TERKINI

Desimulakrum - Benny Arnas

ADMIN SASTRAMEDIA 1/16/2022
desimulakrum
Benny Arnas




DAN KEMBALI bulu kudukku berdiri. Lamat-lamat keringat menyeruak dari pori-pori. Jarak antardegup jantungku makin rapat. Kerongkonganku terasa kering—air liur yang kuteguk terasa sepat. Kalau saja tadi Pak Rahmadi, supir kami tak membatalkan rencananya pulang kampung demi mengemudikan mobil saat ini, mungkin sudah lama kaki kananku menginjak pedal rem secara mendadak ketika tahu bahwa beberapa ratus meter lagi kami akan melewati jembatan; tempat yang menyisakan trauma yang mendalam, ketakutan yang mencekam, kengerian yang tak sanggup kubayangkan….

Sungguh. Aku tak sanggup menyaksikan keramaian yang tercipta di setiap jembatan. Keramaian yang ganjil. Keramaian yang menyeramkan. Keramaian yang berasal dari makhluk-makhluk yang muncul dari balok-balok besi dan beton penyusun tubuh jembatan (atau yang mucul dari kayu apabila jembatan tersebut masih terbuat dari kayu). Keramaian itu selalu hadir ketika Magrib singgah hingga malam datang, hingga malam menua, (mungkin juga) hingga tampah jingga kembali mengintip dari ufuk timur. Itulah alasan mengapa aku selalu menghindari bepergian di malam hari. Dan kali ini aku tak dapat berkelit. Putri, anak kami satu-satunya ngotot ingin ke rumah neneknya. 

Bulan lalu Ibuku sowan ke rumah kami. Ia memang sangat dekat dengan Putri. Saban datang, ia selalu menjanjikan sesuatu kepada cucunya yang baru kelas dua SD itu, seolah itu siasat agar ia selalu dirindukan. Seperti waktu itu, Putri sangat senang ketika Ibu membawakan sekeranjang macang, semacam mangga hutan dengan rasa manis yang khas. Ketika itu, aku dan istriku baru ngeh kalau kerewelannya yang minta diantar ke kampung, ternyata untuk menagih buah itu. Beberapa hari yang lalu, ketika Putri kembali rewel ingin ke kampung, kami yakin pasti neneknya sudah menjanjikan sesuatu. Entah bagaimana, aku tak terlalu peduli apa nian janji Ibu. Istriku pun begitu. Meeting-meeting perusahaan yang padat saban akhir tahun, lebih menguras perhatiannya daripada sekadar mencari tahu muasal kerewelan anaknya. Pun di sepanjang perjalanan ini, ia lebih sibuk dengan smartphone-nya. Aku memang tak mau ribut dengannya. Untuk mengajaknya pergi hari ini saja, dengan setengah menggerutu ia katakan beberapa meeting penting harus dibatalkan. Huhh!  



SEMUA BERMULA ketika aku hendak ke luar rumah tanpa menetapkan tujuan sebelumnya. Maklum, pengarang! Mencari inspirasi kadangkala harus ke mana-mana. Walaupun tidak semua pengarang seperti itu, tapi menurutku, siapa pun dan apa pun (pekerjaan) mereka, tentu akan muak dengan kota ini. Kota yang saban hujan dilanda banjir, kota yang saban kemarau jadi meranggas, kota yang saban dua bulan digoyang gempa, kota yang saban minggu dihantam angin topan, kota yang saban hari menyerakkan potongan-potongan tubuh mayat, kota yang saban menit menggenangi sungai dan got dengan orok berwarna pink, kota yang… (ah, sebenarnya tak ingin aku mengatakan ini karena jangan-jangan ini hanya perasaanku saja) …saban malam diramaikan oleh kerumunan makhluk aneh di jembatan dan sekitarnya. Maaf, aku tak bermaksud menakut-nakuti. Sungguh!

Dalam perjalanan pulang—setelah seharian mengembara ke beberapa sudut kota, dan aku tak mendapatkan satu ide pun untuk dijadikan cerita yang unik, aku sangat kesal. Pikiranku justru makin kacau. Bayangkan, dua kali aku ngopi di warteg, dua kali pula aku mampir di warteg yang ada televisinya. Tak ada yang salah dengan televisi itu sebenarnya. Hanya saja kotak ajaib itu menyiarkan berita yang membuatku muak. Hampir semua stasiun televisi menyiarkan, bayi-bayi tanpa kepala ditemukan di pelbagai tempat; sungai, rawa-rawa, wc umum, dan sekitar jembatan. Versi stasiun televisi A; mereka adalah korban aborsi. Versi stasiun televisi B; kepala-kepala mereka dipakai untuk diselipkan di antara sambungan besi atau beton jembatan-jembatan yang tengah marak-maraknya dibangun. Orang-orang yang nongkrong di sana pun seolah tak ingin ketinggalan dengan televisi. Mereka membincangkan beberapa anak tetangga yang hilang. Ada yang bilang, mereka diculik hanya untuk diambil kepalanya. Ada yang menambahkan—seolah hendak diseragamkan dengan berita di televisi, kepala-kepala mereka sangat berguna untuk ritual pembangunan jembatan. Semacam sesajen, imbuh yang lain ....

 Ah, berita dan pembicaraan yang tak bermutu!

