KABAR

SAJAK

ESAI

Recent Posts

Mengatasi Gejala Kekosongan Hidup Sastra - Subagio Sastrowardojo

ADMIN SASTRAMEDIA 9/16/2019
Mengatasi Gejala Kekosongan Hidup Sastra
Oleh Subagio Sastrowardojo

1
SASTRAMEDIA.COM - Di tengah masyarakat kita dewasa ini kesusastraan tak dibaca. Statistik mengenai jumlah warga masyarakat kita yang dengan tekun dan senang membaca karya sastra tentulah susah diperoleh, tetapi kalau kita pergunakan perkiraan yang paling tinggi saja, angka sepuluh ribu orang dengan keasyikan demikian barangkali tidak meleset terlalu jauh dari kenyataan, yaitu mereka yang terutama tinggal di kota-kota besar. Itu berarti bahwa satu di antara 16000 orang di tengah jumlah penduduk negeri kita yang 160 juta jiwa yang benar-benar membaca kesusasteraan.

Jumlah pembaca sastra itu seakan-akan tenggelam — bahkan di daerah-daerah yang jauh dari pusat-pusat budaya dapat susut menjadi nol di tengah lautan manusia yang tidak peduli kepada kesusastraan, sekalipun yang kita hitung hanya mereka yang sudah melek huruf dan sanggup membaca karya sastra, apa pun jenis dan mutunya. 

Dewasa ini kita terbiasa menyebut orang yang punya perhatian pada kesusastraan sebagai kaum "peminat sastra”, sebutan yang justru menunjukkan dengan tegas betapa terbatas kalangan itu dan betapa eksotiknya perhatian itu. Sedang kesibukan yang bertalian dengan minat itu cenderung dipandang orang tidak lain dari suatu hobi, suatu kegemaran yang dilakukan atau yang patut dilakukan orang di dalam waktu senggang. 

Di samping peminat.sastra itu, terdapat beberapa puluh siswa dan mahasiswa yang mempelajari kesusastraan di bawah bimbingan pengajar-pengajarnya yang memperlakukan kesusastraan se bagai obyek studinya, yang makin lama makin sempit dan terpojok bidang perhatiannya di tengah mata pelajaran dan kuliah yang lain. Di kurikulum sekolah-sekolah kesusastraan menjadi mata pelajaran sambilan dari pelajaran bahasa, yang diajarkan oleh guru yang sama, sedang di fakultas-fakultas sastra mahasiswa yang memilih mata kuliah kesusastraan tetap merupakan minoritas dibanding dengan mereka yang mengikuti obyek studi yang lebih populer dan dianggap lebih “bermanfaat” seperti sosiologi, sejarah atau antropologi.

Kalau di dalam kalangan pendidikan kesusastraan merupakan bidang perhatian yang terpencil, maka di luar halaman sekolah dan perguruan tinggi kesusastraan masih saja tersisih dari kesibukan sehari-hari masyarakatyang tidak merasa ada kebutuhan untuk mengenalnya. Hanya sekali sekali tergugah perhatian umum terhadap kesusastraan bila ada sangkut-pautnya dengan politik, misalnya pada waktu Rendra dengan sajak-sajak pamfletnya melancarkan kritiknya terhadap kebijaksanaan pemerintah dengan akibat ditahannya penyair itu oleh pihak keamanan, atau waktu Kejaksaan Agung mengumumkan bahwa roman-roman Pramoedya Ananta Toor dilarang beredar. 

Pada umumnya ketidakpedulian masyarakat pada kesusastraan itu berpangkal pada kurang adanya keyakinan akan manfaat kerja dan hasil budaya itu. Di tengah suasana hidup yang utilitarian yang mementingkan ekonomi dan politik dengan pengutamaan efisiensi, rasio, kekuasaan, ketertiban dan keamanan, kesusastraan menjadi perhatian dan kesibukan tak berarti. Gambaran yang tidak menggembirakan ten tang kehidupan sastra di dalam masyarakat.kita tidaklah berlebihan jika kita bandingkan keadaan kita dengan di neger-negeri lain, bahkan dengan negeri-negeri tetangga kita di ASEAN. Hal ini misalnya terbukti pada lebih banyak terbacanya majalah-majalah seni (dan sastra) di Singapura dan Malaysia yang di masyarakat kita boleh dikata sama sekali terabaikan[1] : terbukti juga pada kenyataan bahwa hanya beberapa gelintir saja penerbit-penerbit kita, yang dapat dihitung dengan jari-jari sebelah tangan, yang berani menghadapi risiko rugi dengan menerbitkan buku-buku sastra yang biasanya dapat terjual habis dalam 5 sampai 8 tahun: juga pada tiadanya prakarsa pemerintah atau sesuatu yang berukuran besar-besaran untuk mendorong perkembangan sastra, seperti yang telah dilakukan oleh pemerintah Thailand, yang setiap tahun menghadiahkan penghargaan South East Asia Award kepada pengarang-pengarang di wilayah Asia Tenggara.

Pertanyaan pokok dalam menghadapi kekosongan hidup sastra di Indonesia adalah apakah manfaat yang didapat dari kesusastraan bagi kehidupan masyarakat kita, dan kalau ada manfaatnya, bagaimana mengatasi ketidakpedulian terhadap kesusastraan itu.


II

Rupanya tiadanya perhatian pada kesusastraan itu sudah lama disiasati Sjahrir, politikus dan negarawan yang terhitung langka ini yang sekaligus juga seorang cendekiawan dan budayawan yang memikirkan secara mendalam soal kesusastraan. Di dalam rangkaian perenungannya yang dibukukan dalam Indonesische Overpeinzingen ia mencatat bahwa orang-orang yang disebut cendekiawan (“intellectuelen”) tidak membaca apa-apa kecuali bacaan bidang keahliannya (vakliteratuur), korannya dan kadang-kadang satu dua bacaan hiburan. Ditambahkannya pula bahwa di seluruh perpustakaan temannya, Hafil, yang dipandangnya cendekiawan Indonesia yang termasuk paling ulung, terdapat hanya satu buah roman. Dan Hafil pun minta maaf pula atas adanya karya sastra itu dengan mengatakan bahwa roman itu adalah pemberian dari orang. Cendekiawan ini rupanya malu akan dituduh ada perhatian kepada kesusastraan.[2]

Kalau kita jujur terhadap kita sendiri, maka kita akan mengakui bahwa kecenderungan sikap terhadap kesusastraan itu masih terdapat secara umum di kalangan cendekiawan kita dewasa ini. Sjahrir telah mencatat keadaan itu pada tahun 1934 dan lebih dari 50 tahun kemudian keadaan itu tidak banyak berubah. Kalau cendekiawan kita sendiri, yang oleh Sjahrir dinamakan hanya “penyandang ijazah” saja, begitu minim perhatiannya k-pada kesusastraan, jangan lagi diharapkan terlalu banyak dari lapisan dan golongan masyarakat lain yang tidak bersangkut-paut dengan kehidupan pemikiran dan kebudayaan.

