Terkini

Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru Indonesia – Prae-Indonesia

11/16/2018 Add Comment
oleh Sutan Takdir  Alisjahbana


Berbicara tentang masyarakat dan kebudayaan baru, yang dimaksud tentu adalah masyarakat dan kebudayaan Indonesia Raya, yakni masyarakat dan kebudayaan yang tergambar dalam hati semua penduduk kepulauan ini, terutama yang mengharapkan tempat yang layak  bagi negeri dan bangsanya, berdampingan dengan bangsa lain di muka bumi ini. Untuk membicarakan masyarakat dan kebudayaan Indonesia Raya, pertama sekali kita harus memahami arti Indonesia sejelas-jelasnya, terlepas dari segala bungkusan dan tambahan yang mengaburkannya.
         
 Sesungguhnya, arti kata “Indonesia”  sekarang ini sudah sangat kacau. Menurut  para ahli bangsa, kata “Indonesia”  dipakai untuk melingkupi seluruh penduduk di daerah yang membentang dari Pulau Formosa sampai ke Pantai Samudra Hindia, dari Madagaskar sampai ke Nieuw Guinea. Dalam pergaulan sehari-hari di negeri kita  kata itu telah sangat populer.

Bagaimanapun menggembirakannya kepopuleran –menjadi lazimnya-kata “Indonesia” itu, tetapi satu hal tidak boleh kita lupakan : lantaran kepopuleran atau kelaziman itu artinya menjadi amat meluas  sehingga menjadi kabur.
Segala yang ada dan yang terjadi, segala yang pernah ada dan pernah terjadi di lingkungan kepulauan kita ini, diberi nama “Indonesia”
         
 Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teungku Umar, dan lain-lain telah dijadikan pahlawan Indonesia. Borobudur telah menjadi bukti keluhuran Indonesia di masa silam, musik gamelan sudah menjadi musik Indonesia, buku Hang Tuah sudah menjadi buku hasil kesusastraan Indonesia.
         
 Padahal ketika Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teungku Umar, dan lain-lain itu berjuang, dahulu belum ada dan belum tercium perasaan keindonesiaan. Diponegoro berjuang untuk Tanah Jawa, itu pun sepertinya tidak dapat kita katakan untuk seluruh Tanah Jawa.  Tuanku Imam Bonjol berjuang untuk Minangkabau, Teungku Umar untuk Aceh. Siapa yang dapat menjamin sekarang ini bahwa baik Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol,  ataupun Teungku Umar tidak akan menyerang bagian kepulauan yang lain sekiranya mereka dulu mendapat kesempatan?
           
Jiwa yang melahirkan Borobudur yang luhur itu tidak ada sangkut pautnya dengan semangat yang bernyala-nyala dalam dada para penganjur cita-cita keindonesiaan dalam abad kedua puluh ini.
           
Ada pula hubungannya musik gamelan dengan perasaan keindonesiaan.
Bahkan buku Hang Tuah menurut ukuran sekarang jelas dapat dikatakan anti-Indonesia, sebab di dalamnya terdapat bagian-bagian yang menghina suku bangsa dalam wilayah kepulauan ini 2).
           
 Sesungguhnya orang telah mengacaukan, mencampur-adukkan segala eksistensi dan peristiwa dalam lingkungan kepulauan ini dengan segala eksistensi dan peristiwa yang dipengaruhi oleh munculnya – atau setidaknya yang erat kaitannya dengan- semangat baru di lingkungan kepulauan ini, yaitu semangat keindonesiaan.
         
Ke dalam pengertian “Indonesia” itu, diam-diam orang memasukkan beberapa hal yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan perasaan keindonesiaan. Hal itu lebih banyak merugikan daripada menguntungkan. Bahkan sesungguhnya mengaburkan tali persatuan yang terasa oleh seluruh penduduk kepulauan ini. Ia memberi hak memakai kata Indonesia kepada mereka yang tidak berhak memakainya.
           
Tumbuhnya masyarakat dan kebudayaan Indonesia yang sejati, yang sesungguhnya digerakkan oleh semangat keindonesiaan, dihambatnya. Hal ini dikarenakan pengertian Indonesia yang sejati telah kabur, menjadi cerai berai. Untuk mempercepat dan mengukuhkan tumbuhnya masyarakat dan kebudayaan Indonesia yang sejati, perlu sekali pengertian keindonesiaan itu dibersihkan sehingga menjadi jelas juga hakikatnya.
           
Kita mesti membuat kata “Indonesia” ini menjadi jelas. Jika perlu kita tidak boleh takut memakai pisau untuk membuang benalu dan parasit pada pohon keindonesiaan itu.
           
“Indonesia” yang timbul di kalangan bangsa kita, tidak dapat kita lepaskan dari perasaan dan semangat keindonesiaan. Semangat keindonesiaan itu merupakan ciptaan generasi abad kedua puluh, sebagai penjelmaan kebangkitan jiwa dan tenaga.
           
Semangat Indonesia itu sesuatu yang baru, menurut isi dan menurut bangunnya. Ia tidak bertopang dada pada masa silam. Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit yang kebesarannya dulu menguasai sebagian besar dari kepulauan ini, bukan pelopor keindonesiaan. Sebab waktu itu, suatu wilayah sama sekali tidak suka dikuasai oleh wilayah lain. Baik di dalam bangunan Sriwijaya maupun dalam bangunan Majapahit tidak  ada sedikit pun hakikat semangat Indonesia, yaitu kemauan untuk bersatu yang didesak oleh kesadaran akan kepentingan dan cita-cita bersama.
           
Semangat Indonesia juga bukan berdasarkan asal bangsa atau ras yang satu, sebagaimana menurut hasil penelitian para ahli Barat. Meskipun penelitian dikemudian hari membuktikan bahwa yang mendiami kepulauan ini bukan hanya satu jenis bangsa 3), semangat Indonesia akan tetap hidup. Sebab ia lahir dari dasar semangat membaja suatu generasi muda yang lebih kukuh dari segala teori keturunan. Setinggi-tingginya teori keturunan yang mati itu hanya dapat memberi kekuatan dan kepercayaan kepada mereka yang lemah, yang perlu dorongan dari belakang. Namun bagi mereka yang kuat tulang belakangnya, adalah mengatasi segala dorongan kemauan, cita-cita, dan keyakinan yang bernyala-nyala, yang berkobar-kobar di dalam hatinya.
             
Sangat perlu dinyatakan dengan tegas, bahwa sejarah Indonesia dimulai pada abad kedua puluh, ketika lahir generasi baru di wilayah Nusantara ini, yang dengan sadar ingin menempuh jalan baru untuk bangsa dan negerinya.
Zaman sebelum itu, zaman hingga akhir abad kesembilan belas, ialah zaman pra-Indonesia, zaman jahiliyah keindonesiaan, yang hanya mengenal sejarah Hindia Belanda atau Oost Indische Compagnie, sejarah Mataram, sejarah Aceh, sejarah Banjarmasin, dan lain-lain.
               
Zaman pra-Indonesia, zaman jahiliyah Indonesia, itu setinggi-tinggi hanya dapat menegaskan pandangan  dan pengertian tentang lahirnya zaman Indonesia. Namun, zaman Indonesia sama sekali bukan kelanjutan atau terusan dari zaman sebelumnya. Sebab dalam isi dan bentuknya, keduanya berbeda: Indonesia yang dicita-citakan oleh generasi baru bukan kelanjutan Mataram, bukan kelanjutan kerajaan Banten, bukan kerajaan Minangkabau, atau Banjarmasin.
             
Menurut susunan pikiran ini, kebudayaan Indonesia pun tidak mungkin merupakan kelanjutan kebudayaan Jawa, kelanjutan kebudayaan Melayu, kelanjutan kebudayaan Sunda, atau kebudayaan yang lain. Pekerjaan Indonesia Muda bukanlah merestorasi Borobudur dan Prambanan 4), bukan pula mendirikan bangunan lain yang serupa dengan itu. Pekerjaan yang pertama dapat kita serahkan pada ahli purbakala, yang akan mencari batu yang telah dimakan zaman, yang akan membalik buku-buku tua untuk mengetahui bagaimana bentuk asli bangunan-bangunan itu. Sementara pekerjaan yang kedua (mendirikan bangunan lain yang serupa dengan yang sebelumnya, cat.peny.) ialah pekerjaan mereka yang kepandaiannya hanya mengulang dan meniru. Indonesia muda yang kuat degup jantungnya, yang darah mudanya deras mengalir, hanya akan membuka mata, membuka telinga, membuka pikiran untuk segala hal yang diterimanya. Dengan jalan demikian , informasi dari seluruh dunia kemudian dicerna di dalam jiwanya.
             
Dan ia akan menciptakan sesuatu yang dimilikinya sendiri, cap Indonesia.  Sebab dalam hati kecilnya ia yakin seyakin-yakinnya bahwa tinggi rendahnya vonis sejarah atas dirinya bukan bergantung pada berapa banyak puja-puji, menghormati dan meniru yang lama. Namun, pada apa yang dapat dibangunnya, yang lahir dari dasar jiwanya sendiri, yang setara bahkan melebihi zaman lampau.
           
