Terkini

Laporan Pertanggungjawaban Juri Sayembara Buku Puisi HPI 2018

12/30/2018 Add Comment
oleh Dewan Juri


Antologi puisi adalah sebuah buku yang menghimpun sejumlah puisi, baik karya seorang individu, maupun karya bersama individu lain. Bagi seseorang yang bergulat di dunia puisi, antologi puisi karyanya sendiri adalah capaian, bukti profesionalitas, dan dokumen sekaligus rekaman gagasannya yang wujud dalam bentuk buku puisi. Diandaikan, bahwa setelah sekian lama berkiprah, meski bersifat relatif, buku antologi puisi itu dapat dikatakan sebagai prestasi, wujud keberhasilan dan otentisitas perjuangannya dalam arena perpuisian. Ia hadir sebagai anak kandung kreativitas, sebagai ekspresi evaluatif pergulatannya di bidang puisi. 

Mengingat puisi merupakan buah kreativitas yang di dalanya berbagai gagasan diwujudkan melalui medium bahasa, maka puisi sering kali memunculkan pemikiran yang tidak terduga. Sejarah telah mencatat, betapa besarnya sumbangan puisi bagi bangsa dan negara ini. Dikatakan Sutardji Calzoum Bachri, “Jika tidak karena puisi (: Sumpah Pemuda), ‘tidak akan ada’ bangsa ini.” Oleh karena itu, puisi mestinya mendapat apresiasi dan penghargaan yang pantas dan sepatutnya. Itulah salah satu dasar pemikiran diselenggarakannya “Sayembara Buku Puisi”, yaitu menempatkan puisi secara terhormat, bermartabat, dan bermarwah.

Pertanyaannya: puisi yang bagaimana yang perlu mendapat penghormatan dan penghargaan yang bergengsi? Apakah puisi sebagai buah kreativitas itu menawarkan sesuatu, menyuguhkan hal yang baru, orisinal, dan tampil memberi inspirasi lantaran kesungguhannya melakukan eksplorasi potensi bahasa sebagai medium puisi? Lalu, bagaimana pula model estetik yang (mungkin) hendak diburu, diraih, dan dilesapkan dalam larik-larik puisinya. Atau, apakah ia hadir sekadar wujud sebagai buku puisi pada umumnya: terlalu biasa, artifisial, sekadarnya, dan hanya menambah jumlah deretan nama belaka tanpa kelebihan apa pun? Atau lagi, apakah puisi-puisinya terjebak pada kegenitan bermain-main dengan bahasa yang penuh busa dan asyik-masyuk dengan dirinya sendiri, sehingga berada dalam dua wilayah yang seperti bertolak belakang: terlalu gamblang dan mendayu-dayu atau berada di lorong gelap?

Untuk menjawab beberapa pertanyaan itu, diperlukan sikap inklusif—membuka diri agar kita punya kesempatan memasuki tubuh puisi. Dengan begitu, kita (: pembaca) dapat menentukan semacam alat ukur dan model kriteria yang tepat memasuki wilayah penilaian. Ada anggapan, bahwa setiap karya pada dasarnya khas, unik, dan berbeda dengan karya lain, maka penilaian terhadap karya sastra seyogianya berdasarkan model kriteria yang sesuai dengan karakteristik dan kekayaan teks yang bersangkutan. Oleh karena itu, model kriteria yang dipakai sebagai alat ukurnya mesti mencakupi keseluruhan elemen yang membangun puisi atau karya sastra pada umumnya. 

Sebagaimana juga ketika kita hendak menilai sebuah bangunan rumah, misalnya, kita dapat menilai kelebihan dan kekurangan bangunan rumah itu melalui arsitekturanya, bahan-bahan materialnya, komposisi ruangannya, dan seterusnya, dan seterusnya. Contoh lain dapat kita ambil lewat analogi sebuah kendaraan: apakah desainnya sesuai dengan jenis kendaraannya, dengan kekuatan mesinnya, dengan ukuran rodanya, dan seterusnya dan seterusnya.

Begitulah, kriteria digunakan untuk melakukan penilaian terhadap puisi secara objektif. Meskipun bersifat umum, dalam implementasinya ia menyentuh persoalan kelebihan dan kekurangan, keunikan atau kekhasan, yang pada gilirannya berdasarkan kriteria yang ditetapan, kita dapat menunjukkan keberbedaan karya yang satu dengan karya yang lain. Adapun kriteria yang dimaksud adalah sebagai berikut:

(1) Keterbacaan (legibilitas)
(2) Kepaduan (koherensi)
(3) Kedalaman (kompleksitas)
(4) Kebaruan (inovasi)
(5) Keaslian (orinalitas)

Kriteria tersebut sebenarnya bersifat umum. Artinya, mereka dapat digunakan juga untuk menilai karya sastra ragam apa pun (puisi, novel, cerpen, atau drama). Bukankah karya sastra yang baik—dan sebaik-baiknya—menuntut atau mensyaratkan adanya kelima kriteria itu? Meskipun dalam praktiknya kelima kriteria itu diterapkan secara berbeda pada masing-masing ragam sastra, mereka tetap saja dapat menjadi alat ukur untuk menentukan keberhasilan atau kegagalan, kelebihan atau kekurangan karya tersebut. Jadi, dengan dasar kriteria itulah, Dewan Juri menentukan pilihannya.

Proses Penjurian

Proses penjurian dalam Sayembara Buku Puisi Yayasan Hari Puisi dilakukan melalui tiga tahap.

Pertama, penentuan lolos masalah administrasi. Pada tahap ini, panitia sayembara memeriksa perkara yang berkaitan dengan persyaratan administrasi yang menyangkut ketentuan: (1) jumlah buku yang dikirim, (2) tahun penerbitan, (3) kebenaran nomor ISBN, (4) tidak (belum) pernah mendapat penghargaan sayembara dari lembaga atau institusi lain, (5) tidak sedang diikutkan sayembara lain, (6) antologi tunggal, bukan antologi bersama, (7) antologi puisi, tidak digabungkan dengan cerpen atau esai, (8) antologi puisi dalam bahasa Indonesia, tidak dwibahasa, (9) tidak ada kata pengantar juri.