Ketika lelah berjalan menyusuri kota, dan langit mulai merah; entah bagaimana aku memilih rehat di sebuah jembatan yang cukup panjang. Sekitar 150 meter. Jembatan yang tampaknya baru rampung dibangun. Aku bediri di tengah. Aku melongok ke bawah. Semacam ngarai dengan dasar yang dalam dan curam menganga di sana. Tiba-tiba ada yang menyentuh bahuku. Aku terkesiap. Aku menoleh. Tak ada siapa-siapa. Aku kembali melongok ke bawah, tapi perasaanku sudah tak enak. Bulu kudukku menegang. Lamat-lamat keringat menyeruak dari pori-pori. Jarak antardegup jantungku makin rapat. Kerongkonganku terasa kering—air liur yang kuteguk terasa sepat. Aku membalik badan. Pandanganku menabrak semacam papan pengumuman. Ternyata jembatan besar ini belum boleh dilalui kendaraan. Dan ... baru kusadari kalau aku berada di tempat yang sepi. Bukan! Aku bukannya takut akan dirampok, takut dibunuh, apalagi sampai takut dimutilasi. Aku tiba-tiba merasa berada di tempat yang asing. Tempat yang tak pernah kukenali. Kukucek mataku. Berkali-kali. Memastikan bahwa senja sudah pergi. Memastikan bahwa memang tak ada lampu jalan yang hidup di sini. Memastikan bahwa hari benar-benar gelap. Benar-benar pekat. Benar-benar menyeramkan!

Kutarik napas panjang dalam satu helaan hingga bahuku hampir setara dengan dagu. Aku memasang ancang-ancang hendak berlari. Ke mana? Aku belum memikirkannya. Bila aku tak keliru, tadi aku berjalan dari sebuah jalan tol. Ah, lebih baik aku kembali ke sana daripada berlari ke arah yang berlawanan—yang aku tak tahu akan menemui apa. Kubalik kanan. Bersiap mengambil langkah seribu. 

O o!

O o!

O o!

Dari kedua ujung jembatan kulihat gerombolan bola hitam menggelinding …. O, bukan! Bola-bola itu bagai merayap (atau berjalan dengan kakinya yang mungil). O Tuhan, hitam itu bukan warna bola, tapi semacam ijuk atau bulu yang menutupinya, atau … Tidak! Itu adalah rambut. Kerumunan kepala mendekatiku. Makin dekat. Sangat dekat. Aku panik. Sekujur tubuhku basah. Melunglai. Tulang-tulangku terasa lepas dari tungkainya. Kulafalkan ayat-ayat Quran yang kuingat. Aku hanya hafal dua surat pendek. Al Fatiha dan Al Ikhlas. Aku juga ragu, apakah aku melafalkannya dengan benar. Sudah hampir 20 tahun aku tidak pernah salat. Aku tak kuasa beranjak. Kusandarkan tubuh di bilah-bilah besi yang memagari jembatan. Pelan-pelan kujatuhkan tubuh. Aku terjerembab. Terduduk. Kupejamkan mata. Tiba-tiba tangan kananku menyut pedih seperti ditusuk cuban. Sebuah paku karat yang tertancap di telapak tanganku bagai menegaskan bahwa apa yang tengah kualami bukanlah mimpi!

Kepala-kepala itu telah berada di dekatku. Mengerumuniku. Aku berharap aku segera pingsan—atau mati saja, daripada harus menyaksikan mereka menggigit, menguliti, dan memakan dagingku lamat-lamat. O, Tuhan, apa salahku?!

Sudah cukup lama aku terpejam tapi aku tak merasa tubuhku digigit atau dikuliti. Aku mencoba membuka mata pelan-pelan. Kupicingkan saja mula-mula. Tak ada apa-apa! O o, apakah aku berhalusinasi? Ternyata tidak. Ketika kubuka sempurna kedua mataku, kulihat gerombolan kepala itu merayap (atau berjalan dengan kakinya yang mungil) menjauhiku menuju kedua ujung jembatan. Mereka tidak merayap hingga ke jalan raya yang (mungkin saja) terdapat di kedua ujung jembatan. Mereka kembali ke bilah-bilah beton yang menyusun rangka jembatan. Mereka bagai permen karet yang sangat lentur. Mereka masuk ke celah di antara bilah-bilah itu seolah kembali ke rumah, rumah yang menenteramkan.

Aku baru meninggalkan jembatan ketika sebuah sedan berhenti di ujung jalan (sepertinya pemiliknya adalah orang yang bertanggungjawab terhadap projek jembatan ini). Kulambai-lambaikan tangan dan berteriak minta tolong seolah aku adalah korban bencana alam yang melihat Tim SAR datang. Ia mendekatiku. Ia membantuku bangkit. Ia memapahku. Ia baik sekali. Ia memberiku sebotol air mineral yang diambilnya dari mobil. Untuk beberapa saat ia tak bertanya apa-apa. Ia seolah paham benar bahwa aku sedang dalam ketakutan yang sangat. Setelah agak tenang, ia mengajakku menuju mobilnya. Aku menurut saja. Ia mengambil kemudi. Aku duduk di sampingnya. Aku lelah. Sungguh, aku tak sabar ingin pulang. Mandi air hangat. Minum teh kelat. Mengempaskan badan di spring bed yang baru dibeli empat hari yang lalu. Dan tentu, tak sabar menemui anak-istriku.

