TERKINI

Jam Pertama - Wahyu Nusantara Aji

KONTRIBUTOR 12/04/2022
Wahyu Nusantara Aji 
Jam Pertama




pagi mengenakan mantel
mencari jalan keluar 
dari mimpimu
mencoba memisahkanmu
dari malam
dari segala rahasia alam

istrimu memanggil
bel berbunyi
angka-angka berbunyi
jalan-jalan berbunyi
kesedihan-kesedihan berbunyi

segala hal berbunyi,
kecuali dirimu sendiri.

Pamor Memoar - Hikmat Gumelar

KONTRIBUTOR 12/04/2022

Pamor Memoar

Hikmat Gumelar



Pamor memoar melonjak. Akademi Swedia kian mendongkraknya. Pada 6 Oktober, diumumkannya  Hadiah Nobel Sastra 2022 dimenangkan Annie Ernaux, penulis Prancis yang hampir semua dari 24 buku karyanya merupakan memoar, Dan dari sejak itu hingga hari ini, tak terdengar satu pun suara menampik. Masyarakat sastra dunia berarti telah menerima penghabisan memoar sebagai sastra.

Penyair, novelis, cerpenis, atau dramawan tak mesti rongseng. Apalagi sampai memacetkan jalan dengan ribuan poster. Malah seyogianya sedikitnya mengembuskan napas lega menyambutnya. Sebab, ditahbiskannya memoar sebagai karya sastra dapat memungkinkan daya sastra meningkat. Meningkatnya daya sastra tak pelak berkah bagi sekalian penggiat sastra. Bahkan pun bagi khalayak.

Memang tak sedikit memoar yang lebih baik tak terbit, atau lebih baik lagi tak ditulis. Di Indonesia, setelah Soeharto lengser, memoar seperti itu bermunculan bak lintah di musim hujan.  Mantan pejabat tinggi, purnawirawan jenderal, kandidat kepala daerah, kandidat wakil rakyat, dan selebriti pada berapi-api menerbitkan memoar. George Orwell menulis bahwa autobiografi yang bagus adalah yang mengungkap keburukan penulisnya. Kebanyakan memoar mereka jauh dari itu. Kebanyakan memoar itu boleh disebut dongeng sukses belaka.

Ada, bahkan banyak, memang orang sukses. Dan ini patut dicontoh. Namun benarkah apa yang mereka maksudkan sukses itu adalah sukses? Kalaupun benar, bagaimana mencapainya? Benarkah sebagaimana yang didongengkan? Bagaimana pula cara mendongengnya?

Plot yang lemah, yang bagian-bagian narasinya dipertautkan bukan oleh logika peristiwa-peristiwa, melainkan oleh kata hubung atau kebetulan belaka, memberi hak kepada pembaca menyangsikan kesahihan memoar yang dibacanya. Dan memoar yang ditenun dengan bahasa berlumur ungkapan bombastis serta metafora arkaik memberi hak kepada pembaca untuk membaca hanya sampai akhir alinea pertama, atau bahkan akhir kalimat pembuka.

Tapi yang umum disebut karya sastra pun tak sedikit yang lebih baik tak dipublikasikan. Misalnya, tak sedikit cerita pendek yang berlagak menampik kependekan, yang padahal kependekan itulah yang bisa menjadi kelebihan utama cerita pendek. Tak sedikit novel ditulis dangan penuh mau menjadi panduan hidup bagi semua orang. Kalimat pertamanya sudah menggemakan kemauan itu, sehingga pembaca sudah langsung merasa diposisikan sebagai pendosa atau dungu. Ada yang kalimat pertamanya yang memikat tapi kalimat-kalimat selanjutnya membikin kepala terasa dicengkeram migrain. Ketimbang kepala peccah, karya dengan bahasa demikian lebih baik dicampakkan.

Baik bagi yang secara konvensional dianggap karya sastra maupun karya seperti memoar, bahasa bukanlah cangkang dari isi yang dinilai sebagai substansi. Sastra dianggap lebih bernilai dari teks-teks lain karena bersuara. Suaranya datang dari bahasanya, bahasa naratif.

Bahasa tersebut muncul dari sudut naratif. Gao Xingjian menulis, penciptaan fiksi pertama-tama mensyaratkan pemilihan narator. Narator, yang di mana-mana ada tiga, yakni aku, kau, ia, melihat, berhubungan dengan, dan menceritakan dunia dan orang serta hubungan antara mereka. Narasi yang ditenun oleh aku, atau kau, atau ia, satu sama lain berbeda tingkatan  psikologisnya. Tetapi ketiganya juga memiliki kesamaan. Ketiganya melihat, berhubungan dengan, dan menceritakan dunia dimungkinkan oleh bahasa. Hal ini karena, seperti diungkap Gao, “Kesadaran manusia diaktualisasikan melalui bahasa, dan kognisi tentang diri tidak dapat dipisahkan dari bahasa. Melalui ketiga orang subjek --- tiga posisi berbeda ---itulah apa yang disebut sebagai diri dikonfirmasi.”