Kedua, semua buku yang memenuhi syarat administrasi itu, secara bertahap dikirim ke dewan juri. Pengiriman secara bertahap ini memberi kesempatan dewan juri untuk memeriksa dan menilai setiap buku puisi dengan seksama. Jadi, sejak tanggal sayembara ini dimulai, panitia akan mengirimkan buku-buku puisi kepada dewan juri. Dengan begitu, dewan juri sudah memulai tugasnya sejak tanggal dibukanya sayembara ini sampai dewan juri melakukan rapat untuk menentukan para pemenang. 

Pada tahap ini, setiap juri memilih 10—20 buku puisi yang dinilai memenuhi kriteria sebagai nomine. Paling lambat 10 hari atau seminggu sebelum pengumuman nomine, dewan juri melakukan rapat bersama. Masing-masing kemudian mengajukan daftar 10—20 judul buku. Setelah daftar 10-20 judul buku dari masing-masing juri direkapitulasi, hasilnya adalah sebagai berikut: (1) buku yang sama dipilih tiga juri, (2) buku yang sama dipilih dua juri, (3) buku yang berbeda dipilih masing-masing juri. 

Untuk buku yang dipilih oleh tiga juri, secara otomatis masuk nomine. Untuk buku yang dipilih dua juri, juri yang tidak memilih buku tersebut diberi kesempatan menyampaikan argumen penolakannya. Jika argumentasinya hanya diterima salah seorang juri, buku yang bersangkutan dipertimbangkan untuk tidak masuk nomine. Sebaliknya, jika dua juri yang memilih buku tersebut dapat meyakinkan juri yang menolak tadi, kemudian menyetujui pilihan kedua juri, buku tersebut masuk nomine. 

Untuk buku yang hanya dipilih oleh satu juri, juri yang memilih buku tersebut juga diberi kesempatan untuk menyampaikan alasannya. Jika salah seorang juri tetap pada penilaiannya untuk tidak memasukkan buku tersebut sebagai nomine, buku tersebut tidak dapat dimasukkan ke daftar nomine. Prinsipnya, buku-buku yang masuk nomine, disetujui ketiga juri.

Ketiga, dengan berpegang pada daftar nomine buku yang dipilih tiga juri, jika jumlahnya lebih dari 20 buku, tahap selanjutnya diseleksi lagi menjadi 20 buku nomine. 

Dari 20 buku nomine itu, dipilih lagi enam buku yang dinilai berhak mendapat hadiah. 
Dari enam buku yang dinilai berhak mendapat hadiah, dipilih lagi satu buku yang pantas mendapat predikat Buku Puisi Terbaik Anugerah Hari Puisi Indonesia. Kelima buku yang lainnya masuk kategori Buku Puisi Pilihan. Adapun ke-14 buku yang tersisih, sebagai bentuk apresiasi, diberi predikat Buku Puisi Terpuji.

Demikian, dari ke-20 buku puisi itu, Dewan Juri memutuskan dan membaginya ke dalam tiga kategori: 

(1) Empat Belas Buku Puisi Terpuji Anugerah Hari Puisi Indonesia.
(2) Lima Buku Puisi Pilihan Anugerah Hari Puisi Indonesia.
(3) Satu Buku Puisi Terbaik Anugerah Hari Puisi Indonesia.

Dalam setiap tahapan pemilihan buku itu, masing-masing juri menyampaikan berbagai pertimbangan argumen penolakan dan persetujuannya. Prinsip wajib dipilih ketiga juri tetap menjadi dasar utama, meski harus melalui serangkaian perdebatan.

Kriteria Penilaian

Secara keseluruhan buku puisi yang mengikuti Sayembara Buku Puisi Anugerah Hari Puisi Indonesia menunjukkan kesungguhan penyairnya dalam mendesain, menyusun, dan menampilkan karyanya. Secara fisik, hampir semua buku puisi itu tidak mengesankan asal terbit atau sekadar tampil sebagai buku puisi. Dalam konteks ini, ada kesadaran dalam diri para penyairnya sendiri, bahwa buku puisinya merupakan anak kandung kreativitasnya yang mesti tampil meyakinkan: judul, pilihan huruf, desain cover, ilustrasi, penataan atau susunan puisi, dan segala ihwal bentuk fisik, sangat menarik. Jadi ada keseriusan penyair dalam proses penerbitan buku puisinya.


Meskipun demikian, titik tekan penilaian Sayembara Buku Puisi Anugerah Hari Puisi Indonesia adalah puisinya itu sendiri, tidak di luar perkara itu. Maka, objek penilaian yang utama adalah keseluruhan puisi yang terhimpun dalam buku sebagai satu kesatuan. Berdasarkan pertimbangan tersebut dan dengan menggunakan kriteria atau parameter sebagaimana yang sudah disinggung di atas, penilaian dilakukan dengan memusatkan perhatian pada aspek kesatuan tematik, keterpaduan, dan kekuatan stilistika. Apakah ketiga aspek untuk memperlihatkan capaian estetik? Jawaban pertanyaan itulah yang coba dicari dewan juri dalam Sayembara Buku Puisi Anugerah Hari Puisi Indonesia.

Berikut disampaikan ketiga aspek yang muaranya jatuh pada capaian estetik.
Pertama, secara tematik puisi-puisi yang terhimpun menunjukkan satu wacana tertentu yang disampaikan dengan kesadaran pada konsep estetik. Jadi, buku puisi itu tidak cuma berisi sekumpulan puisi dengan berbagai tema dan cara pengucapannya, melainkan hadirnya sebuah wacana –atau tema besar—yang disampaikan dengan estetika puisi yang menggunakan media bahasa. Eksplorasi pada kekuatan bahasa yang kemudian menghasilkan metafora, paradoks, atau sarana puitik lainnya merupakan hal yang penting dalam penciptaan puisi. Dengan demikian, eksplorasi bahasa itu dapat mengangkat sebuah kata, atau kalimat, atau ungkapan dengan berbagai kekayaan maknanya. 