Sedang lewat kesusastraan, menurut Sjahrir juga, di samping memperoleh pandangan yang lebih baik tentang hidup dan dunia pikiran manusia, mata kita pun akan terbuka bagi masalah-masalah hidup dengan segala keragaman serta kerumitannya, dan juga masalah-masalah sosial dan politik dapat kita kenal secara gampang dan menarik. Kesimpulannya, tanpa bacaan roman tidak akan ada pengakuan persoalan-persoalan hidup dan dengan demikian juga tidak ada pengenalan pada hidup. Akibatnya, seorang lulusan HBS (sejenis SMA) yang baru berumur 17, 18 tahun di Eropa, kadang-kadang lebih banyak tahu tentang hidup daripada cendekiawan, mahasiswa atau lulusan perguruan tinggi kita.[3]

Dalam hubungan ini saya teringat kepada ucapan seorang profesor Belanda, yang ahli dalam kesusastraan Indonesia, bahwa menurut pengamatannya orang Indonesia lebih lambat menjadi dewasa dibandingkan dengan orang Barat. Ia tidak mengatakan bahwa hal itu ada hubungannya” dengan pengenalan orang dengan kesusastraan yang kurang, tetapi dapat saya simpulkan kebenaran itu dari konteks pembicaraannya. 

Belum lama berselang seorang ahli sastra, Robert Coles, yang mengajarkan kesusastraan pada sekolah bisnis Harvard mengutip apa yang dikatakan pujangga Amerika Emerson di dalam esainya “The American Scholar: Character is higher than intellect” yang dimuat di majalah Titian. Novel tidaklah memberikan rumus-rumus berharga bagi intelek, tetapi lebih menyarankan berbagai kemungkinan moral, sosial dan psikologis — mendorong kemampuan pikiran untuk merenung, bermimpi, membawa pikiran ke semua macam situasi dan dibentuk oleh pengalaman-pengalaman imajinatif. Novel membantu kita membentuk sikap yang umum terhadap kehidupan.[4]

Yang dikatakan oleh Emerson dengan “novel itu tentu dapat berlaku bagi kesusastraan pada umumnya, yang mengenakan pengaruh dalam membentuk sikap hidup itu, yang bisa disifatkan sebagai sikap hidup yang dewasa, yang dilandasi oleh pengenalan dan pengertian yang mendalam tentang manusia di dalam berbagai situasi pengalaman hidupnya. Lewat kesusastraan yang menyarankan berbagai kemungkinan moral, sosial dan psikologis” itu, orang dapat lebih lekas mencapai kemantapan bersikap, yang terjelma dalam tingkah laku dan pertimbangan pikiran yang dewasa. Dengan memasuki “semua macam situasi” di dalam karya sastra, orang pun akan dapat menempatkan diri pada kehidupan yang lebih luas daripada situasi dirinya yang nyata. Lewat kesusastraan orang dapat meresapi secara imajinatif kepentingan-kepentingan di luar dirinya dan mampu melihat segala sesuatu dari sudut pandangan yang lain, berganti-ganti menurut wawasan pengarang dan karya yang dihadapinya.

Kedewasaan tumbuh dari pengenalan hidup dengan segala keragaman dan kerumitannya itu dengan cara mempertalikan diri pada pengalaman dan kepentingan hidup yang lebih luas, yang disajikan dalam kesusastraan. Karya-karya sastra yang besar justru memperoleh nilainya yang tinggi karena sanggup membangkitkan perhatian dan prihatin kita terhadap masalah-masalah besar dan berbagai nasib khas yang dihadapi manusia. Di dalam kesusastraan yang besar kita tidak lagi bicara soal diri sendiri, melainkan soal manusia dengan mempertalikan diri secara imajinatif dengan lingkungan hidup yang lebih luas. Seperti yang dikatakan oleh ahli filsafat John Dewey, “karya-karya seni (baca juga sastra) lewat angan-angan dan emosi menjadi sarana kita memasuki bentuk hubungan dan persangkutan yang lain daripada yang kita miliki.[5]

Hidup manusia terlalu terbatas kurun umur dan ruang geraknya untuk memasuki segala kemungkingan situasi dan masalah yang dihadapi manusia. Kesusastraan memberikan peluang kepada kita untuk secara imajinatif mengatasi keterbatasan itu dengan mengidentifikasi diri kita pada pengarang dan dunia pengalaman yang dipaparkan.

Kita sebagai pembaca menyertai pengarang memasuki bentuk hubungan dan persangkutan yang luas itu. Dalam hubungan ini seorang ahli pendidik, H. van Praag pernah menjelaskan hampir senada dengan John Dewey tadi, bahwa “bakat seniman yang besar adalah pertaliannya dengan semua bentuk kehidupan yang diciptanya.[6]

“Secara psikologis dapat dikatakan bahwa di dalam membaca karya sastra kita menempatkan diri kita di luar diri kita dan memancangkan perhatian kita kepada kepentingan-kepentingan di luar diri kita. Lewat kesusastraan kita meninggalkan kekerdilan jiwa kita berupa egoisme, egosentrisitas dan lain-lain sifat keakuan yang picik. Di sini juga terpaut unsur moral, yang dicita-citakan oleh pengarang besar Leo Tolstoy, yang menyatakan bahwa seni dan sastra harus terbimbing oleh tujuan hidup manusia ialah persatuan manusia dalam cinta persaudaraan.[7]

III 
Kalau saya menyebut “kesusastraan”, yang saya maksudkan adalah kesusastraan lama dan kesusastraan modern, atau yang dinamakan juga kesusastraan daerah dan kesusastraan nasional. Dewasa ini masyarakat Indonesia tidak mengenal baik kesusastraan lama maupun kesusastraan modern. Mengenal berarti tidak hanya mengetahui, tetapi juga menghayati. Orang yang setingkat pengetahuannya dengan lulusan SMP akan tahu menyebut beberapa karangan dan mengaitkan nama pengarang dengan karya yang ditulisnya, seperti bahwa di dalam sastra Melayu ada karangan Hang Tuah dan Sejarah Melayu, dan di dalam sastra modern Takdir Alisjahbana telah mengarang roman Layar Terkembang atau Atheis telah dikarang oleh Achdiat K. Mihardja. Tetapi pengenalan membutuhkan pula penyelaman ke dalam soal plot, perwatakan, orisinalitas, penilaian dan penempatan kedudukan karangan di dalam perkembangan sastra sebagai suatu keseluruhan. Penghayatan itu pun dapat berlanjut dalam penelaahan konteks karya dengan masalah-masalah etik, estetik, psikologi, sosial, dan mungkin sekali juga dengan politik. Pengenalan sastra yang berisi pengetahuan dan penghayatan ke dalam karya-karya itu bahkan yang merupakan langkah-langkah pertama saja dalam penyertaan kita dalam suatu kehidupan sastra, belum menjadi kebiasaan di dalam masya rakat kita, baik dalam menghadapi kesusastraan lama maupun kesusastraan modern. 

