ESAI

KABAR

KRITIK SASTRA

TERKINI

Aku Menemukan Tuhan Dalam Opera Yoevita - Maman S. Mahayana

ADMIN SASTRAMEDIA 2/08/2020
AKU MENEMUKAN TUHAN DALAM OPERA YOEVITA*
oleh Maman S. Mahayana


SASTRAMEDIA.COM - Puisi itu makhluk ajaib. Ia menyihir lantaran di sana tersimpan pesona. Ia juga mengancam ketika kata atau frasa atau apa pun dalam larik-larik puisi menggugah kesadaran kemanusiaan. Meski begitu, ada juga puisi yang memuakkan, manakala kata-kata gagal dikendalikan, lalu pesannya menjelma propaganda, iklan murahan, atau gombal ala Bombay. Itulah keajaiban puisi. Paradoks dan penuh misteri. 

“Tak ada kata jera bagi para pecinta puisi!” Dalam kondisi apa pun, dan dengan caranya sendiri, banyak orang yang tiada bosan merayakan puisi. Di antara anggota masyarakat yang kadang-kadang mencibir puisi, cukup banyak juga para penggembira, pendukung fanatik, atau mereka yang terlibat dalam permainan puisi dan bersikeras mempertahankan kehidupan puisi. Bahkan tak sedikit yang menempatkan puisi secara hiperbolis sebagai sesuatu yang sakral. Maka, jika ada cogan, “Puisi tak pernah mati,” ya, karena kenyataannya memang begitu.

Puisi adalah salah satu ragam sastra yang kuncinya terletak pada kepadatan, kelugasan, dan sekaligus juga ketaksaan (ambiguitas). Bagaimana kata-kata yang padat dan lugas itu menyimpan kedalaman makna, dan dari kedalaman makna itu muncul ketaksaan. Ketaksaan memungkinkan terjadi multitafsir. Dari sanalah ketaksaan dapat menekan saklar asosiasi dan imajinasi pembaca menghadirkan citraan. Maka, ada anggapan, bahwa hakikat puisi itu citraan! Dalam hal itu, puisi memainkan sihirnya melalui kualitas metafora, ironi, paradoks, dan sarana puitik lainnya. Begitulah puisi!

Tetapi, para penyair—meminjam istilah Subagio Sastrowardojo—yang sekadar mengandalkan bakat alam, tak mempedulikan itu. Mereka menulis puisi, ya menulis saja. Peduli hantu dengan segala macam tetek-bengek teori. Sikap inilah yang kelak membedakan penyair yang belajar dan penyair yang lebih suka main terabas, instan, dan mengabaikan proses. Penyair yang sebenar-benarnya penyair adalah mereka yang sadar bahwa perjalanan kepenyairannya selalu berada dalam proses menjadi. Mereka tidak melalaikan kesadarannya pada sejarah, pada proses untuk terus belajar sampai mereka pensiun dari gelanggang kehidupan ini. Membacai puisi-puisi penyair sebelumnya dan puisi penyair seangkatannya adalah bagian penting dari proses belajar itu. Oleh karena itu, belajar puisi yang hasilnya paling ampuh adalah membacai sebanyak-banyaknya puisi. Maka, jika ingin jadi penyair sejati yang menghasilkan sebenar-benarnya puisi, belajarlah pada puisi!
***
Di luar perkara tadi, puisi, konon, dipandang sebagai suara hati yang terdalam. Kaum romantik, bahkan, menempatkan puisi sebagai pesan ilahiah yang luhur dan suci. Ia merepresentasikan suara “tuhan” di dunia. Mereka berkeyakinan, bahwa ketika penyair berada dalam proses kreatif, Tuhan bertakhta dalam sanubari yang terdalam. Tentu saja hiperbolisme itu ditujukan untuk puisi-puisi yang baik, inspiratif, dan memberi penyadaran dan pencerahan.

Bagaimana dengan puisi-puisi Yoevita Soekotjo ini? Termasuk kategori puisi yang manakah. Di sinilah masalahnya. Ada beberapa hal yang patut dibicarakan berkaitan dengan puisi-puisi Yoevita Soekotjo ini.

Dari 72 puisi yang terhimpun dalam Opera Tujuh Purnama ini, keseluruhannya cenderung sebagai pewartaan pengalaman individual tentang berbagai peristiwa aku—engkau, aku—dia, aku—mereka dalam hubungan sosial. Jika di sana ada tema cinta Tanah Air, kehidupan bangsa, kritik sosial, atau keterpesonaan pada alam, subjek aku tidak lesap pada objek. Jadi, keberjarakan subjek—objek, menjadikan puisi-puisi itu seperti membentangkan garis demarkasi pembaca dengan teks. Akibatnya, pembaca seperti disuguhi berbagai peristiwa tentang pengalaman pribadi yang tidak menjadi pengalaman bersama. Dalam konteks ini, ke-72 puisi itu, sebagian tidak sepenuhnya mengajak pembaca masuk dan merasakan sendiri pengalaman subjektif penyair.

Puisi “Catwalk” misalnya. Dalam dua bait awal, kita disuguhi ironi antara perempuan yang hidup dengan segala keglamorannya dan perempuan ndeso dengan segala kesederhanaannya. Penyair coba menyajikan ironi dua perempuan yang berbeda nasib, berbeda kasta. Sampai di sini, ironi itu seperti membentangkan kisah dua perempuan dalam dua dunia yang meskipun tidak menghidupkan empati—simpatik, cukup jelas perbedaannya. Lalu apa yang dapat kita tangkap dari dua peristiwa yang dialami dua perempuan yang secara sosial-ekonomi sangat bertolak belakang itu?

Bait ketiga ternyata tidak menegaskan perbedaan dua dunia itu, melainkan mengembalikannya pada sosok ibu yang melahirkan. Dengan begitu, apa maknanya perbedaan nasib dan status sosial itu jika semuanya dikembalikan pada sosok ibu? Yoevita Soekotjo tidak melakukan pembelaan, tidak juga melakukan penolakan. Lalu, untuk apa dua perempuan yang berbeda kasta itu dibenturkan, jika tidak ada penyikapan dari penyairnya? 

Sikap Yoevita yang tidak hendak mempersalahkan pihak mana pun atau tidak melakukan pemihakan, tentu saja merupakan pilihannya. Meski begitu, gambaran yang terungkap dalam bait ketiga jadinya seperti tetes minyak dalam air. Ia tidak menyatu, tidak menjadi bagian integral sebagai keseluruhan wacana. Bait ketiga dalam puisi itu pada akhirnya seperti tidak fungsional sebagai penyikapan atas peristiwa yang digambarkan pada bait-bait sebelumnya. Oleh karena itu, jika bait ketiga itu diberi judul lain dan hadir sebagai puisi tersendiri, ia tak akan mengganggu tema yang diangkat puisi “Catwalk” itu.