Kedua, kriteria lainnya yang menjadi dasar penilaian menyangkut keberkaitan dan keutuhan buku puisi itu dalam menyampaikan tema-tema puisinya. Bisa saja buku itu menghimpun berbagai tema, tetapi semuanya diikat oleh benang merah yang menghubungkan tema puisi yang satu dengan tema puisi yang lainnya. Jadi, meskipun tema yang diangkat berbagai-bagai, keseluruhannya membangun kepaduan atau koherensi. Adanya keberkaitan dan keutuhan itulah yang memungkinkan tema apa pun yang diangkat dalam sebuah buku puisi, ia tetap akan hadir sebagai totalitas, sebagai keseluruhan. Dengan begitu, buku puisi itu tidak hanya menunjukkan kekayaan tematik yang diangkat berdasarkan pengalaman sosial atau spiritual penyairnya, tetapi sekaligus juga menunjukkan kepiawaian penyairnya dalam memanfaatkan dan mengelola berbagai bahan itu menjadi puisi yang sebaik-baiknya puisi.

Ketiga, gaya pengucapan atau style dalam sebuah buku puisi sebenarnya merupakan ekspresi dan representasi kematangan estetik yang ditumpahkan penyair dari suatu fase proses kreatif kepenyairannya. Dalam fase tertentu, mungkin penyair gegar pada peristiwa bencana alam mahadahsyat yang tanpa disadarinya menggiring kegelisahannya untuk menumpahkannya dalam bentuk puisi. Tentu stylenya akan berbeda ketika penyair itu berhadapan kehidupan serbatenang manakala ia merenung di hutan atau di pesawahan. Mungkin juga ada kegelisahan masa lalu atas puaknya sendiri, masyarakat sekelilingnya atau bangsanya. Begitulah, kemampuan gaya pengucapan dan kekayaan style seorang penyair dapat terlihat sebagai sebuah fase proses kreatif yang sekian lama mengendap sebagai kegelisahan penyair. Style ini pada akhirnya akan menjadi kekhasan, gaya stilistika yang menjadi trade mark, ciri khas, karakteristik penyair yang bersangkutan. Kekhasan karakteristik itu biasa nempel begitu saja pada para penyair yang sudah matang. Mereka sudah teruji melalui pengalaman jam terbangnya yang sekian lama dan sudah malang-melintang dalam perjalanan kepenyairannya. Mereka tidak perlu lagi mencari-cari bentuk. 
Berdasarkan pemikiran tersebut di atas, dewan juri memilih dan menetapkan lima Buku Puisi Pilihan Anugerah Hari Puisi Indonesia berikut ini (disusun secara alfabetis berdasarkan nama penyairnya).

1. Damiri Mahmud, Halakah Panggang, Medan: Obelia Publisher, Juli 2018, xi + 95 halaman.
2. Fakhrunnas MA Jabbar, Air Mata Batu, Yogyakarta: Basa Basi, Oktober 2017, 164 halaman.
3. Iman Budhi Santosa, Belajar Membaca Peta Buta, Yogyakarta: Interlude, Agustus 2018, vii + 79 halaman.
4. Sosiawan Leak, Sajak Hoax, Yogyakarta: Elmatera, Februari 2018, viii + 177 halaman.
5. Warih Wisatsana, Kota Kita, Denpasar: Yayasan Sehati, Agustus 2018, 116 halaman.

Secara umum kelima buku puisi tersebut di atas menegaskan kemampuan penyairnya dalam mengolah dunia persekitaran tentang perikehidupan dan fenomena sosial, pergerakan dan perkembangan budaya, sejarah dan tradisi masa lalu sebagai sumber inspirasi. Jadi, puisi yang dihadirkan para penyair itu, tidaklah datang dari kekosongan, juga tidak perlu jauh-jauh mengambil inspirasi dari dunia di entah-berantah. Kehidupan masyarakat di sekeliling, sejarah masa lalu, bahasa yang berkeliaran di hadapan, masa kanak-kanak, pengalaman perjalanan, atau apa pun adalah bahan dan sumber puisi. Persoalannya tinggal, bagaimana semua bahan yang bertebaran itu diolah, dikemas, dan disajikan kembali dalam serangkaian puisi yang menjelmakan sebuah wacana tertentu.

Kekuatan lain yang menonjol dari kelima buku puisi itu adalah kemampuan merevitalisasi tradisi budaya masa lalu. Petatah-petitih, peribahasa atau ungkapan-ungkapan yang hidup di masyarakat adalah model ekspresi yang dalam genggaman kreativitas penyair, jadi terasa lebih segar dan kontekstual. Sesungguhnya cara demikian merupakan bagian dari penggalian kekuatan dan kekayaan bahasa. Jadi, ada semacam pergerakan metamorfosis bahasa yang melahirkan bentuk lain yang lebih kreatif. Kosa kata masa lalu, idiom yang sudah terkubur lama atau bahasa sehari-hari yang muncul dari kalangan rakyat biasa, pedagang di pasar atau orang-orang pinggiran adalah juga bagian dari kekayaan bahasa kita. Ketika kata-kata itu dilesapkan secara tepat dalam larik-larik puisi, mereka seperti hidup kembali dengan ruh baru. Begitulah, kemampuan untuk menghidupkan kembali itu hanya mungkin dapat dilakukan oleh penyair yang punya kesadaran untuk mengeksplorasi potensi bahasa.