Jadi, bagaimanakah hubungan kebudayaan Indonesia yang sedang dan akan timbul, dengan kebudayaan zaman pra-Indonesia?
         
Tentang hal ini pun ada baiknya kita perjelas. Sebab dalam ketidakjelasan ia dapat menyimpan dan melindungi bibit kedaerahan yang sama sekali belum lenyap dari masyarakat kita.
           
Pada pikiran saya, pandu-pandu kebudayaan Indonesia harus bebas benar dari  warisan kebudayaan zaman pra-Indonesia. Bebas bukan berarti tidak tahu seluk-beluknya. Bebas hanya berarti tidak terikat. Sebab siapa pun yang belum dapat melepaskan dirinya dari kebudayaan Jawa akan berusaha memasukkan semangat kejawaan  ke dalam kebudayaan Indonesia. Yang belum terlepas dari kebudayaan Melayu akan berupaya memasukkan semangat kemelayuan ke dalam kebudayaan Indonesia dan demikian seterusnya. Bagi mereka yang berpikir demikian, kebudayaan Indonesia ialah kebudayaan Jawa atau kebudayaan Melayu yang sedikit baru.
             
Hal itu berarti menimbulkan perselisihan dalam lingkungan  Indonesia Muda sendiri. Suku Jawa tak akan senang jika yang disebut kebudayaan Indonesia ialah kebudayaan Melayu yang diubah sedikit. Sebaliknya, suku yang lain pun tidak akan senang jika kebudayaan Indonesia merupakan kebudayaan Jawa yang diubah sedikit.
             
Sesungguhnya, mengaitkan ke masa yang sudah lampau berarti membangkitkan perselisihan. Sebab pada zaman pra-Indonesia bangsa yang mendiami kepulauan Nusantara ini tak pernah mempunyai kemauan, cita-cita, dan pikiran bersatu dan berhubungan sehingga tak pernah melahirkan kebudayaan dengan semangat demikian.
             
Berarti kemauan bersatu yang mengandung semangat Indonesia tidak sedikit pun berurat akar ke masa yang silam, tetapi sebaliknya bertumpu ke masa yang akan datang dengan harapan agar mampu berdampingan sejajar  bersama bangsa-bangsa lain di kemudian hari. Dengan meyakini bahwa yang diharapkan dan dicita-citakan itu hanya mungkin tercapai dengan bersatu melakukan pekerjaan bersama-sama.
             
Maka sudah selayaknya mewujudkan cita-cita persatuan yang tidak berurat akar pada masa yang silam, tetapi pada harapan kemuliaan di kemudian hari, tidak terpaku mencari ramuan di masa yang silam.
             
Ramuan untuk masyarakat dan kebudayaan Indonesia di masa yang akan datang harus kita cari sesuai dengan kebutuhan kemajuan masyarakat Indonesia yang sempurna. Tali persatuan bangsa kita terutama sekali berdasarkan atas kepentingan bersama. Hakikat kepentingan bersama ialah bersama-sama mencari alat dan  berupaya keras agar masyarakat Kepulauan Nusantara yang berabad-abad mandek, mati, menjadi dinamis yang dapat berlomba di lautan dunia yang luas.
             
Sudah sewajarnya pula alat untuk menumbuhkan masyarakat yang dinamis terutama sekali kita cari di negeri yang dinamis pula susunan masyarakatnya. Bangsa kita perlu alat-alat yang telah menjadikan negeri-negeri yang berkuasa di dunia dewasa ini mencapai kebudayaan yang tinggi seperti sekarang : Eropa, Amerika dan Jepang.
             
Demikian saya meyakini bahwa dalam kebudayaan Indonesia yang sedang tumbuh sekarang ini akan terdapat sebagian besar unsur Barat, unsur yang dinamis. Hal itu bukan suatu kehinaan bagi sebuah bangsa. Bangsa kita pun bukan baru sekali ini mengambil unsur-unsur dari luar : kebudayaan Hindu, kebudayaan Arab.
           
Dan sekarang tiba waktunya mengarahkan pandangan kita ke Barat.
Jika dulu begitu banyak pengaruh kebudayaan Hindu dan Arab atas negeri kita ini, pastilah sekurang-kurangnya pengaruh Barat akan sama dengan pengaruh kedua kebudayaan itu. Namun, tidak mustahil bahwa pengaruh itu dapat lebih besar lagi.
           
Bayangkanlah jarak antara Hindustan dengan negeri kita sepuluh abad yang lalu, sekurang-kurangnya harus ditempuh dengan waktu sebulan pelayaran. Sedang jarak antara negeri kita dengan Eropa sekarang ini (tahun 1935, cat.peny) hanya butuh waktu tiga hari penerbangan. Hubungan dan pergaulan antara bangsa kita dengan bangsa Barat sekarang ini jauh lebih erat ketimbang dengan guru-guru bangsa saat membangun Borobudur seribu tahun silam.
           
Ucapan yang secara gamblang mengatakan bahwa masyarakat dan kebudayaan bangsa kita harus tumbuh mengarah ke Barat, boleh jadi akan membangkitkan amarah beberapa golongan di negeri kita sekarang ini. Sebab ada di antaranya yang dengan tidak sengaja dan tidak sadar meninabobokan rakyat banyak dengan ucapan-ucapan kosong dan tidak berarti: Timur halus budinya, sedang Barat egoistis, materialistis, dan intelektualistis. Mereka yang mempunyai anggapan seolah-olah semua orang kita, Timur wali yang suci dan semua orang Barat penjahat yang tidak berhati demikian pasti akan kaget mendengar ucapan yang mengatakan bahwa orang Timur harus berguru kepada orang Barat.
           
Sekalipun tidak enak didengar, semboyan bahwa kita harus belajar pada Barat, meskipun menyedihkan, dalam hal ini rasanya kita tidak dapat memilih.
           
Sebab semangat keindonesiaan yang menghidupkan kembali masyarakat bangsa kita, yang berabad-abad seolah mati ini, pada hakikatnya kita peroleh dari Barat: Budi Utomo lahir seperempat abad silam di kalangan rakyat yang mendapat didikan Barat dan bergaul dengan Barat. Cara berorganisasi yang dipakainya sebagai pengganti persatuan menurut keturunan dan tempat tinggal yang terdapat dalam zaman pra-Indonesia ialah dengan cara Barat. Bahkan dalam segala pergerakan kebangkitan bangsa kita menggunakan organisasi cara modern, yang tampil memimpin adalah mereka yang mendapat didikan cara Barat atau sekurang-kurangnya yang mendapat pengaruh Barat. Malah “Indonesia” yang kita banggakan sekarang ini kita peroleh dari bangsa Barat.
               
Apabila nyata kepada kita bahwa semangat kesadaran, semangat kebangkitan, semangat kebangsaan yang kita namakan semangat keindonesiaan itu sebagian besar berasal dari Barat atau sekurang-kurangnya dengan perantaraan Barat, wajarlah bila masyarakat dan kebudayaan yang dilahirkan banyak mengandung unsur kebaratan. Jika demikian, tidaklah sesuai jiwa dengan bentuk, semangat dengan kerangkanya. Dalam keadaan demikian pastilah kedua-duanya, baik semangat maupun bentuk tidak sehat tumbuhnya. Semangat kurang kuat getarnya sehingga tidak melahirkan bentuk yang sesuai dengan dirinya. Sebaliknya, bentuk yang membaluti semangat itu adalah bentuk yang mati, yang di dalamnya tidak menyala-nyala jiwa yang hidup, yang sesuai dengan dirinya.
               
Jelas bagi kita bahwa semangat keindonesiaan semestinya tidak bisa tidak, akan melahirkan masyarakat dan kebudayaan Indonesia yang berbeda dari masyarakat dan kebudayaan pra-Indonesia.
               
Hal itu sama sekali bukan berarti bahwa dalam kebudayaan Indonesia yang sedang tumbuh itu tidak terdapat unsur pra-Indonesia sedikit pun. Pertentangan semangat Indonesia dengan semangat pra-indonesia bukanlah pertentangan seratus persen, bukan pertentangan dalam segala hal. Dalam membangun bentuk yang sesuai dengan hakikatnya itu, semangat Indonesia pasti akan menyerap beberapa unsur  dari nilai-nilai masyarakat yang silam yang sesuai dengan dirinya. Dalam masyarakat Indonesia akan terdapat bagian-bagian yang yang berasal dari masa pra-Indonesia, meskipun bagian-bagian itu akan mendapat arti yang berbeda, yang modern, dan sesuai dengan semangat baru.
Lagi pula kita harus ingat bahwa di samping kebudayaan pra-Indonesia yang banyak mengandung semangat Barat atau universal dewasa ini, untu sementara masih tetap akan hidup kebudayaan pra-Indonesia berupa kebudayaan daerah. Kebudayaan Jawa, kebudayaan Sunda, kebudayaan Melayu, dan lain-lain untuk sementara belum mati, malah boleh jadi beberapa di antaranya akan mencapai kemajuan  pula.

