TERKINI

Objek Hasrat, Persaingan, dan Kekerasan di Arena Pacuan - Ilham Rabbani

KONTRIBUTOR 2/05/2023

Objek Hasrat, Persaingan, dan Kekerasan di Arena Pacuan

Ilham Rabbani

 


Teks sastra membentangkan pada kita fakta-fakta cerita (tokoh, alur, latar) dan sejumlah sarana sastra (judul, sudut pandang, gaya dan nada, simbolisme, ironi). Makin tinggi tingkat mimetisme (realis) karya itu dengan kenyataan atau dunia yang kita tempati (actual world)–khusus dalam pembicaraan ini adalah prosa, baik cerita pendek maupun novel–maka makin mudah bagi pembaca untuk dapat sekadar berselancar, mencoba terlibat, memetik maksud, pelajaran, kritikan, dan seterusnya dari apa yang dinarasikan sang pengarang di dalam tubuh karya.

Dalam bentang alur, spesifiknya adalah konflik, pengarang mesti membentangkan baik konflik fisik maupun konflik batin yang dialami para tokoh bikinan mereka. Konflik fisik membawa kita pada benturan antartokoh yang menimbulkan kekerasan, saling tindas, dan rupa-rupa perseteruan lainnya, sementara konflik batin menyeret kita pada pergulatan personal (seorang) tokoh dengan dirinya sendiri–keduanya meminta perhatian dan keterlibatan kita dalam tingkat yang berbeda, dan pencelupan lebih dalam plus masyuk bakal dimungkinkan andai sang pengarang punya bekal kematangan teknik.

Terkadang, sebuah cerita pendek dapat membawa kita pada tumpukan konflik, yang diakibatkan s(u)atu objek hasrat (object of desire), dan persaingan (competition)–bahkan kekerasan (violence)–tidak terhindarkan akibat keinginan yang kuat terhadap objek tersebut. Hasrat memiliki itu bahkan makin diperkuat oleh dorongan-dorongan lain yang muncul dari aspek eksternal sang tokoh, atau katakanlah bukan semata-mata kondisi kepengin memiliki, melainkan objek hasrat itu bisa dimanfaatkan untuk keperluan ekonomi, politik, pendongkrak status sosial, dan seterusnya dari sang tokoh terkait.

Persaingan sengit untuk memperebutkan objek hasrat–yang berakibat pada tumpukan konflik antartokoh–bisa kita lihat dalam kasus cerpen “Pacuan Kuda” karya Robbyan Abel Ramdhon yang dimuat laman Sastramedia.com edisi 3 Juli 2022 silam.(1) Cerpen tersebut berkisah tentang sandiwara penodongan revolver–yang kemudian bertransformasi menjadi adegan sungguhan–antara Elizabeth kecil dengan Benito, si wasit pacuan kuda, di tengah kericuhan para penjudi akibat dugaan kecurangan/kongkalikong yang dilakukan oleh tokoh Bandar, si Borjuis, dan Mafia bersenjata. Di akhir: Ayah Elizabeth (seorang polisi yang turut bertaruh) terkapar menjadi korban tembakan sang Mafia; Elizabeth sendiri mengalami cedera mata akibat bola golf yang dipukul meleset oleh si Borjuis; Benito tertunduk menangis dalam penyesalan lantaran kebodohannya; dan kuda-kuda berupaya ditenangkan tokoh Bandar karena satu di antara mereka sempat dilumpuhkan tembakan ancaman Benito dalam sandiwara(-sungguhan)-nya.

Uang taruhan, secara nyata menjadi objek hasrat dalam cerita ini. Di luar hasrat para tokoh, kita dapat mencermati konteks krisis ekonomi negara-negara di dunia seperti Inggris, Jerman, atau Amerika pasca-Perang Dunia I sebagai penyebab adanya persaingan sengit dalam memperebutkan uang, baik untuk keperluan individu maupun kelompok masing-masing. Nama-nama tokoh seperti Elizabeth atau Benito, serta atribut-atribut yang dikenakan oleh mereka di dalam cerita (topi berbulu, top hat, atau sebagainya), menjadi penanda penguat bahwa cerpen ini berlatar di Barat–atau setidaknya di negara yang dipengaruhi negara-negara itu.

 

Triangular Desire: Posisi Kaum Borjuis, Uang Taruhan, dan Para Penjudi + Benito

Jika merujuk kepada pemikiran Rene Girard mengenai hasrat segitiga (triangular desire), di dalam cerpen, kita dapat melihat: pertama, posisi model/mediator diisi oleh tokoh Borjuis, juga orang kaya lainnya yang non-eksis dalam narasi; kedua, objek hasrat dalam wujud uang taruhan, yang mewakili hal-hal/benda-benda lain yang dapat dijangkau menggunakannya; dan ketiga, Benito selaku wasit pacuan bersama para penjudi lainnya (Mafia, Borjuis, Ayah Elizabeth, pria gondrong dengan kuping topi menjuntai) adalah subjek-subjek yang berkompetisi demi mendapatkan objek hasrat. Adapun di luar itu, dan takkan saya ulik lebih jauh: Elizabeth menghasratkan objek berupa pistol revolver yang dimiliki Benito, yang mediatornya adalah koboi-koboi dalam film yang ia saksikan.

Tentang terma-terma itu, dalam bukunya yang berjudul Deceit, Desire and the Novel (1965), Girard menerangkan bahwasanya hasrat manusia tak pernah autentik bersumber dari dalam diri sendiri. Hasrat tak pernah muncul secara spontan lantaran subjek tak selalu mengetahui hal-hal (objek) yang ia inginkan–manusia terjebak dalam pertanyaan, “Apa yang sesungguhnya ia sendiri inginkan?” Keinginan dan hasrat subjek cenderung merupakan hasil dari proses imitasi, meniru, serta mereplikasi hasrat subjek lain–hasrat subjek adalah hasrat dari lingkungan sekitar atau yang berada di luar dirinya, yang lantas diperantarai oleh model atau mediator. Model dalam konsep Girard adalah sosok yang menjadi mediator antara hasrat mimetik subjek dengan objek yang dihasratkan.

Analisis teori mimetik Girard ini sebenarnya berangkat dari pembacaannya atas tokoh-tokoh dalam karya para pengarang besar Eropa, seperti Cervantes, Stendhal, Flaubert, Proust, dan Dostoievsky. Sebagai misal, pada bagian-bagian awal Deceit, Desire and the Novel, mengerucut lagi sub pertama “‘Triangular’ Desire”, Girard dengan gamblang menyatakan,

 

Don Quixote has surrendered to Amadis the individual's fundamental prerogative: he no longer chooses the objects of his own desire–Amadis must choose for him. The disciple pursues objects which are determined for him, or at least seem to be determined for him, by the model of all chivalry. We shall call this model the mediator of desire. Chivalric existence is the imitation of Amadis in the same sense that the Christian's existence is the imitation of Christ. (hlm. 1-2)

 

Hanya saja, Girard juga melihat bahwa kecenderungan yang muncul dari (tokoh-tokoh) karya yang ia amati, tidak hanya terjadi pada karakter dalam novel, melainkan pula dapat ditemukan dalam realitas sehari-hari–namun banyak yang tak langsung menyadarinya.

