TERKINI

Gadisku - Hari Alfiyah

KONTRIBUTOR 9/25/2022
Hari Alfiyah 
Gadisku




kepalaku tak butuh ruang bermain
yang penuh dengan boneka dan bola
ia lebih butuh kesedihan 
untuk membuatnya lebih tangguh 
menghadapi hujan dan panas bersamaan

kepalaku tak butuh tempat wisata
dimana pemandangan terhidang sepuasnya
ia lebih butuh kegetiran
agar tak mudah retak
menerima kehampaan.

kepalaku tak butuh hiburan
yang akan membuatnya bahagia
ia lebih butuh penghianatan
supaya tak kaget saat diserang kematian.

kepalaku tak butuh semua yang membuatnya terlena
ia lebih butuh kamu yang sempurna jahatnya
dan ia bakal jadi gelap 
yang tersesat di kepalamu 
dan membuat seluruh kau
jadi aku.

Annuqayah, 2022

Hendak - Hari Alfiyah

KONTRIBUTOR 9/25/2022
Hari Alfiyah 
Hendak
: Muf-Id




di atas meja makan 
ikan-ikan berenang menuju kepalamu
menolak mulut yang bau.
di kepalamu semakin banyak masa lalu
dimakan ikan yang lugu.

engkau yang sungguh pemaaf
tak pernah sangsi 
kau berikan sekotak harapan 
agar ikut dimakan ikan
agar kau tak perlu berangan
apa yang akan menunggu di hari depan.

meski tidak sepenuhnya
engkau telah berakhir 
dan akan membuka jalan baru
dengan cerita paling bahagia 
di antara narasi pedih semua manusia.

benar-benar sempurna senyum di wajahmu
sambil melambaikan perpisahan 
membiarkannya tenggelam dalam lautan
bersama ikan yang telah pulang 
dari wisata paling hebat di dunia: kepalamu.

Annuqayah, 2022 M

Limbuk - Yuditeha

KONTRIBUTOR 9/25/2022

Limbuk

Yuditeha

 


Bulan April hampir habis, seharusnya musim penghujan sudah berhenti, dan masanya menuju kemarau, tapi senyatanya hujan terkadang masih turun. Bahkan dua hari ini, setiap menjelang sore hujan sangat deras. Karenanya udara dingin masih tersisa di sepanjang pagi ini, terlebih ketika angin sedang berembus kencang menerpa pepohonan di sekitar makam. Awan di langit saat ini pun sudah kembali gelap, tampaknya sebentar lagi hujan akan jatuh. Seperti biasa, dari pagi hingga menjelang malam nanti aku harus menjadi tukang parkir di Taman Pekuburan Umum Karet Bivak. Telah lama aku kerja di sini, karena itu sedikit banyak aku hafal keadaan. Dan entah mengapa sejak dua hari yang lalu aku merasa akan ada yang spesial di pemakaman ini..

Sebelum sampai di tempat ini, aku tadi mampir di warung kopi. Di sana aku mendengar, hari ini ada jenazah yang akan dikubur di tempat pemakaman ini. Seperti yang sudah-sudah, aku tidak pernah tahu jati diri orang yang mati, pun kali ini. Tapi karena perbincangan orang-orang di warung kopi itu, aku menjadi tahu siapa orang yang akan dimakamkan itu. Kabarnya dia penyair. Dari percakapan mereka juga, aku tahu apa itu penyair, yaitu orang yang kerjanya membuat puisi.

Selama perjalanan dari warung ke tempat ini, setiap kali aku berpapasan dengan orang, selalu menampakkan wajah muram. Mungkinkah efek meninggalnya sang penyair? Ketika sampai di tempat ini semakin banyak orang yang berwajah sedih. Termasuk orang-orang yang baru datang, bergerombol memasuki makam dengan wajah murung. Sesekali melakukan perbincangan kecil, seperti sedang berbisik-bisik. Hal itu serasa semakin memilukan tempat ini.

Namun sebenarnya yang ingin kubicarakan bukan hal itu, tapi tentang perempuan yang sejak pagi sudah berada di parkiran ini, bahkan dia sudah di sini sebelum aku datang. Jika orang-orang terlihat susah, tidak demikian dengan dia. Oleh karena itu aku penasaran, dan ingin mengajaknya bercakap.