Ia seolah mampu membaca isi kepalaku ketika tiba-tiba ia bertanya di mana rumahku. Aku menyebut sebuah tempat. Kami meluncur ke sana. Melewati banyak jembatan. Melewati banyak keramaian. Kerumunan kepala. Dan ia tak menunjukkan keterkejutan dengan semua itu. Ia juga tak banyak bicara. Hanya bertanya tentang jalan bila mendapati mobil kami berpapasan dengan simpang tiga, perempatan, atau beberapa lorong kecil. 

“Aku melihat hantu, Mas.”

Ia menoleh.

“Sumpah! Aku tak berbohong!”

“Di mana?”

“Di …”

“Di jembatan tadi?”

“Di setiap jembatan, Mas.”

“Ah, itu bukan hantu. Itu orang-orang yang tinggal di jembatan.”

“Ini bukan pengemis, anak jalanan, atau …”

“Iya, aku paham. Maksudmu kerumunan kepala itu, ’kan?”

“Iya. Mas juga melihatnya?”

Ia menyeringai. “Semua orang juga melihatnya kalau hari mulai gelap!”

Aku terperanjat. Apakah ia serius?

“Sudah jarang keluar malam, ya? Berapa bulan? Atau sudah bertahun-tahun?”

Aku diam. Perasaanku makin tak karuan.

“Betul baru kali ini melihat kepala-kepala yang muncul dari jembatan?”

Aku hanya meneguk liur.

“Kota ini kan sudah jadi kota jembatan.”

“?”

“Ya. Karena kendaraan makin banyak. Karena orang ingin sampai di tempat tujuan makin cepat. Karena bencana alam banyak menciptakan jurang, ngarai, dan lembah, sejak ratusan tahun silam.….”

“STOP!”

Driiiittttt!!!! 

Mobil berhenti mendadak. Aku hampir terpelanting ke muka. 

“Kenapa?”

“Maaf, Mas,” aku bersungut merasa bersalah. “Rumah saya kelewatan.” Aku setengah tersenyum. 

Ia ber-ooo… panjang. Ia bertanya, apakah mobil perlu diputar balik agar dapat mengantarku tepat di depan rumah. Aku menolak. Ia sudah terlalu baik. Kami sama-sama keluar. Aku menyalaminya dengan badan yang sedikit dibungkukkan. Aku benar-benar berutang budi, bahkan berutang nyawa, kepadanya. Ia kembali ke kendarannya seraya melambaikan tangan sejenak. Ah, aku lupa bertanya siapa namanya.



ISTRIKU NGOMEL-NGOMEL di pagi yang masih sepia. Ia baru dapat telepon dari kantor. Wajahnya seperti kemeja katun yang belum disetrika. Ia kesal karena malam tadi begadang demi mempersiapkan bahan presentasi untuk meeting yang baru saja dibatalkan.

Kuambil dua potong roti. Kutangkupkan setelah melumuri selai blueberry di tengahnya. Kuiris jadi dua. Yang satu kuletakkan di atas piring Putri yang sudah siap dengan seragamnya. Ia langsung melahapnya. Yang satu lagi kuletakkan di piring di hadapan istriku. Ia melihatku sejenak. Mencangking roti itu. Memakannya. Hanya satu gigitan. Lalu minum setengah gelas jus melon. Membersihkan bibirnya dengan dua helai tisu. Ponselnya berdering. Ia masih mengunyah sisa-sisa roti di mulut ketika menekan tombol OK. 

“Halo.”

“Ma, kata Bu Guru, nggak makan sambil ngomong,” celetuk Putri. 

Istriku tersenyum kecil sebelum berteriak seolah bintang sinetron yang tengah berakting mendengar kabar kematian anaknya.

“Ada apa, Ma?” tanya aku dan Putri hampir bersamaan.

Ia menyebut sebuah nama yang tak kukenal. Tiba-tiba perasaanku tak enak. Selera makanku hilang. Aku menuang satu gelas air putih. Menenggaknya sampai habis. 

“Mutilasi itu apa sih, Pa?” Putri bertanya polos. Kuelus rambutnya yang dikepang.

 “Bagaimana bisa teman kantormu jadi korban, Ma?!”

“Dia yang menyuruh orang-orang berburu, eh, dia yang diburu!” jawab istriku ketus.

“Berburu apa?”

“Kepala.”

“???!!!!”

“Untuk proyek-proyeknya. Senjata makan tuan!”

“Senjata makan tuan?” Putri bergumam.

Aku mengernyitkan dahi. Kuisi lagi gelasku yang kosong. Kali ini dengan jus melon. Aku  menenggaknya …

 “Sayang, ke belakang, ya. Sama Bi Ina. Pakai sepatu gih,” ujar istriku kepada Putri  dengan suara yang dilembut-lembutkan. 

Putri menghambur ke dapur.

“Anggota tubuhnya yang lain masih utuh, Pa. Kecuali kepalanya!”

Bruuurrrrr! Aku menyemprotkan jus melon—yang belum sempat berselancar di tenggorokan—ke wajah istriku.

 “?!*%$%&@X#!!”



KAMI MEMASUKI jembatan. Damn! Mobil kami tiba-tiba mogok. 

“Ini di mana, Pak?” tanya istriku sesaat setelah memasukkan iPhone-nya di tas sandang.

“Jembatan ….” Supir kami menyebut sebuah nama.

“Apa?” Kami berdua nyaris bersamaan berteriak.

“Kenapa Bu, Pak? Pernah mogok di sini pula?”

