TERKINI

Genggaman - Dhimas Bima Shofyanto

@kontributor 2/18/2024

Genggaman

Dhimas Bima Shofyanto



Kau sebentar menangis saat kita baru saja tuntas mengobrolkan banyak hal. Mulai dari genosida yang terjadi di sebuah negara, sampai pengusiran sekelompok orang dengan latar belakang agama sama denganmu. Setelah itu matamu memejam, sembari menggenggamku erat. Beberapa waktu kemudian aku juga turut terlelap dalam gelap. Tapi tidak sepertimu, aku tak pernah bermimpi apa-apa.

Hidupmu selalu sajalah lebih terhiasi dengan warna-warna. Setiap kali bangun dengan mata berkelip-kelip, kau pasti segera meminta tolong kepadaku. Agar mimpi-mimpimu yang masih lekat dalam ingatan, dapat segera tersampaikan pada Mangun, teman dekatmu itu. Katamu bahasaku selalu lebih bebas digunakan dalam menceritakan sesuatu. Ada perbedaan rasa bila kau menceritakannya secara langsung tanpa perantara.

Namun sejujurnya, tubuhku selalu saja memanas setiap kali harus menyampaikan bahagiamu padanya. Aku merasa kau hanya memandangku sebagai alat saja, tak lebih. Apalagi di beberapa malam tertentu, kau membahas hal-hal yang mestinya tidak dibahas oleh sepasang teman dekat. Ya, hal jorok itulah yang kau bahas. Seakan kepalamu sudah sesak oleh pikiran mengenai seks. Hanya air, lendir, dan ketegangan yang menjijikkan itu saja.

          Padahal asal kau tau, hidup tidaklah melulu tentang itu. Kehidupan adalah penghayatan terhadap hal-hal yang lebih esensial. Aku memanglah tak beragama. Namun aku tau cukup banyak tentang bagaimana cara berkehidupan yang bijaksana. Capai-capai filsuf seperti Socrates mencari makna penghidupan sampai menelantarkan keluarganya. Sedang kau sendiri tak kunjung mengetahui dan mengamalkan kebajikan itu.

        Memang, kau membicarakan hal jorok itu jarang sekali. Iya, hanya dua kali. Namun setiap angka yang lebih dari satu adalah banyak bagiku. Kenapa tidak menuntaskannya saja pada pembicaraan yang pertama? Mengapa harus ada lanjutan dari yang pertama itu?

***

Esok hari, kau telah menggenggamku dan berlari-lari kecil menyibak udara pagi. Ada sebuah janji yang mesti kau tepati. Kota ramai ini memang tak pernah benar-benar tertidur. Matahari masih belum menyingsing benar, tapi kendaraan sudah berlalu-lalang mengalirkan suara klakson.

        Sesekali kau terbatuk-batuk karena asap yang tak begitu nampak. Dahimu yang tertutupi beberapa helai rambut jadi berkerut-kerut. Meski kau lebih sering mengangguk-angguk kecil saja, turut menggumamkan lagu yang lamat-lamat kulantunkan:

 

Ooh, love, ooh, lover boy

What're you doing tonight? Hey, boy

Write my letter, feel much better

And use my fancy patter on the telephone*

 

Kau memang tengah suka-sukanya dengan lagu ini. Barangkali sudah puluhan kali dalam seminggu aku menyanyikannya karena keinginanmu. Tidak, aku tak sama sekali terganggu. Ini memang lagu ajaib yang bisa memekarkan bunga-bunga dalam dada. Atau tidak? Aku juga tak tau. Aku hanya menyukai lagu ini karena kau menyukainya terlebih dahulu.

            Setelah keningmu disesaki oleh peluh sebesar biji mentimun, sampailah kita pada sebuah kafe berlantai dua, dengan kotak telepon khas London yang teronggok kosong di halamannya. Dari rongga-rongga dinding yang ada di bagian atas kafe, banyak tanaman-tanaman menjalar yang terjuntai. Terdapat pula beberapa patung berukuran kecil yang menyambut di mulut bangunan. Juga anak-anak tangga dari kayu yang selalu menimbulkan suara decit setiap kali kakimu menjejaknya.

Membelakangi dinding berhiaskan ornamen batik, kau mengedarkan pandanganmu keluar. Mengambang. Wajahmu seperti sibuk memikirkan sesuatu yang aku tak tau. Ah, barangkali aku justru sangat mengetahui apa yang sedang kau pikirkan. Karena kemarin kau baru saja dihubungi oleh ibumu, melalui aku. Dia menanyakan keadaanmu.

Reaksimu sama sekali lain saat itu. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutmu. Kau membiarkan ibumu berbicara dengan hembusan angin, tanpa jawaban. Meski dia tetap berbicara tanpa henti, menasihatimu dengan baris-baris kata yang sungguh menyejukkan. Aku tau tubuhmu bergemetaran mendengarnya. Karena genangan air sudah membendung pada matamu, siap menjebolkan banjir.

Namun kau tetap mematung. Hingga setelahnya, ibumu menyudahi pembicaraannya. Dia tau, kau benar-benar ingin memutus diri dari kehidupanmu yang sebelumnya. Kau ingin memulai sebuah kehidupan baru yang tak pernah dibayangkan olehnya. Kabur dari rumah, ke kota ini, dan mungkin akan ke kota lain lagi di kemudian hari.

Sekarang, matamu berkaca-kaca. Aku sibuk mereka-reka air mata yang menggenang itu berasal dari kesedihan atau malah hal lain. Sampai bunyi berdencing-dencing yang berbaur dengan suara decit kayu terdengar di udara, membuatmu menoleh pada kelokan tangga. Seorang lelaki yang mengenakan rompi hitam dan bawahan jarik, dengan pergelangan kaki yang terikat oleh lonceng mini mendekatimu tiba-tiba.

Aku baru menyadari kalau lelaki itu adalah Mangun saat dia sudah benar-benar dekat denganmu. Tubuhku mulai terasa memanas. Mangun segera duduk di salah satu kursi yang menghadap kepadamu. Menyajikan secangkir kapucino beriring croissant dengan asap mengepul. Ujung jarinya lamat-lamat menyentuh ujung jemarimu. Sedang wajahnya, menguarkan senyum yang tak sama sekali nampak dibuat-buat.

“Bagaimana kabar mimpi-mimpi indahmu?” tanya Mangun.

“Tak terlalu baik, sebetulnya. Kukira kau sudah menyadari bahwa aku tak sesering dulu menceritakan mimpi-mimpi bahagia itu. Kini, pemandangan malam hariku sudah benar berganti,” balasmu dengan air muka sayu.

“Berganti?”

Pertanyaan Mangun mengambang di udara selama beberapa waktu. Pada jeda itu, ada suara ketukan kayu yang begitu berirama. Aku baru menyadari keberadaan beberapa angklung yang menjulur pada pinggiran atap kafe ini. Desau angin berhasil mengundang pecahan nada yang menghembuskan keteduhan. Terbukti dari kerut dahimu yang kini perlahan memudar.

“Dengan rekaan buruk akan resiko yang mengiringi rencana kita.”

