TERKINI

Genetika Kaum Hibrid - A. Warits Rovi

KONTRIBUTOR 5/29/2022
A. Warits Rovi
GENETIKA KAUM HIBRID




otakku mampu menampung rumus diagram balok
yang garis-garisnya tercipta dari goresan kukumu
nomor-nomor yang telah kutulis di semua tepinya
adalah apa-apa yang kau sebut, walau entah itu salah
sebab kau adalah rumus pertama, sebelum ditemukan angka-angka
dan jelas aku memilihmu bukan atas dasar perhitungan matematika

bagiku hidup ini adalah duduk di sofa gadget
menunggu orang-orang jauh datang membawa segelas susu
saat harapan dan khayalan berupa adukan gula pasir
yang sulit dibedakan; baur di dasar gelas, mengendap dalam ampas

dan hari sesudah ini adalah rumah bagus dan mobil mewah
walau aku hanya lihai menabung bualan, juga konten status
yang cuma seolah-olah, yang dibaca ditertawakan
dibaca dileluconkan, dibaca disulap jadi arca senyap
yang bermukim di dalam dada.

ya, otakku mampu menampung rumus diagram balok
yang pernah kaucipta di bagian akhir buku ulanganmu
karena pagi itu, zaman telah baru, dan aku berusaha mencari rumus lain
dari kelebat bayangmu yang berlindung dalam peluk hening
sambil merapikan banyak mimpi dan kata-kata yang menjelma kusta.

Gapura, 2022

Seorang Bocah dan Layar HP - A. Warits Rovi

KONTRIBUTOR 5/29/2022
A. Warits Rovi
SEORANG BOCAH DAN LAYAR HP



sudah pukul 23.48, bulan pergi melintasi tiang tua
beralis embun mekar setengah bergantung
setelah sebagian mengucur ke bibir bunga kecubung

langit lelap berbantal ilalang basah
keriuhan hijrah ke lubang kumbang tersenyap
di batang bambu ceking tak berdaun

cuma tiga laron mengitari lampu
mencari kematiannya sendiri sebelum subuh

“tidurlah, Nak! besok mau sekolah,
matikan dulu HPmu.”
seorang ibu untuk kesebelas kalinya
mengajak anaknya untuk hidup normal

“sebentar, Bu!
di layar ini, telah kutemukan dunia baru
rumah ragam jendela tanpa pintu
semua bisa saling menyapa, mengaku saudara,
meski dalam silsilah darah maya
wajah penuh param kosmetika
hingga cecak bisa menyamar buaya.”
anaknya menjawab
tak peduli kedua matanya begitu merah.

“ini sudah larut malam, Nak!”

“aku terlanjur cinta, Bu!”

si ibu lantas tidur untuk kesebelas kalinya
dan si anak bahagia menemukan waktu yang
kian leluasa

hingga kumbang terjaga dari lubangnya
matahari merah kesumba menaiki cakrawala
tiga laron sudah mati sempurna
si ibu menyiapkan makanan di atas meja

sedang si anak masih tetap dengan HPnya
memenuhi tuntutan dunia barunya
dengan cara yang gila.

Sumenep, 2022

Neraka Kecil di Mata Hel - Galuh Ayara

KONTRIBUTOR 5/29/2022

Neraka Kecil di Mata Hel

Galuh Ayara





Aku meletakkan pisau itu di antara piring apel dan piring yang berisi dua puding bunga matahari yang dikerubungi semut. Angin sore meniup halaman-halaman buku 'Seratus Tahun Kesunyian' yang diletakan begitu saja di muka jendela di atas meja yang sama.


Kalau saja tidak begini, tidak ada perasaan canggung ini atau entah apa, aku hampir lupa bahwa kami sekarang adalah dua manusia dewasa yang sudah matang sempurna secara biologis.


Berusaha keras aku menghindar, tapi Hel terus menggodaku dengan sikap nakalnya. Aku tahu ia cuma iseng, bukan sekali dua kali ia melakukan hal seperti ini, tapi bagaimana mungkin aku tidak berdebar ketika sepasang buah dada yang segar menempel di dadaku. Kemeja putihku seketika basah oleh keringat dingin. Celana dalamku terasa sesak, dan sesuatu di dalamnya mengeras lebih dari apel yang ada di atas meja. Ah, sialan! Aku suka bau keringat itu. Keringat yang menetes-netes di antara belahan dada. Dan bibir keringnya membuat air liurku tak tertahan. Aku ingin melumat dan membasahi bibir itu. Sekuat tenaga aku berusaha menahan diri ketika ia semakin menempel ke tubuhku.


"Haha, kamu horny ya?"


Astaga. Aku berusaha menarik napas ketika perempuan itu melompat ke meja kerjaku sambil meraih apel lalu menggigitnya berkali-kali tanpa rasa bersalah.


"Enak saja! Aku enggak sudi berciuman dengan perempuan yang enggak pernah mandi!"


"Kalau tidur?"


"Nggak!"


"Ya sudah."


Aku merebut apel di tangannya sambil berusaha terlihat biasa saja. Dasar wanita, gumamku.


"Dih, sialan!"


Sejurus kemudian ia menarik piring puding bunga matahari yang sudah penuh dengan semut.


"Hmm." Hel menatap puding itu beberapa menit. "Ibumu setia banget ya? Dia masih aja bikinin puding yang sama selama bertahun-tahun."


"Tentu. Ibuku orang paling setia."


Hel menyingkirkan satu persatu semut itu dengan tangannya. Butuh waktu beberapa menit hingga semua-semut itu hilang dan Hel memotongnya dengan sendok. Ia lantas mengunyah puding itu dengan lahap.


"Di antara beberapa hal di dunia ini yang tidak berubah, aku paling suka dengan puding ibumu ini yang tak pernah berubah. Hmm, puding ini seperti ibumu."