“Saya Limbuk, Mas.” Dia menjawab cepat ketika aku tanya namanya. Karena sikapnya ramah hingga membuatku nyaman. Dengan sukacita gegas aku menyebutkan namaku sebagai imbangan atas sikapnya.

Sebelum aku bertanya, perempuan itu telah bercerita bahwa dia berasal dari desa, bahkan dia sempat menyebut nama desa itu, tapi karena aku masih terkesan dengan sikapnya, hingga tidak ingat nama desanya.

Pada awalnya aku mengira, Limbuk tidak ada hubungannya dengan orang yang mati itu, tapi perkiraanku salah. Dia datang jauh-jauh hanya untuk melepas kepergian sang penyair. Bahkan jika merujuk atas apa yang dia ceritakan, kedekatannya dengan sang penyair lebih besar dari siapa pun, termasuk orang-orang yang datang di pemakaman itu. Pengakuan Limbuk, sang penyair memang dekat dengan banyak perempuan, tapi dirinyalah kekasih yang sebenarnya kekasih bagi sang penyair.

Terkait sang penyair yang punya hubungan dengan banyak perempuan juga menjadi gunjingan di warung kopi tadi. Dari sekian nama perempuan yang mereka sebut, sekilas nama-nama yang bagus. Sangat berbeda dengan nama perempuan ini. Limbuk, menurutku nama yang jauh dari kesan bagus. Bahkan setahuku, Limbuk adalah nama anak dari mbok emban di cerita wayang, yang berwajah buruk dan bertubuh gendut.

Sementara Limbuk ini, meski wajahnya bukan istimewa, namun setidaknya tidak buruk seperti dalam gambaran Limbuk di pewayangan. Demikian juga dengan tubuhnya, memang tidak langsing, tapi juga tidak gembrot, mungkin lebih tepatnya disebut semok. Meski begitu, entah kenapa ketika aku mendengar Limbuk mengatakan bahwa dari sekian perempuan, dirinyalah yang sebenarnya paling dekat dengan sang penyair, tidak membuatku menyangsikan ucapannya.

Ketika aku memikirkannya, menurutku mungkin hal itu tidak terlepas dari apa yang sudah Limbuk katakan kepadaku perihal alasannya mengapa dia orang terdekat sang penyair. Sebelumnya Limbuk menyatakan bahwa dia benar-benar mencintai penyair itu, tetapi dia menyadari bahwa lelaki itu tidak bisa dia miliki sepenuhnya. Limbuk tahu bahwa hidup lelaki itu hanya untuk sajak-sajak yang dihasilkan. Kata Limbuk, tidak ada yang dicintai lelaki itu dengan sepenuh jiwa selain puisi-puisinya. Meski begitu, kata Limbuk sesungguhnya siapa pun bisa jadi inspirasi bagi sang penyair.

“Berarti kau juga pernah jadi inspirasinya?” tanyaku.

“Sering,” sahutnya cepat dengan logat manja.

“Apakah namamu pernah diabadikan dalam puisinya?”

Limbuk tersenyum sipu, seperti malu-malu. Tak lama kemudian dia mengeluarkan beberapa kertas dari dalam tasnya. Dia menunjukkan beberapa puisi, sembari mengatakan bahwa sang penyair menyebut nama Ida di dalam puisinya. Spontan aku heran, karena yang kupikirkan dia akan menunjukkan namanya yang tertera di puisi ciptaan sang penyair. Namun dia justru menyebut Ida, menurut gunjingan di warung kopi adalah salah satu perempuan yang disukai sang penyair. “Kau kenal dia?” tanyaku.

Limbuk menggeleng. “Dan saya tidak ingin tahu,” katanya kemudian. “Tapi kabarnya dia perempuan hebat yang punya pemikiran kritis,” tambahnya.

Dia kemudian menunjukkan dua kertas lain, sambil mengatakan bahwa kedua puisi itu diperuntukkan kepada perempuan bernama Sri. Sama dengan sebelumnya, aku langsung bertanya, apakah dia mengenal Sri itu. Kembali dia menggeleng.

“Tapi aku pernah dengar, katanya dia gadis ningrat yang tidak beda-bedakan orang. Mau berteman dengan siapa saja, bahkan sudi main teater bersama seniman jalanan,” ujar Limbuk.