Wajah Mangun berubah masam. Aku tentu saja sudah mengetahui kemana arah pembicaraanmu. Sejak dulu, aku sebenarnya ingin menyampaikan pendapatku sembari berteriak sampai telingamu pekak. Namun urung. Seperti yang sudah lalu, diam adalah bahasa terkuatku. Aku hanya akan mendengarmu, menemanimu.

“Sebenarnya tak ada yang salah dari apa yang akan kita lakukan. Semua yang kita rasakan tidak lain adalah kehendak Tuhan juga. Oleh karena itu, janganlah sedikit saja merasa terbebani akan hal ini. Sebab yang harus kita salahkan hanyalah…” gumam Mangun dengan suara lirih.

“Tuhan?” tanyamu.

“Tatanan sosial,” sambungnya.

Lalu semuanya kembali pada keheningan. Aku diam. Kau menundukkan wajah dan menjatuhkan beberapa tetes air mata. Mangun perlahan bangkit dari posisi duduknya. Angklung dan angin tetap mesra meneteskan jiwa mereka pada bunyi yang semakin lama, semakin bertambah merdunya.

“Lalu, apakah kita akan meneruskannya?” tanyamu.

“Apakah kau mau meneruskannya?”

“Tentu. Kita bisa pergi ke tempat yang menerima kita, tanpa memperdulikan keluarga yang tak menyetujui hubungan kita. Tempat yang tak memandang kasar sebuah perbedaan, yang tercipta begitu saja tanpa bisa kita kontrol,” katamu dengan nada yang semakin lama semakin meninggi.

Air muka Mangun berubah, seperti menunjukkan ketidakpuasan atas jawabanmu, sanggahnya: “Bukankah itu terasa sangat merugikan kita? Mengapa harus kita yang pergi, tidak tetap saja disini?”

Kau terdiam. Lama. Kau tau tak mungkin memaksakan caramu menghindari masalah—dengan berpindah-pindah tempat—pada Mangun. Menanggalkan kehidupan lama memang adalah jalan pintas paling pamungkas menurutmu. Tapi rasa bersalah itu. Rasa bersalah tak pernah benar-benar pergi darimu.

Hingga setelah beberapa menit bertahan dalam posisi berdiri, Mangun akhirnya beranjak pergi diantar bunyi berdencing-dencing—melanjutkan pekerjaannya sebagai pramusaji. Sambil sebelumnya, mengusap kedua pipimu terlebih dahulu dengan lembut. Aku melihatnya. Melihat bibir dan bulu matamu yang bergetar-getar. Satu-dua tetes air yang terjun dari matamu dengan begitu perlahan. Begitu kepayahan.

Kau kemudian menggenggamku dengan erat. Menjauh dari tempat ini.

***

Sudah beberapa hari ini pikiranmu tak bisa fokus. Setiap milidetik waktu yang kau habiskan denganku, jadi terasa tak sama sekali berarti. Kau tak dapat bertahan memperhatikan satu topik saja seperti dahulu. Sebentar kau membaca sebuah berita, langsung kau ganti berita itu dengan berita lain. Bahkan sebelum rampung membaca satu paragraf pun.

Kegundahan nampaknya begitu menguasaimu. Sedang aku tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa memesankan makanan apapun yang kau kehendaki, membuat barang yang kau mau diantar langsung ke depan pintumu, atau melantunkan lagu yang bisa sedikit mengurangi kesedihanmu.

Ah iya, kau tak lagi memintaku menyanyikan lagu yang sebelumnya. Ada sebuah lagu lain sekarang yang tak henti-hentinya kau ulangi. Aku tau penyanyinya tetaplah penyanyi yang sama. Bahkan kini aku ingat bagian mana di lagu itu, yang membuatmu paling bersemangat untuk turut menyanyikannya:

 

I'm a rocket ship on my way to Mars on a collision course

I am a satellite I'm out of control

I am a sex machine ready to reload like an atom bomb

About to oh, oh, oh, oh, oh, explode**

 

            Kau akan segera menggeleng-gelengkan kepala sambil menyanyikan lirik itu kencang-kencang. Bahkan sesekali memukul-mukulkan tanganmu dengan keras ke kasur. Aku turut bersuka cita melihatmu kegirangan. Setidaknya kegelisahanmu benar-benar tak nampak pada saat melantunkannya di setiap waktu.

            Sampai hari yang sudah kuperkirakan sebelumnya benar-benar datang. Kala itu kau baru saja bangun dengan wajah berbinar-binar. Nampaknya, kau mulai kembali memimpikan keindahan yang biasanya. Sehingga dengan tergesa, kau meminta tolong kepadaku untuk mengabarkan mimpimu kepada Mangun.

            Sayangnya yang kau terima adalah hal lain. Ajakanmu untuk memboyong hubungan dengan Mangun ke lain tempat, sekarang benar-benar ditolaknya tanpa kompromi. Dia masih sangat menyayangi keluarganya, katanya. Tak bisa membuat kedua orang tuanya yang sudah renta terlalu terkejut, karena tindakan sembrono yang akan kau dan dia lakukan.

            Terlebih, kau tau bahwa keluarga Mangun adalah keluarga yang cukup terpandang. Bapaknya merupakan seorang tokoh agama terkemuka, yang sudah menjadi sosok panutan di daerahnya. Sekalipun cinta Mangun dikatakannya meluap-luap bagai ombak, dia tetap tak bisa memaksakan kehadiranmu ke dalam keluarganya. Cintamu dan dia terlalu terlarang untuk tetap diteruskan.

            Kini, kehidupan pernikahan yang selama ini menyesaki mimpi-mimpi indahmu, hancur tanpa bekas.

Matamu semerta-merta berubah merah. Gigimu bergemeletukan. Tangan yang biasanya lembut menggenggamku, jadi tegang terkepal. Kau melompat-lompat tak karuan. Semua barang yang berkelebat pada matamu, kau banting secara serampangan. Membuat lantaimu penuh dengan serakan barang pecah belah: pecahan kaca dan keramik yang berhamburan tak beraturan.

            Kau berjalan ke satu-satunya cermin yang ada di kamarmu, tanpa memperdulikan kaki yang kini mengembunkan darah. Wajahmu kemudian kau dekatkan pada cermin. Memicing. Matamu menelisik satu-satu fitur yang tersemat pada wajahmu secara teliti.

            Dengan perlahan, kau usap-usap alismu yang rimbun, juga bibirmu yang tipis. Hingga setelah beberapa saat, jemarimu berganti memilin kumis dan janggut hitammu yang tak terlalu panjang. Ada sebuah dengusan keras, sebelum kau menghantamkan kepalan tanganmu pada cermin yang kini pecah berantakan.

            Tubuhmu kemudian kau lemparkan ke atas kasur. Dan waktu menjelma kilatan, bergulir dengan cepat sekali. Tapi kau menelungkup sangat lama. Meninggalkanku begitu saja di atas laci, bersandingan dengan pecahan-pecahan cermin. Kau tak lagi menyelimutiku dengan genggaman penuh ketergantungan seperti biasanya. Sehingga beberapa waktu lagi, mungkin aku akan benar-benar mati.