Periksa juga puisi yang berjudul “Guntingku Tertinggal di Bandara.” Sebuah judul yang serta-merta mengajak pembaca menghidupkan pengalamannya tentang aturan yang berlaku di bandara. Itulah salah satu karakteristik puisi, yaitu citraan yang mampu menghadirkan pengalaman individual sebagai pengalaman bersama. Di bawah judul itu, ada pula keterangan: in memoriam Arie MP Tamba. Bagi pengamat sastra Indonesia atau sastrawan yang akrab dengan kehidupan di Taman Ismail Marzuki, nama itu juga sudah tidak asing lagi. Jadi, ada dua ikon atau tanda –bandara dan Arie MP Tamba— dalam puisi itu yang berfungsi sebagai pintu masuk menjelajahi teks puisi yang bersangkutan.

Pada bait pertama puisi itu, kita seperti dibawa pada sebuah hubungan intens antara aku dan engkau (mungkin Arie, mungkin juga orang lain). Jelas di sana sikap aku lirik yang tegar, meski dengan berbagai kesibukan: pergi dan pulang
Pada bait kedua, kita juga masih dapat mencantelkan hubungan aku—engkau. Dan suasana keterhubungan aku—engkau itu seketika lenyap manakala kita mencermati bait ketiga. Munculnya persona Jegeg Ayu laksana menggantikan posisi Arie dengan Jegeg Ayu itu. Hubungan aku—engkau (Arie) berganti menjadi aku—engkau (Jegeg). Jika begitu, apa fungsi kolofon di bawah judul yang menyebut Arie MP Tamba? Dalam situasi absurd itu, tiba-tiba puisi itu ditutup dengan larik begini: Dewa dewi menyambutku ke negeri Kahyangan biru//

Apa makna larik itu? Siapakah aku lirik di sana yang menyambutku ke negeri Kahyangan? Artinya, aku lirik memasuki dunia kahyangan. Lalu, bagaimana pula dengan peristiwa gunting yang tertinggal di bandara? Bagaimanapun, puisi bukanlah sekadar ekspresi perasaan dan gagasan yang disampaikan dalam bentuk larik-larik pendek. Setiap kata dalam puisi, tidak hanya harus diperlakukan punya makna tertentu dalam hubungannya dengan kata lain dalam keseluruhan teks puisi, tetapi juga berfungsi membangun wacana. Dengan begitu, setiap puisi mesti dimaknai sebagai wacana tersendiri yang mengusung tema dan pesan yang hanya berlaku dalam puisi yang bersangkutan. Di sinilah, puisi punya logika tersendiri, dan ketika logika itu diabaikan, hanya Tuhan yang tahu jawabannya.
***
  Hal lain yang juga patut diperhatikan adalah perkara diksi, pilihan kata. Setiap kata mesti diperlakukan punya kualitas makna tersendiri yang berbeda dengan kata lain. Oleh karena itu, pemahaman setiap kata dengan segala nuansa maknanya, boleh dikatakan merupakan bagian perjuangan setiap penyair. Bukankah perkara kata-kata yang menjadi alat perjuangan dan pergulatan penyair? Bukanlah lapangan permainan penyair berkisar pada kata dengan kedalaman dan kedangkalan maknanya?

Semangat Yoevita dalam permainan kata ini, tentu saja patut kita hargai, sebab tidak banyak orang punya keberanian menciptakan ungkapan atau metafora yang tak lazim. Meskipun begitu, penyair patut pula mempertimbangkan kepadatan dan kehematan, di samping tentu saja penciptaan makna baru.

Dalam puisi “Catwalk” misalnya, ada larik begini: /Menggenggam duri dan api pada basmallah// Mengapa mesti ada frasa: pada basmallah? Lalu, siapa yang menggenggam duri dan api? Perempuan ndeso atau metropolis? Duri dan api secara simbolik bermakna negatif sebagai perjuangan yang penuh godaan. Jika kedua perempuan itu hendak ditempatkan sebagai pejuang kehidupan, mengapa pula mesti dikontraskan; ditempatkan dalam kasta yang berbeda?

Puisi “Guntingku Tertinggal di Bandara” sebagaimana disinggung tadi, ditutup dengan larik: Dewa dewi menyambutku ke negeri Kahyangan biru// Pertanyaannya: apa bedanya negeri Kahyangan dengan negeri Kahyangan biru? Jika ungkapan atau metafora Kahyangan biru itu menciptakan makna baru, tentu saja kata biru penting artinya disandingkan di sana. Tetapi, jika tidak, ia sekadar kelewahan belaka.
Beberapa contoh lain tentu saja masih dapat kita jumpai dalam sejumlah puisi lainnya. Dua contoh tadi sekadar hendak menegaskan, bahwa penyandingan kata tertentu, hanya penting jika memang menghadirkan makna baru. Jika tidak, ia akan tergenlincir sebagai kelewahan yang tak perlu.
Dalam kaitannya dengan perkara diksi—pilihan kata, Yoevita kiranya perlu lebih berhati-hati dan berjuang keras memikirkannya. Sebagai seseorang yang hendak memuliakan puisi, dan oleh karena itu, ia secara sadar menceburkan diri dalam dunia puisi, saya melihat, Yoevita seperti terperangkap pada anggapan umum bahwa puisi itu ragam sastra yang (harus) menggunakan bahasa yang indah. Konsep itu sesungguhnya tidak tepat benar, sebab rumusan itu tujuannya untuk pembelajaran sastra di sekolah, bukan untuk penyair atau untuk mereka yang ingin jadi penyair. Anggapan, puisi harus menggunakan bahasa yang indah, sudah tak berlaku lagi. 
Kesan hendak menghadirkan bahasa yang indah itu, bertebaran dalam hampir semua puisi yang terhimpun dalam antologi Opera Tujuh Purnama ini. Sekadar contoh, berikut dikutip beberapa larik puisinya yang mengisyaratkan hal tersebut.

Sembunyi dalam kepompong petaka
Meninju gahar mengoyak langit
Bocor gemanya di balik balai-balai megah
(“Satukan Panji Negeri”)

… konser hujan bersahutan
Menggedor dinding kehampaan
 (“Merambah Kesah”)

Meskipun tidak ada larangan kata tertentu disandingkan dengan kata lain, apalagi kebebasan itu dilindungi konsep licentia poetica, penyair perlu berpikir keras mempertimbangkan kesesuaian untuk membangun persajakan, musikalitas bunyi, dan logika untuk mendukung pesan yang hendak disampaikan.