Kuperhatikan, ketika Limbuk menceritakan semua itu dengan wajah biasa, artinya tanpa sedikit pun ada kesan tidak suka, atau sesuatu yang bisa menunjukkan dia cemburu. Bahkan sesekali aku melihat ujung bibirnya sedikit naik, dan terlihat tulus.

Limbuk meletakkan kertas yang dikeluarkan tadi, lalu mengambil kertas lain, juga dari tasnya. “Puisi berjudul Sajak Putih ini untuk Mirat,” kata Limbuk.

“Sajak Putih, apakah itu sama dengan sajak suci?” tanyaku spontan. Limbuk menatapku dengan senyum menawan. “Mungkin begitu,” jawabnya singkat. “Saya dengar, dia perempuan terdidik yang lincah. Kabarnya cintanya kepada perempuan itu sedahsyat puisinya,” tambah Limbuk sembari kembali tersenyum.

Sebenarnya aku ingin bertanya kepada Limbuk, dan apa yang aku tanyakan ini juga atas apa yang aku peroleh dari percakapan di warung kopi. Salah satu dari mereka bilang bahwa dari sekian puisi yang dibuat, justru tidak ada puisi yang ditujukan kepada istrinya. Namun Limbuk seperti tahu apa yang sedang aku pikirkan hingga belum sempat pertanyaan itu aku sampaikan, dia telah lebih dulu menunjukkan sebuah kertas yang lain lagi.

“Puisi ini untuk H, saya pikir puisi ini untuk istrinya,” ujar Limbuk.

“Kau tahu nama istrinya?”

“Hapsah,” jawab Limbuk “Menurutku, dia perempuan yang berani mengambil risiko. Perempuan hebat, bahkan dia memberinya anak,” sambungnya.

Sebenarnya heranku semakin besar, perempuan ini mengatakan dekat dengan sang penyair tapi mengapa justru dengan ringannya membicarakan perempuan-perempuan lain.

Aku berada kembali di kamar, bersama buku seperti sebelum bersamamu dulu. Saya pikir kata-kata puisi ini menunjukkan dia sedang rindu pada istrinya,” terang Limbuk.

Mengapa dia tidak berpikir bahwa kata-kata itu untuknya? Setelah itu, Limbuk dengan sayu memandangku lekat. Aku menduga, mungkin karena baru saja aku memikirkan sesuatu tentang dirinya. Aku salah tingkah, lalu mengalihkan penglihatanku ke pemakaman. Di sana sudah banyak orang berkumpul. Sepertinya jenazah sang penyair segera dikebumikan. Untuk mengalihkan perhatiannya, aku bertanya. “Kau tidak ke sana?”

Limbuk menggeleng. “Saya tidak ingin mengotori cinta,” tambahnya.

Meski begitu, penasaranku belum putus, mengapa namanya tidak pernah disebut dalam puisi sang penyair, terlebih karena adanya pernyataan dia yang dengan percaya diri mengaku bahwa dari sekian perempuan, dialah yang paling dekat dengan sang penyair. Karena itu, sekali lagi aku memberanikan diri bertanya. “Lantas mengapa kau tidak pernah dibuatkan puisi olehnya?”

“Kamu salah. Sebagian besar puisinya sebenarnya dipersembahkan untukku. Hanya saja namaku memang tidak pernah ada. Dari awal aku sudah bilang padanya, namaku tak usah disebut,” jawab Limbuk sembari tersenyum manis.***

Determinasi, Puisi, (Laku) Sunyi - Ilham Rabbani

KONTRIBUTOR 9/25/2022

Determinasi, Puisi, (Laku) Sunyi

Ilham Rabbani

 


“Di sebuah meja pertemuan atau perbincangan TV, tidak jarang semua pembicara bersuara bersamaan dan dengan suara keras pula. Maka jelaslah mereka tidak berniat membahas dan membicarakan sesuatu. Tepatnya, tidak ingin berdialog. Pada saat semacam itu, sebaris keheningan adalah surga.” (Agus R. Sarjono)

 

Saya bukan pembaca (babak-babak) sejarah yang baik, dan “sunyi”[1] dalam puisi-puisi hari ini, sukar saya rangka-simpulkan sebab-sebabnya secara pasti. Seringkas catatan ini, boleh dikata ialah rupa-rupa kemungkinan yang muncul di kepala saya, tatkala berhadapan dengan puisi-puisi Jemi Ilham dalam Di Mana-mana Kesedihan akan Menemukanmu (2021) dan puisi-puisi Afaf L.K. dalam Tak Ada Aydne di Kota Ini (2022). Kedua kumpulan puisi dari para penyair muda itu, diterbitkan dan disebarluaskan dengan gaya stensilan oleh Pendjajaboekoe.

