Terkini

Surat Kepada Alfreda

Sastramedia.com 4/18/2019 Add Comment
oleh Sofyan RH. Zaid

Alfreda, Aku menulis surat ini saat lampu padam. Tepat di malam hari ulang tahunmu. Ditemani sepotong lilin yang rela membakar dirinya demi cahaya. Sesekali laron mendekat dan terbakar. Aku melihat bulan beku di antara kelip bintang. Angin yang nakal menyusupkan wajahmu yang dingin. 

Alfreda, aku menulis surat ini bukan berarti ingin kembali ke masa lalu, masa di mana kita pernah menjadi sepasang kupu-kupu. Aku hanya ingin mengenang semua itu. Membuka ingatan, album  lama bersamamu. Segala bentuk gelisah dan keterasingan dapat sejenak aku lupakan. Aku juga rindu menulis surat, dan aku selalu bahagia tiapkali menuliskannya untukmu, apalagi di hari ulang tahunmu. Surat telah menjadi jembatan di antara kita. Seperti dua kampung yang terhubung, dan dari sanalah jejak kepenyairanku bermula.

Lewat surat ini, Alfreda, aku ingin mengenangmu. Mengenang pagi, pertama kali kita kehilangan hati. Kita mencarinya ke wangi bunga, tetes embun dan terbit matahari. Ternyata di dadaku hatimu, di dadamu hatiku. Kita malu-malu saling meminta, kemudian membiarkannya tertukar. Aku menjadi kau, kau menjadi aku. Kita mulai berjalan bergandengan tangan. Derap jadi irama, jejaknya menjadi tanda. Perjalanan kita telah cukup jauh untuk kembali. Melewati batas demi batas. Kaki luka, kerikil dan duri berganti menusukkan diri. Kita pun akhirnya mengerti bahwa; ketulusan selalu punya jalan sendiri.

Lewat surat ini, Alfreda, sekali lagi aku ingin mengenangmu. Mengenang rasa, sepiku penuh baris gigimu. Malammu penuh tebal alisku. Kita mulai kenal rindu, kerap menghitung waktu. Kadang menangis dan tersenyum sendiri. Menjadi bagian dari kegilaan yang sadar. Mungkin Bacan benar bahwa: orang yang bisa membuat kita bahagia adalah orang yang juga bisa membuat kita berduka. Begitulah tanda kedekatan jiwa. Kita seolah lebih tua dari usia. Menjadi begitu bijak, begitu pujangga. 

Alfreda, apa kabarmu di sana? Semoga kau baik-baik saja seperti dalam doaku setiap waktu. Sudah bertahun-tahun kita tidak berjumpa, sejak berpisah di alun-alun kota malam itu. Aku sendiri baik-baik saja di perantauan. Hanya tinggal di kota ini seperti hidup dekat matahari. Panas menyengat. Segala sesuatu terjadi tanpa pernah bisa dihindari. Usia habis di jalan ditelan kemacetan. Diri terasing dari kehidupan dan perlahan menjadi boneka yang berpikir. 

Alfreda, kota tempat di mana aku hidup, telah menjadi hutan beton. Sepanjang hari deru gemuruh. Orang-orang kehilangan burung dan napas pohon. Ceropong-ceropong terus melolong seperti serigala di siang hari. Tanah-tanah kosong telah berganti gedung-gedung. Rumah-rumah penduduk digusur menjadi jalan. Hutan-hutan kecil di tepian untuk meredam gairah hujan, telah menjadi pabrik-pabrik besar. 
Anak-anak juga kehilangan taman tempat mengejar kupu-kupu atau memetik bunga, kehilangan tanah lapang tempat bermain layang-layang atau duduk bersama mentatap senja, kehilangan bening sungai untuk mandi dan berenang. Katanya ini kota maju, tapi banyak pemulung hidup beranak dalam sampah. Gelandangan menghuni jembatan, peminta-minta hampir memenuhi tiap sudut kota. Kejahatan terjadi di mana-mana. Kaum pribumi menjadi perantau di kotanya sendiri. Kota yang diwariskan leluhurnya hanya tersisa dalam sejarah.
Itulah kenapa aku kerap lupa kepadamu. Ingatan penuh asap dan debu, serta sejumlah rencana yang tak nyata. Mimpi-mimpi terdampar di batas benda. Banyak kepulangan yang tertunda. Namun percayalah, cinta kepadamu tetap ada. Itu pula yang membuatku bertahan di sini, sampai malam ini, meski rindu kerap memaksaku untuk bertemu.

