TERKINI

Defamiliarisasi Diksi pada Puisi - Deni Sanusi

KONTRIBUTOR 6/26/2022

DEFAMILIARISASI DIKSI PADA PUISI

Deni Sanusi





Dunia penulisan karya sastra merupakan sebuah fenomena perputaran dunia yang selalu berkembang seiring dengan perkembangan zaman, suatu bentuk karya mempunyai sifat imajinatif dan mempunyai nilai keindahan merupakan sebuah bentuk dari karya sastra puisi. Dikutip dari Waluyo (1987) bahwa puisi itu sendiri merupakan bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan dari penyair secara imajinatif dan disusun dengan memfokuskan kekuatan bahasa sebagai media penyampaiannya, maka dengan hal ini pengolahan bahasa dalam karya sastra puisi menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi beberapa penyair.

Pengolahan dan penyulapan bahasa pada karya sastra tersebut dikenal dengan defamiliarisasi (membuat asing). Defamiliarisasi seperti yang disampaikan Susanto (2012) merupakan salah satu hal yang paling krusial untuk membedakan antara bahasa sastra dengan bahasa sehari-hari, bahasa komunikasi, dan bentuk-bentuk seni secara umumnya. Hal seperti inilah yang menjadi tantangan bahwa bahasa pada karya sastra memiliki sebuah perbedaan dengan struktur bahasa sehari-hari, seperti halnya yang dikatakan oleh Teeuw (2003) bahwa karya sastra itu tidak hanya menyimpang dari bahasa sehari-hari saja, melainkan juga dari karya sastra sebelumnya. Victor Sjklovski sebagai salah satu tokoh yang menghasilkan pemikiran mengenai sebuah defamiliarisasi, maka dalam dunia sastra sama seperti seni-seni lainnya ia mempunyai kemampuan untuk memperlihatkan kenyataan dengan suatu cara baru, sehingga sifat otomatik dalam pengamatan dan penyerapan kita di dobrak, defamiliarisasi sebagai istilah pengasingan untuk sebuah karya sastra yang memakai gaya bahasa yang menonjol atau menyimpang dari yang biasa, atau sebuah karya sastra yang menggunakan sebuah teknik bercerita dengan gaya baru pemilihan diksi dalam sebuah puisi menjadi sebuah hal yang sangat berpengaruh terhadap makna yang disampaikan penyair maka dengan pemilihan diksi yang tidak familiar orang tahu atau defamiliarisasi menjadikan usaha untuk menciptakan sebuah karya sastra yang baru berbeda dari karya-karya sebelumnya.

Sebuah sihir yang dipakai oleh penyair sering kali menjadi obat candu bagi beberapa pembaca, dapat diambil sebuah contoh karya puisi yang diciptakan oleh Joko Pinurbo merupakan sebuah karya puisi yang berbeda dengan puisi pada umumnya dimana ia sering kali menggunakan pemilihan diksi yang terkesan aneh atau kurang familiar dikenal orang, itu menjadi sebuah bukti nyata bahwa bahasa dalam sastra berbeda dengan bahasa sehari-hari, bahasa komunikasi, dan bentuk-bentuk seni secara umumnya. Tak heran bahwa puisi dari Joko Pinurbo sering kali didapati bahasa yang nyeleneh bahkan mampu membuat rasa pembaca menjadi penasaran akan puisi yang ditulis oleh sang Penyair, itu yang menjadi kehebatan dari sang Penyair dalam mengolah diksi yang kurang familiar dikenal orang menjadi sebuah maha karya yang luar biasa.

Sebuah puisi yang penulis dapatkan dari beberapa puisi karya Joko Pinurbo yang mana pemilihan diksi yang kurang familiar dikenal orang atau istilahnya defamiliarisasi, penulis mengambil sebuah contoh dari puisi Celana dalam buku berjudul “CELANA Kumpulan Puisi Joko Pinurbo” yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama terbit pertama kali pada tahun 1999. Dari pemilihan diksi pada judul puisi Celana yang disampaikan penyair sudah pasti menjadi hal yang defamiliarisasi untuk dijadikan puisi tetapi dengan diksi yang tidak familiar tersebutlah penyair memanfaatkan ruang imajinasi pembaca untuk menafsirkan apa yang disampaikan dari makna puisi tersebut. Puisi Celana yang ditulis penyair secara berkelanjutan dimana ada puisi Celana 1, Celana 2, sampai Celana 3 pemilihan diksi pada judul puisi yang dinilai defamiliarisasi seperti ini dimana menjadi daya tarik tersendiri untuk diselami. 