Mengenai kelindan antara tokoh-tokoh novel dengan manusia dalam realitas itu, barangkali kita pun mafhum, karena memang seperti disampaikan Robert Stanton dalam An Introduction to Fiction (1965), alasan karakter/tokoh untuk bertindak selalu digiring motivasi, dan “motivasi dasar” adalah suatu aspek umum dari satu karakter/tokoh, atau dengan kata lain hasrat dan maksudlah yang memandu sang karakter/tokoh dalam melewati keseluruhan cerita. Dalam realitas, manusia pun dalam serentang alur hidupnya digiring ambisi, hasrat, dan sejumlah “lack” yang menurutnya mesti dipenuhi.

Chaos mulai menyembul–sebagai konflik–dalam cerpen akibat dugaan kecurangan yang dilakukan oleh tokoh Bandar: ia dicurigai para penjudi lainnya, termasuk Ayah Elizabeth, telah berpihak pada si Borjuis dan Mafia bersenjata. Kita melihat persaingan atau kompetisi di titik ini, yakni ketika sejumlah subjek berhasrat dengan teramat pada objek yang sama: uang taruhan. Konflik itu diperparah dengan adanya sandiwara penodongan–yang sebenarnya sungguhan–antara Elizabeth dan Benito, di mana Benito rupanya turut pula menghasratkan objek yang sama.

Tokoh Benito terang-terangan mengakui membutuhkan, menginginkan, menghasratkan uang, karena ia merasa dirinyalah yang lebih membutuhkan objek itu ketimbang para penjudi dan yang lainnya. Benito lelah dengan kemiskinan dan olokan terhadap kecacatan fisiknya–kaki kirinya diamputasi dan diganti besi berbentuk jangkar; ia ingin pergi ke pulau lain yang lebih indah, mewah, dan tenang (mirip surga), tempat yang nihil suara rengekan kuda, letusan pistol, atau mesin pesawat tempur.

 

Jarak Spiritual, Persaingan, dan Letusan Kekerasan

Hasrat manusia, sebagaimana tokoh-tokoh dalam cerpen “Pacuan Kuda” terhadap uang taruhan, dapat menimbulkan rivalitas serta memicu adanya konflik ketika imitasi tersebut terjadi dalam relasi yang–oleh Girard disebut–memiliki “jarak spiritual” berdekatan. Sebaliknya, jika subjek tidak dapat menjangkau mediator karena jauhnya jarak spiritual, maka potensi rivalitas sangat minim bakal terjadi. Tidak adanya rivalitas antara subjek dan mediator bukan karena triangular desire melemah, melainkan karena jarak antarkeduanya sangat jauh. Menurut Sindhunata dalam bukunya, Kambing Hitam: Teori René Girard (2007), jarak tersebut bukan semata-mata jarak dalam wujud fisikal atau spasial, melainkan jarak spiritual, yakni perbedaan kelas sosial semacam derajat atau pangkat (hlm. 25).

Tokoh Borjuis adalah seserpih representasi dari kelompok kaya yang berupaya “digapai” atau diimitasi oleh kelompok-kelompok lain dalam cerpen. Sekali lagi, Borjuis menjadi mediator atau model bagi Benito dan penjudi, sebab aktor-aktor sekalangan Borjuis identik dengan kepemilikan atas atas (objek) kuasa dan (objek) harta, dan dengan itu mereka bisa menggapai aktivitas-aktivitas dan objek-objek sebagaimana dihasratkan Benito: pulau indah yang terpisah, seks, kekayaan, dan seterusnya. Yang ironis, andai kita rasionalkan, sang Borjuis barangkali telah punya banyak harta, namun justru masih turut terlibat dalam kompetisi memperebutkan segepok uang taruhan–namun, mungkin ini pulalah kekejaman dan absurdnya imbas dari Perang Dunia I.

Sejatinya, kita melihat jarak spiritual yang cukup jauh antara tokoh Borjuis dan para penjudi plus Benito dalam cerpen. Yang jarak spiritualnya berdekatan adalah tokoh-tokoh di dalam arena perjudian itu sendiri: Bandar, Mafia, pria gondrong, Ayah Elizabeth yang sebenarnya berprofesi polisi, ditambah kehadiran Benito sendiri. Hanya saja, kita mendapati bahwa jarak spiritual menjadi makin rapat lantaran faktor ruang, di mana berbagai kelompok strata sosial membaur dalam satu lokasi spesifik yang bernama “arena pacuan kuda”. Oleh sebab itulah, di samping cara pandang Girard terhadap jarak spiritual yang baginya andai terpaut jauh dapat meminimalisasi konflik, saya justru melihat bahwa konflik pula potensial terjadi–meskipun jarak spiritual berjauhan–lantaran sejumlah pengaruh lain, dan kita melihat eksisnya musabab ruang spasial di dalam kasus cerpen ini. Faktor ruang spesifik ini pulalah yang mengakibatkan instrumen kekerasan dalam konteks rivalitas menjadi tiada terhindarkan: Benito mengancam Elizabeth dan menembak kuda pacuan; bola golf tokoh Borjuis meleset dan mencederai mata kanan Elizabeth; Ayah Elizabeth meninju hidung Borjuis, dan berniat menembaknya; dan pemungkasnya adalah revolver Mafia terlebih dahulu melubangi dada kiri Ayah Elizabeth sebagai wujud perlindungannya terhadap sang rekan bisnis.

***

Sebagaimana dua sisi mata uang, hasrat mimesis atau imitasi sejatinya mengandung dua unsur sekaligus: negatif dan positif. Persaingan karena hasrat imitasi memang menimbulkan kekerasan, tetapi juga bisa melahirkan perdamaian. Rivalitas dan kekerasan muncul lantaran penghasratan atas objek yang sama, lebih-lebih dengan hasrat yang teramat, selayaknya yang kita temui dalam cerpen. Konflik tetap diperlukan dalam dinamika mimesis. Girard menambahkan bahwa hasrat mimetika manusia tidak akan berujung pada kekerasan andai subjek-subjek berkenan berbagi objek. Permasalahan muncul ketika subjek menghasratkan satu objek yang sama. Hal ini, mau tak mau mesti mengakibatkan subjek saling bersaing untuk menggapai objek; saling berupaya dan bergerak untuk menggapai posisi sebagai model dan mediator.

