TERKINI

Surat-surat Sungai - Ubai Dillah Al Anshori

KONTRIBUTOR 8/07/2022
Ubai Dillah Al Anshori
Surat-surat Sungai






akulah perempuan penunggu kabar, akulah hulu
engkaulah hilir
berapa banyak surat ditujukan, balas tak sampai pulang

katanya, ketenangan dan daun gugur 
yang menengadah
di alir sungai pertanda akan datang, 
akan laju riak 
ke dalam diri

sepagi ini
telah kutinggalkan dasar paling rindu
ikan-ikan henti bernyanyi
sebab pulang
tetap pada kesepian

apakah surat terakhir telah sampai?

Pematangsiantar, 2020

Ia Datang dari Hilir - Ubai Dillah Al Anshori

KONTRIBUTOR 8/07/2022
Ubai Dillah Al Anshori
Ia Datang dari Hilir






setelah cerita itu dituturkan
ia datang dari hilir dengan nyanyian
 
“Tibawan, Tibawan. degup jantung kita saling berdetak 
segala kenang telah terucap
siapa akan tiba, bila mana kehilangan lebih mendekap”
di sana, di sana suara makin samar
perjalanan panjang ia lalui
dengan pesan dalam dada.

“setelah sampai, dan pusara telah tampak
dalam diri, kabarkan pada angin
bila gigil akan terbangun di tubuh ini”

ia datang 
setelah singgah tak lagi padam

ke sana ke sana ia tuju
alirnya mengecup Tibawan, dan
sampai pada hulu

tapi, luka semakin menganga
demikian, demikian perih
ia basuh perlahan

ia yang temukan 
ia temukan saat masih kanak ditanak petang
walau pada akhirnya
tetap
kehilangan sampai pada diri

ia tinggalkan kecup sungai
pelukan malam
dan
hari semakin menguning

Padangpanjang, 2022

Nun, Anggrek, Nun - Wendy Fermana

KONTRIBUTOR 8/07/2022

Nun, Anggrek, Nun

Wendy Fermana


 

Masnun urung berkebun, pagi itu.

Lipatan pakaian dan kain-kain yang biasanya tersusun rapi di bilik-bilik lemari, kini menumpuk di atas dipan. Masnun memeriksa kembali rak-rak lemari, mengaduk-aduk isi laci meja tulis, serta menyelidiki setiap sudut kamar. Ia yakin benda itu pasti ada di sekitar sini. Tadi pagi, saat ia hendak merapikan rambut dan tengah mencari-cari sisir, ia masih melihat bros anggrek itu tergeletak di antara benda-benda di dalam laci. Ia tilik sejenak benda mungil itu dan lekatkan di blusnya, lalu mematut-matut diri di depan cermin, kemudian seingatnya ia letakkan lagi, tapi di mana benda itu sekarang?

Masnun susah hati. Tidak saja karena bros anggrek itu mahal harganya (dan ia tak akan dapat memilikinya lagi sebab aksesori itu dibawa dari Jepang), tetapi benda itu juga amatlah berharga bagi si empunya terdahulu. Bros itu mulanya oleh-oleh akung untuk uti (begitulah ia menyapa kedua ndoro), dari lawatannya ke beberapa negara Asia Timur (akung pejabat teras di Deplu, sebelum akhirnya tersingkir dan balik ke Bulaksumur). Mata Masnun berbinar-binar saat melihat hadiah itu berbentuk anggrek dan iri hendak memiliki sebab ia amat gandrung dengan segala macam benda terkait anggrek (kecintaan uti pada anggrek membuatnya ikut-ikutan kesengsem pada sang puspa penuh pesona itu). Tapi mustahil untuk memiliki. Ia hanya dapat mengagumi keindahan bros itu saat uti mengenakannya.

Segala bayangan ketidakmungkinan memiliki itu sirna selepas kematian uti. Belum empat puluh hari akung mangkat, ndoro perempuannya menyusul wafat. Tidak, Masnun tidak mendapat waris, meski ia sudah seperti keluarga, meski ia sudah menemani uti sejak belia, meski ia sudah membersamai segala macam suka-duka masa remaja, masa nikah, masa uti melahirkan tiga orang anak, hingga ia turut mengasuh dan membesarkan dan sampai ketiga anak itu menikah dan beranak pinak pula, ia telah mengabdikan dirinya untuk tiga generasi keluarga itu, tapi tak ada bagian buatnya di surat wasiat uti.

Hatinya sakit saat anak-cucu keluarga besar akung-uti memutuskan untuk menitipkannya ke rumah jompo. Ia sempat protes dan meminta agar diizinkan ikut salah seorang dari mereka. Ia masih bisa bantu-bantu melakukan kerja rumah tangga. Semuanya menggeleng. Tidak ada tempat buatnya. Yang sulung akan kembali kerja ke Hamburg, yang nomor dua pulang ke New York, dan yang bungsu menerima tawaran mengajar di Connecticut. Duhai Gusti, inikah semua ganjaran atas segala pengabdian hamba?

