Terkini

Selak Bidai Lepak Subang Tun Irang karya Rida K Liamsi

3/23/2019 Add Comment
Selak Bidai Lepak Subang Tun Irang
(Sebuah Novel Sejarah)
RIDA K LIAMSI

Kata Pengantar: Taufik Ikram Jamil (Ketika Antar Waktu Dirapat dan Direkat*)
Desain Cover: Furqon Elwe
Tata Letak: Rudi Yulisman

Cetakan Pertama: Februari 2019
Diterbitkan pertama kali oleh:
TareBooks(Taretan Sedaya International)
Jalan Jaya 25, Kenanga IV, Cengkareng, Jakarta Barat11730
+62 811 1986 73
tarebooks@gmail.com
www.tarebooks.com

Perpustkaan Nasional Republik Indonesia
Katalog Dalam Terbitan (KDT)

xix + 250 hlm. – 14,8x21 cm

ISBN: 978-602-5819-17-9

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
All Right Reserved

Harga:
Pesan:


___________



“Hai Raja Bugis,

jikalau sungguh tuan hamba berani,

tutupkanlah aib Beta anak beranak,
adik beradik!
Maka apabila tertutup aib beta semua,
Maka relalah beta menjadi hamba raja Bugis.
Jika hendak disuruh jadi penanak nasi raja sekalipun
relalah beta”

(Tuhfat al-Nafis, Raja Haji Ahmad dan Raja Ali Haji, ed Virginia Matheson, h:60)