"Sudah kubilang ibuku setia."


"Aku tidak suka orang setia seperti ibumu. Aku lebih suka orang yang berubah-ubah seperti mamaku. Mamaku hebat."


"Hmm, terserah."


"Oke."


"Iya."


"Tapi aku suka puding ini."


"Jujur aku mulai bosan."


Perempuan itu menatapku cukup tajam.


"Apa?!"


"Kau mulai tidak setia, haha."


"Ini kan hanya puding."


"Tidak. Ini ibumu."


"Sekali lagi kau sebut ibuku. Kuterkam mulutmu!"


"Bilang aja pengen nyium."


"Cih!"


"Brengsek!"


Hel menggigit gagang sendok itu persis di depan batang hidungku.


***


Aku ingat, waktu itu di rumah kecilnya ia menggandeng tanganku. Kami akan bermain ular tangga di kamarnya yang mungil, tapi suara erangan entah dari mana, agak menggangguku. Dan sepasang boot coklat tua di teras, membuatku agak pusing.


"Biarin saja. Itu suara binatang lagi kawin." Kata-kata itu lantas keluar dari mulut seorang gadis kecil yang semakin kuat menggandeng tanganku kala itu–Helena, yang lebih sering aku panggil, Hel. Singkat dan cepat selesai. 


Helena kecil seperti neraka mungil dengan sepasang matanya yang lancip dan sorot yang tajam. Kulitnya putih pucat seperti salju yang dingin, terutama di bagian tangan dan kaki, kontras dengan kuku-kuku jarinya yang hitam tak terawat. Rambutnya yang kemerahan selalu lengket dan kusut. Hel bisa tertawa seketika seolah mendapat undian yang besar, lalu menangis seketika seolah-olah ada yang menyayat ulu hatinya tanpa ampun. Kemudian berteriak begitu saja, lalu diam seperti batu. Hel benar-benar seperti neraka kecil yang misterius.


Rumah Hel ada di seberang jalan yang tidak terlalu jauh dari rumahku, tepat di sebelah Wihara yang selalu dijaga anjing putih di luar pagar. Anjing yang kadang-kadang juga seperti menjaga Hel. Seringkali aku melihatnya mengejar sekelompok anak lelaki yang selalu mengejek Hel dan berteriak; anak pelacur anak pelacur! Keluarga jalang! Si putih--begitu aku memanggilnya, lari membelah pematang dengan gesit dan gagah. Bocah-bocah brengsek itu tunggang langgang. Sebagian tersungkur di atas tanah sawah kering yang retak-retak. Ingus dan air mata meleleh di wajah mereka seolah sebentar lagi mereka akan cair dan habis seperti lilin yang dilumat sumbu api. 


Entah mengapa orang-orang selalu membuat Hel sedih. Setahuku mama Hel hanya bekerja di tempat main biliar yang tidak begitu jauh. Aku tahu tempat itu karena aku dan mama pernah menjemput ayah yang sedang main biliar dengan rekan kerjanya di tempat tersebut, dan aku menjemputnya bersama mama karena hendak merayakan akhir pekan di restoran kesukaan kami. 


Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan orang-orang, atau waktu itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti? Apa salahnya kerja di tempat main biliar? Memang sesekali perempuan cantik bertubuh bagus itu diantar pulang oleh laki-laki yang berbeda. Kadang naik mobil mewah, kadang naik motor, kadang cuma diantar taksi kuning. Memangnya kenapa? Atau memang waktu itu aku benar-benar polos? Atau aku memang sungguh manusia polos?


Hel tidak punya ayah. Kalau aku bertanya, ia hanya bilang; ayah sudah mati dan kuburannya jauh. Jauh sekali. Di luar angkasa, di Merkurius, di bulan, di bintang, di luar galaksi. Akan tetapi mamanya akan marah jika ada yang menyebut Hel anak yatim. 


Helena sering juga bermain ke rumahku. Menuntun sepeda

dan menggantung buntelan kecil di stangnya. Isinya stroberi dan ceri. Aku memberinya sebungkus kuaci. Kami memakannya berdua. Di kebun bunga matahari di belakang rumahku. Aku tidak peduli anak-anak lain yang melintas berteriak mengolok-olok, Bastian banci! Bastian bencong! Mainnya sama perempuan!


Aku memang suka bermain dengan Hel. Aku bahagia setiap kali berada di dekatnya. Ibuku juga suka pada gadis kecil itu. Katanya, Hel adalah anak yang manis. Makanya setiap kali ia datang ke rumah, ibu membuatkan dua puding susu dengan cetakan bunga matahari yang sama besarnya. Ibuku akan memberikan apa pun untuk kami berdua dan membaginya secara adil. Seolah kami adalah kakak beradik yang memiliki hak yang sama. Entahlah, kadang aku berpikir ibu lebih polos dari anak kecil. 


Biasanya sambil menunggu puding mengeras, kami bermain di kamar. Aku mengeluarkan semua mainan. Mainanku banyak. Kebanyakan impor. Tentu saja semuanya mainan laki-laki. Dan Hel lebih mirip anak laki-laki ketika ia berhadapan dengan mainanku. 


"Ini boleh buatku?" Tanyanya sembari menunjuk pada mobil remote control


Aku diam cukup lama lalu menggeleng. Sebab mainan itu adalah hadiah ulang tahun yang ke-sepuluh dari ayah. Tentu aku harus menjaga dan merawatnya sendiri, bahkan mungkin dengan nyawaku. Meski aku tidak tahu pasti untuk apa aku melakukan itu?


"Pelit!"


Hel menunduk. Dia terlihat kecewa. Aku tahu, pertanyaan itu akan terulang esok hari. Setiap hari. Setiap waktu kami bermain-main. Setiap kali kami bersama.