Ia mengajukan permohonan agar diperkenankan membawa beberapa pot tanaman anggrek milik uti. Setidaknya dengan merawat anggrek kesayangan itu dapat menjadi pengingatnya pada keluarga besar akung-uti. Silakan, silakan, Mbah Nun, karena rumah ini juga akan tinggal saja, kata sang anak perempuan, si nomor dua. Sebelum diantar ramai-ramai ke panti wreda Rumah Kasih, dengan gemetar Masnun menyelinap ke kamar uti, kemudian menilap bros anggrek itu ke dalam sakunya. Tak pernah ia melakukan tindakan tak patut semacam itu sepanjang umurnya. “Maafkan aku kalau Uti tidak berkenan,” lirih Masnun menyesali dosa kecil mengutil itu. “Anggaplah itu hadiah buatku di tempat menjemukan ini, Uti.”

Rumah Kasih ini betul-betul membosankan, ada orang-orang tua ringkih yang menyenangkan, tapi tak lagi memiliki banyak energi (seperti Rohana, Hamidah, dan Marianne, kawan barunya yang ikut keranjingan merawat tanaman), sementara orang-orang tua menyebalkan yang gairah hidupnya bak remaja mengalami pubertas, tingkah mereka ganjen, sesama tua bangka saling menggoda (misal Ashadi, Indraswari, Rahardjo, atau Sedyawati), membikin Masnun jeri. Ditambah lagi kebiasaan sebagian besar penghuni yang kerap menabung jatah sabun dan pasta gigi mereka (lantaran tak lagi merasa perlu berwangi-wangi dan tak lagi punya gigi), barang-barang itu dikumpulkan dan pada hari-hari tertentu, diam-diam dibawa ke penadah di pasar terdekat yang siap menukarnya dengan barang yang amat terlarang, seperti rokok, kopi, gula pasir, dan bumbu penyedap. Masnun tak ikut-ikutan aksi penyelundupan itu.

Ia merasa beruntung telah membawa tanaman anggrek uti sehingga setiap hari ia punya kesempatan untuk melarikan diri dari kejenuhan rumah jompo. Ia bungah saban kali memperhatikan rupa bunga yang serupa kepak kupu-kupu, meneliti bintik-bintik di kelopak, dan menghidu harum anggrek yang tengah mekar. Merawat anggrek membuatnya tetap terjaga dalam kewarasan. Ia tetap dapat melatih ketelatenan kerja dengan berkebun, selama ini sepanjang hidupnya ia mengerjakan segala macam hal. Ia ingin terus beraktivitas. Siksaan yang sesungguhnya ialah tatkala ia hanya uring-uringan tanpa gerak di pembaringan.

Sadar kegiatan itu semacam terapi mengatasi kebosanan masa tua, Masnun ajak penghuni lain untuk ikut bertanam. Beberapa tertarik membantu, beberapa mencemooh. Setiap kali Masnun bersama Rohana tengah berkutat dengan media tanam dan batang anggrek, dan Ashadi melihat, ia pasti mulai mendekat, pura-pura memperhatikan, dengan harapan diajak bercakap-cakap, tetapi kemudian menggerutu panjang-pendek karena Masnun pura-pura mengganggap lelaki itu tak ada (Masnun enggan meladeninya lagi dan kini justru menjaga jarak karena awal-awal ia pindah kemari, Ashadi berusaha menggodanya, dan Masnun yang tak tahu apa-apa justru dilabrak Indraswari yang cemburu dan mengamuk, menuduh Masnun mau merebut kekasihnya. Masnun nyaris tergelak, dituding ingin merampas lelaki peyot, apa lagi yang hendak diharapkan dari kerentaan? Ia tak butuh asmara masa tua, ia hanya ingin hidup tenang dan bahagia, dan karena itulah ia tak mau terlibat dalam hubungan kasih yang ruwet antara Ashadi si jelalatan dan Indraswari si mulut besar).

***

Sepanjang makan siang, Masnun tak banyak bersuara. Ia kehilangan selera untuk menyantap hidangan. “Nun, Nun, kenapa kamu tak berkebun tadi pagi?” Berkali-kali dipanggil, Masnun akhirnya sadar. Hamidah ternyata telah menghampiri, meletakkan baki makanan, dan duduk di sebelahnya. Sejak tadi, Idah menyapa, tapi Masnun tak menanggapi, pikirannya tengah berlayar menjaring ingatan. Di mana bros anggrek uti? Atau jangan-jangan ada yang mencurinya?

Idah menyuapkan sayur bening bayam ke mulut seraya terus memperhatikan kawannya. “Nun, Nun, kenapa kamu? Sedih?”

Masnun masih membisu.

“Nun, Nun, kenapa kamu sedih? Kamu menyesal ya sudah menjual anggrekmu?”

Masnun terperanjat.

“Kenapa kamu menjual anggrekmu?”

Masnun tidak mengerti dan meminta penjelasan.

“Lho, kamu jangan marah ke aku, Nun. Aku kan hanya tanya. Aku tidak melihatmu di pekarangan belakang pagi tadi. Pot-pot anggrekmu yang sedang mekar juga tak ada, kupikir kau pergi ke pasar untuk menjualnya.”