Untuk Mengenang Sahabatku

Hasan Junus

___________


CATATAN PENULIS




Sejarah Kerajaan Riau-Lingga yang eksis di kawasan Kepulauan Riau selama 190 tahun (1722-1912) hakikatnya adalah tentang eksistensi (keberadaan) persekutuan politik antara Melayu dan Bugis. Eksistensi persemendaan antara puak Melayu dan puak Bugis melalui perkawinan politik. Eksistensi tentang pertarungan moral obligasi antara Melayu dan Bugis melalui kesepakatan politik yang dinamakan “Sumpah Setia Melayu-Bugis Wusta al-Qubra”. Namun dari manakah kisah itu bermula?
Ketika saya menulis novel Megat (2016) yang berlatar belakang sejarah Kerajaan Johor-Pahang-Riau, saya melakukan sejumlah riset yang sebagian besar berupa riset pustaka. Hampir lima tahun saya membaca, mencatat, dan menyimpan semua jejak penting, peristiwa dan tokoh-tokoh sejarah kerajaan Melayu, sejak kerajaan Bintan (abad 12) sampai Kerajaan Riau-Lingga (abad 20). Dari riset itulah, saya malah tidak menulis novel Megat, tetapi lebih dahulu menulis karya fiksi sejarah, yaitu Prasasti Bukit Siguntang dan Badai Politik di Kemaharajaan Melayu, 1160-1946 yang terbit tahun 2015. Setahun kemudian novel Megat baru selesai dan terbit.
Setelah itu, saya kembali menulis fiksi sejarah Mahmud Sang Pembangkang (2017) sebagai pengembangan dari riset panjang tersebut. Sebenarnya masih banyak bahan, catatan, dan temuan menarik lain yang saya simpan dari riset tersebut untuk kelak saya olah mejadi buku. Semua itu merupakan upaya kreatif dalam “memanfaatkan bahan dan bermain dengan bahan” kalau meminjam istilah Hasan Junus, (HJ) budayawan Melayu yang tersohor itu. Seperti halnya buku ini, meski ditulis dari hasil riset, hakikatnya tetap sebuah fiksi; fiksi sejarah.
Untuk sejumlah karya fiksi saya yang berlatar sejarah, saya selalu menyebutnya sebagai narrative history (cerita sejarah), atau kadang saya sebut dengan singkatan Ce-reka Sejarah. Cereka berarti ‘cerita rekaan’ atau fiksi dengan bahan baku sejarah. Jadi, hasilnya bukanlah karya buku sejarah murni (nonfiksi), melainkan karya yang lebih cair, lebih populer, dan tidak terlalu banyak dihuni dan dibebani catatan kaki. Namun, seperti karya-karya ilmiah populer lainnya, semua data tetap mengacu pada daftar pustaka di akhir buku. Cereka Sejarah saya ini sebenarnya juga adalah sebuah novel, yakni Novel sejarah, di mana plot dan alurnya lebih berat pada perjalanan peristiwa daripada eksplorasi watak dan karakter tokoh sebagai pelaku sejarahnya.
Cereka ini, termasuk cereka sejarah ini adalah semacam upaya untuk mendekatkan sejarah pada khalayak muda, agar mereka menyukai sejarah, dan keluar dari kejenuhan teks yang sesak dan penuh catatan kaki.
Buku ini walau disebut karya fiksi (cerita rekaan), tetapi karena ditulis dengan latar belakang peristiwa sejarah, hasil riset dari berbagai sumber sejarah yang pantas dan patut dikutip, maka diupayakan secara maksimal untuk dekat dan berdasarkan peristiwa dan catatan sejarah yang ada dan dapat dipertanggungjawabkan secara moral.
Bukankah pada akhirnya kita sepakat, tidak ada karya yang dihasilkan tanpa berlatar jejak dan peristiwa sejarah? Bukankah pada hakikatnya perjalanan hidup kita ini yang selalu menjadi latar penulisan karya, baik puisi, maupun prosa adalah juga jejak sejarah? Sejarah kehidupan, sejarah pertarungan nasib kita, manusia yang mengemban amanatnya sebagai khalifah di muka bumi. Makhluk sosial yang bertanggung jawab terhadap setiap langkah, setiap jejak yang dia buat, dan yang dia tinggalkan. Bukankah semua kita nanti pada akhirnya akan dihisab di hadapan Yang Maha Kuasa atas semua, karena hidup kita itu?
Tentu saja sebagai karya fiksi, kadar kebenaran sejarah di dalamnya sulit diterima oleh kalangan sejarawan sebagai fakta sejarah. Namun hal itu bisa dimengerti, karena karya sastra berlatar sejarah, seperti Salalatus Salatinkarya Tun Seri Lanang, atau Tuhfat al-Nafis karya Raja Haji Ahmad dan Raja Ali Haji, atau Silsilah Melayu BugisSyair PahangSyair Sultan Mahmud, dan karya sastra lainnya itu, baru puluhan tahun sesudahnya diakui sebagai karya sejarah. Fakta-fakta serta peristiwa yang tercatat di dalamnya dijadikan sumber sejarah.
Hal tersebut di atas, senada dengan apa yang dikatakan Prof. Abdullah Zakaria Ghazali, sejarawan Malaysia dalam kata pengantarnya untuk buku sejarah Pemerintahan Kerajaan Johor 1618-1862 karya Mardiana Nordin: “..., banyak pihak mulai menerima karya-karya ini (Tuhfat al-Nafis, dll manuskrip- pen) sebagai sumber sejarah. Ini karena sebagian besar fakta –fakta di dalam manuskrip tersebut sukar dinafikan apabila ujud persamaan dengan sumber-sumber lain yang lebih diyakini, seperti laporan-laporan dan rekod-rekod penjajah, tulisan-tulisan warga negara asing yang berkunjung dan juga bukti-bukti arkeologi. Malahan kehadiran fakta yang sama di beberapa buah manuskrip yang lahir hampir sezaman membuktikan kesahihan sejarahnya.”
Dengan membaca secara cermat dengan melakukan penelitian silang, maka sebuah karya fiksi sejarah akan sangat berharga sebagai sumber sejarah, seperti buku-buku sejarah murni lainnya. Kehadiran buku tersebut akan memperkaya khazanah buku bacaan yang berlatar dan berkadar kesejarahan. Bisa jadi, buku tersebut akan lebih mudah diterima oleh pembaca dari kalangan muda. Apalagi jika buku-buku tersebut dikemas dalam bentuk karya sastra, seperti novel, roman, cerpen, dan bahkan puisi sekalipun.
Kita tahu, kini banyak film, dan cerita drama televisi pun, akan menjadi sumber informasi kesejarahan yang tidak kalah pentingnya. Begitu juga dengan media sosial dengan beragam tampilan dan aplikasinya, sudah menjadi media baca, media tonton, dan media sebar berbagai cerita berlatar sejarah, sebagai produknya. Fenomena tersebut merupakan sarana yang efektif untuk mendekatkan generasi muda pada pengetahuan sejarah, bahkan mencintainya. Kita –tua atau muda- sebagaimana seruan Bung Karno; Jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jas Merah). Bangsa yang tidak belajar secara arif dari sejarahnya, kata sejarawan Susanto Zuhdi, akan jadi bangsa yang kalah, kehilangan etos, dan jati dirinya.
Demikianlah, buku ini, Cereka sejarah ini, saya beri judul: Selak Bidai, Lepak Subang Tun Irang. Sebuah buku yang saya tulis dengan menggali sisi-sisi historis yang menarik yang bermula dari sepotong teks dalam Tuhfat al-Nafis (h 60): “Kemudian Tengku Tengah (Tun Irang, pen) pun berdiri di pintu selasar, membuka (menyelak-pen) bidai, melepak subang di telinganya, sambil dia berkata; “Hai raja Bugis, jikalau sungguh tuan hamba berani, tutupkanlah aib beta anak beranak, adik beradik. Maka, apabila tertutup aib beta semua, maka relalah beta menjadi hamba raja Bugis. Jika hendak disuruh jadi penanak nasi raja sekalipun, relalah beta!”
Kalimat puitis tersebut, bahkan dapat disusun menjadi puisi yang diucapkan oleh seorang perempuan bangsawan, dan dihadapkan pada para lelaki pendekar yang sedang dalam pengembaraan mereka, alangkah dahsyatnya! Apalagi setelah itu, cerita-cerita tentang proses perjuangan menutup aib itu memang terjadi dalam bentuk perang dan pertarungan, serta intrik politik. Kita bisa membayangkan, menafsir ulang, serta merekonstruksi kembali proses dan romantisme para perempuan bangsawan dan para pendekar itu, menjadi romansa para penanak nasi anak-anak raja Bugis sebagaimana diceritakan dalam Tuhfat al-Nafis. Semua terjadi sebagai jejak dan perjalanan sejarah yang sangat menarik. Sejarah yang mewarnai keberadaan kerajaan Melayu Riau-Lingga-Johor dan Pahang selama 190 tahun dengan segala dampak dan konsekuensi politisnya.
Apa yang menarik dari sejarah tersebut? Sisi romantis itulah menariknya. Keberanian seorang perempuan bangsawan -yang merefleksikan dendam dan marah- itulah yang kemudian saya coba dedahkan setelah dijahit dan dimozaik ulang meski dengan sumber-sumber yang terbatas. Namun itulah hakikat sisi awal dari persebatian Melayu-Bugis di kerajaan Melayu Johor-Riau-Pahang. Awal dari perbancuhan dan pertembungan budaya kedua suku bangsa yang membangun kekuatan politik bersama melalui perkawinan dan sumpah setia politik.
Memang, kisah persebatian dan persemedaan ini bukan hal yang baru, karena itu selalu ada di mana pun, sebagai ragam dan garam sejarah dalam politik kaum mana pun. Akan tetapi, persebatian antara pihak Melayu dan Bugis di kawasan semenanjung ini merupakan ujud yang unik. Ujud yang dibingkai kesepakatan moral luhur dan dianggap “sakti” dalam sebuah sumpah setia, yakni kesepakatan dan kekuatan kata-kata. Konon, siapa yang melanggarnya akan menerima konsekuensi dan bala dari pengkhianatan itu. Sumpah setia Melayu-Bugis yang diikrarkan tahun 1722 mendapat perlakuan dan rasa hormat yang sama dengan Prasasti Bukit Siguntang, yaitu sumpah setia antara Demang Lebar Daun dengan Sang Sapurba dalam legenda Melayu sebagai sumber penulisan sejarah tempatan, seperti dalam Salalatus Salatin.
Akhirnya, inilah buku Cereka sejarah saya yang keempat setelah Bulang Cahaya, Megat, dan Mahmud Sang Pembangkang”. Untuk itu saya ingin berterima kasih pada semua teman yang telah menyediakan dan meminjamkan bahan bacaan dan pustaka, khususnya kepada Aswandi Syahri, sejarawan Kepri yang begitu sabar, dan telaten menyimpan bahan-bahan dan manuskrip lama tentang perjalanan sejarah Kerajaan Riau-Lingga, sehingga dapat menjadi sumber rujukan dan informasi kesejarahan yang penting di kawasan ini. Namun, sekali lagi, karya ini adalah fiksi, fiksi sejarah.
Mudah-mudahan buku ini berguna. Kepada Allah saya mohon ampun, kepada Muhammad saya sampaikan salam, dan kepada semua pihak yang bersangkut paut, saya minta maaf atas semua kelemahan dan kekurangan buku ini.

