ESAI

KABAR

KRITIK SASTRA

TERKINI

Pendewasaan Sastrawan-Sastrawan Kita - MS Hutagalung

ADMIN SASTRAMEDIA 4/03/2020
Pendewasaan Sastrawan-Sastrawan Kita
Oleh MS Hutagalung

SASTRAMEDIA.COM - Menyambut Pertemuan Para Sastrawan Desember 1974 Pertemuan sastrawan-sastrawan Indonesia yang ke-2, akan diadakan lagi. Bulan ini, kelihatannya Dewan Kesenian Jakarta, bukan hanya mengadakan pertemuan para sastrawan, tetapi pertemuan para seniman, sebab dalam rangka Pesta Seni diadakan juga pertemuan para musikus dan adanya pameran besar lukisan. Kita menyambut baik pertemuan ini, walaupun banyak juga di antara sastrawan yang sering mencurigai pertemuan sebagai hal yang sia-sia, menghabiskan tenaga, waktu dan uang. Padahal pertemuan selalu ada gunanya, bahkan sangat bermanfaat kalau diarahkan dengan baik. 

Bila orang telah banyak curiga pada pertemuan, maka para seniman akan lebih curiga lagi pada organisasi. Tidak berbeda dari pertemuan, organisasi juga bisa berhasil bila didukung oleh orang-orang yang telah dewasa dan tidak selalu dicurigai para anggotanya. Nampaknya Dewan Kesenian Jakarta, lepas dari kekurangan di sana-sini telah berhasil sebagai semacam organisasi para seniman, untuk mengadakan pertemuan yang memberi rangsangan dan sekadar bimbingan serta pengarahan pada perkembangan kesenian kita dewasa ini. Sumbangan para seniman pada kehidupan masyarakat akan bertambah lagi bila tidak bekerja hanya sendiri-sendiri. Organisasi pengarang di luar negeri dirasakan juga manfaatnya, seperti misalnya mempertemukan seniman dengan cendekiawan, mengurus hak-hak para sastrawan yang mungkin saja diselewengkan para penerbit; pokoknya mengurus hal-hal yang biasanya segan atau malas untuk diurus para seniman. 

Saya sendiri sangat setuju akan pendapat, hendaknya pertemuan para pengarang selalu membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan kreativitas, walau harus diingat juga pendapat seorang sastrawan kita, bahwa yang harus dibicarakan oleh para sastrawan justru bukan hal-hal yang berhubungan dengan cipta sastra, tetapi mengenai masyarakat, kemanusiaan dan lain-lain. 

Rasanya para pengarang kita dewasa ini sudah harus dan selalu memang harus menanyakan kembali, apakah hakikat kepengarangannya pada masa ini. Karena pengalaman dengan Lekra, kita selalu curiga membicarakan tujuan penciptaan sastra pada kehidupan kita dewasa ini. Belakangan ini setelah kita cukup lama bersantai-santai, sudah waktunya kita memikirkan hakikat kepengarangan sesuai dengan situasi masyarakat kita yang sedang membangun dan mencari nilai-nilai baru. Bukan waktunya lagi kita terlalu memanjakan kebebasan imajinasi, sehingga kita memuja hal-hal yang bukan-bukan. Mungkin pengarang-pengarang di negara yang kekayaannya berlebihan dan telah jenuh dengan kebebasan, dapat berbuat segala yang aneh-aneh. Peneliti-peneliti mereka pun mungkin dapat dibenarkan membuat penelitian bermacam-macam "bunyi O" sampai bertahun-tahun. Tapi, apakah hal yang demikian dapat dipertanggungjawabkan pada situasi kita di Indonesia dewasa ini, di mana dana sangat sedikit dan kemanusiaan yang semakin merosot oleh kesusahan hidup?

Dahulu pengarang adalah orang yang maha bijaksana, mengetahui segala hal: mengobati, menghubungkan manusia dengan Tuhan dan sebagainya. Tentu kita adalah pemimpi apabila membayangkan tugas pengarang kita, demikian juga dewasa ini. Tetapi dewasa ini masyarakat tentu masih mengharapkan dari para pengarang sekadar kebijaksanaan. Dengan begitu diharapkan pemikiran para sastrawan lebih maju. Saya menjadi tertegun ketika seorang penulis surat pada sebuah harian ibukota dengan judul Reportase bukan Esai Kesusastraan. Penulis itu berpendapat bahwa dalam esai sastra kita dapat 84 berbuat seenaknya atau acak-acakan, sedang pada reportase tidak. Sudah sedemikian rendahkah nilai esai sastra itu di mata masyarakat? Kelihatannya hal ini muncul karena esai-esai sastra kita memang sudah ada yang mengarah ke sana, dan sudah waktunya kita mengadakan introspeksi. Kita tentu saja tidak berhak menghukum orang yang berpendirian hanya memuaskan diri sendiri dengan kepengarangannya, tapi adalah bijaksana bila kita paling sedikit tidak mendidikkan dan menyebarkan prinsip yang demikian kepada generasi muda. 