Bateraiku sudah hampir habis.


Yogyakarta, 29 Desember 2023

 

*Diambil dari potongan lagu Queen, “Good Old-Fashioned Lover Boy”.

 **Diambil dari potongan lagu Queen yang lain, “Don’t Stop Me Now”

Moirai - Fathurrozi Nuril Furqon

@kontributor 2/18/2024
Fathurrozi Nuril Furqon
Moirai




Ketika subuh muncul dari rahimmu dengan membisikkan sebuah nama, juga tangisan yang menyobek jam, Moirai mulai memutar benang kehidupan. 

Kelak Clotho akan berdiam diri dalam hembus napasnya. Benangpun bergerak, berpintal, berputar, dengan segala kemungkinan. 

Dan ketika maghrib mulai memanggil-manggil dari sela bibir Lachesis, Atropos akan kirimkan maut yang lembut kepadanya. Percayalah, di Elisian nanti kalian akan bertemu sebagai orang-orang terberkati. 

Sumenep, 2023

Penyair Terkini - Tjahjono Widarmanto

@kontributor 2/18/2024

Penyair Terkini

Tjahjono Widarmanto 



/1/

Dalam sebuah pertemuan sastra, seorang pemuda yang tampaknya bercita-cita luhur untuk menjadi seorang penyair, berkeluh-kesah bahwa tidak ada lagi ruang estetika yang tersisa baginya. Menurutnya, seluruh gaya pengungkapan, seluruh kecenderungan pemilihan diksi, metafora-metafora dalam puisi, ungkapan-ungkapan bahasa, semuanya sudah ‘dihabiskan’ oleh para penyair pendahulunya. Pun, tema-tema besar semuanya berikut gaya pengucapannya sudah dijelajahi dan dieksploitasi habis-habisan oleh para penyair pendahulunya. Misalnya, ketika ia akan menulis tema-tema sosial, ia menjumpai bahwa pengucapan-pengucapan puisi sosial tersebut sudah habis dieksploitasi oleh Rendra, Wiji Thukul, F.Rahardi, Emha, Darmanto Jatman, Taufik Ismail, sampai dengan Agus R Sardjono. Bayang-bayang para penyair pendahulunya itu menguntitnya ketika ia menulis tema-tema sosial tersebut. Di sisi lain, ketika ia bekehendak menulis puisi-puisi liris yang imajis, surealis, maupun religius maka muncullah bayang-bayang penyair liris pendahulunya seperti Goenawan Mohammad, Sapardi Djoko Damono, Frans Nadjira, Abdul Hadi WM, Sitor Situmorang, Ajip Rosidi, D. Zawawi Imron, Acep Zam Zam Noer, Sitok Srengenge, Jamal D Rahman, Nirwan Dewanta, Joko Pinurbo, atau Mardiluhung. Bayang-bayang para penyair pendahulunya itu seolah-olah hantu yang menguntitnya seraya menudingnya: engkau epigon!

            Keluh-kesah dari calon penyair yang merana kehilangan, tepatnya kehabisan ruang estetika itu cukup mengganggu dan menggelisahkan. Muncul dalam benak saya, pertanyaan-pertanyaan, anak dari keluh-kesah itu, “Apakah setiap penyair harus melahirkan puisi-puisi ‘baru’? Kebaruan yang bagaimanakah yang diinginkan dan dituntut dalam puisi? Lantas, adakah sesuatu yang ‘benar-benar’ baru dalam jagat puisi?”

 

/2/

            Puisi memang tidak pernah diciptakan dari kekosongan. Andigium ini memang tak hanya mengacu pada keterkaitan antara teks dan konteks. Tak hanya mengacu pada pemahaman bahwa kelahiran sebuah teks (termasuk puisi) karena disebabkan adanya konteks yang melatarinya, tetapi juga mengacu pada sebuah realita bahwa kelahiran teks, dalam hal ini puisi, juga karena teks-teks yang ada sebelumnya. Kita bayangkan puisi adalah sebuah organisme yang lahir dari sebuah teks-teks sebelumnya, dan terus akan mengembangbiakkan teks-teks yang lain yang bisa jadi serupa atau yang berbeda sama sekali. Dengan kata lain, lahirnya sebuah puisi adalah terajut dari tradisi-tradisi penulisan puisi sebelumnya.

            Tradisi-tradisi penulisan puisi boleh kita analogikan sebuah sebuah tautan atau mata rantai sebuah historika.Tradisi penulisan puisi dengan berbagai ekspresi dan ungkapan estetisnya merupakan sebuah perjalanan historis. Lahirnya seorang penyair, mau tidak mau, suka tidak suka, disadari atau tak disadari, merupakan benih dari rasa keterikatan historis dengan tradisi kepenyairan sebelumnya. Setiap penyair, atau siapapun yang ingin jadi penyair harus memiliki kesadaran bahwa ia menulis puisi-puisinya tidak hanya dengan intuisi yang kuat pada periodisasi, angkatan, atau generasinya yang sezaman saja, tetapi juga dengan kesadaran bahwa ia berasal dari sejarah penciptaan sastra sebelumnya.

            Kesadaran bahwa dirinya sebagai penyair sangat terikat dengan historika tradisi penyairan sebelumnya ini, saya istilahkan sebagai emosi historis. Emosi historis ini tak hanya menunjukkan kaitan akar tradisi kepenyairan yang tak bisa dilepas dari sejarah sastra yang ada. Emosi sejarah itulah yang menjadikan seorang penyair berjejak pada dua kutub dunia yang berbeda. Yang satu kaki berjejak pada masa lalu, tradisi penulisan sebelumnya. Kakinya yang lain, berpijak pada pada saat ini. Nirwaktu dan temporer hadir dalam bersamaan, yang pada akhirnya aku mewujud atau bereinkarnasi dalam formula puisi yang khas zamannya sendiri.

            Secara realitas, kerja kesenian, termasuk seni sastra dan puisi di dalamnya, tak pernah tumbuh sendirian. Kerja kesenian, kerja kepenyairan adalah merajut dan memilin akar-akar tradisi penulisan puisi sebelumnya dengan kekinian. Seorang penyair harus mempertautkan dan mengapresiasi berbagai relasi subjektif dalam proses kreatifnya dengan para penyair terdahulunya. Dalam posisi semacam inilah mustahil ada “kebaruan” yang benar-benar “baru”. Tidak ada yang benar-benar “orisinalitas”. Yang ada adalah otentitas yang memiliki “keunikan-keunikan” yang menjadikannya berbeda dengan puisi-puisi sebelumnya.

            Dalam situasi itulah, seorang penyair otomatis akan berada pada sebuah tarik-menarik yang memikat. Yaitu tarik menarik pembandingan dan pengontrasan. Seorang penyair akan selalu berada dalam situasi ketegangan “memperbandingkan’ sekaligus “mengontraskan” hasil-hasil karyanya dengan para pendahulunya. Boleh jadi “memperbandingkan” dan “mengontraskan” ini akan menjadikan sebuah “kepaduan” yang menjadikannya berbeda dengan tradisi-tradisi penulisan puisi sebelumnya.