Aku dan istriku bersipandang.

Putri masih sibuk bermain dengan boneka di bangku belakang.

Seseorang mendekati mobil kami. Aku mengenalnya. Wajah istriku tiba-tiba pias.

“Kenapa, Ma?”

Putri tertawa renyah di belakang. Entah apa yang sedang ia bincangkan dengan bonekanya.

“Itu …” Istriku menunjuk ke lelaki di luar.

“Mama kenal?”

Istriku mengangguk. “Ia sempat jadi pimpinan perusahaan tempat Mama bekerja.”

“O ya? Kenapa wajah Mama pucat begitu? Dia sangat baik lho, Ma. Dia yang mengantar Papa pulang ketika Mama begadang membuat bahan presentasi malam itu lho.”

Mata istriku membelalak sempurna.

“Pak, dia mengetuk jendela mobil kita. Perlu saya buka?” Pak Rahmadi menunjuk ke arah lelaki di luar mobil.

Belum sempat aku menjawab, istriku berteriak, “Jangan!”

Tawa Putri makin keras. 

“Memangnya kenapa, Ma?”

Pak Rahmadi bingung.

“Beberapa jam sebelum mengantar Papa pulang, ia sudah tewas tanpa kepala!”

Aku tercekat. Pak Rahmadi sibuk men-starter mobil yang tak kunjung menyala. Ketukan di kaca mobil makin keras. Tiba-tiba Putri berseru riang. 

“Pa, Ma, betul, ’kan, kata Nenek. Di sepanjang jembatan akan banyak boneka berjalan!”

Kami menoleh ke belakang.

“Itu, Pa, Ma!” Putri menunjuk ke belakang mobil. 

Dari ujung jembatan, beberapa puluh meter dari mobil, gerombolan kepala mendekati mobil kami. 

“Itu juga, Pak!” Pak Rahmadi menunjuk ke depan mobil. Tangannya gemetar. Gerombolan kepala juga mendekat dari ujung jembatan yang lain.

“Buka pintunya, Pak!” perintahku.

“Jangan!” teriak istriku.

Putri masih tertawa-tawa. “Kata Nenek, dekat kampung, ada jembatan tua yang terbuat dari kayu. Di sana, bonekanya paling banyak! Banyak anak-anak segede Putri…!”

Mobil kami bergerak-gerak oleh gerombolan kepala yang mengerumuni, yang menggoyang-goyangkannya. Istriku memuji-muji Tuhan. Aku dan Pak Rahmadi hanya komat-kamit. Kami tiba-tiba ingat mati. Putri masih terus tertawa ketika aku mencoba mengingat-ingat dua bacaan suci itu.

 Al Fatiha dan Al Ikhlas…. (*)


Kereta Cepat yang Berjalan ke Masa Tua - Kairur R Bunang

ADMIN SASTRAMEDIA 1/16/2022
Kairur R Bunang
KERETA CEPAT YANG BERJALAN KE MASA TUA



Waktu yang habis karena menginginkan sesuatu
Kemudian tidak menginginkannya kembali, adalah angan
Masa remajamu kereta cepat dengan puluhan gerbong
Bermuatan berat, nasib menarik tuas ke jalanan rusak

Saat ini masinis dalam dirimu sepenuhnya pensiun
Derita hanya menyisakan sepasang dengar
Dan apa yang bisa direkam oleh telinga tua
Hanya kegagalankegagalan di masa muda

2021

Menjadi Penulis di Kepala Orhan Pamuk - Wawan Kurniawan

ADMIN SASTRAMEDIA 1/09/2022

Menjadi Penulis di Kepala Orhan Pamuk 

Wawan Kurniawan



Saat seseorang ingin menjadi penulis, memiliki sejumlah siasat menghadapi diri sendiri menjadi modal penting. Berkaca dari kisah sejumlah kawan saya yang ingin jadi penulis, mereka terlebih dahulu menyerah lantaran tidak menemukan siasat yang tepat untuk menghadapi diri sendiri dan kenyataan. Kenyataan bahwa penulis bukanlah pilihan profesi yang tepat di Indonesia. Meski ada beberapa yang terlihat makmur karena hidup sebagai penulis dengan deretan bukunya yang best seller, tapi secara umum, nasib penulis di Indonesia kadang jauh lebih buruk dari yang mampu kita bayangkan. Begitu pun dengan diri saya, memikirkan untuk hidup sebagai seorang penulis terkadang membuat saya terdiam sejenak sebelum menemukan berbagai alasan yang dapat menguatkan.

Pada dasarnya, bukan hanya untuk jadi penulis, manusia selalu dihadapkan dengan kendala atau rintangan untuk mencapai keinginanannya. Namun kali ini, saya akan berfokus pada upaya menjadi seorang penulis saja. Mari kita mulai!

Saya punya dua orang teman yang bagi saya mereka layak untuk disebut penulis, sebut saja penulis A dan penulis B. Penulis A begitu realistis melihat dunia, terkhusus dunia kepenulisan di negara ini, menurutnya hidup sebagai seorang penulis akan berat, sebaiknya punya pekerjaan atau sumber penghasilan tetap selain dari menulis. Sedangkan penulis B memiliki pendapat yang berbeda. Dia memiliki keyakinan tersendiri, boleh dibilang semacam prinsip yang dipegang teguh. Bahwa menjadi penulis berarti serius memikirkan berbagai hal tentang hidup. Masalah finansial tentu saja akan menjadi rintangan, namun dia selalu bilang, apakah sebagai seorang penulis kita akan terus menerus mewariskan citra bahwa penulis itu miskin, serba kekurangan, dan tidak punya apa-apa? Hingga akhirnya, akan selalu ada orang yang ragu untuk jadi penulis di negara kita ini. 