Masalahnya, pertanyaan yang muncul jika kita bertolak dari marutnya kondisi dalam cerpen “Pacuan Kuda” ialah, “Apakah kejernihan pikiran untuk berbagi objek (uang taruhan) bakal dimungkinkan di tengah kondisi sedemikian absurd sebagai imbas dari Perang Dunia I?” Bagi saya, ini adalah pertanyaan yang membutuhkan penyelisikan lebih jauh dan komprehensif, dengan melibatkan elemen-elemen historis dari konteks atau latar kejadian cerpen.

Dari pertanyaan itu pula, kita dapat bertolak lagi ke konteks yang lain, ke konteks yang barangkali lebih terkini. Max Scheller pernah menerangkan tentang fenomena kedengkian yang menyelimuti masyarakat kita pada zaman modern ini, yang ia sebut sebagai “resentiment”. Stendhal sendiri, melalui The Memoirs of a Tourist (1985), juga pernah menyebutkan bahwa dengki dan iri hati merupakan emosi-emosi yang melanda masyarakat modern. Emosi-emosi demikian dihasilkan dari apa yang Stendhal sebut sebagai “vanity”, yakni suatu kesia-siaan dan kekosongan karena manusia saling tiru-meniru, saling mengagumi dan mengidolakan sesuatu secara berlebihan.(2)

Dan kita, mungkin sama seperti tokoh-tokoh dalam cerpen “Pacuan Kuda” karya Robbyan Abel Ramdhon: jika mereka bersaing di tempat spesifik bernama “arena pacuan kuda”, dan luput menyadari model yang mereka tiru dan hasratkan–yang tak lain adalah Borjuis dan orang-orang sekalangannya lagi yang non-eksis dalam narasi; kita di luar konteks cerita barangkali bukan hanya tak sadar bahwa tengah menghasratkan imitasi atas model atau mediator tertentu, melainkan lantaran semenjak dini telah dihegemoni untuk lihai dalam berkompetisi, maka aktivitas kompetisi pun telah menubuh dengan kita, tiada disadari, dan mengarah pada tindakan penghalalan berbagai metode, asalkan nantinya kemenangan bakal berpihak pada kita. Realitas kita, dengan realitas dalam konteks cerpen, akhirnya kita dapati tak kalah absurd dari itu–imbas Perang Dunia I, lebih-kurang serupa dengan imbas perang kita yang tanpa peluru.

Terakhir, yang pula penting saya sitir kiranya, kata Wolfgang Palaver, yang kemudian dikutip oleh Nicolaus Yudi Ardhana dalam jurnalnya yang berjudul “Telaah Atas Fenomena Mimetika Kekerasan di Ruang Maya dalam Terang Pemikiran Rene Girard” (Melintas, 2020), teori mimetika atau triangular desire dari Girard menggambarkan manusia sebagai makhluk sosial yang amat bergantung kepada relasi dengan orang lain. Eksistensi orang lain diperlukan sebagai wahana yang memproduksi hasrat seseorang. Tidak ada manusia yang secara intrinsik lengkap. Ide bahwa manusia merupakan subjek yang otonom, yang berkuasa atas kehendaknya sendiri, bagi Girard semata merupakan kondisi “romantic lie”.


Note:

(1) Ramdhon, Robbyan Abel. 2022. “Pacuan Kuda”. Sastramedia.com, https://www.sastramedia.com/2022/07/pacuan-kuda-robbyan-abel-ramdhon.html

(2) Pernyataan dari Scheller dan Stendhal ini dapat dilihat juga di dalam buku Kambing Hitam (2007) karya Sindhunata, hlm. 28-30.

Bau Surga - Efen Nurfiana

KONTRIBUTOR 2/05/2023
Efen Nurfiana 
BAU SURGA




bau surga, apakah seperti puting susuku, sayang?
yang senantiasa menerima rebah kepala
dan tangisan anak-anak kita
bukankah Tuhan yang memberinya ada?
tanpa daya melawan dan mengangkat suara

punggungku, tikungan tajam
yang menewaskan kerinduanmu
menyimpan seluruh kesaksian

sayang! sayang!
yang kurasa itu adalah kau
turun-tergerai di atas kemiskinan
kau kah itu yang berbau surga?
di titik lidahku gemetar meregang suara

di akhir hari!
pelan-pelan kudengar seorang alim
mengirim adzan terakhir
ke alamat, di mana kau patahkan seluruh napsu
terhadap diriku

2022

Budak - Efen Nurfiana

KONTRIBUTOR 2/05/2023
Efen Nurfiana 
BUDAK




perutku berisi jerami
mesin-mesin yang berulangkali mengunyahnya
mogok dan bungkam

kandi-kandi diangkat becak
jalan raya menindas tubuhku
ini inflasi kemakmuran!
mulut penuh jarak tempuh
idealisme kelaparan, rakyat dituntut tidur siang

modar! modar! Gusti!

ketika leherku dicekik jabatan semena-mena
ia perah susu-keringatku
aku ditikam ancaman
masuk bui atau hilang perawan?

modar! modar! Gusti!

panen tak berani menentukan harga
aku tetap tahanan sukarela
yang dicicipi kesadaran dan kekuasaan kapan saja

2022

Cincin Nongae - Christya Dewi Eka

KONTRIBUTOR 2/05/2023

CINCIN NONGAE

Christya Dewi Eka




 

“Kakak butuh selimutkah?”

Kakak, katanya. Entah, lima belas atau enam belas atau tujuh belas tahun lalu aku terbiasa dipanggil ‘Kakak’. Waktu itu, aku salah satu Kakak populer di kelas bangunan.

“Termasuk fasilitas atau saya harus tambah biaya?”

Tentu aku paham ke mana arah tawarannya.

“Tambah sedikitlah, Kakak. Hitung-hitung buat bonus kami.”

“Boleh. Terlalu dingin di sini. Saya butuh selimut. Satu saja.”

“Tipis atau tebal, Kakak?”

“Aih, tentu saja tipis. Kau kira aku apakah?”

Selimut tebal? Mana mau aku dengan cowok melambai yang bulu kakinya kelihatan habis dicukur? Aku masih normal, hah!

Si pelayan tersenyum simpul, “Ada tambahan pesanan khusus, Kakak?”

“Yang lokal saja. Dari daerah sekitar sini,” kataku setelah berpikir sejenak, “oya, sekalian bawakan latte.”

Pelayan itu berbalik melaksanakan perintah. Membawa selimut. Tentu saja, setelah aku memberinya sedikit uang jajan, agar hatinya lebih ikhlas bekerja.

Dia datang. Yaaa sekitar setengah jam setelahnya. Bukan pelayan hotel, tetapi si selimut tipis. Kulitnya kopi susu. Khas daerah sini. Ah, aku memang maniak latte dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Termasuk juga si selimut tipis berkulit latte.

“Silakan, Nona. Santai saja. Tak usah sungkan.”