Meskipun demikian ada kemungkinan sekali waktu dari kebudayaan daerah-daerah itu naik ke permukaan dan ikut mewarnai kebudayaan Indonesia. Sebelum itu terjadi dan umum berlaku, kita harus jelas dan tegas membedakan Indonesia dengan kebudayaan pra-Indonesia. Kebudayaan mereka yang telah terlepas dari pikiran kedaerahan dari kebudayaan mereka yang masih terikat dengan tempat dan suasana sekitarnya. Bagi generasi muda yang merasa dirinya sebagai pembangun kebudayaan Indonesia, yang menghadapi kemegahan kebudayaan silam dan kebudayaan yang hidup di daerah-daerah, perbedaan itu bukanlah sekadar memiliki nilai teoretis. Baginya perbedaan itu mengandung arti yang sangat dalam. Sebab untuk melepaskan yang lama, yang kecil merana itu, dengan penuh kesadaran ia menunjukkan kegembiraan mudanya, rasa percaya diri yang besar atas tenaga dan kecakapan diri untuk melahirkan sesuatu yang lebih besar dan luhur dari segala yang pernah timbul dan tumbuh di negerinya.

Lihat mata yang gemerlap bercahaya, muka yang merah berseri-seri, dan gigi yang putih yang belum membenam menggigit bibir! Tidak terdengarkah Tuan napas berat turun naik, jantung memukul berdegup sampai ke leher? Lihat, lihatlah panji-panji bergelung-gelung ditiup angin! Lihat, lihatlah tali yang kuat penuh irama mengayun ke hadapan untuk maju ke muka! Dengar, dengarlah tanah bergegar dientak sepatu menderap! Dengar, dengarlah tempik kegirangan memenuhi udara! Itulah generasi baru yang tiada tertahan menuju ke puncak kemenangan tempat mata lepas jauh memandang, tempat jiwa bebas mengisap udara yang segar, tempat matahari tak terhalang menjatuhkan sinar emasnya.
                                                 
Pujangga Baru tahun III nomor 2, Agustus 1935



Catatan :

1). Mula-mula maksud saya  akan menulis sebuah karangan yang lengkap dan panjang lebar tentang soal ini. Namun, dalam mengatur pikiran dan mencari ramuan untuk susunan pikiran itu ternyata bagi saya, soal itu sangat luas. Karangan yang demikian pasti menjadi buku yang tebal, yang memerlukan waktu berbulan-bulan untuk mengarangnya, bahkan mungkin bertahun-tahun. Demikian saya ambil keputusan untuk sementara menulis karangan-karangan kecil saja yang lengkap membicarakan sebagian dari soal ini. Sekarang ini telah terpikir oleh saya akan menulis sesudah karangan pertama ini : Synthese Timur dan Barat, Individualisme, dan Maatschappelijk Gevoel, Mystiek  Baru, dan lain-lain.

2). Bagi mereka yang tidak sempat membaca buku Hang Tuah, bacalah karangan H. Overbeek “Java in de Maleische”, Jawa 1927.

3). Menurut ilmu pengetahuan sekarang, sesungguhnya penduduk kepulauan ini tidak hanya satu jenis. Sebab bangsa Papua tidak termasuk rumpun bangsa Indonesia.

4). Belakangan ini ramai dibicarakan tentang restorasi candi Prambanan, sehubungan dengan pembicaraan subsidi Kolonial Instituut. Uang subsidi itu lebih baik dia pakai di Indonesia ini daripada diberikan kepada Kolonial Instituut. Boleh jadi dengan jalan memperbaiki Prambanan itu beberapa puluh orang akan mendapat pekerjaan, dan bila Prambanan sudah diperbaiki kelak akan banyak pelancong datang kemari membawa uang. Namun, pertama sekali harus diingatkan bahwa memperbaiki Prambanan itu tidak lebih dan tidak kurang mempertahankan mumi, mempertahankan mayat yang tidak berjiwa lagi.
         
Mumi, mayat pun kadang-kadang interessant, menarik hati. Namun, bagi manusia yang hidup, yang masih merasakan hidup yang lebih penting dan utama ialah getaran jiwanya yang gelisah mencari, berjuang dan berbuat.
         
Pekerjaan restorasi ialah pekerjaan mereka yang berkepala botak dan kabur matanya oleh penyelidikan dan mempelajari masa silam dari batu-batu yang telah merana dirusak zaman. Namun, pekerjaan Indonesia Muda ialah membangun kebudayaan baru yang sesuai dengan gelora jiwa dan zamannya. Untuk itu perlu semangat yang besar, mata yang terang, dan hati yang gembira dan berani, serta terbuka untuk menerima wahyu.
       
Indonesia Muda harus mengingatkan, bahwa Indonesia yang siang malam melahirkan yang barulah yang akan dapat sejajar dengan negeri-negeri yang terkemuka di dunia, bukan Indonesia sebagai museum barang kuno.


"Kakaren" Simposium Kritik Sastra

11/09/2018 Add Comment
oleh Achdiat K. Mihardja

Kakaren adalah kata Sunda. Artinya 'sisa', 'yang tertinggal', 'restantjes' kalau kata Belandanya. Dan sufiks diminutif 'tjes' itu memang esensial, sebab kakaren (boleh diindonesiakan menjadi "kekaren") semata-mata merupakan sisa-sisa makanan yang tertinggal sesudah pesta makan selesai. Sisa itu dikumpulkan untuk dimakan besoknya, atau dibuang ke tempat sampah.

Kemudian orang suka menggunakan istilah tersebut dalam arti renungan kembali (afterthoughts) tentang soal-soal sesudah selesai diperbincangkan dalam sesuatu rapat, kongres, simposium, seminar, dan sebagainya.

Tetapi renungan kembali itu tidak begitu penting karena segala sesuatunya sudah cukup banyak dan cukup mendalam dibahas dan dikemukakan orang dalam rapat, kongres dan sebagainya itu sehingga kita seolah sudah kehabisan pokok. Namun biarpun tidak begitu penting, toh harus diperhatikan juga, seperti sisa-sisa makanan tidak bisa dibiarkan berantakan di atas meja makan. Kalau masih enak dan belum kenyang, ya dimakan; kalau sudah basi, ya dibuang.

Beberapa hari sebelum simposium kritik sastra dilangsungkan di Balai Budaya pada tanggal 31 Oktober 1968 yang diselenggarakan oleh tiga sejoli — Dewan Kesenian Jakarta, Direktorat Bahasa dan Kesusastraan, Lembaga Kesusastraan Fakultas Sastra UI — saya telah membaca berita bahwa simposium itu tentang metode kritik sastra analitis yang biasa dipraktikkan oleh para sarjana sastra di universitas-universitas dan apa yang disebut metode Ganzheit sebagai penyanggahnya, metode mana tampaknya lebih banyak dianut oleh para pengarang kreatif di Indonesia. Metode pertama akan dibentangkan oleh sarjana-sarjana sastra S. Effendi dan J.U. Nasution dan yang kedua oleh sastrawan-sastrawan Arief Budiman dan Goenawan Mohamad.

Pertentangan kedua macam pendirian itu dengan sendirinya menarik hati saya. Tapi juga karena hal lain. Ialah karena sebenarnya kontroversi itu mula-mulanya timbul dalam malam diskusi yang dalam bulan Februari yang lalu telah diselenggarakan oleh kelompok sastrawan Horison di Gedung Direktorat Kesenian Jakarta, di mana saya sendiri memberi "kertas sawala" tentang kritik sastra yang bercorak analisis dan telah ramai diper¬debatkan sampai tengah malam. Ketika itu (dengan agak ragu-ragu masih) Arief Budiman menyodorkan teori psikologi "Ganzheit" untuk menyanggah metode analisis itu.

Pada malam itu hadir juga Takdir Alisjahbana yang mengemukakan bahwa justru dengan analisis orang bisa mengamati sesuatu dengan jelas lagi, sehingga "hutan akan kelihatan bukan lagi hanya hutannya saja, melainkan sekaligus juga jelas terlihat macam-macam pepohonannya dan aneka warna bunga-bungaannya."

Sebenarnya pada saat kita berbicara tentang sesuatu karya sastra dan bertanya-tanya (seperti secara spontan sudah biasa dilakukan oleh umumnya pembaca) tentang jalannya cerita, plotnya, temanya, tokoh-tokohnya, susunannya, gaya bahasanya, maka pada saat itu pula kita sudah mengadakan analisis terhadap karya tersebut.

Menganalisis itu seolah tanpa disadari lagi sudah menjadi rutin bagi tiap pembaca (atau penonton kalau mengenai film, sandiwara dan sebagainya). Tapi sebaliknya benar pula, bahwa analisis sekadar untuk analisis semata-mata, tak berguna; teristimewa mengenai karya-karya sastra.

Kita harus kembali kepada sintese, kepada keutuhan (Ganzheit) karya tersebut dengan jalan memperhatikan hubungan-hubungan posisi, proporsi, susunan, dan sebagainya, yang unik dan khas antara bagian-bagian dan unsur-unsur yang telah kita pecah-pecah itu untuk kemudian dengan hati terbuka menghayati lagi impak keseluruhannya kepada jiwa kita.