Saya sangat menaruh kepercayaan yang besar kepada kesusastraan. Saya pikir kesusastraanlah alat yang sangat penting untuk memanusiakan masyarakat kita. Konsep-konsep cinta kasih, belas kasihan, kejujuran dan lain-lain, akan menjadi hidup dalam kesusastraan. Menghayati hal itu mungkin akan menyadarkan orang untuk tidak lagi menurunkan orang yang luka parah dari ambulans karena tidak punya cukup uang. Penghayatan kemanusiaan lewat sastra mungkin menyebabkan seorang dokter tidak melihat anak-anak kecil di rumah sakit anak-anak sebagai benda-benda mati saja. Kemanusiaan juga akan memberi kebijaksanaan pada hakim bahwa keadilan bukan hanya berdasar hukum-hukum formal saja. Pancasila baru akan dihayati masyarakat bila telah dituangkan para seniman pada ciptaan-ciptaannya. 

Rasanya ciptaan yang berbobot, yang mengandung buah pikiran yang maju, tidak mungkin kita peroleh dari sastrawan-sastrawan yang belum dewasa dalam pemikiran.. Oleh karena itu kita memerlukan pengarang yang tidak terlalu sadar akan bakat yang ada padanya. Kita justru memerlukan para pengarang yang menyadari bahwa bakat hanyalah punya peranan kecil dalam penciptaan. Para penulis yang dewasa bukanlah orang yang suka mempergunjingkan hal-hal yang remeh-remeh. 

Tentu saja kita tidak mengharapkan yang muluk-muluk dari pertemuan sastrawan kali ini, tetapi kiranya setiap pertemuan agar diarahkan sedemikian rupa kepada pendewasaan kepengarangan kita. Kita seharusnya sadar bahwa apa yang kita perbuat selama ini belum apa-apa, sedang yang diharapkan 85 dari kita sungguh besar. Dan untuk dapat memenuhi itu tentu kita harus terus belajar dan bekerja keras, di samping menjalin kerja sama dengan pendukung-pendukung kesusastraan. Sebab kerja sama yang serasi di kalangan pendukung-pendukung kesusastraan adalah suatu tanda pertumbuhan kesusastraan yang sehat!

Tidak Diperlukan Sastra Madya - Budi Darma

ADMIN SASTRAMEDIA 4/02/2020
Tidak Diperlukan Sastra Madya 

oleh Budi Darma

SASTRAMEDIA.COM - Madame Bovary dan Helen Bober, masing-masing tokoh utama novel Flaubert Madame Bovary dan novel Bernard Malamud The Assistant, adalah orang-orang yang suka membaca buku. Madame Bovary dianggap rusak jiwanya karena mungkin terpengaruh oleh bacaan-bacaan, dan Helen Bober dianggap tidak berminat untuk bergaul dan membiarkan dirinya menjadi perawan tua mungkin karena kegemarannya membaca. Baik Madame Bovary maupun Helen Bober adalah orang-orang yang tidak puas akan keadaan sehari-hari, dan menginginkan sesuatu yang lain. Dan sesuatu yang lain didapatkan oleh mereka dalam bacaan-bacaan. Berkatalah Madame Bovary: "Saya tidak suka pahlawan-pahlawan dan kejadian-kejadian biasa yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari." Dan Helen Bober sebagai pembaca buku-buku sastra yang berselera tinggi, mencari dunia lain dalam novel-novel yang baik, seperti Madame Bovary, Crime and Punishment, The Idiot, dan sebagainya. 

Apa yang dikatakan oleh Flaubert, Malamud, dan pengarang-pengarang yang baik lainnya pada hakikatnya adalah kejadian sehari-hari juga. Dan novel-novel mereka menggambarkan dunia lain karena mereka mempunyai jarak dengan keadaan sehari-hari. Jarak ini menentukan nilai sastra, dan makin sublim sebuah karya sastra makin jauh jaraknya dengan kehidupan sehari-hari. Dan tarat sublimitas inilah yang menentukan sebuah tulisan dapat dimasukkan ke kotak mana: sastra yang baik, sastra yang kurang baik, bacaan hiburan, bacaan picisan, atau bacaan remaja. 

Kekalutan dalam sastra Indonesia antara lain terjadi karena banyak tulisan-tulisan dalam sastra Indonesia yang sebetulnya tidak dapat dimasukkan ke dalam sastra. Ada yang seharusnya masuk ke dalam kotak sastra remaja, atau hiburan, atau picisan, atau entah ke mana lagi. Dan yang paling buruk adalah karya-karya yang sebetulnya tidak dapat dimasukkan ke mana-mana, yang karena keadaan-keadaan tertentu terpaksa dianggap masuk ke kotak sastra. 