Masnun bangkit, meninggalkan Idah yang terperangah tidak mengerti mengapa Masnun marah padanya. Ia tak enak hati dan jadi kehilangan nafsu makan.

Sesampai di taman belakang, Masnun tak lagi menemukan tiga pot anggrek uti. Pondokan teduh tempat anggrek itu biasanya bertengger kosong melompong. Ke mana kembang kupu-kupu itu raib?

“Aku pikir kamu membawanya ke pasar,” kata Idah yang menyusulnya.

Di pekarangan itu, seperti anak kecil kehilangan mainan, Masnun menangis sampai terduduk, membuat dasternya kotor oleh tanah. Idah merangkulnya dan menuntunnya ke bangku taman sembari membersihkan bercak tanah di pakaian Masnun. Tapi amarah Masnun masih tegak. Ia curiga semua ini ulah Ashadi! Ia bangkit dan hendak mendamprat si lelaki jelalatan.

Belum tiba di kamar Ashadi, di selasar ia berpapasan dengan Rohana yang tengah menghitung lembaran uang lima puluh ribuan. Masnun tertegun. Sekejap kemudian pandangannya gelap, ia muntab, ia menghardik-hardik Rohana yang seketika terperanjat menyaksikan Masnun yang selama ini dikenalnya santun berubah menjadi berangasan. Dirampasnya uang dari tangan Rohana dengan kasar. Rohana panik dan dengan terbata-bata meminta Masnun tenang sehingga dia dapat menerangkan, tetapi Masnun tak memberikan kesempatan, malah kemudian ia dorong tubuh Rohana hingga perempuan itu jatuh terjengkang. Rohana terkaing-kaing kesakitan.

Masnun tak menyangka kawan baiknya justru berkhianat demi uang.

Di kamar, ia tersenggut-senggut, ia kecewa mendapati tak ada orang-orang baik di dunia ini. “Pasti si Rohana juga yang sudah mencuri bros anggrekku itu!” tuduhnya. “Awas saja kamu!” Ia buka genggaman tangannya, uang kertas itu telah renyuk. Masnun buang gumpalan uang itu. Ia tak lagi rela tinggal di rumah jompo, tinggal bersama orang-orang tua busuk yang rusak kelakuannya. Aku harus kabur dan keluar dari sini, pikirnya.

Masnun berhenti memasukkan pakaian ke dalam tas saat mendengar repetan Indraswari yang meluap-luap. Ia menjenguk lewat jendela kamar yang terbentang. Indraswari mengamuk sambil memukul-mukulkan gagang sapu ke punggung seorang lelaki. “Kurang ajar kamu! Ini aku pacarmu! Aku yang suruh kamu angkut dan jual anggrek itu, tapi malah kamu berikan uangnya pada si Rohana! Siapa Rohana itu? Pacar barumu! Awas kau ya! Awas kau ya!”

Ashadi! Indraswari!

Masnun tecengang.

Dan, Masnun makin tercengang saat ia berbalik ke belakang. Di tembok, tergantung blus yang ia kenakan pagi tadi dan di bagian dadanya masih melekat bros anggrek uti. Ia tak ingat telah bersalin pakaian!

Mata Masnun memerah.

“Rohana! Rohana!”

Bersamaan dengan teriakan Masnun, suara sirine ambulans terdengar meraung-raung memasuki pelataran Rumah Kasih.

 Lubuklinggau, Oktober 2021

Renta: Cerpen Estetik yang Minim Konflik - Akhmad Idris

KONTRIBUTOR 8/07/2022

Renta: Cerpen Estetik yang Minim Konflik

Akhmad Idris



***

Sejak kali pertama membaca bagian pembuka, saya langsung menangkap ketakberaturan gramatikal dalam susunan kalimat sebagai ciri khas bahasa karya sastra⸻meskipun tetap saja ada batasannya. Cerpen Renta karya Puspa Seruni yang terbit di Sastramedia pada tanggal 31 Juli 2022 lalu ini, menampilkan kalimat pembuka yang tidak patuh dengan kaidah-kaidah sintaksis. Kalimat itu berbunyi seperti ini,

Lelaki berusia 95 tahun itu, yang sedang duduk di atas kursi roda, memandangi beberapa anak, berusia antara enam hingga sembilan tahun, yang tangannya menunjuk-nunjuk, yang mulutnya tertawa-tawa, yang memaki kepadanya dari luar pagar rumah

Ketakpatuhan atau ketakberaturan kalimat pembuka tersebut meliputi penggunaan tanda koma yang disama rata, padahal memiliki fungsi yang berbeda-beda. Ada tanda koma yang berfungsi untuk mengidentifikasi lelaki berusia 95 tahun dan ada juga tanda koma yang digunakan untuk menandai karakteristik anak-anak berusia 6 hingga 9 tahun. Penggunaan tanda koma (yang sangat banyak) inilah yang membuat fungsi predikat (sebagai fungsi yang paling penting) tampak kabur dalam kalimat tersebut. Menurut hemat saya, kalimat yang tampak lebih teratur adalah seperti ini,

Seorang lelaki berusia 95 tahun sedang memandangi beberapa anak berusia 6 hingga 9 tahun di atas kursi roda.