Alfreda, apa kabar orang tuamu? Kadang aku masih suka tersenyum sendiri kemudian menitikkan air mata ketika ingat peristiwa itu. Peristiwa yang ditulis luka menjadi sejarah dalam hidupku. Dengan penuh keyakinan dan keberanian aku datang sendiri melamarmu, tapi sayang ayahmu menolak mentah-mentah. Kau juga pasti ingat bagaimana ucapannya malam itu; “Kamu hanya seorang penyair. Kamu sendiri tahu, cinta atau pun puisi bukanlah rumah, sawah dan perhiasaan. Anakku tidak akan pernah menikah denganmu!” 

Mendengar kalimat itu, aku kehilangan keseimbangan. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Seakan laut Lombang dan Slopeng menyatukan debur dalam dadaku. Seolah bulan dan bintang berjatuhan menimpa kepalaku. Perlahan aku beranjak pergi meninggalkan rumahmu, meski aku tahu, di ujung halaman kau menangis. Begitu juga aku, sepanjang jalan menuju rumah. Aku tidak marah pada ayahmu, hanya aku malu pada diriku sendiri. Mencintaimu aku seperti tertidur panjang dengan mimpi yang indah, tapi malam itu tiba-tiba terjaga dan ketakutan. Air mata membasahi jalan. Kesunyian menuntunku pada kesadaran terdalam.

sudahlah, Alfreda, yang terjadi biar terjadi sebagai bagian dari kedewasaan. Apalagi ayahmu  benar, aku hanya seorang penyair, cinta atau pun puisi bukanlah rumah, sawah dan perhiasaan. Ya, aku hanya seorang penyair, Alfreda. Selain puisi dan cinta, tidak ada yang bisa diharap dariku. Kau tahu, sebagai penyair aku tidak dekat dengan penguasa atau pengusaha. Aku hanya terus menulis puisi dan bertahan sebagai penyair meski beberapa rubrik koran yang memuat puisi sudah lama tutup. Sejumlah redaktur menolak puisiku, karena puisiku -katanya- bukan puisi kritik sosial. 

Puisiku tidak berbau pemerkosaan yang kerap terjadi pada anak atau ibu sendiri, bahkan dalam angkutan umum. Puisiku tidak berbau pencurian motor. Puisiku tidak berbau koruptor yang terus merongrong uang negara. Puisiku tidak berbau teroris yang memusuhi negara lain dengan mengebom negara sendiri. Puisiku tidak berbau kekerasan atas nama agama. Puisiku tidak berbau fundamentalisme buta yang suka mengatakan orang lain kafir atau sesat, menolak menghargai perbedaan dan mencari persamaan untuk perdamaian.

Puisiku juga tidak berbau mafia hukum yang bisa memasukkan orang ke penjara seenaknya. Puisiku tidak berbau politikus rakus yang mengatasnamakan rakyat untuk kepentingan sendiri. Puisiku tidak berbau pemimpin yang lemah dan penakut. Puisiku tidak berbau pesawat jatuh di gunung atau laut. Puisiku tidak berbau Lumpur Lapindo yang terus memancar deras dan meluas. Puisiku tidak berbau lokalisasi yang dilindungi aparat. Puisiku tidak berbau penebangan liar hutan. Puisiku tidak berbau utang negara. 

