TERKINI

PENGUMUMAN: SASTRAMEDIA BERHENTI BEROPERASI

@kontributor 6/27/2024
PENGUMUMAN




Dear, para kontributor dan pembaca setia SASTRAMEDIA...

Setelah tiga tahun berjalan, terhitung sejak hari ini, 27 Juni 2024 sampai hari yang tak ditentukan, SASTRAMEDIA berhenti beroperasi sebab alasan teknis. 

Naskah yang sebelumnya dikirim dan belum dimuat, bebas ditarik untuk dikirim ke media lain.

Terima kasih atas perhatian dan kontribusinya pada SASTRAMEDIA selama ini.


Hormat kami,

Tim SASTRAMEDIA
Komunitas Jagat Sastra Milenia

Memandangi Lukisan Affandi di Kawedanan - Eko Setyawan

@kontributor 6/09/2024
Eko Setyawan
Memandangi Lukisan Affandi di Kawedanan




di hadapan kanvas Affandi,
aku mematung
melihat potret diri
yang hidup tapi bergeming murung.

kami bercakap dan bersenda gurau.
ia berkata kasihan padaku.
aku tertawa.

ada benarnya apa yang ia katakan.
sebab di sini hari-hari hanya diliputi kesedihan.

aku menatapnya.
lantas berpikir untuk apa ia kemari.
aku curiga
ia punya dendam pada negara
tapi tak seseorang pun memedulikannya.

di hadapan lukisan Affandi,
aku mematung.
kulihat wajah negara yang beringas
meski apa yang dibenci juga turut serta dicintai.

(Bengkulu, 2023)

Merangkul Jalan - Said S. Tejasmoro

@kontributor 6/09/2024
Said S. Tejasmoro
Merangkul Jalan




Kukira sekali tempa
Seterusnya akan tajam

Kukira sekali sapa
Seterusnya akan kenal

Kukira sekali berdiri
Seterusnya akan tegar

Nyatanya serupa roda
Oleh waktu kita habis
Oleh jalanan kita terkikis

Gerakan Golongan Putih - Kurnia Gusti Sawiji

@kontributor 6/09/2024

Gerakan Golongan Putih

Kurnia Gusti Sawiji

 


Pesan itu muncul melalui salah satu media sosial saya, dan isinya terlalu panjang untuk dikatakan sebagai surat pembaca. Terlalu rumit, kaku, dan teoretis; ia lebih mirip sebuah esai. Mengintip profil si pengirim pesan, yang saya temukan adalah foto seorang wanita muda anggun berusia 20 pertengahan bernama Aina Maiazora. Dari cara berpakaian dan tatapannya, saya bisa menafsir bahwa dia orang berpendidikan. Pesannya merupakan ulasan kepada cerpen saya yang berjudul Gerakan Golongan Putih, dimuat di salah satu koran nasional dua pekan lalu. Mungkin karena bertepatan dengan tahun politik, cerpen itu kini ramai diperbincangkan dan didiskusikan.

            Cerpen itu adalah karya pertama saya bertema politik. Di situ saya membayangkan sebuah peradaban masa depan di mana memilih kepala negara adalah kewajiban, bukan hak. Tokoh utama adalah seorang anarkis yang mengajak masyarakat ramai-ramai tidak memilih, karena ceritanya di antara calon-calon yang ada, semua baginya tidak layak memimpin negara. Hal ini membuat dia menjadi sasaran aparat. Bagian akhir cerita saya biarkan terbuka, dan saya pastikan tidak ada keberpihakan ke mana pun.

            Pesan dari si Aina ini merupakan salah satu ulasan terlengkap yang saya baca mengenai cerpen itu. Alhasil, kami pun banyak berdiskusi tentang keterkaitan di antara gagasan dalam cerpen dengan realita yang ada. Saya sampaikan bahwa sebenarnya inspirasi cerpen ini muncul karena saya belum bisa memastikan ke mana hak suara saya akan dilayangkan beberapa bulan ke depan. Turut saya beberkan beberapa proses kreatif dan interpretasi pribadi saya, dan dia membalasnya dengan sangat cerdas. Ada ajakan untuk saling bertemu, namun tentu saya tolak. Hubungan antara penulis dan pembaca cukuplah seperti ini: mendiskusikan karya tanpa perlu saling mengenal.

***

            Saya baru sadar bahwa percakapan saya dengan Aina Maiazora berakhir pukul 1 dini hari. Hasil dari ini adalah tertidurnya saya sampai pukul 8 pagi, dan baru terbangun ketika ketukan terdengar di depan rumah. Saya pikir itu loper koran, tetapi ketika ketukan terdengar berkali-kali seolah di balik pintu adalah orang paling tidak sabaran di dunia, mau tidak mau saya beranjak. Saya belum mandi, belum sarapan, dan masih berpakaian tidur.

            Saya cukup kaget ketika melihat dua pria besar melalui lubang intip di pintu. Si besar yang satu lebih ke arah gemuk, sementara si besar yang lainnya lebih ke arah tegap, seperti jenderal. Saya membukakan pintu, dan mereka memperkenalkan diri; saya semakin kaget ketika tahu mereka dari kepolisian. Tetapi mereka cepat-cepat menyampaikan bahwa mereka hanya ingin bersilaturahmi dan sedikit ngobrol. Mereka mengajak saya masuk ke dalam rumah saya sendiri, dan meminta saya menutup pintu sembari mereka masuk. Saya masih berharap mereka tidak akan bertindak ekstrem.

            “Ingin saya buatkan sesuatu?” tanya saya. Keduanya menolak dengan sopan. Tahu bahwa saya sedang waswas, mereka mencoba mencairkan suasana.

