Sastranews

Sajak

Esai

TERBARU

Sajak-Sajak Ngantuk (3)

ADMIN SASTRAMEDIA 6/16/2019 Add Comment
oleh Sutardji Calzoum Bachri

Sajak-Sajak Ngantuk

Sejarah perpuisian modern kita banyak diisi dengan para penyair parafrase, yang membikin sajak dengan memparafrasekan sajak penyair lainnya. Bagaikan parasit para penyair parafrase ini “hidup” dari puisi penyar-penyair lain. 
Adapun yang sangat menyedihkan ialah bahwa mereka Itu sering mendapat tempat yang baik dalam dunia persajakan kita: dalam antologi-antologi puisi, misalnya. Mungkin karena si penyusun antologi bersifat kebapakan (pembinaan), tapi mungkin pula karena kurang pembinaan. 
Haruslah ada penilaian yang wajar terhadap perpuisian kita. Biarkanlah di negeri kita ini tumbuh beribu-ribu penyair. Tetapi kalau di antara yang beribu-ribu itu ada sepuluh saja yang benar-benar penyair (genuine), kita harus menerima kenyataan semacam itu secara wajar dan tak perlu melakukan penilaian yang bertujuan mengkatrol. 

Peng-katrol-an hanya akan merusak iklim perpuisian kita! Sajak-sajak “Sebelum Tidur” mengingatkan kepada kita bahwa menulis puisi berarti mengkonkretkan pengalaman puitik dengan bantuan kata-kata. Untuk berhasil harus ada interaksi yang wajar antara penyair dengan kata-kata sebagai pribadi-pribadi yang merdeka. 

Interaksi penyair dengan kata-kata dalam kebebasannya masing-masing pada momen penulisan sajak pada akhirnya akan menghasilkan pribadi sajak itu. Yang secara gampangnya disebut suara penyair, yang unik, dan yang membedakannya dengan penyair lain. 

Itulah yang tak ada dalam kumpulan sajak Budiman “Sebelum Tidur”. Kita hanya dia suguhi kata-kata yang hanya mendukung beban pengertian, jargon, ataupun klise-klise yang pada akhirnya berhasil membikin saya ngantuk—hal klise yang memang sangat saya butuhkan sebelum tidur. 

Sinar Harapan, 10 Maret 1978

Sajak-Sajak Ngantuk (2)

ADMIN SASTRAMEDIA 6/16/2019 Add Comment
oleh Sutardji Calzoum Bachri

Sajak-Sajak Ngantuk

Karena dia belum berhasil mengkonkretkan pengalaman puitiknya.

Kata-kata dalam kebanyakan sajaknya hanyalah sebagai alat untuk mengantarkan pengertian. Maka yang kita dapat dari sajaknya hanyalah pengertian. Kita mengerti apa maunya, tapi sajaknya kering dari perasaan. Kita tidak tersentuh. Jargon, klise, dan semacamnya banyak bertaburan dalam baris-baris sajak Budiman. 

Maka ketika ia menyatakan dirinya bahwa dia adalah maut (Akulah yang bernama maut/ Aku, itulah hidup/ Jiwa adalah aku/ Aku juga raga itu sendiri/ nafas dan darah/ Namaku juga adalah semangat dan nafsu/ Tapi derita dan kerja / selalu menyertaiku/ tiada selembar pun batas/ antara aku dan maut/ Maut dan aku/ aku dan maut/ satu adanya) dalam sajak yang dia beri judul “ia Namakan Dirinya Maut", kita tidak tergetar apa? “Aku” dan “Maut" tidak berhasil dia hadirkan pada kita.

Tentang “ke-Aku-an” nampaknya Budiman tidak ambil pusing amat. Dia tidak ambil peduli pada pencarian orisinalitas. Maka dalam kumpulan Sebelum Tidur yang berisikan sajak-sajak dari tahun 1960-1976, di sana-sini terdengar suara penyair lain. 

Dalam tahun enampuluhan di masa dunia persajakan kita penuh dengan sentimentalitas, Budiman sudah turut menyumbang sajak-sajak sentimentil yang berbau Hartoyo Andangjaya atau Mansur Samin: 

“Aku sekarang pulang, adikku sayang 
Tahu arti cinta dan kampung halaman 
Masihkah kau ingat ciri luka di pipiku 
Masihkah kauingat suara dan langkahku?

 (“Surat Seorang Abang kepada Adiknya”, 1960). 

Tapi enambelas tahun kemudian, yakni pada tahun 1976, penyar kita ini masih belum juga menemukan suaranya sendiri. Sajak-sajaknya “Kupandang Langit dari Beranda” dan “Sebelum Engkau Terlambat” sarat dengan suara-suara Goenawan Mohamad atau Sapardi Djoko Damono: 

"Adakah yang akan kaukatakan menjelang parak siang, sebelum mimpi kembali datang lalu menjelma menjadi bayang-bayang? Engkau selalu terdiam apabila aku bertanya adakah hari akan hujan kalau aku berangkat. Dan sekarang kita berpisah dan engkau merasa tak perlu lagi menunggu di beranda itu. Tapi memang ada yang hilang sekarang: cahaya matamu yang mengembun di balik kaca jendela.

Dari beranda rumah itu, malam itu sebelum berangkat aku masih ingat, rasanya ada kulihat engkau terbang, samar kabur di langit. Adakah yang tertinggal di kamar belakang ketika aku buru-buru pamit malam itu dan lupa menutup pintu sementara engkau membetulkan selimutmu? Ketika itu radio sudah menutup siaran dan nuri tak lagi tergantung di halaman. Dan sekarang, di sini, aku bergumam sendirian: “Kupandang langit...” 

