ESAI

KABAR

KRITIK SASTRA

TERKINI

Chairil Anwar & Perpuisian Masa Kini - Sutardji Calzoum Bachri

ADMIN SASTRAMEDIA 10/15/2019
Chairil Anwar & Perpuisian Masa Kini
oleh Sutardji Calzoum Bachri


SASTRAMEDIA.COM - Kesannya, sejak tahun 70-an, setelah sekitar dua dasawarsa Chairil Anwar meninggal dunia, perpuisian modern kita memasuki tahap baru. Pandangan kepenyairan masa Chairil Anwar dan tahun 50-an yang dengan "Surat Kepercayaan Gelanggang”-nya yang menggebu-gebu ingin mendapatkan warisan dari kebudayaan dunia, sudah sejak lama tidak lagi diikuti oleh para penyair masa kini.

Jika generasi Gelanggang sibuk menyatakan diri ingin jadi "ahli waris dari kebudayaan dunia”, maka penyair masa kini tidak merepotkan diri minta-minta warisan dari kebudayaan dunia. Sebaliknya penyair kini, lebih sibuk menyair dari akar sendiri, tradisi, dan dari lingkungan masing-masing, meskipun ini tidak berarti mereka menolak Barat maupun Timur. Dengan keakraban penghayatan terhadap tradisi, akar dan lingkungan sendiri dan pengalaman diri, mereka berusaha mengucapkan diri mereka lewat puisi. 

Setelah sekitar dua dasawarsa kepergian Chairil, generasi penyair masa kini, tidak mengklaim warisan dari kebudayaan dunia, malahan sebaliknyalah, para penyair kini ingin memberikan warisan pada kebudayaan dunia.

Dalam upaya mendapat warisan dari kebudayaan dunia, para penyair generasi Chairil banyak meneguk kebudayaan Barat. Pendidikan dari zaman Belanda itu banyak memberikan peluang bagi mereka untuk mengambil kebudayaan Barat. Individualisme Barat ditelan bulat-bulat, seperti halnya Sutan Takdir Alisjahbana dari zaman Pujangga Baru. Unsur Barat dialihkan dalam perpuisian kita. Mula-mula yang diambil-alih dari Barat hanya bentuk atau kulit luarnya saja yang agak sepele, seperti bentuk soneta yang sangat populer di masa Pujangga Baru. Kemudian pengambilalihan Barat itu semakin memuncak sampai pada pengambilan jiwa individualismenya seperti yang dielu-elukan Takdir Alisjahbana.

Jika Takdir gagal dalam mengambil semangat individualisme dalam puisi-puisinya, karena puisinya terlalu sentimental, maka kegagalannya itu dilunaskan oleh keberhasilan sajak-sajak Chairil Anwar. Kenyataan ini membuktikan bahwa semangat, hasrat, teori-teori ataupun keinginan-keinginan terhadap kesenian barulah menjadi sah kalau bisa dibuktikan dengan karya seni yang berhasil estetiknya. Karena berbicara tentang puisi tanpa (menolak) estetika, samalah  dengan menghadirkan wanita cantik tanpa kelamin.

Jika saya katakan peran Chairil yang berhasil mengambil-alih atau menerjemahkan semangat individualisme Barat baik dalam pengertian luas maupun pengertian sempit (dia sangat berhasil menerjemahkan sajak-sajak dari Barat dan dari bahasa Barat), bukanlah berarti saya ingin mengecilkan atau merendahkan peran Chairil dalam sejarah perpuisian Indonesia modern. Jasa Chairil dalam perpuisian modern kita sangatlah besar. Sederetan panjang para penyair mengikuti jejak perpuisian pelopor Angkatan 45 itu, membentuk suatu tradisi perpuisian. 

Chairil telah menimbulkan suatu tradisi perpuisian. Dan seperti yang dikatakan kritikus Dami N. Toda kebesaran seorang penyair ditentukan dari adanya tradisi perpuisian yang ditimbulkannya. Tradisi perpuisian Chairil yang telah memperkaya dan tersimpan dalam sejarah perpuisian modern kita, saya kira siapa tahu kelak akan menjadi sumber inspirasi bagi para penyair yang akan datang. 