Saya juga punya seorang kawan, dia tidak menulis dulu sebelum tabungannya cukup. Dia tidak ingin terganggu dengan uang saat menulis. Akhirnya, dia mencoba menyisihkan pendapatannya lalu berharap suatu saat dia akan menulis dengan bebas dan tenang karena ada tabungan yang cukup. Seperti itulah, setiap orang akan punya caranya masing-masing untuk melihat dunia kepenulisan ini. 

Saat membaca İstanbul: Hatıralar ve Şehir (Istanbul: Kenangan dan Kota) karya Orhan Pamuk, kita juga bisa melihat bagaimana kondisi seorang peraih nobel tahun 2006 itu dalam memilih jalannya sebagai penulis. Meski memoar ini tidak sepenuhnya berbicara tentang penulis, namun di bagian akhir kita akan melihat pergulatan Pamuk melawan dirinya sendiri untuk menghadapi dan menentukan pilihannya. Sebelum menjadi penulis, ada beberapa rintangan yang harus dia hadapi, mulai dari tuntutan ibunya agar Pamuk menjadi arsitek, keinginannya untuk menjadi pelukis, hingga akhirnya tiba pada keinginan menjadi seorang penulis. 

Beruntungnya juga, Pamuk memiliki seorang ayah yang gemar dengan buku. Ayahnya memiliki koleksi lebih dari 1.500 jilid di perpustakaan pribadinya. Buku-buku itulah yang kemudian membantu Pamuk dalam membentuk dirinya menjadi seorang penulis. Dengan buku-buku itulah dia mengurung diri dan memaknai kesunyiaan sebagai sesuatu yang membawanya ke dalam dunia yang memberikannya banyak hal. Pamuk menceritakan sepenggal kisahnya itu dalam pidato penerimaan nobelnya yang berjudul “My Father’s Suitcase”.

Dalam pidatonya, Pamuk juga bercerita tentang peran ayahnya yang selalu mendukung keinginannya untuk jadi seorang penulis. Berbeda dengan ibunya yang melarang sekaligus meragukan pendapatan yang akan didapatkan anaknya jika menjadi penulis. Pamuk juga menduga bahwa di masa lalu, ayahnya juga memiliki keinginan untuk menjadi seorang penulis. Namun ada hal yang tidak lakukan ayahnya saat itu, yaitu melawan kesunyiaan dan terus sabar dan tabah menjalani proses menjadi penulis. Di akhir pidatonya, kita akhirnya paham bahwa peran ayah dalam diri dan karir kepenulisan Pamuk begitu besar, dia berutang banyak pada semangat dan perpustakaan milik ayahnya.

Menjadi penulis bagi Pamuk menjadi sebuah pilihan yang ambisius. Dia rela mengurung diri dalam waktu yang lama di perpustakaan untuk membaca buku-buku ayahnya. Kredo menulis Pamuk berasal dari sebuah pepatah Turki yang berbunyi, “Menggali sumur dengan jarum” Baginya, menulis seperti proses menggali sumur dengan jarum. Bagi Pamuk, hal utama seorang penulis bukanlah inspirasi – sebab hal itu tak jelas dari mana datangnya – melainkan kesabaran dan keteguhan. Ditambah dengan kemampuan untuk melawan sunyi, hidup yang biasa-biasa saja, mengurung diri di kamar, menulis dan membaca sebanyak mungkin.

Karir awal Pamuk sebagai penulis novel juga harus mengalami penolakan dari beberapa penerbit. Novel pertamanya, Tuan Cevdet dan Anak-Anaknya, yang tebalnya lebih dari 600 halaman akhirnya terbit pertama kali di tahun 1982, saat usia Pamuk mencapai 30 tahun. Perjalanan yang kemudian membuatnya dikenal oleh banyak orang. 

Rintangan setiap orang tentu berbeda-beda untuk menjadi penulis, namun belajar dari Orhan Pamuk, tentu kita bisa sepakat bahwa menjadi penulis bukanlah sesuatu yang mudah. Tidak jarang, ada orang yang berjuang namun akan berakhir pada kebuntuan dan tidak mengalami kesuksesan seperti yang diharapkan. Jarak untuk mengatakan “saya ingin jadi penulis” dan “saya ingin berhenti jadi penulis” tampaknya sangatlah dekat.*

Puisi yang tak Pernah Lahir - Dedi Tarhedi

ADMIN SASTRAMEDIA 1/09/2022
Dedi Tarhedi 
PUISI YANG TAK PERNAH LAHIR


Sepertinya dia sudah menyerah,
kalah oleh puisinya sendiri. 

Dia terus mencoba menjinakkan kata-kata. 
Tapi tak bisa serta merta. Karena
baitnya terlalu rumit. 

Dirinya sendiri tak paham arahnya
ke mana. Sering diksinya basi karena telah ditulis ribuan kali.

Lalu bagaimana? dia menghapus puisinya.
"Ingin kubuat sebuah puisi yang beda," tekadnya.

Tapi tentang apa? dia berpikir

Dia belum menulis selarik pun. Dia ingin 
puisi yang terbaik. 