Bila sebuah tulisan masuk ke kotaknya yang tepat, secara gampangan dapatlah kita katakan bahwa tulisan ini akan mengalami nasib yang baik. Dia akan mendapat pembaca yang tepat. Dan sebuah tulisan dapat masuk ke kotak yang tepat apabila pengarangnya mempunyai keahlian yang tepat. Tapi ini secara gampangan, sebab kenyataannya tidak selalu demikian: karya sastra yang baik belum tentu dibaca, terutama kalau masyarakat sastranya bodoh. Konsep mereka mengenai sastra sangat tumpul, dan dengan demikian mereka hanya mampu menyerap karya-karya sastra yang sebenarnya buruk. 

Kebodohan masyarakat sastra dapat terlihat dalam bentuk lain, yaitu timbulnya kelompok-kelompok penulis muda yang sebetulnya usianya sudah tidak muda lagi, kelompok-kelompok penulis lokal yang suka menerbitkan dan membicarakan karya-karya mereka sendiri, dan hal-hal semacam ini. Pada umumnya pengetahuan mereka terbatas pada sastra kontemporer. Data mereka untuk menilai karya sastra dengan benar kurang cukup. Dan karena mereka kurang peka untuk dapat menulis karya sastra yang baik, pengetahuan mereka mengenai sastra kontemporer pun terbatas pada yang sekadar memberi kejutan. 

Di samping kebodohan di atas, ada kecenderungan masyarakat sastra untuk menilai sastra bukan berdasarkan nilai-nilai sastra. Pandangan orang Barat terhadap kebudayaan Timur misalnya, banyak yang lepas dari kebudayaan ini sendiri. Mereka memandang dunia Timur sebagai sesuatu yang eksotik, yang menarik karena keasingannya. Bagi mereka warna lokal merupakan daya tarik yang luar biasa. Sikap mereka terhadap wayang, batik, tari-tarian Bali, dan sebagainya sering ditentukan oleh nilai eksotismenya. Demikian juga sikap mereka terhadap karya sastra yang mereka terjemahkan. Membaca karya sastra bukan sebagai karya sastra akan tetapi sebagai manifestasi pengarang Indonesia mengenai masalah Indonesia dapat terjadi dengan adanya sikap ini.

Dalam suatu masyarakat yang heterogen, ada juga kecenderungan untuk menilai kebudayaan nasional bukan dari nilai-nilai kebudayaan nasional itu sendiri, akan tetapi dari unsur-unsur heterogen yang telah 61 membentuk kebudayaan nasional tersebut. Perhatian terhadap sastra Yahudi Amerika, sastra Negro Amerika, sastra Selatan Amerika, dan lain-lain semacam ini timbul antara lain sebagai akibat heterogenitas masyarakat Amerika. Dalam keadaan demikian, karya sastra sering tidak dinilai dari nilai-nilai sastra sendiri.

Sebetulnya, menilai unsur-unsur heterogenitas suatu kebudayaan nasional sekaligus merupakan proses suatu bangsa untuk lebih mengenal kepribadian bangsa itu sendiri. Timbulnya American Studies yang sebagian merupakan komulasi studi etnik juga merupakan proses bangsa Amerika untuk lebih mengenal diri mereka sendiri. 

Masyarakat Indonesia yang juga heterogen tidak akan lepas dari proses ini. Studi yang objektif maupun sikap tertarik pada eksotisme unsur-unsur yang membentuk kebudayaan Indonesia akan tumbuh dalam proses untuk lebih mencintai Indonesia. Sebagai akibatnya, karya sastra mungkin tidak dinilai dari segi sastranya, akan tetapi dari berapa jauh karya ini menyuarakan naluri suatu suku, misalnya saja Sunda. 

Keluhan bahwa orang Indonesia malas membaca tentu saja tidak keliru, apalagi kalau yang dimaksud adalah membaca bacaan-bacaan yang baik. Kalau yang dimaksud membaca asal membaca tentunya kita akan kecele. Meskipun demikian, lepas dari masalah kebodohan, eksotisme, dan proses lebih mengenal kebudayaan bangsa di atas, akan sulit bagi tulisan yang tidak dapat dimasukkan ke kotak mana pun untuk mendapatkan pembaca. 

Dan kesulitan inilah yang merupakan salah satu masalah dalam sastra: adanya pengarang-pengarang yang mencoba untuk menulis karya sastra, dengan kurang berani mengakui bahwa dirinya bukanlah pengarang sastra. Atau mungkin: orang-orang yang tidak bisa menulis untuk satu kotak yang tepat. Untuk itu kita perlu memberi hormat kepada Marga T. atas kesadarannya di mana dia harus bergerak. Dia penulis hiburan, dan dia tidak mencoba-coba untuk mengisi lowongan pengarang sastra. Dalam beberapa hal Motinggo Busye juga bijak. Begitu mengetahui bahwa dirinya bukan pengarang sastra, dia langsung meloncat ke dunia hiburan. 