Dimana pada puisi Celana 1 seseorang yang sedang sibuk mencari celana, sampai beratus, ratus model celana yang dipakai tidak ada yang cocok bagi dirinya, sampai ia bersih-keras memberi tahu pramuniaga bahwa ia sedang mencari celana yang cocok seperti pada penggalan larik puisi “Kalian tidak tahu ya aku sedang mencari celana, yang paling pas dan pantas buat nampang di kuburan”. Pada puisi Celana 2 ini sebagai lanjutan dari apa yang telah dicari penyair mengenai sebuah celana, dan pada puisi Celana 2 disini menjelaskan apa yang selama ini menjadi penasaran akan isi dari celana yang dikenakan dimana diawali peristiwa saat sekolah dimana penyair disuruh untuk menggambar celana yang bagus dan sopan, namun tak pernah diajarkan seluk beluk dalam melukis sebuah celana, sehingga mereka sering kali sembunyi-sembunyi menggambar membuat coretan dan gambar porno di tembok kamar mandi, dan akhirnya mereka mengerti akan apa yang menjadi rasa penasarannya ihwal apa yang ada di dalam celana bahwa ada raja kecil yang galak dan suka memberontak; ada filsuf yang terkantuk-kantuk merenungi semesta; ada gunung berapi yang menyimpan sejuta magma; ada juga sebuah gua garba yang diziarahi para pendosa dan pendoa. Sedangkan pada puisi Celana 3 sebagai kelanjutan dari kedua puisi celana di atas penyair menjelaskan merupakan sebuah titik terang dimana penyair telah mendapatkan celana yang selama ini dicari meskipun harus berkeliling kota dan masuk ke setiap toko busana. Penggunaan diksi yang defamiliarisasi dalam ketiga puisi celana 1,2,3 sangat menggugah rasa penasaran terhadap isi yang ada di dalamnya.

Disinilah kunci kehebatan penyair dalam memberikan makna tersendiri pada karyanya, setiap penyair mempunyai cirinya masing-masing dalam menyampaikan karya-karya dimana penggunaan diksi yang defamiliarisasi seperti ini menjadi sebuah ciri khas yang dimiliki oleh penyair agar mudah dikenal oleh para penikmat karya-karyanya.


Menjaga Ibu - M. Rosyid H.W.

KONTRIBUTOR 6/26/2022

MENJAGA IBU

M. Rosyid H.W.





“Wardah! Sakit apa ini, Dah!?”

Mak Yah berteriak-teriak memanggil nama anaknya seperti sedang memanggil Tuhan. Ia membolak-balik badannya ke kanan dan ke kiri. Selang infusnya bergoyang-goyang. Dipan berderit-derit. Seutas selang kecil mengalirkan darah dari kepala Mak Yah yang berbalut kain, kapas dan kasa. 

“Bu, tidur, Bu! Sudah jam berapa ini!?” ucap Dwi dari bawah samping dipan. Fajar subuh sudah hampir menjelang. Mak Yah belum menutup matanya sedetik pun. Dwi pun juga tak mampu memicingkan mata sepanjang malam karena mendengar rengekan-rengekan ibunya. 

“Itu anak siapa yang nangis? Anakmu tah?” tanya Mak Yah.

“Tidurlah, Bu. Gak ada anak nangis malam-malam begini. Aku belum punya anak. Ya gitu kalau tak tidur, pikirannya ke mana-mana,” jawab Dwi. Semalam ini, sudah seratus lima puluh lima kali ia menyuruh ibunya untuk memejamkan mata. 

“Dah! Aku sudah gak kuat, Dah! Sakiit. Tolong ibumu ini, Dah!” rengek Mak Yah seperti pendosa di neraka yang meminta ampunan Tuhan. Pada mulanya, Dwi merasa dadanya terluka karena ibunya lebih memanggil kakaknya daripada dirinya yang dua puluh empat jam menjaganya. Tapi, mengingat kakaknya adalah seorang dokter, Dwi maklum. Mak Yah mungkin mengenangnya tidak hanya sebagai anak, tetapi sebagai Dewi Kesehatan.

Dengan mata merah yang berat, Dwi berdiri sambil berpegangan pada besi dipan. Ia menarik ujung selimut demi menutupi badan ibunya yang semakin ringkih, ringkih dan ringkih. Ia memijit-mijit kaki ibunya. Detik-detik terus melaju. Malam hampir berlalu. 

“Wardah gak ke sini tah? Kapan dia mengobati ibunya ini?” tanya Mak Yah dengan mata mengerjap-ngerjap.

“Mbak Wardah masih bertugas, Bu. Kalau sudah selesai, nanti ia akan ke sini,” jawab Dwi berbohong. 

“Tidur, Bu! Sini sambil Dwi pijit kakinya. Kalau Ibu tidur, badannya akan jauh lebih enak.”

Malam menjelang dini hari seolah-olah waktu perang bagi Dwi. Saat malam, ibunya akan berteriak mengerang-ngerang karena kesakitan, merengek-rengek memanggil Wardah berkali-kali, dan membolak-balikkan badannya dengan derit dipan yang berisik. Baru tiga detik mata Dwi terpejam, ibunya mengerang. Hanya sekejap mata Dwi mengatup, mulut ibunya berteriak tak tertutup. Dwi berpikir jika ia mengikuti pola ibunya yang berhari-hari tak dapat memejamkan mata, bisa-bisa ia akan jatuh sakit pula. 

