadakan.

2024

Kata - Humam S. Chudori

@kontributor 3/31/2024
Humam S. Chudori
Kata




semua aksara kuhimpun
kugandakan dan tak terbilang
hingga tercipta kata
terurai dalam kalimat
namun, 
hanya satu kata
yang selalu menemani
keluar masuk
nafasku.

Kokok Jantan Ayam Buta - Aliurridha

@kontributor 3/31/2024
Aliurridha 
Kokok Jantan Ayam Buta




angin kering musim kemarau lebih tajam dari pisau. lebih dingin dari perpisahan. dan kau, gema suara yang tak henti menggangguku. adalah pagi yang datang terlalu cepat. atau malam yang terlambat. 

aroma pagi datang di sela kokok jantan ayam buta. ayam yang sudah lupa beda siang. sudah lupa beda malam. tapi selalu ingat kapan pagi datang. waktu di mana bibit-bibit nasi disebar.

di sini pagi tidak punya kaki. tidak menendangku untuk bangun. tidak melemparku ke tengah jalan yang banjir kendaraan. 

(2022)

Usaha Memeluk Diri Sendiri - Alexander Robert Nainggolan

@kontributor 3/31/2024
Alexander Robert Nainggolan
Usaha Memeluk Diri Sendiri




bahkan dalam rindumu yang purba
ingatan pada garba ibu
setelah doa tengadah di wajah
barangkali engkau mesti memeluk diri sendiri
lalu mencintai pesakitan yang telanjur lungkrah di dada
menikmati putaran usia
dan kenangan-kenangan kecil yang membuat terjaga
dengan sedikit pendar getar. setiap kali engkau tengah
sungsang dibekap cemas yang tengah mengeras. dan membiarkan
keruwetan kota menyelusup ke matamu.

dengan demikian engkau tak perlu merasa sia-sia
dan kembali menegakkan kepala
meski banyak serpih duri yang menyelusup di jantung,
kabar-kabar sedih begitu sering mekar di dadamu

keliaran kota;
pijar cahaya lampu
membuat lukisan dari partitur nyeri
dan kau terjerembab
di kubangan yang sama
berulang-ulang

2024

SAJAK