Terkait keterbatasan wawasan tadi, kecenderungan saya selanjutnya ialah bersepakat dengan paparan-paparan sastrawan atau pengamat sastra semacam H.B. Jassin, Ajip Rosidi, Goenawan Mohamad, Agus R. Sarjono, Bandung Mawardi, dan Martin Suryajaya,[2] yang menyatakan bahwasanya tonggak tema sunyi dalam perpuisian modern–setelah munculnya kesadaran–Indonesia ialah kisaran kelahiran Nyanyi Sunyi (1937) sebagai buah-batin dan buah-pikir dari Amir Hamzah. Sunyi kemudian menjadi motif[3] yang direpetisi hingga hari ini–tentunya, lika-liku perjalanan motif sunyi itu mengalami pasang surut lantaran sejumlah sebab, baik sebab-sebab ekstra-tekstual (sosio-politik, atau budaya dalam definisi yang luas) maupun sebab-sebab tekstual (semisal eksperimentasi bentuk dan bahasan tema), yang keduanya berkait-kelindan satu sama lain.

Bandung Mawardi menyebut, setelah Duka-Mu Abadi (1969) karya Sapardi Djoko Damono–dalam posisinya sebagai Nyanyi Sunyi kedua–terbit, penyair Indonesia yang dalam kiprah kepenyairannya tetap konsisten mengolah sunyi ialah Acep Zamzam Noor.[4] Adapun Joko Pinurbo, melihat teks-teks Emi Suy juga intens menggumuli sunyi.[5] Di luar kedua nama itu, barangkali ada ribuan nama lagi yang memilih berkarib dengan sunyi sebagai konten puisi pribadi–apa yang dilakukan Jemi dalam Di Mana-mana, Kesedihan akan Menemukanmu, dan Afaf L.K. dalam Tak Ada Aydine di Kota Ini, bagi saya termasuk ke dalam serpih dari ribuan nama barusan, yang masih luput jadi pembicaraan.

Saya menandai sejumlah diksi dan metafora, baik yang bermakna harfiah maupun sekonotasi dengan “sunyi”, dalam hampir keseluruhan puisi kedua penulis.[6] Tetapi sebelum menyelami teks, saya ingin memunculkan asumsi-asumsi penyebab di sekitar (kelahiran) puisi-puisi keduanya terlebih dahulu.

Pertama, kendati dalam dinamika sosio-kultural Indonesia terjadi pergeseran dan perubahan episteme akibat pergantian tampuk kekuasaan atau rezim (bahkan sejak Belanda masih mendominasi), lantaran “puisi-puisi telah menjejak di atas kertas”, sunyi sejak tonggak kelahirannya bagi saya tetap “terbaca” dan mempengaruhi Jemi dan Afaf. Sebagai penulis puisi yang baik, sudah mestinya mereka mencerna teks-teks yang lahir serentang sejarah sastra Indonesia “berjingkrak dan tersungkur”. Artinya, ada unsur determinasi di sini.

Kedua, lagi-lagi, asumsi ini mengarah pada determinasi: keterpengaruhan oleh kultur berpuisi orang-orang Yogya. Akan saya sematkan nukilan catatan dari Mustofa W. Hasyim[7]:

 

Saya jadi ingat cerita Mbah Nun yang waktu mudanya lebih dikenal dengan nama Emha Ainun Najib dan Umbu memanggilnya Em. Sering diceritakan bagaimana dalam perguruan silat kehidupan yang diajarkan oleh Umbu Landu Paranggi adalah belajar bagaimana murid bisa sabar dan bertahan terhadap sunyi yang ekstrem.