Atau yang heroik? tentang seorang ibu 
yang 
berjuang sendiri. Memberi makan 
tiga anaknya di tengah pandemi. 

Tapi dia menggelengkan kepala. 

Dia ingin puisinya lebih heroik dari itu. 
Lebih romantis dari puisi Sapardi 'Hujan di Bulan Juni', 
lebih flamboyan dari 'Surat Cinta'-nya Rendra pada Sunarti.
Atau lebih lucu dari puisi Joko Pinurbo. 

Duh, semua sudah ada. Dia ingin yang beda. 

Bagaimana kalau tentang fisika, kimia atau
matematika? Dia terkejut dengan idenya. Tapi
bagaimana menuliskan sesuatu yang tidak dikuasai? 

Dia pun menggelengkan kepala. 

Atau puisi khusus tentang binatang?
Atau hanya tentang pohon?

Tapi dia menggelengkan kepala.

Dia terus menggelengkan kepala. 

Dia terus berpikir.
Dan puisinya tak pernah lahir.

1210021

Coromorphosa - Juli Prasetya

ADMIN SASTRAMEDIA 1/09/2022

Coromorphosa

Juli Prasetya



Setelah memakan lembaran buku filsafat Heidegger Being & Time cetakan ke 19 dan Of Gramatology Derrida cetakan 21. Tumin Coro, rayap bertubuh kecil berwarna coklat dengan punggung mengkilap dan kaki cacat, mulai mengaktivasi otak kecilnya untuk mencerna kertas yang dimakannya menjadi semacam ilmu pengetahuan bagi dirinya sendiri. 

“Segala sesuatu di dunia ini adalah teks, yang memiliki beragam makna yang tak pernah final dan selesai” kata Tumin Coro mengutip kata-kata Derrida dan Kristeva.

Di Gorong Bana Timur, kampung halamannya, Tumin merupakan satu-satunya rayap yang dapat berpikir layaknya seorang manusia yang berkebudayaan dan berkeadaban. Yang membedakan Tumin dengan ilmuwan hanya satu: tubuh rayapnya yang cacat dan mengkilap itu.

Pada awalnya,  Tumin seperti rayap-rayap biasa yang lain yang menetas dan kemudian menjadi rayap pekerja yang melayani satu ratu. Dia hidup berkoloni bersama saudara-saudaranya. Sehari-harinya Tumin dan para saudaranya bekerja dengan bergotong royong dalam membangun rumah. Mereka juga  setiap harinya mengkonsumsi serat kayu lapuk, dan renik-renik sampah berumur jutaan tahun yang lalu. 

Sampai kemudian entah ini yang dinamakan nasib baik, atau takdir buruk yang   membawanya ke lapak buku bekas bobrok di Gorong Bana Timur. Dari sinilah awal mula cerita keajaiban itu terjadi.

Pada November yang basah, hujan lebat turun di Gorong Bana Timur, hingga mengakibatkan banjir bandang besar. Saat itu Tumin dan kawan-kawannya terseret banjir, rumahnya hancur dan koloninya habis terbawa arus banjir. Dalam tragedi besar itu hanya beberapa rayap saja yang berhasil menyelamatkan diri, dan Tumin adalah salah satu rayap yang selamat, dan terberkati itu. 

Dengan kondisi basah kuyup kelaparan dan hampir mati disiksa suren. Ia merasa sebuah ajal tengah mengintainya dari dekat. Namun memang keberuntungan Tumin belum habis,  kakinya yang cacat secara mengejutkan menyelamatkan nyawanya, saat terhanyut kaki cacat Tumin secara kebetulan tersangkut  pada ujung kaki meja sehingga membuat tubuhnya terhenti di sebuah lapak buku bekas yang tak terawat, dan itu menyelamatkannya dari banjir yang makin menggila.  

Tumin masih membayangkan rumah yang hancur, kekasihnya yang mati, saudara-saudaranya yang tak pernah kembali, dan terlebih ia tak bisa menyelamatkan ratu satu-satunya di koloni itu. Tapi Tumin menolak untuk mati, dengan sisa-sisa tenaga dan daya hidup yang ia kumpulkan, Tumin kemudian memanjat  meja lapuk di lapak buku bekas itu. Di atas meja lapuk itu ia melihat sebuah buku dengan sampul berwarna hitam dengan lukisan aneh yang telah usang, kertasnya sudah berwarna kuning seperti habis dikencingi kelelawar selama berabad-abad lamanya. Buku tersebut begitu buruk rupa dan seperti teronggok begitu saja di sana. Ketebalannya  sekitar 214 + xxi halaman, buku yang kelihatannya ringkih, tapi sekaligus kokoh karena masih diam di tempat meskipun dihajar banjir. Tanpa pikir panjang, dalam keadaan begitu lapar dan tanpa perasaan berdosa, Tumin memakan buku tersebut dengan lahap, lembar demi lembar. Ia akan mengingat seumur hidupnya rasa lezat yang ia cecap dari buku yang pertama kali ia makan itu, dan akan membawa ingatan, perasaan, dan penyesalan  itu hingga akhir hayatnya kelak.