            “Kami berpikir seorang penulis sekelas Anda akan tinggal di tempat yang lebih mewah,” ujar si besar gemuk. Saya tertawa kecil. Saya tetap membuatkan teh untuk mereka, karena saya pikir itu akan menimbulkan kesan baik.

            “Perkenalkan, saya Dori,” ujar si besar tegap, “Dan saya Bogi,” ujar si besar gemuk. Mereka lanjut memperkenalkan diri sebagai bagian dari divisi keamanan siber kepolisian di kota tempat saya tinggal.

            “Untuk bapak berdua datang langsung menemui saya, tentu ada perkara besar. Meskipun saya tidak tahu apa yang diinginkan kepolisian dari seorang penulis sederhana seperti saya,” kata saya.

            “Yah, atasan memang menginginkan kami membawa Anda langsung ke kantor polisi dan menjalankan proses interogasi sesuai prosedur, tetapi kami juga mengatakan hal yang sama; Anda hanya seorang penulis sederhana. Oleh karena itu, di sinilah kita,” balas Bogi. Saya agak kecut. Tetapi Dori langsung menambahkan.

            “Tenang saja, Pak. Anggap ini acara bedah karya yang biasa Anda hadapi. Kali ini, kita akan membedah cerpen Anda, Gerakan Golongan Putih yang terbit di Harian M dua pekan lalu.”

            Ah, lagi-lagi cerpen jahanam itu. Tidakkah ia sudah terlampau banyak menarik perhatian? Apakah makna yang terkandung dalam cerpen itu dianggap aparat berbahaya? Seharusnya tidak. Saya tidak menyinggung siapa-siapa, dan cerpen itu murni hasil imajinasi saya, tidak saya dasarkan ke keadaan nyata.

            “Begini, Pak. Bagaimana proses kreatif Anda menulis cerpen itu?” Tanya Dori. Dan saya jawab sebagaimana saya sampaikan kepada dewan pembaca beberapa paragraf yang lalu: saya bingung menentukan paslon mana yang akan saya coblos, dan dari situ saya terinspirasi membuat cerpen itu.

            “Berarti bukan karena memang Anda tidak mau mencoblos, ya?” tegas Dori. Saya katakan: jelas tidak. Untuk apa saya punya hak suara kalau tidak saya pakai. Mendengar hal itu, Dori dan Bogi memandang saya agak intens. Hal ini membuat saya kagok dan menanyakan mengapa mereka memandang saya seperti itu. Bogi bersandar sambil meregangkan perut, Dori yang menjawab.

            “Maksud Anda kewajiban bersuara, kan?”

            “Maaf, apa?”

            “Kewajiban bersuara, Pak. Bukan hak bersuara. Anda wajib memilih salah satu di antara paslon yang ada, dan negara berhak mengawasi Anda sepanjang prosesi pemilihan umum. Negara bisa tahu jika Anda sengaja tidak memilih, atau mencoblos kertas suara tidak sesuai prosedur, dan mempidanakan Anda. Bukankah setiap lima tahun begitu prosedurnya, sejak Anda punya KTP?” balas Bogi.

            Saya mulai menyadari ada yang tidak beres. Tetapi naluri saya mengatakan bahwa saya harus menyetujui apa pun ucapan mereka berdua, dan mengatakan bahwa saya baru bangun, sehingga saya masih separuh sadar. Hal ini tidak serta-merta membuat mereka meredakan intensitas pandangan mereka ke saya, namun saya bisa merasakan hawa longgar di udara ketika Dori tersenyum simpul dan mengajak saya menyeruput teh kembali.

            “Sekali lagi kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, Pak. Belakangan ini, kami menangkap banyak konten kampanye negatif tentang setiap paslon yang ada. Hal ini menimbulkan sebuah persepsi lebih baik tidak memilih, jika pilihan yang ada kenyataannya tidak ada yang baik,” jelas Dori.

            “Sialnya, pembuat konten-konten ini berlindung dengan menggunakan akun berbasis kecerdasan buatan; AI. Sehingga banyak konten yang tidak dapat kami telusuri dari mana jejak asalnya,” lanjut Bogi.

            “Dan saya hanya penulis sederhana. Anda tahu siapa saya, Anda bisa menemukan rumah saya. Dengan kelemahan seperti ini, saya akan terlihat bodoh kan, jika ingin membuat konten-konten yang melanggar aturan?” pungkas saya. Bogi terdiam, lalu memandang Dori, dan secara sistematis keduanya tersenyum.

            “Mohon dipahami, yang berpikir seperti itu adalah atasan kami. Di sini, kami hanya menjalankan tugas. Menurut atasan, adanya konten atau persepsi seperti itu tentu karena ada gagasan di sebaliknya. Yah, kebetulan salah satu yang tertangkap di radar adalah karya tulis Anda. Tetapi jangan salah paham, Pak; cerpen itu bagus! Walaupun saya polisi, saya cukup menikmati karya sastra. Nah, makanya kami ke sini ingin mengklarifikasi kembali proses kreatif di sebalik cerpen itu,” balas Dori.

            Yang selanjutnya terjadi adalah percakapan singkat (namun lebih dalam) tentang cerpen itu. Setelah semua selesai, dan itu memakan waktu kurang lebih 90 menit, mereka berdua bergegas pergi dengan meninggalkan secara tersirat pesan jelas: saya bebas berkarya apa pun, tetapi mata mereka telah menangkap saya. Bagi seorang penulis, hal itu adalah bencana besar. Lantas saya pun menghubungi editor saya setelah memastikan dua aparat itu sudah benar-benar tidak ada di kawasan saya.