Tanjungpinang, 2018

Salam Takzim
Rida K Liamsi

___________

DAFTAR ISI



§ CATATAN PENULIS |7

§ PENGANTAR |15
§ PROLOG: SURAT-SURAT MUSIM DINGIN |31
§ BAB I: LUKA CINTA TUN IRANG |43
§ BAB II: MIMPI DAENG MANAMBUN |75
§ BAB III: RANJANG PENGANTIN TUN IRANG |104
§ BAB IV: PELURU DI DADA DAENG PARANI, LUKA DI HATI TUN IRANG |127
§ BAB V: PERTARUNGAN DUA CUCU |152
§ BAB VI: JEJAK TUN IRANG DAN TAHUN PENUH SESAL |175
§ BAB VII: ANDAIKATA DI PULAU BASING |202
§ EPILOG: “ALEA JACTA EST,“ KATA TUN IRANG |223
§ DAFTAR PUSTAKA |246
§ TENTANG PENULIS |248

___________

Tentang Penulis
Rida K Liamsi lahir 17 Juli 1943 di Lingga, Kepulauan Riau dengan nama asli Ismail Kadir. Rida telah menulis buku sejarah: Prasasti Bukit Siguntang dan Badai Politik di Kemaharajaan Melayu, 1164-1946 (2015), serta sejumlah makalah, seperti: “Nara Singa II, Sultan Inderagiri dan Perannya dalam Sejarah Kemaharajaan Melayu” (2016). Rida juga telah menulis berbagai novel berlatar sejarah: Bulang Cahaya (2007)Megat (2016), Mahmud Sang Pembangkang (2017), dan Selak Bidai, Lepak Subang Tun Irang (2019). Sementara itu, buku puisi tunggalnya yang telah beredar adalah Tempuling (2003), Perjalanan Kelekatu (2012), Rose (dwi bahasa: Indonesia-Inggris, 2013) yang memenangkan Anugerah Buku Puisi Terbaik Pilihan Badan Bahasa 2018, dan Secangkir Kopi Sekanak (2017).
Atas dedikasinya terhadap sejarah dan kebudayaan, Rida mendapat anugerah sebagai Anggota Kehormatan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI), dan memperoleh gelar kehormatan Datuk Seri Lela Budaya dari Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR)Rida tercatat sebagai salah satu pendiri sekaligus pembina Yayasan Sagang (Pekanbaru), Yayasan Jembia Emas (Tanjungpinang), dan Yayasan Hari Puisi (Jakarta).


Rida kini tinggal di Tanjungpinang, Kepri, dan menjadi penanggung jawab sejumlah media daring, seperti: www.haripuisi.comwww.haripuisi.info, dan www.jantungmelayu.com. Biografi lengkapnya, silakan kunjungi: www.erdeka.com, dan kontak: rliamsipku@gmail.com.


Perjalanan Sitor Situmorang

3/21/2019 Add Comment

oleh Maman S. Mahayana

Sitor Situmorang tercatat sebagai salah seorang dari empat tokoh sastrawan Angkatan 45. Mereka adalah Mochtar Lubis (lahir 7 Maret 1922), Sitor Situmorang (lahir 2 Oktober 1924), Pramoedya Ananta Toer (lahir 6 Februari 1925), dan Asrul Sani (lahir 10 Juni 1926). Entah mengapa, di antara keempat tokoh itu, penyebutan tarikh kelahiran Sitor kadangkala ditulis salah. A. Teeuw dan J.U. Nasution, misalnya, menyebut tahun 1923. Sementara Ajip Rosidi dan Linus Suryadi menyebut tanggal 21 Oktober 1924 sebagai kelahiran Sitor Situmorang. Terlepas dari persoalan itu, peranan dan kontribusi mereka dalam memperkaya perkembangan khazanah kesusastraan Indonesia telah menempatkan nama dan karya-karya mereka dalam posisi yang khas dan terhormat.