Kekurangan daya serap beberapa pengarang menjadi salah satu sebab mengapa perkembangan sastra Indonesia tidak identik dengan kemajuan. Pengarang memang tidak bisa lepas dari dunianya, dari kehidupan sehari-harinya. Inilah sebabnya mengapa dalam novelnya, Hemingway selalu bercerita mengenai teman-temannya di Eropa, Afrika, dan Amerika. Pada waktu kita membaca novel-novel Joseph Conrad, kita juga bertemu dengan pelaut-pelaut yang ditemui sendiri oleh Conrad dalam pekerjaannya sebagai pelaut. Dan kita tidak akan tercengang bila kita bertemu dengan penangkap-penangkap ikan dalam novel-novel Melville, karena Melville sendiri pernah berkelana sebagai penangkap ikan. Tapi karya-karya mereka, yang notabene menggambarkan kehidupan mereka sehari-hari bersama dengan teman-teman mereka dan lingkungan mereka, ternyata menggambarkan dunia yang lain. Mereka mempunyai daya serap yang baik, sehingga mereka dapat menciptakan jarak antara kehidupan sehari-hari dengan kehidupan di dalam karya sastra. 

Kekurangan daya serap yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk menciptakan jarak inilah yang antara lain menyebabkan mengapa beberapa pengarang kita lagi-lagi menceritakan pengalaman masa kanak-kanaknya, lagi-lagi menceritakan daerahnya, lagi-lagi menceritakan orang-orang sekitarnya, yang antara lain menyebabkan nilai sastra karya-karya mereka cepat luntur. 

Meskipun Solzhenitzyn, George Orwell, dan lain-lain banyak melancarkan protes dalam karya-karya mereka, mereka dapat menjadikan protes sebagai karya sastra yang baik, atau mereka dapat menjadikan sastra sebagai media protes tanpa merusak nilai sastra. Dari segi ini mungkin betul sastra Indonesia pernah mundur. Pengarang-pengarang Balai Pustaka mempunyai prestasi yang lumayan dalam soal protes-memprotes. Sitti Nurbaya bukanlah karya yang bisa disingkirkan demikian saja. Pengarang-pengarang sesudah itu ada juga yang tidak bisa diabaikan. Idrus dapat disebut, meskipun dalam perkembangan selanjutnya dia lebih cocok untuk menjadi inventaris museum. Beberapa sajak Taufiq Ismail dapat berbicara dengan baik. Akan tetapi terlalu banyak pengarang yang hanya mengutak-atik masalah sosial, dan membuat geram pembacanya karena pengarang-pengarang tersebut terlalu geram memprotes. 

Pertanyaan mengenai moral teaching atau amanat memang biasanya merupakan pertanyaan yang dicari-cari. Adalah biasanya menjengkelkan apabila dalam suatu kritik sastra kritikus berusaha mengkorek-korek amanat suatu karya sastra. Idem ditto apabila seorang penulis buku pelajaran sastra berbuat sama. Dan sebetulnya banyak karya sastra modern yang tidak berpura-pura untuk mengajarkan sesuatu kepada pembaca. Maka usaha untuk mencari amanat dalam karya modern banyak yang sia-sia. Memang di sinilah letak salah satu titik pelik yang harus dihadapi oleh pengarang: Bagaimana menulis sesuatu dengan maksud tertentu tanpa mengajari orang. Bagi pembaca pun idem ditto: Bagaimana membaca sesuatu tanpa berprasangka akan diajari. Karena beberapa pengarang merasa wajib untuk mengajari orang, dan beberapa pembaca berprasangka bahwa dengan membaca mereka mendapat pelajaran, banyak buku pelajaran sastra yang konyol. Dengan berpura-pura akan membimbing orang mengerti sastra, maka buku-buku itu menyajikan karya-karya buruk sebagai bahan pembicaraan. Dan di sinilah letak kekonyolan pengajaran sastra: sebuah karya yang segi-seginya jelas, mudah dibicarakan, diajarkan dan dimengerti, biasanya (tidak selalu) karya yang buruk. Untuk mempermudah pembicaraan dalam pengajaran sastra, maka karya-karya buruklah yang dijadikan bahan. Dan sebuah karya sastra yang baik perlu diprejeng-prejeng dengan jalan mencari-cari apa temanya, amanatnya, dan lain-lainnya. Maka pengajaran sastra yang mengambil bahan karya yang baik bisa menjadi konyol.


Kembali ke soal semula: Di sinilah letak salah satu kelemahan sastra Indonesia, yaitu adanya pengarang-pengarang yang mengorbankan nilai sastra demi kepentingan mengajari pembaca. 