Ada suatu masa kesusastraan lama mengisi kehidupan budaya kita, ketika lakon-lakon dan tokoh-tokoh cerita mengilhami langkah hidup kita, tidak hanya dalam tingkah laku sehari-hari, tetapi juga dalam perbuatan-perbuatan besar yang bermakna sejarah. Dalam hal ini saya teringat pada pengaruh sastra wayang, terutama lewat pertunjukan wayang kulit dan wayang wong, kepada peradaban Jawa. Episode-episode epos Mahabarata dan Ramayana yang menjadi sumber bagi cerita wayang dikenal masyarakat, tidak saja di lingkungan keraton dan kota, tetapi juga sampai ke desa-desa yang terpencil. Masyarakat Jawa hafal uraian-uraian dalang yang mengiringi cerita dan dapat menirukan ucapan-ucapan pahlawan-pahlawan waktu hendak berperang, sedang moral yang terungkap dalam dunia wayang itu menjadi tuntunan dan pedoman bagi perilaku masyarakat. Orang mendapatkan model pada tokoh-tokoh ideal dari kedua epos itu bagi citra pribadinya. Tingkah laku dan watak diri disesuaikan dengan teladan moralitas tinggi yang diperlihatkan tokoh-tokoh Arjuna, Kakrasana, Sumbadra, Srikandi, Sinta atau Wibisana. Orang mengidentifikasi dirinya dengan salah seorang tokoh cerita yang dicita-citakan itu, sikap dan langkah hidupnya diusahakan memenuhi apa yang diharapkan orang dari bayangan cita-cita itu. Bahkan ada seorang pemimpin pergerakan nasionalis yang kemudian menjadi Presiden R.I. yang pada masa mudanya mengganti namanya, Kusno, menjadi Sukarno. Dapat diperkirakan bahwa penggantian nama itu suatu usaha identifikasi dengan tokoh wayang Adipati Karno, seorang pahlawan yang memihak pada kaum Kaurawa dan menunjukkan keberaniannya dalam perang tanding di dalam perang Baratayuda.

Pengenalan kepada kesusastraan dan kehidupan sastra demikian, yang susah dicari di dalam masyarakat kita dewasa ini. Pengenalan kepada sastra wayang kini sedang mengalami proses menyusut, khususnya pada generasi muda. Perhatian pada umumnya tinggal pada niat melestarikan nilai budaya lama dengan penghargaan pada tradisi daerah, tetapi tanpa disertai penghayatan berupa identifikasi diri pada tokoh-tokoh cerita dan penyelaman pada makna yang dibawa oleh dunia wayang. Barangkali hanya di Bali Mahabarata dan Ramayana masih menyatu dengan dunia angan-angan masyarakat, sehingga alam pikiran dan tingkah lakunya orang masih mendapat ilham dari kedua epos itu. Menipisnya pengaruh wayang pada moralitas masyarakat di Jawa dewasa ini boleh dikata akhirnya akan yang sama kita saksikan di lingkungan budaya Melayu, di mana hikayat-hikayat lama seperti Hang Tuah atau Sabai nan Aluih tidak lagi disimak untuk dicari landasan bagi langkah hidup di masa kini. Bagi masyarakat kita pada umumnya kesusastraan lama tinggal kitab-kitab yang menghiasi khazanah perpustakaan, yang mungkin bisa diteliti sebagai bahan pengetahuan, tetapi tidak lagi dapat menyentuh batin kita yang lebih dalam.

Juga sikap kita terhadap kesusastraan modern dewasa ini tidak berbeda dengan sikap kira terhadap kesusastraan lama. Kita memperlakukannya sebagai bahan pengetahuan, tanpa ada usaha yang sungguh-sungguh untuk menghayatinya. Menurut kenyataannya, masyarakat kita, khususnya generasi muda yang menjadi tumpuan kehidupan budaya bangsa kita di masa depan, hidup tanpa kesusastraan. Sedang tanpa kehidupan sastra, tidak ada pengenalan pada hidup dan tidak ada pula pendewasaan diri lewat penyelaman batin ke dalam masalah etik, sosial, psikologi dan estetik bangsa sendiri serta kemanusiaan pada umumnya. Tiada juga model yang bervariasi menurut berbagai sudut pandangan dan situasi peristiwa, yang menjadi pedoman untuk mengukur dan mengatur langkah hidup orang. Kekosongan hidup sastra, yang berarti juga kekosongan “fiksi sebagai sumber moral”[8] amat menyedihkan, tetapi juga berbahaya untuk perkembangan generasi muda karena kehilangan landasan imajinatif dan kreatif untuk menentukan sikap dan perbuatannya dalam memenuhi tuntutan zamannya.
Bagaimana kini mengatasi kekosongan hidup sastra itu? Dalam hubungan itu saya ingin mengemukakan beberapa saran. 

1. Tiadanya perhatian kepada kesusastraan berhubungan erat dengan tiadanya kebiasaan membaca pada masyarakat kita. Dengan berkurangnya jumlah persentase penduduk yang buta huruf, membaca belum merupakan kegemeran dan kebutuhan yang merasuk ke dalam darah dan daging kita. Pengamatan ini menjadi nyata juka kita bandingkan keadaan kita dengan yang dapat kita saksikan di negeri-negeri maju, di Amerika Serikat, di Eropa Barat dan Jepang misalnya, dimana pada setiap kesempatan terluang di mana pun orang berada (di ruang tunggu, di kereta api, di bis, pada antrian membeli karcis) orang terus saja membaca. Yang dibaca itu dapat berupa majalah, koran atau buku, tetapi nampak orang mengisi waktu dengan membaca. 

Di dalam masyarakat kita belum ada kebutuhan dan kegemaran membaca itu, dan dengan demikian tidak terbaca juga hasil tulisan sastra yang termuat di dalam majalah, koran atau buku. Masih diperlukan waktu perkembangan yang lama sebelum gejala umum membaca itu akan menjadi pemandangan yang terbiasa kita lihat di kotakota, jangan lagi di kota kecil dan desa. Tetapi bagaimanapun, perhatian pada sastra tergantung kepada kebiasaan masyarakat membaca itu. Untuk sampai ke tingkat kesibukan budaya itu dari sekarang kita harus melatih masyarakat kita lewat pendidikan sekolah dan keluarga untuk mengisi setiap waktu yang luang, tidak saja dengan olah raga, kerajinan tangan atau permainan, melainkan juga dengan membaca.

2. Tanpa kebutuhan kegemaran membaca, perhatian kepada kesusastraan masih dapat pula dibangkitkan lewat media bukan-bacaan seperti film, sandiwara, hidangan acara sastra di TV atau radio. Juga pembacaan puisi di muka umum merupakan sarana yang dapat mengganti keharusan membaca sendiri karya sastra. Untuk mencapai penghargaan umum yang sehat terhadap kesusastraan, media-bukan-bacaan itu perlu memilih karya-karya sastra yang cukup punya mutu dan selera, sehingga terpupuk kemampuan masyarakat untuk memisahkan dan membedakan antara ungkapan sastra yang berhasil dengan yang tidak berhasil. Kemampuan itu, jika terdidik dengan baik, akan melembut menjadi intuisi yang segera dapat mengenal gejala sastra dan yang bukan. Dengan demikian terbentuklah cita rasa umum terhadap sastra, suatu landasan yang kuat untuk merangsang kebutuhan untuk berhadapan sendiri dengan karya sastra dengan jalan membacanya sendiri. 

3. Sudah ada satu-dua harian dan majalah umum yang memuat cerita pendek dan sajak di dalam lembaran budayanya atau secara berkala setiap minggu. Penempatan karya sastra di dalam bacaan umum yang mengisi kesibukan berbagai lapisan dan kalangan masyarakat itu setiap hari adalah Cara yang amat tepat untuk memperkenalkan kesusastraan kepada khalayak ramai. Lambat laun pembaca terbiasa pada gejala-gejala khas yang terdapat pada karya-karya sastra yang termuat dan selera dan kegemaran terhadap kesusastraan akan terbentuk, Seharusnya lebih banyak lagi harian dan majalah mengikuti langkah-langkah yang telah dirintis ke arah itu, dengan menghilangkan kecongkakan intelektual atau sebaliknya rasa malu melibatkan kesusastraan di tengah laporan dan artikel tentang ekonomi, politik dan kejadian-kejadian masyarakat pada umumnya. Perlu diingat bahwa harian The New York Times dan majalah The New Yorker, yang terkenal bergengsi itu, tidak segan-segan memuat sajak-sajak di tengah pemberitaannya, seperti hendak memberi sentuhan estetik di tempat-tempat tak terduga di dalam kolom-kolom laporannya. 