“Baik, Pak. Eh,” katanya meralat, “tidak keberatan, bukan. Atau yang lain?”

Dia sesantai kucing-kucing di gang belakang hotel. Bisa tidur nyenyak di sela-sela tumpukan karung dan kardus, meski kanan-kirinya berisik oleh suara siang hari.

“Bapak. Tanpa nama. Tanpa asal. Tanpa pekerjaan. Tanpa jabatan. Tanpa pertanyaan. Paham?”

Dia setenang rumput kaku di samping hotel. Hanya bergoyang sedikit meskipun angin kencang.

“Duduklah dulu. Kau suka latte?”

Aku bergeser sedikit ke sandaran sofa.

“Suka, Pak. Saya suka yang Bapak suka.”

Secangkir latte di depannya. Secangkir lagi di depanku. Harum latte dan uap hangat membuat malam serasa lebih baik. Kamar ini, daerah ini, begitu menyebalkan. Tidak ada gairah hidup. Aku perlu pemecah suasana agar besok lebih berkobar.

“Berapa umurmu? Kelihatannya kau tidak lagi muda. Terlalu tua untuk pekerjaan ini.”

“Hihihi, betul, Pak. Umur saya hampir tiga puluh. Belum benar-benar tua, sebenarnya. Saya lebih berpengalaman dibanding anak belasan tahun.”

Duh, tawanya, aksen lokalnya, membuat aku lupa kebosananku dua jam lalu.

“Penasaran. Sebanyak apa pengalamanmu dibanding pengalamanku?”

“Ah, jangan begitulah, Pak. Dibanding Bapak, saya adalah semut di tengah laut. Saya belum pernah keluar pulau.”

Lantas meluncurlah berbagai kisah indah tentang tanah lahirnya, tentang hutan yang menyuplai beberapa persen oksigen dunia, tentang laut yang berisi berbagai makhluk langka yang tidak pernah ada di tempat lain, tentang legenda terjadinya pulau, tentang dewa-dewi penjaga alam.

Aku mengajaknya menuju teras kamar. Kebetulan di lantai tiga. Mungkin sekitar lima belas meter dari atas tanah. Di luar sana gelap. Kota ini tidak begitu padat. Lampu-lampu rumah bagaikan kerlip di lautan gulita.

“Siapa namamu? Sedari tadi kita berbincang tanpa saling menyebut nama. Janggal, kan?”

Dia tertawa.

“Saya terbiasa tidak dipandang, tidak dipanggil nama. Tak masalah. Barangkali, lebih baik nama saya terkubur.”

“Saya ingin tahu namamu.”

Dia kembali tertawa ringan.

“Panggil saja Nongae.”

“Nama lahir?”

“Lupa.”

Matanya menerawang ke luar. Entah timur atau barat atau utara atau selatan. Di sini aku buta arah. Tidak ada gedung besar sebagai patokan.

Sepertinya dia mencari sesuatu. Atau mendengar sesuatu. Panggilan? Sekilas ada garis misteri pada wajahnya. Cantik, tapi seolah dari kedalaman bumi.

“Berceritalah hingga waktu habis. Aku ingin mendengar. Malas bicara. Kau kubayar untuk itu.”

Gawai di atas sofa bergetar halus. Aku enggan melihat. Paling-paling hanya konfirmasi apa aku mengerti instruksi –benar-benar mengerti—pembongkaran hutan besok pagi, dipastikan tidak salah titik, dipastikan tidak memicu konflik adat, dipastikan tidak memakan korban lagi –seperti tahun lalu—, dipastikan tidak ada pembengkakan anggaran proyek, dan segala tetek-bengek yang membuatku mual. Kebiasaan aneh: selalu mual di awal proyek.

Dia berpikir cukup keras. Berusaha mencari cerita yang menarik hatiku supaya aku puas dengan pelayanannya, dan dia memperoleh tarif agak besar bila pekerjaannya selesai.

“Hmmm, ceritakan asal-usul nama Nongae,” pancingku.

“Nanti Bapak bosan. Cerita itu tidak menarik. Hanya cerita lama yang sebentar lagi hilang.”

“Aku mau mendengar.”

Dia menggigit bibir bawahnya sendiri. Sepertinya, berusaha menahan ledakan perasaan yang muncul tiba-tiba. Kata Nongae, seolah-olah sebagai kotak berdebu di sudut memori. Agar lebih rileks, aku mencoba mengalihkan pertanyaan.

“Kau tahu, pintu kota ini mulai terbuka? Sebentar lagi, hanya beberapa bulan lagi, jalan-jalan mulus akan menembus hutan dan gunung. Barang-barang, makanan, hiburan, apa pun, memberondong masuk. Semua menarik dan mutakhir.”

“Tentu tahu, Pak. Setiap orang dewasa di sini tahu. Banyak perbincangan tentangnya. Semuanya tidak menyenangkan. Kami akan digerogoti, dikeruk, diperah habis-habisan.”

 Glek!

“Kenapa menyimpulkan begitu?”

“Di sini, uang tidak terlalu berarti. Tanpa membeli, kami bisa hidup. Alam sudah memberi segala.”

“Kau kekanak-kanakan. Zaman sudah berganti wajah. Tanpa uang, bagaimana bisa hidup? Banyak benda yang tidak bisa diambil dari alam. Komputer, gawai, mobil, dan banyak lagi!”

Naif. Seperti Nay kekanak-kanakan. Eh, Nay?

“Ah, kami bisa hidup tanpa itu. Sebaliknya, Pak, banyak benda yang tidak bisa dibeli uang. Udara bersih, nyanyian laut, pelukan hutan,” tukasnya halus.

Lembut tapi tegas. Melempar aku pada kenangan yang tidak ingin kuingat: Nay, cinta pertamaku yang gagal.

Masih beberapa jam menjelang fajar. Si selimut tipisku masih utuh seperti awal dia datang. Belum kujamah. Tidak mood!

“Ada gula, ada semut. Orang-orang kota datang ke tempat terpencil ini bukan karena bermurah hati memberi kami kebaikan. Burung langit dan ombak petang pernah bercerita tentang tamu asing yang membawa racun dalam madu.”

“Maksudnya?”

“Contohnya, adik saya. Beberapa tahun lalu, kami kedatangan orang penting. Papa, begitu panggilannya. Mengundang pemuda-pemudi di sini bekerja. Tentu saja, ada iming-iming gaji besar. Banyak yang tertarik. Termasuk adik, saudara, dan teman saya. Papa sangat akrab dengan adik. Suatu ketika, sebelum adik berangkat bekerja ke luar negeri, perut adik membesar. Hamil. Tidak jelas pelakunya. Adik ketakutan. Dia hanya bercerita rahasia kepada saya.”

“Pelakunya Papa?” dugaku mencoba menyambungkan awal-akhir cerita.