Sudah lima hari pasca operasi, ibunya tak dapat menutup mata lebih dari lima menit. Bahkan obat tidur pun tak mampu membuatnya pulas. Memang, operasi batok kepala telah membangunkan ibunya dari koma panjang, tetapi sekarang ibunya malah tak dapat tertidur lagi. Dwi membayangkan gulungan-gulungan ingatan pada otak ibunya sedang diputar kembali hingga pikirannya tak dapat istirahat sejenak. Atau rasa sakit yang tak tertahankan mengganggu saraf-saraf memorinya.

Pembicaraannya melompat-lompat tak beraturan dari satu topik ke topik lainnya. Kadang ia bertanya tentang Bapak, Wardah atau Arif. Dwi ingin menyanggah bahwa Bapak telah tiada. Wardah dan Arif, anak-anak kesayangannya, juga belum punya waktu untuk menjenguk. Tetapi, Dwi mengurungkannya saat melihat kondisi ibunya yang tak berdaya. Ia hanya menjawab hal-hal yang menyenangkan ibunya, meskipun dengan luka menganga di dadanya. Karena ibunya tak hanya mempertanyakan masakan sayur lodeh dan nasib Andin di sinetron Ikatan Cinta, tetapi juga ikan-ikan akuarium milik Arif dan taman rindang di belakang rumah Wardah di Jakarta. 

Dwi kerapkali bertanya pada dirinya sendiri: apakah Ibu mengharapkan kehadiranku. Namun, ia lekas menghapusnya saat melihat ibunya meronta-ronta kesakitan seperti pendosa jahanam yang tersiksa. Entah apa yang Mak Yah rasakan: nyeri, perih atau ngilu. 

Pada mulanya adalah keteledoran, pikir Dwi. Mak Yah terjatuh di kamar mandi tiga minggu yang lalu. Ia bercerita kalau kepalanya sempat membentur tembok. Dua hari kemudian, ia mengeluh kepalanya terus-menerus terasa sakit dan sedikit pusing. Satu minggu setelah terjatuh, Mak Yah tiba-tiba terkulai tak berdaya di halaman dengan tulang-belulang lembek. Kakinya tak dapat berdiri tegak. Tubuhnya tak dapat bergerak. Dan kedua matanya nyaris tak dapat terbuka. 

“Ia kena stroke dan harus dirawat di sini sampai membaik. Jika kondisinya baik, kita akan lakukan CT scan untuk mengetahui seberat apa luka di dalam kepalanya. Kemungkinan, akan kita lakukan operasi,” titah dokter pada Dwi. 

“Seharusnya kau lekas memeriksakannya ke dokter setelah terjatuh. Orang tua itu, jika ada apa-apa, dampaknya bisa fatal,” kata Wardah, kakak perempuannya, saat Dwi menelepon kedua kakaknya lewat sambungan video.

“Kenapa kau tak kabari kami lekas-lekas? Kau tak becus mengurus ibumu,” ucap kakaknya, Arif, di seberang.

Dwi mengakui memang ia bersalah, tetapi bukan berarti ia dapat dituduh sewenang-wenang sebagai kambing hitam. Ingin rasanya ia membantah ucapan-ucapan kakaknya dan melontarkan protes-protesnya. Kenapa hanya aku yang disalahkan? Bukannya anak Ibu ada tiga? Kenapa Mbak Wardah dan Mas Arif tak sudi tinggal bersama Ibu? Bukankah sebagai dokter, Mbak Wardah akan jauh lebih pandai merawat kesehatan Ibu? Bukannya Mas Arif dengan usaha restorannya mampu menyediakan makanan terbaik untuk Ibu? Apakah karena aku berhutang budi pada mereka yang telah membiayaiku kuliah? Kenapa hanya aku yang harus berada di sisi Ibu dan merawatnya siang malam? Bahkan ketika Ibu sakit seperti ini, mereka tak cepat-cepat menjenguk.

“Dah! Penyakit apa ini, Dah!?”

Dwi tergeragap bangun saat tangannya terjatuh dari sandaran dipan. Ia tak sadar telah tertidur saat memijit kaki ibunya. Tangannya terasa nyeri karena menahan kepalanya cukup lama. Lamat-lamat, ia mencium bau tak sedap dari kaki ibunya. 

“Bu, habis berak tah?” tanya Dwi dengan kepala berat menahan kantuk.

“Heh, Dwi! Dengarkan ibumu! Kapan Arif pulang? Dia anak yang baik. Waktu kecil selalu membantu Ibu: menyapu rumah, mencuci baju dan memasak. Kau tahu kan dia pintar memasak? Pantas restorannya ramai. Dia tak pernah telat kirim uang kepada Ibu. Kau cepat hubungi dia agar segera pulang.”

“Bu, habis berak tah?” Dwi bertanya sekali lagi dengan jarum-jarum luka menancap pada ulu hatinya. Ibunya mengangguk dua kali.