Tentu saja uraian selintasan ini belum mengungkapkan banyak hal atas kekuatan dan kedalaman makna yang terkandung dalam kelima buku puisi itu. Meski demikian, setidak-tidaknya, uraian ringkas ini dapat digunakan sebagai sinyal dasar argumen pertanggungjawaban dewan juri. 

Akhirnya, sampai juga pertanggungjawaban dewan juri pada Buku Puisi Terbaik Anugerah Hari Puisi Indonesia 2018 yang jatuh pada:

Dheni Kurnia, Bunatin (Jakarta: Mata Aksara, Agustus 2018, xxx + 206 halaman).

Bunatin tampil sebagai antologi puisi yang menegaskan bahwa puisi kerap memancarkan mukjizatnya. Kehadirannya sebagai buku yang menghimpun sejumlah puisi tidak datang dari ruang kosong, melainkan melalui proses panjang kegelisahan penyairnya tentang masa lalu, tradisi, dan kebudayaan yang telah melahirkan dan membesarkannya. Ia menjadi sumber, sekaligus muara ketika masa lalu dengan segala tradisi dan kebudayaannya itu dimaknai dalam konteks masa kini. Dan puisi yang menjadi alat ucapnya seperti aliran sungai yang bercabang-cabang, tetapi datang dari satu sumber mata air, lalu berlabuh pada satu muara. Maka, dalam perspektif masa kini, Bunatin sebagai simbol masa lalu yang terus berkelindan dalam proses perjalanan kehidupan penyair, bisa hadir menyusup sebagai realitas sosial, melayang-layang sebagai bayangan, atau wujud sebagai harapan yang tak kesampaian.

Kelebihan dan kekuatan antologi itu, tidak berhenti pada kemampuan penyair mengangkat dan menerjemahkan sensasi masa lalu atau usaha menggali dasar kehidupan tempat penyair berasal, melainkan pada keterampilannya mengeksploitasi kekayaan khazanah seni bahasa dalam tradisi lisan menjadi puisi yang sesuai dengan tuntutan zaman. Permainan sarana puitik dalam antologi Bunatin ini, tidak hanya menjadi sumber kekuatan dan kedalaman puisi-puisi Dheni, melainkan juga menegaskan kecerdasan penyairnya dalam memperkaya daya ucap perpuisian Indonesia. Mantra, syair, pantun, bidal, petatah-petitih, dan segala bentuk ekspresi dalam tradisi lisan, menjelma puisi yang menawarkan pemerkayaan bahasa Indonesia.

Ada sedikitnya tiga hal yang boleh dikatakan sebagai sumbangan penting antologi ini, yaitu: (1) Revitalisasi tradisi sebagai sumber kekayaan sastra dan bahasa Indonesia. Lewat antologi itu, sastra (: puisi) Indonesia seperti diingatkan kembali pada kekayaan masa lalunya. Mengingat medium puisi tidak lain adalah bahasa (Indonesia), maka antologi ini laksana menegaskan kembali kualitas bahasa (Indonesia) yang pada dasarnya inklusif, luwes, dan lentur. (2) Eksploitasi bahasa yang hidup di masyarakat masa lalu penyair, berhasil dilesapkan dalam ekspresi puisi yang mengangkat problem masyarakat masa kini. Ia tidak wujud sebagai tempelan, melainkan sebagai kekhasan stilistika yang membangun kekayaan sarana puitik menjadi lebih berbagai. Sebagai sebuah totalitas, antologi puisi ini dapat dimasuki lewat segala arah. (3) Kemampuan menghadirkan dimensi waktu yang berkaitan dengan ruh budaya sebagai permainan tematik, sehingga menjadi sebuah wacana kultural.

Meski uraian ini terlalu ringkas, setidak-tidaknya ia dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan pilihan dewan juri menempatkan antologi puisi Bunatin sebagai Buku Puisi Terbaik Anugerah Hari Puisi Indonesia 2018.

Bagaimanapun, keputusan dewan juri tentulah tidak dapat memuaskan semua pihak. Apalagi dalam perkara puisi yang di sana terbuka peluang menghadirkan tafsir lain dengan penilaian yang juga akan lain. Meskipun demikian, pilihan dewan juri tidaklah bertumpu pada subjektivitas. Ada alat ukur yang digunakan. Ada kriteria penilaian yang mendasarinya. Oleh karena itu, apa pun hasilnya, sikap dewan juri dalam memutuskan dan menetapkan pemenang Sayembara Buku Puisi Yayasan Hari Puisi 2018 ini, semata-mata berdasarkan penilaian objektif.

Dalam sejarah kesusastraan Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan sayembara buku puisi atau buku sastra pada umumnya, hanya Sayembara Buku Puisi Yayasan Hari Puisi yang menyampaikan pertanggungjawabannya.

Jakarta, 29 Desember 2018

Atas nama Dewan Juri
Abdul Hadi WM (Ketua merangkap Anggota)
Sutardji Calzoum Bachri (Anggota)
Maman S. Mahayana (Anggota)

Surat untuk Penyair Muda

12/07/2018 Add Comment
oleh Rainer Maria Rilke
(Penerjemah Sutardji Calzoum Bachri dari “Letters to a Young Poet”, Rainer Maria Rilke)


Kau tanyakan, apakah sajak-sajakmu bagus. Kau tanyakan padaku. Sebelumnya kau pun telah bertanya pada yang lain. Kau kirim sajak-sajakmu itu ke berbagai majalah. Kau banding-bandingkan dengan sajak-sajak yang lain. Dan kau pun jadi terganggu ketika ada redaktur yang menolak upayamu itu.

