ESAI

KABAR

KRITIK SASTRA

TERKINI

Mencari Sastra yang Berpijak di Bumi: Sastra Kontekstual - Arief Budiman

ADMIN SASTRAMEDIA 11/15/2019
Mencari Sastra yang Berpijak di Bumi: Sastra Kontekstual
oleh Arief Budiman
Mencari Sastra yang Berpijak di Bumi: Sastra Kontekstual - Arief Budiman

SASTRAMEDIA.COM - Penulisan karya sastra memang harus diarahkan kepada pencapaian yang indah. Tapi persoalannya, apakah yang disebut indah itu sama untuk semua orang. Di sinilah muncul gagasan tentang apa yang di sebut sebagai sastra kontekstual. 

Sebelum berbicara tentang sastra kontekstual ini, saya ingin mengubah konsep yang indah ini dengan yang berarti. Yang indah memberi kesan nilai yang indrawi, sedangkan yang berarti mengandung pengertian yang lebih luas. Sastra yang baik adalah sastra yang berarti bagi seseorang. Apakah arti sastra tersebut didasarkan pada rasa keindahan, atau rasa pengalaman religius, atau rasa rangsangan untuk lebih bersemangat dalam menghadapi hidup yang gombal ini, semua ini terpulang kembali pada si penikmat sastra. Sastra yang baik jadinya adalah sastra yang punya arti bagi penikmatnya. 

Kalau kita membagi masyarakat manusia ini menjadi kelompok-kelompok maka kita mendapatkan macam-macam variasi. Ada kelompok manusia Timur dan Barat, ada kelompok manusia Jawa dan Batak, ada kelompok manusia kota dan desa, ada kelompok manusia miskin dan kaya, ada kelompok manusia Jawa zaman dulu dan sekarang, dan seterusnya. Dalam tiap-tiap kelompok ini, dapat kita katakan bahwa citarasa warganya relatif sama. Dalam menghadapi kehidupan, apa yang berarti dan apa yang tidak bagi orang-orang Jawa yang tinggal di desa sekarang, relatif sama. Demikian juga dengan warga dari kelompok yang lain. 

Kalau kenyataan ini diterima, maka dengan cepat dapat kita setujui sebuah kesimpulan umum bahwa nilai tentang apa yang berarti bagi manusia tidaklah sama di mana-mana dan di sepanjang waktu. Tidak ada nilai yang benar-benar universal. Yang ada adalah nilai yang kontekstual. 

Apa yang terjadi dalam kesusastraan modem kita pada saat ini? Tampaknya ada kepercayaan yang kuat di kalangan sebagian besar sastrawan kita bahwa mereka sedang menciptakan karya-karya sastra yang memiliki nilai yang universal. Artinya, karya sastra mereka punya arti bagi semua orang, dari zaman dulu sampai zaman yang akan datang, di Indonesia maupun di luar negeri, di Jawa ataupun di Irian, pada orang-orang miskin maupun orang-orang kaya. Kalau mereka tidak berhasil memenuhi kriterium keuniversilan ini, maka ada dua kemungkinan. Pertama, orang-orang yang tidak dapat menikmati karya-karya mereka dianggap sebagai orang bodoh, yang masih perlu di "up-grade”. Kedua, karya-karya mereka belum bermutu, karena hanya baru di hargai di kalangan mereka sendiri. 

Maka, dalam kerangka pemikiran sastra universil, yang dihasilkan adalah kombinasi perasaan dalam diri pengarangnya, antara rasa sombong yang berlebihan (sambil membodoh-bodohkan bangsanya sendiri yang gagal menghargai karya sastranya) dan rasa rendah diri (biasanya karena karya-karyanya belum dapat dihargai oleh orang-orang Barat). Kombinasi perasaan megalomaniak dan rendah diri inilah yang sekarang sedang menjangkiti rata-rata pengarang Indonesia. 