Dwi mengintip isi popok ibunya. Ada tinja kuning cair bersemayam di sana. Dwi lalu menyiapkan peralatan bedah tinja: masker, sarung tangan medis, kresek hitam, tisu basah dan popok bersih. Pelan-pelan, ia membuka popok kotor. Bau tahi jahanam menyengat kuat. Kepala Dwi berkunang-kunang. Isi perutnya seperti teraduk-aduk hendak keluar. Dwi berusaha bertahan sambil mengingat bahwa ibunya dulu merawat tahinya dua tahun lebih. 

“Bu, miring dulu!”

Dwi lantas mengusap-usapkan tisu basah ke pantat dan pangkal paha ibunya tanpa menyisakan segores warna kuning di sana. Ia memasukkan popok penuh tahi ke dalam kresek dan dengan sigap dan cepat ia memasangkan popok baru yang bersih. Dwi menghela nafas panjang saat operasi tinja berhasil dengan gemilang lalu merebahkan diri di atas tikar di bawah dipan. 

“Permisi! Makan pagi,” ucap petugas memasuki kamar. Dwi mendadak bangun meski baru tertidur sejenak. 

“Bu, makan ya!” tawar Dwi. Mak Yah harus makan dan minum obat tepat waktu.

“Kapan aku jalan-jalan? ke rumah Arif? Melihat ikan warna-warni di akuarium,” tanya Mak Yah polos.

“Setelah operasi, kondisi Ibu ini makin baik. Kemarin minumnya pakai pipet, sekarang bisa pakai sedotan. Kemarin hanya makan bubur, sekarang bisa makan nasi lembut, bisa makan roti dan buah. Nanti kalau sudah makin membaik, Ibu bisa ke Jakarta. Ayo makan dulu sekarang!” jawab Dwi dengan menjulurkan sendok dengan nasi bubur. Mata Dwi masih memerah sayu.

“Cuuh!” Mak Yah membuang makanan dari mulutnya. Tangannya menampar piring di tangan Dwi hingga jatuh pecah berantakan.

“Jangan keras-keras!” protes Mak Yah. 

Dwi memunguti pecah-pecah piring sambil menangis terisak. Dwi teringat percakapan semalam via telepon video dengan kakak-kakaknya. “Aku belum bisa ke sana. Ini sedang persiapan pembukaan cabang baru,” kata Arif beralasan. Wardah juga tak bisa datang, “Rumah sakit sedang penuh-penuhnya. Aku tak bisa sewaktu-waktu meninggalkan rumah sakit.” 

 “Wardah! Sakit apa ini, Dah!?” Mak Yah tiba-tiba berteriak. Dwi harus kembali izin tak mengajar pagi ini. 


Sidoarjo, 22 Februari 2022

Berlibur Bersama Masa Lalu - Raakiswa

KONTRIBUTOR 6/26/2022
Raakiswa 
BERLIBUR BERSAMA MASA LALU




(I)
satu jam sudah membelah diri jadi dua
kau belum juga membaca pesan
yang kukirimkan langsung dari mataku
dan terus berbicara tentang film action
yang kau tonton dua hari lalu, tentang 
kemarin kau masak nasi kelebihan air
atau tentang foto-foto yang kau ambil
dua tahun lalu dengan mantan kekasihmu,

"bagaimana bisa waktumu berhenti 
di masa lalu sedang kau dan kota besar 
di kepala kau kehujanan berhari-hari?"

(II)
setiap melihat ke dalam matamu
aku menemukan kau di tepi lautan
menggenggam serpihan kaca
penuh darah, menatap kapal
terombang-ambing seperti lambaian tangan
sedang kaki kau lebih diam dari anak kecil 
yang tak dibelikan mainan baru, 
dan mata kau, pasir di pesisir.

(III)
barangkali kau lebih suka 
menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain, 
“adakah luka menjelma noda di baju putih yang 
kau kenakan sepanjang hari ketika kau mengunjungi 
pantai di hari libur dan kau tak ingin mencucinya?”

kau tak tahu, pertanyaan yang saling 
berhadapan adalah kebingungan.

2021

Kaset Lama - Raakiswa

KONTRIBUTOR 6/26/2022
Raakiswa 
Kaset Lama




"akankah kesedihan menyusup jauh
ke dalam tubuhmu dan tak ingin keluar?"

kau mendengarkan lagu 
'hati-hati di jalan' dan mulai membangun kembali rumah-rumah masa kecil, taman 
bermain, pasar malam yang semarak dengan puluhan kupu-kupu terbang dalam perut kau. 

ketika lagu itu selesai, 
kau pun melambai 
kepada dirimu. 

2022

Mencari Juru Masak Pastoran - Jeli Manalu

KONTRIBUTOR 6/19/2022

Mencari Juru Masak Pastoran
Jeli Manalu




Sesuatu yang merah. Lebih merah dari keripik ubi bercabai. Menetes-netes dari kaki sebelah kiri. Perih. Berdenyut-denyut. Dan Bul, tidak pernah menyangka. Kebun ubi kayu yang telah memberikannya berpiring-piring saksang itu, menjebloskannya ke dalam lingkaran malapetaka. Tujuannya ke sana hanya mencari Teofilus. Tak dimengertinya betapa tali jerat tidak memiliki kemampuan dalam memilih calon korbannya. Meski sering menemani Teofilus memasangnya di kebun ubi kayu, Bul tetap tidak paham bila benda itu ternyata berbahaya juga untuknya. 