Puisiku hanya berbau cinta dan rindu kepadamu. Selebihnya tentang Tuhan, pencarian jalan, dan harapan akan keabadian. Namun aku tetap “berlindung kepada-Nya dari berdiri mengaku sebagai penyair, tapi tak satu pun puisi yang ditulis.”

Alfreda, Akhir bulan ini, jika tak ada aral, aku akan pulang ke kampung halaman. Aku sudah suntuk dan bosan di kota ini. Pergi pagi pulang sore, menyaingi matahari. Aku ingin seperti dulu, kita kabur ke pantai; menikmati senja, pasir putih, cemara udang, barisan nyiur atau para nelayan yang turun dari perahu disambut anak-istri. Aku ingin kita naik gunung; mencari buah jambu, anak burung dan menatap hamparan sawah dari ketinggian seperti halaman kitab suci. Iya, aku ingin pulang, Alfreda. 

Demikianlah surat ini aku tulis tepat di hari ulang tahunmu, dan lampu masih saja padam. Sementara sepotong lilin yang rela membakar dirinya demi cahaya sudah hampir habis meleleh. Selamat ulang tahun, Alfreda. Peluk ciumku dari jauh, dari sebuah kota bernama rindu.

Bekasi, 07 Juni 2014/2018

Sertifikat Seniman, Perlukah?

Sastramedia.com 4/15/2019 Add Comment
oleh Humam S. Chudori

Sebuah wacana baru dimunculkan Wiendu Nuryanti, wakil menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yakni seniman akan diberikan sertifikasi. Gagasan ini dimunculkan, lantaran ia merasa prihatin dengan minimnya standarisasi internasional yang dimiliki seniman Indonesia. Menurutnya, dengan tidak memiliki sertifikat seniman asal Indonesia akan kalah bersaing dengan pekerja-pekerja seni dari negara lain.

Entah seniman apa yang akan diberikan sertifikasi nantinya. Memang tidak dijelaskan. Apakah untuk semua jenis kesenian, atau pada seni tertentu. Sebab kesenian ini banyak cabangnya. Ada seni lukis, seni rupa, seni tari, seni teater, seni sastra, musik, dan sebagainya. Belum lagi dengan aliran yang ada pada tiap cabang seni tersebut. Dalam seni lukis saja, misalnya, banyak sekali aliran. Mulai dari naturalis, ekspresionis, abstrak, kubisme, dan sebagainya. Demikian pula, dengan kesenian lain. Banyak alirannya.

Karena itu, jika memang seniman akan diberikan sertifikasi harus berapa banyak tim penguji yang akan menentukan seorang seniman berhak mendapatkan sertifikat dari negara. Ini dari jumlah tim penguji, kelayakan seseorang boleh disebut seniman. Namun, yang perlu dipertanyakan apa kriteria tim penguji tersebut. Sebab bukan tidak tertutup kemungkinannya justru tim penguji bukan orang yang mengerti betul tentang kesenian.

Nah, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi apabila dunia kesenian seperti ini. Mungkin yang sebetulnya bukan seniman bisa disulap menjadi seniman karena mampu me-lobby tim penguji. Sementara itu, yang betul-betul seorang pekerja seni tidak pernah diakui sebagai seorang seniman hanya gara-gara tak bersertifikat. Padahal, diakui atau tidak, tak sedikit jumlah seniman yang telah memberikan sumbangsih kepada bangsa. Atau paling sedikit kepada masyarakat daerahnya. Namun, mereka tidak pernah dikenal secara luas oleh publik. Apakah seniman yang seperti ini, karena tidak bersertifikasi, nantinya akan dilarang untuk berkarya. 

Toh, sebetulnya, tanpa bersertifikat pun seniman tak jarang dilarang tampil. Entah dalam pembacaan puisi atau pertunjukan teater. Penulis sendiri pernah mengalaminya. Padahal, ketika itu, penulis merasa tidak ada alasan yang pantas untuk dijadikan dalih pelarangan pembacaan puisi. Pun, penulis merasa bukan pekerja seni yang perlu ditakuti untuk membacakan puisi. Apalagi terhadap seniman-seniman yang sudah punya nama. Entah seniman teater atau seniman sastra yang mungkin dianggap akan memengaruhi massa. 