(“Kupandang Langit dari Beranda”, 1976) 
Budiman S. Hartoyo bukanlah satu-satunya penulis sajak kita yang bergantung pada suara-suara penyair lain. Masih ada segudang penyair yang semacam dia.


Bersambung ke: Sajak-Sajak Ngantuk (3)

Sajak-Sajak Ngantuk (1)

ADMIN SASTRAMEDIA 6/16/2019 Add Comment
oleh Sutardji Calzoum Bachri


Sajak-Sajak Ngantuk (1)



Semula Kauulurkan tanganMU
kukecupkan bibirku
Melangit
angan
hilang
anggun
abadi.

Lalu senyum itu...
(dunia yang hilang
duka pun hinggap di angan)
Gulungan kenangan
indah di ujung langit
mengawan.

Ciuman-ciuman sudah terlalu badani
terlalu insaru
Akulah ruh
Engkau pun ruh
Satu
dalam
ruh

kudekap Engkau
ruh :
bertemu

ruh.

(Catatan 1969)

Penyair yang baik bisa mengkonkretkan pengalaman puitik yang didapatnya dalam perjalanan hidup batinnya sehari-hari. Entah itu didapatnya dari pertemuannya dengan sehelai daun yang kena tetes hujan, luka kena pedang atau sipilis, pertemuannya dengan seekor ular, batu, pertemuannya dengan Tuhan, atau kerinduannya terhadap Tuhan, pertemuannya dengan setan, dengan lonte, atau dengan anak-anak, atau pun alkohol, dan seterusnya.

Untuk mengkonkretkan pengalaman puitiknya itu, penyair membutuhkan kata-kata sebagai materi konvensionil. Dengan kata-kata dia berusaha mengkonkretkan pengalaman puitiknya. Tetapi kata-kata biasanya hanyalah alat untuk mengantarkan pengertian. Dia hanyalah alat untuk menyuguhkan pengertian. Atau lebih tepatnya lagi: dia adalah alat yang cenderung untuk menyuguhkan pengertian.

Penulis sajak bisa lupa atau lengah, bahwa kata hanya sekadar alat untuk menyampaikan pengertian. Dia bukanlah sekadar pipa atau saluran untuk menyampaikan arti. Kata-kata mempunyai segi lain yang sering dilupakan, yakni bahwa kata-kata itu hadir, eksis dengan segala bunyinya: bahkan dengan segala bentuk fisiknya sebagai abjad. Dan dalam kehadirannya, kata-kata bahkan mempunyai aroma tertentu, mempunyai bau tertentu. Di sinilah diuji atau ditantang kepekaan atau bakat penyair terhadap kata-kata. 
Dengan kata lain, kata-kara itu konkret. Dia bisa seperti batu, kita bisa tersentuh atau tersandung olehnya: tanpa dimengerti. 

Penyair yang baik bisa mengkonkretkan pengalaman puitiknya, sehingga kita bisa tersentuh walaupun tidak bisa mengerti. Dengan kata lain, setiap sajak yang berhasil adalah konkret walaupun tidak termasuk dalam jenis puisi konkret. 

Tentu saja tidak setiap penulis sajak bisa mengkonkretkan apa yang dirasakannya sebagai pengalaman puitiknya. Paling tidak ada dua hal yang menyebabkan ketidakberhasilan itu. Mungkin apa yang dikira atau dirasanya itu sebagai pengalaman puitik yang hebat, bagi orang lain ternyata adalah hal yang biasa-biasa saja. Atau mungkin pengalaman puitik tersebut dapat kita mengerti sebagai sesuatu yang besar dan hebat atau dalam, hanya saja dia gagal dalam usaha mengkonkretkannya dalam sajaknya. 

Kerinduan pada Tuhan, pertemuan dengan Tuhan, kegairahan padaNya mendapat porsi yang sangat besar dalam sajak-sajak Budiman S. Hartoyo dalam kumpulannya Sebelum Tidur (Dunia Pustaka jaya, 1977, hal. 88). Kalaulah hanya dengan pertemuan dengan sehelai rambut atau rumput, seorang penyair bisa mendapat rangsangan atau pengalaman puitik yang besar, maka dapat dimengerti betapa besarnya pengalaman puitik dalam kerinduan dan pertemuannya dengan Tuhan. 

Saya bisa mengerti rangsangan besar apa atau pengalaman dahsyat apa yang dirasakan Budiman ketika dia bertemu dengan Tuhannya yang “dilaporkannya” kepada kita: 

Yang berhadapan kini adalah 
aku dan Engkau 
Tenggelam dalam pekat perasaan 
saling bertanya 
dan menduga 

Dengan baris-baris di atas saya hanya mengerti apa yang dirasakan sang penyairnya. Tetapi saya tidak berhasil diajak ikut serta dalam perasaannya. Saya tidak ikut tersentuh. Padahal sebuah sajak yang baik haruslah bisa menyentuh perasaan pembacanya, seperti sebuah batu yang menyentuh kaki kita. Kenapa? 

Sebabnya sederhana saja Budiman belum membuat sajak, dia baru membuat laporan-laporan. Dia adalah reporter yang baik. Dia memberikan reportase pertemuannya dengan Tuhannya dan di sana-sini dilampirkannya pertanyaan-pertanyaan banal: (Ciuman-ciuman sudah terlalu badani/ terlalu insani/ Akulah ruh/ Engkau pun ruh/Satu/dalam/ruh)

Kenapa Budiman belum membuat puisi?

Bersambung ke: Sajak-Sajak Ngantuk (2)