“Betul. Saya diminta bersumpah supaya tidak membuka kebenarannya. Orang tua saya tentu marah besar. Adik dipukuli Bapak agar mau mengaku. Dia diam. Dan menangis berhari-hari, hingga –kadang—agak sulit bernapas. Tidak mau makan dan minum. Badannya melemah.

Saya takut kalau adik mati. Akhirnya, saya terpaksa melanggar sumpah. Saya cerita kepada Bapak bahwa pelakunya Papa. Sambil marah-marah, setengah percaya, Bapak melapor kepada ketua adat.

Saya dibacakan mantra-mantra supaya bercerita jujur dari alam bawah sadar. Baru setelah itu Bapak dan ketua percaya. Saya tidak bohong. Adik juga tidak bohong. Bapak meminta pertanggungjawaban kepada Papa. Papa tidak marah. Tidak menyangkal. Juga tidak membenarkan. Dia hanya memberi uang. Sumbangan persiapan persalinan, katanya. Bantuan untuk calon tenaga kerja perempuan, katanya.”

Dia menghela napas sejenak. Mengetukkan kuku merahnya pada pagar teras. Aku memutuskan tidak menyela ceritanya. 

“Bapak saya tersinggung. Siapa butuh uang? Kami butuh kejujuran, butuh kebenaran, butuh pertanggungjawaban. Kasihan adik. Ia digunjing teman-temannya. Padahal adik saya adalah bintang pelajar, selalu rangking satu di sekolah. Andai Bapak rela, adik sudah menjadi mahasiswa di ibu kota. Lalu Bapak melapor kepada polisi.

Polisi hanya tersenyum, mencatat sesuatu, lalu menyuruh kami pulang. Iya, begitu kata polisi. Tunggu diproses, katanya lagi. Sesuai perintah, kami menunggu dengan sabar. Sabar. Bayi adik kemudian lahir. Polisi masih saja menyuruh sabar. Bapak lihat ini?”

Nongae memamerkan kesepuluh jari tangannya. Semua bercincin. Bukan emas. Seperti kayu. Entah. Mungkin bahan lokal yang masih asing bagiku.

“Itu adat sini, bukan?”

Dia tertawa, menutup mulutnya dengan sebelah tangan, kemudian menggeleng.

“Inilah awal mula nama Nongae. Saya meniru Nongae. Sepuluh cincin ini kelak saya lekatkan di leher Papa di ujung usianya.”

“Ma... mau apakah?”

“Masak Bapak tidak bisa menebak? Hihihi... Dulu, dulu sekali, konon kabarnya, ketika Korea diserang tentara Jepang, hiduplah Nongae, seorang perempuan terpelajar. Suaminya bunuh diri karena mempertanggungjawabkan kekalahan pasukan Korea. Balas dendam direncanakan. Nongae menjadi perempuan penghibur. Lantas, Nongae memeluk erat jendral Jepang dan menenggelamkannya ke sungai. Ini, Pak,” katanya lagi-lagi merentangkan sepuluh jarinya, “ini sepuluh cincin yang menahan agar pelukan Nongae tidak terlepas.”

“Kau mau seperti Nongae? Papa yang kau incar? Sayang sekali kalau wajah cantikmu dipenuhi dendam.”

Apa sebaiknya aku membelokkan pembicaraan?

“Kau mau...”

Aku bergidik.

“Apa tidak ada jalan musyawarah? Kekeluargaan?”

“Papa menutup pintu. Sudah berpindah ke kota lain. Adik saya tewas karena depresi. Bayinya pun lemah. Orang tua saya bergantian menjaganya. Warga kampung belum ada yang dipekerjakan sesuai janji. Polisi-polisi itu, mendapat hadiah besar dari Papa, sehingga tidak menanggapi laporan Bapak saya.”

Nongae perlahan meninggalkan teras. Sayup-sayup terdengar suara ayam jago.

“Sebentar lagi fajar. Apa kita cukup hanya berbincang, Pak? Atau saya harus melakukan sesuatu?”

Aku mendahului langkahnya, menuju ke dalam kamar. Sedikit membayangkan sepuluh cincin di jari lentik itu mencekik leherku. Apa aku langsung mati? Atau kejang-kejang dulu? Atau bertahan? Ihhh…

Aku bukan Papa. Aku hanyalah satu di antara sekian banyak papa yang berkeliaran di dunia.

“Cukup begini Nongae. Tugasmu hanyalah menghabiskan latte ini. Selesai! Ingat, saya ini tanpa nama. Tanpa asal. Tanpa pekerjaan. Tanpa jabatan. Tanpa pertanyaan. Bisa dipahami?”

“Baik, Pak. Sesuai pesan Bapak.”

Secangkir latte lesap ke dalam mulutnya. Kesekian kalinya, dia iseng mengetukkan kuku pada bibir cangkir kosong.

Baru saja punggung Nongae lenyap di balik pintu, ketika aku hendak meluruskan punggung barang satu atau dua jam sebelum berangkat meninjau lokasi proyek, aku sadar ada sesuatu yang tertinggal.

Sepuluh cincin bermata dan bermulut! Tergeletak begitu saja di atas lipatan selimut. Sepuluh cincin yang berisik bertanya tentang Papa. Sepuluh cincin yang melingkari sepuluh jari lentik berkuku merah.

“Di mana Papa?” kata sebuah cincin.

“Tolong carikan Papa. Kumohon,” pinta cincin lain.

Aku kaku. Tidak tahu harus menjawab bagaimana. Sebelah tangan itu melompat dari selimut, bergerak ke arahku, dan menarik tanganku. Sebelah tangan lainnya masih mengetukkan jarinya di atas selimut.

“Apakah engkau kenal Papa?” tanya cincin lainnya.

“Aku rasa dia adalah Papa,” jawab cincin lainnya lagi.

Bukan! Bukan! Aku bukan Papa! Suaraku hanya bergema dalam pikiran. Bagaimana cara lepas dari tangan ini? Dari suara ini? Apakah ini isyarat agar aku membantu Nongae?

Suara ketukan kuku Nongae semalam ketika minum latte bercampur suara ketukan kali ini di atas lantai marmer. Kudukku bergetar. Otakku berpikir keras mencari solusi.

Tolong hentikan! Barangkali aku bisa membantu mencari Papa dan meminta keadilan bagi adikmu. Besok akan kukenalkan pada kawan-kawanku penegak hukum dan lembaga perlindungan perempuan. Tanpa uang! Pasti ada keadilan bagi adikmu!

Tentu saja hanya suara hati. Aku ketakutan, memandang garis-garis motif retak pada lantai, berjaga-jaga agar tangan itu tidak mencelakakanku. Aku jangan dicekik!

Besok, Nongae! Aku janji. Beri aku waktu.    