Padahal, yang sebenarnya sedang terjadi adalah gejala keterasingan para pengarang Indonesia terhadap lingkungannya. Pengarang Indonesia (yang sudah jadi) lupa bahwa mereka adalah anggota kelas menengah bangsa ini yang hidup di kota. Karya-karya mereka hanya beredar di kalangan kelas menengah di kota yang mencapai taraf pendidikan tertentu, karena para pengarang Indonesia, sadar atau tidak sadar, memang mengarahkan karya-karyanya kepada konsumun golongan ini. Kalau karya-karya mereka tidak dapat dinikmati oleh para petani di desa, ini samasekali bukan salah pengarang tersebut, dan juga bukan karena si petani bodoh dan tidak mengerti sastra. Gejala ini hanya mencerminkan bahwa kedua golongan sosial ini memang hidup dalam dua realitas yang relatif berlainan. Untuk dapat dinikmati oleh para petani, si pengarang kota memang harus terjun ke dalam dunia petani di desa-desa dan mencoba memahami apa yang berarti dalam dunia petani tersebut. Sebaliknya, untuk dapat menikmati karya-karya sastra kelas menengah kota, si petani harus "dididik” menjadi orang kelas menengah kota juga. 

Menghadapi kenyataan ini, adalah salah untuk menyimpulkan bahwa si petani tidak mengerti sastra. Mereka juga memiliki sastra mereka sendiri. Barangkali bukan sastra yang dicetak dalam buku-buku puisi atau buku roman yang sekarang banyak beredar di toko-toko buku, karena dunia cetak memang bukan bagian dari realitas kehidupan mereka. Barangkali sastra mereka adalah cerita-cerita yang disampaikan dari mulut ke mulut dalam suatu pertemuan kekeluargaan, atau pertunjukan-pertunjukan di pentas yang ceritanya mereka buat sendiri, atau cerita lama yang mereka tafsirkan lagi. Orang kota memang sulit memahami kenyataan ini, dan cepat-cepat menarik kesimpulan bahwa petani-petani di desa tidak memahami sastra. 

Kalau begini yang terjadi, maka yang kita hadapi sebenarnya adalah diktator nilai sastra kelas menengah (tentu saja harus kita sadari juga, kelas menegah ini tidak bersifat homogen, tapi juga sangat heterogen). Apalagi karena kelas menegah ini menguasai media massa, menguasai pasaran, merupakan konsumen-konsumen yang mau dan mampu membeli — tidak heran kalau nilai-nilai kelas menengah ini menguasal kesusastraan Indonesia. Kalau kita kurang kritis dan tidak waspada, kita dengan mudah mengira bahwa nilai-niilai sastra kelas menengah ini merupakan nilai yang universil. 

Karena itu, perlu sekali kita mengembangkan apa yang disebut sebagai sastra kontekstual. Dalam sastra jenis ini, para sastrawan sadar benar bahwa dia mencipta untuk kelompok konsumen tertentu. Dia tidak berpretensi bahwa karya sastranya akan dinikmati oleh seluruh umat manusia, karena dia sadar dia bukan seorang superman yang dapat terbang keluar dari kenyataan konteks sejarahnya. Dia tidak kecewa kalau dia tidak berhasil memenangkan Hadi ah Nobel, karena dia tahu bahwa hadiah itu adalah untuk jenis karya sastra tertentu, yakni sastra orang-orang Barat, meskipun Tagore dan Kawabata berhasil memenangkan hadiah tersebut (karena sedikit banyak mereka memenuhi standar penulisan orang-orang di dunia Barat). 

Saya merasa, setelah kita cukup lama terperangkap dalam konsep sastra universal, sudah waktunya kini kita mengembangkan konsep sastra kontekstual. Dalam bayangan konsep sastra kontekstual ini, bukan saja kita dapat menyembuhkan penyakit rendah diri yang berkombinasi dengan rasa megaloman, tapi kita juga dapat menjadi lebih kreatif karena kita dapat menemukan kembali kekuatan-kekuatan kita dan keterbatasan-keterbatasannya. Hanya dengan sikap seperti ini, saya merasa, kita dapat melangkahkan kaki kita lagi, karena kini kaki ini berpijak kembali di bumi yang nyata, tidak melayang mengawang. 