Dalam konfirmasi diri ini, bahasa lisan berperan signifikan. Ia memiliki telinga, hidung, mata, kulit, lidah. Bahasa menjadi berdaya mengembuskan irama dan membangun suasana. Dengan itulah bahasa lisan bersuara. Suaranya menjadikannya bahasa naratif, bahasa yang menghadirkan subjektivitas, bahasa yang unik dan menarik, bahasa yang segar dan bertenaga.

Ada memang yang bersemangat menguar-uarkan bahwa sastra berasal dari bahasa Sansakerta, yang artinya adalah aksara. Untuk meneguhkannya, kelisanan bukan saja diletakan berhadap-hadapan dengannya, tapi pun berada di bawahnya dan sekaligus mengganggu keberadaannya. Kecuali itu, kelisanan pun diperluas cakupannya. Bukan saja bahasa radio dan televisi yang dijebloskan ke dalamnya, tapi pun bahasa internet, atau lugasnya bahasa (di) media sosial.

Namun, Karen Amstrong menulis, kitab suci Veda bukan satu belaka, tapi  banyak. Banyaknya Veda ini merupakan manifestasi dari menjadikan Veda berkemampuan merangkul perubahan, menjawab beraneka ragam tantangan anyar, dan karenanya kepercayaan akan Veda sebagai kitab suci menjadi terus terjaga. Hal ini menjadi mungkin karena bahasa banyak Veda adalah bahasa lisan, bahasa yang operasinya dalam aneka ragam ritual yang terbangun oleh nyanyian, tarian, sandiwara, dan lain-lain lagi, yang berlangsung hampir setiap pekan, bahkan nyaris setiap hari. Dan ini terjadi selama ribuan tahun. Penjadian banyak Veda sebagai kitab suci tertulis dan satu belaka barulah belakangan. Dan ini dilakukan hanya oleh segelintir elit. Penunggalan elitis ini meminggirkan keberagaman. Tetapi keberagaman tampaknya adalah takdir. Buktinya sampai hari ini ratusan juta orang india masih saja mengamalkan banyak Veda.

Kecuali itu, bahkan para ilmuwan, terutama dalam dua abad belakangan, dalam menulis karya ilmiah, selalu memilih kata dan menatanya pun dengan pertimbangan nada, tempo, ritme. Penyair, dramawan, cerpenis, novelis, dan penulis memoar tentulah lebih lagi dalam mengandalkan musikalitas bahasa itu. Jika ada yang masih menyangsikan bahwa penulis memoar menulis dengan cara demikian, bisa jadi itu karena ia masih kurang piknik.

Telusurilah, misalnya, I Saw Ramallah. Memoar kepulangan pertama Mourid Barghouti ke Ramallah, Palestina, sehabis hidup di pengasingan berkepanjangan, ini terasa benar sebagai teks yang tulang punggungnya bahasa naratif. Edward Said menulis bahwa teks Mourid itu adalah “narasi yang padat dan amat liris” sehingga “merupakan catatan eksistensial terbaik yang pernah ada ihwal keterusiran orang Palestina dari tanah air mereka sendiri”.

Kepadatan dan kelirisannya terjaga dari alinea pertama hingga pamungkas. Coba kita simak (lagi) alinea pertama:

 

Panas sekali di jembatan itu. Tetesan keringat menggelincir dari kening menuju bingkai kacamataku, kemudian ke lensa. Sebentuk kabut menyelimuti apa-apa yang kulihat, yang kuharap, yang kuingat. Pemandangan di sini terasa berpendaran dengan adegan-adegan dalam serentang kehidupan; seumur hidup yang dihabiskan dalam upaya untuk sampai ke sini. Di sinilah aku, tengah menyeberangi Sungai Yordania. Terdengar derit kayu di bawah telapak kakiku. Di pundak kiriku tersampir sebuah tas kecil. Aku berjalan dengan biasa ke arah barat --- atau tepatnya, berusaha tampak biasa. Di belakangku, ada dunia, di depanku, ada duniaku.

Memory for Forgetfulness tak kalah memikat dan bernas. Memoar orang Palestina lainnya, Mahmoud Dharwis, ini mengisahkan pengalamannya dalam pengepungan dan pemboman Beirut oleh Israel pada tahun 1982, serta berbagai konteks yang melatarinya. Berbagai genre dijahit dengan terampil hingga Memory for Forgetfulness menjadi narasi hibrida yang koheren mengangkat kerumitan dan kompleksitas pribadi dan kolektif, psikologis dan fisikal, kenyataan dan anganan. Coba sejumput saja kita simak (lagi) tulisannya ihwal Beirut:

 

Beirut adalah tempat informasi dan ekspresi bangsa Palestina tumbuh subur... tempat kelahiran ribuan orang Palestina yang tak mengenal kampung halaman lainnya... Sebuah pulau tempat para imigran Arab yang memimpikan dunia baru mendarat. Ibu angkat dari mitologi heroik yang mampu menawarkan janji kepada bangsa Arab selain janji yang tercetus dari Perang juni (tahun 1967)... (Beirut) menjadi properti bagi siapa pun yang memimpikan tatanan politik yang berbeda... Mereka... yang tak punya tanah air ataupun keluarga... melekatkan kepada Beirut ketegasan makna yang membuat hubungan ambigu mereka dengan kota itu menjadi hak-hak sah seorang warga negara.=

... Beirut telah menjadi laguku dan lagu semua orang yang tak punya tanah air.