            Setiap penyair tidak bisa melepaskan diri sebebas-bebasnya dari hantu-hantu penyair pendahulunya. Sejarah penulisan puisi-puisi sebelumnya, mau tidak mau, sadar tak sadar, menjadi landasan bagi penulisan puisinya. Seorang penyair yang menolak tradisi kepenulisan puisi sebelumnya adalah Malin Kundang yang durhaka terhadap silsilah sejarah sastranya,

            Rela tidak rela, disadari atau tak disadari, setiap penyair yang lahir dan tumbuh selalu menjadikan tradisi-tradisi penciptaan puisi sebelumnya sebagai mercu suar bahkan kompas bagi penulisan puisi-puisinya justru untuk membangun otentitas. Kesadaran inilah yang merupakan kesukaran-kesukaran sekaligus tantangan yang paling agung bagi kerja kepenyairan.

            Keterikatannya pada tradisi penulisan puisi sebelumnya bukan berarti menjadikan puisi-puisi masa lalu sebagai standar atau menjadi ukuran. Tidak berarti melahirkan penilaian sama bagusnya atau lebih buruk atau lebih baik, dengan puisi-puisi sebelumnya, tetapi menjadikan khazanah yang mewarnai puisi-puisinya.

            Pada sisi ini, kita bisa menganalogikan kerja kepenyairan dengan kerja pengetahuan. Setiap pengetahuan yang lahir (yang dianggap baru) pasti berjejak pada pengetahuan-pengetahuan sebelumnya. Lepas apakah pengetahuan-pengetahuan (yang dianggap baru itu) akan menjadi kontradiksi atau meneguhkan pengetahuan-pengetahuan sebelumnya.

            Tema dalam sastra memang “itu-itu” saja. Soal percintaan, soal kematian, soal ketuhanan, menyoal sosial, merefleksi politik, atau merespons berbagai perubahan kultural. Namun, tema yang “itu-itu” saja selalu berangkat dari konteks yang berbeda bahkan bisa saja lahir dari konteks yang paradoksal bahkan kontradiktif pada era sebelumnya. Misalnya, tema cinta pada Ramayana atau Layla Majnun memiliki konteks yang berbeda pada tema percintaan saat ini, tak hanya menyoal kesetiaan dan pengorbanan namun bertambah dengan konteks ketegangan percintaan antar individu dengan etnik dan kultur berbeda atau tema cinta dengan ketegangan persoalan religius yang bertolak belakang. Dalam pandang Walmiki, cinta Rama dan Sita berporos pada kesetiaan dan pengorbanan, dan tak pernah Walmiki bayangkan ketika cinta berhadap-hadapan dengan ideologi dan persoalan Tuhan.

/3/       

Kembali pada pertanyaan kawan muda yang punya ambisi mulia menjadi penyair di atas. Kita bisa melihat bahwa “bagaimana cara pandang“ inilah yang membedakan dan menentukan kualitas kepenyairan. “Kebaruan” dalam membaca tanda-tanda zaman ini yang menjadikan puisi-puisinya “baru sekaligus orisionalitas” yang secara otomatis melahirkan cara ucap baru yang membedakannya dengan tradisi penulisan puisi-puisi sebelumnya. Kemampuan dalam membaca tanda-tanda zaman itulah yang akan menjadikan emosi aktual individual menjadi emosi bersama atau aktual universal. Itulah yang akan menjadi pembeda sekaligus membebaskan dirinya dari hantu-hantu sebelumnya.

Mungkin begitu!

Sastra Sebagai Spektrum: Urgensi dan Risiko Standardisasi - Candrika Adhiyasa

@kontributor 2/11/2024

SASTRA SEBAGAI SPEKTRUM: Urgensi dan Risiko Standardisasi

Candrika Adhiyasa

 


A great novel heightens your senses and sensitivity to the complexities of life and of individual, and prevents you from the self-righteousness that sees morality in fixed formulas about good and evil.

- Azar Nafisi

 

Saya sering gelisah: Apakah sastra perlu memiliki standardisasi atau tidak? Persoalan ini tentu bukan barang baru, bahkan sudah diperbincangkan sejak jauh di masa lalu. Namun, adakah perbincangan itu menghasilkan semacam kesepakatan yang dapat menyenangkan semua pihak? Sepertinya tidak.

            Ketika menelusuri kegelisahan itu, saya justru tidak banyak membaca ulasan-ulasan para sastrawan maupun kritikus sastra mengenai persoalan ini, dan malah beralih pada rimba filsafat—yang juga sering “adu jotos” satu sama lain. Taruhlah, rasionalisme a la Descartes senantiasa bertengkar dengan empirisisme a la David Hume.

            Namun setelah membaca lebih jauh, problem epistemologis dalam rimba filsafat itu—sedikit banyak—selalu menemukan titik tengahnya, meski memang tetap tidak dapat menyenangkan semua pihak. Dalam pertengkaran antara rasionalisme dan empirisisme, fenomenalisme yang digagas Immanuel Kant memosisikan diri sebagai wasit, meski tentu perbincangan mengenai persoalan ini terus berlanjut hingga era filsafat dewasa ini.

            Bagaimana dengan sastra? Saya membayangkan, bila sastra adalah bagian dari kebudayaan umat manusia, tentulah beberapa teori kebudayaan (yang juga merupakan produk filsafat) dapat digunakan untuk memikirkan fondasi konseptual mengenai problem ini.

            Katakanlah dahulu kala, pada abad kesembilan belas di Jerman, suatu gagasan filosofis bernama Kulturkritik hadir dengan intens. Kulturkritik menilai kebudayaan sebagai suatu piramid. Di sana ada hierarki, yang kalau kita terapkan dalam kesusastraan, maka akan dapat kita temui sastra tinggi dan sastra rendah. Pada akhirnya, cara berpikir a la Kulturkritik ini melahirkan semacam standardisasi dengan konsekuensi positif dan negatif. Positif karena dengan ketat mengawasi mutu karya sastra, negatif karena dengan pengawasan yang ketat (berbasis kesepakatan) berbagai potensi kreativitas yang tak terduga dapat terhambat. Di posisi ini, marginalisasi sangat mungkin muncul dan melahirkan kanonisasi.

            Kanonisasi, sampai batas tertentu, mungkin diperlukan sebagai alat ukur, tetapi perkembangan zaman menuntut adaptasi pada dinamika dan preferensi massa—baik itu yang organik maupun hasil determinasi berbagai hal. Namun, marginalisasi sangat mungkin memutuskan hubungan sastra dan problem kemanusiaan yang konkret dan kontekstual.

            Di Indonesia sendiri, Putu Wijaya merupakan salah satu sastrawan yang bagi saya memiliki tendensi pada cara berpikir ini. Dalam cerita pendeknya yang berjudul Kucing, saya mendapatkan kutipan seperti ini:

“… Akhirnya saya membeli sepuluh buku tua yang harganya jatuh. Bukan karena isinya sudah busuk, tapi kalah heboh oleh promosi buku-buku komoditas yang sebenarnya bermutu sampah.