Namun pandangan yang jernih terhadap perpuisian Chairil dilihat dari relevansinya terhadap perpuisian masa kini diperlukan, agar kita tidak hanya terpesona dalam mitosnya saja. Apalagi bila diingat Chairil sebagai mitos, sejak kematiannya lebih dari tiga puluh tahun yang lalu, dari tahun ke tahun telah menghunjam dalam di kalangan masyarakat sastra. Pemuda usia 27 tahun itu dengan tingkah lasaknya dari orang seusia sebegitu, telah memberikan dunia puisi modern kita dengan satu mitos yang penuh dengan semangat hidup yang bagaikan binatang jalang meradang menerjang dan ingin hidup seribu tahun lagi. Ada sayangnya Chairil mati muda. Andaikata umurnya panjang dan terus menyair, mungkin dari tangannya kita akan mendapatkan puisi yang penuh kedalaman, dan puisi modern Indonesia akan mendapatkan mitos penyair yang penuh dengan perenungan dalam. Seperti halnya perpuisian Amerika mendapatkan salah satu pencapaian kedalamannya dari puisi-puisi Walt Whitman penyair yang berusia lanjut itu.

Kenapa Chairil lebih merupakan penerjemah yang baik dari pikiran, perasaan dan sensibilitas Barat, dan tidak mengacuhkan akar tradisi dari bangsanya sendiri? Ini mungkin bisa dipahami dari situasi zaman Chairil hidup dan tumbuh jadi dewasa. Chairil mendapatkan pendidikan Barat (Belanda), dengan alam pikiran Belanda, berikut perasaan dan sensibilitasnya. Ini tentu banyak mempengaruhi sikap dan pikiran Chairil. Ditambah pula dengan ketidak-cocokannya dengan semangat para penyair sebelumnya yang kebanyakan bernostalgia pada masa lampau (seperti kebanyakan para penyair Pujangga Baru) mungkin mendorong Chairil untuk ”berontak” dengan mengambil semangat Barat sebagai jiwa ungkapan pribadinya. Untuk mengungkapkan diri sesuai dengan zaman modern, untuk jadi modern, seperti Takdir Alisjahbana dan tidak seperti Sanusi Pane, Chairil tidak memperhitungkan tradisi. Chairil langsung menerjemahkan Barat dalam dirinya atau lebih tepat lagi dalam puisinya. Chairil belum melihat kemungkinan-kemungkinan unsur tradisional untuk pengucapan jiwa modern. 

Begitu pula generasi sastrawan tahun 50-an dengan Surat Kepercayaan Gelanggang-nya sibuk minta warisan kebudayaan dunia yang dalam kenyataannya dari karya-karya mereka, kebudayaan dunia itu ternyata yang diambil terutama kebudayaan Barat. Untuk memahami kenapa mereka bersikap begitu, barangkali bisa kita lihat juga lewat situasi pada masa itu. Sebagai bangsa yang baru merdeka setelah beratus tahun dalam penjajahan, rasanya tentulah ada kompleks kejiwaan tertentu yang menghinggapi diri para seniman atau sastrawannya. Mungkin ada rasa takut tidak masuk hitungan atau khawatir tidak dapat pengakuan dalam forum kebudayaan dunia (internasional). Untuk dapat pengakuan atau masuk hitungan dalam forum dunia, mereka berusaha memakai alam pikiran, perasaan dan sensibilitas dunia Barat. 

Berbeda dengan para penyair Angkatan 45 ataupun generasi 50-an, penyair dan sastrawan/seniman generasi 70-an (penyair masa kini) tidaklah merepotkan diri mengklaim warisan kebudayaan dunia, walaupun mereka tidak menolak Barat ataupun Timur. Penyair masa kini dengan penuh kesadaran berpangkal tolak dan mengolah dari akar, tradisi kebudayaan dan lingkungan masing-masing. Dengan keragaman tradisi, dengan spiritualisme yang mengakar, dan dengan penghayatan pada masalah lingkungan kehidupan mereka sehari sehari-hari, dengan kesadaran pada identitas mereka, mereka bukan hanya tidak minta warisan dari kebudayaan dunia, tetapi malahan mereka ingin memberikan atau menyumbangkan corak mereka pada kebudayaan dunia. 