Mencermati riwayat kehidupan keempat tokoh Angkatan 45 itu, kehidupan Sitor agaknya yang paling banyak pengembaraannya di luar negeri. Setelah menyelesaikan pendidikannya di HIS di Balige dan Sibolga, MULO di Tarutung, dan AMS di Jakarta (tidak tamat), ia pada tahun 1943 pergi ke Singapura dan tinggal di sana sampai tahun 1945. Selepas Indonesia merdeka, ia kembali ke Tarutung, Sumatra, dan memimpin surat kabar Suara Nasional (1945-1946). Dua tahun kemudian ia hijrah ke Medan, menjadi Pemimpin Redaksi harian Waspada (1947). Pada saat bekerja di harian itulah, Sitor mengikuti perundingan Indonesia-Belanda di Yogyakarta (1948) dan bertugas sebagai koresponden harian itu. Terjadinya Agresi kedua Belanda menyeret Sitor dalam kemelut peperangan. Ia ditangkap Belanda dan dimasukkan ke penjara Wirogunan, Yogyakarta.

Pada tahun 1950, Sitor Situmorang pergi ke Belanda dan tinggal di Amsterdam selama setahun (1950-1951). Setelah itu, ia bekerja di Kedutaan Indonesia di Paris dan bermukim di sana lebih dari setahun. Pada tahun 1953, ia kembali ke Indonesia. Sepulang dari Paris itulah kiprahnya dalam kesusastraan Indonesia mendapat sorotan banyak pihak. Ia dipandang menyodorkan sesuatu yang baru dalam bentuk dan gaya penulisan puisi dan cerpen Indonesia modern. Selama setahun (1956-1957), ia berkesempatan pergi ke Amerika untuk memperdalam pengetahuan di bidang sinematografi di Universitas California. Kembali ke Indonesia tahun 1957, ia bekerja di harian Berita Nasional dan Warta Dunia. Pernah pula tercatat sebagai pegawai Jawatan Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Selain itu, ia juga menjadi dosen ATNI Jakarta, Anggota Dewan Perancang Nasional, Anggota Badan Pertimbangan Ilmu Pengetahuan (1961-1962), Ketua Lembaga Kebudayaan Nasional (1959-1965). Sebagai wakil seniman, Sitor pun pernah menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS).
***

Pada dasawarsa tahun 1950-an, pengaruh Chairil Anwar begitu kuat memasuki gaya, nada (tone), suasana (atmosphere), dan diksi sejumlah penyair Indonesia. Pada saat itulah Sitor Situmorang tampil dengan gaya dan suasana yang berbeda dengan model Chairil Anwar. Sitor seolah-olah hendak mengembalikan lagi bentuk soneta -bahkan lebih jauh lagi, pantun, sebagaimana yang dapat kita cermati dalam antologi pertamanya, Surat Kertas Hijau (1953). Tidak hanya itu, kepenyairannya menjadi sangat menonjol ketika ia juga menyelusupkan filsafat eksistensialisme di dalamnya. Tema keterasingan dan kesepian yang disodorkannya jadi terasa lebih menukik dalam dan bernas.

Belum senyap keterpesonaan orang atas puisi-puisinya, Sitor Situmorang kembali membuat kejutan. Antologi Dalam Sajak (1955) muncul dengan sejumlah besar puisi pendek. Belakangan, banyak pengamat sastra yang menempatkan puisi-puisi pendek itu sebagai salah satu terminal atas keterpengaruhan Sitor pada Haiku (Jepang) dan Imagism (Inggris). Ketika muncul puisi -Malam Lebaran,- yang cuma berisi satu larik: Bulan di atas kuburan, orang pun dibikin makin heboh.

Dari sana, terjadilah kontroversi. Sitor dianggap tidak memahami penanggalan Islam. Meskipun dunia puisi mementingkan imajinasi, bagaimanapun, puisi tetap bertanggung jawab atas logika puisi itu sendiri. Fakta alam menyatakan, bahwa pada malam lebaran, bulan belum muncul. Oleh karena itu, pernyataan Malam Lebaran/ Bulan di atas kuburan, melanggar logika umum. Ia menyatakan sesuatu yang tak mungkin terjadi.

Meskipun demikian, ada juga yang berpandangan lain. Bagaimanapun juga, kadangkala puisi itu lahir secara spontan, tak dapat diduga, bergantung pada bagaimana perasaan tertentu, seperti marah, cinta, rindu, dan berbagai kegelisahan lain, tiba-tiba menggelegak. Ia tak dapat lagi dibendung. Dan penyair merasa perlu untuk menumpahkannya dalam larik-larik puisi.

Dalam kasus puisi Malam Lebaran, latar belakang peristiwanya terjadi pada malam lebaran ketika Sitor hendak berkunjung ke rumah Pramoedya Ananta Toer. Ia lewat dekat kuburan. Jadilah kemudian ada -Malam Lebaran- dan -kuburan-. Di tangan penyair sekelas Sitor, peristiwa itu niscaya sangat menggoda dan menggelisahkannya. Dengan kepiawaiannya membangun simbolisme dan kekuatan menciptakan citraan, peristiwa itu mesti direkam dan dinyatakan menjadi sesuatu yang mempesona dan menakjubkan. Maka, untuk memperkuat kesan yang lebih dalam, diperlukan sebuah simbol yang dapat mendukung citraan yang mewartakan kesepian dan keterasingan sebagai pesannya. Dan kata bulan itulah pilihannya. Maka, lahirlah kemudian sebuah puisi pendek: Bulan di atas kuburan// Sebuah puisi yang memancarkan kekuatan citraan yang begitu hidup dan sekaligus juga menyimpan kekayaan simbolisme.
***

Awal kepenyairan Sitor Situmorang dimulai ketika dua buah puisinya -Kini Diam Segala Makhluk- dan -Terdengar- dimuat Siasat, No. 2, 1948. Selepas itu, Sitor mulai menunjukkan kecerdasan kepenyairannya. Sampai tahun 1951, di antara sejumlah esai yang ditulisnya sejak tahun 1948, ia menghasilkan sekitar 30-an puisi dan sebuah cerpen berjudul -Gerbera- (Mimbar Indonesia, No. 10, 4, 1950). Sejauh pengamatan, pada tahun 1952, tidak ada karya Sitor yang muncul di media massa. Boleh jadi itu disebabkan oleh kesibukannya bekerja di Kedutaan Indonesia di Paris.