Pengalaman seniman-seniman (sastra) daerah, misalnya, RSP (Revitalisadi Sastra Pedalaman) juga tak bisa diabaikan begitu saja. Seperti pengakuan Kusprihyanto Namma, bahwa sebelum RSP bubar Beno Siang Pamungkas berpesan, "Sebaiknya RSP dibubarkan, karena sudah menjadi incaran badan intelijen, RSP dianggap membawa semangat kekirian."

Ternyata bukan dewa-dewa sastra plus kroni-kroninya saja yang mendelik melihat sepak terjang RSP. Bahkan instansi militer pun memelototinya. Saya orang desa, tak tahu, apakah yang dikatakan Beno benar atau tidak. Yang jelas, setelah meninggalkan pesan itu, Beno menarik diri dari RSP. Ia tidak lagi menulis karya sastra. Bahkan tak mau dihubungi oleh sastrawan manapun. Ia pun selalu menghindar. Sembunyi. Pun enggan diajak bicara soal RSP, demikian Kusprihyanto Namma menceritakan nasib RSP (Jurnal Boemipoetra, Januari-Maret 2012). 

Jika benar sertifikasi seniman ditujukan untuk membantu pekerja seni, rasanya, terlalu bombastis. Sebab yang terjadi selama ini justru sebaliknya. Dilarang tampil, dicurigai, dimata-matai, dan tak mendapat kesempatan mengekspresikan karya. Apalagi untuk tampil di manca negara. Lha wong di negeri sendiri kerap dipersulit mengekspresikan karya seninya.

Sementara itu, pekerja seni yang tempat mengekspresikan karyanya bukan di panggung. Sebutlah sastrawan, misalnya. Mereka juga tak pernah mendapat dukungan dari pemerintah. Betapa tidak, harga kertas yang mahal tampaknya memberatkan penerbit. Namun, sesungguhnya hal ini berpengaruh kepada buku-buku yang hendak diterbitkan. Belum lagi penulis juga harus menanggung pph yang jumlahnya tidak kira-kira, 15 % jika yang bersangkutan punya NPWP jika tidak punya NPWP maka pph yang harus dibayar 30 %. Padahal, besarnya royalti paling tinggi hanya 10 %. Lalu di mana letak perhatian pemerintah terhadap nasib seniman (sastra). Karena itu, jangan heran jika nasib sastrawan seringkali mengenaskan. 

Yang menarik untuk digarisbawahi dari pernyataan wamendikbud "Sekarang para pekerja seni Indonesia belum memiliki sertifikat sehingga ketika dibawa ke luar Indonesia, mereka tidak dihargai. Padahal bangsa ini kebanjiran pekerja seni dari luar negeri, antara lain penyanyi hotel dari Filipina, dan penari dari Korea."

Penulis merasa heran dengan pernyataan di atas. Sebab sepengetahuan penulis seniman luar yang datang ke Indonesia tak pernah dipertanyakan apakah mereka punya sertifikat seniman atau tidak. Jadi, penghargaan seniman bukan berdasarkan sertifikat melainkan atas dasar karya dan kesempatan. 

