Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Gerakan Golongan Putih - Kurnia Gusti Sawiji

@kontributor 6/09/2024

Gerakan Golongan Putih

Kurnia Gusti Sawiji

 


Pesan itu muncul melalui salah satu media sosial saya, dan isinya terlalu panjang untuk dikatakan sebagai surat pembaca. Terlalu rumit, kaku, dan teoretis; ia lebih mirip sebuah esai. Mengintip profil si pengirim pesan, yang saya temukan adalah foto seorang wanita muda anggun berusia 20 pertengahan bernama Aina Maiazora. Dari cara berpakaian dan tatapannya, saya bisa menafsir bahwa dia orang berpendidikan. Pesannya merupakan ulasan kepada cerpen saya yang berjudul Gerakan Golongan Putih, dimuat di salah satu koran nasional dua pekan lalu. Mungkin karena bertepatan dengan tahun politik, cerpen itu kini ramai diperbincangkan dan didiskusikan.

            Cerpen itu adalah karya pertama saya bertema politik. Di situ saya membayangkan sebuah peradaban masa depan di mana memilih kepala negara adalah kewajiban, bukan hak. Tokoh utama adalah seorang anarkis yang mengajak masyarakat ramai-ramai tidak memilih, karena ceritanya di antara calon-calon yang ada, semua baginya tidak layak memimpin negara. Hal ini membuat dia menjadi sasaran aparat. Bagian akhir cerita saya biarkan terbuka, dan saya pastikan tidak ada keberpihakan ke mana pun.

            Pesan dari si Aina ini merupakan salah satu ulasan terlengkap yang saya baca mengenai cerpen itu. Alhasil, kami pun banyak berdiskusi tentang keterkaitan di antara gagasan dalam cerpen dengan realita yang ada. Saya sampaikan bahwa sebenarnya inspirasi cerpen ini muncul karena saya belum bisa memastikan ke mana hak suara saya akan dilayangkan beberapa bulan ke depan. Turut saya beberkan beberapa proses kreatif dan interpretasi pribadi saya, dan dia membalasnya dengan sangat cerdas. Ada ajakan untuk saling bertemu, namun tentu saya tolak. Hubungan antara penulis dan pembaca cukuplah seperti ini: mendiskusikan karya tanpa perlu saling mengenal.

***

            Saya baru sadar bahwa percakapan saya dengan Aina Maiazora berakhir pukul 1 dini hari. Hasil dari ini adalah tertidurnya saya sampai pukul 8 pagi, dan baru terbangun ketika ketukan terdengar di depan rumah. Saya pikir itu loper koran, tetapi ketika ketukan terdengar berkali-kali seolah di balik pintu adalah orang paling tidak sabaran di dunia, mau tidak mau saya beranjak. Saya belum mandi, belum sarapan, dan masih berpakaian tidur.

            Saya cukup kaget ketika melihat dua pria besar melalui lubang intip di pintu. Si besar yang satu lebih ke arah gemuk, sementara si besar yang lainnya lebih ke arah tegap, seperti jenderal. Saya membukakan pintu, dan mereka memperkenalkan diri; saya semakin kaget ketika tahu mereka dari kepolisian. Tetapi mereka cepat-cepat menyampaikan bahwa mereka hanya ingin bersilaturahmi dan sedikit ngobrol. Mereka mengajak saya masuk ke dalam rumah saya sendiri, dan meminta saya menutup pintu sembari mereka masuk. Saya masih berharap mereka tidak akan bertindak ekstrem.

            “Ingin saya buatkan sesuatu?” tanya saya. Keduanya menolak dengan sopan. Tahu bahwa saya sedang waswas, mereka mencoba mencairkan suasana.

            “Kami berpikir seorang penulis sekelas Anda akan tinggal di tempat yang lebih mewah,” ujar si besar gemuk. Saya tertawa kecil. Saya tetap membuatkan teh untuk mereka, karena saya pikir itu akan menimbulkan kesan baik.

            “Perkenalkan, saya Dori,” ujar si besar tegap, “Dan saya Bogi,” ujar si besar gemuk. Mereka lanjut memperkenalkan diri sebagai bagian dari divisi keamanan siber kepolisian di kota tempat saya tinggal.

            “Untuk bapak berdua datang langsung menemui saya, tentu ada perkara besar. Meskipun saya tidak tahu apa yang diinginkan kepolisian dari seorang penulis sederhana seperti saya,” kata saya.

            “Yah, atasan memang menginginkan kami membawa Anda langsung ke kantor polisi dan menjalankan proses interogasi sesuai prosedur, tetapi kami juga mengatakan hal yang sama; Anda hanya seorang penulis sederhana. Oleh karena itu, di sinilah kita,” balas Bogi. Saya agak kecut. Tetapi Dori langsung menambahkan.