***

Teofilus ialah lelaki gondrong yang mahir membuat saksang. Ia  juru masak di pastoran, yang juga tempat tinggal Bul dan keluarganya. Sebelumnya, pencarian ke berbagai tempat sudah Bul lakukan. Setiap sudut dapur pastoran. Sekeliling kompor. Seputar meja makan, sampai pasar-pasar yang biasa Teofilus kunjungi saat membeli bahan masakan. Berkat penjelasan Delila, istri Bul sendiri, ia bergegas pergi ke kebun ubi kayu.

Setiba di sana hatinya terlonjak senang. Ia lihat batang dan daun ubi bergoyang, rebah satu-satu. Teofilus sepertinya sedang mencabut ubi, pikirnya. Selain mengolah langsung ubi segar menjadi kolak atau lepat manis, dibantu Pastor Simon, Teofilus biasa mengolahnya menjadi keripik pedas. Keripik pedas kemasan mini dengan nilai jual seribu rupiah dititipkan di warung-warung pinggir jalan dan kantin sekolah. Keripik pedas lima hingga sepuluh ribu diantar ke mini market. Sedangkan yang kiloan, biasanya dipesan para pedagang mi gomak sebagai pengganti kerupuk merah. Kebun ubi yang berjasa dalam menopang perekonomian dapur pastoran itu, juga menjadi berkat untuk sekawanan gondit (babi hutan). Gondit mendapat penghidupan layak di kebun ubi kayu—mereka bebas mengambil sebanyak apa pun dimau. 

Sebagai juru masak pastoran yang selalu butuh bahan untuk dimasak, Teofilus menyampaikan ide memasang perangkap kepada Pastor Simon. Diperlukan beberapa utas tali sebagai jerat. Pastor Simon setuju. Ia ikut memasangnya di titik-titik yang diperkirakan akan dilewati gondit. Sekian tahun berjalan, kebun ubi itu menghasilkan puluhan gondit. 

Gondit yang masuk perangkap biasanya Teofilus olah jadi saksang. Bul dan keluarganya gemar makan saksang. Pastor Simon juga suka walau soal memasaknya ia tidak pernah ikut. Bila sedang dapat berukuran besar, Pastor Simon mengundang umat terdekat untuk makan saksang bersama di meja makan pastoran. Anjing-anjing para umat itu pun ikut menikmati saksang, meski jatah mereka hanya remah daging berlemak atau tulang dari piring bekas makan yang akan dibawa tuannya sewaktu pulang.  

Dan benar sajalah, pada siang terik di antara pohon-pohon ubi kayu rimbun, bukan Teofilus yang didapati Bul. Melainkan gondit beraneka rupa tubuh. Ada gondit berperut besar. Ada hanya berukuran pendek namun bokong lumayan semok. Ada juga bermoncong agak panjang. Beberapa lainnya masih kecil. Letupan dada Bul seumpa saksang dalam kuali pematangan ketika hewan hutan itu tampak rakus membongkar umbi ubi. Bul marah. Bul menyalak dan melompat. Seekor anak gondit dengan berat sekitar sepuluh kilo berhasil Bul gigit tengkuknya. Bul segera terbayang bagaimana ekspresi Teofilus setiap kali mereka mendapatkan gondit. Setiba di pastoran, lelaki itu biasanya langsung menyembelih gondit tanpa membuang darahnya. Mencincang dengan parang tajam. Mengolahnya menjadi saksang lezat. Sebagai wujud rasa syukur, Teofilus selalu memberi jatah satu piring besar untuk Bul serta keluarganya lebih dahulu sebelum tiba jam makan Pastor Simon.

 Di tengah kebun ubi dalam posisi menggigit tengkuk anak gondit sedangkan gondit lainnya telah kabur, Bul berpusar-pusar di satu titik. Taringnya menembus kulit mangsa. Ia kangkangi anak gondit tidak peduli pada tali jerat melingkar-lingkar di kaki kirinya. Anak gondit meronta-ronta. Bul mulai  risih dengan kakinya. Saat anak gondit lepas dari mulut Bul kemudian ia berusaha mengejar namun kakinya yang terikat menahan semua gerakannya, di situlah Bul sadar betapa dirinya sudah berada di mulut maut dan bukannya bertemu dengan Teofilus.

Sebelum berangkat ke kebun ubi kayu, Bul mengobrol dengan Delila, “Kau yakin Teofilus ada di sana?” 

“Tidak tahu pasti. Aku hanya menebak.” 

“Kau tahu kan, Del di pastoran ini hanya Teofilus yang pintar memasak untuk kita. Pastor Simon sudah kau lihat sendiri. Ia memang memasak. Tapi bukan saksang yang dimasaknya.