            Di lain kesempatan, saya juga pernah membaca esai Haruki Murakami yang berjudul So What Shall I Write About? dan mendapatkan tendensi serupa, meski memang esai ini sebetulnya berbicara mengenai proses kreatif Murakami. Saya coba kutipkan:

“… Kau harus membaca segala jenis novel yang ada dalam jangkauanmu. Novel bagus, novel pas-pasan, bahkan novel sampah sekalipun, yang penting kau selalu membaca novel.”

Putu Wijaya dan Murakami, bagaimana pun, tidak eksplisit menguraikan secara teoretis perkara ini, tetapi tendensi yang tertulis dalam kutipan-kutipan di atas membuat saya dapat membayangkan posisi preferensial (atau bahkan paradigmatik?) mereka. Dalam kedua kutipan itu kita bisa mendapati, setidaknya, kriteria karya sastra yang bagus hingga yang bermutu sampah—sebagaimana saya beri cetak tebal. Bukankah penggunaan kata “sampah” di sini cukup berani?

Perkembangan Kulturkritik yang melihat produk kebudayaan secara hierarkis pada abad 20 dan 21 agaknya mendapat “perlawanan” melalui berbagai teori seperti: Teori Kritis Mazhab Frankfurt, Cultural Studies, Strukturalisme dan Poststrukturalisme, Postkolonial, Feminisme, Hermeneutika, Postmodernisme, hingga wacana kaum Neoevolusionis.

Karena terlalu banyak, kita bisa pilih salah satu saja, dan di sini saya hendak membentangkan cultural studies sebagai perwakilan dari ambivalen Kulturkritik.

Pertama-tama, cultural studies hadir dengan sikap yang lebih “moderat”. Ia tidak ekstrem pada pakem-pakem, klaim-klaim, legitimasi, dan juga standardisasi. Corak konstruktivisme yang melekat dalam cultural studies membuatnya terbuka pada kemungkinan bahwa nilai suatu produk kebudayaan merupakan konstruksi yang dihasilkan oleh jaringan kuasa dominan. Apa yang “baik” dan “bagus”—berikut sebaliknya—sangatlah tergantung pada justifikasi kekuasaan (melalui media, dan tentu saja, propaganda). Dalam konteks kesusastraan, karya sastra yang bagus dan sampah tidak eksis secara per se, melainkan menyembul oleh berbagai faktor yang kompleks.

            Di Indonesia, corak pemikiran seperti ini saya temukan dari Seno Gumira Ajidarma (selanjutnya disingkat SGA). Dalam suatu wawancara, SGA mendapatkan pertanyaan, “apa masih ada sastra tinggi sastra rendah di kesastraan kita sekarang?” SGA menjawab seperti ini:

“Saya kira udah gak musim, gitu ya, sastra tinggi - sastra rendah, gitu ‘kan. Semuanya bacaan. Jadi saya kira ya plus-minus … ya masih kuno namanya.”

            Dalam buku kumpulan esai “Affair: Obrolan Urban”, misalnya, SGA banyak menimba inspirasi analitis dari cultural studies, dan melalui wawancara di atas, SGA menepis keberadaan hierarki kesusastraan. Di lain kesempatan, intinya, SGA mengatakan bahwa istilah “sastra” sendiri cukup menakutkan dan berpotensi membuatnya berjarak dari masyarakat. Keberjarakan inilah yang lahir dari standardisasi, oleh sebab standar sastra tinggi akan sulit—bahkan tidak bisa—dijangkau oleh mereka yang tidak memiliki kapasitas intelektual sampai batas tertentu.

            Sebagaimana Kulturkritik yang sudah kita bicarakan di atas, cultural studies juga memiliki konsekuensi positif dan negatif. Positif karena membuka ruang-ruang untuk eksplorasi dan menampung ketidakterdugaan ekspresif, tetapi negatif karena akhirnya pengawasan mutu diserahkan pada spontanitas massa yang menurutnya sendiri dilahirkan oleh hegemoni kuasa dominan—yang sudah tentu dilatarbelakangi berbagai kepentingan politis. Pada posisi ini, sastra sangat mungkin tidak lagi menjadi “pedoman”.

Konsekuensi negatif lebih lanjut diuraikan oleh Saut Situmorang, bahwa sastra juga merupakan ilmu (science), yang maka dari itu memiliki aturan, hukum, dan diajarkan di fakultas-fakultas secara berjenjang. Hilangnya standardisasi a la Kulturkritik sangat mungkin menjerumuskan kita pada apa yang disebut oleh Tom Nichols sebagai “the death of expertise”. Padahal, bila kita mengingat pesan Albert Camus, yakni bahwa “the purpose of a writer is to keep civilization from destroying itself.” Bila legitimasi karya sastra “bagus” ternyata lahir dari konsensus kekuasaan yang zalim, bukankah sastrawan yang “moderat” telah kehilangan prinsip humanisnya?

Masing-masing paradigma, atau corak berpikir, memiliki kekurangan dan kelebihan. Konfrontasi berlebihan pada salah satu kubu rentan mempertegas kekurangan kubu yang hendak dibela. Melalui dilema semacam ini, kita memerlukan, di satu sisi, semacam kriteria agar karya sastra tidak terlempar ke dalam relativisme nilai yang terlalu bebas—yang berpotensi membiaskan penilaian atas suatu karya sastra. Karena bagaimana pun, tetap ada karya sastra yang baik dan “kurang baik”. Meski demikian, kecenderungan standardisasi yang berlebihan juga menutup peluang pada kemungkinan-kemungkinan kebaharuan ragam ekspresi, yang mungkin saja memiliki spirit emansipatoris tertentu tetapi membentur hegemoni wacana dominan yang hendak dikritik. Pada titik ini, standar yang dibangun perlu memiliki celah-celah untuk dinamika, agar terhindar dari “tirani konseptual” yang sering menghasilkan marginalisasi.

Kecemasan saya—dan mungkin juga kita semua—muncul kembali melalui pertanyaan: lalu, formula semacam apa yang kita perlukan untuk bisa mendamaikan kedua perspektif ini? Bila kita melihat kembali sejarah singkat filsafat yang saya ulas di awal, mungkin kita perlu semacam “fenomenalisme” dalam konteks kesusastraan. Di satu sisi kita ingin menjaga mutu, tapi di sisi lain kita juga hendak membuka peluang pada kreativitas yang tak terduga—di luar konsensus “penjamin mutu” tersebut. Tapi, bagaimana?

Pertama-tama, kita barangkali perlu menimba inspirasi dari filsuf asal Jerman, Jürgen Habermas. Ia memang konsen di bidang filsafat, dan juga dalam beberapa area, politik. Namun buah pikirannya dapat membantu kita untuk mengurai demarkasi dan “titik tengah” ihwal dua bentangan paradigma antara Kulturkritik dan cultural studies.