            “Tenang saja, Pak. Anggap ini acara bedah karya yang biasa Anda hadapi. Kali ini, kita akan membedah cerpen Anda, Gerakan Golongan Putih yang terbit di Harian M dua pekan lalu.”

            Ah, lagi-lagi cerpen jahanam itu. Tidakkah ia sudah terlampau banyak menarik perhatian? Apakah makna yang terkandung dalam cerpen itu dianggap aparat berbahaya? Seharusnya tidak. Saya tidak menyinggung siapa-siapa, dan cerpen itu murni hasil imajinasi saya, tidak saya dasarkan ke keadaan nyata.

            “Begini, Pak. Bagaimana proses kreatif Anda menulis cerpen itu?” Tanya Dori. Dan saya jawab sebagaimana saya sampaikan kepada dewan pembaca beberapa paragraf yang lalu: saya bingung menentukan paslon mana yang akan saya coblos, dan dari situ saya terinspirasi membuat cerpen itu.

            “Berarti bukan karena memang Anda tidak mau mencoblos, ya?” tegas Dori. Saya katakan: jelas tidak. Untuk apa saya punya hak suara kalau tidak saya pakai. Mendengar hal itu, Dori dan Bogi memandang saya agak intens. Hal ini membuat saya kagok dan menanyakan mengapa mereka memandang saya seperti itu. Bogi bersandar sambil meregangkan perut, Dori yang menjawab.

            “Maksud Anda kewajiban bersuara, kan?”

            “Maaf, apa?”

            “Kewajiban bersuara, Pak. Bukan hak bersuara. Anda wajib memilih salah satu di antara paslon yang ada, dan negara berhak mengawasi Anda sepanjang prosesi pemilihan umum. Negara bisa tahu jika Anda sengaja tidak memilih, atau mencoblos kertas suara tidak sesuai prosedur, dan mempidanakan Anda. Bukankah setiap lima tahun begitu prosedurnya, sejak Anda punya KTP?” balas Bogi.

            Saya mulai menyadari ada yang tidak beres. Tetapi naluri saya mengatakan bahwa saya harus menyetujui apa pun ucapan mereka berdua, dan mengatakan bahwa saya baru bangun, sehingga saya masih separuh sadar. Hal ini tidak serta-merta membuat mereka meredakan intensitas pandangan mereka ke saya, namun saya bisa merasakan hawa longgar di udara ketika Dori tersenyum simpul dan mengajak saya menyeruput teh kembali.

            “Sekali lagi kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, Pak. Belakangan ini, kami menangkap banyak konten kampanye negatif tentang setiap paslon yang ada. Hal ini menimbulkan sebuah persepsi lebih baik tidak memilih, jika pilihan yang ada kenyataannya tidak ada yang baik,” jelas Dori.

            “Sialnya, pembuat konten-konten ini berlindung dengan menggunakan akun berbasis kecerdasan buatan; AI. Sehingga banyak konten yang tidak dapat kami telusuri dari mana jejak asalnya,” lanjut Bogi.

            “Dan saya hanya penulis sederhana. Anda tahu siapa saya, Anda bisa menemukan rumah saya. Dengan kelemahan seperti ini, saya akan terlihat bodoh kan, jika ingin membuat konten-konten yang melanggar aturan?” pungkas saya. Bogi terdiam, lalu memandang Dori, dan secara sistematis keduanya tersenyum.

            “Mohon dipahami, yang berpikir seperti itu adalah atasan kami. Di sini, kami hanya menjalankan tugas. Menurut atasan, adanya konten atau persepsi seperti itu tentu karena ada gagasan di sebaliknya. Yah, kebetulan salah satu yang tertangkap di radar adalah karya tulis Anda. Tetapi jangan salah paham, Pak; cerpen itu bagus! Walaupun saya polisi, saya cukup menikmati karya sastra. Nah, makanya kami ke sini ingin mengklarifikasi kembali proses kreatif di sebalik cerpen itu,” balas Dori.

            Yang selanjutnya terjadi adalah percakapan singkat (namun lebih dalam) tentang cerpen itu. Setelah semua selesai, dan itu memakan waktu kurang lebih 90 menit, mereka berdua bergegas pergi dengan meninggalkan secara tersirat pesan jelas: saya bebas berkarya apa pun, tetapi mata mereka telah menangkap saya. Bagi seorang penulis, hal itu adalah bencana besar. Lantas saya pun menghubungi editor saya setelah memastikan dua aparat itu sudah benar-benar tidak ada di kawasan saya.

            “Kita sudah diskusikan ini kan, Mas? Tapi sampean bilang lanjut, ya kukatakan lanjut,” ujar Mufa enteng. Dia adalah editor novel-novel saya, dan saya selalu berdiskusi dengannya sebelum menulis sesuatu.