Pada tahun 1953, Sitor kembali ke tanah air. Pengalamannya di Eropa dan teristimewa di Prancis dan Italia, laksana membuatnya kerasukan. Mengalirlah puisi-puisinya mengisi lembaran berbagai media massa waktu itu. Menurut J.U. Nasution (Sitor Situmorang sebagai Penyair dan Pengarang Cerita Pendek, 1963: 5) -Sitor sebagai penyair dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern seorang yang terbanyak menghasilkan sanjak.- Ajip Rosidi (1979: 116) yang dalam dasawarsa tahun 1950-an termasuk pengarang yang sangat produktif, menyatakan pula pujiannya. -Pada tahun 1953, Sitor menarik perhatian dunia sastra Indonesia dengan tulisan-tulisannya. Bukan saja karena jumlah tulisan-tulisannya yang melimpah-limpah, tetapi juga karena gayanya yang khas dan memberikan udara segar kepada penulisan puisi waktu itu dan karena filsafat -iseng- yang dibawakannya.-

Antara tahun 1953 sampai 1961, di luar esai-esainya, sekitar 100-an puisi, 20-an cerpen, dan dua buah drama, -Jalan Mutiara- (Zenith, No. 3, 3, 1953) dan -Pulo Batu- (Pujangga Baru, No. 8, 1953), telah dihasilkan Sitor. Kedua drama itu, ditambah satu drama, -Pertahanan Terakhir- kemudian diterbitkan sebagai buku berjudul Jalan Mutiara (1954). Pada periode itu pula, terbit antologi puisinya Surat Kertas Hijau (1953), Dalam Sajak (1955), dan Wajah tak Bernama (1955). Sebuah antologi cerpennya, Pertempuran dan Salju di Paris (1956) memperoleh penghargaan Hadiah Sastra BMKN 1955/1956.

Memasuki tahun 1960-an, kegiatan Sitor Situmorang dalam politik praktis makin banyak menyita waktunya. Kunjungannya ke Cina dan Korea Utara ketika itu, tentu saja dalam rangka kegiatan itu pula. Meskipun demikian, ia masih sempat menulis puisi dan mengumpulkannya dalam antologi, berjudul Zaman Baru (1962). Dalam kata pengantar buku itu, dinyatakan, bahwa antologi ini sebagai -sebuah -dokumen kecil tentang perkembangan kerohanian-- Sesungguhnya, kerohanian yang dimaksud adalah perkembangan kepenyairannya yang waktu itu cenderung mengusung ideologi tertentu.

Selain menghasilkan karya sendiri, Sitor Situmorang juga banyak menerjemahkan karya asing. Antara tahun 1953-1957 tercatat sedikitnya delapan karya terjemahan telah dipublikasikannya, yaitu cerpen Shen Chi Chi, -Jenshih Putri Serigala- (Siasat, No. 5, Juli 1951), novel John Wyndham, Triffid Mengancam Dunia (1953), drama John Galswarthy & Robert Midlemans, Hanya Satu Kali (1954), drama M. Nijhoff, Hari Kemenangan (1955) dan Bethlehem (1955), drama R.S. Macnocol, Perwira Tuhan (1955), drama D.I. Sayersm, Jalan ke Joljuta, kumpulan esai E. du Perron, Menentukan Sikap (1957), dan sebuah karya W.S. Bronson, Perjalanan si Pinto (1960).
***

Setahun setelah kerusuhan politik (1966) yang lebih dikenal dengan nama Gerakan 30 September, Sitor Situmorang ditahan dan baru dibebaskan tahun 1974. Dengan kebebasan itulah, penyair kelahiran Harianboho, Tapanuli Utara itu, kembali menekuni -dan menikmati-dunia kepenyairannya. Ia pun mencatat pengelanaannya dalam antologi puisi Dinding Waktu (1976), Peta Perjalanan (1977) -yang mendapat Hadiah Puisi Dewan Kesenian Jakarta 1976-1977- dan Angin Danau (1982).

Pada tahun 1981, terbit pula sebuah antologi cerpennya, berjudul Danau Toba, serta sebuah otobiografi berjudul Sitor Situmorang Seorang Sastrawan 45 Penyair Danau Toba (1981). Sejumlah puisinya yang pernah dihasilkan Sitor Situmorang -kecuali puisinya dalam antologi Zaman Baru (1962)-, dihimpun dan dikumpulkan dalam antologi Bunga di Atas Batu (1989). Belakangan, antologi Bunga di Atas Batu dipilih dan diseleksi kembali menjadi hanya 100 puisi yang dianggap paling mewakili kepenyairannya selama empat dasawarsa (1948-1988). Ke-100 puisi itu diterbitkan dalam antologi Rindu Kelana (1994).