Sejak Teofilus pergi, tubuh Delila semakin kurus. Payudaranya kempes. Sementara istrinya itu harus menyusui tiga bayi jantan dan satu betina. Dan bayi-bayi tersebut semakin rakus mengisap puting susu Delila saat tidak mendapatkan makan tambahan. Bila harus pergi ke kedai tuak yang selalu menyediakan tambul, Bul tidak mau lagi. Ia sudah tiga kali dicaci maki anjing pemilik kedai tuak karena mengambil tulang dari dalam piring belum dicuci. Pernah diambilnya dua tulang rusuk. Sekali waktu tulang lutut pendek-pendek. Hari lain disikatnya satu paha bertumpuk lemak di sana-sini.  

“Dasar anjing tak tahu malu!” teriak anjing pemilik kedai tuak.

Bul lepaskan paha dari mulutnya. Lalu minta maaf. Anjing pemilik kedai tuak tetap nyinyir. Ia hina Bul dengan tuduhan mencuri. Bul ingat betul bagaimana saat itu harga dirinya sebagai anjing pastoran baik hati dan tidak terlalu miskin ternodai. Dan rasa sedihnya tentang anjuran supaya Bul lebih baik mencari Teofilus yang selalu dibangga-banggakan Bul di hadapan seluruh anjing belum bisa terobati. 

Di kebun ubi yang terik Bul menggeser-geser bokong ke arah yang teduh. Gerakan itu ternyata menambah sakit di kakinya. Ia meraung liris. Lolongannya sepanjang kebun ubi. Tapi semua ratapan tak kunjung sampai ke telinga Teofilus. Bul mendekatkan moncongnya, berusaha menggigit pilinan tali jerat. Benda yang sekilas mirip tali rentengan keripik singkong itu malah memperlebar luka di sepanjang kaki Bul. Dan ia merasa frustrasi hingga mencoba melambung-lambungkan tubuh seperti yang biasa ia pertontonkan manakala merasa bahagia saat mendapatkan saksang enak. Setelahnya sesuatu yang merah menetes lebih banyak lalu lumer ke tanah. Semakin besar keinginan Bul untuk lepas, semakin dalam pula luka pada kakinya, yang sesekali sudah ia rasakan kontak hingga lapisan luar tulangnya. 

Rasa lapar dan haus turut memperparah kondisinya. Sewaktu ada Teofilus tidak sekalipun dirinya terlambat makan. Minumnya juga selalu tercukupi. 

Pagi sebelum melakukan pencarian ke kebun ubi kayu, tidak ada yang bisa Bul makan kecuali nasi kuah kuning tanpa lauk—ia kurang bernafsu untuk itu. Makanan utama Bul justru lebih banyak lauk ketimbang nasi. Lauk berupa saksang membuat hati Bul terlonjak-lonjak, ia selalu tampil prima bila bersama Teofilus. Pastor Simon berbeda dengan Teofilus. Pastor Simon keahliannya melobi pemilik warung, kantin, mini market atau pedagang mi gomak supaya mau dititipkan keripik singkong. Pagi itu, Pastor Simon hanya masak keik atau sayur labu kuah kuning. Bul tidak makan keik maupun sayur labu. Teofilus telaten menciptakan makanan bagaimana supaya selalu dikenang oleh lidah penikmatnya. Jika sedang ada saksang, Bul pintar merengek terhadap Teofilus. Ketimbang Bul menggonggong tiada henti sehingga ditakutkan mengganggu jam doa Pastor Simon, Teofilus akan memberinya satu piring. Bul merasa, saksang buatan tangan Teofilus telah membentuk diri Bul menjadi anjing jantan sejati, yang selalu mampu menghamili Delila sehingga ketika tiba masa melahirkan akan diperoleh bayi-bayi menggemaskan—Bul telah membuktikannya pada kelahiran di tahun-tahun sebelumnya.

 Bul mengedarkan pandangan untuk ke sekian kali. Daun dan batang ubi kayu bergoyang panjang. Lebih panjang. Makin panjang. Kadang sampai merunduk. Tetap saja bukan Teofilus. Itu bukan Teofilus yang datang menolong, sebagaimana dulu ketika dirinya diajak berburu lalu kaki kirinya terlilit akar pohon hutan. 

Ke mana Teofilus yang selalu melindungi Bul dari kelaparan serta marabahaya? Di sekeliling kompor dan meja makan pastoran, pasar-pasar yang biasa Teofilus kunjungi saat membeli bahan masakan hingga kebun ubi kayu tak ada. Bul hanya tahu, bila Teofilus sudah cukup lama tak pernah terlihat lagi berdiri menghadap kuali sambil mengaduk-aduk saksang. Sejak Delila hamil muda lagi hingga melahirkan empat bayi yang sekarang sudah berumur satu bulan. Terakhir, Bul hanya melihat gondrong Teofilus dijambak ibu dari perempuan yang beberapa kali bercinta bersama Teofilus di kebun ubi kayu seperti yang dilakukan Bul kepada Delila. Waktu itu, di hari yang seharusnya manis karena sekuali saksang akan disantap bersama dengan sejumlah tamu Pastor Simon, Bul cuma menyalak keras sebab tak tahu cara membantu Teofilus ketika dipaksa masuk ke dalam mobil. 