Hubungan-hubungan posisi, proporsi, susunan dan sebagainya yang unik dan khas itulah yang membikin karya sastra unik dan khas pula dalam keseluruhannya (Ganzheit-nya), seperti juga tiap individu unik dan hanya identik dengan dirinya sendiri, tanpa ada duplikatnya yang persis segala-galanya, walau Saudara kembarnya sekalipun. Dengan menginsafi akan keunikan hubungan-hubungan, posisi, susunan dan sebagainya itu, maka dapatlah kita sampai kepada suatu penilaian yang wajar dari pada karya tersebut sebagai suatu keseluruhan yang sudah dianalisis.

Sadar akan hal-hal tersebut, maka saya menggunakan apa yang saya sebut literary analitical-critical approach dalam mengajarkan sastra Indonesia modern di Australia National University. Pendekatan dan metode saya itu secara skematis telah saya uraikan pada malam diskusi di Direktorat Kesenian itu; dan kemudian saya kemukakan juga pada diskusi-diskusi yang saya adakan dengan sastrawan-sastrawan, sarjana-sarjana dan mahasiswa-mahasiswa di Singapura, Kuala Lumpur, Kairo, dan Baghdad, dengan tidak saya lupakan tentunya di Universitas Pajajaran Bandung, dan di Yogya dengan beberapa kawan sastra di sana.

Saya bertolak dari kenyataan bahwa akal budi manusia (human mind) bisa menyatakan dirinya dalam dua macam kegiatan, yaitu kegiatan yang objektif dan yang subjektif. Yang pertama menuju ke pengertian, dan yang kedua ke penilaian. Kegiatan objektif yang paling dinamis dan efektif untuk sampai kepada suatu pengertian ialah analisis.

Dan kemudian, setelah ada pengertian, baru meningkat ke penilaian. Melalui analisis, karya sastra bisa kita bagi dalam unsur-unsur isi dan bentuk. Pembagian ini adalah tradisional, dan teori sastra yang lebih modern menganut pembagian Roman Ingarden, seorang filsuf Polandia, yang melihat karya sastra itu sebagai suatu sistem atau struktur macam-macam sastra.

Perinciannya sangat disederhanakan oleh Wellek dan Warren, seperti bisa kita baca dalam buku mereka Theory of Literature bagian XII. Memang harus saya setujui alasan keberatan mereka terhadap dikotomi isi dan bentuk, karena seperti dikemukakan oleh mereka pembedaan bentuk sebagai faktor yang secara estetis aktif sifatnya dan isi yang secara estetis netral sifatnya, menimbulkan kesulitan-kesulitan. Misalnya, peristiwa-peristiwa dalam sesuatu cerita roman sebenarnya merupakan bagian-bagian daripada isi, jika dilepaskan dari susunan plotnya, susunan mana merupakan faktor bentuk dari roman itu maka perisitwa-peristiwa itu akan hilang efek artistiknya.

Juga saya setuju dengan alasan yang kedua, bahwa tiap kata sebagai unsur bentuk adalah netral sifatnya secara estetis; dia baru mempunyai efek artistik apabila tersusun, dengan kata-kata lain merupakan kesatuan-kesatuan bunyi dan makna.

Memang, semua itu harus saya akui kebenarannya. Tapi saya masih menggunakan juga istilah-istilah isi dan bentuk itu; tapi senantiasa dengan kesadaran bahwa isi dan bentuk itu adalah satu; bahwa dikotomi isi dan bentuk itu hanya abstrak, tidak kongkret dan tidak dapat terpisah-pisah seperti air dengan cairnya, gula dengan manisnya, dan lain-lain semacam itu, yang dapat "dibedakan" tapi tidak dapat dipisahkan, sehingga menilai manisnya adalah menilai gulanya pula, dan sebaliknya.

Dengan cara demikian maka keberatan terhadap "pemisahan" atau lebih tepat pembedaan (onderscheid, distinction) antara isi dan bentuk itu tidak begitu penting untuk penilaian secara Ganzheit. Lagipula dalam praktiknya, saya pun bertolak dari sastra sebagai seni, seperti dituntut oleh metode-metode kritik sastra yang modern, dan menggunakan perincian yang pada prinsipnya sama dengan apa yang disebut "sistem sastra" itu.

Sebenarnya menganalisis dan kemudian kembali menghayati dan menilai secara keseluruhan yang utuh itu mudah saja dipraktikkan, jika kita berhadapan dengan sajak yang pendek atau tidak begitu panjang. Mudahlah rasanya untuk menganalisis sajak Chairil "Krawang — Bekasi" dan meresapkan impaknya secara keseluruhan yang utuh; tapi, apakah akan semudah itu pula untuk berbuat demikian dengan misalnya Milton punya Paradise Lost atau drama-drama Shakespeare, untuk tidak berbicara tentang War and Peace-nya Tolstoy, yang 1500 halaman tebalnya dengan berpuluh-puluh tokohnya, berpuluh-puluh kejadiannya, berpuluh-puluh deskripsinya, reaksi-reaksinya, konfliknya, suasananya, setting-nya, dan sebagainya, yang semuanya serba banyak, serba besar, serba kompleks?

Dan masing-masingnya itu mempunyai impaknya yang khas pada jiwa kita; dan impak yang satu menjadi kabur karena dari konflik lain, dan sebagainya. Apalagi karena karya yang sebesar itu tidak mungkin kita selesai membuatnya dalam hanya lima menit saja seperti halnya dengan sebuah karya yang pendek; tidak mungkin dalam lima jam; bahkan mungkin tak dapat pula dalam lima hari, melainkan lebih lama lagi, dan itu pun kalau kita cukup rajin untuk membacanya secara teratur.

Dalam jangka waktu yang sekian panjangnya itu, mungkin sekali impak-impak itu banyak sudah hilang dayanya, kita sudah lupa, sudah tak merasakan lagi kesannya, sehingga mungkin sekali, bahwa impak yang kita harapkan dari keseluruhan karya yang utuh itu hanya impak yang fragmentaris saja, yang masih segar dalam ingatan kita.

Pendeknya, sekeras-keras kita berusaha untuk mencakup dan mensintesekan seluruh impak-impak dari sesuatu karya besar macam War and Peace itu, kesanggupan jiwa kita sangat terbatas sekali, sehingga tanggapan kita mustahil bisa lengkap. Karena begitu, penilaian kita pun hanya berdasarkan impak-impak yang dominan saja: dan mungkin sekali impak-impak yang dominan itu pun hanya mengenai sesuatu segi atau sesuatu nilai karya besar itu.

Padahal tiap karya besar ditandai oleh multivalence-nya, banyak nilainya, banyak unsurnya, banyak seginya, dan sebagainya, tegasnya, keseluruhannya merupakan gua keserbaragaman, makin digali makin banyak yang ditemukan. Dan tiap yang ditemukan itu minta perhatian, minta dihayati secara khusus.

Itulah maka orang tak habis-habisnya menulis ten¬tang karya-karya besar dari sastra dunia; selalu ada saja soal-soal baru, hubungan-hubungan baru, unsur-unsur baru, nilai-nilai baru, dan sebagainya, yang dapat digali dan diketemukan. Dan menggali dan menemukannya itu sudah sukar sekali kalau kita berhadapan dengan karya yang besar.

Soal lain yang juga menarik hati saya dalam kontroversi kedua metode itu ialah pendapat bahwa karya itu bukan "objek", melainkan subjek. Sarjana-sarjana sastra dikatakan terlalu memperlakukannya sebagai objek semata-mata, padahal sebagai halnya dengan kritikus, karya sastra pun adalah subjek.

Jadi ada dua subjek yang berhadap-hadapan, seperti si Dadap berhadapan dengan si Waru, dua makhluk yang sama-sama hidup, sama-sama subjek. Memang benar. Hanya bedanya si subjek kritikus bisa menilai dan menganalisis si "subjek" karya; tapi sebaliknya tidak. Si Dadap dan si Waru bisa saling pandang, saling cinta, saling benci, saling analisis, saling pukul.

Tidak demikian antara si kritikus dan si karya; si karya tidak bisa menilai atau memukul si kritikus. Karya sastra hanya teks, hanya corat-coret di atas kertas putih; dia mati kalau terletak dalam lemari; dan hancur kalau sudah menjadi bungkus kacang. Dia baru "hidup" kalau dibaca dalam keutuhannya. Pembacalah (kritikus) yang membikinnya "hidup". Dan penilaian terjadi dari satu pihak saja.

Alhasil, karya itu hanya "subjek" yang terbatas. Hidupnya tergantung dari pembaca; dan "tugas"nya hanya memberi impak terhadap pembaca dan kritikus. Tapi tugasnya itu pun hanya pre-supposed oleh si kritikus, tidak disadari oleh karya itu sendiri. Jadi sepihak pula. Tapi...., dan ini keistimewaannya, biarpun tugasnya itu tidak disadari oleh karya itu sendiri, namun impak yang diberikannya itu tidak serampangan atau jatuh begitu saja dari langit bolong, melainkan berkat kodrat unsur-unsur dan potensi-potensinya yang ada dalam kandungannya, bukan yang diada-adakan seperti mungkin terjadi karena salah "penghayatan".