Ketika menulis Left to Tell, Immaculee  Ilibagiza belum menjadi penulis seperti Mourid dan Dharwis. Kedua orang tersebut sudah diakui sebagai penyair berkelas, terutama di dunia Arab. Namun, Left to Tell menyeruak dari pengalaman Immaculee tahun dalam genosida Rwanda yang merenggut nyawa hampir satu juta orang. Selama 91 hari, bersama tujuh perempuan Rawanda lainnya, yang semua bersuku Tutsi, gadis berusia 22 tahun itu bersembunyi di kamar mandi kecil milik seorang pendeta bersuku Hutu. Ia sama sekali tak meniatkan catatan atas pengalamannya menjadi sebuah buku. Beralihnya catatannya menjadi buku adalah karena Wayne Dier membacanya. Dier tersedot bukan saja oleh betapa mengerikan apa yang dialami Immaculee, tapi pun oleh pemaknaan akannya yang justru menjadikan iman kristiani Immaculee merengkuh bumi dan menjangkau langit. Caranya bertutur pun memikat sejak awal hingga akhir. Coba kita simak (lagi) bagaimana Immaculee yang kedua orang tunya dan dua saudara laki-lakinya dibunuh ekstrimis Hutu membuka memoarnya:

            Aku mendengar suara para pembunuh memanggil-manggil namaku.

            Mereka berada di balik dinding. Tidak lebih dari seinci antara gips dan kayu yang memisahkan kami. Suara mereka dingin, berat, dan mengerikan.

“Dia ada di sini.... Kita tahu dia ada di sekitar sini....Temukan dia, temukan Immaculee!”

Dari suara-suara itu, aku tahu, jumlah mereka banyak. Dan aku pun tahu mereka adalah teman-teman dan tetangga-tetanggaku. Orang-orang yang dulu selalu menyapaku dengan cinta dan keramahan itu bergerak memasuki rumah dengan membawa tombak dan pisau besar serta memanggi-manggil namaku.

“399 kecoa telah kubunuh,” kata salah seorang pembunuh. “Immaulee adalah yang ke-400. Rekor yang bagus.”

Masih banyak lagi memoar yang gurih dan bergizi rohani seperti I Saw Ramallah, Memory for Frogetfulness, dan Left to Tell. Memoar Ernaux Happening, Le Place, dan The Years tentulah masuk ke dalamnya. Memoar-memoar seperti itu, sepembacaan saya, terbebas dari menjadikan diri sebagai pusat. Narasi-narasinya menggambarkan individu dan kolektif saling bergantung. Kesadaran akan kesaling-bergantungan menggantungkan keberlangsungan bersama sebagai cita-cita. Keberanian dan keikhlasan menerima berbagai warna pengalaman pribadi menjadi pijakan untuk meraih cita-cita tersebut. Dari situlah tiba gairah mengeksplorasi bahasa. Dan dari eksplorasi bahasa dengan konsentrasi tinggi inilah lahir bahasa naratif, bahasa yang hidup dan menghidupkan.

Kalau tak sedikit memoar yang sedemikian, apa ruginya menerima memoar sebagai karya sastra? Kalau tak sedikit memoar yang memboyakkan dan menyesatkan, justru dengan dianggap karya sastra mereka yang hendak menulis memoar dapat lebih dulu tekun mengasah kepekaan dan keterampilan kesastraan. Kalau begitu, rasa-rasanya lebih baik kita membuka pintu dan menyambut dengan senyum, “Welcome to the club.”   

Di Balik Hernia Sujali - Hilmi Faiq

KONTRIBUTOR 12/04/2022

Di Balik Hernia Sujali

Hilmi Faiq



Empat burung gereja bercericit di atas kabel di depan rumah Pak RT saat Sujali menyapu dedaunan kamboja dan rambutan. Burung-burung itu sontak terbang dan berpindah ke pohon cemara begitu mendengar bunyi kasar sapu lidi Sujali menggaruk halaman berlapis batu paving. Sujali tak memedulikan itu.

            Tanpa dia tahu, bunyi sapunya membangkitkan Bu RT yang sedari tadi membaca novel detektif di sofa ruang tamu. Buru-buru Bu RT meletakkan buku yang setengahnya sudah dia baca itu, lalu bangkit membuka pintu. Dia mendapati Sujali menunduk asyik menyapu dedaunan.

            “Lho, katanya operasi hernia, kok sudah masuk kerja?” sapa Bu RT dengan tatapan heran.

            “Ga jadi, Bu. Ditunda seminggu lagi, tanggal tiga puluh nanti,” jawab Sujali yang berhenti menyapu lalu menyapu lagi.

            “Kenapa ditunda?”

            “Kata dokter, menunggu tekanan darah normal.”

            “Tekanan darah Pak Sujali bukannya kemarin baik-baik saja?”

            “Iya, Bu. Tapi menjelang operasi tekanannya naik. Jadi dokter menyarankan ditunda.”

            “Pak Sujali mikir apa sampai tekanan darah naik? Takut operasi atau ada masalah lain?”

            “Biasa, Bu. Masalah rumah tangga.”