***


Gadis itu berdiri tegak di atas pagar jembatan yang di bawahnya terdapat sungai yang penuh batu-batu besar. Jarak antara jembatan dan ke bawah sungai itu cukup tinggi, sehingga terlihat seperti sebuah lorong panjang gelap. Drama kematian yang cukup mengerikan akan terjadi seandainya ia jatuh, atau sengaja menjatuhkan diri. 


"Aku tidak takut seandainya aku jatuh ke bawah sana," ucapnya sembari menggosok hidung mungilnya dengan punggung tangan.


Aku tersenyum ketus. "Tentu saja, kau kan tidak waras."


Aku baru saja mentraktirnya minuman di sebuah club malam tua yang bertema Eropa kuno di dekat stasiun. Lalu ia berjalan sempoyongan, sambil sesekali meneriaki kereta yang melintas. Aku menguntitnya dengan menuntun sepeda motor. Tiba-tiba di jembatan yang terlihat sunyi itu, yang berada tidak begitu jauh dari club, ia menghentikan langkahnya. Sejurus kemudian ia sudah berdiri di atas pagar jembatan itu. Aku menahan diri untuk tidak mabuk setiap kali dia mabuk, karena aku harus tetap waras untuk menjaganya dan mengantarkannya pulang sampai rumah dengan selamat dan memastikan ia tidak terluka sedikit pun.


"Aku membaca novel 'Seratus Tahun Kesunyian' dan membolak-baliknya sebanyak lima kali. Aku hanya tertarik  pada bagian; Remedios yang dibawa pergi oleh angin karena kecantikannya. Sekarang aku membayangkan; aku ini adalah Remedios yang menghilang tiba-tiba dibawa pergi entah ke mana. Kadang-kadang aku sangat bosan dengan kehidupan, dengan kemiskinan, dengan penghinaan tetangga yang hanya jadi penonton. Aku bosan, Bas. Aku capek! Aku juga merindukan sosok ayah. Aku merindukan pelukan laki-laki."


"Aku bukan laki-laki?"


"Kamu sapi perah! Kadang-kadang aku juga capek memerahmu."


"Sialan!"


Tiba-tiba lututnya bergetar. Aku bisa melihat air matanya meluncur deras seperti anak-anak hujan yang jatuh dengan bebas, lalu hilang di permukaan bumi yang luas. Air mata Hel begitu bebas berjatuhan. Aku ketakutan luar biasa kalau-kalau tubuhnya benar-benar jatuh ke dasar sungai.


"Kau mabuk! Turunlah dari situ. Ini hampir larut malam. Aku akan mengantarmu pulang."


"Aku tidak mabuk, Bas!"


"Hmmm, sudah malam, Hel."


"Kau pasti takut ibumu marah, ya?"


"Emangnya ibuku pernah marah?"


"Iya. Ibumu baik, atau lemah? Aku ragu, haha."


Aku malas berdebat lagi, terutama jika ia sudah membahas ibu. Pikiranku sudah cukup terkuras dengan sikap Ayah yang belakangan semakin acuh terhadap ibu. Aku tidak ingin menambah kepusinganku dengan ocehan perempuan itu. Segera saja aku tarik tubuh tersebut. Kami pun jatuh berguling di atas jalanan yang sunyi.


Wuzz! Tiba-tiba sebuah truk besar melintas dengan ganas. Jaraknya hanya beberapa sentimeter dari tubuh kami yang masih menumpuk di atas jalan.


"Brengsek!" Gadis itu berteriak.

 

Kupikir dia tidak takut mati. Benar-benar gadis sialan.


***


Aku menghentikan motorku di depan Wihara. Anjing putih itu terbangun, lalu berlari kecil ke arah kami. Aku memberi isyarat, lalu ia kembali ke tempatnya tidur. Hel tertidur pulas di punggungku, aku menepuk pahanya pelan-pelan untuk membangunkan.


"Bangun, babi hutan. Udah sampai."


"Oke, sapi perah," katanya sambil terbata, lalu turun dari motorku.


Setelah memasang standar motor, aku segera membopong tubuh itu ke rumahnya. Sesampainya di depan pintu, aku menyandarkan tubuh yang masih dipengaruhi alkohol itu di tiang untuk menggeledah dan mencari kunci di saku baju atau celana jeans-nya.


"Jangan raba-raba. Masuk aja, nggak dikunci kok," ucapnya dengan mata masih terpejam.


Aku menggeleng kemudian membuka pintu dan membopong lagi tubuh itu. Benar saja, rumahnya tidak dikunci. 


"Helena pulang, Ma!" Ia berteriak malas-malasan.


Kami melewati kamar itu. Pintunya terbuka agak lebar sehingga aku bisa melihat dua orang yang sedang bergumul seperti sepasang binatang liar. Tentu saja aku sangat mengenali lelaki itu bahkan dari sepatu boot coklat tua tadi yang kulihat di teras. 


"Biarin saja. Binatang lagi musim kawin."


Hel menatap mataku, kemudian begitu saja bibirnya yang beraroma alkohol, melumat bibirku dengan nakal. Segera aku menggendong tubuhnya dan mengunci kamar rapat-rapat. Binatang sedang musim kawin, gumamku sembari melucuti pakaian Hel.


"Mau tidur denganku?" Tanya gadis itu dengan mata terpejam dan tubuhnya yang amat letih. 


Tiba-tiba bayangan ibu yang tengah mengaduk puding di panci yang panas, melintas begitu saja, dan wajahnya amat pucat, amat lelah. Seketika aku membenci kehidupan, membenci ayah, membenci Hel, termasuk membenci aku sendiri. Aku segera membuka pintu kamar itu, lalu berlari meninggalkan semuanya. Terdengar erangan entah binatang apa yang sedang kawin. Binatang tua yang terkutuk!