Kata “duduk” tidak perlu ditampilkan karena secara logika tidak ada lelaki berusia 95 tahun yang akan “berdiri” di atas kursi roda. Lazimnya penggunaan kursi roda memang untuk duduk, tidak berdiri. Lalu dilanjutkan dengan kalimat yang mendeskripsikan sikap anak-anak tersebut, mulai dari menunjuk-nunjuk; tertawa; hingga memaki.

Namun dalam dunia sastra, ketakberaturan atau ketakpatuhan tersebut bisa menjadi bentuk kesengajaan pengarang yang bersifat estetik. Sebagaimana yang disebut oleh Horace (yang kembali dijelaskan oleh Wellek dan Warren) bahwa karya sastra (seni) memang bersifat dulce atau indah. Artinya, Puspa Seruni memang secara sengaja mencipta ketakpatuhan untuk menyampaikan pesan tertentu dengan wujud kode estetik. Penggunaan tanda koma dan kata “yang” yang berlebihan dalam satu kalimat seolah ingin menunjukkan situasi antara kakek dan anak-anak dalam satu rangkaian kejadian yang utuh. Mungkin jika dipisah (menjadi dua kalimat seperti yang saya contohkan) secara lebih teratur, kesan keutuhan kejadian kurang bisa dirasakan.

Refleksi Estetis atas Realita Sosial

Charles Glickberg (1967) dalam Literature and Society menyebutkan bahwa semua karya sastra (entah bagaimanapun bentuknya) akan selalu menaruh perhatian besar terhadap fenomena sosial. Meskipun seperti itu, para pengarang tetap akan mendistorsi fakta-fakta sosial sesuai dengan idealismenya masing-masing. Oleh sebab itu, karya-karya sastra yang terilhami atas fakta-fakta kemasyarakatan di sekitarnya tidak akan menjiplak dengan ‘apa adanya’, tetapi ‘meniru’ dengan refleksi yang estetis.

Hal semacam inilah yang saya temui saat membaca cerpen Renta karya Puspa Seruni dari awal hingga akhir. Puspa Seruni tampak lihai memotret fakta-fakta sosial (yang menasional) di sekitarnya seperti sinetron-sinetron perselingkuhan, nasib orang tua yang ditelantarkan oleh anak dan cucunya, hingga masalah pengabdian atas dasar warisan. Seluruh fakta-fakta sosial tersebut berhasil dikreasi dengan asyik oleh Puspa Seruni lewat sebuah cerita yang diberi judul Renta.

Puspa Seruni menampilkan sinetron perselingkuhan lewat ironi perkataan perempuan. Pada awalnya tokoh perempuan berdalih jika perselingkuhan bisa diterima jika si pelakor memang jauh lebih cantik darinya, padahal si pelakor tidak lebih baik darinya. Sayangnya ketika beberapa tahun kemudian si suami memilih bercerai karena menuruti dalih si perempuan (berselingkuh dengan yang lebih cantik), si perempuan tetap marah dan tidak terima atas perselingkuhan tersebut. Puspa Seruni memertegas ironi perkataan perempuan dengan kalimat yang berbunyi, Jaman berganti ternyata kebohongan wanita tetap sama.

Satu hal yang perlu dikritik dari bagian ini adalah cara Puspa Seruni menempatkan posisi perempuan sebagai pihak yang (lagi-lagi) tersubordinasi. Semoncer apapun karir perempuan, ia tetap akan berada di pihak yang tersakiti. Sudah diselingkuhi dua kali, ditambah pula dengan dipersalahkan atas ucapannya sendiri. 

Asyik, namun Minim Konflik

Sebagaimana yang telah saya sebutkan sejak awal, cerpen Renta memang asyik dengan sisi-sisi estetiknya, namun terlihat minim konflik. Tak ada dramatisasi konflik dalam jalinan ceritanya, padahal Burhan Nurgiyantoro (2019) dalam Teori Pengkajian Fiksi telah menekankan bahwa tiga kunci utama dalam mengembangkan plot saat menulis cerita fiksi (cerpen) adalah peristiwa; konflik; dan klimaks. Renta seolah didesain oleh Puspa Seruni sebagai cerpen yang asyik dengan potret fenomena sosialnya tentang perselingkuhan dan (kurangnya) kasih sayang anak kepada orang tua, tanpa memertimbangkan ihwal naik-turun emosi pembaca gegara sajian konflik yang sulit ditebak.

Secara garis besar, cerpen Renta dibuka dengan deskripsi lelaki berusia 95 tahun yang direndahkan oleh anak-anak kecil. Lalu lelaki tua melihat acara televisi yang mengisahkan perselingkuhan dan membawanya pada kenangan masa lampau. Setelah itu, perempuan bernama Mina yang menjadi perawat lelaki berusia 95 tahun mendapatkan telepon dari Agnes, cucu lelaki berusia 95 tahun. Agnes melarang Mina mengambil cuti. Ujung cerita ini dapat dengan mudah ditebak, Mina mengundurkan diri dan lelaki berusia 95 tahun akan menikmati sisa waktu yang kata Chairil Anwar dengan dikoyak-koyak sepi.