            “Wah, saya ga mau ikut-ikut kalau soal itu.”

            “Gapapa, Bu.”

            “Plester yang di lengan Pak Sujali itu bekas apa?”

            “Oh, ini. Ini kemarin bekas tes darah. Darahnya diambil sebagian. Katanya untuk diperiksa.”

            “Hasilnya?”

            “Belum tahu, Bu. Mestinya bisa diambil hari ini hasilnya.”

            “Terus kenapa ga diambil?”

            “Belum ada biaya, Bu. Bayarnya seratus ribu.”

            “Bukannya bisa gratis kalau pakai BPJS?”

            “Nah, itu masalahnya, Bu. BPJS saya menunggak enam bulan he he he.” Sujali nyengir.

            “Kok, bisa?”

            “Iya, Bu. Ternyata istri saya tidak membayarkan uang iuran untuk BPJS.”

            “Kok nyalahin istri?Bu RT makin ketus menginterogasi Sujali. Sebenarnya Bu RT penasaran dengan istri Sujali karena kabarnya tiga bulan lalu dia cerai. Tapi dia malas bertanya lebih jauh soal itu. Lagi pula bukan urusan dia Sujali cerai atau nikah lagi.

            Maksud saya, dia sudah saya kasih uang tapi belum dibayarkan.”

            “Ya Pak Sujali urus sendiri ya, saya ga mau ikut-ikut urusan dengan istri.”

Bu RT menyudahi pembicaraan itu setelah basa-basi menanyakan hal lain: tentang cairan penghilang rumput sampai solar untuk mesin pemotong rumput. Di tengah obrolan yang tidak begitu penting itu sebenarnya pikiran Bu RT tertusuk satu pertanyaan: kenapa tumben sekali Sujali, si tukang kebun kompleks ini, menyapu sampai halaman depan rumahnya. Biasanya hanya di sekitar taman fasilitas umum.

Sementara itu, Sujali agak kecewa lantaran pancingannya untuk memperoleh iba dari Bu RT tidak terwujud. Sia-sia nyapu sampai halaman Bu RT.

***

Hari sudah sore, Sujali sudah pulang dari kompleks. Bu RT menelisik perihal penundaan operasi hernia Sujali dengan bertanya lewat WA kepada warga yang tinggal di dekat pos jaga. Bu RT hendak memastikan sore ini Sandi yang jaga. Sandi sudah empat  tahun menjadi satpam kompleks, satpam paling lama. Tiga satpam lainnya baru dua setengah sampai tiga tahun bertugas di kompleks ini. Belakangan Bu RT dapat kabar bahwa Sandi yang mencarikan istri muda buat Sujali. Beberapa warga percaya Sandi punya ilmu pengasihan, pemikat hati perempuan.

Sandi, nama aslinya San Diego. Itu pun sebenarnya tidak asli-asli amat. Ayahnya penggemar berat Diego Maradona Si Tangan Tuhan. Dia ingin anaknya mahir main sepakbola, maka dia memberinya nama Diego Maradona.  Ketiga diajukan ke pencacatan sipil untuk membuat akta kelahiran, tampaknya kuping, pikiran, dan tangan petugas tidak sikron. Yang tertulis justru San Diego, nama kota di California selatan atau nama kompleks kuburan. Teman-teman dan tetangga yang biasa ngomong cilok, tahu, peyek, sepeda atau nangka, kesulitan melafalkan Diego. Mereka lalu berinisiatif menyingkat nama San Diego menjadi Sandi.

Sandi akrab dengan Sujali, ini alasan Bu RT memastikan dia yang berjaga. Bu RT ingin mendapatkan informasi yang lebih berimbang tentang tertundanya operasi hernia Sujali. Bukan apa-apa. Bu RT akan menanggung beban berat jika operasi hernia itu benar-benar batal karena dia sudah kadung membuka donasi dan terkumpul sekian juta rupiah.

“Eh, Bu RT. Tumben. Ada yang bisa dibantu, Bu?” sapa Sandi begitu melihat Bu RT menghentikan langkah di depan pos jaga.

“Kamu sibuk ga?”

“Biasa saja Bu RT. Jaga.”

“O, gapapa kalau begitu. Sebantar saja kok.”

“Sepertinya penting. Ada apa ya Bu RT?”

“Kamu kapan terakhir ngobrol sama Sujali,”

“Belum lama, tadi pagi juga ngobrol.”

“Dia ada cerita enggak kenapa ga jadi operasi turun berok?”

“Turun berok? Apa itu Bu RT?”

“Hernia.”

“Oh, itu. Kurang begitu paham Bu RT. Kok, Bu RT nanyanya ke saya, ya?”

“Kamu, kan, teman akrabnya.”

“Enggak juga, Bu.”

“Halah. Siapa coba yang nyarikan istri muda buat Sujali. Siapa yang mengenalkan Suminah ke Sujali?”

“Saya, sih.”

“Nah, itu. Tidak usah takut. Coba dia cerita apa tentang operasi hernianya?” 

“Jadi kemarin dia sudah ke rumah sakit. Sudah mau operasi terus batal.”

“Batal kenapa?”

“Katanya istri tua dan istri mudanya berentem di rumah sakit.”