4. Pemerintah atau pihak swasta yang bermodal dapat turut serta dalam mengangkat kehormatan kesusastraan sebagai usaha budaya yang penting di muka umum dengan menyelenggarakan sayembara mengarang pada tingkat internasional. Kita bisa mengikuti jejak Thailand dengan Sout East Asia Award-nya yang setiap tahun dihadiahkan kepada pengarang-pengarang yang menjadi pilihan masing-masing negara Asia Tenggara. Sayembara sastra yang bersifat internasional semacam ini, mungkin meliputi negaranegara ASEAN, yang dapat diadakan oleh Indonesia, tidak saja akan meningkatkan kesibukan berolah sastra di negeri sendiri dan di negeri orang, tetapi sekaligus juga akan menjunjung nama “Indonesia ke tingkat internasional dalam dunia sastra.

5. Masih bertalian dengan usaha yang dilakukan oleh pemerintah tersebut di atas, oleh yang berwajib dapat dirangsang gairah mengarang oleh para sastrawan kita dengan mengurangi atau menghilangkan hambatan-hambatan yang dapat melesukan semangat untuk berkarya yang lebih banyak dan lebih bermutu. Pemerintah dapat menunjukkan perhatian kepada perkembangan kesusastraan dan menyatakan prihatin terhadap kemungkinan merosot mutunya dengan memberi tunjangan sekedarnya bagi pengarang yang terbukti aktif bekerja dan memperlihatkan nilai karyanya, tetapi tidak mampu menjalankan hidup dengan wajar. Di negeri-negeri lain, seperti di Australia ada sistim pemberian subsidi kepada pengarang untuk satu-dua tahun untuk menyelesaikan tulisan roman atau dramanya. Sedang di Malaysia konon ada penghargaan tunjangan seumur hidup bagi pengarang yang sudah dianggap mencapai tingkat kemahiran dan produktivitasnya. Indonesia dapat meneladan kepada negeri-negeri tetangga itu dengan menentukan sesuatu cara untuk membantu memajukan kesusastraan lewat perhatian kepada perbaikan hidup pengarangnya untuk memungkinkan dia melanjutkan dan meningkatkan kerja sastranya. 

Dalam hubungan itu, dapatlah pemerintah meringankan nasib buruk pengarang dengan menghilangkan pajak pengarang yang 154 yang terasa seperti sengaja hendak menjerat kaki pengarang untuk melangkah maju di dalam melanjutkan kreativitasnya. Pajak pengarang justru mengurangi honorarium yang sudah minim yang diterima pengarang dari terbitan bukunya, sehingga mempertegas kenyataan bahwa pengarang tidak dapat hidup dari menulis saja, dan mengarang menjadi kerja budaya sambilan. Dapatkah kita harapkan pencapaian dan peningkatan mutu dari sifat kerja demikian? 

6. Akhirnya pembinaan dan pengembangan sastra tak mungkin dilepaskan dari pendidikan formal. Lewat jalur pendidikan itulah dapat terjamin tersebar dan berkembangnya pengetahuan dan penghayatan masyarakat dalam kesusastraan. Pembinaan dan perkembangan sastra dapat dilakukan dengan terarah melalui suatu sistim dan metode pengajaran yang terencana.

Pertama-tama perlulah di sekolah-sekolah dihindarkan penyerahan tugas mengajar kesusastraan pada satu tangan, dengan kesusastraan sebagai bagian yang tak penting dari pelajaran bahasa oleh guru yang sama. Dengan mempergunakan guru yang khusus mengajarkan kesusastraan, atau dengan tidak memperlakukan kesusastraan sebagai bagian dari pelajaran bahasa, pengajar dapat mempersiapkan pengajaran kesusastraannya dengan lebih baik. Dengan demikian pengetahuan yang disampaikan kepada muridnya merupakan hasil telaah dan penghayatannya yang cukup mendalam, dan terhindar pemberian data yang hanya menyentuh gejala permukaan sastra yang perlu dihafal, seperti nama pengarang dengan karangannya, tahun terbit bukunya, riwayat singkat pengarang atau singkatan isi karangannya.

Sejak dini murid harus dibiasakan kepada penghayatan sastra dengan menikmati rangkaian kata dan gagasan pelik pada karya sastra terutama melalui membaca dengan keras suatu cerita pendek, bagian-bagian roman atau drama dan pembacaan puisi di muka kelas. Pada tingkat Perguruan Tinggi memang penting pengetahuan teori-teori sastra, terutama yang dapat diterapkan pada kenyataan gejala-gejala kesusastraan kita sendiri, tetapi di samping itu perlu penghayatan melalui kritik sastra terhadap karya-karya yang kongrit, sehingga ada apresiasi terhadap karangan yang dibaca mahasiswa. Tanpa penilaian terhadap karya sastra ini, teori-teori akan tinggal pengetahuan sastra yang kering, yang bahkan dapat membunuh selera dan kemampuan untuk membedakan mana kesusastraan yang berharga dan mana yang tidak: berharga secara estetis, tetapi jgua berharga kalau dilihat dalam hubungan etik, sosial, psikologi dan mungkin juga politik.
Pengetahuan dan penghayatan ke dalam kesusastraan di tingkat atasan pendidikan itu berlaku terhadap penelaahan kesusastraan lama dan modern, tetapi tidak kalah pentingnya dalam perbandingan dengan kesusastraan asing, di dunia Barat dan Timur. Dalam studi perbandingan itu akhirnya akan terbit keinsafan pada mahasiswa akan pengertian-pengertian inti tentang apa yang disebut kesusastraan itu. 

Itulah beberapa saran yang pokok yang dapat saya kemukakan untuk mengatasi kekosongan hidup sastra dewasa ini. Kekosongan hidup sastra yang tidak boleh terlalu lama menguasai masyarakat kita dengan risiko hilangnya sumber moral dan kelambanan proses pendewasaan bangsa kita.***

Endnote:
1). Persaksian Ini dapat dibaca dalam artikel “Palung Indonesia di Taman Olimpiade", Kompas 16 Oktober 1988
2). Indonesiache Overpeiwaingen, Djambatan, Amsterdam Jakarta, cet. ke 3, 1950. h. 9
3). Ibid, h. 9. 10
4). Titian, USIS, 3/19868, h. 62
5). Art as Experience, New York 1958, h. 333
6). De Zin der Opuveding. Haariem 195C, h. 94
7). Leo Tolstoy, What is Art and Essays on Art, Terj. Aylmer Mande, New York 1962, h. 263 – 267
8). Titian 311988, h. 62

Sastra di Tengah Hutan Beton - Gerson Poyk

ADMIN SASTRAMEDIA 9/15/2019
Sastra di Tengah Hutan Beton
oleh Gerson Poyk
Sastra di Tengah Hutan Beton - Gerson Poyk

SASTRAMEDIA.COM - Kebudayaan, menurut filsuf Pitirim A. Sorokin " terdiri dari budaya ideologi, material, personal dan behavioral. Ia menggolongkan sastra ke dalam apa yang kurang lebih disebutnya dunia ideologi yang lahir dari semesta makna-makna yang digodok menjadi sistem. Politik, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi misalnya, seperti juga sastra, tergolong dalam budaya ideologi. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa setiap kelompok atau fenomena budaya tak berdiri sendiri-sendiri. Selain memiliki kaitan dengan politik dan lain-lain aspek dalam kelompok sendiri (budaya ideologi) sastra hanya bisa dipelajari lewat budaya material, personal dan behavioral