Semenjak majalah Pujangga Baru lahir pada tahun 1933 sampai dengan majalah Horison yang masih hidup sekarang, rupanya jumlah pembaca majalah sastra tidak mengalami pasang-naik dan pasang-surut yang menyolok. Sebaliknya, jumlah pembaca majalah-majalah hiburan mengalami pasang-naik yang sangat mengagumkan. Dan sekali lagi keluhan bahwa orang Indonesia malas membaca tidak keliru, kalau yang dimaksudkan adalah membaca bacaan-bacaan yang baik. Tapi rupanya ada satu hal yang dilupakan: Jumlah pembaca karya sastra tidak identik dengan jumlah pembaca karya sastra, seandainya karya sastra banyak, tersebar luas dan mudah didapat, dan kalau karya sastra tidak didampingi oleh bacaan hiburan yang meluas. 

Muhammad Ali, pengarang sandiwara Lapar, pernah bercerita, betapa mudah dia dan orang-orang dahulu mendapatkan bacaan baik dan murah. Pada waktu itu Balai Pustaka mempunyai kios sampai ke tempat-tempat kecil, dan buku-buku dapat dibeli dengan harga murah. Pada tahun lima puluhan orang masih bisa mencari buku-buku Pramoedya Ananta Toer, Idrus, Sutan Takdir Alisjahbana, Marah Rusli, Merari Siregar, Suman Hs, atau juga buku-buku Karl May, Hector Malot, Alexander Dumas, dan lain-lain, dengan sewa murah di perpustakaan-perpustakaan pemerintah. Rupanya sekarang orang-orang yang mempunyai minat membaca buku-buku tersebut harus mempunyai hajat sendiri untuk membeli buku di toko-toko buku, yang hampir selamanya tidak pernah lengkap. Perpustakaan-perpustakaan pemerintah yang dulu kaya sekarang banyak yang kosong. Dan pada tahun lima puluhan banyak orang yang tidak betul-betul tertarik sastra toh melowongkan waktunya untuk membaca buku-buku sastra. 

Apa yang tertera dalam buku-buku sastra memang berbeda dengan yang tertera dalam majalah-majalah sastra. Majalah lebih banyak mengemukakan masalah yang masih hangat, gagasan-gagasan baru, polemik-polemik, dan sebagainya, yang pada umumnya masih mencari bentuk untuk menjadi sesuatu yang established atau mapan, Masalah kritik sastra yang sering dikorek-korek dalam majalah Horison tentunya tidak menarik perhatian orang awam. 

Sebaliknya, pada umumnya buku-buku sastra membawakan sesuatu yang sudah mapan. Orang yang bergerak dalam sastra memang suka bergaul dengan api sastra yang masih menyala-nyala, dan orang-orang yang berada sedikit di luar sastra, atau orang-orang awam, mempunyai kecenderungan untuk menyukai soal-soal yang sudah jadi. Di mana-mana pun gejalanya sama: orang yang berada sedikit di luar sastra atau orang awam lebih suka menengok ke belakang.

Established atau belum established-nya, atau jadi atau belum jadinya karya sastra tidak selalu menentukan tinggi rendahnya mutu, meskipun kadang-kadang menentukan besar kecilnya pasaran. Di sini nampak adanya ruang kosong yang membentang antara sastra dan publik. Tulisan-tulisan hiburan tidak meminta banyak waktu untuk sampai ke hati publik, sedangkan karya-karya sastra harus mengarungi ruang kosong terlebih dahulu untuk sampai ke hati publik. Untuk mengantar publik melompati ruang kosong, kritikus-kritikus, penimbang-penimbang buku, pengulas-pengulas, dan redaktur-redaktur dapat berbuat banyak. Merekalah yang menjembatani karya sastra dengan publik yang tidak begitu acuh terhadap sastra. 

Hampir tidak adanya perbedaan antara pemain dengan penonton dalam sastra Indonesia menyebabkan relatif jumlah publik sastra tidak pernah meningkat. Pada waktu Kupluk membaca sebuah sajak dalam sebuah majalah sastra misalnya, kita bisa mencurigai Kupluk sebagai seseorang yang ingin menjadi pemain dalam sastra. Gambaran bahwa Kupluk akan menjadi penyair atau kritikus sudah terbayang dalam kepala Kupluk. Maka mencoba-cobalah Kupluk untuk menulis. Bila Kupluk berhasil, maka Kupluk terus membaca majalah sastra. Bila dari permulaan Kupluk tidak berhasil maka Kupluk menghindari diri untuk bersentuhan dengan majalah sastra. Dan bila Kupluk berhasil dan kemudian pensiun, maka pensiun pulalah persentuhan Kupluk dengan majalah sastra. Nasib pasaran majalah sastra ditentukan oleh orang-orang yang berminat untuk menjadi pemain. 

Dengan adanya kesulitan penerbitan, kesulitan meminjam buku dengan mudah dan sewa murah, dan dengan membanjirnya bacaan-bacaan hiburan, maka sastra mempunyai ruang kosong yang jauh dari publik. Jumlah penonton dan pemain hampir seimbang. Datang atau perginya Kupluk-Kupluk tidak mengubah perimbangan tersebut. Dan publik sastra selalu kecil. 