Pada tahun 1984, Sitor Situmorang bermukim di Leiden dan Den Haag, Belanda. Belakangan ia tinggal di Islamabad, Pakistan. Dalam kehidupannya menjadi orang asing, ia ternyata tidak melupakan dunia kepenyairannya.
***

Demikian pengelanaan seorang Sitor Situmorang. Dan segala pengalaman- pahit-getir dan manis-madunya- itu, sesungguhnya dapat kita telusuri kembali melalui karya-karya yang telah dihasilkannya. Boleh jadi, dalam perjalanan hidupnya itu Sitor lebih banyak merasakan kegelisahan, keterasingan, dan kesepian, seperti yang dikatakannya: Bunga di atas batu/dibakar sepi//. Meskipun demikian, kita tak dapat menafikan, peranan Sitor Situmorang yang telah memberi kontribusi penting dalam penggalan perjalanan kesusastraan Indonesia. Bahwa di dalam perjalanannya itu ada warna abu-abu, sepatutnya pula kita menempatkannya dalam konteks kehidupan manusia yang tidak dapat melepaskan dirinya dari fitrah kemanusiaannya. Barangkali, hanya dengan cara itulah kita dapat menempatkan segala apapun secara proporsional, sesuai dengan kotaknya, tanpa harus mengurangi atau melebih-lebihkan.

Itulah Sitor Situmorang, -Si anak hilang (yang) kini kembali- meski -Tak seorang dikenalnya lagi- kami tetap menempatkannya sebagai tokoh tangguh Angkatan 45 yang lantang berkata:- Kegelisahan tanda hidup!-


Ajip Rosidi Membaca dan Menulis tanpa Akhir

2/24/2019 Add Comment
oleh Maman S. Mahayana

Mungkinkah seorang yang tak lulus SMA dapat menjadi guru besar? Di Indonesia yang segala sesuatunya sering harus berurusan dengan aturan birokrasi, pemberian gelar kehormatan, seperti doktor honoris causa, misalnya, barangkali akan menimbulkan masalah. Itulah yang terjadi pada diri Ajip Rosidi. Ia ?konon?tak dapat memperoleh gelar itu lantaran pendidikannya tak sampai sarjana. Ajip memang tak tamat SMA. Tetapi berkat hasil bacaan yang sangat luas dan karya-karyanya yang berlimpah, pada tahun 1967 sampai 1970, ia dipandang pantas untuk menjadi dosen luar biasa di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung. Kemudian, pada tahun 1981, berkat peranannya dalam bidang kesusastraan dan kebudayaan, Ajip Rosidi diangkat sebagai gurubesar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka). Sejak itu, ia juga ditugasi mengajar di Tenri Daigaku (1982?1994) dan Kyoto Sangyo Daigaku (1982?1996).

Bagi komunitas dan pemerhati sastra dan budaya Indonesia, nama Ajip Rosidi niscaya tidak terlalu asing. Meskipun demikian, dalam perjalanan kesusastraan Indonesia, namanya barangkali tidak terlalu fenomenal dibandingkan Abdul Muis, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Iwan Simatupang atau Sutardji Calzoum Bachri. Tentu saja, hal itu tidak berarti kiprahnya dalam kesusastraan Indonesia tidak penting. Justru lantaran wilayah kesusastraan yang dimasuki Ajip Rosidi meliputi semua ragam sastra, di dalamnya termasuk sastra daerah, maka peranannya dalam dunia sastra ?dan kebudayaan secara umum? berada dalam berbagai tempat. Bagi sastrawan seangkatannya, ia dikenal sebagai tokoh yang sebagian hidupnya diabdikan untuk kepentingan sastra dan budaya.

Dalam hal itu, ketokohan Ajip Rosidi telah menempati kedudukannya yang khas. Di situ pula kontribusinya punya makna penting. Oleh karena itu, menempatkan nama Ajip Rosidi dalam peta konstelasi kesusastraan Indonesia, mesti dalam perspektif yang lebih komprehensif. Bagaimanapun juga, Ajip telah merentas jalannya sendiri. Perannya dalam membangun kesusastraan Indonesia, sungguh tak dapat diabaikan begitu saja. Apalagi jika kita menghubungkaitkannya dengan latar belakang pendidikannya yang lebih banyak dijalani secara otodidak. Lewat cara itulah, ia telah menanamkan sebuah teladan, betapa hidup secara total dalam dunia kesenian (kesusastraan), dapat pula mengantarkan seseorang ke puncak karier yang membanggakan. Totalitas dan belajar sampai akhir hayat, barangkali itu juga yang kunci keberhasilannya.

***

Ajip Rosidi lahir di Jatiwangi, Majalengka, 31 Januari 1938. Sebagai anak seorang guru Sekolah Rakyat, sejak kelas satu Sekolah Rakyat, Ajip sudah pandai membaca. Buku koleksi ayahnya tentang cerita-cerita rakyat, baik yang berbahasa Sunda, maupun berbahasa Indonesia, boleh dikatakan sudah menjadi bagian dari kegiatan kesehariannya. Tidak puas dengan buku-buku koleksi ayahnya atau buku-buku yang ada di perpustakaan sekolahnya, Ajip memburu buku ke tempat lain. Mendengar bahwa di rumah almarhum Dalem Obaso yang tinggal di Kadipaten, sekitar 15 kilometer dari Jatiwangi, tersedia sejumlah buku dan majalah milik mantan menak Sunda itu, Ajip bersama teman-temannya datang ke sana dan asyik-masyuk melahap buku-buku lama yang kebanyakan berbahasa Sunda. Kadangkala, Ajip mampir ke toko buku satu-satunya yang ada di kota kecamatan itu untuk membeli buku atau sekadar melihat-lihat saja. Itulah awal persahabatan dan kecintaannya pada dunia buku. Tanpa disadarinya, dari sanalah sesungguhnya perjalanan karier Ajip Rosidi dimulai.