Maka jika pada masa kini Arief Budiman menuding kesusasteraan kita berorientasi ke Barat dan menganggap para sastrawan kita rendah diri terhadap Barat, tentulah dia sedang tidur lelap. Kelelapannya itu dapat dipahami, mengingat Arief Budiman dahulu sekitar tahun lima puluhan sering menampilkan sketsa-sketsa lukisannya pada majalah sastra Kisah (majalah sastra tahun lima puluhan). Sinyalemennya itu bisalah dicanangkan kalau untuk kehidupan kesusastraan kita di tahun lima puluhan. Tapi kini pernyataannya itu sudah lepas dari konteks perjalanan sastra dan kesenian modern kita dewasa ini, jika sekiranya kita tidak mau mengatakan sinyalemennya itu terasa kontekstual untuk problem diri Arief Budiman sendiri.

Pengaruh Chairil Anwar Pada Puisi Malaysia - Suripan Sadi Hutomo

ADMIN SASTRAMEDIA 10/13/2019
Pengaruh Chairil Anwar Pada Puisi Malaysia
oleh Suripan Sadi Hutomo

Pengaruh Chairil Anwar Pada Puisi Malaysia - Suripan Sadi Hutomo

SASTRAMEDIA.COM - Penyair Chairil Anwar sebagai tokoh penyair Indonesia modern tidak saja berpengaruh pada para penyair sesudahnya, misalnya pada penyair Sitor Situmorang, akan tetapi juga berpengaruh pada sastra Minor (sastra Indonesia berbahasa daerah), misalnya pada sastra Sunda dan sastra Jawa modern. Oleh para penyair sastra minor, teknik persajakan Chairil Anwar dianggap membawa pembaharuan. 

Sebenarnya pengaruh Chairil Anwar itu tidak ke dalam negeri saja, akan tetapi juga ke luar negeri: terutama ke negara Malaysia. Menurut Drs. Li Chuan Siu dalam bukunya Ihktisar Sejarah Pergerakan dan Kesusasteraan Melayu Modern (1945—1965), awal pertumbuhan puisi Malaysia modern sangat dipengaruhi oleh puisi Indonesia modern. Katanya, ”Sajak-sajak itu memberikan pengaruh yang besar kepada penyair-penyair muda di Malaya, mereka sangat tertarik oleh sajak-sajak gubahan Chairil Anwar ....” (hal. 346). 

Tentang adanya pengaruh Chairil Anwar dalam puisi Malaysia juga dikemukakan oleh Yahaya Ismail seorang kritikus sastra Malaysia. Dalam bukunya yang berjudul Sejarah Sastra Melayu Modern ia mengatakan: ”.... dua penyair yang terkemuka dari ASAS 50 mencontohi gaya puisi Pujangga Baru dari Indonesia dan selepas itu meniru pula teknik penyair pelopor Angkatan 45 Chairil Anwar......” (hal. 82). 

Yang dinamakan ASAS 50 oleh Yahaya Ismail adalah "angkatan” sastra dalam sastra Malaysia. ASAS 50 adalah singkatan dari Angkatan Sasterawan 50. Angkatan ini didirikan pada tanggal 6 Agustus 1950, di Singapura, yang pada waktu itu Singapura masih atau satu dengan Malaysia. 

Angkatan Sasterawan 50 atau terkenal disebut ASAS 50 itu mempunyai konsep dan slogan tertentu. Angkatan ini berslogan:”Seni untuk Masyarakat” atau "Seni untuk Rakyat”. Di sini masyarakat dan rakyat yang diperjuangkan adalah masyarakat dan Rakyat Melayu yang terdiri dari golongan rendah seperti petani, buruh dan manusia-manusia miskin lainnya. Dalam karangan-karangan mereka, penulis-penulis muda menulis cerita-cerita pendek yang membeberkan kepincangan, keburukan dan kekejaman yang dihadapi dalam masyarakat Malayu, baik di kampung atau di kota. Sikap menentang imperialisme Inggris dan golongan feodal Melayu pada waktu itu juga kelihatan dalam karya-karya angkatan ini.

Sikap para pengarang angkatan 50 yang demikian itu tidak mengherankan sebab mereka itu pada umumnya terdiri dari para wartawan, guru-guru sekolah Melayu dan lain-lain peminat sastra yang asalnya dari golongan miskin. Di samping itu ada di antara mereka itu yang terpengaruh oleh tokoh-tokoh politik nasionalis Melayu yang radikal pada waktu itu. Oleh karena itu pada perkembangan selanjutnya angkatan ini mengalami perpecahan karena ada di antara anggotanya yang kemudian menganut paham ”Seni untuk Rakyat”. Tentang hal ini dapat dibaca misalnya dalam karangan Wiratmo Soekito yang berjudul "L' pour I'art" dalam majalah Basis (No. 8, VIII, Mei 1959). 