Akhir kata, cerpen ini memang asyik dengan potret cerdik Puspa Seruni atas fenomena-fenomena sosial yang sedang menjadi perbincangan hangat saat ini. Namun tetap memiliki kekurangan dalam hal dramatisasi konflik. Cerita seolah dimulai dengan tenang dan diakhiri dengan tenang pula, padahal yang ditunggu pembaca adalah naik-turunnya plot cerita. Kurang lebih seperti itu hasil pembacaan saya atas cerpen Renta. Sekian.

Renta - Puspa Seruni

KONTRIBUTOR 7/31/2022

RENTA

Puspa Seruni






Lelaki berusia 95 tahun itu, yang sedang duduk di atas kursi roda, memandangi beberapa anak, lelaki dan perempuan, berusia antara enam hingga sembilan tahun, yang tangannya menunjuk-nunjuk, yang mulutnya tertawa-tawa, yang memaki kepadanya dari luar pagar rumah. Kedua tangannya tergolek di pangkuan dan terlihat gemetar. Bibirnya tampak bergerak-gerak dan berkerut dan mengerucut maju dan seperti sedang mendesiskan sesuatu dan seperti sedang menahan marah, tetapi tak memiliki kuasa untuk melawan bocah-bocah seusia cicitnya. Dia renta, tak berdaya, dan itu menyebabkan anak-anak kecil itu bebas saja menertawakannya. 

“Dia gemetar ... dia gemetar. Lihat tangannya,” ujar anak lelaki berkaos biru dari atas sepedanya, yang disambut gelak tawa ke empat anak lainnya.

“Bibirnya juga gemetar, seperti dubur ayam,” ucap bocah perempuan yang rambutnya di kuncir dua, sambil berusaha menirukan bentuk bibir si lelaki tua. Ucapan mereka sahut menyahut, seperti sengaja memancing kemarahan si lelaki renta. Suara gelak tawa mereka terdengar hingga ke dapur.

“Heh, pergi ... pergi.”

Mina datang tergopoh-gopoh dari dalam rumah sambil membawa sapu dan mengacungkannya kepada kelima anak itu. Anak-anak itu kembali tertawa, melambaikan tangan kepada Mina kemudian mengayuh sepedanya, pergi menjauhi rumah bercat putih itu. 

Hampir setiap pagi, saat si lelaki tua duduk di teras dan menikmati udara pagi, anak-anak itu akan berhenti di depan pagar setiap kali melihat lelaki tua dan mulai meledeknya dari atas sepeda dan mulai menertawainya. Sebenarnya, lelaki tua itu ingin menangis, miris rasanya melihat dirinya ditertawakan oleh bocah-bocah sambil disebut-sebut sebagai ‘Kakek dubur ayam’. 

Lelaki tua itu meringis, jemari tangannya terangkat pelan-pelan kemudian meraba bibirnya. Dubur ayam adalah bagian dari ayam yang sangat dia tidak sukai setelah leher, usus dan juga ampela. Dia merasa jijik jika ada orang yang mau memakan tempat keluarnya kotoran itu. Dan sekarang, anak-anak ingusan itu menjulukinya kakek dubur ayam. Betapa malangnya.

Setelah anak-anak itu pergi, Mina menghampiri dan memutar kursi roda, membawa lelaki itu masuk ke dalam rumah. Mina menghentikan kursi roda di depan tivi di ruang tengah. Dia menyalakan televisi dan memilih saluran sembarang semaunya. Lelaki tua itu tak protes, dia menurut saja pada pilihan Mina. Mina meninggalkannya, melanjutkan memasak di dapur dan membiarkan drama rumah tangga menenani si lelaki tua.

Dia sudah sangat lama tidak punya acara televisi favorit, tidak seperti enam puluh tahun lalu saat dirinya masih muda dan sangat menyukai acara yang berbau hukum dan politik. Bahkan, saat karirnya sedang moncer, dia beberapa kali menjadi narasumber di acara bincang-bincang pakar, menjadi pembahas topik yang sedang jadi sorotan publik, menjadi pengamat kebijakan hukum pemerintah ataupun menjadi pembicara dengan tema lain yang tak kalah pentingnya. Dia tidak pernah tampil mengecewakan, ulasan-ulasannya selalu tepat sasaran, analisisnya tajam dan penyampaiannya selalu santun dan tegas. 

Tapi itu dulu, saat tubuhnya masih tegap dan gagah, saat otaknya masih sempurna dan saat predikat pengacara terbaik disandangnya. Akan tetapi sekarang ini, dia hanyalah pria renta tak berdaya, yang duduk di atas kursi roda, menatap layar kaca, menyaksikan dua orang wanita berbantah berebut suami mereka. Wanita bergincu merah, yang tubuhnya lebih padat berisi, tampak sibuk mencecar wanita lain yang lebih kurus dengan pakaian yang sederhana. Wanita bergincu merah mempertanyakan apa alasan suaminya berbagi cinta dengan wanita kurus itu, yang menurutnya tidak lebih menarik dibanding dirinya. Katanya, dia akan lebih bisa menerima jika wanita itu jauh lebih cantik darinya. Bibir lelaki tua itu tersungging, miris. 