Sastra memerlukan mesin tik, komputer, mesin cetak, kertas, tinta sebelum jadi buku. Semua ini adalah budaya material. Bukan saja sastra lisan memerlukan budaya personal tetapi juga sastra tertulis. Buku sastra perlu ditangani oleh para direktur, para manejer pemasaran dan lain-lain manusia. Mereka inilah merupakan budaya personal. Alangkah seronoknya bila terlibat pula budaya behavioral seperti upacara memecahkan gentong dan injak telor pada ekspor perdana buku-buku sastra Indonesia yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman, Perancis, Jepang, Cina (Wah!) serta upacara pemberian hadiah sastra dan doa restu segala. Sastra Indonesia modern telah mengukir riwayat integrasi antara budaya ideologi dan budaya personal ketika para sastrawan Manikebu? dan tokoh politik serta militer di satu pihak melawan ideologi kiri di lain pihak. Benturan antar budaya ideologi menjalar ke pembunuhan beberapa jenderal kita yang merupakan tiang budaya personal bangsa. Di saat itu tampak bahwa perbuatan manusia menjadi absolut. Sungguh tragis. 

Tragedi itu mengajar bahwa musuh sastrawan adalah ekses absolut (excess of the absolut) yang bukan saja dapat timbul dari ideologi kiri informasi penting mengenai mana jalan menuju ekses dan mana jalan untuk menghindari ekses. Ada sastra yang merupakan karya estetis yang memberikan informasi etis tetapi juga ada sastra yang berbulu domba berhati singa. Sayang. Begitu banyak sekolah menengah, begitu banyak fakultas sastra tetapi begitu sedikitnya buku, buku sastra yang terbit. Kalau ada yang terbit pun, sekali dalam enam bulan sang sastrawan yang datang pada penerbit untuk menanyakan royalti mungkin akan pulang dengan tangan hampa melenggang di hutan beton kota memakai koteka.

Puisi Indonesia Mutakhir: Tantangan atas Kecenderungannya - Slamet Sukirnanto

ADMIN SASTRAMEDIA 9/14/2019
Puisi Indonesia Mutakhir: Tantangan atas Kecenderungannya

Puisi Indonesia Mutakhir: Tantangan atas Kecenderungannya - Slamet Sukirnanto
oleh Slamet Sukirnanto

“Penyair, kayu pertama di tumpukan pembakaran
Penyair /abu landasan di tumpukan reruntuhan
Penyair paling setia mengajak sekali waktu untuk bersikap."
Ramadhan KH. 

SASTRAMEDIA.COM -Sepanjang pengamatan saya yang mungkin sangat terbatas: tingkat perkembangan puisi Indonesia mutakhir ditandai oleh beberapa gejala yang menarik. Gejala yang saya maksud adalah adanya tanda-tanda yang makin kuat bahwa puisi-puisi yang lahir dewasa ini adalah buah dari proses kerja-sastra kreatif yang lebih mantap dan matang, baik dari segi kedalaman spiritual maupun bentuk-bentuk pengucapan kepenyairannya, wawasan estetika dan cara memandang dunia serta menafsirkan kehidupan di sekeliling kita, baik yang nampak atau yang misteri, dan yang tidak kurang menariknya adalah adanya suasana dinamik dari pergulatan yang penuh tantangan dari sejumlah penyair baru yang serius yang kini sedang go public — menawarkan saham-sahamnya dalam bentuk karya puisi kepada masyarakat sastra, peminat puisi dan kehidupan perpuisian kita dewasa ini. Saya menyaksikan pergulatan yang dramatik ini dengan hati terbuka, sambil mengamati dan belajar cara penyair baru menemukan serta sampai pada jati-diri kepenyairannya, bentuk-bentuk pengucapan dan bahasa kepenyairannya. Demikian pula tentang apa yang diberikan kepada kita sekarang.

Kecenderungan pertama, puisi kita dewasa ini lebih mencari kedalaman spiritual dan religius. Kecenderungan puisi yang bernafas keagamaan, yang sebenarnya sudah lama ada dalam kehidupan sastra kita, sekarang ini menemukan dinamika dan tenaga yang baru, wawasan dan pengucapan yang baru, semangat dan nafas yang lebih segar. 

Kecenderungan ini merupakan arus kuat yang menjalar, dan dominan kehadirannya. Sehubungan dengan ini, penyair Abdul Hadi WM dalam ulasannya tentang “Sastra Profetik, Kreativitas dan Pengembangannya”, (dimuat dalam harian PELITA, 15 April 1987) menyatakan bahwa sejak tahun 70-an puisi kita tidak lagi ditandai oleh hiruk pikuk. Puisi tetap bagian dari sastra. Bukan bagian yang lain. Puisi yang bernafas keagamaan bukanlah sekedar sebuah model pengucapan puisi, tetapi lahir oleh sebab-sebab yang lebih mendalam. Sebab-sebab yang mendorong munculnya kesadaran mencari kedalaman nafas keagamaan, suatu perjalanan rohani, perjalanan spiritual, pengembaraan ke wilayah transendental. Apakah ini yang dinamakan kesadaran yang bangkit?atau suatu tahap pencerahan seperti yang sering ditandaskan oleh Abdul Hadi WM dalam berbagai kesempatan.

Kita coba menengok ke belakang: S. Takdir Alisyahbana yang kita kenal sebagai juru bicara terbaik dan pembela yang paling gigih tentang lahirnya puisi baru, telah menunjukkan beberapa tanda-tanda atau corak puisi baru. Dalam uraian yang berseri di majalah Pujangga Baru kemudian dibukukan dalam buku Kebangkitan Puisi Baru Indonesia (Penerbit Dian Rakyat, Jakarta 1969), ia menyebut sepuluh tanda-tanda, seperti yang dikemukakan dalam bab-bab pembicaraannya: 1. Jiwa Bernyanyi, 2. Iramg Baru, 3. Bahasa baru, 4. Sajak dan isinya, 5. Pemandangan alam yang baru, 6. Lagu cinta birahi, 7. Sajak kebangsaan, 8. Sajak kerabat, 9. Sajak masyarakat, 10. Sajak agama. 

Ternyata bahwa puisi yang bernafas keagamaan telah menjadi salah satu tonggak kebangkitan puisi baru Indonesia sekitar tahun 30-n. Dari sekian banyak nama-nama penyair menulis puisi bernafas keagamaan adalah Amir Hamzah, A. Hasymy, Or. Mandank, Rifai Ali, Samadi, Karim Halim dan lain-lain. Tetapi dari sekian nama-nama penyair yang karya-karyanya kita kenal, ter-nyata mungkin hanya Amir Hamzah saja yang meninggalkan kesan pada kita.