“Kok bisa?”

“Mereka berebut untuk merawat Sujali selama pemulihan.”

“Bukannya Sujali sudah cerai sama istri tuanya?”

“Itu istri pertama dan kedua yang sudah dia ceraikan. Ini istri ketiga dan keempat.”

“Banyak benar istrinya?”

“Itulah hebatnya dia. Gampang cari istri.”

“Hebat apanya kalau ujung-ujung beramtem dan cerai.”

“Iya juga, ya Bu RT.”

“Yang istri ketiga ini bukannya pernah minta cerai? Kirain udah cerai.”

“Belum, Bu RT. Memang pernah dia minta cerai, tapi Sujali menolak.”

“Oh.”

“Nah, karena ribut di rumah sakit, Sujali malu dan pusing tidak bisa melerai. Tekanan darahnya naik. Dokter menyarankan operasi ditunda sampai dia bisa mendamaikan kedua istrinya.”

 ***

Dari dua sumber informasi itu itu, Bu RT masih belum menemukan gambaran tentang hal yang sebenarnya terjadi dengan Sujali. Benarkah istrinya berantem? Benarkah istri tuanya belum dicerai? Ah, benarkah Sujali mengidap penyakit hernia? Jangan-jangan sandiwara semata.

Sejauh itu pikiran Bu RT. Tampaknya dia lebih cocok menjadi wartawan. Skeptis sekali dia. Sudah banyak wartawan sekarang yang kehilangan sikap skeptis ini. Kasus penembakan, pemerkosaan, korupsi, disajikan tanpa sikap skeptis yang memadai. Mereka justru sangat skeptis terhadap kasus yang tak semestinya diumbar, kasus selangkangan Gisel atau rumah tanggal Atta-Aurel, misalnya. Semoga Bu RT kelak mau jadi wartawan setelah kasus hernia Sujali terungkap. Mari kita ikuti kelanjutannya.

Ini sudah selang sepuluh hari sejak Sujali menyapu di halaman rumah Bu RT. Pagi tadi Sujali telepon katanya sudah jadi operasi hernia tiga hari lalu dan sekarang sedang pemulihan di rumah istri tuanya. Pantas saja beberapa hari terakhir Sujali tak tampak berkelliaran di Kompleks seperti biasanya, begitu Bu RT membatin.

Bu RT paham bahwa Sujali memberi kabar itu bukan sekadar untuk izin tak bisa kerja beberapa hari ini dan beberapa hari ke depan. Ibarat sekali dayung dua pulau terlampui, secara tak terucap lewat telepon itu Sujali menagih, “Mana nih donasi buat saya?”

Sujali tahu itu lantaran setiap kali satpam, tukang sampah, atau pembantu rumah tangga sakit, warga kompleks rajin mengumpulkan sumbangan seadanya bagi mereka. Sumbangan yang seadanya bagi warga kompleks itu nilainya sangat besar bagi Sujali. Bisa setara dengan upah bekerja selama tiga setengah bulan.

Itu pula yang memicu pikiran Bu RT menebak-nebak. Jangan-jangan Sujali hanya pura-pura sakit biar dapat duit. Bagi Bu RT, ini bukan pikiran kotor. Ini bentuk dari sikap skeptis tadi. Sikap ingin tahu yang sebenarnya terjadi. Dia tak mau terlanjur menyalurkan dana sumbangan ternyata Sujali tak ada masalah dengan hernianya. Bisa celaka dia. Malu. Kepercayaan yang dia bangun bertahun-tahun bisa runtuh gara-gara hernia. Dia bisa-bisa turun jabatan gara-gara kasus turun berok. Pertaruhannya terlalu besar.

  Itulah alasan dia meminta salah satu warga,  Riska, menginterogasi Suminah. Kebetulan Suminah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di tempat Riska.

“Apa sudah ada kabar yang lebih jelas tentang Sujali?”

“Makin simpang siur, Bu RT.”

“Bagaimana maksudnya?”

“Kata Suminah, Sujali tidak ke rumah sakit. Pas kemarin tidak masuk, mereka sedang jalan-jalan ke Anyer rombongan keluarga.”

“Lho, ga takut Korona?”

“Enggak tahu, Bu RT.”

“Berarti ada yang bohong. Menurutmu siapa yang berbohong nih?”

“Belum jelas juga, Bu RT. Yang jelas antara Sujali, Sandi, dan Suminah, enggak cocok ceritanya.”

“Itu, dia. Kita perlu cek langsung ke Sujali. Melihat jahitan operasinya kalau memang dia sudah operasi.”

“Nah, itu lebih baik Bu RT. Biar jelas semua.”

***

Setelah menelepon Sujali, Bu RT mendatangi Pak RT yang sedang sibuk webinar tentang manajemen krisis. Di layar laptopnya terpampang wajah cerah seorang perempuan yang tengah menjelaskan sesuatu. Bu RT tak tahu persis isinya karena Pak RT menyumbat telinganya dengan alat bantu dengar alias earphone.

“Pak, bisa ganggu sebentar?” kata Bu RT sambil menowel pundak Pak RT.

“Ada apa?” Pak RT buru-buru mencabut alat bantu dengar dan menoleh ke arah istrinya.