Sembunyi dalam kepompong petaka adalah larik terakhir bait pertama puisi
“Satukan Panji Negeri”. Bait itu mengungkapkan pesan tentang seseorang yang munafik pada Tanah Airnya. Kemunafikan itu coba disembunyikan macam ulat dalam kepompong. Tetapi ulat dalam kekompong melahirkan metamorfosis: kupu-kupu, dan kupu-kupu cenderung menjelma makhluk yang indah. Jadi, larik itu kontradiksi dengan larik-larik sebelumnya. Tambahan pula ada kata petaka. Dengan begitu, larik itu menciptakan dua kontradiksi: (1) dengan larik-larik sebelumnya, (2) persandingan kepompong (yang kecil) dan petaka (yang besar). 
Kesadaran pada ketepatan pilihan kata—yang pas, tepat, padat—juga berkaitan dengan kedalaman makna. Ketaksaan biasanya lahir dari ketepatan pilihan kata itu. Oleh karena itu, ketika kita hendak menyandingkan kata tertentu dengan kata lain, ia benar-benar menciptakan majas yang segar, terhindar dari bentuk klise, dan menawarkan metafora atau analogi dan seterusnya yang dapat mengklik saklar asosiasi dan imajinasi pembaca.
Larik-larik berikut ini merupakan contoh, betapa pentingnya pilihan kata. Kuncup yang mekar merunduk pasi (“Merambah Kesah”), Sebelum kokok si jalu retakkan wajah pagi; Tapi kau mampu mengelabuhi Tuhan Illah. (“Sirna”)

Kita kembali menjumpai kontradiksi pada larik Kuncup yang mekar merunduk pasi. Bagaimana kuncup jadi mekar. Secara logika yang dapat mekar adalah putik, bukan kuncup. Mekar pun tak dapat jadi kuncup, melainkan layu. Kuncup adalah antonim mekar. Jadi secara logika, salah satunya tidak dapat disandingkan sebagai keterangan. Meskipun dalam perkembangan bahasa, berbagai kemungkinan bisa saja terjadi, setidaknya belum untuk dua kata itu. Paling tidak, dalam puisi itu, kuncup yang mekar cenderung sebagai kontradiksi. 

Sebelum kokok si jalu retakkan wajah pagi, tentu maksudnya sebelum datang pagi. Personifikasi kokok si jalu, memang membayangkan suasana menjelang pagi yang pecah lantaran kokok ayam. Tetapi personifikasi itu lazim dilakukan para penyair “zadul”. Dalam hal ini, penyair perlu membaca sejarah—puisi-puisi masa lalu, agar terhindar dari bentuk klise yang sudah kedaluwarsa.

Yang lebih problematik terjadi pada larik: Tapi kau mampu mengelabuhi Tuhan Illah. Tuhan Illah, tentu maksudnya ilahi, sebab illah, maknanya lain. Tetapi bagaimana dengan kata mengelabuhi? Jika yang dimaksud mengelabui (sebagai salah ketik), maka engkau lirik lebih hebat dari Tuhan, sebab ia mampu mengelabu(h)i Tuhan. Lain soalnya jika larik itu berbunyi: Tapi kau ingin mengelabu(h)i Tuhan. Sebagai keinginan, apa yang dilakukan engkau lirik, belum tentu berhasil. Apalagi, kita percaya, bahwa Tuhan lebih berkuasa daripada manusia. Maka, tidak mungkin seseorang berhasil mengelabui Tuhan.
Jika yang dimaksud sebagai mengelabuhi Tuhan, maka engkau lirik berlabuh pada Tuhan. Kata mengelabuhi—dari kata labuh—lazimnya melabuh, jadi mengelabuhi, bentuk yang tak lazim, meskipun sebagai licentia poetica, apa pun diizinkan, sejauh tetap dengan mempertimbangkan keberterimaannya dalam bahasa yang bersangkutan.
***

Dari ke-72 puisi yang terhimpun dalam antologi Opera Tujuh Purnama karya Yoevita Soekotjo ini adakah sumbangannya bagi perpuisian Indonesia? Bagaimanapun antologi ini telah ikut memperkaya khazanah perpuisian Indonesia. Jika di sana-sini ada kekurangan dan kelebihan, kita dapat menempatkannya sebagai bagian dari proses menjadi itu. Dalam konteks itu, kita mendapati, bahwa sesungguhnya Yoevita Soekotjo potensial menghasilkan puisi yang sebaik-baiknya puisi. Periksa misalnya, puisi yang berjudul “Gita” berikut ini.

GITA
:Ananda Munira Gita Utami

Gita,
Kau adalah lagu cintaku
Alunkan lagu merdumu bersama syairku
Jangan sampai terdengar sumbang
di setiap titi nadanya

Tanpa kolofon :Ananda Munira Gita Utami, judul puisi itu sendiri sebenarnya sudah puitis: Gita sebagai lagu. Dan puisi itu memang berbicara tentang (lagu) cinta: ibu—anak, kakak-adik, sesama saudara, sahabat, teman atau sesama manusia. Jadi, pengalaman individual aku lirik menjadi pengalaman bersama, bahwa cinta (manusia) mestinya memancar tanpa kebencian yang dikatakannya sebagai terdengar sumbang.

Larik-larik dalam puisi itu, terkesan laksana suara hati yang mengalir begitu saja sebagai pesan individu yang menjelma pesan kemanusiaan. Nadanya tenang yang menjadikan kita (pembaca) nyaman pula menikmatinya. Setiap lariknya disusun dengan kata-kata sederhana, tetapi dari kesederhaan itu pula, kita dapat menangkap kedalaman makna cinta aku lirik pada sosok Gita, pada kemanusiaan.

Kesederhanaan dan kedalaman itu, tampak juga dalam puisi berjudul “Di Balik Tabir”.

DI BALIK TABIR

“Basuhlah wajahmu, Yoe,”
demikian suara itu berbisik kepadaku.

Lalu aku pun seolah masuk
ke pusaran mesin waktu
ke masa lalu.

Puisi itu menegaskan lagi, betapa pengalaman individual aku lirik—Yoe, berhasil menjelma jadi pengalaman bersama. Tidak sulit kita menafsirkan pesan: basuhlah wajahmu … meskipun pemaknaannya bisa: insaflah, bertobatlah, kembalilah ke jalan yang benar atau jumpai Tuhanmu, dan seterusnya. Sesungguhnya, pesan pada Yoe, berlaku bagi sesiapa pun juga, yang penuh dosa atau tidak, yang brengsek atau yang baik, sebab berdialog dengan Tuhan, tidak mesti menunggu dosa luber ke mana-mana. Idealnya, manusia melakukan itu setiap saat. Jadi pengalaman individual Yoe, seketika menjadi pengalaman yang menumbuhkan kesadaran bersama. Lalu, pada saat kita berdialog dengan Tuhan, masa lalu menjadi ukuran atau rujukan, sejauh mana kita selama ini bermesraan dengan Tuhan.

Kembali, puisi yang disusun dengan kata-kata sederhana itu sesungguhnya menyimpan kedalaman makna: tentang dosa, penyesalan, pertobatan, dan harapan. Kesederhaan suara hati itu merupakan potensi yang dapat dikembangkan menjadi energi puisi yang penuh makna. Beberapa puisi lain, seperti “Engkau,” “Rajawali di Dermaga,” “Maestro Malam”—mesti frasa ejakulasi bait, agak mengganggu, dan “Danau Laut Tinggal”—terutama bait pertama, menunjukkan kesederhaan dan kedalaman itu.