Tidak lupa, sebelum menghidupkan mesin motor, aku melempar sepatu boot coklat milik ayahku itu ke tong sampah. 


Dasar sampah!



2022


Penyair dan Puisi yang Terasing dalam Metaverse Riri Satria - Emi Suy

KONTRIBUTOR 5/29/2022

PENYAIR DAN PUISI YANG TERASING DALAM METAVERSE RIRI SATRIA

Emi Suy



 

Saya pernah menulis semacam ulasan singkat pada bulan November 2017 untuk Bang Riri Satria setelah acara peluncuran buku kumpulan puisi keduanya yang saya beri judul, Catatan Peluncuran Buku Winter In Paris di Ubud, Bali, 2017. Sepanjang saya mengenalnya, ada beberapa hal yang tidak berubah sampai sekarang. Salah satunya dan yang paling utama adalah perhatiannya terhadap hubungan manusia dengan kehidupan modern, dan saya menafsirkan itu sebagai penyair dan puisi yang terasing. Makanya, saya tidak heran jika ternyata ‘alienasi” atau keterasingan kerap menjadi tema puisi Bang Riri.

Ketika saya diminta memberikan epilog untuk buku kumpulan puisi terbarunya ini, tentu bukan tanpa sebab. Saya sangat mengenalnya sejak lama dan telah membaca banyak puisinya yang sudah terbit di berbagai buku, baik buku kumpulan puisi sendiri maupun bersama para penyair lainnya. Bahkan dalam berbagai kesempatan, saya sering mendengar pemikiran-pemikirannya tentang puisi dan hal-hal yang ia gelisahkan untuk ditulis ke dalam puisi.

Buku kumpulan puisi Metaverse ini adalah buku kumpulan puisinya yang keempat setelah Jendela (2016), Winter In Paris (2017), sebuah puisi yang ditulis dalam bahasa Inggris, serta Siluet, Senja, dan Jingga (2019). Di samping menulis puisi, Bang Riri juga menulis esai sastra dan buku tentang ekonomi, bisnis, hingga pendidikan.

Siapakah sosok Riri Satria? Ini adalah kombinasi seorang yang berkecimpung di dunia ekonomi, bisnis, teknologi, pendidikan, dan juga sastra. Selain berprofesi sebagai dosen di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, Bang Riri juga seorang Founder dan CEO Value Alignment Advisory Group, yang bergerak di bidang manajemen strategis dan transformasi digital, serta komisaris sebuah BUMN di PT. Jakarta International Container Terminal (JICT). Dalam kesibukannya yang luar biasa padat, ia masih menyempatkan waktu untuk menulis puisi. Hal itu adalah sebuah anugerah luar biasa.

Ketika saya tanya kenapa masih menulis puisi? Ia menjawab, karena puisi adalah bagian dari hidupnya. Jawaban yang sederhana tetapi dalam. Mungkin itulah yang membuatnya sangat bersemangat mengelola jurnal sastra daring Sastramedia.com serta komunitas Jagat Sastra Milenia. Puisi adalah salah satu pilar penjaga peradaban, demikian kata-kata yang sering ia lontarkan.

Selain menulis buku puisi, ia juga telah menerbitkan sebuah catatan mengenai bidang yang digelutinya sehari-hari, yaitu buku trilogi kumpulan catatan ringan “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri dari tiga buku terpisah tetapi dalam satu kesatuan. Tajuk yang digarapnya dalam tiga buku tersebut tentang (1) ekonomi, bisnis, dan era digital, (2) pendidikan dan pengembangan diri, serta (3) sastra dan masa depan puisi. Ada satu lagi bukunya yaitu Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis (2003) yang merupakan kumpulan tulisannya di harian Republika tahun 1999-2001.

Rupanya Bang Riri tetap kembali kepada sumber, yaitu sastra dan puisi. Walaupun kesibukannya berkecimpung dalam dunia ekonomi, manajemen, teknologi, dan pendidikan, tapi akhirnya bermuara di puisi juga. Itu menandakan bahwa jiwanya sebagai penyair tidak pernah padam.

Sejalan dengan itu, saya ingin menggarisbawahi satu hal yang saya ingat kembali dalam catatan tahun 2017 silam itu. Bang Riri selalu membutuhkan ruang ber“sunyi” untuk menghimpun energi agar bisa ditulis menjadi puisi, dan ia pernah mengatakan bahwa ia hanya bisa menemukan kembali dunia yang hilang justru ketika menulis puisi. Maka, kegelisahan yang lama itulah sebenarnya yang menjadi cikal bakal memuncaknya perasaan “kehilangan” itu dalam kumpulan puisinya yang terbaru ini. Kehilangan dan keterasingan di tengah-tengah deras lajunya peradaban, sebuah topik yang menarik pada seorang Riri Satria yang justru sangat akrab dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Saya merasakan kehilangan itu begitu getir saat membaca puisi demi puisi dalam kumpulan ini. Dengan bahasa yang lugas tapi menyimpan geram pada kenyataan, terkesan bagi saya seperti sedang melihat paparan gambar yang dipotret apa adanya, nyata, tanpa efek yang memanipulasi, tetapi lembut nuansanya dan menyajikan kontras yang tajam. Rangkaian puisi yang menggambarkan kondisi manusia seperti yang bisa kita baca pada teori-teori besar dunia dari yang modern sampai kontemporer, yang mengutip contoh-contoh peristiwa besar sehingga memungkinkan teorinya untuk diterapkan pada realitas. Kita seperti disuguhkan berita-berita dari berbagai kejadian di belahan dunia dalam maupun luar negeri yang menantang pikiran kita untuk turut mengambil peran. Bedanya di sini adalah bahwa fakta-fakta dalam puisi-puisi di buku ini tetaplah suatu ruang imajinasi. Bagaimanapun gamblangnya bahasa puisi, penyair selalu berupaya menyusupkan metafor di dalamnya, perumpamaan-perumpamaan yang mengundang imajinasi pembaca menyusuri keadaan kekiniannya yang aktual. Itulah metaverse seorang Riri Satria.