            “Kita sudah diskusikan ini kan, Mas? Tapi sampean bilang lanjut, ya kukatakan lanjut,” ujar Mufa enteng. Dia adalah editor novel-novel saya, dan saya selalu berdiskusi dengannya sebelum menulis sesuatu.

            “Tapi kata mereka itu lho, Mas. Masa mereka bilang pemilu itu kewajiban? Pemilu dari dulu sampai sekarang kan hak,” sanggah saya.

            “Ya nggak, Mas. Bukannya periode lalu sudah berubah? Masa pean lupa,” balasnya. Dan terjadilah perdebatan antara dia dan saya. Akhir perdebatan dibiarkan terbuka, karena Mufa ada urusan lain dan saya masih tidak percaya akan apa yang terjadi.

            “Di kotaku sedang ada demo besar-besaran. Biasa, tentang AI. Mau kuliput,” ungkapnya. Selain editor, Mufa bekerja sebagai wartawan partikelir di sebuah media alternatif berbasis di Surabaya. Saya tahu demo yang dimaksudnya. Belakangan ini, muncul semacam kabar burung bahwa penelitian negara di bidang AI telah berkembang sampai ke tahap menggunakannya untuk mengendalikan pikiran manusia. Meskipun saya penulis sastra, saya dulu sempat kuliah di jurusan informatika. Hal mengenai AI mengendalikan pikiran manusia tidak lebih dari fiksi sains yang kurang ilmiah.

            Seusai berbicara dengan Mufa, saya cepat-cepat mandi dan menyiapkan sarapan. Bisa jadi sekarang ini saya masih bermimpi, dan semesta cerita yang saya bangun menjadi latar mimpi saya lantaran betapa asyiknya mendiskusikan cerpen itu bersama si Aina Maiazora. Setelah puas saya menjalankan semuanya dan yakin bahwa kenyataan ini tempat saya berpijak, saya membuka laptop dan berselancar di internet.

            Apa yang saya temukan di internet membuat saya mengulang-ulang kembali pencarian saya. Lima tahun silam, di tahun akhir jabatan Presiden N, terbit undang-undang baru yang menyatakan pemilihan kepala negara bukan lagi sebuah hak, namun kewajiban. Latar belakang undang-undang ini adalah demonstrasi besar-besaran yang disebut sebagai Gerakan Golongan Putih: sebuah ajakan masif untuk tidak mencoblos lantaran paslon yang ada dinilai tidak mewakili rakyat maupun nilai luhur bangsa. Waktu itu ada tiga paslon, dan ketiganya memiliki rekam jejak buruk: penggusuran, pelanggaran HAM berat, korupsi, KKN, dan lainnya yang tidak diusut negara. Hasil dari gerakan ini begitu kentara: perhitungan suara di KPU sudah mencapai 70 persen, tetapi lebih dari 80 persennya adalah suara tidak sah. Stabilitas politik negara goyah, dan desakan dari petinggi-petinggi partai untuk merevisi dasar hukum pemilihan kepala negara meningkat.

            Alhasil, ketentuan pemilu pun berubah. Prosedurnya sama seperti yang disampaikan Bogi: ketika seseorang akan mencoblos, dia masih bebas untuk tidak membocorkan siapa paslon pilihannya kepada orang lain, kecuali kepada negara. Artinya, dia wajib membuktikan kepada negara bahwa dia telah memilih, dan negara punya hak penuh mengetahui paslon mana yang dia pilih. Seorang pemilih akan masuk ke ruang khusus yang dipantau CCTV, dan melakukan proses pencoblosan seperti biasa. Seusai mencoblos sesuai prosedur, dia wajib menunjukkan kertas suara yang sudah dicoblos ke CCTV sebagai bukti pendataan bahwa warga negara sekian telah mencoblos paslon sekian. Prosedur ini sementara hanya berlaku untuk pemilihan kepala negara, dan belum diberlakukan untuk pemilihan kepala daerah ataupun anggota legislatif.

Belum sempat saya menyimpulkan penemuan ini, gawai saya berbunyi. Pesan dari Aina Maiazora. Dipikir-pikir kembali, kejanggalan ini muncul setelah percakapan dengannya kemarin. Tidak ada salahnya saya coba bertanya kepadanya. Saya buka pesan, dan isinya adalah permohonan untuk menjadikan cerpen saya bahan penelitian skripsinya. Dia meminta waktu untuk bisa berkorespondensi melalui panggilan video. Saya pikir ini waktu yang tepat, dan mengatakan bahwa saya bersedia melakukannya sekarang.

Aina membuka percakapan dengan sangat sopan, dan gayanya berbicara mengingatkan saya kepada gaya tutur penyiar berita atau narator video. Dia berpakaian persis seperti fotonya, namun kini saya hanya bisa melihat bagian atas tubuhnya. Saya ceritakan kejadian pagi ini, dan Aina menyimaknya secara saksama.

“Saya pikir cerita Anda tidak janggal, namun kenyataannya memang tidak sesuai dengan apa yang Anda katakan. Tetapi Anda tidak perlu khawatir. Kenyataan dapat diubah sesuai keperluan yang diminta,” balasnya sambil tersenyum. Video terputus-putus karena statik jaringan. Belum sempat saya menanyakan makna jawaban janggal itu, ketukan di pintu kembali terdengar berkali-kali, seolah di balik pintu adalah orang paling tidak sabaran di dunia. Dan kali ini saya tahu itu bukan Dori dan Bogi.