Kini, (karena kau izinkan aku menasihatimu), aku minta kau jangan lagi melakukan semua ikhtiar semacam itu. Kau melihat ke luar, dan dari segala-galanya itulah yang kini harus tidak boleh kau lakukan. Tidak ada orang yang bisa menasihati dan menolongmu, tak seorang pun. Hanya satu-satunya cara yang ada: Pergilah masuk ke dalam dirimu. Temukan sebab atau alasan yang mendorongmu menulis: Perhatikan apakah alasan itu menumbuhkan akar yang ada di dalam ceruk-ceruk hatimu. Bikinlah pengakuan pada dirimu sendiri, apa kau harus mati jika sekiranya kau dilarang menulis.

Pertama-tama tanyakan dirimu dalam ketenangan malam: haruskah aku menulis? Menukiklah ke dalam lubuk dirimu agar kau mendapat jawaban yang dalam. Dan jika jawabannya ya, jika pertanyaan yang khidmat tadi dijawab dengan sederhana dan mantap ”aku harus”,  maka binalah dirimu sesuai dengan keharusan itu. Hidupmu, baik pada saat-saat yang paling remeh dan sepele sekalipun, haruslah merupakan bukti dan kesaksian dari dorongan menulis itu.

Kemudian cobalah dekati alam. Lantas usahakan seakan-akan kau adalah salah seorang dari orang-orang pertama yang mengatakan apa yang kau lihat dan apa yang kau alami, yang kau cintai dan kehilangan-kehilanganmu. Jangan tulis sajak cinta. Jauhi dahulu bentuk-bentuk yang sangat familiar dan biasa itu. Karena bentuk yang semacam itu adalah yang paling sulit.

Di dalam tradisi yang bertaburan dengan karya bagus dan sebagian cemerlang itu, diperlukan kekuatan besar dan penuh dewasa untuk bisa memberi sumbangan individual. Maka, dari tema-tema umum, berpalinglah pada apa yang diberikan oleh kehidupanmu sehari-hari. Lukislah dukacita dan keinginan-keinginanmu. Pikiran-pikiran yang melintas dalam dirimu, dan keyakinanmu dalam suatu keindahan tertentu. Lukiskan semuanya itu dengan sepenuh hati, sungguh-sungguh, rendah hati dan ikhlas. Gunakanlah benda-benda di sekitarmu, imaji-imaji dirimu dan kenangan-kenanganmu untuk mengekspresikan dirimu.

Jika kehidupanmu sehari-hari terasa miskin dan gersang, jangan sesalkan dirimu, katakanlah pada dirimu, kepenyairanmu tidak cukup untuk dapat menggali kekayaan dirimu. Karena bagi setiap pencipta tidak ada kegersangan dan tidak ada tempat yang penting dan gersang. Bahkan jika kau sekiranya berada dalam penjara dengan tembok-temboknya yang menjauhkan kau dari suara dunia, -- bukankah kau tetap masih memiliki masa kanak-kanakmu sebagai gudang khazanah kenangan yang kaya raya? Perhatikanlah itu. Cobalah bangkitkan kembali sensasi-sensasi yang tenggelam dari masa lampau yang jauh itu. Kepribadianmu akan lebih kuat tumbuhnya, kesunyianmu akan berkembang menjadi tempat tinggal yang temaram di mana suara-suara yang lain lewat di kejauhan.

Dan jika dari menengok ke dalam ini, dari menyelam ke dalam ini, dari menyelam ke dalam dunia pribadimu ini, akan muncul sajak-sajak. Tidak usah kau tanyakan pada siapa pun apa sajakmu itu sajak yang baik. Juga tak perlu kau upayakan agar majalah dan koran-koran menaruh perhatian terhadap karya-karyamu itu. Karena karyamu itu adalah milikmu yang sejati dan berharga, suatu bagian dan suara dari kehidupanmu. Suatu karya seni menjadi baik jika tumbuh dari kebutuhan yang wajar. Dari cara ia berasal. Di situlah letaknya. Penilaian yang benar: tidak ada cara lain. Maka, aku tidak bisa memberi nasihat kecuali ini:  pergilah masuk ke dalam dirimu, galilah sampai ke dasar tempat kehidupanmu berasal; pada sumbernya itu, kau akan mendapatkan jawaban apakah kau memang harus mencipta. Dengarkan suaranya, tanpa terlalu cerewet menyimak kata-kata.

Barangkali memang sudah merupakan panggilan bahwa kau harus jadi seniman. Maka terimalah takdirmu itu, tanggungkan naik bebannya maupun kebesarannya, tanpa minta-minta penghargaan dari luar dirimu. Karena seorang pencipta haruslah menjadi sebuah dunia bagi dirinya sendiri, dan menemukan segala-galanya di dalam dirinya sendiri, serta di dalam Alam tempat dirinya berada.

Namun setelah masuk ke dalam diri dan ke dalam kesendirianmu, mungkin kau harus melepaskan keinginanmu untuk menjadi penyair; (bagi saya, seseorang bisa hidup tanpa harus menulis daripada sama sekali berspekulasi untuk itu). Meskipun demikian, upaya memusatkan perhatian ke dalam diri sendiri yang kuanjurkan itu, tidaklah sia-sia. Bagaimanapun juga hidupmu sejak itu akan menemukan jalannya sendiri. dan kuharapkan hidupmu menjadi baik dan kaya serta tinggi pencapaiannya lebih dari apa yang bisa aku ucapkan.

 Apa lagi yang harus kukatakan? Rasanya segala telah mendapat tekanan yang wajar. Akhirnya aku ingin menasihati agar mau menumbuhkan dirimu secara serius. Tidak ada cara yang lebih ganas menghalangi pertumbuhanmu, kecuali dengan melihat ke luar, dan upaya mengharapkan jawaban dari luar, terhadap pertanyaan-pertanyaanmu yang agaknya hanya perasaanmu yang paling dalam dan saat-saatmu yang paling hening bisa menjawabnya”.***

Ajaran Kehidupan Seorang Nenek

12/05/2018 Add Comment
oleh Nh. Dini


JAUH-jauh aku datang, dimulai hari pertama aku sudah mendapat kekecewaan.
“Ibu tidur di kamar Puspa, tapi tidak boleh menggendong dia,” kata anak sulungku.