Jaman berganti ternyata kebohongan wanita tetap sama, ucapnya dalam hati. Dia ingat, dulu, saat usia pernikahannya baru lima tahun dan mereka belum dikaruniai seorang anak, istrinya juga mengatakan hal yang sama kepadanya. Dia mencerca partner kerja si lelaki tua, yang dituduh menjadi selingkuhannya.

“Kalau selingkuhanmu lebih berkelas dari aku, nggak masalah. Aku masih bisa terima,” ucap istrinya dengan nada marah.

Istrinya seorang dokter di sebuah rumah sakit swasta, dia mandiri, tegas, suka memerintah, menguasai dan tidak bisa menerima penolakan. Sedangkan si “wanita lain” itu, hanya seorang admin di sebuah kantor hukum tempatnya bekerja-waktu itu si lelaki tua baru menapaki karirnya dengan bergabung di sebuah firma hukum-penampilannya sederhana, tutur katanya sopan, lembut, penuh perhatian dan tentu saja manis.

Lelaki tua, yang kala itu penghasilannya masih dibawa istrinya, menuruti saran istrinya sepuluh tahun kemudian. Saat karirnya sebagai pengacara mulai menanjak, seorang klien perempuan, yang memiliki masalah dalam rumah tangganya, memiliki harta dua kali lipat dari istrinya, terpesona pada si lelaki tua. Perempuan itu akhirnya bercerai dan lelaki tua itu yang mengurus perceraiannya dan mereka kemudian berkasih-kasihan dan akhirnya si istri tahu bahwa suaminya bermain gila dan dia kembali marah dan tentu saja tidak terima meski wanita baru ini jelas lebih cantik dan lebih segalanya dari si istri. Tidak seperti apa yang dia ucapkan sepuluh tahun lalu.

Pertengkaran dua wanita dalam drama televisi itu mengingatkannya kepada sang istri. Dia tersenyum, sambil membayangkan istrinya yang sedang cemberut marah. 

“Makan dulu, Kek.”

Mina menghampiri dan memutar kursi rodanya lalu mendorongnya ke meja makan. Adegan pertengkaran dua orang wanita terdengar semakin panas. Kali ini dia tak bisa lagi menonton karena Mina menghadapkan kursi roda ke arah meja, membelakangi televisi. Padahal dia sangat ingin menonton, sekadar untuk membasuh kerinduannya kepada istrinya yang sudah meninggal tiga puluh tahun lalu. 

Sambil menyuapinya, pandangan Mina melotot memperhatikan layar televisi yang semakin seru. Meski mata Mina mengarah pada yang lain, tetapi tangannya seakan sudah hapal di mana letak mulut si lelaki tua. Persis setelah makanan di piring habis, drama rumah tangga di televisi juga berakhir. Mina mengusap mulut si lelaki, memberinya minum, kemudian kembali memutar kursi roda dan mendorongnya hingga ke depan televisi. 

Kali ini, Mina memilih saluran masak memasak-sepertinya siaran ulang-yang sedang menayangkan masakan berbahan dasar kerang, makanan yang dulu paling digemarinya. Lelaki tua itu berasal dari pesisir dan sudah akrab dengan laut sejak masih kanak-kanak. Siaran televisi mengantarnya ke masa lalu, mengingatkannya pada perjuangan sang ayah, hanya seorang nelayan tetapi berhasil mengantar dirinya hingga lulus sebagai sarjana hukum. Sayangnya, saat karirnya baru dimulai, sang ayah meninggal.

Setelah mencuci piring, membereskan dapur, menjemur pakaian, Mina mendekati si lelaki tua. Mina mematikan televisi kemudian memutar kursi roda. Dering ponsel membuat langkah Mina terhenti. 

“Halo,” suara cempreng Mina memenuhi ruang tengah. Beberapa saat dia tampak terdiam, mendengarkan suara dari si penelepon.

“Tapi, Mbak. Minggu depan itu acara penting, adik bungsu saya menikah. Saya tidak ....”

Kalimat Mina terhenti, rupanya si penelepon menyelanya. Sekali lagi Mina tampak terdiam, mendengarkan dengan wajah menahan geram. 

Tak berapa lama, telepon terputus. Mina menoleh pada si lelaki tua yang sedang memandangnya. Lelaki tua itu bisa menduga, si penelepon adalah Agnes, cucunya. Dan seperti biasa, Agnes akan melarang Mina cuti dengan alasan dia sedang sibuk dan tak bisa menjaga si lelaki tua. Ini bukan kali pertama dan tentu bukan kali terakhir. 

Agnes adalah anak dari Omar, anak sulungnya, yang meninggal lima belas tahun lalu. Lelaki tua itu hanya memiliki dua anak, yaitu Omar dan Zayid. Zayid tinggal di luar kota bersama kedua anaknya dan telah berusia enam puluh tahun dan sering sakit-sakitan dan sudah tak pernah datang lagi menjenguknya. 