Tangerang, Februari 2024

Membaca Seratus Tahun Kesunyian Marquez - Juli Prasetya

@kontributor 6/09/2024

Membaca Seratus Tahun Kesunyian Marquez

Juli Prasetya

 


Diawali dengan “Bertahun-tahun kemudian, saat menghadapi regu tembak yang akan mengeksekusinya, Kolonel Aureliano Buendia jadi teringat suatu sore, dulu sekali, ketika diajak ayahnya melihat es” (hlm.9)

Dan diakhiri dengan “Sebab sudah diramalkan bahwa kota penuh cermin (atau khayalan) akan dienyahkan angin dan terhapus dari ingatan manusia tepat ketika Aureliano Babilonia selesai membaca perkamennya dan bahwa apa yang tertulis takkan bisa diulang sejak awal waktu sampai selamanya. Sebab bangsa yang dikutuk seratus tahun kesunyian tak akan memperoleh kesempatan kedua di bumi ini.” (hlm.482)

Begitulah sepenggal cerita awal dan akhir dari novel Cien Anos De Soledad atau One Hundred Years of Solitude atau Seratus Tahun Kesunyian (Terj. Djokolelono, Gramedia Pustaka Utama, 2018) karangan Gabriel Garcia Marquez, seorang penulis dan peraih nobel sastra dari Aracataca, Colombia.

Dalam Macondo, Para Raksasa, dan Lain-lain Hal karangan Ronny Agustinus, Gabo (panggilan akrab Marquez) sendiri mengaku bahwa Novel Seratus Tahun Kesunyian ini adalah novel pertama yang ia tulis saat usianya 16 tahun, hal ini terungkap dalam wawancara bersama sahabatnya Vargas Llosa saat membahas tentang proses kreatif Gabo

Gabo : Begini aku mulai menulis Seratus Tahun Kesunyian ketika berusia enam belas tahun

Vargas: Mengapa kita tidak mulai dari buku pertamamu? Yang paling pertama

Gabo  : Yang pertama justru Seratus Tahun Kesunyian […] aku sendiri tidak percaya akan apa yang akan aku ceritakan, maka aku pun menyadari bahwa kesulitan itu semata-mata teknis,  yakni aku tidak memiliki unsur-unsur teknis dan bahasa untuk membuatnya kredibel, bisa dipercaya. Aku pun pergi menggarap empat buku lain sementara waktu itu. Kesulitan besarku selalu adalah menemukan nada dan bahasa agar bisa dipercaya (hlm. 68)

Seratus Tahun Kesunyian berkisah tentang takdir yang telah selesai keluarga Buendia selama tujuh turunan yang telah diramalkan dan ditulis dengan bahasa Sansekerta oleh seorang Gipsi pengembara, mistikus (saya menyebutnya mistikus karena ia berani menembus batas ilmu pengetahuan manusia), sekaligus seorang penemu bernama Melquiades. Semua tokoh di dalam cerita ini mendapatkan porsi yang berbeda namun tidak kehilangan bobot penceritaannya, seperti Jose Arcadio Buendia sang petualang, ilmuwan, dan gila karena gagal menjadi alkemis lalu diikat di pohon Kastanye dan mati di sana. Lalu Ursula Iguaran seorang perempuan tangguh, pembuat permen berbentuk hewan warna-warni, yang menjadi kepala keluarga Buendia selama berpuluh-puluh tahun menggantikan suaminya dan tidak pernah menyerah dengan usia tua, kebutaannya, dan hanya mengumpat satu kali pada dunia yang brengsek dan takdir keluarganya yang memukau, sampai pada kematiannya yang ia ramalkan setelah hujan selama 4 tahun 11 bulan dan 2 hari di Macondo mereda.

Dan tentu saja sang tokoh utama di novel ini adalah Kolonel Aureliano Buendia yang tak pernah memenangkan 32 pertempuran dalam perang-perang yang dilaluinya bersama 21 kawan seperjuangannya, dan memilih melupakan semua kenangannya dan melakukan terapi seumur hidupnya di kamar kerjanya untuk meredakan guncangan jiwa akibat perang dan kepahitan hidup dengan menulis berjilid-jilid puisi dan membuat kerajinan ikan hias dari logam. Yang ketika kerajinan ikan hias itu telah selesai ia akan meleburkannya kembali dan mengulang pekerjaannya dari awal.

Pertama kali saya membeli novel ini pada tahun 2019 di Toko Buku Gramedia di Jakarta. Saat pertama membacanya tentu saja merasa bingung dan aneh, ada ya cerita tentang keluarga turun temurun dengan nama yang berulang, selain itu tentu saja saya merasa banyak keanehan dan kemustahilan yang disajikan di dalam novel ini, sehingga pelan-pelan saya membaca, dan lambat laun saya takjub sendiri dengan ceritanya yang magis, tapi juga begitu tampak nyata. Saya seperti dipaksa untuk menuntaskan novel ini. Lalu pembacaan kedua saya lakukan beberapa hari yang lalu, dan saya memulai untuk menuliskan ulasan ini dengan nuansa dan daya baca yang tentu saja berbeda dari saat pertama kali saya membacanya. 

Kita bisa belajar proses kreatif dan kepengrajinan Marquez dari novelnya ini, bagaimana ia menyelipkan satu potongan cerita di satu bab, yang nanti akan juga kita temukan di bab berikutnya dan kita menjadi penasaran memang apa yang akan terjadi selanjutnya, jadi Marquez memainkan suspense cerita untuk menarik rasa penasaran pembaca. Lalu kemudian bagaimana ia mencampuradukan antara masa lalu masa kini dan masa depan. Bagaiamana ia membaurkan antara yang terjadi, mungkin terjadi, dan kemustahilan. Hal-hal biasa di tangan Marquez menjadi tampak luar biasa, hal ini tidak lepas dari pengaruh neneknya yang suka mendongeng dengan melebih-lebihkan ceritanya. Dan teknik inilah yang kemudian digunakan oleh Marquez dalam novel Seratus Tahun Kesunyian-nya.