Salatiga, 16 Desember 1984

Sajak-Sajak M. Nasruddin Anshoriy Ch

ADMIN SASTRAMEDIA 11/12/2019
Sajak-Sajak M. Nasruddin Anshoriy Ch


Sajak-Sajak M. Nasruddin Anshoriy Ch

PRASASTI

Sebuah prasasti telah berdiri
Dan seratus panah beracun dilepaskan
Maka hutan ini menyala

Kita tak tahu dimana kita berada
Hanya anjing menyalak dimana-mana
Seorang ibu menggendong bayi
Tertembak di jantungnya
Dan anjing menyalak dimana-mana

Hutan sudah terbakar, Saudaraku
Dan kita terkepung api
Maka diam berarti bunuh diri

Anjing sudah menyalak dimana-mana
Juga di seluruh rimba ini
Kita tak mungkin terus berlari
Sebab duri berada disana-sini

Darah sudah mengental, Saudaraku
Maka prasasti harus berdiri

8.2.1989

DOA DEWA RUCI

maka kutinggalkan engkau
hutan-hutan yang lebat berkabut
ketika kelelawar menyapu malam
kutinggalkan engkau sendiri
kutinggali sekarung duri

kucari embun abadi
sendiri di alam sendiri

kudengar suara senapan
dan darah menetes dari kain sarung
selusin bayi terkapar
dan kalian tertawa-tawa melihatnya

di rimba ini aku semakin benci
di rimba ini tak ada kata hau

Jakarta, 7.2.1989.

PESTA KAUM LAPAR

ternyata kita belum mati
rubuh berkali-kali
pertempuran tak kunjung henti

inilah pesta kaum lapar
melempar-lempar batu
satu terbunuh

seribu membunuh

sebab nasi adalah birokrasi
dan mati adalah nyali

maka berdansalah kaum lapar
berguling-guling di dingin malam
bergerilya di kegelapan

dan rembulan mengintip diam-diam
sebab berani berarti subversi

8.2.1989

KEPADA ANAKKU

engkau lahir dari pori-pori waktu
ketika ibumu memecahkan periuk dan
bapakmu menguburkan seratus mayat
tapi engkau tetap lahir dan bersiul
meski matamu persis matahari tegak
mengintai malam menelan rembulan

ibumu selalu membaca surat yusuf
surat lugman surat mariam ketika

kau meringkuk lelap di balut perut
sementara bapakmu tak henti-hentinya
belajar silat dan bernyanyi-nyanyi

kini kau sudah jadi kakek-kakek me
nimang-nimang nenek-nenek, anakku

1989


KALIAN MASIH BELUM

Coba katakan apa yang kalian mau
bersandar di dinding waktu sambil
menghitung-hitung kekalahan atau
kelaparan yang tak habis-habisnya
sedang Matahari telah lama lewat

Kalian masih belum. Kalian semua

Masih ada yang hendak aku katakan
rumput-rumput yang kalian cabut
serta udara yang kita hirup bersama
sama sebelum papan catur kita
bentangkan dan bidak-bidak mulai
bertarung sepanjang malam.

Kalian masih juga belum, ternyata!

Kalau tak kuat kenapa diangkat
andai tak hebat kenapa bersilat dan
ternyata kalian hanya mau berdebat
Padahal dunia itu sudah lama aku
tinggalkan dan dinding itu sudah
lama pula aku robohkan tapi kalian
tetap saja belum.