“Kalau sedang lowong, minta tolong temami kami, ibu-ibu, untuk menjenguk Sujali.”

“Musim Korona begini, ga bagus jenguk orang sakit ramai-ramai.”

“Ini bukan sekadar jenguk. Kami mau kasih sumbangan dana sekalian memastikan Sujali benar-benar operasi atau tidak.”

“Ya sudah, cukup datang sendiri atau berdua sama Ibu Bendahara RT. Kenapa harus sama Bapak?”

“Masalahnya, kan perlu mengecek bekas operasinya.”

“Ya tinggal cek saja, kan, beres.”

“Bekas aoperasinya di selangkangan. Masa ibu-ibu disuruh lihat selangkangan Sujali?”

“Lha. Masa Bapak yang harus melihat selangkangan Sujali? Selangkangan tukang kebun lagi. Ogah, ah”

“Ah, Bapak ga asyik, nih. Ga kompak.”

“Bu, tidak perlu lihat selangkangan Sujali untuk mastikan dia operasi atau tidak. Minta saja bukti tagihan dari rumah sakit.”

“Iya, ya. Muach.”

“Aduh, duh. Lagi dong.”

“Huh….”

           

***     

             Hujan baru saja reda, masih menyisakan mendung dan rintik tipis. Warga kompleks memilih menyepi di rumah. Saat itu Sujali masuk gerbang kompleks, memarkir sepeda motor di samping pos jaga, lalu beranjak mengambil sepatu bot dan mesin pemotong rumput. Sandi segera beranjak dari tempat duduknya begitu melihat Sujali. Buru-buru dia menyeretnya ke dalam pos jaga.

            “Cuy, mana bagian gue?”

            “Bagian apaan?”

            “Duitlah.”

            “Duit apaan?”

            “Duit sumbangan wargalah.”

            “Boro-boro dikasih duit, dijenguk aja enggak.”

            Sandi bengong, sebengong penonton Inggris saat Maradona menjebol gawang dengan bantuan tangan kirinya.

Sementara itu, Sujali menerobos keluar pos jaga dan menenteng mesin pemotong rumputnya untuk memangkas di taman dekat rumah Bu RT. Bu RT tidak begitu mendengar raungan mesin pemotong rumput itu lantaran dia tenggelam dalam novel detektif sembari meyumbat kupingnya dengan alat bantu dengar, pinjam dari suaminya yang mulai bosan ikut webinar.

Ciputat, 5 Januari 2021-7 Maret 2022

Tatapan Pertama Raden Ayu Intan Kepada Wignya Kenanga - Royyan Julian

KONTRIBUTOR 11/27/2022
Royyan Julian 
TATAPAN PERTAMA RADEN AYU INTAN KEPADA WIGNYA KENANGA




Kau mandi di genangan mimpi
yang beku di telapak kakiku.

Cinta adalah rahasia yang terkubur
dalam namamu, dalam dosa-dosaku.

Maka, kupasrahkan kecupan pertamaku
kepada bibirmu yang menyimpan
kilat Musi, wangi Palembang, 
nasab raja-raja.

Aku terpanggang dalam godaan
yang kausulut di tungku maut.

Cinta, barangkali, 
jalan keluar bagi kesepianku
yang tersesat di antara luka-lukamu.

2022

Pangeran Jimat Kepada Bagus Pringa - Royyan Julian

KONTRIBUTOR 11/27/2022
Royyan Julian 
PANGERAN JIMAT KEPADA BAGUS PRINGA






Jantungku kuletakkan di tangan
Agar kau mendengar detaknya
Saat langkah kakimu mendekat

Surya takkan bangkit esok pagi
Jika kau tak datang malam ini

Dan cinta?

Cinta menggigil dingin
Bila kutahu rindumu bermalam di hati lain
—Menjadikanku kapal tak bermata angin

Tatapi imanku berbisik
Kau akan tiba sebentar lagi
Lalu kita bercumbu
Di bawah rasi bintang
Di antara bunga telang

2022

Bidarba Kepada Ragapadmi - Royyan Julian

KONTRIBUTOR 11/27/2022
Royyan Julian 
BIDARBA KEPADA RAGAPADMI





Di pungkas sepertiga malam
aku bangkit di hadapan cermin.

Kulihat:

Seorang suami mengusap
rambut istri dengan debu.
Seorang pria mengecup
dahi nisa dengan rindu.

Tapi kita tahu
rindu adalah getih
yang lekas jadi ganih
seperti surai wanita itu:
pudar dan kelabu.

Di huma, burung kedasihku
bersiul panjang.
Di nusa, kudengar kekasihku
memekik lantang

saat kijang-kijang mati
di tangan lelaki suci.

Kedasihku, Kekasihku,
malam itu kukubur ajalmu
ke dalam dengkur dan tidur
ke dalam mimpi-mimpiku
dan mimpi-mimpimu.

2022

Sihir Mata Penari Perut - S. Prasetyo Utomo

KONTRIBUTOR 11/27/2022

Sihir Mata Penari Perut

S. Prasetyo Utomo

 


“APA yang akan kaulakukan setelah bebas dari penjara?” tanya Baba1), pensiunan polisi, pada Anka, anak lelakinya. Hampir berakhir masa penjara Anka.