Tampaknya Bang Riri berusaha menangkap kondisi kekinian yang bisa saja sulit untuk diartikulasikan. Di sisi yang lain, masih banyak penyair berkutat pada citraan alam, atau hal-hal yang terkesan klise dan kuno. Riri Satria berusaha mengatakan apa yang terjadi sekarang dengan menyebutkan istilah-istilah dari teknologi baru, dunia digital, dan teori yang sedang banyak diperbincangkan di bangku-bangku akademik, atau hal-hal lainnya yang mungkin akan terdengar tidak puitis bunyinya bagi sebagian kita. Namun dengan ketekunan ia berhasil memasukkan dan memadukan kata-kata itu ke dalam puisi-puisinya dan menghasilkan rangkaian frase dengan diksi berbunyi yang unik. Tampak pada judul-judul puisi dalam buku ini, seperti Drone di Atas Khatulistiwa, Hacker, Dark Web, Proxy, Glock 19, Post Truth Society, serta Hitmen. Judul yang tidak lazim untuk puisi yang biasa kita temui.

 

Bang Riri berusaha merumuskan keadaan kekiniannya yang “hilang”, mungkin tercerabut, mungkin keadaannya terlalu gamblang sehingga ia merasa hanya sebagai bayang-bayang yang mencari kenyataan itu sendiri, atau sebagai hantu gentayangan yang mencari tubuh, atau sebagai pelancong yang berusaha pulang untuk kembali menemukan rumah yang jauh, atau terlampau berjejal hiperealitas itu sehingga ia menjadi bingung dan termangu sendirian. Tentu ada paradoks akan hal itu, sebagai orang yang sibuk dengan pekerjaan yang padat ia ternyata seorang penyendiri yang sunyi dan teralienasi. Sekali lagi, inilah metaverse seorang Riri Satria.

Sebuah pekerjaan yang tidak mudah bagi seorang penyair untuk mengucapkan kekinian zamannya, untuk bertempat tinggal lagi dalam bahasa yang telah menjelma menjadi aneka barang-barang dan pernik dari masyarakat konsumsi yang rakus ini, yang semakin terarah dan terbenam ke realitas digital, yang hidup dalam bayang-bayang apa yang dinamakan realitas baru atau metaverse. Bang Riri rupanya berusaha bertahan dalam kondisi yang serba “dalam pusaran gelombang” itu, ia sekuat tenaga tetap tenang untuk mencatat apa yang terjadi di sekelilingnya, walaupun ia juga terserap dalam arusnya.

Saya kira pada bagian yang lain, akhirnya Bang Riri kembali menemukan “rumah” puisinya yang terasa seperti residu dari kumpulan puisi sebelumnya, seperti kenangannya di Paris atau pergulatannya dalam Jendela (2016), masa-masa ketika ia suntuk merumuskan dan meramu puisinya. Riri Satria seakan telah menjelma menjadi seorang romantikus yang kembali bernostalgia tentang tempat-tempat yang jauh, tempat-tempat yang lama pernah disinggahinya. Ia berbicara mengenai tokoh-tokoh yang dikagumi dari masa silam, tetapi dengan nuansa yang lebih terisolir, lebih gelisah, lebih asing, seperti avatar di sebuah perbatasan atau malah dunia antah berantah kekinian. Hal itu tampak pada judul-judul puisinya, seperti Alienasi di Kota Paris, Eiffel, Hujan di Kota Paris, Surat dari Yerusalem, Aleppo, Kota Lama Semarang, Sedulur Semarangan, Jejak Puisi Kita di Banjarbaru, Kabut di Tembagapura, Kepada Bung Karno: Tentang Revolusi Kita, danSebuah Puisi untuk Bung Hatta: Tentang Keadilan Sosial.

Tegangan antara “batas” kesadaran penyair, puisi dan realitas kekinian adalah campur aduk perasaan yang mencari dengan gelisah, adalah sebuah kondisi terasing secara eksistensial dalam sebuah dunia hiperealitas. Namun ia masih tetap ingin hidup, barangkali itulah semangat yang penuh kemarahan tapi tetap punya harapan akan masa depan. Rupanya Bang Riri memang seorang penyair yang peka, seorang humanis, dan mungkin karena pengalaman hidupnya dalam dunia ekonomi dan kesadarannya akan pengetahuan dan ideologi dunia, akhirnya ia mengambil sikap agak sosialis dalam memandang realitas yang kini dikuasai oleh sistem kapitalisme global yang menciptakan keterasingan manusia itu. Mungkin ini dikarenakan Bang Riri terpengaruh sekolah di Prancis yang katanya agak sosialis.

Bang Riri memang cemas pada ketidakjelasan yang terjadi dalam kehidupan dunia modern ini, kemerosotan moral dan etika, ketidakadilan, kekerasan, ketimpangan sosial, kesenjangan ekonomi dan budaya. Hal-hal semacam itulah yang membuatnya merasa “hilang” dan “terasing”, bahkan keadaan psikologis seperti itu (mungkin) yang menyebabkan ia pun terasing dari puisi dan puisi terasing dari puisi itu sendiri. Hal itu tampak pada judul-judul puisi, seperti Ada Apa dengan Puisiku?, Puisi yang Gagal Lalu Mati, Puisimu Puisiku, serta Ketika Puisi Teralienasi. Inilah yang menarik dari seorang Riri Satria, seringkali menjaga jarak dengan pemikiran serta puisinya sendiri.