“Kalau dia terbangun dan menangis?”

“Biarkan saja! Anakku tidak kubiasakan digendong.”

Seolah-olah dia tidak yakin bahwa aku mengerti kata-katanya, anakku mengulangi, nada suaranya terkesan mengancam, “Betul lho, Bu! Jangan sampai begitu Ibu pulang, aku direpoti anak manja dan terlalu minta diperhatikan!”

Barangkali karena kaget, aku terdiam. Bayangkan! Hanya ibuku yang seharusnya berhak berbicara dalam nada seperti itu kepadaku. Aku tersinggung. Semakin umur bertambah, sakit hati semakin sering kualami.

AKU direktris suatu rantai usaha swadaya yang boleh dikatakan sukses. Semua karyawan di tempatku hormat kepada, berbicara nyaris kuanggap berlebihan terlalu sopan bagiku. Di saat-saat mengunjungi perusahaan atau kantor lain, orang-orang menerimaku dengan sikap dan pandang erring[1] yang acapkali membuat aku merasa risi sendiri. Meskipun aku tahu pasti bahwa kelakuan mereka itu didasari pengakuan terhadap kenyataan yang tidak bisa dibantah. Karena selain disebabkan oleh kedudukanku, upayaku pengembanan usaha kami ke lain daerah yang berhasil, lebih-lebih sebagai perempuan aku mampu mengendalikan serta mempertahankan kesuksesan wiraswasta yang ditinggalkan ayahku. Walaupun benar itu “hanya” berupa warisan. Tapi, itu jatuh ke tanganku tidak secara otomatis, dengan cuma-cuma. Aku harus melewati tes di antara empat saudara kandungku.

Dalam sebuah dongeng diceritakan bahwa raja di suatu negeri tidak dapat memutuskan kepada siapa pun dia akan menyerahkan tahtanya. Dia mempunyai empat anak, putra dan putri. Masing-masing berpenampilan cakap, dan sepintas lalu kelihatan berperilaku baik. Namun, sang raja tidak yakin bahwa putra sulungnya yang suka berpesta akan memerintah secara adil sehingga rakyat akan bahagia. Begitu pula dengan putra keduanya. Walaupun pandai berulah senjata, namun kebiasaannya mabuk-mabukan dan berjudi merupakan ancaman besar bagi kelangsungan pemerintahan yang harus didasari kejernihan pikiran dan hati tenang. Anak yang ketiga dan keempat adalah perempuan. Paras cantik, kelakuan lembut, mumpuni dalam mengatur urusan rumah tangga ataupun penerimaan tamu. Keduanya juga sudah diajari dasar-dasar mempergunakan senjata seperlunya sehingga jika bahaya datang, mereka tahu mempertahankan diri atau keraton bahkan kerajaan.

Pendek kata, sang raja kebingungan memilih satu di antara empat anak tersebut. Maka agar tidak menimbulkan kecemburuan, ayah itu menyuruh anak-anaknya mengembara selama kurun waktu tertentu. Selain mereka harus mendapatkan pasangan masing-masing, juga harus pulang membawa tambahan pengetahuan yang bisa digunakan untuk masyarakatnya.

Ayah kami bukan seorang raja, ibuku bukan keturunan bangsawan. Tapi mereka telah membangun satu usaha kecil dari cucuran keringatnya. Sebagai modal, ayahku tidak berutang atau meminjam, melainkan menjual sepedanya. Dari memotong, menjahit dan menjual sendiri sandal-sandal hasil buatannya dari pintu ke pintu calon pembeli, sampai kemudian mempunyai toko. Lalu ibuku menambahkan membikin tas-tas bagor dan aneka anyaman dari bahan alami yang dikeringkan. Selang beberapa waktu, kombinasi dibuat untuk memanfaatkan limbah kulit asli atau sintetis.

Ketika akan menambah karyawan, aku baru lulus sekolah menengah atas. Kukatakan, mengapa tidak mempekerjakan orang-orang sekampung saja di rumah mereka masing-masing. Mereka diberi bahan sebagai pinjaman. Jika hasilnya bagus, kami beli. Setelah diperbaiki atau disempurnakan guna menjaga mutu dan nama baik, kami jual di toko. Itulah asal mula mengapa di kawasan tempat kami tinggal, sekarang terdapat begitu banyak pengrajin sandal, sepatu, dan tas yang terbuat dari aneka bahan. Beberapa tetangga bahkan mencoba pula mendirikan toko. Tapi hingga sekarang, hanya produk kami yang berhasil memiliki tingkat penjualan memadai, bahkan melayani pesanan dari luar negeri.

Kakakku sulung sudah berkeluarga sejak aku masih duduk di SD. Dia bekerja sebagai sopir. Kuliahnya terhenti sebelum tahun pertama selesai. Kakak kedua perempuan lebih berhasil menjadi penjual makanan matang. Suaminya adalah tukang becak. Setelah selesai shalat asar, setiap sore dia menyorong gerobak ke pinggir jalan, ditinggal di sana. Lalu iparku balik lagi sambil mengusung dadangan bersama istrinya. Dengan cara demikian, sekarang dua anak mereka bersekolah di akademi akuntansi dan informatika, yang seorang di kelas tertinggi SMA. Saudara kandung yang tepat di atasku tidak lulus SMP, bekerja di bengkel. Bisa dikatakan hidupnya berhasil karena mampu membeli tiga kendaraan yang disewakan sebagai angkutan. Kadang terdengar berita dia ditipu sopir yang dipekerjakannya. Tapi di depan keluarga, dia tampak tenang saja, selalu mampu mengatasi semua kesulitannya.