            “Tapi kata mereka itu lho, Mas. Masa mereka bilang pemilu itu kewajiban? Pemilu dari dulu sampai sekarang kan hak,” sanggah saya.

            “Ya nggak, Mas. Bukannya periode lalu sudah berubah? Masa pean lupa,” balasnya. Dan terjadilah perdebatan antara dia dan saya. Akhir perdebatan dibiarkan terbuka, karena Mufa ada urusan lain dan saya masih tidak percaya akan apa yang terjadi.

            “Di kotaku sedang ada demo besar-besaran. Biasa, tentang AI. Mau kuliput,” ungkapnya. Selain editor, Mufa bekerja sebagai wartawan partikelir di sebuah media alternatif berbasis di Surabaya. Saya tahu demo yang dimaksudnya. Belakangan ini, muncul semacam kabar burung bahwa penelitian negara di bidang AI telah berkembang sampai ke tahap menggunakannya untuk mengendalikan pikiran manusia. Meskipun saya penulis sastra, saya dulu sempat kuliah di jurusan informatika. Hal mengenai AI mengendalikan pikiran manusia tidak lebih dari fiksi sains yang kurang ilmiah.

            Seusai berbicara dengan Mufa, saya cepat-cepat mandi dan menyiapkan sarapan. Bisa jadi sekarang ini saya masih bermimpi, dan semesta cerita yang saya bangun menjadi latar mimpi saya lantaran betapa asyiknya mendiskusikan cerpen itu bersama si Aina Maiazora. Setelah puas saya menjalankan semuanya dan yakin bahwa kenyataan ini tempat saya berpijak, saya membuka laptop dan berselancar di internet.

            Apa yang saya temukan di internet membuat saya mengulang-ulang kembali pencarian saya. Lima tahun silam, di tahun akhir jabatan Presiden N, terbit undang-undang baru yang menyatakan pemilihan kepala negara bukan lagi sebuah hak, namun kewajiban. Latar belakang undang-undang ini adalah demonstrasi besar-besaran yang disebut sebagai Gerakan Golongan Putih: sebuah ajakan masif untuk tidak mencoblos lantaran paslon yang ada dinilai tidak mewakili rakyat maupun nilai luhur bangsa. Waktu itu ada tiga paslon, dan ketiganya memiliki rekam jejak buruk: penggusuran, pelanggaran HAM berat, korupsi, KKN, dan lainnya yang tidak diusut negara. Hasil dari gerakan ini begitu kentara: perhitungan suara di KPU sudah mencapai 70 persen, tetapi lebih dari 80 persennya adalah suara tidak sah. Stabilitas politik negara goyah, dan desakan dari petinggi-petinggi partai untuk merevisi dasar hukum pemilihan kepala negara meningkat.

            Alhasil, ketentuan pemilu pun berubah. Prosedurnya sama seperti yang disampaikan Bogi: ketika seseorang akan mencoblos, dia masih bebas untuk tidak membocorkan siapa paslon pilihannya kepada orang lain, kecuali kepada negara. Artinya, dia wajib membuktikan kepada negara bahwa dia telah memilih, dan negara punya hak penuh mengetahui paslon mana yang dia pilih. Seorang pemilih akan masuk ke ruang khusus yang dipantau CCTV, dan melakukan proses pencoblosan seperti biasa. Seusai mencoblos sesuai prosedur, dia wajib menunjukkan kertas suara yang sudah dicoblos ke CCTV sebagai bukti pendataan bahwa warga negara sekian telah mencoblos paslon sekian. Prosedur ini sementara hanya berlaku untuk pemilihan kepala negara, dan belum diberlakukan untuk pemilihan kepala daerah ataupun anggota legislatif.

Belum sempat saya menyimpulkan penemuan ini, gawai saya berbunyi. Pesan dari Aina Maiazora. Dipikir-pikir kembali, kejanggalan ini muncul setelah percakapan dengannya kemarin. Tidak ada salahnya saya coba bertanya kepadanya. Saya buka pesan, dan isinya adalah permohonan untuk menjadikan cerpen saya bahan penelitian skripsinya. Dia meminta waktu untuk bisa berkorespondensi melalui panggilan video. Saya pikir ini waktu yang tepat, dan mengatakan bahwa saya bersedia melakukannya sekarang.

Aina membuka percakapan dengan sangat sopan, dan gayanya berbicara mengingatkan saya kepada gaya tutur penyiar berita atau narator video. Dia berpakaian persis seperti fotonya, namun kini saya hanya bisa melihat bagian atas tubuhnya. Saya ceritakan kejadian pagi ini, dan Aina menyimaknya secara saksama.