Jika kita memperhatikan puisi-puisi yang disebutkan tadi, kekuatan Yoevita Soekotjo justru terletak pada kesederhanaan ekspresinya yang mengalir begitu saja. Semangatnya menghadirkan metafora yang terkesan dipaksakan, sebagaimana terjadi pada puisi “Maestro Malam” justru malah menghadirkan ingar (noise).
Begitulah, Yoevita telah mengajari kita: bagaimana kesederhaan puisi menyimpan kedalaman makna.
***
Jika puisi ditempatkan sebagai suara hati yang terdalam dan tuhan bertakhta di sana, maka ke-72 puisi itu, boleh dikatakan merupakan representasi suara hati penyairnya. Paling tidak, berdasarkan ke-72 puisi itu, kita dapat menyimpulkan, bahwa Yoevita Soekotjo hendak menegaskan kecintaannya pada Tanah Air, penolakannya pada kemunafikan, kemarahannya pada kaum fatalis yang memperalat agama, dan penghormatannya pada Tuhan dengan nama apa pun. Lalu, jika ada pertanyaan: siapakah penyair yang mempunyai banyak Tuhan? Jawabnya: Yoevita!
Semoga begitu kiranya …

Sanu, Infinita-Kembar Novel Mistik-Falsafi Motinggo Busye - H. B. Jassin

ADMIN SASTRAMEDIA 1/25/2020
Sanu, Infinita-Kembar Novel Mistik-Falsafi Motinggo Busye
Oleh H. B. Jassin
Sanu, Infinita-Kembar Novel Mistik-Falsafi Motinggo Busye - H. B. Jassin

SASTRAMEDIA.COM - Ada pendapat, untuk mengarang diperlukan pengendapan, pemikiran, perenungan, penghayatan dan penilaian kembali. Menulis tentang sejarah yang sedang berjalan bisa menjadi laporan pandangan mata tanpa makna yang lebih dalam mungkin baru kemudian bisa disadari. Kalaupun ada kesadaran, kesadaran itu masih merupakan kepingan yang belum lengkap karena sempitnya ruang lingkup pandangan dan dangkalnya penghayatan. Sekarang dua puluh tahun masa pengendapan, rupanya telah cukup untuk melihat makna kejadian dan peristiwa dalam dimensi ruang dan waktu dalam keluasan dan kedalamannya. 

Cerita ini terjadi dalam tahun 1964--1965 ketika udara penuh dengan tempik sorak gegap gempita pihak komunis dan Lekra mengganyang orang-orang vang dianggap kontra-revolusioner, penganut-penganut humanisme universil dan Manifes Kebudayaan, dengan insinuasi-insinuasi dan fitnahan-fitnahan yang menimbulkan kegelisahan, ketakutan dan saling curiga dalam masyarakat, bahkan antara orang tua dan anak dan antara suami dan istri. Harian Rakyat. dengan ruangan kebudayaannya, Bintang Timur dengan ruangan Lentera yang dijenderali Pramoedya Ananta Toer, dengan gencar melontarkan tuduhan-tuduhan anti-revolusioner, anti—-Nasakom, antek kapitalis, agen CIA, pengkhianat bangsa, dan memuat nama-nama orang-orang yang harus diganyang dan dibabat, lengkap dengan alamat-alamatnya. Semuanya itu dengan maksud untuk mengintimidasi lawan-lawan demi mematangkan situasi perebutan kekuasan. Pihak kiri mengerahkan rapat-rapat raksasa untuk memperlihatkan kekuasaan, bahkan tidak segan-segan mengatur demonstrasi untuk mendatangi kedutaan-kedutaan dan dengan demikian merusak hubungan baik dengan negara-negara bersahabat. Bentrokan fisik pun tidak bisa dihindari seperti yang terjadi di Bandar Betsy. 

Dalam keadaan teror mental semacam itu, macam-macam reaksi orang. Ada yang buru-buru masuk partai berkuasa, ada yang meluluhkan diri dalam massa dan tidak menjadi siapa-siapa, tanpa ideologi tanpa idealisme, dalam usaha melepaskan diri dari bencana dihancurkan sebagai unsur kontra-revolusioner. Ada yang melarikan diri ke luar kota, menyembunyikan diri mencari selamat, bahkan ada yang berusaha ke luar negeri: Ada yang berlatih bela diri, ada yang kembali kepada agama sebagai pegangan, jangan sampai panik oleh serangan dan fitnahan, mohon perlindungan Tuhan dan ada yang menuntut ilmu kebatinan untuk membuat dirinya kebal atau bisa menghilang. Inilah masanya ketika budayawan dan seniman yang tidak mau berpolitik, diseret ke tengah gelanggang politik. Maka sebagian mereka ikut berpolitik atau menjadi bulan-bulanan politik. Konsternasi jiwa seniman pada masa itu terlukis dengan baik dalam novel ini. 

Sanu adalah seniman yang memilih mistik untuk melepaskan diri dari cengkraman politik. Sebagai pelukis dan pengarang ia kehilangan ruang gerak. Lukisan-lukisannya yang rada abstrak dituduh lukisan borjuis dan karangannya yang sudah naik pers setselnya dilebur, karena namanya dimuat dalam surat kabar kiri sebagai seorang yang anti-revolusioner. Penerbit ketakutan untuk mencetaknya. Tawaran seorang diplomat untuk mengirimnya ke negeri Paman Sam, ditolaknya dengan tegas: di antara dua adikuasa ja memilih jadi nasionalis.

Sanu menuntut ilmu kebatinan, khususnya ilmu untuk menghilangkan diri, hingga selamat dari sergapan musuh. Sanu akan hijrah ke luar atmosfir, menurut istilahnya sendiri. Dalam dirinya Sanu menemukan dua kesadaran yang senantiasa bertentangan, yaitu suara aku-ego dan suara Aku—Tuhan dan itulah yang merupakan dua infinita Sanu, dua hakikat dalam satu jasad. Dengan bicara tentang pengalaman empiris menembus atmosfir dan stratosfir, untuk bertemu Tuhan, adanya diri ganda manusia, nampak pencarian jati diri dalam hubungannya dengan lingkungan, Tuhan dan alam semesta. Sanu merenung dan mencari jawaban atas segala apakah penguasa, apakah massa, apakah kebenaran, apakah moral, apakah fungsi ruang dan waktu, apakah hakekat Ada, Gerak, Situasi. Ia mendalami kebatinan, lengkap dengan peristilahan-peristilahannya. Ja berspekulasi mengenai planet-planet di angkasa dan harmoni dalam semesta. Cahaya menyinari Muhammad. Dan Cahaya inilah awal mula penciptaan Allah. Dan banyak lagi spekulasi-spekulasi mistik dalam menjalani tingkat-tingkat ilmul yagin, ainul yagin untuk sampa! kepada haggul yagin. Sanu telah menimba ilmu pengetahuan dari filosof-filosof dan pemimpin-pemimpin rohani seperti Aristoteles, Plato, Sokrates, Descartes, Pascal, Bergson, Kant, Emerson, Buddha, Kong Fu Tse, Lao Tse, Al—Hallaj, Yesus, Muhammad, Nietzsche, Machiavelli, Karl Marx, Hegel, Caesar, Jefferson, Lincoln. 