Cerita pertama pada novel ini sebenarnya menceritakan tentang perkembangan peradaban dunia, dari mistik ke ilmu pengetahuan bagaimana penemuan-penemuan magnet, kaca pembesar, gramofon, pianola, Daguerrortype, listrik dan kereta api di Macondo yang dianggap luar biasa di masa itu. Kemudian bagaimana setiap suku memiliki kekhasannya sendiri dalam melakukan perjalanan, adat istiadat, mitos dan kepercayaan-kepercayaan tentang leluhur, dan tentu saja ada satu pantangan tentang pernikahan sedarah yang akan melahirkan anak dengan ekor babi, ini adalah satu pantangan yang paling terkenal di keluarga Buendia namun lambat laun dilupakan.

 Keluarga Buendia dari generasi ke generasi memiliki takdirnya sendiri-sendiri yang terjalin begitu kompleks, rumit, dan aneh. Cerita-cerita unik aneh dan luar biasa ini tentu saja menjadi hiburan tersendiri bagi pembaca. Selain itu di sini Marquez menulis secara sembarang saja, semau dan sebebas dia mau memulai dari mana, mencampuradukan antara masa lalu dan masa kini, namun hal itu tidak memisahkan jalinan cerita yang tampak menyebar dan ngawur, tapi cerita itu malah tetap bisa dinikmati menjadi satu kesatuan karena kesemrawutannya itu, tetap bisa dinikmati meskipun penceritaan dan teknik berceritanya sebebas dan seelastis itu.   

Di dalam novel ini cerita yang paling menarik menurut saya adalah saat Macondo terkena wabah penyakit tak bisa tidur. Sebuah penyakit yang mengakibatkan orang-orang Macondo tak bisa tidur dan terjaga selama berbulan-bulan, dan akibat atau efek dari penyakit ini selain tak bisa tidur adalah perlahan mereka akan melupakan segalanya. Pertama-tama lupa akan nama suatu benda, kemudian fungsinya, kemudian mereka akan lupa pada kenangannya sendiri, dan melupakan siapa diri mereka, dan melupakan orang lain. Namun penyakit wabah tak bisa tidur ini kemudian berhasil diatasi saat Melquiades yang telah dilupakan datang. Ia yang dikira telah mati terkena demam di Pantai Singapura dan jasadnya dilarung di Laut Jawa secara ajaib tiba-tiba datang ke kediaman Buendia, dan tersinggung karena orang-orang melupakannya, tapi kemudian ia tahu bahwa memang ada yang tidak beres di Macondo sehingga ia membuka peti bersisi ramuan ajaib yang dibawanya dan membebaskan Macondo dari penyakit tak bisa tidur dan tentu saja dari lupa. 

Di sini kita tidak akan menemukan perasaan sentimentil dan rasa aneh dengan cerita-cerita yang sebenarnya luar biasa dan aneh itu, Marquez akan menuntun kita untuk menerima semua ceritanya yang meyakinkan bahwa cerita tentang pembantaian 3000 orang pekerja buruh perkebunan pisang, laki-laki, perempuan dan anak-anak yang ditembaki dengan senapan mesin oleh tentara di dekat stasiun itu benar-benar terjadi dan pernah ada.

Seratus tahun kesunyian tidak hanya menjadi sebuah cerita tentang sebuah keluarga yang sudah diramal takdirnya akan berakhir dengan kutukan seratus tahun kesunyian, yang dialami oleh keturunan Buendia dari generasi ke generasi, tapi secara simbolis juga menjadi pelajaran bahwa kehidupan, sejarah, dan takdir manusia itu tidak berjalan dengan linier tapi sirkular, berputar, dan berulang. Serta sebagai pengingat agar kita tidak melakukan hal-hal yang di luar batas perikemanusiaan, bahwa pernah ada sebuah bangsa yang pernah ada di muka bumi ini namun karena melakukan hal-hal yang di luar batas, maka kemudian sebuah bencana menghancurkannya, sebagaimana angin tornado datang meluluhlantakan Macondo dan tidak memberikan kesempatan kedua di bumi ini, hilang dari sejarah, hilang dari peta, namun tetap tersimpan dan mengendap dalam ingatan dan hati pembaca.

Membicarakan “Terlambat di Djalan” Kumpulan Puisi Abdul Hadi WM yang Jarang Dibicarakan - Khanafi

@kontributor 6/02/2024

Membicarakan “Terlambat di Djalan” Kumpulan Puisi Abdul Hadi WM yang Jarang Dibicarakan

Khanafi




Di antara penyair besar Indonesia, nama Abdul Hadi W.M (lahir, Sumenep, 24 Juni 1946) tidak mungkin disisihkan. Sebagai penyair, Abdul Hadi sangat produktif (prolifik), terutama dilihat pada masa-masa awal kepenyairannya. Produktivitasnya dalam menulis sajak cukup layak untuk dibicarakan lebih jauh dan mendalam. Sebab menurut saya masih banyak segi yang belum dibicarakan dari sosok Abdul Hadi WM ini, terutama mengenai karya-karya awalnya yang sedikit banyak membawa nuansa impresionist dan surealis yang berbeda daripada penyair lainnya, misalnya seperti Sapardi Djoko Damono yang terkenal dengan sajak suasana, atau Goenawan Mohamad yang sajak-sajaknya dianggap “gelap”.

Beberapa kumpulan sajak Abdul Hadi WM yang pernah diterbitkan, antara lain: Riwayat (1967), Terlambat di Ujung Jalan (1968), Laut Belum Pasang (1972), Cermin (1975), Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975), Meditasi (1976, 1982), Tergantung pada Angin (1977), dan Anak Laut Anak Angin (1983).