Walaupun begitu, ia tetap berusaha menangkap kekosongan dan menjadikannya puisi-puisi yang utuh untuk mengekspresikan pemikiran dan keresahannya. Baginya, puisi harus mengandung intelektualitas, dan karena itu ia berusaha mengenalkan puisi dengan diksi yang memiliki istilah-istilah yang mengikuti perkembangan pemikiran zaman ini.

Riri Satria di dalam kumpulan ini juga tak luput menuliskan puisi-puisi yang resah dengan kondisi pandemi, dengan ketidakadilan pada pihak lemah, serta kritik atas pemerintah. Dalam kumpulan puisinya yang terbaru ini, tentu saja dengan nuansa terasing yang mencekam, ia kembali menyadarkan kita akan makna kehidupan.

Metaverse Riri Satria yang menggelisahkan hidup ini juga mengundang kesadaran baru yang mengajak kita menjawab pertanyaan lama dengan pertanyaan yang lebih kritis menyangkut nasib kehidupan di era digital yang semakin berlapis dan rawan. Kita perlu mendengar kesaksian Riri Satria agar kita belajar dari “suara lain” itu tentang harapan hidup di masa depan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak boleh membuat keterasingan dalam kehidupan, ini bisa membahayakan.

Akhirnya, saya tidak perlu berpanjang lebar menemani pembaca untuk menyantap hidangan yang telah disuguhkan oleh Bang Riri Satria dalam meja perjamuan Metaverse ini yang terbagi ke dalam empat besar bagian menu, yaitu Algoritma, Alienasi, Dimensi, dan Avatar. Izinkan saya kutip salah satu puisi yang saya suka dari kumpulan ini, sebuah sajak yang gamang tapi nikmat, berjudul Puisimu Puisiku.


PUISIMU PUISIKU


Puisimu puisiku adalah ayat-ayat terlahir 

dari perjalanan di setapak kehidupan


Puisimu puisiku adalah jejak masa lalu, 

suara dari hati tentang diksi yang kita pungut 

di sepanjang jalan


Puisimu puisiku adalah letupan energi, 

tercipta dari emosi yang mengkristal 

melesat melebihi kecepatan cahaya 

meretas batas imajinasi 


Puisimu puisiku adalah jarak terpendek antara kita

menyatu dalam lingkaran harmoni, 

bergerak memenuhi ruang dan waktu


Puisimu puisiku adalah kata-kata bersenyawa 

dengan katalis gairah tarian semesta, 

yang selalu mengitari kita


Puisimu puisiku berjalan di dua garis lurus sejajar 

saling membagi radiasi tak pernah bertemu 

tetapi juga tak pernah saling menjauh


Puisimu puisiku adalah bilangan tak terdefinisi 

dalam geometri 

tetapi membangkitkan eksistensi ruang imajinasi 

di balik layar hakiki


Puisimu puisiku adalah puncak klimaks batin, 

meretas tanpa batas memahami bait-bait narasi besar 

penuh misteri di ruang tak bertepi


Puisimu puisiku adalah kristalisasi hati dan nalar 

penuh makna, dahsyat, walau tak mudah dipahami 

siapa pun, termasuk kau dan aku!


(Cibubur, 10 Januari 2016/2022)


Riri Satria telah menemukan dunianya yang hilang itu di dalam puisi, di dalam sunyi, tapi pada akhirnya ia merasa bahwa puisi juga telah kehilangan dunia dan terasing akibat arus teknologi maju dan peradaban modern itu. Ketika Riri Satria berada di perbatasan antara penyair dan puisi yang teralienasi berhadapan dengan hiperealitas dari dunia metaverse, ia menemukan kesadaran momen puitik tentang bagaimana mengucapkan dunia yang tengah berubah itu.

Saya kira, Bang Riri Satria sedang berusaha menggunakan pengetahuannya tentang teori-teori sosial, ekonomi, juga sains, dan berbagai disiplin ilmu yang diketahuinya untuk mengucapkan realitas dalam kumpulan puisi ini. Seperti apa yang dikatannya empat tahun silam, bahwa hidup adalah puisi yang tak pernah selesai, jadi tuliskanlah semuanya.

Selamat, Bang Riri untuk terbitnya buku kumpulan puisi Metaverse. Buku ini juga dimaksudkan untuk menandai ulang tahun Bang Riri yang ke-52 tahun, jadi saya juga mengucapkan selamat ulang tahun, sehat selalu, sukses, bahagia, dan tetaplah berpuisi.

Jakarta, April 2022

Bertemu Serkan - Benny Arnas

KONTRIBUTOR 5/22/2022

Bertemu Serkan

Benny Arnas




Di Bandara Lanarca, saya dan seorang pemuda petugas bandara dengan tanda pengenal di atas kantong seragam bertuliskan Serkan—ya, Serkan namanya!—terlibat perdebatan sengit yang tolol. Paling tidak, karena saya menggunakan bahasa Inggris dan ia ngotot bicara dalam bahasa Turki. Kalau saja seorang perempuan paruh baya berambut pirang berombak tidak mendekati kami dan meminta maaf kepada saya dalam bahasa Inggris dengan nada yang sopan mungkin saya benar-benar gagal tampak sebagai penulis cum pegiag literasi terkemuka di tanah air. “Maklumi anak saya, Tuan,” katanya ketika si Serkan justru pergi begitu saja. 


Ah saya jadi tak enak hati, meski tentu saya makin dongkol pada putranya. Kalau saja istri saya—yang sedari tadi sibuk membujuk Maura terus merengek karena stroler-nya tak kunjung muncul di putaran barang bagasi—tidak mengelus-ngelus punggung saya, saya pasti akan berteriak memanggil pemuda itu.


“Ini hari pertama putra saya bekerja,” lalu ia meneriaki Serkan yang sudah berjalan menuju ruangan bertuliskan Oversized Bagage. Pemuda itu menoleh, mengangguk, sebentar, lalu lanjut berjalan.