Berjalan mengelilingi kota Yogya dengan membisu. Mirip-mirip tapa mbisu keliling Beteng Kraton. Tidak boleh ada yang tergoda untuk berbicara, apalagi orasi. Ini bukan demonstrasi. …

Serombongan anak muda berjalan mengelilingi kota tanpa berbicara. Umbu Landu Paranggi diam, para murid perguruan silat kehidupan ini juga diam, mungkin ada yang bingung dan bertanya-tanya untuk apa semua ini dilakukan? Mengapa hatiku dengan diam kalau ingin memahami kehidupan, mengapa tidak dengan diskusi gaduh karena peserta pamer keunggulan pikirannya sendiri sendiri?

 

Laku demikian, konon, dalam rangka mencari “sarang angin”,[8] dan poin penting di sini ialah didikan agar seorang penulis puisi “bisa sabar dan bertahan terhadap sunyi yang ekstrem”. Jemi dan Afaf berproses di Yogya, dan saya mencermati, ada gejala-gejala yang mengarah ke sana dalam diri Aku-lirik yang ditampilkan puisi-puisi mereka.

Aku-lirik itulah yang bakal menarik kita ke asumsi ketiga: bagaimana mereka[9] bertahan di hadapan gempuran apa-apa yang berada di luar diri, tetapi seluruhnya mungkin–dan hampir–mengarah pada nonsens. “Barangkali kita akan selalu seperti ini, sayangku/membicarakan rindu di antara gedung-gedung tua/juga cuaca yang kerap membuat sesak isi kepala//lalu akankah kita masih percaya pada sepi/jika tak ada perjumpaan yang dapat kita/catat dalam baris-baris puisi?//…//karena membayangkanmu adalah/pekerjaan paling mulia/di tengah dunia yang kacau ini.” kata (Aku-lirik) Afaf dalam “Epigram”, juga yang lainnya–hampir senada–dalam “Tak Ada Aydine di Kota Ini”:

 

tak ada Aydne di kota ini

aku kembali memeluk diri

di antara ruang kosong dan

hari-hari yang mulai darurat

di kepala

 

tempat ini kembali asing dan sunyi

ingatan tentangmu hanya

remang lampu kota

sementara perpisahan kita

adalah wajah musim

dan nasib yang getir

 

di kota ini tak ada

yang perlu dibicarakan lagi

kenyataan waktu menghimpit

harapan di antara

gedung-gedung menjulang

adalah ketaksanggupanku mengucap

selamat tinggal pada benda-benda

yang pernah kita anggap sebagai

simbol kebahagiaan

 

tak ada Aydne di kota ini

hidup penuh kesangsian

cinta tinggallah kenang

sementara kota ini tercipta dari

rindu, kenangan, dan kesedihan yang berulang

 

Suara-suara yang bermiripan juga masih terang saya rasakan dalam dua puisi lainnya: “Tahun Baru” dan “Aku yang Kalah”.

Adapun (Aku-lirik) Jemi dalam “Rekah Sebuah Kota” berkata: “dalam rimba raya/udara sepi dan tiba-tiba merasa asing/…//…/kita menepi dari sejarah yang riuh/membabat sunyi, …//tanah ini ditandai/dengan pilu dan nyeri/rindu-dendam terpendam/sejarah yang rumpang/merekahkan sebuah kota/tumbuh dari rel kereta api,/kebun tebu, dan pabrik gula.” Sebagaimana (Aku-lirik) Afaf, terbaca pula kemarutan musim dalam larik-larik: “... sesekali sunyi menyergap/membuat dada terasa berat/tetapi kita tak tahu itu apa” (“Kutukan Bagi yang Hidup”); “... kau sadari,/hidup adalah kekosongan,/kecuali di dalam puisi” (“Museum Kehilangan”); dan “... biji-bijian gagal berkecambah/musim begitu sulit dan/kemarau tak mampu dihalau/rindu menjelma api/dan aku ilalang kering/yang habis dilalapnya” (“Membaca Kota Menerjemahkan Musim”).

Gelagat-gelagat dalam sejumlah larik yang saya kutipkan, seakan makin mengentarakan upaya Aku-lirik untuk bertahan di hadapan sunyi ekstrem yang datang dari luar diri. Konteks hari ini, barangkali bisa kita jadikan rujukan bagi pembicaraan, “Apakah sebenarnya yang berada di luar diri itu?”