Memasuki masa Jepang dan Angkatan 45, puisi-puisi bernafas keagamaan telah ditulis (diantara beberapa puisinya) oleh Anas Makruf, Usmar Ismail dan yang paling mengesankan adalah beberapa puisi Chairil Anwar. Selepas ini tokoh yang tidak dapat kita lupakan adalah Bahrum Rangkuti. Sebagaimana Buya Hamka, Bahrum Rangkuti di samping sastrawan adalah tokoh Islam yang terkemuka di negeri kita. Bahrum Rangkutilah yang memulai usaha baru dalam meniupkan angin segar perpuisian kita yang bernafas keagamaan. Dan dalam hal ini karya-karyanya lebih mempertahankan nilai sastranya. Tokoh inilah, saya kira yang pertama kali memperkenalkan puisi-puisi Mohammad Igbal dalam kehidupan sastra kita: dengan menerjemahkan Asrar-I Khudi (Rahasia-Rahasia Pribadi) yang sangat terkenal itu. Usaha-usaha pengenalan melalui penerjemahan telah dilanjutkan dengan penuh kesadaran oleh penyair Abdul Hadi WM akhir-akhir ini. Wilayah penerjemahannya lebih luas lagi dengan sumber-sumber yang lebih kaya dan beragam. Meskipun kelebihan Bahrum Rangkuti tidak hanya menguasai puisi-puisi Igbal yang berbahasa Inggris: tetapi juga da:“i bahasa aslinya, yakni bahasa Urdu. Dan beliau atas jasa M. Natsir, telah berkesempatan bermukim di Pakistan (negeri asal penyair Igbal) untuk masa yang cukup aman.

Dengan kehadiran Bahrum Rangkuti, yang pada zamannya menjadi juru bicara tentang kebudayaan sastra keagamaan di berbagai forum sastra Indonesia, di kemudian hari, sekitar tahun 65 dan 60-an, muncullah beberapa penyair baru yang membawakan nada dasar kepenyairan yang bernafas agama. Di antara yang cukup dikenal adalah Saribi Afn, Muhammad Diponegoro, Armaya dan lain-lain. Saribi Afn telah menyumbangkan karya puisinya yang terkumpul dalam buku kumpulan puisi yang berjudul Gema Lembah Cahaya (PT Pembangunan Jakarta, Ka). Di kalangan penyair yang membawakan nafas tenan yang karyanya sangat bagus adalah penyair Suparwata Wiraatmadja dengan buku kumpulan puisinya Kidung Keramahan (Penerbit Gunun Mulia, Jakarta 1963). Demikian pula Rendra dengan beberapa buku kumpulan puisinya yang lama.

Kecenderungan ini, makin lama tambah subur dalam kehidupan sastra kita. Pada periode tahun 70-an dan 80-an, gejala ini lebih menderas lagi dan bahkan menjadi kesadaran yang lebih mendalam di antara tenaga-tenaga kreatif kita dalam kehidupan kepenyairan zaman ini. Taufig Ismail, Budiman S. Hartojo, Abdul Hadi WM, Ajip Rosidi, Sutardji Calzoum Bachri, Mohammad Diponegoro, dan juga Kuntowijoyo, Hamid Jabbar, Arifin C. Noer, Husni Djamaludin, Abrar Yusra, Ikranegara dan lain-lain telah menggarap puisi bernafas keagamaan lebih kreatif, segar, dan menyadari akan pentingnya kedalaman masalah dalam mencari dan menemukannya. Di tengah-tengah iklim sastra profetik yang juga menggarap karya prosa seperti Danarto, M. Fudoli, Wildan Yatim, Djamil Suherman, Alwan Tafsiri, Mohammad Ali, Ali Audah, Chairul Harun, AA Navis dan lain-lain.

Seperti kita ketahui semangat ini, juga dibarengi dengan sema-ngat. mendedah karya-karya sastra lama: karya-karya Hamzah Fansuri atau Raja Ali Haji mendapat perhatian yang istimewa, dibaca dan dibicarakan dengan penglihatan yang baru. Karyakarya sastra religius dari Timur mulai diterjemahkan dengan penuh minat. Karya-karya Rumi, Igbal, Umar Kayam, Gibran dan lain-lain dipelajari dengan sungguh-sungguh. Juga puisi/sastra Parsi klasik tidak terlewatkan untuk dikaji. 

Di sini nampak betapa para sastrawan berusaha menjawab gejolak zamannya, dengan mencari kedalaman di tengah-tengah kedangkalan kehidupan modern saat ini. Suatu keadaan yang terus ditandai oleh watak keduniawian, serba kebendaan, dan keranjingan pada pragmatisme yang terus mengganas yang mewarnai tingkah laku manusia sekarang. Kemajuan-kemajuan keadaan yang pada mulanya sangat kita impikan dan harapkan realisasinya: namun, dampaknya membawa kita kepada suasana yang mencemaskan. Banyaknya perubahan nilai-nilai yang me-ngejutkan dan mencengangkan bagi mereka yang berakal sehat.Inilah mungkin sebab lain, yang mendorong para penyair untuk mengembara ke alam rohani dan yang bersifat transendental itu.

Kecenderungan kedua, adalah nampaknya masih sebagai gagasan suatu relevansi sebuah puisi dalam masyarakat. Seperti yang dikenal dengan teks dan konteksnya, yang oleh beberapa kawan di Jawa Tengah diketengahkan gagasan kontekstual itu Memang gagasan ini belum terasa menjadi arus gerakan yang menjadi. Namun, di sana-sini ada juga penyair yang mencobanya.

Di dalam kehidupan sastra kita, sejak mulanya telah banyak gagasan atau ide tentang seni dan sastra. Kita ingat gagasan Sutan Syahrir pada tahun 30-an tentang relevansi sastra untuk mendidik rakyat yang diperkuat gagasan ini oleh S. Takdir Alisyabana, Kemudian gagasan tentang Humanisme Universal yang mewarnai semangat sastra Angkatan 45. Yang kemudian dikoreksi oleh Angkatan Baru tahun 50-an dengan juru bicaranya Ajip Rosidi dengan makalah "Sumbangan Angkatan Terbaru Sastrawan Indonesia Kepada Perkembangan Kesusastraan Indonesia" (dalam buku Kapankah Kesusastraan Indonesia Lahir?, Bhratara, Jakarta, 1964). Demikian pula tentang gagasan seni dan sastra untuk mengabdi politik yang menjadi dasar pemikiran golongan Lekra tempo hari. Yang telah mendapat perlawanan yang keras oleh para sastrawan manifestan.

Seperti yang kita amati kecenderungan gagasan tentang kontekstual itu, hendak mengajak berpikir kearah perjuangan kemasyarakatan, keadilan atau yang secara umum dinamakan perjuangan kemanusiaan (humanitas). Karya sastra diharapkan menemukan relevansinya (teks dan konteks). Pemrakarsa gagasan ini, memandang seolah-olah karya-karya puisi dan sastra kita selama ini tidak kontekstul, tidak mempunyai relevansi dengan kenyataan-kenyataan yang ada dalam masyarakat secara aktual (teks dan konteksnya). Orang hendak melupakan karya puisi-puisi Taufig Ismail, Rendra, Leon Agusta, Sutardji, Yudhistira, Adri Darmadji dan lain-lain. Untuk ini saya pernah mengulas dalam “Sekitar pemikiran dan permasalahan sosial dalam puisi Indonesia mutakhir” (majalah Horison, No. 9/ th. XXIII, September 1988) yang pada mulanya saya sampaikan dalam suatau ceramah didepan mahasiswa-mahasiswa FISIP UI tahun 1977. 