Ketika Jilfest Jakarta International Literary Festival diselenggarakan (atas kerjasama KSI, KCI, dan disbudpar DKI Jakarta) dan mengundang seniman (baca: sastrawan) dari mancanegara. Tidak pernah ada persayaratan bahwa sastrawan tersebut sudah bersertifikasi. Karena itu, sebetulnya, yang perlu dilakukan pemerintah adalah memberi kesempatan (dan) dana tentunya jika benar pemerintah peduli dengan nasib seniman. Bukan justru membebani dengan pajak seperti terhadap seniman-seniman kreatif seperti para sastrawan. Di samping itu, tentu saja, harus ada kemauan pemerintah untuk memperkenalkan seniman kita di luar negeri. Ketika Bahaa Taher, novelis dari Mesir, datang ke Indonesia untuk menghadiri fesival kesenian di Ubud, misalnya. Sebelum berangkat ke Bali, ia mampir dulu ke Jakarta. Dan, ketika berada di Jakarta, Kedubes Mesir mengundang para sastrawan yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya (serta dari kalangan perguruan tinggi dan beberapa orang dari MUI). Bahaa Taher dikenalkan sebagai novelis yang diperhitungkan di Mesir. Sehingga kita yang belum mengenal siapa Bahaa Taher akan tahu bahwa ia seniman terkenal di Mesir.

Barangkali, apa yang penulis paparkan ini bisa dijadikan contoh. Jika seniman kita hendak dihargai di luar negeri. Kedubes kita harus melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan kedubes Mesir. Bukan cukup dengan memodali seniman tersebut dengan sertifikat pengakuan bahwa yang bersangkutan adalah seorang seniman. Tetapi ketika di luar negeri kedubes kita tak berusaha mengenalkan kepada masyarakat di negara tersebut. Jadi, sebetulnya, bukan sertifikasi yang dibutuhkan seniman. Tetapi, kebebasan kreatif dan dukungan positif dari pemerintah dukungan materiil maupun immateriil. Toh, seniman dari luar yang hendak mengekspresikan karya seninya di negeri kita juga tak pernah dipersyarati harus punya sertifikat dari negara. Karena itu, gagasan melakukan sertifikasi terhadap seniman perlu dipertimbangkan masak-masak. Itu saja! ***

* Humam S. Chudori, pekerja seni tinggal di Tangerang.

Sumber: suara karya online. Sabtu, 12 Mei 2012

Puisi sebagai Terapi

Sastramedia.com 4/15/2019 Add Comment
(dalam Kumpulan Puisi Dian Hartati Upacara Bakar Rambut)

oleh Matroni Muserang

Dian Hartati, perempuan penyair yang sudah banyak mengenyam pengalaman perpuisian di Indonesia, telah melewati fase-fese berat sehingga sampai di ruang  bernama “terapi”. Terapi sebenarnya salah satu tujuan dari semua penulis. Terapi merupakan cara mengobati. Terapi juga merupakan cara mengobati pikiran yang banyak membaca, lalu dituangkan dalam bentuk tulisan. Terapi dalam hal ini sebuah tempat yang di dalamnya berisi gelembung-gelembung kata yang diisi para pembaca. Bayangkan bagaimana seandainya di dunia ini tidak ada ruang bernama terapi. Mau dibuat apa hasil pembacaan kita? Membaca merupakan tugas awal manusia. Membaca dalam terapi di sini, dimaksudkan dengan Dian sedang membaca dirinya. Berdialog dengan diri sendiri.

Kumpulan puisi Upacara Bakar Rambut yang berisi 30 puisi ini merupakan kumpulan puisi terapi yang mencoba mengobati jiwa penyairnya. Ranah Dian Hartati bukan lagi persoalan diksi atau apapun dalam puisi. Kumpulan puisi ini merupakan ruang pergulatan itu terjadi dan ada. Terapi digunakan untuk menyampaikan pesan rohani yang selama ini bersarang dan bergemuruh dalam jiwa penyairnya. Untuk itulah membaca puisi ini kita akan diajak memasuki ruang yang bernama terapi.

Sebelum upacara dimulai/ aku pernah bersemadi/ dan menanam rambut di belakang rumah/ ia menumbuhkan mawar duri berwarna ungu/ memecah pot hitam dan batu-batu kehidupan.