Sebaliknya unsur-unsur dan potensi-potensi yang ada itu kalau diukur dengan ukuran yang tidak sesuai dengan hakikat unsur itu sendiri, atau ukuran itu di-superimposed oleh si kritikus, sehingga impaknya. berlainan dengan yang diharapkan oleh si kritikus itu sendiri, maka keganjilan yang pernah dilukiskan oleh Bur Rasuanto (Indonesia Raya, 10 November 1968) akan terjadi: karena baju tidak pas, bukan bajunya yang dipermak, melainkan tubuhnya dipotong-potong; atau karena tidak mungkin, ya dibunuh saja.

Tiap karya sastra mempunyai unsur-unsurnya sendiri, norma-¬normanya sendiri, potensi-potensinya sendiri yang khas, yang tidak dapat diukur menurut ukuran atau norma-norma yang tidak relevan, yang tidak sesuai dengan hakikatnya. Karenanya, karya sastra harus dinilai menurut keadaan seadanya, bukan menurut keadaan yang dianggap harus ada menurut si kritikus, atau menurut keadaan yang "dikhayalkan" (invented) melainkan seperti yang diketemukan (discovered) oleh si kritikus itu.

Demikianlah maka impak-impak itu harus dihayati oleh si kritikus itu dengan tepat dan lepas dari segala purbasangka dan invensi-invensi yang dicari-cari, sesudah mana dia bisa atau boleh merumuskan penilaiannya.

Bisa atau boleh, sebab itu tidak usah menjadi tugas seorang kritikus; seperti kata Elliot, seorang kritikus "must simply elucidate: the reader will form the correct judgment". Tapi Elliot lupa, bahwa kritikus pun pembaca juga; dengan sendirinya ia pun berhak menilai pula.

Jadi bagi saya, mau menilai atau tidak itu, terserah pada kritikus itu sendiri. Dia boleh menganggap tugasnya itu hanya sampai pada elucidate (menjelaskan) saja; tapi boleh juga sampai menilai pula, terserahlah.

Dalam simposium di Balai Budaya itu ternyata bahwa pokok persoalan bukan lagi kontroversi antara metode analisis dan metode Ganzheit itu, sekalipun kedua metode itu terus-menerus mendapat sorotan, melainkan berkisar pada soal apakah kritik Muhajus Abukomar... (Sinar Harapan, 9 November 1968) bahwa diskusi tentang persoalan tersebut adalah "ketinggalan zaman," karena persoalan itu merupakan hanya "embel-embel" dari persoalan pokok tentang fungsi kritik sastra yang di Eropa sudah berjalan lebih kurang dari dua abad lamanya.

Namun demikian, justru karena soal itu di tanah air kita belum pernah dibahas seluas dan sedalam itu, maka soal "ketinggalan zaman" itu tidak penting. Hanya yang mengherankan saya, mengapa persoalannya tidak dibikin lebih khusus dikenakan kepada situasi kritik sastra kita sendiri selama ini, sehingga hasilnya akan lebih berguna untuk menambah wawasan tentang keadaan kritik sastra kita dewasa ini.

Saya lihat di Balai Budaya itu meja-meja disusun memanjang sepanjang dinding belakang. Meja-meja itu penuh dengan majalah-majalah yang terbuka, buku-buku yang terbuka pula, manuskrip-manuskrip, stensilan-stensilan dengan diselang-seling dengan potret pengarang-pengarang dan surat-surat pribadi — semuanya jelas dimaksudkan untuk memamerkan kegiatan-kegiatan kritik sastra di tanah air, dengan "puncaknya" tentunya buku-buku H.B. Jassin Kritik dan Esai yang tergeletak bertompang-tompang dan menonjol warna biru muda kulitnya.

Apakah ini tidak merupakan bahan-bahan riset yang welkom untuk menyelidiki seluk beluk kritik sastra kita sendiri? Apakah hasilnya tidak akan lebih tepat untuk dijadikan pokok diskusi dalam simposium itu?

Dengan demikian, pertanyaan pokok dari simposium itu bisa kita rubah menjadi pertanyaan yang lebih khusus. Misalnya saja: Apa kritik-kritik sastra yang ditulis H.B. Jassin (atau siapa saja yang pernah menulis kritik sastra Indonesia modern) itu ilmu atau seni?

Bunyi jawabannya yang berupa hasil riset itu, dan karenanya akan lebih meyakinkan, mungkin begini: Ya, semuanya tulisan H.B. Jassin itu bersifat ilmiah. Atau: Tidak. Semuanya bersifat seni. Atau mungkin juga: Bukan ikan, bukan daging. Juga mungkin: Ada yang ilmiah, ada yang tidak. Ada yang seni, ada yang bukan. Atau H.B. Jassin bukan kritikus, melainkan hanya seorang propagandis untuk seni sastra, seorang penulis yang lebih bersifat populer daripada seorang pencipta gagasan-gagasan, seperti T.S. Elliot pernah mengarakterisasi Matthew Arnold demikian.

Pendeknya apa pun dan bagaimana pun bunyi jawaban itu, dia akan merupakan jawaban yang kongkret dan lebih berguna bagi perkembangan kritik sastra kita selanjutnya.

Dengan sendirinya, kita harus memberi batasan dulu tentang apa yang dimaksudkan dengan "ilmu" dan apa dengan "sastra." Saya tidak mengatakan bahwa pertanyaan "apa sastra itu?" tidak berguna dan "memuakkan"

Kalau kita tidak bisa merumuskan definisinya, itu tidak berarti bahwa pertanyaan itu tidak berguna. Dan itu tidak berarti pula bahwa kita tidak mungkin mengenalnya dengan jalan lain; sekurang-kurangnya kita bisa memperinci ciri-ciri dan sifat-sifatnya yang hakiki, sehingga dengan demikian kita takkan keliru menyebut "sastra" untuk tulisan-tulisan yang jelas sifat-sifat dan ciri-ciri hakikinya menunjukkan corak jurnalisme, ilmiah atau pornografi. Setelah kita punya gagasan yang jelas, baik berupa definisi maupun ciri-ciri dan sifat-sifat yang khas tentang ilmu dan sastra atau seni itu, barulah kita bisa menilai dan membedakan kritik-kritik mana yang pernah ditulis orang itu yang ilmiah, mana yang seni.

Dalam hubungan ini, kiranya baiklah kita berpegang pada ucapan Elliot yang menyatakan bahwa "a poet is criticizing poetry in order to create poetry" dan kita perluas pengertian poetry itu menjadi sastra. Maka kritik-kritik sastra yang bercorak ilmiah, kita golongkan ke dalam kategori lain (entahlah, terserah apa istilahnya) dan kita golongkan ke dalam pengertian kritik sastra itu hanya bahasan-bahasan yang bersifat kreasi sastra saja. Tapi ini pun tentunya suatu yang harus didiskusikan dan diputuskan bersama-sama.

Sekali lagi, bertolak dari situasi kritik sastra kita dewasa ini seperti yang terwujud berupa tulisan-tulisan di atas meja itu, akan lebih berguna dan lebih down to earth. Maka tidak heranlah, kalau dalam simposium itu tampil ke mimbar Salim Said yang juga ingin melihat hal-hal yang lebih down to earth dibicarakan. Daripada mempersoalkan apakah kritik sastra itu ilmu atau seni, katanya, apakah tidak lebih bermanfaat jika yang didiskusikan itu masalah fungsi kritik sastra di dalam masyarakat kita dewasa ini.

Terang, bahwa di dalam pertanyaan itu terkandung sifat preskriptif dan normatif. Dasar pikiran dari pertanyaan itu boleh kita analisis begini: Masyarakat kita sekarang tidak sehat. Sastra, dan kritik sastra khususnya, harus mempunyai tugas tertentu untuk menghadapi masyarakat agar membantu membimbingnya ke arah yang sehat.

Secara otomatis saya teringat akan Lu Shun. Seperti diketahui, Lu Shun itu seorang dokter kesehatan. Tapi kemudian ia meninggalkan pekerjaannya sebagai dokter, karena katanya, bangsa saya bukan sakit badannya, melainkan mentalnya. Dan untuk itu sastralah obat yang dianggapnya paling mujarab. Jadilah ia sastrawan.

Soal yang disarankan itu langsung menyentuh persoalan teori sastra yang mencakup masalah fungsi sastra dan fungsi kritik sastra.

Lepas dari polemik-polemik tentang "l'art pour l'art" antara S. Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane dan kawan-kawan. di zaman Pujangga Baru, dan manifesto-manifesto yang dilancarkan kemudian oleh Gelanggang, oleh Lekra dan Manifes Kebudayaan, serta tulisan-tulisan sporadis mengenai humanisme universal, realisme sosialis, dan sebagainya, sebenarnya masalah teori sastra dan kedua "embel-embelnya" itu belum pernah dikupas secara integral dan sistematis.