“Mata” penyair dan Aku-lirik di sini, mungkin adalah “mata” yang sama–“mata” yang setidaknya lebih mampu menukik ke kedalaman. Kemampuan untuk menukik ke arah sunyi, yang sebenarnya menjadi fondasi dari keriuhan, semestinya dimiliki oleh tiap-tiap penyair, sebab ketika dirinya memutuskan menulis puisi, ia menjadi (ambil) bagian dalam kerja ke-sastrawan-an.[10] Penyair adalah mereka yang mesti cermat dalam urusan tak hanya membaca teks, tetapi juga konteks. “Membaca” di sini, bermakna bukan sekadar dilarutkan oleh objek, melainkan ada dialektika antara objek tersebut (bacaan) dengan kesadaran (dari subjek).

Sebagaimana mata Aku-lirik dalam puisi-puisi yang saya kutipkan, yang mampu melihat sunyi dalam situasi, barangkali yang tercerap sebagai apa-apa di luar diri adalah konteks kekinian kita yang berputar dan berada dalam penjara hiper-realitas. Aku-lirik, secara subtil, meminta kita merenungkan dulu, bahwa sejatinya ada yang lebih esensial dari segala yang merupa jadi citra tersebut. Kebahagiaan (seakan-akan)–karena dipantik rentetan iklan di televisi dan media sosial misalnya–ditemukan oleh orang-orang di luar Aku-lirik (liyan) dari entitas-entitas yang terpisah dari diri, yang berada dalam “penjara” penanda-penanda. Orang-orang berkompetisi, saling sikut, dan bersaing dalam perburuan yang demikian, sehingga imbasnya ialah ada, dan banyak, yang tersisih. Itulah realitas yang–dalam bahasa Jemi dan Afaf– “membuat dada terasa berat” dan “membuat sesak isi kepala”. “Sesak” sejatinya identik dengan dada, namun dibenturkan dengan kepala, sehingga seakan-akan sang liyan dalam tatanan telah kesulitan membedakan tuntutan hasrat dan rasionalitas dalam urusan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan.

Kondisi ini hampir selaras dengan kutipan dari Agus R. Sarjono yang saya sematkan di muka tulisan: dalam keriuhan semacam itu, tak ada dialog, dan yang dibutuhkan adalah sebaris keheningan. Katakanlah sebaris keheningan itu sebagai titik “jeda”. Pengambilan “jeda” dalam sunyi, untuk menolak–atau setidak-tidaknya berjarak–dengan gempita suasana sebagaimana diambil Aku-lirik Jemi dan Aku-lirik Afaf, adalah bentuk permenungan, bahwa sebenarnya kebahagiaan adalah perkara penerimaan–setamsil kehadiran “jarak” di tengah kejauhan dalam ungkapan Joko Pinurbo yang masyhur. Kebahagiaan berbeda dengan benda-benda, tak terbahasakan, ia immateril.

Pada jeda dan sunyi itulah, para Aku-lirik terlebih dahulu mendengarkan panggilan lebih intim. Harapannya, akan ada jalan untuk menjauh dari mainstream-itas dan kebanalan. Namun celaka, ketika mesti memulai perjalanan lagi, mereka tak menemukan jalan lainnya: memang ada simpang, tetapi satu mengarah ke keriuhan, dan satunya lagi hanya memutar ke arah kembali–dan mungkin, kembali bukanlah pilihan yang baik. Lahirlah kemudian suara-suara sumbang yang makin mengentalkan sunyi, dan tersebab itulah, kebanyakan suara-suara yang muncul dalam larik-bait puisi Jemi-Afaf adalah kekalahan–yang hampir–telak dari (gerak) dunia mereka. Kekalahan, adalah kerabat karib dari sunyi.

Dalam puisi-puisi yang dibentangkan, baik oleh Jemi maupun Afaf, terlihat bahwa sunyi makin jadi. Sunyi itu “dinyaringkan” oleh kenyataan bahwa kita berada di simpang jalan: antara masuk dan terlibat dalam ingar, atau mengelak dan terasingkan.



[1] setali dengan sepi, sendiri, ratapan, kekalahan, keterasingan, dan hal-hal yang segugus dengan itu.