Terlebih dahulu kita bisa sepakati, bahwa kesusastraan merupakan medium komunikasi antara manusia dan dunianya, dan tentu dunia semacam ini, mengutip Adorno, “telah cedera”, beschädigte Leben. Sastra perlu hadir sebagai upaya penerangan untuk meninjau sejauh mana “cedera” itu telah mengusik ideal-ideal kemanusiaan.

Habermas berbicara tentang dunia objektif, yakni dunia rasional dan riil yang bisa diterima sebanyak mungkin (atau bahkan semua) manusia. Dalam konteks kesusastraan, agaknya standardisasi perihal ini dapat disepakati: bahwa sastra yang baik adalah sastra yang menjadi wakil dari jeritan-jeritan kemanusiaan. Meski demikian, ia tidak dimaksudkan untuk menilai secara dikotomis yang “baik” dan “buruk’, melainkan menghamparkan suatu kompleksitas yang membungkus relung-relung problem kemanusiaan.

Dunia objektif ini tentu tidak cukup, oleh sebab sastra, meski memang seringkali mengandung, bukanlah filsafat. Ia tidak hanya berbicara mengenai yang objektif, melainkan juga perlu membincang, atau menggunakan sudut pandang, yang intersubjektif. Goenawan Mohamad menguraikan ini dalam esainya yang berjudul Kemajuan dan Kebebasan: Takdir dan Habermas. Saya coba kutipkan:

“… ia (Habermas) menawarkan ‘filsafat intersubjektivitas’, yang secara hakiki mengandung sifat dialogis. Bagi Habermas, setiap kali kita mengadakan komunikasi, kita mau tak mau mempunyai asumsi, meskipun sebagai ilusi sekalipun, suatu ‘ilusi transendental’, bahwa kita sedang mengatakan kebenaran, dan mengatakannya secara jujur atau tulus, dan berdasarkan ketepatan normatif. Ada klaim kesahihan yang tersirat di sana, dan itu berarti terbuka untuk kritik: orang yang diajak bicara dapat mengatakan ‘ya’, atau ‘tidak’ atau menunda mengambil sikap, berdasarkan satu atau sejumlah alasan.”

            Meski sastra, sebagai suatu “faculty”, menuntut objektivitas, ia tetap perlu berdialog. Di area ini, standardisasi kesusastraan melonggar dan menemukan tempatnya yang terbuka pada kemungkinan, pada kreativitas, pada yang-tidak-terduga. Katakanlah, sastra tidak menjadi “tiran”, melainkan menjadi instrumen, dan “kebenaran” yang rigid bertransformasi menjadi spektrum.

            Terakhir, dunia subjektif. Dalam sastra, misalnya, seorang sastrawan mendapatkan tempatnya untuk mengekspresikan autentisitas diri dan dunianya, tanpa intervensi objektivitas dan moral publik. Meski demikian, tiga “dunia” ini tidak cukup untuk membincangkan standardisasi, tetapi setidaknya dapat membantu memberi alternatif tilikan, meski bukan secara teknis.

            Tiga dunia itu; dunia objektif, dunia intersubjektif, dan dunia subjektif, merupakan tiga irisan yang perlu saling mengisi dalam suatu produk karya sastra. Sastra pertama-tama lahir melalui alam gagasan pribadi dan ekspresi penggubahnya melalui dunia subjektif, lantas kemudian mencoba menyitir problem empiris yang terjadi di dunia objektif sebagai cermin refleksi—atau mimesis. Dalam komunikasi aku (dunia subjektif) dengan peristiwa (dunia objektif) itu perbincangan akan menyentuh dimensi-dimensi etis kemanusiaan, dan di sinilah kemudian karya sastra berhubungan dengan pembebanan moral, aspirasi, preferensi, dst. (dunia intersubjektif)—termasuk ketika karya itu mendarat ke tangan pembaca untuk kemudian melahirkan efek-efek khusus.

            Efek khusus ini adalah produk dari suatu karya sastra—apakah ia membawa seorang pembaca menuju, seperti kata Nafisi, (1) peningkatan kepekaan atas kompleksitas hidup dan pribadi; (2) melindungi pembaca dari sikap merasa benar sendiri; dan (3) meyakini bahwa moral itu absolut, atau tidak, itulah indikator yang dapat kita sepakati untuk menilai suatu karya sastra yang baik atau tidak—yakni berhubungan dengan efek yang ia berikan. 

Karawang, 12 September 2023

Segala yang Tertimbun di dalam Peta - Iyut Fitra

@kontributor 2/11/2024
Iyut Fitra
segala yang tertimbun di dalam peta




malam jualah biang dari kelam
gugu burung hantu
gelisah berdiam di perapian
              di tungku-tungku kecemasan
ada yang berlindung di balik nama kekasihnya
ada yang menunduk tak bangkit-bangkit dari doa
mencari-cari sesuatu
yang sesungguhnya tak pernah hilang
“segala yang dicari barangkali telah tertimbun di dalam peta
bila matahari menjauh, siang akan terasa lebih rapuh!”
ia baca kalimat tersebut di mata bocah-bocah yang tak memiliki airmata
             di trotoar-trotoar penuh lubang
             di angkutan kota tak lagi berpenumpang
lalu memeluknya diam-diam

diam-diam ia semakin fasih memeluk malam
laron mencari tiang
jangkrik dan kunang-kunang
ada yang mencium-cium warna bulan
ada yang menahan dingin dari selimut kelam
serupa album lama. bergabuk kian kabur gambar-gambarnya
“jangan pernah takut pada kegelapan
karena siang juga penuh dengan kemalangan!”
ia dengar nasihat itu dari orang-orang yang diusir dari tanahnya
               dari orang-orang yang kehilangan cita-cita
               dari kampung-kampung yang telah berganti nama
ia pun mengangguk diam-diam
esok terang pasti datang

Simpang Rindu - Lailah Nurdiana

@kontributor 2/11/2024
Lailah Nurdiana
SIMPANG RINDU
:antara Ayah, Ibu, dan Aku




yang kau tinggalkan
adalah air yang tak berhasil
mendidik api menjadi sepi

dan tuhan
dengan satu sentuhan
biarkan aku sebagai anak
yang punya bulan

lalu tawa yang pernah
ayah hadiahkan untukku
telah menjadi air selokan 
menuju laut yang dalam

dan ibu kini memasak
tanpa resep sempurna
tangannya larut dalam
potongan-potongan bawang,
menghidangkan masakan baru
yang membuatku kenyang
tanpa suapan

aku hanya lahap memakan canda ayah dan ibu
walau di piring yang pecah 
penuh nanah dan getah
dalam satu waktu

sebelum yang kupunya retak pada langkah 
ayah yang patah
nadi jariku yang tak berkuku
pelan menyentuh jantung ibu

Pangabasen, 2023

Kisah Abraham Sungkar, Lelaki yang Gagal Jadi Presiden Indonesia 2024 setelah Telat Kencing pada 1984 - Dadang Ari Murtono

@kontributor 2/11/2024

Kisah Abraham Sungkar, Lelaki yang Gagal Jadi Presiden Indonesia 2024 setelah Telat Kencing pada 1984

Dadang Ari Murtono

 


Ami bilang jika segala sesuatu berjalan lancar, semua orang di Indonesia akan tahu siapa Abraham Sungkar.