“Saya pikir cerita Anda tidak janggal, namun kenyataannya memang tidak sesuai dengan apa yang Anda katakan. Tetapi Anda tidak perlu khawatir. Kenyataan dapat diubah sesuai keperluan yang diminta,” balasnya sambil tersenyum. Video terputus-putus karena statik jaringan. Belum sempat saya menanyakan makna jawaban janggal itu, ketukan di pintu kembali terdengar berkali-kali, seolah di balik pintu adalah orang paling tidak sabaran di dunia. Dan kali ini saya tahu itu bukan Dori dan Bogi.

Tangerang, Februari 2024

Prahara Mahalini - Owlysh Fatmawati

@kontributor 6/02/2024

Owlysh Fatmawati

Prahara Mahalini

 




Ramai-ramai penduduk berdiri di sekitar balai. Habis pembagian sembako yang katanya dari pemerintah, terjadi keributan usai wanita berdaster merah, berkerudung ungu yang panjangnya hanya cukup menutupi setengah lengan yang telanjang, protes akan kondisi beras buruk rupa yang dibagikan.

“Banyak kutunya! Siapa yang mau makan nasi ekstra vitamin kutu?”

Kebetulan sekali orang yang digadang-gadang memiliki andil dalam pembagian beras, minyak, gula, teh, dan sarden kaleng masih berkacak pinggang di teras balai. Memasang mimik nanar yang sedari tadi coba disembunyikan. Siapa yang tidak terpojokkan? Niat hati berbagi dan memancing simpati, beralih menjadi tampungan serangan sejumlah warga.

Sejenak Pak Baron menoleh pada bawahannya. Diraba-raba, Pak Baron tengah melayangkan tentangan serupa.

Siapa yang tidak marah? Begitu mendengar namamu berada di baris paling depan daftar penerima sembako, refleks saja antusiasme syukur merebak. Sisa lembaran uang dalam dompet kain tak perlu dikikis, dapat kembali dihemat. Namun, pantaskah bersorak pada beras berkutu dan beserdak?

“Bukan saya tidak bersyukur, Pak. Tapi tolonglah diperhitungkan lebih dulu, kalau memang dananya tidak cukup, beras diganti mi instan juga tidak apa. Jangan pula kami dibagikan beras stok lama.”

“Betul, Pak.”

"Masalah sarden yang sebentar lagi kedaluwarsa masih bisa diterima. Paling-paling malam ini sudah habis."

Detik itu, sebuah suara dari seorang gadis muda yang ukuran tubuhnya tidak menggambarkan murid SMP mencuri perhatian. “Aduh, Pak. Masa mau menjabat sudah nunjukin taringnya? Jangan terang-teranganlah, Pak.”

Secepat itu jua dia menjadi pusat perhatian. Terutama oleh sosok yang dituju. Kerutan emosi menumpuk, ekspresi marah tidak lagi disembunyikan.

“Minimal tunggu berhasil duduk di kursi kebesaran. Kalau begini, bagaimana kami mau pilih Bapak? Hari ini mungkin beras berkutu, enam bulan kemudian malah dikasih beras bau dan berjamur. Sisa dari sisa.”

Mahalini Saputri namanya. Kecil-kecil Cabai Rawit julukannya. Mungil, bersuara lantang, berdirinya pun tegap nan kokoh di hadapan orang-orang yang tak sepantaran usianya—pun tinggi badannya. Manis, kata orang. Menggemaskan, kalau kata kakak-kakak KKN yang baru pulang sebulan lalu.

Sementara di mata sasarannya ucapan Mahalini yang tidak jarang pedas nan menusuk, “Cih, menyebalkan sekali bocah ini.”

Kira-kira, untaian kata seperti itulah yang Pak Baron luapkan di batin. Kesal bukan main dia direndahkan oleh gadis kecil yang berpenampilan bak bocah kelas enam, tanpa tahu apa-apa mengenai halang rintangnya selama ini.

Kobaran api berbinar di masing-masing manik Mahalini. “Mentang-mentang kami miskin, malah ngasih sembako sekenanya asal ada. Yang diberantas itu tikus pengerat di gedung bertingkat, bukan malah menindas yang melarat,” imbuhnya tak begitu cocok disebut lirih.

Walau berbelas warga di sekitarnya setuju, masih ada segelintir orang yang mendesak agar Mahalini lekas mengunci mulut. Satu dan dua jari telunjuk terangkat di muka bibir, membisikkan titah diam. Sekali dan dua mata berkedip, memberi kode agar mengalah dan membiarkan yang berdiri di sana merasa puas barang sepintas.

“Bocah mana ini? Kamu tidak diajarin Mamamu sopan santun? Masih kecil sudah berani sama orang tua. Tahu apa kamu urusan beginian? Baru juga lahir kemarin sore.”