Semenjak memakan buku usang kekuningan dengan aroma khas kencing kelelawar di  lapak buku lawas itu. Dari sinilah awal mula petualangan Tumin sang rayap Cendekia itu dimulai. Untuk pertama kalinya secara ajaib buku tersebut mengaktivasi otak dan hati kecil Tumin Coro, sehingga sejak saat itu ia tiba-tiba saja selain bisa mencerna ilmu pengetahuan dari dalam buku yang ia makan,  ia juga bisa menangis, bisa mengekspresikan kesedihan sekaligus keharuan dengan air mata. Namun di kemudian hari  dia menyesal, merasa  tolol, dan merasa berdosa karena ia memakan buku yang akhirnya ia tahu judulnya adalah Lapar karangan Knut Hamsun, dan ia memakan buku itu dalam keadaan kelaparan sama seperti judul buku tersebut. 

Dan yang makin membuatnya sedih, menyesal, sekaligus terharu sebenarnya karena  ia merasa memakan sebuah buku dari sebuah lapak buku bekas bobrok yang mungkin buku-bukunya tak pernah laku. Tumin menduga bahwa pemilik lapak buku bekas tersebut adalah pedagang miskin kelaparan yang hanya bermodalkan kesetiaan dan kecintaannya pada buku-buku.

 Namun di sisi lain Tumin Coro juga merasa beruntung dan terberkati. Ia bersumpah tidak akan pernah melupakan jasa lapak buku bekas lapuk itu, karena telah menyelamatkannya dari kematian dan gelapnya kebodohan, bahkan memberikannya kemampuan yang begitu ajaib : memahami buku-buku yang telah dimamahnya.

 Semenjak saat itulah ia dapat mencerna kertas buku-buku menjadi semacam ilmu pengetahuan yang luar biasa, Tumin seperti mengalami Renaissance kedua. “Berbahagialah ia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengetahuannya sendiri” kata Tumin Coro menirukan tulisan Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia, yang ia makan seminggu lalu. 

Sebagai seekor rayap cendekia, Tumin Coro kemudian membuat jurnal harian, yang isinya adalah pengalaman memakan  buku-buku apa saja yang telah berhasil ia lahap. Di dalam jurnal itu tertulis bagaimana Tumin Coro mengawali karirnya sebagai rayap jenius pelahap segala buku-buku. 

Bulan Pertama setelah Tumin mendapatkan kemampuannya itu, ia berhasil memakan sebagian besar buku-buku seorang pemuda patah hati yang gemar membakar buku. Tumin Coro merasa kasihan dan perlu membantu pemuda yang sedih tersebut, dengan memakan sebagian besar buku-buku berat dan bagus milik si pemuda sedih yang hobi membakar buku itu.  Buku-buku karangan Marcel Proust, A’ la Recherche du Temps Perdu yang berisi tujuh volume yang menganalisis tentang kenangan secara radikal, lalu buku-buku karangan Marquez, Ishiguro, Murakami, Marx, Hemingway, Camus, Borges, Sallinger, Eka, dan Mahfud.  Tumin Coro melahap 17 buku dalam waktu 1 Bulan. “Daripada dibakar lebih baik dimakan kan” kata Tumin Coro pongah. Setelah memakan berbagai jenis buku dengan berbagai sembarang judul. Ia jadi paham bahwa dari segala buku yang telah ia lahap memang ada karya yang bagus dan busuk. 

Setelah menikmati masa-masa Aufklarungnya itu Tumin coro berjanji kepada dirinya sendiri, ia hanya akan memakan buku-buku dari orang-orang penimbun buku tapi tak pernah membacanya, orang-orang yang memperlakukan buku dengan semena-mena, orang yang kurang ajar dengan buku-buku, dan perpustakaan besar di kota yang berisi banyak buku-buku, tapi sepi pengunjung. “Daripada buku-buku itu tidak dibaca dan diperlakukan secara kurang ajar, bukankah lebih baik buku-buku itu aku makan” kata Tumin Coro suatu hari 

Sampai kemudian pada suatu sore yang murung, peristiwa itu terjadi, peristiwa yang menjadi titik balik Tumin Coro untuk mendekonstruksi lagi pikirannya sebagai seekor rayap jenius.  Sore yang malang itu, Tumin pergi ke tempat seorang pria kaya penggila buku dengan perpustakaan besar rapih dan harum di Perumahan Elit Gorong Bana Timur. Kali ini ia memberanikan diri untuk masuk ke sana. Sesampai di dalam perpustakaan, ia melihat rak-rak buku besar yang terjajar rapih di tempat yang begitu luas sekali, buku-buku di perpustakaan itu juga sangat banyak koleksinya, Tumin berjalan perlahan dan mengendap layaknya seekor rayap mata-mata yang terlatih. Ia  melihat sebuah buku agak tebal, nama penulisnya sendiri ia tak kenal, sampul buku itu agak kabur. Namun yang mengherankan adalah buku itu diperlakukan dengan aneh. Buku tersebut ditempatkan di tempat istimewa  dalam ruang perpustakaan, dengan dibingkai dengan emas 24 karat. Menyadari bahwa buku bukanlah pajangan semata, maka tanpa basa-basi Tumin Coro yang sudah berpengalaman memakan berbagai macam jenis buku, dengan rasa penasaran ingin memakan buku yang menurutnya sangat misterius itu.  Dengan usaha yang sangat keras, akhirnya Tumin berhasil menjatuhkan buku itu dari bingkai emas yang melindunginya dan  pecah seketika. 