Di antara kumpulan sajak yang terbit itu, tentu ada banyak sajak yang kuat (selain Tuhan Kita Begitu Dekat, sajak yang terkenal itu) tetapi kurang mendapat perhatian (kurang dibicarakan). Sebab mungkin beberapa kumpulan sajak itu selain sukar didapatkan di toko-toko buku bekas atau di perpustakaan di kota-kota besar, juga tidak pernah dicetak banyak apalagi cetak ulang. Hal demikian itu membuat kesulitan untuk melacak sajak-sajak awal atau sajak-sajak yang tidak terkenal tapi kuat, dan sajak-sajak lain yang jarang dibicarakan. Saya akan coba membicarakan salah satu kumpulan sajak yang jarang dibicarakan itu, yaitu kumpulan sajak Terlambat di Djalan yang berbentuk stensilan kemudian terbit ulang dengan judul Terlambat di Ujung Jalan.

Selain menulis sajak, Abdul Hadi juga banyak menulis ulasan, kritik, telaah, dan sebagainya, dan ia juga menerjemahkan karya sastra dari luar negeri, baik dari Asia, Eropa, dan Timur Tengah. Abdul Hadi bisa dikatakan mengikuti perkembangan sastra ketika itu, bahkan turut mewarnai khazanah sastra Indonesia dengan nafas sastra yang sebelumnya belum terhirup keterpengaruhannya, yaitu sajak impresionis-surealis, sufistik “pencarian Tuhan”, dan sajak pemikiran yang lebih akrab tinimbang sajak Subagio Sastrowardojo, misalnya, yang referensinya cukup sukar dan struktur kata-katanya cukup sulit.

Kumpulan sajak Terlambat di Djalan berisi sajak-sajak yang ditulis Abdul Hadi antara tahun 1967 – 1968 ketika ia berada dan berkisar antara Yogya, Solo, Madura, Surabaya, Medan. Tetapi kebanyakan sajak sebenarnya bertitimangsa Yogya (letaknya di awal dan di tengah-tengah), karena beliau berkuliah di UGM ketika itu. Bisa dikatakan sajak-sajak dalam kumpulan ini adalah sajak-sajak awal Abdul Hadi WM meniti jalan kepenyairannya, ejaannya pun masih menggunakan ejaan lama. Terasa sekali nuansa impresionistik dan sedikit campuran surealistik yang kuat dalam kumpulan sajak Terlambat di Djalan ini (saya tidak akan berbicara aspek impresionistik atau surealistik di dalam tulisan pendek ini), yang kemudian berkembang lebih kuat pada kumpulan sajak berikutnya seperti Laut Belum Pasang dan Cermin, pada yang disebut terakhir pengaruh haiku juga kental (karena beliau sedang kuliah di Iowa dan tekun menerjemahkan sajak-sajak Jepang).

Stensilan Terlambat di Djalan karya Abdul Hadi WM ini tidak tebal, tidak sampai 50 halaman, hanya 30-an halaman. Buku stensilan ini dipengantari oleh penyair Darmanto Jatman, dan diberi catatan singkat tentang siapa Abdul Hadi WM oleh Kuntowijoyo. Agaknya di bagian belakang terdapat keterangan bahwa stensilan ini digunakan sebagai bahan diskusi di UGM pada tanggal 10 Agustus 1968. Copyright STUDIOGRUP MANTIKA, Jogjakarta, dan diterbitkan kembali oleh Lingkaran Sastra & Budaja Mahasiswa Fakultas Sastra & Kebudajaan Universitas Gadjah Mada. Dengan redaksi penyelenggara antara lain; Kuntowijoyo, Raf’an Jusuf, Sumardi, Suharno, Siti Fiestana, sampul kulit buku dibuat oleh Tarfi Abdullah. Agaknya tradisi diskusi ini masih terus berlanjut di UGM mungkin setiap bulan bahasa, yaitu mendiskusikan puisi, meskipun belakangan lebih ditekankan pembahasan melalui esai kritik, bukan menyajikan karya atau kumpulan secara utuh seperti dulu.

Alangkah unik stensilan itu dan sungguh menarik ketika membayangkan diskusi sastra kala itu, apalagi ada beberapa nama besar yang hingga kini masih bersinar dalam bidang sastra dan ilmu sejarah, seperti Kuntowijoyo. Bisa dibayangkan lingkaran sastra ketika itu di UGM diisi oleh mereka yang benar-benar intelektuil, dan dalam ruang-ruang yang lain ada PSK, ada perkumpulan dan komunitas lainnya, dan sebagainya, sehingga tidak heran masa-masa itu di Yogya juga memiliki sumbu-sumbu yang membuat sastra kian bersinar walaupun dalam ruang yang benar-benar sunyi.

Dalam pengantarnya penyair Darmanto Jatman menyebut kumpulan ini sebagai sajak-sajak “impresionis”, kendati begitu kecenderungan surealistik dan suasana sublim seperti pada sajak-sajak Goenawan Mohamad bercampur dengan Sapardi Djoko Damono kentara sekali di dalam kumpulan Terlambat di Djalan ini. Keterpengaruhan itu pun sedikit disinggung Darmanto Jatman di pengantarnya yang pendek itu. Tetapi meski ada keterpengaruhan coraknya lain sama sekali dengan sajak-sajak yang memengaruhi itu.