“Berarti saya hebat, Pak. Baru lahir kemarin sore, sudah bisa jalan dan berbicara.” Mahalini cengengesan. Tanpa didengar oleh orang lain dia menambahkan, “Dan juga, Mama masih hidup kemarin kalau begitu.”

Dipaksa pulang, Mahalini menurut saja. Dia tahu jika bertahan lebih lama lagi, gembok yang sudah peyot itu akan pecah dan menyemburkan keruhnya emosi, yang mana akan kian menjatuhkan harga diri si Tua Berpeci. Makin kacaulah keadaan, bisa-bisa gulung tikar.

Mahalini tidak peduli, tidak pula menyesali. Bukti menggembirakannya terpampang, setelah melempar sedikit minyak pada kobaran api kemarin, tiga hari kemudian beras baru yang bersih dan wangi datang menggantikan yang berkutu. Jumrah selaku bapak Mahalini cengar-cengir menerima serahan dua karung beras sepuluh kilo. Lurah yang memindah tangankan benih-benih hasil gilingan padi langsung tersebut menyelipkan bisik, "Lain kali, tahan Mahalini supaya tak mengulang kejadian kemarin, Pak. Yang lewat tadi mungkin berbuah manis, tapi kita tidak tahu ke depan bisa senahas apa."

"Baik, Pak." Selain mengiakan, mustahil Jumrah menolak. Bukan hanya karena lurah yang berbicara, Jumrah mengakui dia sulit mengendalikan aktivitas hingga batas ucap sang anak.

Sibuk kerja mengumpulkan penopang hidup keduanya, berkurang satu peran orang tua pun menjadi alasan. Istri tercinta Jumrah telah dibalut kain putih di bawah tanah enam tahun lalu. Sampai sebesar ini, dia tak memiliki jalan lain selain sekadar mewanti-wanti Mahalini dari rumah tepat sebelum pergi bekerja.

Lagi pula, kendali tak sepenuhnya berada di tangan tambah-tambah sekadar titah. Meski Mahalini darah dagingnya, anak itu memiliki aliran akal sendiri. Sekuat apa Jumrah mencoba menentang, apa yang telah mengalir dalam nadi sulit tersapu bersih.

Pernah sekali Jumrah mendalamkan suara, urat menyembul dari balik kulit leher, tatap mata tak ramah bagai biasa. Menjelang magrib, Jumrah memarahi Mahalini yang sudah membuat Hajjah Romlah tersinggung bukan main atas sungutnya. Entah dari pelosok dunia mana keberanian anak ini dipasok.

"Haram. Haram," kata Mahalini kala itu.

Tepat di hari ketiga kedatangan Hajjah Romlah dari perjalanan hajinya yang diumumkan mabrur, Mahalini Justru berceletuk bila hasil perjalanan yang semestinya suci tersebut berbuah haram.

Sudah menjadi rahasia umum asal usul pemasukan Hajjah Romlah dan keluarga. Menjual minuman keras, bangunan di samping rumah yang sering dijadikan tempat karaoke bebas, indekos di pinggir kota yang merangkap sebagai lokasi kumpul kebo, sampai desas-desus baru dari sumber terpercaya bila suaminya berbisnis jual beli narkoba. Sungguh, tak satu pun didapatkan secara bersih. Atas hingga bawah sama kadarnya.

"Haji bukan ibadah perlombaan. Siapa cepat dia dapat surga. Bukan. Yang mampu, yang ikhlas, yang ditunjuk Allah. Yang  menyelipkan sisi haram dialam tindakan suci tak semestinya berbangga-bangga."

Tanpa menunggu lama, Hajjah Romlah menyerocos panjang lebar. Pelik dia tidak menyelipkan tutur merendahkan sosok Mahalini hingga anggota keluarga yang telah menutup usia.

Beberapa saat sebelum azan berkumandang, Jumrah sempat bertanya apa yang sebenarnya memantik keaktifan sang anak dalam mengkritik sejumlah orang tanpa kendali penuh.

Menatap ekspresi murka Jumrah, Mahalini menjawab, "Kalau orang-orang sok paling berkuasa itu tidak memulai, Lini tidak akan meladeni, Pak. Lini juga punya akal kok, untuk sadar kalau mencari masalah itu memperkeruh hidup."

Mahalini menarik napas. "Seandainya saja dulu Bu Karti tidak mempermainkan keluarga kita, Lini tidak akan ikut campur urusannya. Iya tahu, Bu Karti yang paling rajin memberi kita wadah berutang di warungnya. Tapi Bu Karti itu licik, Pak. Hutang yang sudah dibayar, malah diomong-omongin menunggak sebulan, dilipat gandakan, sampai ngomong di depan-depan Bapak. Padahal hutang kita paling besar tiga ratus ribu, itupun sekali."