Nona, satu-satunya alasan aku membenci perempuan, karena mereka kelihatan lemah, namun kuat dalam segala hal.

Mahli - Ilham Wahyudi

KONTRIBUTOR 1/29/2023

M a h l i

Ilham Wahyudi





“Iya, Tuan.”

Semenjak Tuan Boka menemukannya (kira-kira usianya satu bulan) dan berlanjut pada fase ia mulai belajar bicara serta mengenal kata, hingga usianya 23 tahun, tak banyak yang keluar dari mulutnya selain kata, “Iya, Tuan”.

Ia selalu luput dari perhatian orang-orang. Ia bagai kemoceng—yang baru akan terlihat ketika debu mulai menebal; mengganggu mata si pemilik rumah—yang tergantung di dinding. Tubuhnya yang kecil-kurus semakin mempertegas ketiadaannya.

Terlahir dari keluarga antah berantah, ia pertama kali ditemukan Tuan Boka di depan sebuah rumah ibadah di suatu malam yang gerimis. Entah siapa yang meletakannya dalam kondisi telanjang-kedinginan di sana. Yang jelas, jika dilihat motif si pelaku meletakkannya di depan rumah ibadah, sepertinya si pelaku berharap ia ditemukan oleh orang saleh yang kelak akan mengajarkannya nilai-nilai kebajikan dan kebenaran.

Asiah, istri Tuan Boka, tentu saja bahagia ketika mengetahui suaminya membawa pulang seorang bayi. 15 tahun penantian Asiah memiliki seorang anak akhirnya menjadi kenyataan. Meskipun bayi itu bukan lahir dari rahim Asiah, tetap saja peristiwa itu berhasil memusnahkan kemurungan yang selama ini menyelimuti hati Asiah. Sebagai rasa syukurnya telah mendapatkan seorang bayi, Asiah pun tulus sepenuh hati mengasuh bayi itu.

Mahli! Bagaimana suamiku, apa kau suka dengan nama itu?” tanya Asiah gembira. Kontan Tuan Boka menganggukkan kepala tanda setuju.  

Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari yang penuh kebahagiaan dan suka cita. Tak satu pun kebutuhan Mahli yang luput diberikan Asiah. Mahli benar-benar seperti anak kandung di hadapan Asiah dan Tuan Boka. Saking kelewat bahagia, Asiah malah kurang fokus memerhatikan kebutuhan Tuan Boka dan dirinya sendiri. Semua harus Mahli yang pertama, setelahnya barulah Tuan Boka dan dirinya.

Asiah benar-benar tenggelam dalam rutinitasnya mengasuh Mahli—seolah-olah dunianya hanya Mahli belaka. Mahli yang mulai terlihat lucu, juga menggemaskan.

Namun hidup tak melulu menelurkan kebahagian. Begitu pula hidup Asiah dan Tuan Boka. Tepat saat usia Mahli dua tahun—setelah perayaan ulang tahun Mahli yang sangat mewah—Asiah mendapat panggilan sang penepat janji. Ia pergi meninggalkan Tuan Boka dan Mahli yang masih sangat membutuhkan kasih sayangnya. Tuan Boka yang begitu sangat mencintai istrinya sungguh terpukul; duka yang dalam. Apalagi kepergian Asiah tanpa secuil pun menunjukkan gejala penyakit yang mengkhawatirkan.

Tuan Boka patah hati. Ia merasa cobaan kehilangan istri sangat berat dijalani. Ia begitu terguncang: ia pun mencari-cari kesalahan penyebab kematian Asiah. Tetapi usahanya tidak menemukan hasil. Akibatnya, Mahli menjadi pelampiasan patah hatinya. Tuan Boka mulai tidak peduli pada anak angkatnya itu. Mahli ia biarkan begitu saja tanpa ada yang mengasuh.

Akan tetapi langit belum berkehendak Mahli binasa. Meski tidak diperhatikan Tuan Boka, Mahli terus hidup; tumbuh menjadi seorang anak remaja. Atas jasa seorang pembantu tua di rumah Tuan Boka yang rajin memberi makan-minum Mahli. Namun saat Mahli berusia 14 tahun, pembantu tua itu ikut pula menyusul Asiah.

Tuan Boka yang masih memendam kesal kepada Mahli, bertitah menjadikan Mahli pembantu. Ia kukuh menganggap Mahli penyebab kematian istrinya.

Mahli!”

“Iya, Tuan.”

Sigap Mahli mengambil sebaskom air hangat yang telah ia persiapkan seperempat jam lalu. Mahli buru-buru. Ia sadar betul bila semenit ia terlambat, maka sepanjang hari murka Tuan Boka akan memenuhi sekujur tubuhnya. Bukan hanya itu, jatah makan Mahli pun akan hanyut dijarah murka Tuan Boka.

Selesai mengantarkan air hangat ke kamar Tuan Boka, Mahli kembali ke sudut ruangan rumah. Sejak statusnya berubah menjadi pembantu, Mahli memang hanya diperbolehkan berdiri di salah satu sudut ruangan menunggu perintah-perintah Tuan Boka. Kedua kaki Mahli tidak pernah bergeser seinci pun dari tempatnya berdiri, kecuali jika Tuan Boka memanggilnya. Ia benar-benar serupa patung bila sedang tidak mengerjakan apa-apa.

Mahli yang malang tentu saja pasrah. Tak pernah sekalipun muncul pertanyaan dari mulutnya mengapa ia diperlakukan seperti itu. Namun lambat laun Mahli yang tidak pernah diperhatikan dan tidak pernah benar-benar berhubungan dengan siapa pun akhirnya menyadari keadaannya. Ia sadar keadaannya adalah puncak dari kefanaan di hadapan segala keinginan.

Sebesar apa pun kemarahan Tuan Boka muncratkan kehadapan Mahli, itu tidak akan mengalahkan besarnya api kemarahan dalam jiwanya yang telah ia padamkan, yaitu marahnya sendiri terhadap kehidupan yang harus ditanggungnya, bahkan sejak ia lahir. Setiap detik-menit yang menggumpal menjadi jam dan hari, Mahli belajar menaklukkan seiisi bumi. Meletakkannya di bawah telapak kakinya dengan jalan penerimaan yang luar biasa: tanpa syarat, dan tanpa transaksi.

Mahli!”

“Iya, Tuan.”

Begitulah, setelah mengerjakan satu perintah, Mahli akan kembali ke sudut ruangan tempat kedua kakinya berdiri, mencari bayangan yang jatuh untuk melindungi dirinya dari terlihat. Meskipun Tuan Boka atau para tamu Tuan Boka yang sering berkunjung tahu Mahli ada di sekitar ruangan, Mahli tetaplah patung jika namanya tidak dipanggil. Namun bila namanya dipanggil, tidak perlu meminta dua kali, Mahli akan secepat kilat memahami arti sebuah panggilan, dan untuk keperluan apa ia dipanggil.