Beberapa pengarang dan penyair ASAS 50 yang penting adalah Keris Mas (Kamaluddin Muhammad), Tongkat Warrant (Usman Awang). Masuri S. N., dan lain-lain. Di antara para penyair ASAS 50 yang dipengaruhi oleh Chairil Anwar adalah penyair Usman Awang dan Masuri S. N. Pengaruh itu pada umumnya terletak pada teknik persajakannya.

Penyair MasurijS. N. itu pada mulanya terpengaruh oleh teknik persajakan Angkatan Pujangga Baru. Teknik ini rasanya sudah ketinggalan jaman, lalu ia beralih pada teknik puisi Chairil Anwar. Ambillah misalnya puisinya yang berjudul Suasana yang dimuat dalam kumpulan sajak Warna Suasana (1982). Begini wujudnya: 

SUASANA

Kita mengikut segala cahaya
Merah-padam
Biru kelabu »
Di permukaan alam.

Kita jemu dengan ini:
Minta api membakar pulau
Kuda liar lepas lari 
Atau topan menggegar bumi.

Apa lagi!
Kenyataan mendatang
Rumah remuk dihantam ribut
Hangus bumi dicium api
Terbang gunung dialih gempa.

Apa lagi!
Beribu nyawa kekubur panjang
Udara keliling hanya keluhan:
Dimana bantuan
Dimana suara yang menggila meraung:
'Action-action'
Sekarang bungkem ditindas alam.

Setiap suasana mengubah rupa
Seribu cerita berubah kata.

Bila puisi di atas kita baca baik-baik, maka kita akan merasakan adanya pengaruh teknik persajakan Chairil Anwar. Selain teknik, juga terasa adanya pengaruh napas puisi Chairil Anwar. Ambillah misalnya perkataan "api membakar pulau”. Kata-kata ini mengingatkan kita pada kata-kata Chairil Anwar dalam puisinya yang berjudul Cerita Buat Dien Tamaela Dalam puisi ini ada baris yang berbunyi:"Irama ganggang dan api membakar pulau”. 

Seperti halnya penyair Masuri S5. N. penyair Usman Awang pada mulanya juga terpengaruh oleh teknik persajakan Angkatan Pujangga Baru dan kemudian terpengaruh oleh teknik persajakan Chairil Anwar. Ambillah misalnya puisinya yang berjudul Di Desa yang terdapat dalam bukunya yang berjudul Gelombang (1961). Begini wujudnya:

DI DESA

Jika tangis sudah berbuah,
Dendam baru mengaut nanah,
Menyala api benchi membara,
Menelan semua membakar segala.

Yang pergi tiada kembali,
Yang mati tiada terchari,
Segala hilang, segala tumbang,
Segala lebur, segala gugur.

Sekali bangun sekali merempuh,
Semua mayat cedera melepuh.

Sedu rindu kadang terdengar,
Isak sayu kadang menghimbau.

Begini chara penuh di desa,
Api meradang membakar rata,
Buas-buas manusia berpesta,
Rebakan perang menchari mangsa.

Selari jalan setuju arah,
Sudah bertaut sama berpaut,

Sama bertulang, sama berbelulang,
Sama menentang, sama berjuang.

Bila kita perhatikan puisi di atas maka kita akan menemukan baris yang berbunyi: "Segala hilang, segala tumbang,/Segala lebur, segala gugur”, Baris ini mengingatkan kita pada baris-baris puisi Chairil Anwar yang berjudul Selamat Tinggal. Baris itu berbunyi sebagai berikut: "Segala menebal, segala mengental/ Segala tak kukenal/ Selamat tinggal...!!” 

Adanya pengaruh Chairil Anwar pada puisi Malaysia sebenarnya tidaklah mengherankan kita sebab para penyair Malaysia banyak membaca karya sastra  dari Indonesia. Bahkan karya sastra dari Indonesia — Itu dipelajari oleh murid-murid di sekolah. Dengan — demikian tidaklah mengherankan pula apabila banyak penyair Malaysia yang terpengaruh oleh teknik persajakan penyair-penyair Indonesia, sebagaimana — pernah ditulis oleh Emha Ainun Nadjib dalam artikelnya yang berjudul: "Beberapa Contoh Pengaruh  Puisi Indonesia atas Puisi Malaysia" yang dimuat oleh mingguan Iribun (No.79, Th. IV, tahun 1975). 