Jumrah tidak tahu jikalau detik itu apa yang terkunci dalam hati juga pikiran sang anak akan meledak. Selama ini dia tahu, Mahalini anak yang mudah melempar kata tajam, paling enggan basa-basi sampah. Namun, mengenai luapan Mahalini sendiri, belum pernah Jumrah temui.

"Dan untuk Hajjah Romlah. Jujur, Pak, Lini paling malas terlibat segala urusannya. Biar kita tak punya uang satu perak pun kalau cuman Hajjah Romlah tempat meminjam, Lini rela melalap ilalang atau merebus batu. Tapi tadi Lini benar-benar tidak tahan, Pak."

Mahalini menarik napas dalam-dalam, kedua maniknya terasa panas, bendungan hampir roboh jika tak cepat diperkokoh. "Hajjah Romlah habis merendahkan Bapak. Padahal niat Lini cuman pengin lewat, malah omongannya makin dinyaringkan. Dia ikut merendahkan Mama, Pak. Padahal Mama sudah tenang dari enam tahun lalu, kenapa Mama pantas diolok, difitnah? Salah Mama apa sama dia, Pak? Sama semua orang?"

Jumrah termangu, kehabisan daya bahkan sekadar bergumam.

"Sampai-sampai dia bilang kalau … kalau Bapak tidak lama lagi bakal menyusul Mama cuma karena badan Bapak makin kurus. Memangnya kalau badan kurus sudah mau mati? Tidak, 'kan, Pak? Bapak tidak bakal mati, 'kan?"

Gagal sudah upaya Mahalini untuk menahan rintik di pelupuk mata. Badan yang biasanya berdiri tegap, dagu terangkat, manik berkilat, kini gentar. Kepala tertunduk menyebabkan rambut pendeknya turun menutupi sisi kiri dan kanan wajah. Puncaknya, Mahalini terduduk di lantai kayu rumah yang dilapisi karpet robek dan bolong-bolong dan pola memudar.

Seremeh status sosial, Mahalini dan Jumrah dan orang-orang setaranya seakan pantas sepantas pantasnya ditindas, dilemparkan doa buruk yang tiada pernah diinginkan. Atau sebenarnya status sosial memang memiliki kuasa sebesar itu? Seolah nyawamu tak berarti apa-apa, jika dibandingkan dengan uang lima puluh perak, barangkali mereka berpihak pada uang logam itu.

Benar, kasta yang masyarakat jualah sebagai penciptanya, memiliki magis tersendiri. Sekokoh apa tameng yang Mahalini bangun, pada akhirnya magis mereka selalu memiliki jalan pintas membawa serangan lain.

***

Jumrah meletakkan dua karung beras wangi di dapur, dekat tempayan didudukkan. "Apa-apa saja yang Lini pikirkan atau ingin lakukan, Bapak cuman berpesan, ingat batasan. Jangan lupa kendali hanya ada padamu, Nak. Ketika kau sendiri tak dapat mengendalikan diri, lantas siapa yang bisa?"

Mahalini yang menuang air ke dalam gelas kaca bening diam mendengarkan.

"Masuk akal atau tidak, kita yang jelas-jelas tidak punya apa-apa tetap wajib sadar diri. Kalau-kalau ada masalah yang diciptakan tanpa sadar, karena lepas kendali, kita sama-sama tahu siapa yang kalah. Jadi, jaga-jaga saja, Nak."

***

Mencuri Tuyul - Aliurridha

@kontributor 5/26/2024

Mencuri Tuyul

Aliurridha

 


Sudah satu bulan sejak orang-orang di kampung itu mengalami kehilangan uang. Uang yang hilang memang tidak banyak, hanya selembar atau dua lembar sepuluh ribuan; kadang dua puluh ribuan, dan tak pernah lebih besar dari itu. Hanya saja kehilangan itu terjadi terus menerus, tanpa henti, setiap hari, dan nyaris setiap warga mengalaminya. Awalnya mereka pikir mereka hanya khilaf atau sekadar lupa menaruh di mana. Namun kejadian itu terus berulang, dan uang itu tidak juga ditemukan. Hal itu membuat mereka mulai berpikir bahwa memang ada yang mencuri uang mereka.

Karena kejadian itu, empat orang telah menjadi korban salah tangkap. Mereka digebuk sampai nyaris mati karena disangka maling. Padahal keempatnya sama sekali bukan maling, hanya orang sial yang kebetulan mencurigakan. Setelah babak belur dihajar, barulah diketahui bahwa korban pertama adalah pedagang barang bekas keliling; korban kedua adalah seorang pemulung; korban ketiga hanyalah orang yang numpang lewat; sedangkan korban terakhir cuma seorang tua yang bahkan tidak ingat namanya sendiri.

Keributan tidak berhenti di sana, banyak rumah tangga yang kemudian nyaris pecah kongsi karena saling curiga. Nasip adalah satu dari sekian orang yang dicurigai istri sendiri.