Kecenderungan ketiga adalah adanya keinginan yang keras untuk terus memperbaiki dan menyempurnakan pengucapan dan bahasa perpuisian dengan menggali sumbernya yang kaya dari khazanah daerah. Sejak Sutardji mengumumkan Kredo-nya dan kembali pada mantra, yangpada dasarnya adalah suatu usaha untuk menumbuhkan wawasan baru, bentuk-bentuk pengucapan baru dan cita rasa estetika baru yang cocok dengan semangat zaman sekarang ini. Banyak pe-nyair tergerak ke arah usaha-usaha pembaharuan, baik melalui penggalian sumber-sumber kreativitas yang bersumber dari daerah maupun yang klasik de-ngan penglihatan baru dan cahaya yang baru. Di samping itu, Goenawan Muhamad, Sapardi Djoko Damono, Darmanto Yatman dan lain-lain dalam karya puisinya menunjukkan perubahan-perubahan pengucapan-pengucapan, dan bentuk-bentuk bahasa puisi yang terus berubah. Sehingga menimbulkan kesan yangkuatbahwa tahun 70-an dan 80-an ditandai adanya upaya orang membangun estetika baru dalam perpuisian Indonesia. Perhatian saja pada kumpulan puisi pada Sutardji dalam buku Kapak, perbandingan buku Goenawan Muhamad antara kumpulan buku puisi Parikesit dengan Interlude, Sapardi antara bukunya Dukamu Abadi dengan Perahu Kertas dan lain-lain. 

Mengenai ini kita coba menengok ke belakang: upaya-upaya memperbaharui pengucapan puisi, wawasan estetika telah bermula dari awal lahirnya puisi baru Indonesia seperti yang nampak pada karya-karya puisi Rustam Effendi, Yamin, Sanusi Pane, Tatengkeng dan menemukan puncaknya pada Amir Hamzah. Kecenderungan kebangkitan baru ini telah ditunjukkan dengan baik oleh S. Takdir Alisyahbana sebagai juru bicara yang paling terpandang pada zamannya. Silahkan kaji buku Takdir Kebangkitan Puisi Baru Indonesia.

Kemudian Chairil Anwar muncul dengan wawasannya yang baru yang menyuarakan jiwa dan semangat Angkatan 45. Generasi ini telah mendobrak bentuk pengucapan dan estetika perpuisian masa Pujangga Baru. Juru bicara terbaik Angkatan 45 adalah HB Jassin dengan esainya “Angkatan '45" dimuat dalam majalah Seni. Tahun 50-an dan 60-an generasi Angkatan Baru juga menerangkan perbedaannya dengan generasi sebelumnya. Ajip Rosidi menyatakan adanya kecenderungan dan orientasi sastra yang berbeda antara Angkatan 45 dengan angkatan sesudahnya melalui pembicaraan yang telah saya kemukakan di atas. Kemudian Hariyadi S. Hartowardojo terlibat perdebatan yang sengit tentang puisi dengan kelomok Yogyakarta yang melahirkan penyair-penyair seperti Kirdjomuljo, Mansur Samin, Subagio Sastrowardojo, WS Rendra, Hartojo Andangdjaja dan lain-lain. 

Namun yang lebih mendasar adalah apa yang diketengahkan oleh penyair Subagio Sastrowardojo dalam makalahnya Situasi Sastera Puisi Sesudah Tahun '45 yang diucapkan di depan forum Pekan Kesenian Mahasiswa di Yogyakarta. Subagio mencoba mendobrak arus epigonisme. Ia berkata: “Sesudah hampir sepuluh tahun Chairil Anwar meninggal, kita kini berdiri di tengah arus epigonisme”. 

Pada saat ini memang terasa persajakan Indonesia dikuasai oleh Chairil Anwar, Sitor dan Toto Sudarto Bachtiar. Subagio menandaskan bahwa pengulangan tema dan ekspresi tidak bersemangat lagi. Hanya hasil rutin saja. Keadaan ini dirumuskan dalam dua kemungkinan sebab: pertama, dewasa ini tidak ada pemikiran-pemikiran yang berani yang mendobrak kebiasaan-kebiasaan yang sudah beku, kedua, kita sudah mencapai taraf di mana kita sudah bisa membayangkan diri dengan secepatnya sebagai suatu bangsa. Cita yang sadar tak sadar kita dukung telah menemukan ekspresinya yang uniform dalam puisi. Dalam kesempatan inilah dia menguraikan pendiriannya tentang puisi dan bagaimana seharusnya perkembangan puisi yang akan datang.

Apabila kita membaca puisi-puisinya dari Simponi hingga yang sekarang, terasa bahawa ia sangat konsekwen. Setelah itu kehidupan sastra kita diwarnai oleh pergulatan yang keras antara kaum manifestan dengan golongan Lekra dalam pertengkaran mengenai gagasan sastra. 

Kecenderungan keempat adalah makin kuatnya suara para penyair sekarang di tengah-tengah ketegangan dalam menegakkan jati-diri kepenyairannya, menghadapi situasi zamannya yang mengalami berbagai perubahan yang mendasar dengan segala akibatnya, dan keinginannya yang kuat untuk menemukan bahasa puisinya sendiri, dalam tingkat perkembangan puisi yang lebih dari 60 tahun telah menunjukkan kemantapannya dan kedalamannya. 

Situasi sekarang menunjukkan kedinamikannya dan pergulatan para penyair mutakhir (penyair muda) yang didukung banyaknya bahan yang melimpah, sarana-sarana kegiatan dan luasnya penerbitan. Banyak kecenderungan yang mewarnai pui si-puisi dan kepenyairan sebelumnya, menemukan cahaya baru dan kegairahan baru. Baik dalam ide atau gagasan, nafas perpuisian, penglihatan terhadap dunia dan alam kehidupan nyata dan yang rohani mendapat penggarapan yang serius. Namun, pergulatan itu sering mencemaskan. Pergulatan untuk mewujudkan pengucapan yang jernih dan terang.

Para penyair periode 80-an menghadapi situasi dan tantangan yang lebih berat seperti yang dikatakan penyair Saini KM dalam kata pengantar buku kumpulan puisi Azep Zamzam Noor yang berjudul Aku Kini Doa (diterbitkan Kelompok Sepuluh, Bandung, 1986), sbb: 

“Bentrokan antara nilai dan antara tata nilai membawa dampak yang luas dan dalam bagi mereka yang peka. Bayangkanlah bagaimana seorang anak desa tiba-tiba berada di tengah kota metropolitan.” 

"di dalam suatu peristiwa bentrokan nilai, mereka yang peka mengalami kebingungan, kegelisahan, tertekan, muak, risih dan perasaan semacamnya. Ia tidak dapat menerima tata nilai baru yang dihadapinya, akan tetapi ia pun mulai meragukan tata nilai lama yang dibawa dari tempat asalnya. Ia merasa terasing, ia mengalami alienasi.” 

Jawaban atas situasi kejiwaan yang demikian bany ak kece-nderungan para penyair sekarang berbicara lebih arif seperti yang nampak dalam puisi Azep Zamzam Noor yang berjudul Aku Lini Doa:

Berbaringlah di sini dan lupakan dunia
Sela debu. Tapi aku tersenyum menyembur udara

Bersama kupu-kupu. Aku kini doa
Tolong jangan kotori bajuku dengan kata-kata:

Lupakan wajahku dan galilah kuburmu untuk
bianglala

Dalam situasi diatas seperti yang diungkapkan Saini KM tadi, nampaknya bagi Saoni Farid Maulana mengalami ketegangan yang lebih berat. Kedua orang penyair ini telah menunjukkan sikap kepenyairan yang jelas dalam menghadapi tantangan zamannya. Namun, pergulatan untuk mewujudkan bentuk pengucapan dan cara menangkap dimensi dan nuansa kehidupan berbeda dalam kadarnya. Coba kita simak sajak Krematorium Matahari (dalam buku Para Penziarah, penerbit Angkasa Bandung, 1987, hal. 71).