Aku sendiri, mungkin karena aku anak perempuan bungsu, maka aku lebih senang bermain dengan limbah apa pun yang terdapat di lantai di ruangan menjahit dan menggunting aneka bahan. Ketika duduk di taman kanak-kanak, aku memberikan sebuah bantalan tempat mencocok jarum berbentuk ikan kepada ibuku. Itu adalah hadiah ulang tahunnya. Sampai sekarang, benda tersebut masih digunakan, mendapat tempat di kotak jahitan ibu kami. Untuk seterusnya, sekolahku aman-aman saja hingga aku mampu menyelesaikan kuliah dan menggondol gelar sarjana ekonomi. Aku sadar bahwa keluargaku sangat bangga dengan pencapaian gelarku tersebut. Apalagi di masa itu belum marak didesuskan orang tentang pembelian ijazah ataupun gelar.

Setelah berunding sekeluarga, kami empat bersaudara dikirim ke seluruh penjuru Tanah Air untuk mencari kemungkinan pengembangan, baik kemitraan ataupun kerja sama di bidang niaga kerajinan. Masing-masing diberi sejumlah uang, dan kami disuruh memilih sendiri ke mana tujuan kami. Setiap hari Kamis harus mencatat semua pengeluaran secara teliti. Seorang dari kami yang dianggap paling berhasil akan menerima tanggung jawab tiga toko bersama atelir pengrajinnya sekalian.

Ternyata kakak-kakakku tidak menggerutu menerima tugas itu. Mereka mempunyai hubungan atau teman bekas sekolah yang tersebar di berbagai kota Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. Bahkan kakakku perempuan, yang kelihatannya tidak keluar dari lingkungannya, langsung berkata akan ke Bandar Lampung, mencari kemungkinan kerja sama dengan sebuah toko di sana. Rupanya hanya diriku yang bingung ke mana harus pergi. Aku tidak begitu pandai bergaul. Bekas teman-teman sekolah atau kuliah tidak ada yang bisa kuandalkan. Selain yang tinggal sekota, tidak kuketahui di mana mereka lainnya menetap.

Setelah berpuasa dan berdoa menuruti ajaran orangtua, aku menetapkan tujuan: Bali. Orangtuaku hanya diam mendengar itu. Kakak-kakakku tertawa atau tersenyum tanpa kuketahui apa maknanya. Di waktu itu, pariwisata baru sayup-sayup menunjukkan pengembangannya. Walaupun di Bali dibikin aneka kerajinan sebagai benda kenang-kenangan, apa salahnya jika kami kirim pula hasil dari Bantul. Siapa tahu dengan keberuntungan dan nasib baik, aku akan menemukan mitra sejajar yang bisa diajak bekerja sama dalam hal pemasaran produk kami.

Wahyu Ilahi ternyata tidak dapat diabaikan. Aku kembali dari perjalananku dua pekan kemudian bersama seorang pemuda. Juga kemungkinan dapat mengirim ratusan mungkin ribuan benda dagangan ke berbagai kios dan toko di Pantai Kuta serta sebuah toko eksklusif di Ubud. Setelah masa tunangan beberapa bulan, aku dinikahi seorang anak pemilik sebuah restoran di Sanur. Menurut adat, lebih dulu aku diangkat menjadi anak oleh seorang pegawai rumah makan itu yang berkasta sudra supaya dapat kawin dengan upacara Hindu Bali.

Kulewati berbagai cobaan yang menggoyahkan keteguhan batinku. Terus terang, gelombang dan alun yang melanda bahtera kehidupanku nyaris meluluhlantakkan ketegaranku. Aku mensyukuri “kebebasan” ibuku sebagai perempuan Jawa dalam mengatur rutinitas keseharian, namun tidak membosankan. Yang dinamakan aturan ini-itu sehubungan dengan tradisi Jawa tidak terlalu mengekang atau menyita waktu.

Terjun bebas tanpa paksaan ke lingkungan tradisi dan rutinitas sehari-hari di Bali, aku hampir kehabisan napas karena kekurangan waktu ataupun ruang gerak. Semua serba upacara. Semua serba penyiapan sesaji. Memang benar aku belajar banyak. Aku menyukai serba-neka ajaran menganyam serta mendekor sesaji. Tapi, aku tidak kuasa hadir di dunia ini hanya untuk melakukan hal-hal tersebut. Tekanan lebih-lebih datang dari mertuaku perempuan. Dia menginginkan aku mengganti kedudukannya kelak sebagai tetua wanita dalam keluarga. Padahal ada dua menantu perempuan lain. Semua impitan keharusan untuk melaksanakan upacara itu membenihkan kerikil-kerikil di dada, hingga pada akhirnya membentuk satu bongkahan yang mengimpit pernapasanku. Untunglah aku masih sadar bahwa aku sedang melayang-layang di ambang stres. Lalu kuputuskan untuk bertindak demi kesehatan rohani dan keutuhan kepribadianku sendiri.

Aku purik[2]. Satu anak perempuan yang sudah sekolah kutinggal, seorang balita dan bayi kubawa. Satu bulan penuh aku berkeras-kepala tidak pulang ke rumah tanggaku.

Akhirnya, suami menjemput dan berkata bahwa ibunya menyetujui semua keinginanku untuk kurang berperan sebagai penyelenggara aneka keperluan tradisi dan upacara. Kukatakan bahwa tidak ada gunanya sekolahku bertahun-tahun jika akhirnya harus hanya mengurusi upacara-upacara yang sebenarnya dapat diserahkan kepada orang lain. Bukannya aku merendahkan ritual tersebut! Waktuku memang untuk keluarga, namun aku juga mempunyai tanggung jawab perusahaan yang di masa itu sudah diserahkan total kepadaku oleh orangtua dan kakak-kakakku. Setiap akhir tahun, mereka tinggal menerima bagian keuntungannya saja.

Pengalaman itu bisa dikatakan ringan jika didengar. Tapi bagi yang menjalani, merupakan tahun-tahun penuh tekanan. Sebab, yang disebut upacara di Bali nyaris terjadi setiap hari setiap saat. Sedangkan perempuan adalah tiang utama bagi pelaksanaan tradisi karena merekalah yang menyiapkan serba uborampe[3]-nya.