Suara keras dari pecahan bingkai itu kemudian didengar oleh pemilik rumah, dan dengan terburu-buru, Tumin Coro memamah sedikit lembaran kertas yang memiliki warna dan bau yang aneh itu. Tumin memahnya, ia merasa rasa kertasnya sangat aneh, ia merasa mual bahkan muak melebihi kemuakannya pada buku paling busuk yang pernah ia makan, rasanya sangat berbeda, rasanya lebih menjijikan dari air tuba. 

Saat selesai mengunyah, sebuah pengetahuan kemudian masuk ke dalam otak kecilnya, kali ini insting Tumin merasakan perasaan tidak enak.  Ia kemudian membuka halaman pertama dan membaca buku yang baru saja ia mamah.

“Ketika Gergor Samsat terbangun di suatu pagi dari mimpi buruknya, di atas tempat tidurnya, ia mendapati dirinya telah berubah menjadi seekor bangsat raksasa” 

Sesaat setelah membaca kalimat pembuka itu, tiba-tiba keringat dingin muncul di sekujur tubuhnya, raut wajah Tumin juga  berubah drastis, ada sebuah raut wajah rayap cacat yang tak terjelaskan di sana. Ia begitu menyesal setelah menyadari bahwa buku yang dimamahnya itu adalah sebuah buku novel yang berjudul Bangsatmorfosis, novel yang menceritakan tentang  sejarah evolusi tak sempurna leluhurnya, Gergor Samsat. Sesaat sebelum berubah menjadi kutu busuk raksasa.   

Setelah memahami rangkaian kesadaran itu, Tumin Coro dengan perasaan campur aduk tiba-tiba saja bermetamorfosis, ia kini memiliki sayap coklat transparan di punggungnya. Tumin terbang meninggalkan perpustakaan mewah itu, ia keluar melalui jendela, menuju lampu jalan yang temaram. Ia mengitari lampu jalan itu dengan perasaan sedih, lamat-lamat ia juga melihat langit malam yang dipenuhi dengan bintang-bintang sambil menangis, pikirannya menjadi tak karuan, dan perasaannya tetap campur aduk tidak bisa tenang. Ada sesuatu yang mengganjal di pedalamannya, selain penyesalan karena memakan buku yang menceritakan tentang sejarah leluhurnya itu: amarah. 

Ia merasa semua pengetahuan yang ia dapatkan dari memamah buku demi buku selama ini satu persatu rontok. Ia merasa menjadi makhluk yang paling tolol di muka bumi, dan kelak jika ada kehidupan kedua ia ingin sekali dilahirkan menjadi batu atau sempak bekas yang sudah tak terpakai. Tumin lalu menarik napas dalam-dalam dan sedetik  kemudian  ia mengumpat sejadi-jadinya.

“Bangsat!!!  Buku bajakan bangsat!!!” 


Purbadana, 2020-2021

Variasi Blues Minor I - Laju Ambulans - Irzi

ADMIN SASTRAMEDIA 1/09/2022
IRZI 
VARIASI BLUES MINOR I - LAJU AMBULANS




Stop pak!, Tetapi kami tak punya bakat
  Membunyikan klakson sepanjang empat harakat
 —linu, linu, linu...
 
Baik Suzuki Carry maupun Toyota Camry
Berpelat merah sekalipun, beri kami jalan bila
Tak mau mampir ke ketok-magic, lima
Menit berselang. Terbakar sudah tiga ribu kalori
 
Sebab ada mayat pejabat tanpa kepala
Yang kami bawa: beliau wafat akibat terpeleset
Jatuh ke dalam parit tiga meter dalam rangka
Inspeksi mendadak pemberlakuan pembatasan kegiatan 
 
Masyarakat kala senja di seberang 
Istana yang kepala
  Dan negaranya hilang entah kemana
 —ngilu, ngilu, ngilu...
 
Lanjut pak!, karena kami tak ada protap
  Menyuarakan sirine setinggi tiga oktaf
 —halu, halu, halu...
 
Karena hidup ibarat putaran setir ambulans
Sekali waktu mesti banting ke kanan
 
Guna menghindar dari kejaran gerombolan pasilan
Juga banting ke kiri supaya wawas diri dari 
Infeksi leproseri di seluruh negeri.

2021

Perempuan yang di dalam Dadanya Terdapat Aksara Tuhan - Litalia Putri

ADMIN SASTRAMEDIA 1/09/2022
Litalia Putri 
Perempuan yang di dalam Dadanya Terdapat Aksara Tuhan 
Terinspirasi dari buku “Struggle To Be Sun Again – Chung Hyun Kyung



Berkali-kali 
dia, 

Perempuan yang di dalam dadanya terdapat aksara Tuhan, menengadahkan muka ke dasar kata. Menenggelamkan sunyi dalam gegap tatap berpasang-pasang mata. 

Di dalam dunia yang penuh dengan aroma kegagahan ini, 
peluh dan perih sayat luka terpatri dalam bingkai norma – yang tak seharusnya tetap ada. 

Berkali-kali 
dia, 

Perempuan yang di dalam dadanya terdapat aksara Tuhan, terkungkung dalam balutan kain penutup kepala. 
Sebab aturan telah merebut kuasa atas tubuhnya. 

Berkali-kali 
dia, 

Perempuan yang di dalam dadanya terdapat aksara Tuhan, tersangkut dalam keterikatan kuasa yang jauh dari leluasa. 

Benarkah kebebasan tak perlu mengisyaratkan apa-apa? 


Yogyakarta, 09/09/2020

SAJAK