Si lelaki tua kini hanya tinggal bersama Mina, perempuan tambun yang disewa Agnes untuk merawatnya. Si lelaki tua memang tak pernah mau tinggal di panti Jompo. Dalam surat pembagian harta warisnya, si lelaki tua menulis bahwa siapa saja yang merawatnya di masa tua akan mendapatkan pembagian sepersepuluh lebih banyak daripada yang lain. Waktu itu Omar menyanggupinya. Namun, hingga Omar meninggal, si lelaki tua masih hidup sehingga kewajiban mengurusnya diberikan kepada Agnes sebagai anak tertua dari Omar. Agnes berbeda dengan Omar, dia tidak mau merawat si lelaki tua di rumahnya dan memilih membelikannya sebuah rumah sederhana berukuran 40 meter persegi, yang jauh lebih kecil dibanding rumahnya dulu. 

Mina menoleh dan memandang si lelaki tua. Dia menghela napas panjang. Mina menghampiri si lelaki tua dan menggenggam tangannya dan membisikkan sesuatu kepadanya dan berdiri melanglah menuju kamarnya. Lelaki tua tidak membantah, tidak juga mencegah. Hanya air mata yang kemudian luruh satu persatu dari sudut matanya, mengalir ke pipi, menetes ke dada hingga berjatuhan ke punggung tangannya.

Mina keluar dengan membawa sebuah tas besar dan melambaikan tangan kepada si lelaki tua. Lelaki tua hanya memandang Mina tanpa berkedip. Dia tak mau Mina melihat air matanya yang berjatuhan. Terkadang lelaki tua itu menyesali doa yang selalu meminta umur panjang. Teman-teman yang seusia dengannya sudah lama meninggal, bahkan istri dan anak sulungnya. Dia kini hidup sendirian, menyaksikan bagaimana orang-orang yang masih ada ikatan darah ataupun yang tidak, berbuat semena-mena kepadanya yang sudah tanpa daya.

Jembrana, 17 Juli 2022

Yang Personal dalam Puisi - Wawak RW

KONTRIBUTOR 7/31/2022

Yang Personal dalam Puisi

Wawak RW



Menulis puisi, tanpa atau dengan disadari, tak jarang memunculkan unsur personal penulisnya. Mungkin boleh disebut dengan unsur ekstrinsik pada puisi, tentu telah lumrah ditemukan pada karya-karya sastra. Namun yang membedakan adalah seberapa banyak kadar penyair menuliskan unsur personalnya, atau seberapa handal mengungkapkan personalnya pada puisi agar tak terjebak kalimat yang klise dan deskriptif.

Yang personal dalam puisi, sebetulnya sangat asyik—jika dapat dinikmati oleh pembaca. Maman S Mahayana mendukung usur personal dalam puisi: “Puisi yang dapat dinikmati dengan baik adalah puisi yang mengandung unsur personal, namun dapat dirasakan secara universal”. Dan agar dapat dirasakan oleh universal merupakan PR bagi tiap penulis.

Ada istilah yang dipopulerkan oleh Hasan Aspahani, “Mau bilang apa dengan cara bagaimana”, menunjukkan bahwa unsur personal penting guna membangun sebuah puisi. Beliau mengajak kepada kita lebih dari sekedar mengekspresikan diri, namun juga kreatifitas menulis. Beliau sepakat dengan Sapardi Djoko Damono yang menuliskan Bilang Begini Maksudnya Begitu.

 

Unsur Luar Puisi

Puisi memanglah sebuah karya fiksi, namun patut diketahui bahwa ada unsur ekstrinsik, yang mana ada unsur berasal dari luar teks, salah satunya individu penulis, misalnya seperti: sumber bacaan, perasaan, pengalaman, dan bahkan ideologi.  

 Hal yang saya ingat pada puisi Muhammad Riyadi yang terbit di Sastramedia.com (5/15/2022) dengan judul Penyakit di Pagi Hari, Jam 6:30. Puisi tersebut merupakan puisi yang membawa unsur personal. Saya ingat sahabat saya ini, menuliskan puisi pada saat dirinya sedang sakit, dan mungkin ia menyuntingnya lagi ketika sehat. Dengan unsur ekstrinsik inilah puisi dibangun Riyadi.

 

Penyakit di Pagi Hari, Jam 6:30

 

keinginan bunuh diri selalu meningkat menjadi 46%

dalam botol-botol cap orang tua yang tersisa setengah,

setiap malam. ada keributan antara perut & dapur yang

kehabisan bahan-bahan. & aku selalu gagal memahami

kesedihan kamar mandi, jendela pagi, & bunga-bunga. 

 

kamar tidur adalah bestie masa kini. Ada obat-obatan,

vitamin c, air putih, & kehangatan kekasih yang tertinggal di

bantal guling. aku adalah buku yang kau ambil untuk

sekadar menutupi payudaramu, bukan hari-hari lalu

sebelum kau mengenalku. hufft! pagi begitu cerewet pada

berita meeningkatnya penyakit di televisi yang kau nyalakan,

tapi tak kau tonton itu.

 

6:30 am tubuhku adalah cairan pocari sweat: biskuit roma

yaang tersisa satu bungkus, pakaian kotor yang hangat. &

kepalaku yang jatuh di pahamu, berkata kepadaku: matikan

televisi, kau akan sembuh. 