Karena itu, tanpa Mahli sadari, telinganya menjadi lebih awas, terbuka, dan hanya paham akan sebuah perintah. Mata Mahli pun menjadi tajam mengawasi seluruh detail sudut rumah dan keadaannya. Tak satu pun luput dari pengamatan dan pengawasan Mahli. Itulah mengapa setiap satu perintah pendek saja masuk ke lorong telinga Mahli, ia dengan mudah mendapatkan gambaran keseluruhannya.

Mahli!”

“Iya, Tuan.”

Sepertinya itu perintah untuk menyiapkan makan malam Tuan Boka. Setiap pukul 18 seperempat, Tuan Boka biasanya akan makan malam. Mahli sudah tahu apa yang harus ia hidangkan serta berapa pula takarannya. Jika keliru, Tuan Boka pasti tidak akan menyentuh makanannya. Bila itu terjadi, alamat Mahli akan tidur di luar rumah.

Mahli yang malang sungguh benar-benar malang. Ia tidak pernah memiliki keinginan sendiri. Hasratnya sudah ia bunuh sejak ingatannya mulai bekerja, dan pembunuhan itu terjadi terus menerus sampai ia dapat menerima bahwa seluruh peristiwa di dunia ini sesungguhnya adalah hasratnya sendiri. Mahli menjadi wadah yang teramat besar dan luas, yang isinya tidak dapat memahami keluasan tempatnya. Namun  Mahli dapat melihat totalitasnya. Mahli memang tidak pernah diperhatikan, tapi Mahli memerhatikan seluruhnya.

Mahli!”

“Iya, Tuan.”

Itu perintah merapikan buku-buku Tuan Boka yang terserak di meja baca. Sejak kematian Asiah, Tuan Boka jadi sering membaca buku untuk menghilangkan kesedihannya. Buku-buku sastra dan buku tentang alam menjadi koleksi Tuan Boka paling banyak tersusun di perpustakaannya. Perpustakaan yang beraroma angker dan suram, sebab minimnya cahaya yang menyinari ruangan.

Mahli memang tidak mengerti isi buku-buku Tuan Boka. Akan tetapi ia sungguh mafhum letak susunan buku-buku itu. Daya ingat Mahli yang kuat telah memberikannya kemudahan dalam menghafal letak setiap buku di perpustakaan Tuan Boka. Bukan hanya itu, Mahli juga memelihara buku-buku itu layaknya seorang kolektor. Meskipun bukan menurut kehendak hatinya, sebab semua kehendak telah ia bunuh; hanya kehendak Tuan Boka yang boleh hidup dalam dirinya.

Mahli!”

“Iya, Tuan.”

Setelah semua rutinitas Tuan Boka selesai, menjelang Tuan Boka beristirahat, Mahli akan menghadap-melaporkan apa saja yang sudah ia kerjakan hari itu. Pada momen itulah Tuan Boka bertanya bagaimana kondisi Mahli dan rumah. Dan Mahli yang malang akan berbicara apa adanya tentang kondisinya, apa yang ia lihat, apa yang ia dengar tanpa satu hal pun yang ia tutup-tutupi.

Mahli memang tidak dapat berbohong. Satu kebohongan dapat melukai pandangan dunia Mahli yang murni dan ia sucikan sebagai bagian paling tak terjangkau dalam kebebasannya. Kebenaran pada Mahli telah membuatnya terlindungi dari intrik orang-orang di sekitarnya. Ia mengetahui semua yang mereka rencanakan dengan licik satu sama lain. Tidak ada yang lebih tahu dari Mahli. Tapi semua menjadi rahasia bumi, dan Mahli adalah seumpama bumi yang menyerap setiap kesucian serta kejahatan tanpa merasa perlu memikirkannya.

Mahli!”

“Iya, Tuan.”

Itu biasanya perintah terakhir Tuan Boka sebelum dia benar-benar terlelap dalam tidurnya, yaitu perintah agar Mahli segara tidur. Tuan Boka tidak ingin Mahli bangun telat. Kalau Mahli telat, semua aktivitas Tuan Boka akan terganggu.

Menjelang tidur Mahli yang sedikit—dengan kondisi tubuhnya yang mulai berpenyakit—Mahli tidak ingin mengingat apa pun yang terjadi pada hari itu, hari sebelumnya, dan hari-hari sebelumnya lagi. Tidak ada peristiwa yang istimewa bagi Mahli untuk diingat, sedangkan peristiwa dirinya yang teramat dahsyat pun mampu ia lupakan.

"Mahli!!!"

"Iya, Tuan.”

Hei, perintah apa pula itu? Sungguh tidak biasa.

 

 

                                                                                                Akasia 11CT

 

Silsilah Hari - Jamaludin GmSas

KONTRIBUTOR 1/29/2023
Jamaludin GmSas 
Silsilah Hari





/1/
Semesta butuh
rebah. Kacau tak
kunjung musnah.
Maka dari itu
Nyx lahir sebagai
pangkuan malam
yang mengistirahatkan;
yang menenggelamkan
lunglai dari pencarian
yang belum sampai.

/2/
Bersama Erebos,
cahaya tercipta
mengiringi pagi.
Ia merangkak dari
rahim Nyx yang sunyi.
Mata sebulat telur retak
yang dari sela-selanya
terdapat sebuah jalan
untuk orang-orang
(terpaksa) keluar
dari persembunyian.

Al Ikhsan, 2022

Tata Kelola Organisasi Komunitas Sastra - Riri Satria

KONTRIBUTOR 1/29/2023

TATA KELOLA ORGANISASI KOMUNITAS SASTRA

Riri Satria




Komunitas pada umumnya tumbuh dari kesamaan-kesamaan dari para pendiri (founder) serta para anggotanya. Komunitas itu dapat berupa komunitas sosial kemanusiaan, kesukaan atau hobi tertentu, sastra, kesenian, kebudayaan, dan sebagainya. Dengan demikian, banyak komunitas yang berjalan tidak dirancang sebagai sebuah organisasi yang tertata rapi, bahkan pada awalnya banyak yang berbentuk voluntary, yang ternyata berlanjut sampai berjalan dan organisasinya membesar.

Berbagai literatur menunjukkan bahwa komunitas adalah organisasi yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, dan menjadi motor penggerak untuk pembangunan masyarakat itu sendiri (community development) melalui pemberdayaan (empowerment) masyarakat yang terlibat dalam komunitas tersebut. Dengan demikian komunitas memiliki peranan penting dalam pembangunan suatu bangsa yang dilakukan secara grassroot atau bersentuhan langsung dengan masyarakat itu sendiri. Komunitas dibangun oleh masyarakat, digerakkan oleh masyarakat, serta untuk masyarakat itu sendiri.