Masalah kecil atau besar, masalah minoritas atau mayoritas, pada dasarnya bukanlah masalah jumlah, melainkan masalah kekuatan untuk menentukan. Publik sastra yang besar belum tentu merupakan kekuatan yang besar untuk menentukan. Dan sastra yang pada dasarnya bukan politik tidak memerlukan massa yang banyak, juga tidak memerlukan usaha-usaha pengerahan massa. Ruang kosong yang panjang membentang tidak perlu diperpendek dengan mengkompromikan sastra dengan kepentingan orang banyak. Dunia lain dalam Jalan Tak Ada Ujung, Belenggu, Bukan Pasar Malam, Ziarah, dan lain-lain tidak perlu diturunkan menjadi sastra madya yang bisa mengikat lebih banyak publik, apalagi diturunkan menjadi dunia lain yang biasa dikemukakan oleh pengarang-pengarang picisan seperti S.H. Mintardja atau Motinggo Boesje. Yang kita perlukan adalah perbaikan dalam sastra sendiri, dan pengamatan-pengamatan yang dapat melontarkan karya-karya sastra melalui ruang kosong. 

Helen Bober yang digambarkan sebagai pembaca sastra berselera tinggi adalah seseorang yang mempunyai keinginan untuk memperbaiki dirinya, meskipun perbaikan ini tidak selalu identik dengan perbaikan materi dan jasmani. Memang sebaiknya sastra ditinjau dari seginya yang tepat: sastra adalah kekayaan rohani yang dapat memperkaya rohani. Keluhan, kalau boleh dikatakan sebagai keluhan, penyair trobadur dari Armenia-Georgia Bulat Okudzhava yang mengunjungi Jakarta pada tahun 1968, seperti yang diceritakan oleh Goenawan Mohamad dalam esai "You Can't Go Home Again: Indonesian Literature Reconsidered", bukanlah keluhan yang tepat sasarannya. Dia menanyakan mengapa orang-orang Indonesia memusingkan Kafka. Lalu dia bercerita mengenai mengapa orang-orang intelektual di Calcutta sibuk membicarakan T.S. Eliot sementara beribu-ribu orang di pinggir jalan hidup dalam kesengsaraan, dalam kemelaratan. 

Karya sastra bukan peluru untuk menggasak kemelaratan, dan menurunkan nilai sastra dalam karya sastra dengan dalih untuk menyenangkan orang banyak tidak akan memperkaya rohani maupun materi manusia. 

1973


Para Pencipta Tradisi - Budi Darma

ADMIN SASTRAMEDIA 4/01/2020
Para Pencipta Tradisi
oleh Budi Darma

SASTRAMEDIA.COM - Marilah kita bayangkan, ada seorang pengarang terkemuka bernama Nirdawat. Kalau kita memergokinya sedang menulis, tentu dia akan terperanjat, kemudian tersipu-sipu malu. Dia akan merasa dirinya hanyalah seseorang yang bodoh. Memang dia menulis, akan tetapi dia tidak sadar mengapa dia menulis. Mengenai apa yang ditulisnya, dia sendiri juga tidak tahu. Apa yang ditulisnya ternyata datang demikian saja, tanpa direka-reka sebelumnya. Dengan perasaan malu terhadap orang luar, akan tetapi dengan perasaan gusar terhadap dirinya sendiri, dia mengaku bahwa dia hanyalah objek sesuatu yang tidak diketahuinya sendiri untuk mengatakan sesuatu yang tidak pernah diduganya sendiri.

Ternyata menulis dan berbicara baginya sering sama. Karena itulah dia sering terperanjat membaca kata-katanya sendiri yang banyak dikutip orang, menelusup ke dalam buku-buku, bertebaran dalam koran dan majalah, dan bahkan mengendon di dalam pita-pita kaset. Dia sering heran mengapa dia pernah berkata demikian, sama herannya mengapa dia pernah menulis mengenai apa yang pernah ditulisnya. Tapi dia diam, menganggap bahwa semuanya timbul semata-mata karena kebodohannya. Dia menulis karena bodoh, dia berbicara juga karena bodoh. 

Maka, dengan perasaan bodoh pula dia memasuki Studio Radio Suara Malaysia, ketika pada suatu hari dia diundang ke sana. Dia tahu bahwa dia akan diwawancarai, dan dia sudah pula melihat daftar pertanyaan-pertanyaannya. Tapi sebagai seseorang yang merasa dirinya bodoh, dia tidak tahu apa yang akan dikatakannya nanti. Dia hanya menyerahkan nasibnya kepada sesuatu yang tidak diketahuinya sendiri, yang sering memanipulasinya pada waktu dia menulis. Maka wawancara pun berjalan, dan berloncatanlah kata-kata dari mulutnya yang tidak dia ketahui sendiri apa maknanya. Tentu saja dia sendiri tidak tahu mengapa dia mengeluarkan kata-kata itu, dan bukan kata-kata lain. Entah mengapa, dalam wawancara itu akhirnya dia berkata: "Pengarang yang baik adalah pengarang yang dapat menciptakan tradisi. Tapi tunggu dulu. Untuk dapat menciptakan tradisi, seorang pengarang tentu mempunyai gagasan yang orisinal. Ketahuilah, tradisi hanya dapat dicipta dengan gagasan-gagasan demikian. Kecuali itu, pengarang ini juga mempunyai kepribadian yang kuat. Tanpa kepribadian yang kuat, pengarang hanya sanggup menulis kata-kata yang akhirnya tanpa makna." 