Bagi penyair Malaysia apa yang dinamakan "'pengaruh” itu dianggapnya sebagai "'kesementaraan”. — Artinya, adanya pengaruh itu tidaklah terus menerus berlaku pada diri seorang penyair. Para penyair  Malaysia akhirnya juga menyadari bahwa mereka harus menemukan diri mereka sendiri. Oleh karena itu pada beberapa penyair yang sudah "mapan” pengaruh itu telah menghilang. Mereka itu telah menemukan kepribadian mereka sendiri. Penyair Chairil Anwar sendiri sebelum menemukan kepribadiannya juga banyak menerima pengaruh dari luar negeri: dan malah dia sampai hati berbuat plagiat, yaitu mencuri karangan orang lain. Memang, seseorang yang ingin jadi tokoh kepenyairan, pada umumnya kelihatan ulahnya yang bukan-bukan. Hal ini yang demikian haruslah dipandang sebagai jiwa yang belum "dewasa”.

Jadi bila demikian halnya maka kita tidak terlalu gegabah memandang rendah seorang penyair yang terpengaruh oleh penyair lainnya. Lebih-lebih pada masalah adanya pengaruh puisi Indonesia pada puisi Malaysia: sebab kata Ali Haji Ahmad dalam artikelnya yang berjudul: "Pertumbuhan dan Perkembangan Puisi Baharu Melayu di Malaya” : "Walaupun ada pengaruh oleh penyair baharu di Indonesia tetapi mereka punya pribadinya tersendiri berdasarkan latar belakang masyarakatnya pula.” (Dewan Bahasa November 1957).

Begitulah tentang pengaruh penyair Chairil Anwar pada puisi Malaysia.***

Chairil Anwar, Sebuah Kenang-Kenangan - Mochtar Lubis

ADMIN SASTRAMEDIA 10/12/2019
Chairil Anwar, Sebuah Kenang-Kenangan
oleh Mochtar Lubis



SASTRAMEDIA.COM - Di tahun-tahun pertama perang kemerdekaan Indonesia, sebuah nama penyair Indonesia yang memeledak dan melangit dengan amat cepat adalah nama Chairil Anwar. Waktu itu umurnya masih muda sekali. Pertama saya bertemu dengan dia di rumah almarhum Bung Sjahrir. 

Yang paling berkesan pada saya adalah matanya, yang besar, dan selalu merah, tetapi menyala. Badannya kurus, kerempeng, rambutnya senantiasa seakan tak kenal dengan sisir, pipinya cekung. Tetapi jika dia sudah mulai berbicara, maka semangatnya yang bergelombang-gelombang tercermin dalam gerakan wajahnya. 

Kami cepat jadi teman dekat. Waktu itu saya sudah kawin. Dia belum. Dan Chairil termasuk seorang anak manusia, yang punya perut tanpa dasar, alias merasa lapar terus menerus setiap waktu. 

Dia pandai mengatur waktunya untuk datang ke rumah saya di Jalan Bonang. Selalu ketika waktu kami akan makan siang, maka akan muncullah Chairil Anwar. Tapi bukan dia tidak menyumbang pada suasana makan siang. Sering dia mengeluarkan sepotong kertas dari sakunya, dan membacakan sebuah sajak yang lagi digarapnya. Belum selesai, belum selesai, dia akan menggerutu, dan memasukkan kertas kembali ke dalam sakunya. 

Di kala itu pun telah kelihatan betapa Chairil Anwar hidup, merasa, berkarya, dengan penuh intensitas. Saya sering mendapat kesan, dia seakan sebuah lilin yang menyala sekaligus di dua ujungnya. Kesehatannya tidak pernah baik. Atau dia batuk, atau dia merasa lelah, atau lagi masuk angin. 

Tetapi semangatnya tetap meluap-luap. 

Biasanya setelah makan siang, saya harus kembali ke kantor majalah Mutiara di Jalan Pecenongan. € Kalau lagi tidak punya uang, saya naik sepeda. Dan Chairil Anwar selalu akan minta supaya saya bonceng dia hingga ke jalan Nusantara. Dia selalu akan ("membeli" buku di toko buku Belanda "Van Dorp” salah sebuah toko buku yang besar di Jakarta di kala itu.