Lirik /aku pernah bersemadi/ sudah menandakan bahwa Dian memiliki pengalaman masa lalu. Pengalaman itu berupa gaya hidup, karakter hidup, cara berpikir bahkan pengalaman migis (mistik/metafisik). Artinya sebelum masuk ke perkampungan Terapi, Dian sudah melewati perkampungan-perkampungan lain yang sebelumnya pernah Dian lewati dan rasakan. Bagaimana pembaca mengetahui hubungan antara pengalaman dengan magis? Saya ingin masuk dari pintu mistiko-filosofis yang digagas Ibnu Arabi dan dilanjutkan oleh Mulyadhi Kartanegara. Mistik di sini bukan diartikan seseorang bersemadi dalam satu ruang kemudian tidak mau peduli dengan dunia, tapi mistik menurut Heidegger ingin memberikan penyadaran terhadap krisis spiritual dan krisis pengetahuan yaitu dengan mistik keseharian. Mistik keseharian merupakan pembuka diri terhadap penyingkapan dasar-dasar kenyataan dan kehidupan sehari-hari. Dian cukup mampu menyingkap dasar-dasar kenyataan yang selama ini dia alami.

Mistiko-filosofis sebenarnya sebuah metode yang dipakai oleh Malyadhi Kartanegara dalam meminimalisir jurang pemisah yang begitu tajam antara aliran rasionalisme dan iluminasi atau akal (rasio sentris), indera (empiris) dan intuisi (hati). Sebab kata kaum rasionalis bahwa pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang hanya bisa ukur dari rasio. Kaum empiris beranggapan pengetahuan  yang benar adalah pengetahuan yang bisa diinderai. Mistiko filosofis sebenarnya mencoba untuk menjembatani dua aliran yang sejak lama hidup sendiri-sendiri. Menurut Mulyadhi Kartanegara akal, indera, dan hati harus saling berdialektika untuk menemukan pengetahuan.

Dian dalam 30 puisi ini mencoba mentransformasikan pengalaman rohani (mistik) dan pengalaman keseharian dalam bentuk puisi yang begitu dalam. Saya melihat puisi-puisi dalam buku ini merupakan sebuah transformasi keseharian penyairnya dalam menapaki dan melihat kehidupan. Lihat misalnya dalam puisi Analog: dalam hatimu, siapakah aku…/ di dalam hatimu, menjelma apakah aku…/ di dalam hatimu, adakah keresahan tentang aku…./ di dalam hatimu, abadikah aku? Pertanyaan eksistensial seperti ini menandakan bahwa makna itu tidak lahir begitu saja, akan tetapi kebermaknaan itu lahir setelah adanya proses pembacaan terhadap diri, rasa cemas, rasa sedih untuk kemudian direnungkan.

Pengalaman sebagai realitas yang menjangkiti keseharian Dian akan selamanya menjadi sejarah Dian, maka pengalaman yang seperti apa yang kemudian membuat Dian harus menjadikan puisi sebagai terapi? Tentu pengalaman ini yang membuat dirinya harus terus berlaju, memunguti nilai-nilai universal dari sebuah perjalan rohani yang selama ini Dian rasakan. Perjalanan rohani inilah yang akan dijawab oleh mistiko sebagai instrumen. Hanya dunia rasalah yang akan mampu menyelami pengalaman rohani Dian. Sebab kalau kita tidak menggunakan tangan mistiko untuk masuk dalam perkampungan rohani yang Dian alami, maka 30 puisi ini tidak akan memiliki hubungan apa-apa dengan pembaca. Untuk itulah membaca puisi ini kita harus memasukkan dua metode antara akal dan hati atau dalam dunia filsafat harus menggunakan rasionalitas dan intuisi. Karena adanya hubungan keduanya inilah 30 puisi Dian akan mudah dipahami makna dan kedahsyatannya.