“Tapi siapa Abraham Sungkar?” aku bertanya.

“Itu masalahnya,” kata Ami. “Ia seharusnya menjadi presiden Indonesia tahun 2024.”

 

Menurut Ami, Abraham Sungkar lahir di Kota P pada awal tahun 70-an. “Namun semua dimulai sejak jauh hari sebelum ia dilahirkan,” kata Ami, “ketika Abraham Sungkar masih empat bulan dalam kandungan ibunya.”

Ini mulai terdengar tidak masuk akal. Dan aku cemas dengan kesehatan Ami.

“Aku baik-baik saja,” kata Ami. “Beberapa orang, kau harus yakin, mempunyai kemampuan yang tidak biasa. Dalam kasus Abraham Sungkar, ia memiliki ingatan yang sangat kuat. Termasuk ingatan sewaktu ia masih berada dalam kandungan.”

“Dan apa yang terjadi pada Abraham Sungkar sewaktu ia berada dalam kandungan?” aku bertanya, bukan karena aku benar-benar ingin tahu, tapi lebih karena ingin menghormati Ami yang sudah bersedia bercerita.

“Seperti semua yang dialami bakal janin berusia empat bulan dalam kandungan,” kata Ami, “malaikat mengajukan pertanyaan dan Abraham Sungkar menjawab. Tujuh puluh tujuh kali malaikat mengulangi pertanyaan itu dan tujuh puluh tujuh kali Abraham Sungkar menjawab iya. Dan seperti setiap bayi yang kemudian dilahirkan ke dunia yang fana ini, begitulah kesepakatan dibuat antara Abraham Sungkar dan malaikat, lalu Abraham Sungkar lahir lima setengah bulan kemudian.”

“Aku tidak ingat malaikat mengajukan pertanyaan kepadaku sewaktu aku masih empat bulan dalam rahim,” kataku. “Bahkan jika pertanyaan itu diulang sampai tujuh puluh tujuh kali.”

“Karena itu,” Ami menjawab, “aku bilang beberapa orang mempunyai kemampuan yang tidak biasa. Dan dalam kasus Abraham Sungkar, ia memiliki ingatan yang sangat kuat. Dalam kasus Logan, ia punya kemampuan regenerasi yang bagus dan bisa menumbuhkan cakar di kedua tangannya.”

“Logan?” aku bertanya.

“Wolverine,” Ami membalas, setengah tersenyum.

“Sial,” aku menjawab.

 

Sebelum bertanya kepada bakal janin berusia empat bulan dalam kandungan, kata Ami, malaikat memutar slide-slide peristiwa atau rekaman episode-episode kehidupan yang bakal dialami si bakal janin seandainya si bakal janin bersedia dilahirkan.

“Sebuah takdir,” kata Ami.

Dan si bakal janin, yang baru saja menerima ruh dari Sang Pencipta, akan menimbang-nimbang sebelum pada akhirnya ia memutuskan akan bersedia dilahirkan atau tidak.

“Jika itu memang benar-benar terjadi,” kataku, “aku pasti sudah mengatakan tidak bersedia. Seseorang dengan akun anonim di X menuduhku berbuat cabul. Dan semua orang menghabisi aku tanpa memberiku kesempatan membela diri. Dan lihatlah aku kini, terkucil, sendirian, tak punya apa-apa selain kau. Dan satu-satunya alasanmu menemaniku, kalau kupikir-pikir, hanya karena kau belum membayar uang tujuh juta yang kau pinjam setahun lalu. Dan kau juga kena makian karena masih berteman denganku, kan? Kau berkali-kali mengeluh stress, tapi tetap saja kau memilih untuk tetap berteman denganku.”

“Kau hanya tak ingat,” kata Ami, yakin. “Kau hanya tak ingat. Tapi yang jelas, kau menjawab iya pada waktu itu, pada waktu kau masih empat bulan dalam kandungan ibumu dan malaikat bertanya kepadamu. Karena itulah kau lahir dan bertemu denganku. Dan aku yakin aku menjawab iya pada waktu aku masih empat bulan dalam kandungan ibuku dan malaikat bertanya apakah aku bersedia dilahirkan meski telah diperlihatkan kepadaku slide-slide jika suatu waktu aku akan berhutang kepada seseorang yang dikucilkan karena dituduh melecehkan seseorang dan terpaksa berteman dengannya, meski memang terus-terusan mengeluh stress. Maafkan aku untuk keluhan-keluhan itu ya?”

“Maafkan aku karena telah merepotkanmu, ya?” aku membalas.

 

Slide-slide peristiwa yang diputar untuk Abraham Sungkar, kata Ami, adalah slide-slide yang sangat bagus. “Barangkali salah satu yang paling bagus yang mungkin terjadi pada takdir seseorang,” tambah Ami.

Slide-slide itu tidak dimulai dari bagaimana ia lahir, melainkan satu waktu ketika Abraham Sungkar berusia empat tahun dan ia bermain di bawah pohon jambu di halaman rumahnya dan angin sepoi-sepoi berhembus dari selatan dan bunga-bunga jambu berguguran.

“Itu,” kata Ami, “sepertinya ingatan pertama yang direncanakan untuk diingat oleh Abraham Sungkar. Tapi seperti kataku, ia ternyata memiliki ingatan yang sangat kuat. Jadi, ingatan pertamanya dimulai jauh sebelum itu, yakni sewaktu ia masih empat bulan dalam kandungan.”

Aku mengangguk. Ami berulang-ulang mengucapkan empat bulan dalam kandungan seolah-olah itu adalah bagian paling penting dari keseluruhan ceritanya.

Lantas slide melompat jauh ke suatu hari pada tahun 1984 ketika seorang tentara mengelus kepalanya dan berkata, “Kelak, setelah lulus sekolah, datanglah kepadaku.” Slide tersebut dilengkapi semacam lanskap yang tidak terlalu jelas. Sebuah karung, mobil jeep, pagi yang masih sedikit gelap, dan nuansa horor yang agak pekat.

Kemudian sebuah slide ketika ia menjadi tentara dan menembaki orang-orang di Timor Timur.

Lalu Abraham Sungkar melihat dirinya bertemu Soeharto di Istana Negara. Kemudian ia menyaksikan dirinya menculik sejumlah orang yang berdemonstrasi pada tahun 1998. Dan selanjutnya ia menemukan dirinya berhadap-hadapan dengan hakim yang mulia dalam satu sidang militer setelah Soeharto lengser.

Abraham Sungkar, yang masih bakal janin berusia empat bulan dalam kandungan, menggeleng dan hampir memutuskan tidak mau dilahirkan. Namun setelah itu ia melihat dirinya sendiri berdiri gagah di atas podium, berorasi di hadapan ribuan masyarakat, mendeklarasikan sebuah partai politik.

Abraham Sungkar menemukan dirinya berkampanye ke pelosok-pelosok negeri. Dan pada akhirnya, pada tahun 2024, Abraham Sungkar menyaksikan dirinya sendiri dilantik menjadi presiden Indonesia.