Sebagaimana Danarto sampai kepada Adam Makrifat, demikian pula Sanu sampai kepada Manusia Total '' Manusia yang menjaga keseimbangan antara diri pertama dan diri kedua. Seluruh manifestasi diri . pertama adalah infinita-ego, yang lawannya adalah infinita-kreatif. Karena itu, diri kedua infinita-kembar itu, dengan kreativitasnya, menjadikan dia dinamis. Dan dinamis kreatif hanya ada pada pemilik status perimbangan, yaitu Manusia Total.” (ns hal. 5). “Boleh jadi pengalaman-pengalaman irrasional yang dialami Sanu menimbulkan senyum sinis pada pembaca yang tidak mempunyai atau kehilangan indra keenamnya, tapi apabila kita memperhatikan gejala-gejala ajaib yang terjadi sekitar kita, maka apa yang dialami Sanu pada dirinya, bukanlah hal-hal yang aneh bahkan mustahil. Membaca cerita ini kita seperti masuk ke dunia mimpi yang mencekam mengasyikan, di mana kepala adalah kaki, kiri adalah ka"nan, atas adalah bawah, timur adalah barat, dunia sungsang sumbalit di mana kita mencari jalan dengan rasio di tengah kebalauan yang mokal-mokal. Kita bertemu pikiran-pikiran dan pemandangan-pemandangan yang membedah kenyataan untuk sampai kepada kebenaran-kebenaran hakiki.

Ilmu psikologi, khususnya psikiatri, mempunyai nama-nama untuk gejala-gejala yang dialami Sunu, seperti halusinasi, paranoia, schizophrenia, delirium, dan sebagainya, semuanya merupakan penyakit-penyakit kejiwaan yang tidak ada hubungannya dengan alam gaib. Hanya karena saraf tidak berfungsi dengan baik, maka bermacam dengar-dengaran, lihat-lihatan dan cium-ciuman bisa terjadi, yang sebenarnya objeknya tidak ada. Tapi di samping psikologi dan psikiatri telah berkembang pula ilmu yang disebut parapsikologi yang menyelidiki gejala-gejala luar indrawi, bukan sebagai gejala-gejala penyakit, tapi sungguh-sungguh berasal dari kemampuan pengindraan yang sangkin halusnya bisa berhubungan dengan dunia gaib di luar diri. Nama lain ialah spiritualisme, tapi perbedaan antara keduanya ialah bahwa parapsikologi mencoba dengan cara ilmiah menganalisa gejala-gejala luar indrawi, sedangkan spiritualisme menerima dunia gaib begitu saja.

Maka dalam membaca pengalaman Sanu yang diceritakan oleh Busye ini, kita terbentur pada pertanyaan, apakah Sanu sedang mengalami proses panggilan, ataukah ia memang sedang menghayati proses perwalar. yang sampai kepada hakikat kebenaran yang pal.ag akhir? Apapun asal usulnya pengalaman Sanu, sebagaimana Busye menceritakannya. sungguh sangat. menarik, karena diceritakan dengan cara yang sangat masuk akal, seolah-olah dialami oleh pengarangnya sendiri. Kelebihan pengarang dari pemak4j bahasa biasa ialah bahwa pengarang dapat mengungkapkan gerak batin yang paling halus dan paling dalam, berupa perasaan dan pikiran yang menyertai gerak fisik yang paling kecil dan paling halus, dalam kata-kata. Dan pengarang di sini membuktikan kemampuan itu. Ia melukiskan pengalaman orang bermeditasi untuk mendapat kekuatan menembus alam atmosfir dan stratosfir, menguak perbatasan hidup dan mati, menjalin pengalaman nyata dan pengalaman rohani, di mana alam nyata dan alam barzakh berbaur, pengarang hidup dalam kesemestaan, bukan sebagai pasien jiwa, tapi sebagai manusia pilihan. Tanggapan mistik dan peristilahan mistik dikuasai dengan cekaman yang kuat, bahkan ditambah dengan konsep dan peristilahan fisika dan metafisika mutakhir (ns hal. 31—32). ”

Roman Motinggo Busye yang kita hadapi 1ru mencapai dimensi kedalaman yang belum pernah kita saksikan dalam roman-romannya terdahulu. Satu buku yang memerlukan kesadaran total untuk memahaminya. 

Sedikit Tentang Kekuasaan - Goenawan Mohamad

ADMIN SASTRAMEDIA 1/20/2020
Sedikit Tentang Kekuasaan
oleh Goenawan Mohamad



SASTRAMEDIA.COM - Kekuasaan —kata ini agaknya baru dalam perbendaharaan kita. Buku Sejarah Melayu, misalnya yang begitu banyak berkisah tentang para raja dan hamba sahayanya, praktis tak mengenal kata itu sebagaimana kita mengenalnya kini. Tatkala menceritakan Sultan Zainul Abidin yang ditumbangkan oleh adiknya, Sejarah Melayu, dalam cerita kedua puluh dua, memakai kata ''merebut kerajaan” dan bukan ”merebut kekuasaan”. Demikian pula ketika Sultan dalam Babad Mangkubumi mengucapkan kata-kata perpisahannya, ia tak berbicara bahwa Dipati Anom akan "mengggantikan kekuasaan” melainkan "anggenteni keraton mami” atau "menggantikan keratonku 

Dari situ nampak agaknya, bahwa ada persenyawaan antara pengertian kekuasaan dan pengertian kerajaan atau keraton, dalam konteks itu, tak mempunyai genealogi tersendiri. Ia tak punya sejarah tersendiri. Bahkan dia dikemukakan seakan-akan tak mempunyai peran tersendiri. Dalam Sejarah Melayu dan Babad Mangkubumi (atau katakanlah juga Babad Tanah Jawi), yang dibicarakan bukanlah orang-orang yang "mempunyai kekuasaan”, melainkan orang-orang yang “(ber)kuasa”. 

Dan orang yang ”(ber)kuasa”, seperti halnya orang gagah atau pun yang cantik, yang sakti atau pun yang halus budi, tak pernah dipersoalkan apa fungsi kualitas yang ada pada dirinya itu. Kisah perang saudara dalam Bharatayudha, pada dasarnya bisa dilihat sebagai kisah perang memperebutkan kekuasaan. Tapi di sana tak pernah disinggung secara jelas apa yang dilakukan baik oleh Kurawa maupun oleh Pandawa, dalam keadaan mereka berkuasa. Dengan kata lain, di sana kita tak pernah membayangkan kekuasaan sebagai sesuatu yang kehadirannya terkait dengan suatu fungsi. Kekuasaan, di sana, tak tergambar sebagai sesuatu yang "bertindak”. 