Namun di samping itu, ada juga komunitas yang tujuannya menyalurkan kesamaan hobi, ini tentu tidak terkait langsung dengan pemberdayaan masyarakat, misalnya komunitas penggemar motor besar. Walaupun demikian, tetap ada proses pemberdayaan yang dilakukan terhadap anggotanya.

Tulisan ini akan memfokuskan diri kepada komunitas yang sifatnya bersentuhan langsung dengan masyarakat dan memberikan pemberdayaan.

Bagi yang paham dengan manajemen organisasi, pasti tahu bahwa isu yang paling utama adalah governance atau tata kelola. Organisasi kalau mau maju dan berkembang mencapai visi dan misinya, maka tata kelola harus menjadi perhatian utama. Banyak yang mengatakan bahwa ketersediaan uang itu penting. Benar sekali! Namun tata kelola yang baik jauh lebih penting. Sebuah organisasi yang memiliki uang yang banyak, namun lemah dalam tata kelola, bisa saja salah urus, termasuk salah urus keuangan, dan akhirnya uang itu tidak jelas ke mana perginya bahkan bisa jadi hilang tak tentu rimbanya, dan programnya tidak berjalan dengan baik. Akhirnya uang habis, program berantakan.

Namun dengan tata kelola yang baik, kekurangan atau malahan ketiadaan uang bisa ditutupi dengan berbagai pola kerja sama dengan pihak lain. Tanpa tata kelola yang baik, jangan berharap akan banyak pihak mau menjadi sponsor, donatur, atau kerja sama lainnya. Tata kelola yang baik akan menumbuhkan rasa percaya atau trust. Demikian pula dengan komunitas sastra, seni budaya, sosial kemanusiaan, dan sebagainya. Tata kelola atau governance itu sangat penting.

Apakah itu tata kelola? Dari berbagai literatur saya menyimpulkan bahwa tata kelola adalah kebijakan, aturan, prinsip-prinsip, proses, pengorganisasian, pembagian kewenangan dan tugas, yang mempengaruhi pengarahan, pengelolaan, serta pengendalian suatu organisasi. Tata kelola mencakup hubungan antara para pemangku kepentingan (stakeholder) yang terlibat serta tujuan pengelolaan organisasi. Tata kelola memiliki banyak aspek, namun yang paling penting adalah akuntabilitas dalam menjalankan organisasi dan kredibilitas mereka yang diberikan mandat untuk menjalankan organisasi tersebut. Akuntabilitas berarti apa yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan dengan baik, sesuai dengan visi dan misi organisasi, serta berada dalam koridor aturan yang diberlakukan. Sementara itu kredibilitas terkait dengan mereka yang diberikan mandat untuk menjalankan organisasi, apakah dapat dipercaya atau amanah, memiliki integritas untuk senantiasa menjalankan organisasi untuk kepentingan bersama sesuai visi dan misi serta prinsip-prinsip yang dianut.

Siklus manajemen yang terdiri dari perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (executing), serta pengawasan atau pengendalian (controlling) juga merupakan komponen penting dalam tata kelola. Ini terkait dengan menjalankan organisasi dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Ketika masih pada fase pembentukan awal mungkin proses ini dikerjakan secara serabutan, namun seiring dengan perkembangan organisasi, siklus manajemen ini harus dijalankan dengan baik.

Satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya adalah komunitas harus menjadi learning organization atau organisasi pembelajar. Komunitas pada umumnya tumbuh secara voluntary, maka dalam perkembangannya komunitas akan belajar dari kejadian-kejadian yang dialami. Pengalaman dalam keseharian organisasi akan menjadi masukan untuk proses belajar para pengurus dan anggotanya untuk membawa organisasi menjadi lebih baik lagi ke depannya. Pepatah mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik, dan ini sangat terasa dalam tata kelola maupun manajemen sehari-hari organisasi komunitas.

Banyak komunitas yang akhirnya membentuk badan usaha untuk kegiatan komersial. Ini tentu sah-sah saja. Komunitas sastra mendirikan perusahaan penerbitan. Komunitas hobi tertentu mendirikan took untuk menjual merchandise. Itu semua sah-sah saja. Namun satu hal yang harus diingat, yaitu memisahkan entitas komunitas dan entitas bisnis. Ini termasuk ke dalam aspek tata kelola, yaitu mana yang berupa aktivitas komunitas serta mana yang aktivitas bisnis. Ini bagian dari prinsip akuntabilitas.

Khusus terkait dengan komunitas sastra, menurut saya ada beberapa tambahan penting. Menurut saya komunitas sastra didirikan harus bertujuan menjadi rumah belajar bagi anggotanya. Proses belajar ini bisa yang terstruktur melalui pelatihan, diskusi, mentoring, dan sebagainya, serta tidak terstruktur melalui obrolan-obrolan santai namun menambah wawasan dan pengetahuan. Indikator sukses dari komunitas sastra adalah sejauh mana anggotanya dalam membuat karya sastra yang berkualitas, dipublikasikan dalam wujud buku maupun secara elektronik di media daring. Kata kuncinya adalah kualitas. Dengan demikian, proses quality assurance dalam komunitas sastra itu sangat penting, dan itu juga bagian dari proses pembelajaran sesuai prinsip learning organization.

Faktor penggerak dalam komunitas sastra itu setidaknya ada tiga pihak, yaitu (1) penulis yang berpengalaman, (2) ahli atau expert, serta (3) manajemen. Penulis yang berpengalaman memberikan bimbingan dalam teknis kepenulisan, membagi pengalaman, memberikan inspirasi, dan biasanya langsung terkait kepada hal-hal konkrit dalam kepenulisan, termasuk isu-isu aktual di masyarakat. Dua pihak pertama ini akan menjadi quality assurance gurdian dalam komunitas sastra sehingga dapat menghasilkan karya-karya yang berkualitas. Sementara itu ahli atau expert adakah akademisi yang memberikan masukan, bimbingan, serta inspirasi dalam aspek akademik, misalnya berbagai teori sastra, atau hal-hal lain terkait sastra. Sedangkan manajemen adalah pihak yang diberikan mandat untuk menjalankan organisasi dengan baik dan benar sesuai dengan prinsip tata kelola. Tentu saja yang diberikan mandat untuk manajemen organisasi ini adalah mereka yang memiliki kemampuan manajerial yang baik serta tentu saja memiliki pemahaman yang cukup baik terhadap dunia sastra.

Bayangkan, betapa hebatnya sebuah komunitas sastra jika di dalamnya ada penulis berpengalaman yang memberikan bimbingan, ada ahli atau expert yang jago dari sisi teori dan akademik, serta organisasi dikelola oleh mereka yang memiliki kemampuan manajerial yang baik pula. Ini akan menjadi sebuah sinergi untuk perkembangan perjalanan sebuah komunitas sastra.

 

SAJAK