Barulah setelah rekaman wawancara ini diputar kembali, dia terperanjat bukan main. Tapi dia tahu bahwa tidak mungkin dia mencabut kembali kata-katanya, dan dia juga tahu bahwa beberapa jam kemudian suaranya sudah akan diudarakan. Maka dia pun merasa makin bodoh. Tapi begitu dia meninggalkan studio bersama seorang pegawai tinggi Republik Indonesia yang menyertai perjalanannya, dia sudah lupa apa yang dikatakannya tadi.

Waktu berjalan terus, dan akhirnya nasib buruk membawa Nirdawat terbang ke Amerika. Dia mendapat lagi undangan untuk ke sana, yang tidak mungkin ditolaknya. Pada suatu hari, tanpa maksud yang jelas dia memasuki sebuah perpustakaan. Seperti halnya pada waktu dia menulis dan berbicara, dia berjalan dari ruang ini ke ruang itu, naik ke tingkat sekian kemudian turun ke tingkat lain, sampai akhirnya dia terjebak di sebuah ruangan yang benar-benar memikat hatinya. Maka secara sembarangan dia mengambil sebuah buku, yang pernah dibacanya beberapa tahun yang lalu ketika dia berkunjung ke kota lain juga di Amerika. Beberapa tahun yang lalu, ketika dia membaca buku yang sama, dia gusar: "Bangsat! Sesuai dengan dugaan saya, orang yang dianggap dramawan itu menjiplak dari sini." 

Buku ini mengenai kehidupan drama di New York. Dia tahu bahwa di tanah air ada seseorang yang oleh umum dinamakan dramawan, dan oleh umum dilemparkan ke langit untuk dipuja-puja. Orang yang oleh umum dianggap dramawan ini memang menarik. Dia mempunyai karisma yang kuat, dapat bermain dengan baik, dan dapat menjadi sutradara yang kuat dan berwibawa. Akan tetapi, kemampuan lainnya hanyalah menyadur naskah. Selanjutnya dia hanya menjiplak cara-cara sutradara di New York menggarap naskah. Dan Nirdawat tahu, seorang dramawan yang tidak mampu menulis naskah sendiri akhirnya akan meluncur ke dunia kambing, bahu-membahu dan bersatu kelas bersama kambing. 

Sekarang Nirdawat memegang buku yang sama, dan mengutuk lagi. Dia tahu bahwa di tanah air orang yang dianggap sebagai dramawan ini sudah menciptakan tradisi tersendiri dalam kehidupan drama. Tapi dia juga tahu, bahwa tradisi ini dibentuk atas biasan gagasan orang lain. Sebagai orang yang merasa dirinya bodoh, tentu saja Nirdawat tidak mau menuduh orang yang dinamakan dramawan itu pencuri. 

Peristiwa singkat di perpustakaan ini tidak berhenti di sini. Akan tetapi baiklah kita singkat saja, sebab tidak ada gunanya kita membayang-bayangkan sekian banyak contoh kalau toh polanya sama. Demikian: di tanah air ada seorang eseis yang kata orang terkemuka. Eseis ini menulis sebuah esai dengan judul yang kocak, akan tetapi gegabah bagi orang yang tahu sumbernya. "Potret Kencong Si Seniman Sebagai Pencuri", demikianlah judul esai itu. 

Nah, pada waktu berjalan-jalan di perpustakaan itulah Nirdawat menemukan buku lain, yang juga sudah pernah dibacanya beberapa tahun yang lalu. Beberapa tahun yang lalu buku ini juga memancing kegusarannya. Judul buku ini sederhana, yaitu Portrait of an Artist as a Doddering Man, alias Potret Seorang Seniman Sebagai Orang Buyuten. Pintalan kata-kata dan pikiran orang yang dianggap umum sebagai eseis di Indonesia itu tidak lain dan tidak bukan hanyalah bias buku ini. Dan dia tahu benar, bahwa orang yang dianggap sebagai eseis ini telah membentuk sebuah tradisi tersendiri dalam penulisan esai di Indonesia. 