Itulah sebabnya, dibandingkan dengan sastrawan seangkatannya ?yang disebutnya Angkatan Sastrawan Terbaru? yang memulai kariernya pada dasawarsa tahun 1950-an, Ajip Rosidi tergolong sastrawan yang paling muda. Bahkan terlalu muda jika melihat usia kepengarangannya dimulai. Dalam usia 12 tahun, saat Ajip duduk di kelas 6 Sekolah Dasar di Jatiwangi tahun 1950, beberapa kali tulisannya dimuat dalam rubrik anak-anak suratkabar Indonesia Raya, sebuah media cetak nasional yang berwibawa waktu itu dengan salah seorang redakturnya Mochtar Lubis.

Boleh jadi karena sejumlah tulisannya pernah dimuat suratkabar ibukota, Ajip memutuskan untuk melanjutkan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Jakarta (1951?1953). Pada masa duduk di SMP itulah, karya-karya Ajip, baik prosa maupun puisi, mulai kerapkali menghiasi majalah sastra dan budaya, seperti majalah kebudayaan Indonesia, Mimbar Indonesia, Siasat, Zenith, Langkah Baru, yang di dalamnya sering muncul karya sastrawan angkatan sebelumnya. Jadi, saat Ajip ke sekolah dengan masih bercelana pendek, karya-karyanya sudah kerap dimuat berdampingan dengan karya pengarang terkenal seperti Chairil Anwar, Idrus, Pramoedya Ananta Toer, Asrul Sani, Mochtar Lubis, Achdiat Karta Mihardja, Utuy Tatang Sontani atau Aoh Karta Hadimadja. Ketika itu, Ajip juga telah menjadi redaktur Suluh Peladjar (1953?1955), sebuah majalah bagi pelajar yang penyebarannya sudah hampir mencapai wilayah seluruh Indonesia.

Ketika melanjutkan sekolahnya di SMA Taman Madya Tamansiswa, Jakarta, kegiatannya dalam tulis-menulis benar-benar sudah tidak dapat dipisahkan lagi. Ia makin serius menekuni bidang ini. Maka, ia pun menerima tawaran untuk menjadi redaktur majalah bulanan Prosa (1955) bersama Sammah S.A. Beberapa majalah lain yang pernah ditanganinya, antara lain, Madjalah Sunda (1965?1967) dan majalah bulanan Budaja Djaja (1968?1979), sebuah majalah sastra dan budaya terbitan Jakarta yang pernah sangat berwibawa pada masanya.

Pada dasawarsa tahun 1950-an itu, selain mengurusi majalah Prosa, Ajip juga mengirimkan sejumlah karyanya untuk majalah dan suratkabar lain. Pada tahun itu pula, saat usia Ajip mencapai 17 tahun, terbit antologi cerpennya yang pertama, Tahun-Tahun Kematian (1955). Tahun berikutnya menyusul antologi puisi, Pesta (1956), antologi puisi bersama SM Ardan dan Sobron Aidit, Ketemu di Jalan (1956), dan dua antologi cerpen Ditengah Keluarga (1956) dan Sebuah Rumah buat Haritua (1956). Antologi puisi Pesta kemudian terpilih sebagai pemenang Hadiah Sastra Nasional Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) untuk buku terbitan 1955?1956. Hadiah yang sama juga diberikan pada antologi cerpen Sebuah Rumah buat Haritua untuk buku terbitan 1957?1958.

Sejak itu, hampir setiap tahun Ajip menerbitkan karyanya sendiri, termasuk sebuah novelnya, Perdjalanan Penganten (1958), sebuah kisah yang mirip pengalaman pribadi pengarangnya. Dalam peta novel Indonesia modern, Perdjalanan Penganten boleh dikatakan merupakan novel Indonesia pertama yang begitu kuat menggambarkan warna lokal etnik (Sunda). Belakangan, novel ini diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis (1976) dan bahasa Yugoslavia (1978). Sebuah novelnya yang terbit tahun 1979, Anak Tanahair, mengungkapkan bentuk kesaksian seorang Ajip Rosidi atas pusaran arus politik yang terjadi tahun 1960-an.

Sementara itu, cerpen, puisi, atau esai-esai lepasnya, masih terus bermunculan dalam majalah dan suratkabar yang terbit masa itu. Dalam satu dasawarsa (1951?1960), berdasarkan jumlah karya yang dihasilkan sastrawan Indonesia periode itu, Ajip Rosidi tercatat sebagai sastrawan yang paling produktif. Ia telah menghasilkan 241 puisi dan 43 cerpen yang dimuat dalam 22 majalah. Catatan ini tentu saja belum termasuk karya-karyanya yang dimuat dalam suratkabar serta karyanya yang berupa artikel atau esai-esai lepas. Peneliti dari School of Oriental and African Studies, University of London, Ernst Ulrich Kratz (1988), mencatat bahwa antara tahun 1951 sampai 1988, Ajip Rosidi telah menghasilkan 418 karya kreatif yang berupa cerpen (45 buah) dan puisi (373 buah).

Sampai sekarang, ada sekitar 100 judul buku yang lahir dari tangan Ajip Rosidi. Dari jumlah itu, lebih dari separohnya merupakan karyanya sendiri. Menurut keterangan Ensiklopedi Sunda (2000: 72), Ajip Rosidi tercatat menghasilkan 60 judul buku, terdiri dari antologi cerpen (5 buah), antologi puisi (9 buah), novel (2 buah), antologi esai (2 buah), karya penelitian (6 buah), karya umum (6 buah), biografi (3 buah), terjemahan (2 buah), transkripsi sastra daerah (9 buah), karya berbahasa Sunda (13 buah), dan editor antologi esai (3 buah). Melihat begitu banyak jumlah buku yang telah dihasilkannya, tak pelak lagi, Ajip tergolong sastrawan yang sulit dicari bandingannya dalam deretan nama sastrawan Indonesia.