Mungkin karena sejak merdeka, sastra itu sudah sangat diperpolitik, sehingga dia merupakan hanya "alat" daripada ideologi masing-masing partai yang saling curiga, saling menjelekkan saling menjatuhkan.

Dengan sendirinya dunia sastra yang dikuasai oleh perpecahan politik semacam itu dikeruhi pula oleh kecurigaan dan prsangka-prasangka yang menghambat perkembangan yang sehat. Terutama dari fihak Lekra yang mau mendesakkan teori sastra mereka sebagai satu-satunya yang benar dan baik untuk bangsa kita dan karenanya berusaha sekeras tenaga untuk menyapu bersih pendirian-pendirian dan teori-teori sastra lainnya, hambatan itu sudah sama sekali tidak memungkinkan adanya pertukaran pikiran dan pertemuan paham yang wajar.

Sekarang, di mana suasana sastra lebih tenang dan lebih sehat, di mana ideologi partai politik tidak segila dulu lagi merongrongnya, maka agaknya sudah sampai waktunya untuk soal itu dibahas bersama-sama.

Bertalian dengan saran Salim Said itu, dengan segera kita dihadapkan dengan soal, apakah sastra itu dapat memberi sumbangan untuk menyehatkan mental sesuatu bangsa, seperti pernah menjadi keyakinan seorang Lu Shun terhadap bangsanya sendiri.

Soal ini mengembalikan kita kepada suatu kesulitan yang oleh sementara orang dielakkan dengan dalih, "tidak ada gunanya", yaitu soal definisi sastra atau ciri-ciri sastra yang hakiki itu; dan sekaligus dihadapkan juga dengan soal apa yang menjadikan sastra itu suatu hal yang dianggap penting dan dibutuhkan oleh manusia sepanjang zaman?

Barangkali jawaban yang paling tepat ialah sifat inclusiveness dari pada sastra, yang mencakup segala macam refleksi hidup manusia lahir batin yang oleh Horace dirumuskan dalam dua macam efeknya yang dominan, yaitu dulce et utile, yang boleh kita terjemahkan dengan "kenikmatan dan kemanfaatan". Nikmat, tapi juga manfaat. Manfaat, tapi juga nikmat. Hanya soalnya nikmat yang bagaimana? Dan manfaat karena apa?

Tentunya bukan nikmat seperti kita makan gulai ayam, melainkan nikmat yang sifatnya estetis, suatu kenikmatan yang kita alami kalau mendengarkan musik, melihat tari-tarian dan seni-seni lainnya. Manfaat, lantaran memenuhi kebutuhan-kebutuhan tertentu bagi kehidupan manusia, mungkin sebagai "pelipur lara", mungkin sebagai "pembangkit rasa keagamaan", mungkin karena "filsafat" bahkan mungkin pula hanya sekadar sebagai "hiburan" semata-mata.

Bahayanya ialah, bahwa segi kemanfaatan itu, jika tidak tepat menempatkannya, bisa merusak segi kenikmatannya; dan memang ditentang oleh kritikus-kritikus yang di Rusia disebut kaum "formalis", yaitu kritikus-kritikus yang mau mengembalikan segala-galanya pada sastra murni, di mana bentuk dan cara digunakan sebagai satu-satunya kriterium estetis yang sah.

Dalam semangatnya yang meluap-luap, mereka sampai-sampai mengutuk habis-habisan kalau dalam sesuatu karya sastra, terdapat gagasan-gagasan baik gagasan-gagasan moral, politik, sosial, filsafat dan sebagainya. Ini suatu sikap yang ekstrem, yang ditentang oleh aliran realisme-sosialis dengan semangat yang sama meluap-luapnya, yang dalam ekstremnya menganggap sesuatu karya itu baru "literer" hanya dan semata-mata jika di dalamnya mengandung propaganda yang menentang kaum borjuis imperialis dan membela kepentingan kaum proletar.

Di antara dua ujung yang ekstrem itu, saya pikir, terletak kewajaran yang sehat. Menurut suatu batasan yang modern, tapi preskritif juga, sastra itu adalah bebas dari tujuan-tujuan praktis yang disengaja, misalnya untuk propaganda, untuk menghasut, dan sebagainya, tapi juga bebas dari tujuan-tujuan ilmiah seperti untuk memberi keterangan-keterangan dan fakta-fakta, tegasnya, hal-hal yang tidak relevan dan tidak merupakan bagian-bagian yang integral dan organis dari pada karya sebagai suatu kesatuan yang harmonis.

Sebaliknya, nilai estetis daripada sastra tidak harus berkurang lantaran adanya gagasan-gagasan (sosial, politik, agama, filsafat, dan sebagainya) asal digunakan secara estetis-literer, dalam arti, bahwa gagasan-gagasan itu merupakan bagian-bagian yang integral dan organis pula; jadi hanya sebagai "materi" semata-mata, seperti halnya dengan tokoh, setting, dan sebagainya.

Dengan uraian ini saya tidak memberi jawaban atas pertanyaan yang menyangkut keyakinan Lu Shun itu, tapi baiklah kita renungkan artinya sastrawan-sastrawan macam Multatuli, Tolstoy, Tagore, Pablo Neruda, Boris Pasternak, dan banyak lagi, termasuk juga kita punya "putri sejati", R.A. Kartini.

Demikianlah, soal yang disarankan oleh Salim Said itu sungguh penting, menyangkut soal-soal sastra lainnya, bahkan merembet ke soal-soal ekstra literer, terutama soal-soal politik dan moral bangsa kita, yang harus kita bahas sama-sama dengan bebas dari segala prasangka dan kecurigaan dan racun penghancur di masa lampau.

Kita harus tempatkan sastra kembali pada tempat dan tugasnya yang semestinya di depan, memimpin, bergandengan tangan dengan kegiatan-kegiatan rohani lainnya... tapi memimpin dan juga diikuti.

Bandung, akhir November 1968

(Sumber: Budaya Jaya No. 7, Th. I, Desember 1968).

Si Kakek dan Burung Dara

11/06/2018 Add Comment
oleh M Fudoli Zaini

Si kakek berdiri di ambang pintu. Ia sedang menunggu menantunya datang dari pasar membeli kembang. Sudah dari tadi ia berdiri di situ dan menantunya belum juga datang-datang. Sekarang hari Jum’at, pagi sekira jam dan si kakek akan pergi ke kuburan. Di sebelah Utara di atas kaki sebuah bukit, di situ istrinya terbaring di dalam bumi. Itu satu setengah bulan yang lalu sebagai satu permulaan, dan permulaan itu tak akan berakhir hingga Tuhan membangkitkan kembali manusia-manusia dari liang kubur. Si kakek memang percaya pada Tuhan, sebab ia bahwa Ia-lah yang menghidupkan dan mematikan segenap manusia yang ada di alam ini. Sebab itu ia harus tidak menyesali atau setidak-tidaknya harus tidak teramat sedih atas kematian istrinya. Kehilangan adalah sesuatu yang mesti terjadi, dan setiap manusia memang harus benar-benar menyadarinya.

Si kakek memandang ke Timur. Matanya kini melampaui pagar halaman, melintasi ladang jagung dan melalui sela-sela rumpun bambu ia menampak seorang perempuan berjalan tergesa-gesa. Itu dia sudah datang, pikir si kakek. Kembang yang dibelinya tentulah kembang yang harum, dan biar cuma sedikit ia akan menaburkannya di atas pusara istrinya. Si kakek mengelus-elus jenggotnya yang sudah putih, lalu masuk sebentar ke dalam dan kemudian kembali berdiri lagi di ambang pintu itu.

Perempuan yang sedang berjalan di pematang ladang itu adalah menantunya. Perempuan itu adalah istri anak lelakinya. Adalah sesuatu yang memang merawankan hati, bahwa anaknya yang cuma satu itu telah pergi mendahuluinya. Setahun yang lalu perempuan itu harus menjadi seorang janda. Setahun yang lalu si kakek mesti mencatat dalam hatinya sebuah kehilangan yang sudah tidak dapat dielakkannya lagi. Anaknya yang laki-laki itu telah meninggal dalam suatu perlombaan karapan sapi, dan sekarang istrinya pun telah menyusulnya pula.

Si kakek masih berdiri di ambang pintu, lalu melangkah ke halaman dan tatkala dilihatnya perempuan itu muncul di stu, ia segera menyapanya.

─ Kenapa lama? ─

─ Penjualnya belum datang ─ sahut si perempuan. Perempuan itu membawa sebuah bungkusan daun, di dalamnya terdapat beraneka macam kembang dan bungkusan itu diberikannya kepada si kakek.

─ Si buyung kemana? ─ tanya si kakek. Si buyung adalah  cucunya yang laki-laki, anak perempuan itu.

─ Mungkin sedang pergi mengaji ─ jawab si perempuan.