Agaknya itulah kesulitan kita pertama bila kita berbicara tentang "penyalahgunaan kekuasaan”. Pengertian "penyalahgunaan kekuasaan jelas terjemahan dari bahasa Inggris, "abuse of power”. Masalahnya, benarkah dalam struktur konseptual kita di Indonesia ini kita bisa berbicara tentang kekuasaan sebagaimana orang Inggris berbicara tentang power

Saya tidak terlatih dalam ilmu politik maupun dalam linguistik. Latihan saya ialah dalam mempergunakan bahasa sebagai sastrawan dan wartawan. Dalam penangkapan saya, kedua kata itu merupakan hasil dari proses semantik yang berbeda. Dalam esainya yang terkenal tentang ide kekuasaan bagi orang Jawa, Andersen mengatakan bahwa orang Jawa tak mempunyai kata yang ekuivalen dengan kata power. Saya pikir dia benar. Tapi kesulitan yang dihadapi Andersen berakibat pada kesulitan yang kita hadapi dalam membaca esainya itu: ia tetap bertolak dari kata power, meskipun kata itu dituliskannya dengan huruf P” (kapital). Mungkinkah karena itu seluruh tesisnya menyarankan tumbuhnya arti 'kekuasaan' dengan ”daya” atau "kekuatan” — suatu hal yang juga (justru) terdapat dalam kosakata Inggris?(1)

"Power is concrete. This is the first and central premise of Javanese political thought,” tulis Andersen. Jika kita alihbahasakan kata power di situ dengan ”kekuasaan”, akan terasa ada yang rancu. Power sebagai daya atau kekuatan memang kongkrit. Tapi Power sebagai kekuasaan? Kata ”kekuasaan” menunjukkan suatu hasil abstraksi. 

Tapi tentu saja kita di sini dan sekarang ini tidak hanya menggunakan referensi Sejarah Melayu atau pun Babad Tanah Jawi. Kita telah mengoper konsep ”kekuasaan” sebagai kata lain dari power. Kita telah membayangkan kekuasaan itu sebagai sesuatu yang ada hubungannya dengan akibat pada orang lain, sesuatu yang ada hubungannya dengan efek dan fungsi. Juga, sesuatu yang terpaut pada, tapi sementara itu dapat dianggap independen dari erang yang ”(ber)kuasa”. Bahkan sekarang kita bicara tentang "penyalahgunaan kekuasaan”, dengan suatu kerangka pikiran yang mengakui, bahwa ada standar tertentu bagi kekuasaan selama ia dipergunakan. ) 

Dengan kata lain, kita sekarang tak lagi bercerita tentang orang yang (ber)kuasa”, melainkan orang yang mempunyai kekuasaan”. Dengan kata lain, dalam diri kita telah terbentuk suatu kebiasaan membayangkan kekuasaan sebagai semacam wujud yang mandiri, yang "bertindak”, yang bisa bermanfaat tapi juga — bila kita menerjemahkan pandangan Lord Acton -bisa merusak pribadi orang yang memegangnya. Itu berarti kita dengan langsung mengasumsikan adanya sumber-sumber kekuasaan di luar jabatan dan pejabatnya. Tapi apa? Konstitusi kita menyebut kata "rakyat”. Namun tentang ini, kata-kata kita juga memperlihatkan remang-remangnya pengertian dan persepsi kita. 

15 Juli 1945, Panitia Persiapan Penyelidik Kemerdekaan Indonesia bersidang untuk kesekian kalinya. Para pesertanya, sejumlah cendekiawan dan para pemimpin pergerakan rakyat serta tokoh masyarakat, tengah mendiskusikan naskah konstitusi untuk negara yang akan dibentuk. Ketua sidang Radjiman Wedyadiningrat. Di antara yang hadir, pada rapat yang dibuka pukul 10.20 itu, ada Soekarno, Hatta, Supomo, Muhammad Yamin, tokoh-tokoh keturunan asing dan juga beberapa pemimpin organisasi Islam. Yang bicara pertama kali adalah Soekarno, sebagai Susya Panitia Kecil Perancang Undang-Undang Dasar. 

Dalam pidatonya yang sekitar 20 menit itu Soekarno antara lain menjawab pertanyaan, yang rupanya ada disampaikan kepadanya di luar sidang, mengapa dalam rancangan Undang-Undang Dasar yang sedang dibahas itu tak dituliskan pasal-pasal yang menegaskan les droits de I'homme et du citoyen, Soekarno sendiri dengan eksplisit menolak pencantuman jaminan atas "hak-hak manusia dan warganegara”, Ia, dalam pidato itu, menyatakan "minta dan menangisi” agar dalam Undang-Undang Dasar Indonesia tidak dimasukkan "yang dinamakan right of the citizen sebagai yang dianjurkan oleh Revolusi Prancis itu ”.(2)

Sebab, kata Sukarno, ”kita tidak boleh mempunyai paham induvidualisme”. Katanya sebagai kesimpulan: 

"Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya yang terhormat Kita rancangkan Undang-Undang Dasar dengan kedaulatan rakyat, dan bukan kedaulatan individu. Kedaulatan rakyat sekali lagi, dan bukan kedaulatan individu. Rakyat, bukan individu."

Apakah rakyat, jika bukan suatu himpunan yang terdiri dari individu-induvidu? “Rakyat” dalam pengertian seperti itu, di satu pihak memang menunjuk kepada mereka yang bukan dalam -pemerintahan. Tapi di lain pihak juga suatu keutuhan yang tak dapat diganggu-gugat, suatu kekuatan dan sekaligus suatu nasib. Terminologi Marxis-Leninis, yang di Indonesia dan di Cina mempergunakan huruf kapital untuk kata itu, mengartikan "Rakyat” sebagai himpunan kekuatan sosial-politik yang berada di luar, dan menentang, mereka yang berkuasa dalam struktur masyarakat yang semi-kolonial” dan semifeodal”. Terminologi Soekarno, meskipun mungkin tak sepersis Itu definisinya, tak jauh dari sana, meskipun dengan catatan: bila kaum Marxis-Leninis tak meniadakan kemungkinan konflik di kalangan Rakyat” itu, karena ia terdiri dari kelas yang berbeda-beda, Soekarno justru menunjukkan kecemasannya akan konflik. Karena itulah ia menolak pencantuman hak manusia dan warganegara. Hak kemerdekaan manusia sebagai individu, kata Soekarno, "itulah yang membuat dunia di Eropa dan Amerika menjadi dunia yang penuh dengan konflik, dengan perguncangan, dengan pertikaian klassentrijd, dengan peperangan.”