Boleh jadi lantaran kiprahnya itu pula, Ajip Rosidi kerap diundang ke berbagai pertemuan internasional. Pada thun 1970, misalnya, ia diundang mengikuti Konferensi PEN Club Asia di Taipe, kemudian hadir pula dalam Kongres PEN Internasional di Seoul (1970). Sebagai penyair, Ajip pernah pula diundang dalam Festival Penyair Internasional di Rotterdam tahun 1972.

***

Meskipun kegiatan kesehariannya menulis ?dan tentu juga membaca? Ajip sama sekali tidak meninggalkan aktivitas lain, sejauh untuk memajukan sastra dan budaya. Dan itu dilakukannya bergandengan dengan perjalanan kariernya sebagai sastrawan. Pada tahun 1954, dalam usia 16 tahun, ia dipercaya menjadi anggota Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN). Dalam sejarah berdirinya lembaga itu (1950) sampai terakhir kali lembaga ini memberikan hadiah pada tahun 1960 –salah satu pemenangnya antologi cerpen Sebuah Rumah buat Haritua? Ajip Rosidi satu-satunya anggota termuda. Ia juga tercatat sebagai anggota pengurus pleno yang terpilih dalam Kongres tahun 1960.

Masih dalam usia muda, 18 tahun, tepatnya tahun 1956, Ajip Rosidi dipercaya pula menjadi anggota pengurus pleno Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS), sebuah lembaga yang berusaha memajukan bahasa dan sastra Sunda, didirikan tahun 1952. Sejak tahun 1957 sampai 1993, lembaga ini memberikan hadiah tahunan bagi karya sastra berbahasa Sunda. Dalam setiap lima tahun, LBSS menyelenggarakan kongresnya. Ajip sendiri belakangan terpilih sebagai Dewan Pembina lembaga itu (1993) dan kemudian mengundurkan diri tahun 1996.

Pada dasawarsa tahun 1960-an, Ajip bersama beberapa temannya, mencoba mendirikan penerbitan sendiri, seperti penerbit Kiwari (1962), Duta Rakjat (1965), dan Kiblat Buku Utama (2000) di Bandung, Tjupumanik (1964) di Jatiwangi, Pustaka Jaya (1971), Girimukti Pasaka (1980) di Jakarta. Selain itu, ia juga tercatat pernah dua kali menjadi Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) (1973?1976 dan 1976?1979). Menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sejak awal berdirinya tahun 1968 dan kemudian terpilih sebagai Ketua DKJ periode 1972?1981. Beberapa organisasi lain yang pernah dibidaninya, antara lain, Paguyuban Pengarang Sastra Sunda (PPSS) dan pernah menjadi ketuanya (1966?1975). Ia juga tercatat sebagai salah seorang pendiri Yayasan PDS HB Jassin (1977).

***

Perhatian Ajip Rosidi terhadap kesusastraan dan kebudayaan, termasuk sastra dan budaya daerah, tidak hanya tercermin dalam sejumlah tulisannya sebagaimana yang dapat kita cermati dalam buku Sastera dan Budaya: Kedaerahan dalam Keindonesiaan (1995), sebuah buku yang menghimpun berbagai artikel dan makalah yang ditulisnya antara tahun 1964?1987, tetapi juga tampak dari tindakannya yang kongkret untuk memajukan bidang itu. Pada tahun 1970, misalnya, ia mendirikan dan memimpin Proyek Penelitian Pantun dan Folklor Sunda (1973). Hasil penelitiannya itu kemudian dipublikasikan secara luas. Kemudian, pada 1989, ia secara pribadi memberikan hadiah sastra tahunan untuk karya sastra berbahasa Sunda untuk buku yang terbit tahun sebelumnya.

Setelah berlangsung selama lima tahun dan pemberian hadiah dilakukan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage, pemberian hadiah diperluas dengan memberikan hadiah juga kepada karya sastra berbahasa Jawa dan Bali.

Berkat perhatiannya yang begitu besar terhadap sastra dan budaya, pada tahun 1993, Ajip Rosidi memperoleh penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia berupa Hadiah Seni. Pada tahun 1999, ia juga dianugerahi penghargaan Kun Santo Zui Ho Sho (The Order of Sacred Treasure Gold Rays with Neck Ribbon) dari pemerintah Jepang atas jasa-jasanya yang dinilai sangat bermanfaat bagi hubungan persahabatan Indonesia?Jepang. Satu penghormatan yang diberikan pemerintah Jepang, hanya kepada orang-orang tertentu yang dipandang benar-benar berjasa dan pantas memperoleh penghargaan itu.

***

Ajip Rosidi bagi kita laksana sebuah teladan, bagaimana konsep iqro (baca!) sebagaimana ayat pertama yang diperintahkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, diejawantahkan dalam kehidupan kesehariannya. Membaca bagi Ajip adalah kebutuhan rohani manusia, dan menulis merupakan bentuk implementasi dari apa yang telah dibacanya. Menulis juga tidak lain sebagai kesaksian atas kehidupan manusia dan kemanusiaan. Maka, ketika ia merasa agak mandek membaca dan mulai gagap menulis, ia akan diterjang kegelisahan yang luar biasa.

Bahwa Ajip Rosidi berhasil mencapai karier dan penghargaan yang begitu prestisus dan membanggakan, itu tidak lain merupakan buah dari pohon pengetahuan yang ditanamnya sejak sekolah dasar. Oleh karena itu, meski secara formal Ajip tidak tamat SMA, ia menggali dan melahapnya sendiri melalui bacaan yang berlimpah. Di perpustakaan dan lembaran-lembaran buku sesungguhnya pengetahuan dan wawasan tersimpan. Persoalannya tinggal, sanggupkah kita menggali dan melahapnya, sebagaimana yang telah dilakukan seorang Ajip Rosidi.

Sajak

Sayembara

Warta