 

Bekasi, 2022.

 

Puisi yang dibangun dengan unsur personal bukanlah serta merta hasil curhatan. Lebih dari itu, puisi mengandung (dan terkandung) imajinasi, simbol, dll. Barangkali dalam hal ini, puisi seperti yang pernah dikatakan seorang penyair India sekaligus tokoh sufisme barat, Hazrat Inayat Khan ”bentuk yang telah diciptakan oleh pikiran” ketika beliau membicarakan pikiran dan imajinasi. 

Dalam puisi Muhammad Riyadi juga terkandung imajinasi. Lihatlah bunyi “dalam botol-botol cap orang tua yang tersisa setengah”. Meskipun puisi yang personal, namun saya tahu, ia tidak suka alkohol. Di sinilah ia mematahkan unsur personal dengan imajinasinya. 

Berbeda dengan puisi-puisi personifikasi yang justru memasukkan unsur personal pada imajinasinya, ini sudah menjadi rahasia umum. Banyak puisi personifikasi (yang barangkali) mengandung unsur personal. Dengan menghidupkan benda-benda mati, penulis menyembunyikan dirinya. Namun dengan begitu, tak menutup kemunginan juga puisi personifikasi adalah hasil riset dan pengamatannya kepada kehidupan. 

Kembali pada puisi Muhammad Riyadi, ada pula bunyi “ada obat-obatan/ vitamin c, air putih, & kehangatan kekasih yang tertinggal di/ bantal guling,” benda-benda yang disebutkan bukanlah ikon belaka. Ia memberi kisi-kisi agar kita (pembaca) menebak-nebak penyakit apa yang dideritanya. Barangkali pembaca sekalian sudah bisa menebak penyakitnya—ketika awal tahun 2022, dikaitkan dengan ‘vitamin c’.  

 

Personal yang Universal

Ada Perkataan Subagio Sastrowardoyo yang menjadi pegangan bagi saya: “puisi tidak dinilai dari seberapa banyaknya air mata yang jatuh.” Kutipan ini, saya ambil dari tulisannya yang berjudul Mencari Jejak Teori Sastra Sendiri, yang dimuat dalam Menjelang Teori dan Kritik Susastra Indonesia yang Relevan.

Tulisan yang personal (biasanya dalam puisi liris yang mengunakan aku lirik), yang ‘mengutamakan’ kesan dan pesan agar pembaca juga merasakan apa yang dirasakan penulis, kadang perasaan tersebut menjebak penulis ke dalam kalimat yang deskriptif dan prosais, sehingga dengan penargetan demikian, keindahan bahasa menjadi tersingkirkan. Inilah yang biasa ditemukan di media sosial, baik facebook, instagram atau twitter—yaitu penulis yang dirasa kurang bahan bacaan, atau bahkan tidak membaca sama sekali karya penulis lain masa kini.

Puisi personal (dengan aku lirik) yang universal, mungkin sudah banyak ditulis. Salah satunya yang sangat populer adalah puisi karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul Aku Ingin

 

Aku Ingin

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

 

1989

 

Puisi tersebut bukan hanya dapat dirasakan secara individu penulis, namun para pembaca dapat merasakannya. Tak jarang pembaca mengapresiasi dengan cara membacakannya pada sebuah acara, atau mempotret lalu menjadikan status di media sosialnya. Bahkan pernah juga saya lihat puisi tersebut digunakan untuk menghiasi deskripsi foto pernikahan Wagub terpilih Lampung, Chusnunia Chalim, dalam unggahan instagramnya. Pernah diberitakan Tribun Lampung pada 21 Januari 2019.

Aku lirik yang dituliskan Sapardi Djoko Damono membuat para pembaca terkagum, coba kalau tak ditulis dengan sudut pandang orang pertama, mungkin hasilnya dan kepopulerannya akan berbeda. Itulah kekuatan personal (aku lirik) yang dapat menyentuh universal. Akan tetapi tidak melulu yang universal itu dapat dirasakan dengan ditulis menggunakan sudut pandang orang pertama, ada pula yang ditulis dalam berbagai sudut pandang.

Setelah membaca puisi, ada respon yang muncul pada perasaan pembaca, respon inilah yang barangkali dianggap universal. Baik berupa perasaan marah, sedih, bahagia, dll. Namun dengan kehendak penulis yang menguniversalkan puisinya, kadang menjebaknya kepada perasaan yang hanya itu-itu saja.

Draft.doc - Imam Budiman

KONTRIBUTOR 7/31/2022

Imam Budiman

Draft.doc





doc.satu

aku daftar isi tanpa halaman.
merawat setiap bab tubuhmu,
          tanpa mengenal
              pengantar,

                 sebuah

                 prolog,

atau profil
pengarang.

doc.dua

aku indeks tanpa rujukan.
tak berkandang, tak tahu
        jalan menawar
              pulang

               hanya
teks
kosong.

doc.tiga

aku sebuah manuskrip
yang lupa dirapikan
sampai hari
ini.

Ciputat, 2022

SAJAK