Dasar!


“Ayah juga harus minta maaf karena sudah berteriak-teriak tadi,” kata istri saya dalam bahasa Indonesia.


Saya pun mengikuti sarannya.


“Nah, itu dia!” seru perempuan itu beberapa saat setelah istri saya mengajak putri kami yang berusia 4 tahun itu ke toilet untuk mengganti pakaian kami dengan longjhon dan jaket yang lebih tebal.


Serkan sudah datang dengan sebuah bungkusan besar wrapping di tangan kanannya. Oh, itu adalah mini-stroler-nya Maura! Pemuda itu menyerahkan benda itu kepada ibunya tanpa menoleh ke arah kami sedikit pun. Mereka terlibat percakapan dalam bahasa Turki sekitar dua menit. “Serkan sempat melihat barang ini dan memutuskan memindahkannya ke ruangan khusus bagasi dengan ukuran ekstra.”


Saya menerima barang itu dan meletakkannya di lantai. Saya ingin protes, tapi saya pikir ibu itu belum selesai.


“Sebenarnya, sedari awal, sudah diumumkan bahwa barang-barang tertentu, termasuk stroler, bisa diambil di ruangan itu,” ia menunjuk ruangan oversized baggage tadi, tapi saya maklum. Anda sibuk sekali mengurus putri Anda yang berlarian ke sana-kemari sedari tadi.”


“Saya benar-benar tidak sadar,” kata saya. “Pengumumannya dalam bahasa Turki?”


“Turki, Yunani, dan Inggris.”


Oh. Saya tak enak hati. Saya juga baru ngeh kalau Turki dan Yunani diakui pemerintah Siprus sebagai bahasa resmi negara.


“Anda akan ke mana?”


“Belum tahu,” kata saya, bingung. “Saya tidak yakin rekan yang menunggui kami di luar sejak dua jam yang lalu masih di luar. Jadi, sangat mungkin kami langsung menuju hotel. Anda bisa membantu saya mengaktifkan WiFi bandara?” saya menyerahkan ponsel kepadanya.


Ia mengangguk. Tapi, malah menyerahkan ponsel itu ke Serkan sambil bicara dalam bahasa Turki. “Serkan lebih paham urusan itu,” kata perempuan itu. “Semoga dengan membantu Anda, Anda pun bisa memaafkannya.”


Saya menyeringai. “Anda sopan sekali, Bu.” Akhirnya tercetus juga pujian itu.


Dari arah toilet, Maura dan ibunya sudah muncul dengan tubuh berbalut jaket tebal. Seturun dari pesawat tadi, monitor pesawat memberi tahu kami kalau Lanarca bersuhu lima derajat. “Tapi, tidak ada salju,” kata salah seorang pramugari yang kami tanyai.


“Serkan sebenarnya bisa bahasa Inggris, tapi … yaaa … masih sangat terbatas—sebagaimana orang yang masih belajar. Apalagi Anda tadi tampak emosi sekali, mungkin Serkan jadi lupa semua pelajaran bahasa Inggrisnya.”


Saya mengangguk-angguk. Sekarang, giliran saya yang merasa bersalah.


“Sir, you want it to be used right now?” Ah, bagai hendak mengonfirmasi kata-kata ibunya, Serkan bicara dalam bahasa Inggris yang menurut saya sangat baik. Ia menunjuk stroler Maura yang masih di-wrapping di lantai setelah menyerahkan ponsel saya yang mengeluarkan puluhan bunyi denting.


“Anda bisa mencarikan saya cutter?” pinta saya dengan mata tak beralih dari stroler. Tampaknya petugas wrapping di Cengkareng membalut benda itu dengan kuat sekali sehingga besi rakitannya tidak goyang sedikit pun. 


Serkan menggeleng. Ia mengangkat stroler dan menyobek plastik wrap dengan kedua tangannya. Oh, tidak itu saja. Ia bahkan langsung merakitnya. Tidak sampai satu menit, Maura sudah duduk di sana.


“Mia,” perempuan itu menyebut namanya ketika istri saya seperti merasa perlu berkenalan ketika kami memutuskan akan meninggalkan ia dan putranya. “Lima puluh meter ke arah kanan pintu keluar, Anda bisa menggunakan ATM apabila kalian belum memiliki euro,” katanya.


“Lev dan lira?” kata saya.


Mia mengangguk. “Di ATM yang sama.”


“USD?”


“Ada di sisi kirinya, tapi sedang macet,” kata Serkan. Pemuda itu tampaknya sudah mulai santai.


Kami pun melambaikan tangan dan meninggalkan mereka. 


Di gerbang kedatangan, pemandangan bandara yang tidak terlalu ramai membuat kami bingung. Banyak sekali konter yang mirip ATM dengan keterangan dalam bahasa Yunani. 


“This way!” suara seseorang di belakang mengejutkan kami. Oh, Serkan.


Kami tak sempat bertanya mengapa ia masih mengikuti kami karena kami keburu mengikuti langkah kakinya yang besar-besar. Ia lalu berhenti di sebuah ATM dan jongkok di hadapan Maura. Ia mengeluarkan boneka mungil berbentuk kuda poni berwarna pink. Maura cekatan mengambilnya. Ketika Serkan mencium Maura, gadis kecil kami itu tak sempat menghindar karena semuanya berjalan begitu cepat. Maura menghapus bekas ciuman di pipi kanannya dengan kuda poni pemberian Serkan sehingga kami semua tertawa. Maura pasti bingung sebab orang asing—termasuk Serkan—tidak diizinkan mencium dan menyentuh area pribadinya. Ia sudah terlatih untuk itu. Saya sudah membayangkan, di perjalanan nanti, harus mempersiapkan jawaban kenapa kami “mengizinkan” Serkan menciumnya.