Mendengar lalat, berzikir di darah sapi
Di pasar, kucing mengorek tong sampah yang terguling
Tak ada tulang ayam selain bau manusia yang pergi
Dan aku terluka oleh lipstik di bibirmu!

Di berikut perjalanan. Jauh di keheningan hutan
Aku mendengar batu pecah di dasar kali. Di dasar
Hatiku, mengapa Dia yang selalu kutempuh? O, beton
Dan baja di kota, menandai status dan kehormatan!

Dan aku terluka oleh lipstik di bibirmu
Mekar dalam meja kantor-kantor. Dalam kertas perjanjian
Menyeru TV bernyanyi. Menguatkan bau manusia yang pergi
Kau perabukan di tabung hair-spray tanpa doa dan tuhan!

Saya jadi teringat pada acara Penyair Muda Di Depan Forum Tahun 1976 yang juga diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta, yang telah memunculkan bebe-rapa penyair Jakarta, Yudistira, Adri Darmadji, Jos Sarhadi, Syarifudin Ach dan lain-lain. Kita melihat gaya pengucapan yang lugas dan tidak mau memberat dalam menjawab dunia sekelingnya, sebutlah umpamanya yang lain mengesankan dari puisi Yudistira, Biarin, Sajak Dolanan Anak-Anak, Sajak Kembang Plastik atau puisi Adri Darmadji Woko Truk, Di Lorong-Lorong dan Potret

Beberapa tahun yang lalu, kita telah kehilangan penyair muda yang penuh bakat, penyair Kriapur telah meninggalkan kita, tapi warisan puisi-puisinya yang ditulis dalam waktu yang singkat itu, telah mengisi perbendaharaan puisi kita sekarang. Dengan kedalaman spiritual, gaya pengucapan puisi yang matang dan kreatif, banyak puisi-puisinya menimbulkan kesan yang mendalam pada kita. Baik puisi yang membayangkan maut maupun puisinya yang lain. Puisi-puisi surealistis, imajiner dan penuh nuansa yang menjadi ciri puisi yang menjadi. Demikian pula tidak bisa kita lewatkan karya-karya D. Zawawi Imron santri Madura itu. Memberikan warna dan keragaman bentuk, model dan bahasa pengucapan yang segar Zawawi telah mendapat sorotan yang baik dari penyair Subagio Sastrowardojo. Kecenderungan puisi dari dua penyair ini adalah bagian dari proses panjang yang telah dirintis penyair sebelumnya. Namun, mereka tidak kehilangan kepribadiannya dan visinya yang menandai semangat kepenyairan sekarang ini. 

Dalam berkas antologi Forum Dialog Penyair Jakarta, tampak arus kuat dari kecenderungan puisi yang bernafas keagamaan seperti puisi-puisi penyair Puji Santosa, E. Edy Effendi, Ahmad Nurullah, M. Nasruddin Anshoriy CH, dan Remmy Novaris DM atau Jamal D. Rahman. 

Puisi Afrizal Malna menunjukkan tanda-tanda ke arah perenungan dan meditasi dalam menghadapi situasi lingkungan. Puisi-puisinya lebih tenang dan mengendap (Kontemplatif) meskipun di sana sini bahasa pengucapannya tidak sejernih yang ada dalam puisinya yang terkumpul dalam buku Abad Yang Berlari (diterbitkan oleh Lembaga Penerbit Altermed Yayasan Lingkaran Merah Putih, 1984). Gagasan keterlibatan terhadap yang tertindas, masalah keadilan dan Humanitas itu, yang kuat dalam bukunya terdahulu. Dalam sajak yang sekarang ini pergumulannya, lebih dalam, suasana dan sikap jiwa yang tenang dan mantap. Yang menarik dari Afrizal adalah sikap kepenyairannya. Ia berangkat dari satu titik tolak pendirian yang diyakininya. Pengucapannya lebih terasa longgar dan bebas dalam bentuk yang kita lihat dari puisi itu.

Demikian pula penyair Soeparwan G. Parikesit, yang kaya dengan gagasan sosial dan humanitas, ia menunjukkan sikap yang tegas dan tangguh dalam menilai dan menafsirkan alam dan lingkungannya. Ia sedang bergulat dalam mencari bentuk pengucapan. Namun, mungkin pandangan saya keliru. Mungkin, ia telah sampai pada pengucapan estetikanya yang cocok untuk zaman seperti sekarang ini. Yang menarik: coba bandingkan puisi Rakyat dengan puisi Rakyat karya Hartojo Andangdjaja. Baik nada dasar maupun gagasannya. Dan pemahamannya tentang Rakyat, masalahnya bukan sekadar perbedaan semantik. Dalam sajaknya Diam, kita dapat mengenal gaya kepenyairannya, seperti dua bait sajaknya yang kita turunkan di sini:

dari negeri mana asalnya diam
katakan alamatnya
kan kuberikan bintang lencana kelas satu
ku kalungkan kembang pita biru

diammu diamnya batu diamnya sungai
dari segala telaga yang diam
diam menjajah negeri asalnya suara
menjadikan datang segala bencana
(bait 1 dan 2)

Mengenai puisi-puisi bernafas keagamaan yang ditulis oleh penyair-penyair yang saya ketengahkan di atas tadi, saya melihat betapa kayanya mereka menggali sumber-sumber penciptaannya. Terasa puisinya dilatarbelakangi pengetahuan agama yang cukup dan mendalam. Namun, yang tidak terasa pada saya adalah suasana yang segar dan menggugah. Namun, lagi-lagi saya tidak berani menetapkan nilai tertentu, seperti halnya adanya kelaziman puisi-puisi kita yang berhasil. Bahasa puisi sekarang sedang dibangun. Itulah yang kita nantikan dengan penuh kegairahan. Zaman pencerahan seperti yang dikatakan Abdul Hadi WM, kelak akan diperkaya oleh puisi penyair-penyair ini.

Penyair Wahyu Prasetya, Remmy Novaris DM, HS Djurtatap, menemukan kebebasan kreatif dengan bentuk pengucapan puisi yang mengandung janji. Mereka menemukan bentuk pengucapan yang menunjukkan ciri kepribadian kepenyairannya. Mereka telah membangun dan menata gaya persajakannya dalam suatu pigura, di mana pikiran, angan-angan, impian dan kegelisahannya dan tantangannya bergumul di dalamnya. Suasana yang demikian juga mewarnai karyakarya puisi penyair Nanang R. Supriyatin, Neno Kinanti, Ayid Suyitno PS. Masalah kesunyian, keterasingan, kegelisahan dan impian-impian serta harapan-harapan telah menjadi pokok-pokok yang digeluti dengan visi dan sikap yang lain, yang saya kira akan membedakan corak kepenyairan sekarang. Mereka berdiri dalam arus kepenyairan yang kecenderungannya seperti yang nampak dalam puisipuisi yang dihasilkan oleh para pendahulunya. Namun, semangat mencari estetika baru, menandai dinamika kepenyairannya. Dalam situasi kita yang seka-rang ini, sambil menutup sketsa pembicaraan ini, saya berharap adanya sebuah majalah khusus tentang puisi, sebagai media sastra puisi yang perlu untuk menunjang perkembangan perpuisian kita dewasa ini. Semoga. 

Jakarta, 7 November 1980