***

 Langit berwarna keripik ubi bercabai. Sebelahnya warna saksang dalam piring oranye. Sebagian lagi seperti luka kemerahan di kaki kiri Bul. Hamparan ubi kayu tak lagi hijau. Dan bagi Bul, selain rasa sakit dan sepi, hanya malam yang pasti tiba sebentar lagi. Tidak ada Teofilus atau pun Pastor Simon. Tidak juga Delila serta anak-anak mereka. Tapi, ia keliru. Tidak jauh dari diri Bul dengan kondisi sakit fisik dan perasaan, tiba-tiba sekawanan gondit datang lagi mengambil jatah makan malam. 

Naluri anjing Bul meluap. Ia berlari tapi apa daya kaki terpenjara. Pada perjamuan makan semarak puluhan gondit ia cuma penonton. Tak berselang lama, ketika cahaya kemerahan belum sepenuhnya hilang dari batang-batang ubi kayu, Bul tak percaya pada seekor gondit berbokong semok menangis-nangis. Kaki gondit itu masuk perangkap lain yang pernah dipasang Teofilus bersamanya. 

Bul meronta. Bul ingin menyaksikan bokong semok si gondit lebih dekat. Saat bersamaan liur Bul melimpah ruah menggenangi lidahnya. Teofilus datang! Teofilus sudah datang, katanya. Dalam pikiran kalut Bul, lelaki gondrong itu mengaduk-aduk saksang bersama si perempuan. **

Riau, Februari 2022 


Catatan: 

Saksang = Masakan yang diolah dari daging. Diberi bumbu, kemudian dicampur darah.

Mi gomak = Mi yang terbuat dari mi lidi. Biasanya berkuah. Kadang diberi kerupuk atau keripik supaya makin enak.


Pintu Masuk - Hendy Pratama

KONTRIBUTOR 6/19/2022

Pintu Masuk

Hendy Pratama



PUISI kerap kali jadi pintu masuk bagi ‘orang-orang baru’ dari rumah besar kesusastraan. Tidak sedikit dari mereka yang melirik sastra, dimulai dari membaca—dan, kemudian mencoba menulis—puisi. Mereka menyukainya, mereka bersulang bir untuk merayakannya.

Orang-orang baru itu menganggap, bahwa pekerjaan menulis puisi segampang mengetik status wasap, lalu menyebarluaskannya ke media sosial, dan darinya, mereka berharap mendapatkan atensi dan apresiasi.

Tak ada yang salah dari semua itu. Biarlah kesan baik timbul sejak pandangan pertama. Hal-hal yang jelimet baiknya memang dikesampingkan terlebih dulu. Lambat laun, mereka bakal mengerti, bahwa di tubuh puisi terdapat banyak sekali organ yang mesti mereka pelajari habis-habisan. Organ-organ itu semacam tata bahasa, kekayaan kosakata, kejelian memilih kata (diksi), logika kalimat yang benar dan beres, persoalan tanda baca, keindahan bunyi, enjambemen yang tepat, serta alur/ plot puisi yang terasa mengalir.

Elemen-elemen yang saya sebutkan di atas hanyalah perkara mendasar dalam kebahasaan kita. Mereka belum menyentuh perkara-perkara yang lebih sulit dan rumit, seperti halnya persoalan gaya ucap, kekuatan puitik (daya ungkap), muatan yang mereka bawa dalam puisi, pendalaman dan pengilhaman terhadap fenomena hidup, kebaharuan interprestasi, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, secara sederhana, menulis puisi serupa membaca hidup, lalu mencoba menafsirkannya—sebelum pada akhirnya dicitrakan dalam kalimat-kalimat puitik yang mampu menggetarkan bulu kuduk pembaca.

Saya sendiri agaknya berbeda dengan mayoritas orang itu. Pintu masuk saya pada dunia sastra justru dibuka dari gerbang cerita pendek. Saya menyukai cerita; saya suka mendengar cerita dari alm. kakek soal pengalamannya menjadi prajurit polisi yang bertugas jauh dari tempat tinggal; saya suka menonton kisah seekor lebah bernama Hachi yang bertualang mencari ibunya. Melalui cerita, sastra terdengar lebih mengasyikkan, mengharukan, menegangkan, mendebarkan, juga misterius (berbeda dengan belantara puisi yang kadang kala sukar dipahami).