Puisi-puisi dalam Terlambat di Djalan sangat unik, tidak hanya sajak pendek, tetapi justru sajak-sajak yang relatif agak panjang. Beberapa sajak menghadirkan citraan alam yang sungguh memikat (sebagaimana kekhasan Abdul Hadi WM), pelan-pelan tetapi membangkitkan jiwa pada suasana kontemplatif. Meski kebanyakan sajak berkisar dari tahun 1967 – 1968 tetapi pokok bahasannya tidak melulu sama.

Kumpulan sajak ini amat tipis (berisi kurang lebih 20-an sajak, 30 halaman) diawali dengan sajak Senja Susut dan Wadjahku, sajak yang membawa napas sajak Goenawan Mohamad dan Sapardi Djoko Damono.

 

SENDJA SUSUT DAN WADJAHKU

 

Lewat djendela

Sendja susut dalam ruang

Kau saksikan

Aku sendiri sajang

Dan wadjah jang tenggelam dalam sangsai ini

Dan ketika kudengar gaung pandjang

Bersahutan

Bersama bajang jang berhenti

 

Ketika itupun

Kau disana

Dimuka jendela, tertegun

Dan mentjari kerdip tjaja pada mataku

Serta sisa debu pada kakimu, perdjalanan djauh

Jang kau tempuh

Alangkah gersangnja djalanan

Saatpun bulan dan gerimis bergetaran

 

Ketika itu aku tak tahu

Saat djampun melontjat kebumi

Dan malam jang berdjedjalpun

Menjapu wadjahmu, menjapu kakimu

Menjapu bajangmu jang kelabu

Dan teramangu pada sendat gerimis lalu.

 

                                                Jogja 1967

             Ada frasa-frasa yang akrab dengan stylistik milik Goenawan Mohamad, seperti; susut dalam ruang, di muka jendela, dan ketika kudengar gaung pandjang, ketika itu aku tak tahu, dan seterusnya. Kemudian yang mirip dengan Sapardi Djoko Damono; menjapu wadjahmu, menjapu bajangmu jang kelabu, saat djam pun, dan malam jang berdjedjalpun, melontjat kebumi, dan seterusnya. Terlihat bahwa Abdul Hadi membaca dengan baik sajak-sajak penyair besar Indonesia sebelum dia, bukan hanya itu, Abdul Hadi membawa pelukisan yang terasa lebih “mencari” daripada melankoli seperti sajak GM atau terlalu sublim dan suasana penuh teka teki seperti SDD. Abdul Hadi memasukkan “pribadi” atau subjektivitasnya ke dalam sajaknya yang terpengaruh itu, sehingga terasa bahwa sajak ini benar-benar mewakili Abdul Hadi sendiri daripada mewakili dua penyair yang disebut tadi.

            Puisi-puisi Jogjanya sebenarnya terasa lebih merenung ketimbang puisi-puisi yang bertitimangsa kampung halamannya; Madura. Seperti pada sajak-sajak terakhir dalam kumpulan Terlambat di Djalan; Serenade, Di Muka Rumah, Gelisah Telah Menunggu, atau yang Udjung Ke Kamal (Surabaya). Citraan laut kembali menguat pada sajak-sajak kampung halamannya itu, berbeda dengan sajak yang dikutip utuh di atas tadi, terasa digambarkan suatu tempat seperti gurun, perjalanan yang gersang, walaupun muncul juga kata-kata alam; senja, tetapi lebih digambarkan suatu ruang, seperti jendela, jalan, bukan lagi laut, ombak, dst. Agaknya Abdul Hadi mencoba melukiskan pengalaman merantaunya di Jogja melalui sajak Sendja Susut dan Wadjahku.

            Pada sajak yang bertitimangsa Jogja, juga muncul kata-kata seperti kembara, lampu, ruang, jalan, jendela, kamar, dst. Seperti pada sajak Dan Angin di Luar Jendela;

DAN ANGIN DILUAR DJENDELA

 

Lampu padam

malam mati

dan angin diluar djendela jg sayuppun

                 terhenti

ruang jang berkemas kumandang hilang

lebih dingin, Tuhan

dan desakan langit dalam udara

dan kemarau jang berbagi sisa

padaku

 

Pada bajangan mengetjil

pada bajangan jang tak terdengar sentuhan

terbisik djuga sadjak dan tjeritera

tapi tak tahu detikpun djam

bersama musim turun perlahan

 

Tuhan, sadjak jang kini termangu, dingin

                        abadi

terhenti sebelum djadi

diluar, angin, didjendela dan bulan kian biru

pudar diatas bahuku

 

Tuhan, Selamat malam.

 

Jogjakarta 1967

            Dalam perantauan dan kembaranya, Abdul Hadi merasa kedekatan dengan Tuhan, bahkan penyair menyapa dan mengucapkan; selamat malam. Di sajak ini muncul gambaran ruang yang jelas, meski diksi-diksi alam kembali menyusup dengan pelan dan tenang, membantu melukiskan suasana yang “sunyi”. Dalam sunyi itu penyair seolah bercakap-cakap dengan Tuhan begitu akrab, bertanya tentang sajak yang abadi tetapi terhenti sebelum djadi. Ada kegelisahan tetapi juga tanya yang disimpan dan terus bergerak mencari jawabnya, sampai akhirnya kembali lagi atau dikembalikan lagi ke alam; diluar, angin, didjendela dan bulan kian biru/pudar diatas bahuku.

            Menghadapi sajak-sajak abdul hadi kita seolah dibawa menuju suatu ruang yang “solitude”, ruang yang mungkin amat penyair sukai atau teralami (terus menerus) dirasakan. Meskipun aku lirik di dalam sajak-sajaknya terasa kuat, walaupun tidak bermakna sebagai aku-si-penyair, tetapi “jejak” penyair masih terasa di sana. Mungkin ketika Abdul Hadi menulis tentang Madura, subjek aku lirik itu bisa diasosiasikan dengan kenyataan diri penyair itu sendiri (sebagai anak Madura), walaupun sebenarnya ada “pesan” penting yang lebih menarik untuk ditelisik daripada sekedar mengulik soal aku lirik itu.