Bagaimana Dian /menanam rambut di belakang rumah/ maksudnya apa menanam rambut? Lalu menumbuhkan mawar berwarna ungu/ kita diajak memasuki pengalaman masa lalu dan masa lalu itulah yang membuat Dian harus berganti wajah, berganti gaya hidup, sehingga masa lalu adalah batu-batu kehidupan yang harus dipoles dipercantik menjadi keberlanjutan hidup yang lebih progresif menatap masa depan yang lebih bermakna untuk dirinya sendiri dan orang lain. Untuk itulah /Dari sebuah semadi, aku menajamkan panca indera/ meragas kata-kata/ meniup matahari menjadi nyala sebelah/ dan ujung-ujung rambutku terbakar/sedikit demi sedikit/ sulur-sulur yang membelit tubuh berlepasan/.

Dari ruang semadi, Dian menemukan pengalaman yang kemudian membuat dirinya harus membakar rambutnya, membakar dirinya sendiri, membakar batu-batu kehidupannya sendiri. Untuk apa harus membakar semua itu? Kalau kita membaca puisi Dian menjawab untuk memindahkan laut ke rumah, agar keseharian Dian selalu bergemuruh (hlm. 31), dan membawa buku dan kenangan. Bagi Dian kegemuruhan inilah yang akan membuat dirinya menjadi ratu bagi dirinya sendiri (hlm. 30) bagaimana menjadi ratu untuk dirinya sendiri? Kita harus membuka mata melihat cahaya berkedipan/ mencari pintu, jalan keluar yang tak juga terbuka.

/Membuka mata melihat cahaya berkedipan/ kalimat ini ingin menggambarkan bahwa dalam hidup kita harus tetap membuka mata, membuka cakrawala pembacaan, membuka pikiran, dan di sinilah kemudian kita akan selalu terbuka terhadap pemahaman-pemahaman orang lain. Dengan memiliki inklusivitas, maka kita tidak mudah menjustifikasi seseorang, kemudian orang itu salah, tidak. Dian mengajak kita untuk selalu menjadi orang inklusif terhadap keberagaman dan keberagamaan. Untuk apa kita harus membuka mata, ingat membuka bukan saja membuka pintu rumah, akan tetapi membuka di sini memiliki makna bahwa kita harus memiliki banyak pintu untuk masuk dalam dunia yang satu, satu semesta banyak pintu. Lalu mata, kita diajak untuk membuka mata hati, mata pikiran, dalam membaca realitas, membaca pengalaman, dan membaca masa lalu. Kita tidak boleh menutup mata, kita tidak boleh menutup hati dan pikiran kita jika belum menemukan cahaya. Cahaya di sini adalah pengetahuan sejati, pengetahuan yang melampuai ruang dan waktu.

Dalam hidup boleh kita menikam kata-kata/ melumatkan segala yang bernyawa/ dan mengupat diam-diam/ tapi setelah kita menikam, mengumpat, jangan lupa bahwa di balik fenomena itu ada cinta ibu tersimpan di sana/ ia akan tumbuh dan terus menumbuh/ lagi-lagi progresivitas Dian terus tumbuh dari pembacaan dan kekritisannya dalam melihat dan berdialog dengan dirinya, masih pada hari yang sama/ masih memikirkan si penggenggam kenangan/ diam-diam aku menyimpan air mata/ untuk hari esok/ yang mungkin ada. Sesekali memang air mata itu penting, baik untuk wanita maupun laki-laki, tapi air mata di sini bukanlah air mata yang jatuh karena kehilangan pacar, akan tetapi air mata di sini sebagai terapi jiwa. Sebab air mata yang keluar dari mata Dian merupakan ungkapan kepasrahan yang sangat ikhlas kepada Tuhan, maka dari itu Dian berkata bahwa baik-baiklah dalam perjalanan panjang/ akan aku urai doa-doa/ memenuhi penjuru langit.

Memaknai hidup yang penuh dengan doa merupakan sosok manusia yang rendah hati, tawadu’, sebab manusia yang tidak pernah berdoa, dia akan dianggap sombong, maka dari itu, Dian tetap berjalan di sajadah keyakinannya bahwa kita sebenarnya berjalan di atas sajadah doa-doa. Doa dari orangtua, doa dari sahabat, doa dari ulama.***

Sajak

Sayembara

Warta