“Aku mau menikahi Azqila.”

“Nikah dengan seorang penari perut?” Pensiunan polisi itu terbelalak, menahan diri. Ia tak menduga sama sekali bila anak sulungnya akan menikahi penari perut itu. Ia pernah bertemu Azqila di penjara, ketika gadis itu menengok Anka. Yang paling menakjubkan dari seluruh penampilannya adalah sihir mata gadis itu – menaklukkan siapa pun yang memandanginya. Tatapan mata itu serupa tenung.    

“Apa yang salah dengan seorang penari perut?”

Pensiunan polisi memandangi anak sulungnya, yang seminggu lagi akan dibebaskan dari penjara kota kecil Konya. Ia dulu menembak Saad di pelataran Mevlana Cultural Centre. Ia tak suka pada imigran gelap asal Suriah yang seringkali menggoda Akila, adiknya. Tetapi bidikan Anka tidak tepat. Peluru mengenai bahu kanan Orhan Fatih – lelaki setengah baya – yang berjalan di sisi Saad. Orhan Fatih terjatuh. Tidak mati. Lelaki setengah baya itu dibawa ke rumah sakit dan dapat diselamatkan. Anka ditangkap polisi, diadili, dan dipenjara.  

Seminggu lagi Anka bebas dari penjara. Pensiunan polisi itu tak pernah menduga bila anak lelakinya ingin menikahi Azqila, seorang gadis penari perut di Hodja Pasha, Istambul. Azqila, anak angkat perempuan tua,  pemilik ladang delima di Pamukkale, dekat kota tua Hierapolis. Gadis itu mengembara ke Istambul untuk menjadi bintang tari perut.  

“Kau tak punya pandangan gadis lain?” tanya pensiunan polisi.

“Apa yang salah dengan Azqila? Ia setia menungguku bebas dari penjara.”

“Tidak ada yang salah padanya,” tukas pensiunan polisi itu. “Aku bahkan mengenal ibu angkatnya. Perempuan tua itu pernah berkunjung ke Mevlana Museum. Kami bertemu dan berbincang-bincang. Malam harinya ia sempat nonton pergelaranku mementaskan tari sema di Mevlana Cultural Centre. Ia kagum pada tarianku.”

Pensiunan polisi itu bekerja sebagai satuan pengamanan di Mevlana Museum. Ia juga seorang penari sema di Mevlana Cultural Centre, pentas tiap Sabtu malam. Ia tak bercerita pada Anka, bila malam itu ia pulang bersama ibu angkat Azqila dari Mevlana Cultural Centre. Ia mentraktir makan etli ekmek 2), dan minum ayran 3), sebelum mengantarkan perempuan tua itu ke hotel tempatnya menginap.

                                                     ***   

AGAK gugup pensiunan polisi saat melakukan perjalanan dari Konya ke Pamukkale dengan mengendarai sedan tua. Ia masih tangguh menyetir mobil, bertiga dengan Anka dan Akila. Pensiunan polisi itu telah ditinggalkan istrinya yang lari dengan lelaki lain, tinggal di ladang gandum Pamukkale. Ia menempuh perjalanan selama lima jam untuk mencapai kawasan ladang delima dekat kota tua Hierapolis. Tampak hamparan pegunungan seputih kapas. Ladang delima orang tua angkat Azqila tak jauh dari peninggalan kuil, arena teater, tembok kota dan kuburan batu serta air panas yang mengalir bening sepanjang waktu.

Tepat siang hari mobil tua pensiunan polisi memasuki pelataran rumah orang tua angkat Azqila. Pensiunan polisi dan Akila mengantarkan Anka untuk melakukan lamaran. Mereka membawa seserahan: bingkisan tekstil, paket coklat, baki silver berukir tempat dua cincin, dan bunga untuk Akila.  

Seorang lelaki yang dituakan di Pamukkale memasukkan cincin ke jari manis Anka dan Azqila. Kedua cincin itu diikat dengan pita merah. Lelaki yang dituakan itu menggunting pita merah. Pensiunan polisi sempat mengamati wajah Azqila, dan terkesima melihat sepasang mata gadis itu memancarkan sihir yang menaklukkan siapa pun yang memandanginya. Sihir mata gadis itu menenggelamkan ketangguhan jiwa tiap lelaki untuk takluk padanya. Pensiunan polisi itu tak tergoda sihir mata gadis penari perut yang paling dikagumi di Hodja Pasha Istambul. Ia tersenyum samar. Senyum itu seperti telah meluruhkan seluruh kekuatan sihir mata Azqila, yang segera menghindar dari wajah calon mertuanya. Azqila tak berani berlama-lama bertatapan dengan pensiunan polisi. Takut bila semua kedok penaklukkannya pada setiap lelaki terbongkar.

Pensiunan polisi itu kini paham, kenapa anak lelakinya tak bisa menghindar untuk menikahi Azqila. Sihir mata penari perut itu seperti memancarkan roh dewi-dewi kota tua Hierapolis.  