─ Sekarang hari Jum’at. Anak-anak tidak mengaji ─

─ Mungkin sedang bermain ─ Perempuan itu masuk ke dalam rumah, dan si kakek memanggil-manggil:

─ Buyung! Buyung! ─

Tapi tak seorang pun yang ada menyahuti panggilannya itu. Si kakek merasa amat kesal. Pada hari Jum’at seperti ini ia biasanya membawa cucunya itu ikut bersama dia berziarah ke kuburan.

Tiba-tiba dari samping rumah muncul seorang anak kecil sambil tertawa-tawa. Si kakek membalikkan tubuhnya.

─ Dari mana sejak tadi? ─ tanyanya.

─ Dari ladang ─ jawab anak kecil itu.

─ Ladang mana? ─ 

Anak itu mengacungkan tangannya dan memperlihatkan beberapa tongkol buah jagung.

─ Dapat dari mana? ─ tanya si kakek.

─ Pak Gopar ─

─ Engkau minta? ─

─ Aku diberi ─

─ Awas, jangan engkau minta-minta ─

Anak itu mendekat sambil mengupas jagungnya sebuah, dan kulitnya dilemparkannya di pinggir halaman itu.

─ Buat apa? ─ tanya si kakek.

─ Buat makan burung dara ─ jawab anak itu.

─ Burung dara itu mungkin lapar ─

─ Tadi sudah kuberi makan semua ─

Sambil tersenyum-senyum dipegangnya bahu anak itu, lalu si kakek mengajaknya keluar halaman. Anak itu berbalik.

─ Aku ingin memberi makan burung dara itu dulu ─ katanya.

─ Burung itu tidak lapar ─ tukas si kakek.

─ Tapi si kelabu harus kuat. Harus bisa cepat terbang dan menukik. Nanti sore kakek akan  mengadunya. ─ 

─ Tidak nanti sore, tapi besok ─

Anak itu rupanya merasa agak tidak puas sebab kakeknya baru akan mengadu si kelabu ─ burung dara kesayangannya itu ─  besok. Padahal sudah beberapa hari burung itu tidak pernah diadu. Namun anak itu cuma diam saja. Dan ketika si kakek menyuruh ia menaruh jagungnya dulu di dalam, ia pun segera lari dan tak seberapa lama kemudian muncul lagi dengan wajah yang bersinar-sinar.

─ Ketepilmu jangan lupa! ─ seru si kakek.

─ Tidak! ─ anak itu menunjukkan ketepilnya.

Mereka berjalan keluar halaman, melewati pematang ladang jagung, lalu membelok ke Utara. Matahari sudah mulai meninggi. Langit cerah dan angin bertiup dari arah Timur. Sekarang mereka melewati dua petak ladang jagung dan si kakek menoleh pada cucunya.

─ Kita sudah akan memetik, buyung ─ katanya.

─ Pak Gopar sudah ─ kata anak itu.

─ Ia menanam duluan ─

Anak itu berjalan di samping kakeknya, tangan kanannya memegang ketepil dan tangan kirinya berpegangan pada lengan si kakek.

Tiba-tiba ia menyendal lengannya sedikit.

─ Aku ingin memetik jagung itu ─ katanya.

─ Untuk apa? ─ tanya si kakek.

─ Aku ingin jagung bakar ─ 

─ Tiap hari engkau minta jagung bakar ─

─ Jagung itu enak dan manis ─

Dilihatnya si kakek tersenyum-senyum sambil memandang ke arah ladangnya.

─ Ya kakek? ─

Si kakek mengangguk dan anak itu jadi kegirangan.

─ Sekarang? ─ tanyanya.

─ Nanti saja pulangnya ─

Mereka terus berjalan ke Utara. Di dekat sebatang pohon jambu anak itu melihat seekor burung kepodang. Segera ia mencari sebuah batu kecil, lalu cepat-cepat membidiknya. Tapi sebelum batu itu terlepas, dilihatnya burung kepodang itu sudah terbang dan anak itu merasa amat kecewa.

─ Burung mengerti ─ gerutunya.

─ Engkau terlalu tergesa-gesa ─ kata si kakek.

─ Burung itu licik! ─ 

Si kakek tersenyum lagi, lalu dielus-elus kepala anak itu dan katanya mengalih:

─ Besok kita pergi mengadu burung dara ─

Anak itu menoleh dan seketika kekecewaannya seperti menghilang.

─ Si kelabu pasti menang ─ katanya. ─ Si kelabu pintar terbang cepat dan menukik. Pasti yang lain kalah semua. ─

─ Kepunyaan Pak Carik? ─

─ Pasti kalah juga. Tempo hari dengan si kelabu kan sudah pernah dicoba? ─

Memang si kelabu ─ burung dara kesayangan si kakek ─ memang tidak ada yang bisa menandinginya di desa ini. Meskipun kepunyaan Pak Carik sekalipun yang sudah terkenal cepat terbangnya itu.

─ Tapi kenapa kakek tidak pernah bertaruh? ─ anak itu memegangi lengan kakeknya.

─ Bertaruh? ─ si kakek tersenyum.

─Ya. Si kelabu selalu menang, dan uang kakek nanti tentu banyak ─ 

─ Bertaruh tidak baik, buyung ─

─ Kenapa? ─ 

─ Merusak dan uangnya tidak halal ─

─ Aku tidak mengerti ─

─ Tanyakan pada Kiyai Mahmud. Tentu ia akan menerangkannya ─

Rupanya anak itu masih belum mengerti. Ia tertunduk dan mengerutkan dahinya beberapa lama.

─ Apa kakek diberitahu Kiyai Mahmud? ─ tanyanya kemudian.

─ Ya. Dulu kakek tidak tahu. Dulu ketika masih muda, kakek biasa juga bertaruh. Tapi sekarang tidak. Kiyai Mahmud bilang, bertaruh dan pekerjaan-pekerjaan merusak lainnya, adalah larangan Tuhan ─

─ Tapi banyak orang suka bertaruh ─

─ Apa Kiyai Mahmud tidak bilang itu padamu? ─ tanya si kakek.

─ Tidak ─ jawab anak itu.

─ Kapan-kapan tentu ia bilang. Ia gurumu. ─

─ Ia pernah memecutku dengan lidi ─

─ Karena engkau selalu salah jika mengaji. Engkau harus rajin dan sungguh-sungguh supaya Engkau lekas pinter ─

Sekarang anak itu sudah berumur enam tahun. Tahun depan ia mesti sudah masuk sekolah. Ia harus betul-betul rajin bersekolah, pikir si kakek, supaya kelak bisa menjadi seorang yang pandai. Ia pun harus pula rajin bekerja. Si kakek ingin agar cucunya tidak seperti dia sendiri yang telah banyak menyia-nyiakan masa mudanya. Cucunya harus dapat menjadi seorang yang dapat ia banggakan sebelum ia menutup matanya yang penghabisan. Ia telah gagal dengan anaknya sendiri, dan sekarang anaknya sudah tidak ada.

Si kakek melirik pada anak itu dan katanya:

─ Ajianmu sekarang sudah sampai di mana? ─

─ Bismillah ─ jawab anak itu.

─ Alhamdu belum? ─

─ Belum ─

─ Coba bacakan yang sudah ─

Anak itu membacakan keras-keras sambil memandang ke arah langit. Dan ketika sudah selesai ia berpaling sejurus pada kakeknya.

─ Usin sudah hampir hatam ─ katanya. ─ Sebentar lagi ia akan mengadakan selamatan di rumahnya dan menyembelih ayam ─

─ Engkau harus begitu ─

─ Usin besar, aku masih kecil ─

Mereka sudah dekat pada sebuah kali yang sudah hampir kering airnya. Di musim hujan air kali ini cukup banyak dan malah sering juga meluap. Di situ ada sebuah jembatan bambu, dan si kakek dan cucunya pelan-pelan lewat di atasnya. Tak seberapa jauh dari jembatan si kakek menoleh dan dilihatnya cucunya tidak ada. Ia bingung.

─ Buyung! Engkau di mana? ─ serunya tambah keras.

─ Di sini! ─ anak itu menyahut dari balik rumpun jagung. 

Si kakek melihat rumpun jagung tak jauh dari tempatnya bergerak-gerak. Ia merasa lega.

─ Sedang apa engkau di situ! ─ 

─ Kencing ─ sahut anak itu.

Tiba-tiba si kakek tersenyum lebar sendirian.

─ Setan belang! ─ gerutunya ─ Lekas! ─

Anak itu muncul dari balik rumpun jagung sambil tertawa-tawa, lalu berlari-lari ke arah kakeknya.

Di sebelah Utara itu adalah sebuah bukit yang tidak begitu tinggi. Mereka sudah hampir sampai di sana. Tiga petak ladang lagi kaki bukit akan sudah mereka injaki. Si kakek memandang ke bukit itu. Jika ia memandang bukit itu dari jarak yang dekat, dadanya terasa ada bergoncang. Sekarang ia mulai menunduk. Ia tahu, di bukit itu terkubur anak lelakinya yang cuma satu-satunya ia miliki. Di bukit itu pula terkubur seorang perempuan yang telah mengisi seluruh hatinya. Marliah nama perempuan itu. Nama yang begitu merdu dan begitu nikmat jika ia menyebut-nyebutnya, terlbih-lebih di masa mudanya dulu.