            Sajak-sajak Abdul Hadi adalah sajak-sajak yang “akrab”, dan keakraban itulah yang selalu coba menyentuh sanubari setiap pembaca sajak-sajaknya, dan menurut saya memang pribadi beliau sendiri amat akrab dengan kemanusiaan universal. Meski Abdul Hadi adalah seorang intelektual, tetapi ia seolah ingin sajak-sajaknya tidak terkesan sulit dan abstrak, alih-alih rumit justru sajak-sajaknya sedari awal kepenyariannya ingin dekat dengan kehidupan kita, kehidupan keseharian kita, kehidupan kejiwaan kita, kehidupan spiritual kita.

Dengan bahasa yang lugas tetapi tegas, Abdul Hadi WM mengarahkan kita dan menggelitik akal kita untuk kemudian tidak hanya hanyut tetapi turut mempertanyakan hakikat kehidupan dari pengalaman keseharian kita. Ternyata memang benar, Abdul Hadi yang mengakrabi alam membawa kita turut juga menghayati alam, maka citraan-citraan alam itulah sebagai “kail” untuk memancing perhatian kita agar bertanya “hakikat” kehidupan dan bagaimana memaknai keseharian kita.

            Diksi-diksi seperti angin, ombak, cuaca, senja, angin, matahari, bulan, langit, kabut, dan sederet benda-benda alami sering muncul dalam sajak-sajak Abdul Hadi WM, bahkan pada sajak-sajaknya tentang kota, beliau menggambarkan suasana itu dengan membandingkan dengan sifat-sifat alam; seperti gersang, kemarau, bayang, dan seterusnya.

Sudah jelas, Abdul Hadi amat terpesona dengan unsur-unsur alam, hingga unsur-unsur itu dipakainya sebagai alat pembanun imaji atau citra dalam sajak-sajaknya. Khasanah alam yang gemar ia mainkan membuat suasana terasa dekat, akrab, dan kita diajaknya berasyik masuk dengan alam itu untuk menghayati makna-makna kata-katanya yang “menyapa” dan “ramah” itu.

Pada sajak-sajak perantauan di kumpulan Terlambat di Djalan agaknya menjadi tanda bahwa Abdul Hadi WM masih merasa bahwa alam begitu penting, dan sepertinya itulah tempat atau “rumah” yang menjadikannya tentram dan damai. Kendati demikian, perhatiannya kepada alam tidak membuatnya gagap membicarakan nasib dan kehidupan perkotaan. Justru diksi-diksi alam yang tadi dicontohkan dalam kedua sajak yang saya kutip utuh di atas terasa padu dan tepat, tidak terasa hal-hal janggal malah begitu akrab.

            Terlambat di Djalan menjadi titik awal yang cukup kuat, sekaligus pintu masuknya untuk keluar dari sajak-sajak penyair terdahulu yang digandrungi Abdul Hadi WM kepada sajak-sajak lain yang menjadi miliknya di kemudian hari, menjadi karakternya yang benar-benar khas. Sekarang sepeninggal Abdul Hadi WM belum lama ini, terbukti apa yang dikatakan alm. Darmanto Jatman, bahwa beliau Abdul Hadi telah menemukan kepenyairannya yang paripurna (sejati). Wassalam.

Menyaksikan Lelaki Tua Diciptakan Kembali - Imam Budiman

@kontributor 6/02/2024

Imam Budiman

Menyaksikan Lelaki Tua Diciptakan Kembali

—the old man and the sea


-ernest hemingway-






Tengah abad dua puluh pengarang itu tiba di satu kota kecil
menyinggahi tepi aciarolli—pasca kejatuhan fasis mussolini
kota harum sejarah yang senantiasa menguarkan bau merah.

Ia menerjemahkan segala gelagat; angin yang bimbang, lindap
langit di barat, beserta isyarat tubuh laut semeja dengan taktik
masstracio. sejak perjumpaan itu, lengkung joran menghantui
setiap sudut rumah—dapur, ruang kerja, dan seisi kepalanya.

Ada mata kail yang menarik lengan tangannya ke mesin ketik

kasur seolah menolak tubuh di mana lelap tak seutuhnya jenak

barangkali sebuah prosa satu tokoh, tanpa syak harus berakhir

pada sebuah toko buku—kemudian pantas bunuh diri.

-santiago-

Tujuh camar berparuh masa lalu terlahir yatim, bermain di antara
kapal-kapal tua pesisir kuba. matahari belum tanak memanggang
kanal—seorang kanak menyelundup kaleng sarden sebagai bekal.

Delapan puluh empat kali layar mesti susut dan jatuh—tetapi
adakah yang lebih menyakitkan dari sepi dalam penderitaan?

Dan tidak pula hari ini, gulf stream telah memanggil namaku
sebelum mengangkat sauh, nelayan sial berpenyakit kulit itu
tak putus berdoa, kuatkan kenurku dan turunkan kepadaku
sejenis musim ajaib dari surgamu, tuhan, yang memenuhi
lambung perahu kecilku dengan wangi darah ikan segar.

Hari-hari gugur dan sederet gigi koloni hiu nyaris menyusut
cita-citanya. dayung bermata pisau menjelma pedang sabit
demi menyelamatkan tubuh marlin itu; meski yang tersisa
hanya separuh kepala dan belulangnya.


2024

SAJAK