[2] masing-masing dalam catatan pengantar untuk buku Amir Hamzah: Raja Penyair Pujangga Baru (H.B. Jassin), Ikhtisar Sejarah Sastera Indonesia (Ajip Rosidi), beberapa esai dalam Di Sekitar Sajak (Goenawan Mohamad), catatan editorial untuk Jurnal Sajak Edisi ke-10: Puisi dan Keheningan (Agus R. Sarjono), esai “Acep Zamzam Noor: Gairah Sunyi Mencari Arti Abadi” di laman Sastra-Indonesia.com (Bandung Mawardi), dan video berjudul “Motif Kesunyian dalam Puisi Indonesia” di saluran Youtube pribadi Martin Suryajaya.

[3] sesuatu yang berulang, simtomatik, atau menggejala dalam teks-teks sastra–khususnya puisi–pengarang Indonesia.

[4] dalam esai “Acep Zamzam Noor: Gairah Sunyi Mencari Arti Abadi” di laman Sastra-Indonesia.com.

[5] dalam esai “Sunyi Adalah Kunci” di laman Sastramedia.com.

[6] silakan akses berkas-berkas hasil penandaan (underline) saya di Google Drive: https://drive.google.com/drive/folders/13cOxjDk0jX6c7TDoY8JWN6LNjTSTG7wo

[7] baca lebih lengkap dalam esai “Belajar Kepada Sunyi” dan “Belajar di Jalan Sunyi Bersama Raja Angin” di laman Caknun.com.

[8] Mustofa W. Hasyim mencernanya sebagai sunyi yang tak terpahami, tetapi sangat bisa dinikmati, yang mengarahkan diri kepada hal-hal yang transenden.

[9] saya menyebut “mereka” karena Aku-lirik Jemi dan Aku-Lirik Afaf adalah dua subjek berbeda, atau bahkan dalam tiap-tiap puisi keduanya, Aku-lirik adalah subjek yang satu sama lain cukup berlainan, yang hanya diikat oleh keberadaan (bersama) dalam satu stensilan belaka. Saya juga tidak memungkiri, generalisasi sebagaimana saya lakukan ini, amat punya potensi membentuk pemahaman yang distorsif. Tetapi apa boleh buat, amat sukar dibayangkan untuk membahas sejumlah puisi dalam beberapa halaman kertas saja.

[10] terma “sastrawan” pada mulanya berpadanan dengan terma “cendekiawan”, “intelektual”, “jauhari”, dan “sarjana”, yang artinya mesti ada kejembaran wawasan pada subjek terkait. Lihat Endarmoko, Eko. 2009. TESAMOKO: Tesaurus Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia, hlm. 619.

 

Anjing - Afiq Naufal

KONTRIBUTOR 9/18/2022
Afiq Naufal 
Anjing




Aku ini anjing. Cinta dan kebencian
pada kedua matamu yang tak dapat 
memisah arah. Aku memilih lengah 
pada tubuhmu dan awas kepada siapapun

Aku ini anjing. Cinta dan kebencian 
kau tahu, setiap menjadi kata kerja 
selalu sama terhadapmu dan 
kepada siapapun:aku tanda seru!

Parade Sejarah - Afiq Naufal

KONTRIBUTOR 9/18/2022
Afiq Naufal 
Parade Sejarah




1
beberapa nyala api mencintai air dan enggan berteman dengan angin. ia memilih sendiri dan tak memecah dirinya.tidak beranak pinak. ia tau dirinya setelah tidak padam oleh cinta lantas dia nyala.

2
beberapa sejarah lebih memilih dipanggil kenangan.ia ruang senyap tanpa gema.tidak berebutan.dan pandai mewarnai dirinya dengan air dingin.beberapa sejarah lebih memilih dipanggil kenangan.kau tidak perlu membakar ban untuk menjatuhkan.cukup lilin—dan air mata

Aku Binatang Jalang, Maka Aku Menjadi - Yana Risdiana

KONTRIBUTOR 9/18/2022

AKU BINATANG JALANG, MAKA AKU MENJADI

:Membaca Kembali Dunia Chairil dalam Sajak “Aku”

Oleh Yana Risdiana

SAJAK