Pada suatu hari saya ikut masuk toko buku dengan Chairil. ”Saya ingin mencari buku tentang juri nalistik,” kataku padanya. Tetapi hari itu buku yang kucari tidak ada. Ketika kami ke luar toko buku, dan Chairil dan aku telah jauh dari toko, Chairil menepuk perutnya, dan sambil tertawa berkata, "Coba tebak, ada apa di sini?”

Saya pegang perutnya, wah, keras.

Dengan tertawa Chairil membuka kancing kemejanya, dan mengeluarkan dua buku tipis. Aku tak ingat lagi judul dua buah buku yang ”dibebaskannya” dari wilayah Belanda tadi. Tapi aku merasa kagum juga melihat keberaniannya beroperasi di wilayah musuh. Karena waktu itu Jakarta telah diduduki oleh serdadu kolonial Belanda, dan di mata kami orang Belanda dan semua milik mereka adalah sasaran yang syah dari semua pejuang kemerdekaan Indonesia. 

Sejak itu saya berlangganan dengan Chairil untuk membebaskan buku yang saya ingini dari wilayah Belanda toko buku Van Dorp di Jakarta. Saya akan memeriksa dahulu kalau ada buku yang saya ingini, kemudian saya berikan namanya pada Chairil, dan dalam beberapa hari, pasti buku akan sampai ke tanganku. 

Imbalannya Chairil selalu diterima dengan senang hati ikut makan di rumah, dan sesekali dapat ”meminjam” uang jika saya lagi ada uang, yang tak pernah dibayar kembali, tetapi cukup dengan buku saja.

 Sasaran pembebasan buku Chairil yang lain adalah perpustakaan USIS. Saya akan mencatat dahulu buku-buku jurnalistik yang ingin saya baca, saya serahkan pada Chairil, dan seminggu atau beberapa hari kemudian pasti Chairil akan berhasil membawa buku pada saya. 

Bagaimana caranya dia berbuat demikian, tidak pernah saya tanyakan padanya. Dan saya tidak pernah mau ikut dengan dia, sedang dia melakukan operasi pembebasan buku. 

Mungkin dia berhasil menjinakkan gadis-gadis penjual buku Van Dorp, atau gadis-gadis penjaga perpustakaan USIS, yang banyak di antara mereka kami kenal pula.

Sebuah krisis dalam hubungan persahabatan kami hampir terjadi, ketika pecah pertengkaran antara Chairil dengan Jassin mengenai tulisan Jassin yang menyebut sebuah sajak yang diakui Chairil adalah ciptaannya, ternyata adalah salinan yang bagus ke dalam bahasa Indonesia dari sajak seorang penyair asing. 

Pertengkaran mereka hampir meledak ketika perkumpulan sandiwara Maya sedang mengadakan pertunjukan di Gedung Kemidi. Para penonton tidak menyadari, bahwa di belakang layar sedang terjadi pementasan yang lebih seru. Jassin malam itu memainkan sebuah peran. Tetapi hampir adu jotos antara dia dengan Chairil, sama sekali tidak mengganggu permainannya. Malahan dia berperan lebih meyakin kan lagi. 

Kami berhasil melerai mereka berdua. Dan esok. nya Chairil bertanya terus terang pada saya, apakah j pendapat saya mengenai sajaknya yang dikatakan Jassin salinan dari penyair asing? 

Jelas, kamu melakukan plagiat Chairil, kataku tegas dan tanpa diplomasi padanya, kamu kan sudah diakui sebagai seorang penyair yang kreatif dan orisinil, buat apa kamu mengaku sajak orang lain sebagai hasil ciptaanmu? 

Dia melihat pada saya agak lama, tanpa berkata sesuatu apa, dan kemudian tiba-tiba mukanya dihiasi sebuah senyum. "Saya tidak marah kau berkata begitu,” katanya,” memang benar. Tapi kau harus akui salinanku lebih bagus dari aslinya!” 

Dan kami berdua tertawa. 

Tetapi ketegangan antara Chairil dan Jassin cepat juga pulih kembali jadi hubungan persahabatan mereka yang lama. 

Saya mengikuti dari dekat perkawinannya, dan kemudian ketika dia meninggal dunia, masih dalam usia muda. 

Kepergiannya meninggalkan kesepian dan kekosongan dalam dunia sastra Indonesia, yang cukup lama baru -terisi kembali oleh tokoh-tokoh penyair baru.