Perempuan itu membantu ibunya berjualan kembang di pasar. Itu beberapa puluh tahun yang lalu. Tapi jika mengenang sekarang, ia merasa bahwa itu baru saja kemarin sore. Ia berumur dua puluh tahun. Ketika suatu kali ia pergi ke pasar, di situ dengan tak tersangka-sangka ia beradu pandang dengan perempuan itu untuk pertama kalinya. Perempuan itu lembut, agak pemalu dan ayu. Ia ingat semua sifat-sifat perempuan itu biar sekarang.

Sejak itu ia sering pergi ke pasar, walau tak ada keperluan apa pun. Ia datang ke situ cuma karena ingin bertemu pandang dengan perempuan itu, kemudian untuk melihat dia tertunduk kemalu-maluan. Sekali pernah juga ia memberanikan diri pura-pura membeli kembang, dan dilihatnya perempuan itu gugup. Ia sendiri merasa sekujur badannya bergetar dan ia hampir tak dapat bersuara. Alangkah lucunya itu dan alangkah tololnya ia dulu.

Ia ingat juga tatkala suatu kali dengan resmi ia telah bertunangan dengan perempuan itu. Tatkala malam-malam ia tak dapat memejamkan mata karena selalu terkenang padanya. Juga ia ingat kepada lelaki tinggi besar itu yang suka menganggu perempuan-perempuan, termasuk juga istri orang lain, tapi tak ada seorang pun yang berani padanya di desa. Kepada lelaki itu ia memang ada menaruh dendam di dalam dadanya. Sejak ia tahu bahwa lelaki itulah yang pernah menghina dan menganiaya bapaknya.

Lalu suatu hari dilihatnya lelaki itu menganggu pula tunangannya di pasar. Bukan main panas hatinya kala itu. Dengan darah mudanya yang mendidih ia pulang, lalu mengambil pisaunya dan mengasah tajam-tajam. Ditungguinya lelaki itu di bawah pohon di sebuah jalan yang menanjak tak jauh dari rel kereta api. Biasanya jika pulang lelaki itu lewat jalan ini, jalan yang sepi di antara ladang-ladang jagung.

Lelaki itu datang dari jauh. Ia melihat, sebab waktu itu matanya masih muda dan tajam dan memang ia mengenal gaya lelaki itu berjalan. Ia tahu, badan lelaki itu lebih tinggi dari badannya sendiri, dan ia berpikir-pikir bagaimana caranya menikam nanti. Kepalanya mungkin belum mencapai bahu lelaki itu. Tapi ia sama sekali tak gentar. Ia tunggu lelaki itu sampai dekat. Lalu ia melompat dan secepat itu ia menikam lelaki itu pada lambung kirinya. Lelaki itu tidak sempat mengelak dan ia rubuh melintang jalan.

Waktu itu tengah hari. Ketika ia melihat lelaki itu rubuh, ia merasa amat puas. Sebab dendamnya telah tertumpah. Lalu pelan-pelan ia pulang dan pisaunya dibiarkannya di situ terletak di tanah. Kemudian waktu alat-alat negara mencari siapa yang menikam lelaki itu, ia pun datang mengatakan dialah yang menikamnya. Seluruh desa menjadi gempar dan orang sama kagum akan keberaniannya.

Itu beberapa puluh tahun yang lalu. Tapi perempuan itu memang setia. Ya, perempuan itu memang setianya padanya. Meskipun beberapa tahun ia harus meringkuk di dalam penjara, namun akhirnya ia kawin juga dengan perempuan itu. Lama-lama ia dikarunia seorang anak perempuan, tapi meninggal waktu masih kecil. Lalu lahir seorang anak lelaki, anaknya yang kedua dan anaknya yang penghabisan. Sekarang ia sudah tua. Dan dalam ketuaannya ini ia merasa amat menyesal atas segala perbuatannya yang dulu-dulu. Ia merasa banyak berdosa dan ia akan selalu tobat kepada Tuhan.

─ Kita sudah sampai! ─ kata anak itu.
Si kakek seperti terpental dan memandang ke muka. Jalanan mulai mendaki dan di mukanya nampak sekelompok kuburan.

─ Ya, kita sudah sampai ─ kata si kakek.

─ Kakek mau berdo’a? ─ tanya anak itu.

─ Tentu saja, buyung ─

─ Jika mau berdo’a jangan panjang-panjang, biar kita bisa lekas pulang ─ 

Si kakek tersenyum sebentar, lalu menjongkok dan anak itu ikut menjongkok pula.

Sekarang aku datang padamu Marliah, bisik si kakek dalam hatinya. Aku datang padamu sekarang. Lalu ia komat-kamit membaca sesuatu, lalu ia mengangkat kedua belah tangannya dan ia mencoba mendo’a sebisa-bisanya. Di situ dikenangnya perempuan itu. Di situ dikenangnya anak lelakinya, penunggang sapi yang jatuh di dalam gelanggang. Waktu itu tiga pasang sapi sedang berlomba dalam babak terakhir, dan anaknya terpotong di tengah oleh sapi lawannya, lalu ia lepas terseret dan terlindas sapi yang satunya lagi. Ya, di situ ia mengenang segala-galanya.

Selesai mendo’a ia bangkit, dan kembang yang dibawanya tadi ditaburkannya di situ. Mula-mula di atas pusara istrinya. Ditaburkannya kembang kenanga dan ia berbisik dalam hatinya : inilah kembang kesayanganmu dulu, Marliah. Lalu ditaburkannya melati : inilah kembang kecintaanmu, wahai perempuan yang pemalu. Dan matanya sekarang mulai nampak berkilat-kilat, berkaca-kaca oleh air mata yang tergenang.

Cepat-cepat ia menaburkan sisa kembang itu pada kuburan anaknya, berdiri sebentar menundukkan kepala, lalu bergegas menuruni bukit itu. Tiba di ladang jagung yang tadi, dibiarkan cucunya memetik beberapa tongkol buah jagung. Pulangnya itu mereka hampir saja tidak bercakap-cakap. Sudah biasa jika pulang dari kuburan si kakek nampak murung dan anak itu rupanya mengerti.


Hari itu lepas Ashar si kakek memberi makan burung daranya di halaman. Sepasang burung itu amat disayanginya, dielus-elusnya setiap hari. Burung dara itu memang satu-satunya penghibur kakek dari dulu, terlebih-lebih pada hari-hari murung belakangan ini. Besok si kakek hendak mengadunya dan burung itu tentu tak terkalahkan.

Tapi betapa renyah hati si kakek tatkala esoknya selesai bersubuh ia pergi ke halaman menengok burung kesayangannya itu. Dilihatnya pintu rumah-rumahan burung itu telah terbuka dan di dalamnya cuma tinggal seekor dan yang betinanya pula. Di bawah situ dilihatnya bulu-bulu binatang itu ─ ya, bulu-bulu binatang jantannya ─ telah berserak-serak. Bulu-bulu itu juga berceceran satu-dua sampai di luar halaman.

─ Musang! ─ gerutu si kakek.

Tidak mungkin binatang itu bisa membuka pintu tempat burung dara, pikirnya. Kemarin aku telah menutupnya baik-baik. Si kakek merasa gemas, lalu ia berseru-seru memanggil menantunya. Perempuan datang terburu-buru dan tatkala ia melihat apa yang telah terjadi, ia pun jadi tertegun. 

─ Siapa yang membuka pintu itu? ─ tanya si kakek.

─ Mungkin si buyung ─ kata perempuan agak gugup. ─ Kemarin hampir tenggelam matahari saya lihat dia memberi makan burung dara. Mungkin ia lupa menutup pintu itu kembali ─

Dipanggilnya si buyung dan anak itu datang, lalu tercengang melihat bulu-bulu berserakan dan akhirnya ia tertunduk.

─ Engkau yang memberi makan burung dara itu? ─ tanya si kakek.

─ Ya ─ jawab anak itu hampir tak terdengar.

─ Kenapa tidak kau tutup kembali pintunya? ─

─ Lupa ─

Hh engkau buyung, bisik si kakek dalam  hatinya. Sekiranya engkau bukan cucuku. Sekiranya engkau bukan cucuku...!

Lalu dicobanya untuk melunakkan kegemasannya sendiri, didekatinya anak itu dan katanya tidak lagi keras:

─ Ya sudahlah. Pergilah mengaji ─

Anak itu masih saja tertunduk ketika berjalan mengambil kitab sucinya. Juga ketika ia melangkah ke luar halaman dan berjalan ke arah selatan. Tidak, aku tidak marah padanya, pikir si kakek. Aku tidak harus marah padanya. Lalu pelan ia menjongkok. Diambilnya selembar bulu burung dar kesayangannya itu, lalu perlahan ia melangkah masuk ke dalam. Wajahnya kelihatan sedih dan murung. Di dalam ia duduk termangu di atas balai-balai.


Sumber: Majalah Sastra Horison, Th. I,  No. 1, Juli 1966

Sajak

Sayembara

Warta