“Kamu curi uang saya pakai judi lagi?” tuduh Romlah pada Nasip di teras rumahnya.

Mana saya pernah begitu,” balas Nasip.

“Kamu sudah yang curi uang saya, ngaku saja! Pasti kamu pakai main bola adil lagi, kan?”

Nasip terus saja membantah.

“Iya, mana dia berani Romlah,” timpal Robok.

Saat itu Robok sedang minum tuak bersama teman-temannya di gazebo depan rumah Nasip. Dodot, kawan Robok, yang baru pulang dari tanah rantau mentraktir teman-temannya. Nasip juga ikut minum di sana sebelum istrinya berteriak memanggil namanya.

“Eh, anak setan. Jangan ikut-ikutan kamu. Saya hantem mukamu nanti!” ancam Romlah.

Wajah Robok langsung pucat karenanya.

“Kamu sudah yang curi. Ayo ngaku!” Romlah terus saja menuduh suaminya. Bahkan ia sampai merasa perlu menunjuk-nunjuk wajah Nasip. Merasa tidak terima direndahkan di depan teman-temannya, Nasip mengumpat. “Dasar gembrot!” Mendengar itu, Romlah lebih tidak terima lagi, ia langsung menggampar Nasip. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali. Teman-teman Nasip pura-pura tidak melihat. Pun dengan kondisi mabuk, mereka tetap takut pada istri Nasip yang sebesar gajah dan seberingas harimau.

Romlah memang terkenal galak. Nasip berkali-kali menjadi bulan-bulanan sumpah serapahnya. Hari ini tidak hanya mulut Romlah yang merobek-robek harga diri Nasip, kaki dan tangan pun jadi penyambung penderitaan. Bibir Nasip hampir robek digampar Romlah, dan ia didorong hingga tergelincir jatuh ke tanah depan teras rumahnya. Setelah puas, Romlah meninggalkan tubuh kurus Nasip yang kini berkalang tanah.

“Nasip ... Nasip ... kok nasibmu sial betul?” kata Burak geleng-geleng kepala.

Dengan tertatih-tatih, Nasip berjalan dan menyelipkan umpatan pada istrinya. Namun umpatan itu teramat pelan.

“KDRT nih, ye,” ejek Cobok.

Nasip memasang muka masam. Teman-temannya yang lain pun ikut nimbrung.

“Laporin sudah ke polisi. Kalau nanti divisium, ini ada buktinya!” kata Robok menunjuk-nunjuk bagian tubuh Nasip yang lebam.

“Tidak dong. Yang begini sudah biasa. Saya bisa balas, tapi saya tidak mau. Saya ini laki-laki; laki-laki tidak pukul perempuan,” kata Nasip membela diri.

Teman-temannya tertawa mendengar jawaban Nasip. Mereka tertawa karena tahu semua itu bohong belaka. Nasip selalu takut pada istrinya. Nasip takut bukan karena istrinya galak, melainkan karena tanpa istrinya, Nasip tidak bisa hidup. Nasip hanyalah seorang kuli panjat miskin. Tanpa istrinya yang pandai mencari uang, ia tidak mungkin bisa bertahan. Nasip tidak punya pengetahuan apa-apa untuk hidup di dunia, sedangkan Romlah adalah seorang saudagar yang setiap harinya meminjamkan uang kepada mereka yang ingin memulai usaha atau sekadar untuk kebutuhan rumah tangga, dan saat mereka mengembalikan, orang-orang itu harus membayarnya dengan bunga. Orang-orang menyebut Romlah rentenir. Romlah tidak suka itu, ia lebih senang disebut bank berjalan, terdengar lebih dermawan.

“Kemarin saya juga hampir diusir istri karena dituduh curi uangnya buat beli nomor,” kata Burak mengalihkan pembicaraan.

“Ah, iya di rumah saya juga begitu. Uang selalu hilang.”

“Kamu kan memang tidak pernah pegang uang, Robok,” ejek Cobok.

“Tapi benar juga kata Robok, akhir-akhir ini orang kampung banyak kehilangan uang,” Dodot menengahi.

“Itu kan karena kalian semua bodoh, minjem uang di Romlah.”

“Bajingan Cobok, jangan bawa-bawa istri saya!” kata Nasip marah.

“Santai. Minum dulu.” Cobok memberikan segelas tuak pada Nasip.

“Betul kata Dodot. Kalian tahu, sudah empat orang digebuk karena disangka maling.”

“Lima, Pak Burak. Lima,” potong Cobok sambil menunjuk Nasip dan mereka pun tertawa. Nasip pun ikut tertawa.