1989

Pulang - Korrie Layun Rampan

ADMIN SASTRAMEDIA 11/09/2019
Pulang
oleh Korrie Layun Rampan

Pulang - Korrie Layun Rampan

SASTRAMEDIA.COM - Kesenyapan gemeretak di bawah terik matahari, Akar-akar rimba melayah mencengkam bumi. Di kejauhan terdengar gemeretuk suara-suara pohon dirobohkan, Di arah lain ada siul burung dan suara teriakan kera. Selebihnya hanya sepi yang meriung dan suara angin menerpa keluasan rimba saya. 

Ke arah dalam menjalur jalan menusuk hutan. Di kiri kanan jalan bertumpukan batang-batang pohon yang dirobohkan. Beberapa bagian terdapat bencah-bencah yang membasah, di arah lain tanah-tanah mengering dengan warna tem baga. 

Pada jalur jalan terlihat bekas ban traktor membenam di tanah. Gurat-guratnya menegas di bagian-bagian bencah yang membasah. Ke arah dalam jalan itu bercabang, masing-masing menusuk jauh ke dalam rimba. 

Lelaki muda itu melangkah tertegun-tegun. la yakin bahwa jalan itu akan lebih bercabang lagi kian dalam me masuki hutan itu. Pastilah tumpukan gelondong kruing, meranti dan kamper yang terdapat mengitari barak-barak pekerja adalah hasil tebangan dari hutan itu. Truk-truk raksasa mengangkut gelondong-gelondong itu dari hutan-hutan dalam dan menjatuhkannya di tepi sungai. 

Lelaki itu merasa asing dan terpencil. Dahulu ia karib dengan hutan itu. la senang berburu dan bermain-main di huma-huma tinggal. Tetapi kini, di saat ini, hutan ini telah berubah wajah. Pohon-pohon raksasa tak terlihat lagi, batang-batang yang kecil pun banyak terobohkan, terlindas rebahan tebangan. 

"Untuk apa kemari?” terdengar su ara dari sisi. Lelaki muda itu menoleh. Dari arah jalan setapak terlihat beberapa gadis dengan beban di punggung. 

"Jalan-jalan, katanya. "
”Ingin melihat-lihat, Rindu bekas kaki dulu...."

“Kak You,” kata yang lebih depan. 
"Mari ke lou," 
"Aku hendak ke huma pak Janta. Ini Bu Guru...." 
"Ingin mencari sayur. Di huma banyak ketela, timun dan semangka." kata guru muda itu. 

Lelaki muda itu seperti melihat masa kecil yang masak dahulu, Berlari-lari di rimba-rimba dan hutan-hutan muda yang tertinggalkan. Pergi ke hutan-hutan jauh. Tetapi kini ia merasa asing. Semua nya serba lain. 

"Aku sama sekali tak percaya kau bisa ada di sini,” kata lelaki muda itu. 
“Sama sekali tak masuk akal....” 
"Kan sudah kukatakan, Aku ingin mengabdi. Aku ingin menjadi guru di desa." 
"Tetapi tak kukira kau ada di sini" 
"Aku mendaftar ketika ada pengumuman. Aku disuruh memilih. Aku ingat nama kampungmu. Aku memilih di sini." 
"Kau benar-benar menyiksa diri!” 
''Justru aku merasa bahagia. Ibu bapak di Yogya juga mencegahku pergi. Tetapi aku nekad saja. Bahkan kau tak kubilang." 
"Dua belas tahun aku tak pernah menjenguk kampung halaman. Tidak kusangka kau di sini. Dulu belum ada sekolah. Aku harus jalan kaki ke kecamatan. Empat jam. Bayangkan, empat jam jalan kaki, selama enam tahun!" 
"Memang sekolahnya baru dibuka. Kebetulan aku sendiri yang mendaftar ke sini. Aku guru pertama dan satu-satu nya hingga kini." 
"Menakjubkan. Kau berani berkorban. Kau tidak kesepian?” 
"Aku senang dengan murid-muridku yang lucu-lucu. Tetapi yang agak me risaukan, kebanyakan anak-anak itu lewat usia duduk di kelas satu. Namun apa boleh buat. Aku bukan tipe orang yang suka melamun. Karena itu aku per. nah merasa kesepian.” 
"Aku yakin kau pasti mengalami ba nyak mengalami kesulitan.” 
"Aku senang memecahkan masalah. Justru di situlah seni hidup ini.”
"Kau memang keras kepala."
"Itu tabiat yang tak bisa diubah. Kau sudah tahu sejak dahulu. Siapa yang berani terang-terangan menentang dosen Killer kita di Yogya?"'
"Aku tahu itu. Aku tahu cita-citamu. Kekerasan hatimu, Tetapi yang mengherankan aku, kau sampai betah di sini!"
"Mula-mula aku memang tidak yakin akan ketabahanku. Aku ingin mencoba dulu. Tetapi dari hari ke sehari, aku rasanya betah. Kuusahakan memberi pengertian tentang hidup yang lebih layak. Tentang arti kebersihan, perbaikan gizi, pengobatan dan kegunaan pendidikan. Kau tahu, aku suka antropologi.” 