Soekarno dalam hal ini lebih dekat kepada pendirian Supomo: falsafah yang mendasari konstitusi yang dirancang itu adalah "dasar kekeluargaan”, "dasar gotong-royong”.(3) Yang penting dalam pembicaraan kita kini ialah bagaimana kekuasaan datang kepada seorang pemimpin dalam kekeluargaan” itu. Dalam keluarga, kekuasaan seorang kepala rumah tangga bukan bersumber dari mereka yang dalam suatu masa dipimpinnya. Dalam keluarga, sehubungan dengan itu, mereka yang dipimpin -anak-anak, dan mungkin juga istri-  tak layak untuk mempersoalkan asal-usul wewenang orang yang memimpin. Bahkan mengasumsikan kemungkinan penyalahgunaan kekuasaan juga tidak patut. Tak mengherankan bila Supomo menganggap pertanyaan Hatta "yang mempersoalkan bagaimana halnya kalau hak seseorang untuk bersidang dilanggar oleh Pemerintah,” adalah pertanyaan yang "sebetulnya berdasar atas kecurigaan terhadap negara”. Dengan kata lain, kata Supomo, "itu suatu pertanyaan yang individualistis”(4)

Pembicaraan itu terjadi di tahun 1945, ketika negara belum berdiri. Konflik-konflik antara para pemegang kekuasaan dan yang di luarnya belum dialami. ''Kecurigaan terhadap negara” meskipun ini mungkin ada di kalangan rakyat dalam sebuah negara jajahan -juga tak terbayangkan sebagai sesuatu yang wajar. “ 

Dalam taraf itu agaknya pengertian rakyat”, sebagaimana pengertian ”kekeluargaan”, diterima bukan hanya sebagai metafora. Kedua kata itu seakan dengan persis merumuskan suatu kenyataan. Padahal, orang-orang yang di luar kekuasaan, yang disebut sebagai "rakyat” itu, lebih majemuk ketimbang sebagai suatu himpunan yang tanpa konflik. Demikian juga hubungan-hubungan sosial-politik, yang oleh Supomo dikatakan sebagai kekeluargaan”. Hubungan itu lebih kompleks ketimbang hubungan antara ayah yang bijak dan anak-anak yang berbudi, ideal. (5) 

Dengan "rakyat. dan "kekeluargaan” tidak diperlakukan sebagai sekadar suatu metafora, tak mengherankan bila kita mengalami masalah dalam berbicara tentang sumber-sumber kekuasaan. Masalah ini saya temukan misalnya dalam penggunaan kata "publik”. 

Kata ini, (dalam hubungannya dengan pengertian seperti public fund misalnya). hampir tak pernah dipersepsikan sebagai sesuatu yang berasal dari "orang ramai”, khalayak”, atau “masyarakat”. Public fund lebih mudah diterima dalam kesadaran sehari-hari di Indonesia sebagai "dana pemerintah”, sebagaimana public servant adalah pegawai pemerintah”. 

Dalam struktur konseptual itu, bukan suatu kesalahan bila Menteri Dalam Negeri Amirmachmud, misalnya, mengatakan ingin mengoreksi ucapan yang mengatakan, pembangunan itu dilakukan sepenuhnya oleh rakyat”. Ditunjukkan dengan pajak yang dibayar oleh rakyat sebagai indikator, memang nampak bahwa sumbangan yang dibayar rakyat untuk pembangunan sangat kecil paling tinggi 8 % dari APBN. Selebihnya adalah hasil usaha pemerintah.(6) Namun dengan demikian usaha pemerintah bukan usaha ”publik”. Penguasaan negara atas kekayaan alam seperti minyak bumi, yang merupakan sumber dana yang terbesar, dipahami sebagai penguasaan oleh pemerintah, dan lebih khusus lagi oleh birokrasi. 

Dengan struktur konseptual yang demikian, persepsi tentang pemerintah adalah persepsi tentang suatu kekuasaan yang asal-usulnya independen dari anasir bukan-penguasa. Kekuasaan di situ hadir dan dianggap bukan sebagai hasil penyertaan orang lain, dalam hal ini "publik”, orang ramai, masyarakat atau rakyat. 

Pada hemat saya, yang terjadi di situ bukanlah suatu distorsi konsep. Yang terjadi ialah suatu gejala, ketika konsep-konsep dipergunakan tanpa akar yang cukup kokoh dalam kesadaran kita berbahasa. Akar itu tak cukup kokoh karena sejarah sosial kita nampaknya belum menanamkannya melalui pengalaman yang memadai, 

Saya tidak tahu dapat atau tidakkah struktur kekuasaan dalam sejarah sosial di masyarakat Indonesia dijelaskan dengan model "masyarakat hidraulik” Wittfogel, tempat berlakunya rationality optimum para penguasa. Namun menarik untuk mengetahui informasi yang dikemukakan kembali oleh Reid, ketika ia mencoba menelaah "asal -usul kemiskinan” di Indonesia, kota-kota Asia Tenggara — yang di sekitar abad ke-16 tak kalah makmurnya dengan pusat-pusat pertumbuhan kapitalisme di Eropa — berfungsi karena sistem dependensi, yang umumnya oleh orang Eropa disebut sebagai perbudakan. (7) 

Di masa itu, tanah berkelebihan. Tanah belum dianggap punya nilai intrinsik dalam kode hukum Orang-orang Asia Tenggara. Iklim, rasa tak aman dan mobilitas yang diperhitungkan akan selalu terjadi, merupakan hal-hal yang menghalangi akumulasi modal tetap dalam bentuk bangunan atau pun perabot. Maka tenaga manusialah yang merupakan kunci kekayaan, kekuasaan dan status. 

Para penguasa dengan demikian menaklukkan dan memiliki tenaga manusia itu. Tak cuma demikian. Mereka juga tak membiarkan tumbuhnya kekuatan potensial yang lain: para saudagar, Sultan Mahmud dari Malaka dan Iskandar Muda dari Aceh bahkan konon pernah menghukum mati rakyatnya yang paling kaya untuk bisa menyita kekayaan mereka. Sultan Agung dari Mataram menghancurkan kota-kota perdagangan di pesisir Jawa. Penggantinya Amangkurat I, melarang rakyatnya berlayar untuk berdagang. Kata-katanya, sebagaimana dikutip orang Belanda Van Goen dan dikutip kembali oleh Reid, menunjukkan pandangannya tentang penguasa dan rakyat yang memang mencerminkan tendensi "despotisme timur” dalam pengertian Wittfogel: "Rakyatku tak punya apa pun yang jadi milik mereka sendiri .. . tapi apa saja yang dari mereka datang kepadaku, da1 tanpa pemerintahan yang kuat aku tak akan jadi raja biarpun hanya sehari”. 

Rakyat dengan demikian tak diperkenankan beroperasi sebagai sumber-sumber, apalagi pusat-pusat, kekuasaan tersendiri. Dalam perkembangan selanjutnya, ketika kemiskinan meruyak lebih luas dan dalam, dan pelbagai perilaku tumbuh dari tuntutan untuk tetap hidup di tengah-tengah suatu involusi agraria”, semakin jauhlah kemungkinan adanya anasir bukan penguasa yang bisa diterima sebagai berdaulat. 