Cerita menyuguhkan apa-apa yang dapat saya santap, nikmati, serta renungi, kapan pun, dan di mana pun—sewaktu suntuk menunggu kehadiran salah seorang kawan, misalnya. Suatu waktu, tiga hari sebelum hari H, saya bersepakat dengan Kenken buat mendaki bukit Cumbri, berfoto, merasakan semilir angin, melihat sejumlah vegetasi, serta memandang lanskap yang disajikan alam. Isi janjian kami adalah: bertemu di depan pom bensin, selatan bunderan Tambakbayan, jam 8 pagi. Dan kali ini, di jam—yang menjadi kesepakatan bersama—itu, Kenken belum kunjung tiba, sementara sorot matahari terasa kian menyengat kepala. Jemu menunggu, saya menyempatkan diri membaca satu-dua cerita pendek yang Minggu ini dimuat Kompas dan Jawa Pos, sembari berteduh di bawah pohon cemara. Tak lama berselang, batang hidung kawan saya tampak dari balik bokong truk yang melaju lamban.

Cerpen kedua memang belum sepenuhnya rampung saya baca. Hanya saja, kehadirannya mampu meredam rasa jemu, bosan, suntuk, atau apa pun itu. Rasa-rasanya, cerita pendek telah menyelamatkan Kenken dari amuk kekesalan saya.

Dari situ, setidaknya, timbul kesan positif yang saya dapatkan ketika mencoba masuk dalam rumah besar kesusastraan Indonesia. Cerita pendek telah memikat saya sejak awal, dan saya harap selamanya terus begitu. Barangkali tampak sepele. Namun, bila ditelisik lebih jauh, pintu-pintu yang terpampang di area depan cukup penting. Pintu-pintu itu tampak serupa sebuah etalase sebuah rumah makan Padang, di mana kita dapat leluasa melihat dan memilih segala jenis menu yang ditampilkan. Saya pernah bepergian ke suatu tempat dan tanpa sengaja melewati etalase itu. Baik rendang, ayam pop, udang balado, atau menu lainnya, kiranya berhasil membikin saya tergiur sejak awal, sejak kali pertama memandangnya dalam sebuah etalase.

Sastra, ada baiknya ditampilkan dari segi positifnya—apalagi bagi mereka, ‘orang-orang baru’. Abaikan saja pelbagai macam persoalan pelik yang rasa-rasanya tak pernah ada habisnya, seperti politik sastra, konflik pribadi antar-penulis, kasus plagiasi yang menjadi penyakit menahun, perdebatan panjang antara puisi esai atau esai yang puitik, nasib asmara penulis yang kerap kali berakhir tragis, kondisi finansial penulis yang mengkhawatirkan, dan segala macam kurap-kurapnya. Baik-buruknya sastra, biarlah timbul-tenggelam seiring berjalannya waktu.

Saya menaruh kekhawatiran yang mendalam apabila sastra dicap sebagai sesuatu yang absurd, aneh, sulit diterka, membingungkan, memusingkan, tidak to the point, dan stigma-stigma negatif lainnya. “Sastra adalah milik kaum bangsawan” hanyalah ungkapan kuno. Hal itu justru memperlebar jarak antara sastra dengan masyarakat. Slogan revolusioner “memasyarakatkan sastra” hanya akan menjadi spanduk kumuh yang memenuhi bahu jalan, terikat kuyu di sebatang bambu, di samping poster-poster calon presiden atau poster-poster hegemoni tiga periode. Maka dari itu, upaya-upaya persuasif mesti dilakukan sepenuh hati dengan sejenak menurunkan ego-eksistensial.

Sebab, sebagaimana yang kita tahu, segalanya memerlukan pintu. Manusia, sebelum lahir ke dunia, lebih dulu membuka pintu masuk berupa rahim ibu. Kematian, yang terdengar mengerikan itu, sejatinya ialah pintu masuk ke alam kubur. Surga, dengan segala keindahan yang digambarkan oleh kitab suci, perlu menunggu datangnya pintu berupa Hari Kiamat guna memasukinya. Sastra pun demikian. Jika kita menginginkan masa depan yang cerah bagi sastra Indonesia, sebaiknya, jauh-jauh hari kita mesti memoles pintu masuknya, supaya ‘orang-orang baru’ itu terpikat, supaya regenerasi dari tahun ke tahun senantiasa terjaga, dan supaya sastra tidak mati tertindas rezim atau tertelan zaman. ***


Mucoffee, 28 Maret 2022


Hutan Ali Akbar - Ebi Langkung

KONTRIBUTOR 6/19/2022

Ebi Langkung 
Hutan Ali Akbar



Ketika hutan masih hijau
Ke sinilah orang-orang menghitamkan rambutnya
Belajar huruf dan lekuk batang hijaiah
Dari getah lidah ke buah dawat

Ketika dawat masih lengang
Dan jalan-jalan berpatok pada suara alam
Ke sinilah orang-orang menjahit pakaian, merapat pada Safina-Sullam
Mengurai tali syahadat

Ketika syahadat masih renggang, ke sinilah mereka datang
Menyuntuki tiang dan menyadap senyap akar bulan
Sebelum pendatang menyekapnya
Mengubah warna kulit, mata sipit dan lampu minyaknya

Sebuah pulau yang kini terbuka, di mana pintu gerbang terpancang
Ketika kini malam mulai ramai pengkhadam, hanya
Dari lorong gelap kita mulai pencariannya:
Agama di tubuh dan agama di alam raya
Kembali ke makam-makam

2022

SAJAK