Dia tidak terperanjat ketika dia menemukan sebuah sajak yang juga menimbulkan rasa geram baginya beberapa tahun sebelumnya. Sajak ini berjudul "Ode to a Grecian Plate", alias "Oda untuk Sebuah Piring Yunani". Dia tahu benar, bahwa di tanah air sudah sekian lama terbentuk sebuah tradisi penulisan puisi berdasarkan sebuah sajak berjudul"Kwatrin Sebuah Poci Tanpa Tutup". Sajak ini tidak lain dan tidak bukan hanyalah bias sajak mengenai piring Yunani itu. Seperti biasa, dia diam. 

Sebagai seorang pengarang terkemuka, tentu saja Nirdawat sendiri sudah membentuk sebuah tradisi. Dia tahu benar betapa banyak orang yang menirukan tulisan-tulisannya. Seperti biasa dia diam, dan tidak terperanjat. Barulah dia terperanjat, ketika pada suatu hari nasib buruk membawanya ke Negeri Belanda. Dia diundang ke sana tanpa bisa mengelak. Di sana dia menemukan sebuah buku yang antara la membicarakan dirinya. Memang buku ini memuji-muji dia, akan tetapi sekaligus membandingkan cerpennya berjudul "Kritikus Anting-Anting" dengan sebuah novel Austria. Dia tahu pasti bahwa dia mengagumi Pafpof, pengarang novel ini, akan tetapi dia tidak pernah merasa dipengaruhinya. Justru cerpen "Kritikus Anting-Anting" inilah yang telah membentuk tradisi tersendiri dalam penulisan cerpen di Indonesia. Akan tetapi, sebagai seseorang yang tidak suka mempedulikan ini dan itu, dia pun segera melupakan pengalaman ini. 

Maka, beberapa tahun kemudian dia diundang lagi ke Amerika. Kali ini dia tinggal di sebuah kota bernama Skokane. Di samping mengerjakan ini dan itu, setiap hari dia menyisakan waktu untuk berjalan-jalan. Cuaca baik maupun badai salju baginya sama saja. Pernah juga dia akan diringkus polisi, ketika dia sedang kepergok berjalan-jalan menjelang badai salju menderu, yang ternyata berdasarkan ramalan cuaca yang keliru. Demikianlah, akhirnya dia mengenal kota ini bagaikan dia mengenal garis-garis sidik jarinya sendiri. 

Di luar dugaannya sendiri, dia dapat menyelesaikan sebuah kumpulan cerpen. Tentu saja dia menulis asal menulis. Setelah pulang ke tanah air, dia menerbitkan kumpulan ini dengan judul Para Manusia Skokane. Tentu saja dia memberi judul demikian asal memberi judul saja. Dan seperti biasanya, dia cepat melupakan tulisan-tulisannya sendiri. Barulah setelah cetakan percobaan buku itu jadi, dia terperanjat. Dia ingat benar, bahwa seorang penulis Skotlandia pernah menulis buku berjudul Para Manusia Skotlandia. Seperti halnya buku Nirdawat sendiri, buku pengarang ini juga rangkaian cerita mengenai kehidupan di sebuah kota di Skotlandia. Dalam keadaan naskah sudah menjadi cetakan percobaan, tentu saja dia tidak dapat menarik kembali naskahnya. Seperti biasa, dia segera melupakan tulisan-tulisannya. Buku Para Manusia Skokar beredar. Dia juga tidak terperanjat melihat bukunya berpengaruh luas, dan akhirnya membentuk sebuah tradisi tersendiri dalam penulisan cerpen.

Ternyata dia tergeret lagi oleh sebuah undangan ke Kuala Lumpur. Kembali dia tergaet ke studio yang sama. Penyiar yang mewawancarainya dahulu sudah tidak bekerja di sana. Sementara itu penyiar baru sudah siap mewawancarainya. Entah mengapa, dia kembali berkata, bahwa pengarang yang baik adalah pengarang yang dapat menciptakan tradisi. Pengarang semacam ini mau tidak mau mempunyai gagasan yang orisinal. Dan pengarang ini juga mempunyai kepribadian yang kuat. 

Dia tidak sadar, bahwa ucapannya hanyalah pengulangan katakatanya sendiri beberapa tahun yang lalu. Setelah rekamannya diputar kembali barulah dia sadar. Dia tersipu-sipu, geram akan kebodohannya sendiri. Akan tetapi dia segera melupakan kebodohannya ini, karena dia harus segera mengunjungi beberapa universitas di kota itu. 

Dia terperanjat kembali, sebab sebuah surat sudah menunggu di meja kerjanya ketika dia kembali ke tanah air. Surat ini dari seseorang yang belum dikenalnya di Köln. Setelah memperkenalkan dirinya, penulis surat itu mengungkapkan maksudnya dengan kata-kata sederhana seperti kata-kata telegram: "Saya mengagumi Anda. Saya akan menulis referat mengenai cerpen Anda 'Kritikus Anting-Anting' untuk Seminar Alam Pikiran Oriental di Universitas Köln, tiga bulan yang akan datang. Saya akan membandingkannya dengan novel Herr Joseph Karabish, karya Pafpof. Saya juga pengagum Pafpof." 

1981