Slide terakhir adalah Abraham Sungkar berbaring di ranjangnya yang empuk, dikelilingi orang-orang yang menyayangi dan menghormatinya, sebagai salah satu presiden terbaik Indonesia. Ia menghembuskan napas terakhir dan orang-orang menangis sedih.

“Hidup yang menarik,” aku menghela napas.

“Dan bakal janin Abraham Sungkar mengangguk mantap kepada si malaikat,” kata Ami. “Ia menjawab iya dan terus menjawab iya sebanyak tujuh puluh tujuh kali.”

 

“Tapi masalahnya,” kataku sambil tersenyum masam, “tak mungkin Abraham Sungkar menjadi presiden Indonesia tahun 2024. Selain kau, barangkali tak ada lagi yang tahu bahwa ada seseorang bernama Abraham Sungkar di Indonesia.”

“Itu memang masalahnya,” jawab Ami. Ia menggeleng-gelengkan kepala.

Abraham Sungkar bermain-main di bawah pohon jambu yang tumbuh di halaman rumahnya ketika berusia empat tahun, kata Ami meneruskan ceritanya. Angin sepoi-sepoi berhembus dan daun-daun jambu berguguran. Beberapa di antaranya menyelip di sela-sela rambut Abraham Sungkar. Dan Abraham Sungkar tersenyum bahagia.

Semua, agaknya, telah dimulai.

Lalu Abraham Sungkar menunggu. Ia menunggu dan menunggu. Ia menunggu hari di tahun 1984 ketika seorang tentara tiba dan mengelus kepalanya dan berpesan agar Abraham Sungkar datang kepada si tentara setelah lulus sekolah atas.

Tapi tidak ada yang terjadi selain Abraham Sungkar yang menunggu dan terus menunggu dan terus menunggu. Bahkan ketika tahun 1984 sudah berganti 1985. Abraham Sungkar masih menunggu, berharap ada kekeliruan kecil mengenai tahun dalam slide yang diputar untuknya oleh si malaikat. Maka ia menunggu lebih lama lagi. Lebih lama sedikit lagi. Dan tahun kembali berganti. Dan Abraham Sungkar berpikir mungkin kesalahan tahun dalam slide itu sedikit lebih jauh. Maka ia kembali menunggu. Menunggu. Dan tahun-tahun terus berganti.

Abraham Sungkar tidak pernah menemukan dirinya menjadi tentara dan menembaki orang-orang di Timor Timur. Abraham Sungkar tidak pernah menemukan dirinya bertemu Soeharto di Istana Negara. Abraham Sungkar tidak pernah menemukan dirinya menculik sejumlah orang yang berdemonstrasi pada tahun 1998. Abraham Sungkar tidak pernah dihadapkan di meja peradilan militer. Abraham Sungkar tidak pernah berdiri di podium dan berorasi dalam sebuah deklarasi partai politik. Dan tentu saja, Abraham Sungkar tidak akan pernah menjadi presiden Indonesia tahun 2024.

Abraham Sungkar hanya terus menunggu. Dan sepanjang waktu itu, ia merenungkan apa yang salah, apa yang menjadi muasal kekacauan peristiwa yang ditakdirkan untuknya.

Dan pada akhirnya, Abraham Sungkar menemukan titik mula kekacauan itu.

“Dan apa itu?” aku bertanya. “Apa titik mula kekacauan takdir Abraham Sungkar?”

“Pada hari itu,” kata Ami, “pada suatu hari di tahun 1984, sewaktu ia seharusnya bertemu si tentara, Abraham Sungkar memulai aktivitas hariannya sedikit terlambat. Si tentara baru saja pergi setelah membuang satu karung berisi mayat seorang lelaki di ujung gang ketika Abraham Sungkar keluar rumah untuk kencing seperti kebiasaannya. Dan mobil jeep si tentara sudah berjalan menjauh. Abraham Sungkar bersumpah ia masih melihat kepulan asap mobil jeep itu. Beberapa menit, hanya beberapa menit dan keseluruhan takdir berubah.”

“Oh,” aku mendesis. “Apa yang dilakukan tentara itu sebenarnya?”

“Apalagi?” Ami berkata pelan. “Dugaan Abraham Sungkar adalah seharusnya ia bangun lebih pagi, ia kencing seperti biasa, dan memergoki si tentara yang sedang membuang mayat seorang preman korban penembakan misterius tak jauh dari rumah Abraham Sungkar. Si tentara menghampirinya, memberinya alamat, dan menyuruhnya tutup mulut, dan menjanjikan akan memasukkannya ke akademi tentara begitu ia lulus sekolah atas. Agaknya, jika itu terjadi, ia akan cukup berbakat menjadi tentara. Karirnya melesat cepat. Ia ditugaskan ke Timor Timur. Dan semua akan berjalan sebagaimana slide-slide yang ditunjukkan oleh si malaikat ketika ia masih empat bulan dalam kandungan.”

“Tapi semua itu tidak terjadi,” kataku.

“Begitulah,” kata Ami. “Begitulah yang diceritakan Abraham Sungkar kepadaku. Hanya karena ia terlambat bangun dari tempat tidur beberapa menit. Dan kau tahu alasan ia terlambat bangun dari tempat tidur?”

Aku menggeleng, tentu saja.

“Abraham Sungkar sudah membuka mata waktu itu,” kata Ami. “Tapi dia ingin sedikit bermalas-malasan di tempat tidur. Beberapa menit, katanya. Dan beberapa menit itu mengubah keseluruhan takdir yang ditentukan. Hanya beberapa menit. Beberapa menit yang muncul dari keputusannya sendiri.”

“Oh,” aku mendeis.

“Karena itulah,” lanjut Ami, “Abraham Sungkar pada akhirnya juga berkata kepadaku bahwa kita sendirilah yang menentukan takdir kita. Bukan Tuhan. Bukan malaikat. Bukan apa yang sudah direncanakan semenjak kita masih dalam kandungan.”

“Ya,” aku menyahut. “Bukan Tuhan, bukan malaikat.”

Aku terdiam sebentar. “Namun hari ini, orang lainlah yang menentukan takdir kita. Seperti yang aku alami,” aku menambahkan setelah menarik napas panjang. “Bahkan orang lain yang menggunakan akun anonim di dunia maya dan menyebarkan isu yang tidak jelas. Lalu, boom, hancurlah keseluruhan kehidupanku, karirku, teman-temanku. Semua!”

Ami tersenyum tipis.

“Semua akan baik-baik saja,” katanya, “semua akan baik-baik saja. Kau bisa melewati ini.”

Aku menggeleng. Aku tak yakin aku bisa.

“Mungkinkah,” kataku pada akhirnya, “kita pernah telat bangun pagi dan semua takdir baik yang disediakan kepada kita berubah? Seperti yang dialami Abraham Sungkar?”

Kini Ami yang menggeleng. “Sepertinya itu tidak lagi penting sekarang,” katanya. “Kita hanya harus menerima dan menghadapinya, seperti Abraham Sungkar.”

Dan aku mengangguk, lemah.

SAJAK