Pemuda itu melambaikan tangan dan setengah berlari ke gerbang kedatangan tadi, tanpa peduli dengan ucapan terima kasih yang kami teriakkan. Kali ini Maura sibuk mengelap pipi kanannya dengan lengan jaketnya.


“Tumben Bunda nggak ikutan marah pas kami berdebat tadi?” kata saya beberapa saat setelah mesin ATM mengeluarkan 7000 lira. Saya memutuskan batal mengambil lev sebab baru besok atau paling telat lusa kami terbang ke Sofia, sementara saya masih memiliki stok euro yang cukup untuk bertahan beberapa hari di sini.


“Lain kali Ayah tidak perlu emosi seperti tadi,” kata istri saya seraya menyimpan lira ke yang baru saya berikan ke dalam dompetnya.


Saya mengangguk dengan malas. “Eh Bunda belum menjawab pertanyaan Ayah,” tagih saya.


“Kasih tahu, Bunda,” katanya sambil mendorong stroler, “pernah, nggak, selama perjalanan Ayah ke luar negeri, menemukan pemuda setampan Serkan tadi?”


Asem! “Jangan bilang kamu menyesal dilahirkan lebih cepat, ya, Bun?” saya merangkul pundaknya. “Tapi Bunda boleh berdoa agar kita ketemu lagi dengannya.”


Istri saya mendongak. “Hei, Ayah tak menangkap maksudku?”


Saya menggeleng. “Ada yang salah?”


“Bunda mau tanya,” nada bicaranya terdengar lebih dalam. “Sebenarnya kenapa Ayah ngotot membawa kami dalam residensi menulis di Siprus ini?”


“Karena Anatolia dekat sekali dari sini, Bun.”


“Trus?”


“Bunda tidak bermimpi memandangi secara langsung keindahan Kapadokia di antara balon-balon terbang warna-warni?”


“Buat apa itu semua, Yah?” suaranya meninggi. “Bunda nggak …”


“Bun?” saya tahu, kening saya berkerut ketika memanggilnya dengan sedikit tekanan—peringatan.


“Bunda tak tahu,” ia menghela napas, “apakah Ayah lupa, amnesia, atau tak peduli dengan permakaman Jamani dua minggu lalu?”


Oh. “Maafkan Ayah, Bun,” saya merasa bersalah, meski belum mampu menyambungkan berpulangnya adik istri saya sebulan yang lalu dengan percakapan kami tentang Serkan tadi.


“Sudahlah,” ia mengibaskan tangan. “Sekarang fokuslah ke narasumber yang sudah menunggu kita dua jam-an tadi. Dia benar-benar pergi? Yakin dia hanya mengandalkan email dan tak punya ponsel?”


Saya celinguk-celinguk dan, setelah melihat ulang foto Charalambros (ah, nama Siprus yang unik!) yang saya unduh dari surelnya sebulan lalu, tampaknya pegiat literasi yang mengaku masih mewarisi darah Orang Kitim yang cerdas benar-benar sudah meninggalkan bandara itu.


Di konter pusat informasi, saya bertanya tentang taksi, kartu provider setempat yang bisa kami gunakan, dan hotel bintang lima terdekat. 

 

“Mr. …?”’perempuan petugas informasi itu tiba-tiba menyebut nama saya. “Your taxi is ready.”


Lho? Kami tidak memesan taksi, saya hanya … 


“Your sponsor, Sir,” katanya seperti menangkap kebingungan saya. “Satu lagi,” katanya masih dalam bahasa Inggris yang gagal menanggalkan aksen setempat. “Tuan Charalambros memilih menunggu Anda di hotel.”


“Alhamdulillah,” batin saya. “Ayo Bun, kita keluar,” teriak saya ke istri saya yang tampak kewalahan melayani pertanyaan Maura tentang apakah boleh laki-laki asing menciumnya hanya karena memberinya boneka yang lucu. 


“Ini siapa?” cecar istri seraya menunjukkan foto laki-laki 20 tahunan di ponselnya ketika kami sudah berada di dalam taksi. Tampaknya ia sudah berhasil memuaskan Maura. Paling tidak, untuk sementara.


“Mendiang adik laki-lakimu,” jawab saya seraya membukakan kotak cokelat kedua untuk Maura. “Ada apa, Bun …”


“Lihat lagi, Yah,” desaknya.


Saya mengambil ponselnya.


“Lihat latar foto itu dengan saksama.”


Saya mengerutkan kening. Bandara, orang dan orang-orang asing yang lalu lalang dalam foto itu …


“Sudah paham sekarang?”


Saya membelalak—dan mati kata.


“Bagaimana bisa Jamani hidup lagi dan bertengkar denganmu barusan, hah?”


Oh.


“Bagaimana Ayah tidak peka sedikit pun?”


Saya merasa bersalah di tengah perasaan aneh yang merundung.


“Bunda tahu,” suaranya terdengar datar, “Ayah mengajakku ke Kapadokia agar aku tidak terus dirundung kesedihan memikirkan kepergian adikku satu-satunya yang meninggal dalam kecelakaan di jurang yang tak sanggup kulihat jenazahnya karena kata petugas wajahnya tak tak bisa dikenali karena tubuhnya menghantam tebing tajam dari ketinggian 160 meter. Apakah …?”


Kepala saya pusing. Perut saya menjadi mual. Lalu lengan kanan saya jadi sasaran pukulan perempuan itu. Ia menangis keras. Meraung-raung. Maura yang bingung ikut-ikutan menangis.


“Turn back to the airport, please,” teriak saya kepada sopir. 


Ya, kami harus bertemu lagi dengan Serkan. Meski aku tak tahu untuk apa.(*)


Istanbul,  2022

SAJAK