                                                                        ***

MALAM hari setelah melamar Azqila, pensiunan polisi tak pulang ke Konya. Ia mengikuti kehendak Anka yang ingin menginap di sebuah hotel untuk menyaksikan pertunjukan tari perut Azqila. Pemilik hotel telah memanfaatkan kepulangan Azqila ke Pamukkale untuk menarik banyak tamu datang ke kafe dan restorannya, sebelum mereka menonton pertunjukan tari perut.

            Ruang pertunjukan hotel yang cukup luas dipenuhi tamu-tamu, kebanyakan lelaki, dengan aroma raki 4) yang tercium pekat. Ketika lampu dipadamkan, Azqila muncul di panggung dengan rok terbelah, menampakkan kakinya yang ramping. Tiap orang tersihir penampiliannya. Hentakan darbuka 5) dan gesekan dawai biola mengiringi tarian Azqila. Bergetar bahu, dada, dan perut. Tubuhnya melikuk-liuk. Jari-jemari lentik bertepuk-tepuk ritmis di atas kepala. Pinggulnya berguncang-guncang mengikuti hentakan darbuka. Rambutnya disibak sesekali. Tengkuknya licin dibintiki keringat. Rekah bibir dan sihir mata gadis itu memacu detak jantung tiap lelaki yang memandanginya.

            Tubuh pensiunan polisi bergetar. Ia melihat lelaki setengah baya yang melarikan istrinya berada di deretan kursi penonton. Di tangan lelaki setengah baya itu tergenggam sebotol raki. Sepasang matanya terbakar birahi. Tak pernah berhenti menatapi tiap getar tubuh Azqila, dan sesekali terangkat tubuhnya, ingin meraih penari perut itu. Wajahnya memerah, mabuk raki yang ditenggaknya dari botol.

            “Lihat, Baba, itu lelaki yang melarikan Anne 6),” bisik Akila, yang memancing kemarahan Anka.

            “Biar kuhajar hidungnya!”

            “Jangan buat keributan di sini,” pinta pensiunan polisi.

            Lelaki setengah baya yang melarikan istri pensiunan polisi itu bangkit dari duduknya. Ia memburu Azqila yang turun panggung, dan tanpa malu, membujuk penari perut itu, “Ayo, temani aku tidur!”

            Lelaki setengah baya itu menghalangi langkah Azqila. Gadis itu tak bisa meneruskan langkah. Anka meminta lelaki setengah baya untuk memberi jalan Azqila. Tetapi lelaki setengah baya itu tetap merayu Azqila. Tercium aroma raki dari mulutnya. Tak bisa menahan diri, Anka memukul muka lelaki setengah baya. Keras. Lelaki setengah baya itu terpental. Terkapar. Bangkit lagi. Marah. Anka memukul untuk kedua kali. Lebih keras. Lelaki setengah baya itu tergeletak. Anka menginjak lehernya.

            “Kubunuh kau!” seru Anka geram. “Kaubawa lari Anne, sekarang calon istriku mau kauganggu!”

            Pensiunan polisi mencegah Anka agar tak melakukan aniaya terhadap lelaki setengah baya. Anka tampak geram dan beringas. Pensiunan polisi itu meredakan kemarahan anak lelakinya yang tak terkendali. Azqila surut. Gemerlap sepasang matanya memudar. Ia berlindung di balik tubuh kekar Anka, yang tampak sangat perkasa.  

                                                                    ***  

PAGI menjelang pulang ke Konya, pensiunan polisi sempat berenang. Ia makan pagi, berkemas-kemas, dan Azqila datang dengan taksi. Membawa sekeranjang buah delima. Pensiunan polisi memandang wajah Azqila dan tak lagi memancarkan sihir mata. Sepasang mata gadis itu teduh. Apa yang terjadi padanya?

Anka menyambut Azqila.  

 “Aku akan berhenti menjadi penari perut,” kata Azqila dengan penampilan yang lebih tenang. Sepasang matanya lebih tenteram.

“Kau akan cari kerja?”

“Tidak. Aku akan menjadi penari sema. Di Hodja Pasha, aku bisa pentas penari sema.”

Tak percaya dengan penampilan Azqila, pensiunan polisi mencari-cari sihir sepasang mata seorang bintang tari perut di Hodja Pasha. Sihir mata itu telah padam.

Pensiunan polisi mengemudikan sedan tua meninggalkan hotel dengan perasaan yang ringan. Dilihatnya Anka dan Akila berwajah lebih tenang. Mereka meninggalkan hotel, hamparan bukit seputih kapas, ladang-ladang delima, dan reruntuhan kota tua.

Sepanjang jalan pensiunan polisi itu masih mengenang sepasang mata Azqila yang bening, tenang, dan menenteramkan. Bukan lagi sepasang mata dengan sihir yang dirasuki roh dewi-dewi kuil purba.

                                                            ***

                                                                                                   Pamukkale, Juli 2022 /

                                                                           Pandana Merdeka, November 2022

 

Catatan

1)      Baba                = ayah

2)      Etli ekmek       = roti berisi daging, serupa pizza, khas Konya.

3)      Ayran              = minuman yang terbuat dari yogurt dan susu

4)      Raki                 = minuman keras Turki, disuling dari buah anggur atau plum.

5)      Darbuka          = perkusi sejenis gendang dari Timur Tengah

6. Anne                 = ibu

  

SAJAK