Tentu, seperti pernah ditunjukkan oleh Sartono Kartodirdjo, dalam sejarah Jawa khususnya ada gerakan-gerakan yang dilancarkan oleh counter-elite pedesaan. Bahkan, pergolakan itu kadang-kadang ”sampai pada permukaan aliran politik”, antara lain karena berhasil bersekutu dengan elite keraton. Sartono menyebut sebagai contoh kejadian yang dikisahkan dalam Babad Pakepung, ketika empat ulama desa bergabung dengan Paku Buwono IV hingga terjadi perlawanan terhadap Belanda sekitar tahun 1790. Juga Perang Dipanegara, ketika aristokrasi yang santri bersatu dengan elite agama di pedesaan yang dipimpin oleh Kiai Maja. Namun, seperti Juga sudah dikemukakan oleh sejarawan itu sebelumnya, gerakan counter elite pedesaan pada masa itu, mur dah diberantas dan tidak ada kemungkinan meluas dan mewujudkan harapannya.”(8)

Dalam perkembangan sejarah Indonesia selanjutnya tentu kita tak bisa mengatakan, bahwa tema lama itu berulang. Bahkan sangat besar pengaruh anasir dari bukan -penguasa (juga dari desa-desa) dalam hubungan-hubungan kekuasaan di Indonesia semenjak awal abad ke 20. Seperti umumnya sudah diketahui, pergerakan nasional dan partai-partai politik dan ketentaraan mendapatkan tenaganya dari sana. 

Namun kenyataan-kenyataan di Indonesia dewasa ini juga dibentuk oleh riwayat pasang surutnya pergerakan dan partai politik di satu pihak dan birokrasi di lain pihak melintasi gejolak revolusi dan keniscayaan administrasi, dalam semacam dialektika antara dorongan perubahan dan hasrat akan ketertiban. Pada akhirnya, pengaruh pelbagai gerakan politik sebagai ekspresi kuatnya arus yang datang secara kontinyu dari anasir bukan pemerintah nampak tak cukup kuat untuk mewujudkan suatu perilaku ketatanegaraan, yang mengenal distinksi antara birokrasi dan pusat pengambilan keputusan. 

Keadaan itu pada gilirannya tak mengubah banyak persepsi yang ada tentang orang yang berkuasa. Agaknya karena itulah seorang peneliti Barat tentang Jawa Timur di tahun 1950-an mengatakan, bahwa ”When the typical Javanese villager thinks of the rule, he automatically thinks of the Bupati”, dan bahwa 'The atmosphere and tone of the relationship of the Bupati and his people is still steeped in feudalism” -meskipun kata "feudalism di situ barangkali lebih menunjuk kepada tatacara tradisional ketimbang menjelaskan secara lengkap sistem yang ada. (9) 

Sejarah sosial-politik yang sedemikian itu yang menyebabkan, bahwa tetap ada kerancuan berkenaan dengan pengertian kita tentang kekuasaan. Genealogi kekuasaan tak teramat pasti. Dan saya kira nampak bagaimana tak mudahnya di sini kita berbicara tentang "penyalahgunaan kekuasaan”. Sebab kekuasaan baru bisa dibicarakan dalam kaitannya dengan norma-norma yang kita tentukan untuknya, bila ia telah mapan dengan asal-usul yang persis: baik sebagai sesuatu yang datang dari kata ilahi atau pun karena investasi, secara terus-menerus, dari anasir bukan-penguasa di masyarakat. 

Sebagai penutup, saya ingin mengingatkan lagi dongeng buah nyiur muda Ki Ageng Giring dalam Babad Tanah Jawi. Dalam cerita ini, Ki Ageng Giring adalah orang pertama dan satu-satunya yang diberitahu oleh suara gaib, bahwa buah nyiur muda di pohonnya itu bukan buah nyiur biasa. Siapa yang meminumnya akan menurunkan anak cucu yang kelak jadi penguasa Tanah Jawa. Mendengar itu, Ki Ageng Giring memetiknya, dan menyimpannya dalam dapur. Ia bermaksud meminum air kelapa ajaib itu setelah ia pergi dari hutan. Tapi ternyata, secara kebetulan. Ki Pemanahan datang mampir -dan ialah yang menghabiskan air kelapa yang bukan miliknya itu. Dan dialah bapak dari Sutawijaya, yang kemudian jadi Penembahan Senapati. 

Dongeng buah nyiur muda Ki Ageng Giring itu agaknya hendak menjelaskan, bahwa betapapun kurang sahnya kekuasaan, betapapun buruknya suatu bab dalam sejarah politik menurut nilai-nilai etika yang telah disepakati, pada akhirnya ia harus diberi makna. Demikianlah nilai-nilai etik diletakkan di bawah, bahkan mungkin di luar, suatu orde yang lebih besar bobotnya ketimbang kesepakatan nilai-nilai itu. Kekuasaan, dalam dongeng itu, telah mapan dengan sumber yang pasti yakni hak yang datang dari Tuhan, Yang Gaib, kepada orang yang berkuasa. Dewasa ini mitos nyiur Ki Ageng Giring tentu tak dapat dipergunakan, serta diterima, untuk menjelaskan sejarah kekuasaan, termasuk penyalahgunaan. Barangkali di sini kita tengah mencari gantinya.

Jakarta, 17 Agustus 1982.

Endnote:
1) Benedict R. O.G. Andersen, "The Idea of Power in Javanese Culture?" dalam Claire Holt (ed.)..Culture and Politics in Indonesia, Cornell University Press, Ithaca dan
London, 1972, hal 1 dan seterusnya,

2). Dikutip dari Prof. Mr. H. Muh. Yamin, Naskah PersiapanUndang-Undang Dasar 1945. Penerbit "Siguntang”, Jakarta, 1959, hal. 296 dst. Ejaan disesuaikan.

'8). S.d.a., hal. 287, hal. 109 dst., (Pidato Supomo).

4). S.d.a,, hal. 314. : —

5). Tentang metafora dan paternalisme, lihat Richard Sen-
net, Authority, Alfred A. Knopf, New York.1980, hal.
71— 83,

6). Dikutip Sinar Harapan, 20 April 1982. Baca juga tanggapan anggota DPR Sabam Sirait dalam harian yang sama.

1. AJ.S. Reid, 'The origins of poverty in Indonesia”, dalam J.J. Fox etal (ed). Indonesia: Australian Perspective Research School of Pacific Studies, The Australian Natinal University, Canberra, 1980. hal. 441 dst. Tentang rationality optimum dalam despotisme oriental, lihat Karl A. Wittfogel. Oriental Despotism A. C omparative Study of Total Power, Vintage Books, New York, 1981. hal. 128—134.

8). Sartono Kartodirdjo, "Kepemimpinan Dalam Sejarah Indonesia”. Buletin Balai Pembinaan Administrasi Untversitas Gadjah Mada, No. 2/1974. Cf. James Scott menyebut perlunya dibahas petani dalam keadaan nonrevolt”. Sebab, berbicara tentang pemberontakan petani berarti ”to forget both how are these moments are and how historically exeptional it is for them tolead a successful revolution.” .

9). Dikutip oleh Heather Sutherland dalam The Making of A Bureaucratic Elite, ASAA Southeast Asia Publications Series, Heinemann Educational Books (Asia) Ltd., Singapura, 1979, hal, 161. Sutherland sendiri menyimpulkan. "Studies of independent Indonesia's administrators in their local setting also show strong continuities with the preceding colonial corps.” Ia juga melihat persamaan birokrasi Indonesia di masa Orde Baru dengan pengalaman birokrasi di jaman Belanda.