Kini di usia yang mendekati enam puluh tahun, aku mendapat ajaran lain, yaitu bagaimana mengendalikan perasaan sebagai seorang nenek. Aku tidak dihadapkan kepada cucuku, melainkan kepada ibu si cucu itu. Anak terkejut. Mentalku tidak siap untuk itu. Di sekolah dan perguruan tinggi aku tidak pernah mendapat pelajaran bagaimana menjadi seorang nenek.

Anak sulungku yang biasanya tidak membantah atau mengguruiku di waktu-waktu sebelumnya, kini setelah tinggal di rumahnya sendiri, dapat dikatakan dia menggelincir lepas dari sela-sela jari tanganku. Sewaktu dia melahirkan, aku diminta datang untuk menemani di klinik, lalu mendampingi sebagai ibu baru di rumahnya. Karena suaminya orang Jawa, selamatan yang kujalankan adalah brokohan. Secara sederhana, kami mengirim nasi beserta sayuran bumbu urap dengan kerupuk dan gereh[4] layur ke lingkungan tetangga maupun teman dekat.

Selama selapan[5] bisa dikatakan beberapa kali aku mondar-mandir memantau keadaan anakku dan bayinya. Tak tersirat gejala-gejala kepemilikannya yang ekstrem mengenai anaknya. Tiga bulan kemudian mereka berangkat ke Australia di mana si suami akan meneruskan belajar. Di waktu itu pun, belum terlihat tanda-tanda “kebengisan” anak sulungku terhadapku.

AKU percaya bahwa mempunyai cucu adalah impian semua nenek sedunia. Setelah begitu lama tidak menggendong atau menimang bahkan memandikan bayi, tentu saja aku ingin sekali melakukannya. Apalagi cucuku sendiri, manusia mungil yang keluar dari rongga perut anakku perempuan yang dulu pada waktunya juga keluar dari badanku.

Keesokan hari dari kedatanganku, setelah mendapat berbagai indoktrinasi mengenai aturan dalam rumahnya, aku mendapat teguran lagi,

“Kalau mengeringkan badan Puspa tidak begitu, Bu. Mana, biar aku saja! Ibu kan sudah memandikan! Biar sekarang kutangani….” dengan gerakan setengah merebut, anakku mendesakku ke samping.

Aku diam, mencari kesibukan dengan membenahi barang-barang, ke kamar mandi akan membuang air dari wadah.

“Sudah biarkan, Bu! Biar kukerjakan nanti! Ibu tidak tahu tempat benda-benda…!” dari jauh anakku berseru menggangguku dengan “perintah”-nya.

Sewaktu tiba saat menyuapi si bayi, aku tidak mau mengalah. Sebagaimana tadi dia merebut kain handuk dari tanganku, aku setengah memaksa mengambil mangkuk makanan cucuku. Bayi usia delapan bulan sudah diberi makanan agak ketat. Tidak seperti ibunya yang dulu kuberi makan pisang dicampur nasi lembek, cucuku diberi makanan spesial untuk bayi yang dijual di toko-toko tertentu.

“Didudukkan yang tegak lho, Bu. Jangan sembarangan menyuapinya! Nanti dia tersedak!”

Nyaris kujawab: aku sudah berpengalaman menyuap bayi-bayi lain, termasuk kamu. Tapi aku berhasil mendinginkan kuping, berusaha mengabaikan si ibu sekaligus anak yang maunya sok paling tahu itu. Selesai memberi makan, ketika ibunya mandi, kumanfaatkan waktu bersama cucuku sebaik mungkin. Untuk mengeluarkan udara dari perutnya, dia kudekap ke arah bahu dalam posisi tegak. Aku berjalan ke sana kemari, singgah ke depan jendela besar yang memantulkan bayangan kami berdua di kacanya. Walaupun yang tampak hanya bayangan punggung si bayi dan wajahku, aku puas melihat diriku memeluk cucu. Kuajak dia berbicara, kuayun-ayunkan tubuhku. Dan sewaktu sendawa sudah keluar, kugendong dia dengan cara semestinya, melekat di dada menghadap ke depan sambil kami berpandangan. Aku terus mengucapkan kata-kata apa saja agar dia mendengar suaraku, agar menerka nadaku bahwa aku ingin bersahabat dengan dia.

Karena menerima sambutan anakku yang tidak menyenangkan itu, aku ingin mempersingkat kunjunganku. Di saat aku sedang menimbang-nimbang keputusanku, adikku menelepon memberi tahu bahwa ibu kami masuk rumah sakit. Ini adalah yang kedua kalinya selama sebulan ibu harus diopname. Jadi aku akan segera pulang.

Barangkali memang harus demikian. Setiap orangtua menganggap dirinya yang paling tahu, yang paling “kuasa” menentukan segalanya, padahal kenyataannya masih ada yang lebih kuasa lagi, yaitu Tuhan. Jika sekarang anakku mengira dia berhak melarangku berbuat sesuatu terhadap anaknya, cucuku, mungkin dia benar. Lingkungannya telah menempanya bersikap begitu. Aku hanya seorang nenek, sedangkan dia adalah ibu bagi anaknya.

Pengalaman ini harus kucermati sebagai satu pelajaran guna menyambut kelahiran cucu-cucuku lainnya. Untuk kesekian kalinya kunyatakan bahwa belajar tidak ada batasan waktu dan usia.

Sendowo, Januari 2005.

Sumber: Kompas, Minggu, 06 Maret 2005





[1] Segan
[2] Istri pulang ke rumah orang tua, tidak mau kembali sebelum suami datang dan berunding hingga mencapai satu kesepakatan.
[3] Pernik-pernik keperluan
[4] Ikan asing
[5] 40 hari

Sajak

Sayembara

Warta