Angin mendesaukan daun-daun pohon hutan. Keduanya hampir memasuki batas huma baru. Di jauhan masih terdengar robohan pohon-pohon berdegaran menggetarkan bumi. 
"Tentu engkau sudah mendengar mitos nenek moyang di sini?" 
"Tentang Ranying Mahatala Langit?" 
"Kau sudah tahu namanya? Pencipta jagat ini, kan?" 
''Aku juga diceritakan mengapa pen duduk di sini memakai bulu burung enggang dalam ritual dan tari-tarian. Burung enggang punya hubungan dengan mitos suku..." 
"Ya, ya. Kau tentu pernah diceritakan tentang Menyamelimuti Garing Balua Unggom Tingang. Pemudan yang berasal dari lumut putih burung enggang betina.” 
"Dulu kau sendiri pernah cerita ten tang mitos itu. Tentang asal usul pohon hayat. Ingat kan, di Yogya?”
"Yang kau maksud tentang burung enggang jantan-betina yang berkelahi dan menemui ajal. Tulang-tulang mereka yang mengalir di Sungai Tambarirang, menjelma menjadi hayat kampung baka -yang menjamin kehidupan abadi bagi jiwa-jiwa orang mati. Ya, kan?” 
"Memang begitu. Dan dari semua itu lahirlah tiga anak lelaki yang kemudian mendiami tiga tingkat dunia. Dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah. Aku asyik sekali kalau sedang diceritakan Pak Petinggi."
"Itu yang membuat kau betah di sini?” 
"Banyak hal. Yang utama aku selalu inginkan kemajuan dalam kesederhanaan. Kita harus mulai dari alam, belajar dari alam, dan menaklukkan alam mengelolanya untuk keserasian lingkung an hidup ini." 
"Tetapi kau tak terbiasa dengan alam yang sesungguhnya?" 
“Nyatanya aku bisa hidup di sini" 

Tak terasa keduanya telah tiba di huma. Lelaki muda itu terpana memandang huma-huma bekas, tunggul-tunggul yang hangus terbakar dan batang-batang pohon yang tersisa. Bagian huma-huma lama, hutannya rusak dan menjadi muda. Bagian huma baru, terlihat pohon-po hon singkong, pohon pisang dan sayur-mayur menghijau. 

"Kau tak terbiasa dengan cara peladangan semacam ini, kan? Bebanmu terlalu berat, Kau harus memberi pengertian agar orang kampung tidak berladang berpindah-pindah.” 
"Sudah kumulai. Kita tidak mungkin mengubah sesuatu secara revolusi. Aku tahu, mereka di sini memerlukan contoh. Kan kau bisa memberi teladan itu?” 
"Aku tak mungkin tinggal di sini. Kau tahu aku di sini hanya sebentar. Besok aku akan kembali lagi ke Jakarta. Aku...." 
''Jadi kau tak mau menemani aku di sini?” 
"Katamu. kau tak kesepian. Bukankah kau pergi tak memberitahukan aku? Kau tentu sudah menyiapkan dirimu. Kau berani berjuang sendiri." 
"Bukan karena aku kesepian. Tetapi kau lebih tahu dari aku. Kau pernah cerita tentang berlian. Mereka di sini tetap belian, sebab tak ada dokter atau perawat. Satu-satunya usaha pengobatan tradisional, adalah belian itu. Aku prihatin sendiri belum bisa berbuat banyak. Aku hanya punya satu badan," 

Lelaki muda itu menatap tepat di mata gadis muda itu. Baru kemudian ter. dengar suaranya, 

"Selama tiga hari aku di sini, aku kagum dengan kau. Kau dilontar ke sebuah dunia yang asing, tetapi kau bisa menerimanya dengan tulus dan keterbukaan. Aku merasa aneh, bahwa kau bisa berintegrasi." 

"Kau seperti tak pernah sekolah sa ja. Kau tahu bahwa aku bekerja dengan keyakinan bahwa aku membangun aku. Aku bekerja di sini, demi bangsaku sendiri. Demi kemajuan kita bersama, Ini terasanya idealistis dan muluk. Tetapi ini tekadku. Kita harus memulai dari keyakinan." 
"Ya, Ya, karena itu pula aku kembali ke Jakarta. Kau berjuang di sini, aku berjuang di sana. Sama saja, kan?" 
"Tidak sama, Di Jakarta hutan manusia. Di sini hutan alami. Di Jakarta orang menggusur orang, di sini orang menggusur hutan. Kau lihat hutan-hutan muda perlu direboisasi. Hutan bekas tebangan HPH perlu di reranting. Para peladang perlu diberi pengertian. Para pemegang HPH perlu disadarkan!" 

Memang selama tiga hari ini keduanya selalu terlibat dialog yang tak henti. Lelaki muda dan wanita muda itu memang sangat akrab selama mereka kuliah di Yogya. Tetapi yang wanita segera menghilang setelah lulus, yang lelaki sia-sia mencarinya. la lari ke Jakarta. Di kota metropolitan itu, lelaki muda itu menemukan tempatnya berpijak. Dan baru sekaranglah ia berkesempatan balik ke kampung halamannya, setelah dua be las tahun ditinggalkannya. 

Ketika keduanya hampir tiba di lou terdengarlah irama musik belian sedang ditabuh. Lelaki muda itu menapak jalan kecil itu dengan tertegun-tegun. Ia membayangkan masa kecilnya dahulu, menapaki jalan itu juga. Masih lou itu juga, masih keterbelakangan itu juga, Walau ada barak-barak pengusaha HPH, traktor dan truk-truk serta peralatan elektronik dan jalan-jalan di hutan raya, tetapi semua itu terpisah dari keadaan kehidupan orang desanya. Mereka tetap hidup seperti dulu-dulu mengayuh jakung di sungai-sungai, menebang pohon dengan beliung, menyugi, merokok daun enau. Lelaki muda itu seperti tersadar dari kebodohannya. Ia merasa betapa bodoh dirinya.

Ada yang berperang dalam dirinya, dalam batinnya. Sesuatu yang menyentak dari bawah sadarnya. Ketika guru muda itu mengantarkannya esok harinya untuk kembali ke Jakarta, lelaki muda itu masih merasa ada sesuatu yang tidak beres. Batinnya berperang dengan hebat. 

Dengan ragu ia menjabat tangan gadis itu dan mengucapkan selamat tinggal 
"Menangkan cita-citamu,' katanya. Gadis itu memandangnya dengan berbinar. 
“Tetapi kau kembali lagi, kan?" Lelaki itu seperti tersentak. Ia memandang wajah gadis itu seperti menanamkan keyakinan. 

"Aku akan kembali!” terdengar suaranya bersemangat sambil menggenggam tangan gadis itu seperti tak mau melepaskannya. 

Di timur matahari memancar dengan hangat. 

Jakarta, 17 Juli 1982.