***

Bagai wabah yang menyebar tiada terbendung dan tiada diketahui penyebabnya, kehilangan uang yang menimpa warga kampung juga tiada terbendung. Orang-orang mulai saling tuduh, mereka menuduh tetangga mereka maling. Bahkan ada yang dicurigai sebagai babi ngepet, ada juga yang dituduh memelihara tuyul. Keributan nyaris tak terhindarkan jika para tetua tak segera turun tangan. Para tetua memanggil orang pintar yang dianggap bisa jadi solusi. Mereka memanggil Oplok, seorang yang pernah mengenyam bangku kuliah di kota, tetapi memilih tidak menyelesaikannya. Ketika pulang ke kampungnya, Oplok bukannya bergelar sarjana pendidikan, malah bergelar orang pintar; lalu dengan gelar itu ia membuka praktik perdukunan.

“Jadi apa benar cerita itu, setiap rumah kehilangan uang?” tanya Oplok kepada kepala kampung.

“Iya. Bapak bisa mulai dari rumahnya Nasip. Dia yang paling sering dituduh karena uangnya tidak habis-habis,” saran kepala kampung.

***

“Enak saja mereka tuduh saya pelihara tuyul. Buat apa saya mencuri, uang saya banyak!” kata Romlah pada suaminya. Suara bariton Romlah menerobos bilik-bilik kayu, menuju ruang tamu hingga tertangkap telinga Oplok. Lelaki itu sama sekali tidak marah, ia dengan tenang menunggu tuan rumahnya keluar. Romlah tidak terima, ia tidak mau menyambut tamunya. Bahkan untuk sekadar menghidangkan teh dan kue, ia tidak sudi.

Nasip keluar dengan wajah masam. Ia mengajak Oplok berbicara sambil jalan-jalan karena istrinya tidak berhenti sewot. Oplok tersenyum menyetujui ajakannya. Nasip pun menemani Oplok berkeliling kampung, mengunjungi rumah-rumah korban. Dalam perjalanannya, Nasib melihat keempat temannya tengah minum-minum di pos ronda. Burak memanggilnya, memintanya mampir. Nasip menolak. Dengan gagahnya ia berkata ada tugas negara. Teman-temannya tertawa terbahak-bahak, Nasip tidak peduli; ia terus saja berjalan, membersamai Oplok mengunjungi rumah para korban.

 Oplok berkeliling di seputar TKP, menyentuh benda-benda, bertanya kepada korban-korbannya. Ia dengan serius mendengar setiap penuturan korban dan mencatat setiap jawaban mereka dalam sebuah buku catatan yang tidak lebih besar daripada bungkus rokok. Nasip memperhatikan setiap tindakan Oplok sambil mengangguk-angguk.

“Berapa uang Ibu yang hilang?” tanya Oplok.

“O, Banyak. Mungkin lebih sepuluh juta.”

Oplok terkejut.

“Benar sepuluh juta?”

“Masak saya bohong.”

“Ini benar semalam hilangnya?”

Tuminah memiringkan kepalanya sekitar lima kedipan mata sebelum mengangguk. Oplok baru saja berpikir ini kasus besar yang belum pernah ia tangani sebelumnya. Itu sebelum si menantu korban menyela.

“Maaf, Waq. Ini ibu mertua saya sudah pikun. Uang tidak hilang sebanyak itu.”

“Pikun, pikun. Enak saja kamu bilang aku pikun, Yun.” Wanita tua itu mendorong pelipis menantunya dengan telunjuknya. “Kamu pasti kerja sama dengan perempuan gendut itu untuk habisin uang saya.”

“Eh, Tua Bangka, jangan sembarangan kamu tuduh-tuduh istri saya,” kata Nasip ikut campur.

“O, rupanya kamu yang bawa orang ini. Sudah sana, saya tidak percaya kalian. Kalian bukan mau bantu saya. Kalian pasti mau curi uang saya lagi.”

Tuminah mengusir Oplok dan Nasip. Yuyun, menantunya, berkali-kali meminta maaf atas perlakukan kasar mertuanya. Sudah beberapa tahun terakhir mertuanya kurang sehat ingatannya. Wanita tua itu tidak lagi mengingat apa-apa yang baru saja ia kerjakan, ia malah mengingat peristiwa-peristiwa yang sudah lama terjadi. Lalu dari Yuyun juga Oplok tahu bahwa uang yang hilang hanya selembar dua puluh ribu. Namun kehilangan itu terjadi berkali-kali. Nyaris setiap hari. Oplok kembali mencatat. Nasip kembali menganguk-angguk.

***

Keesokan harinya, Nasip menemani lagi Oplok mengunjungi rumah korban lainnya. Peristiwa itu terus berulang setiap hari. Dan setiap mereka lewat pos ronda, Oplok melihat orang-orang di pos ronda selalu sama. Oplok pun bertanya ke Nasip apakah orang-orang itu saja yang meronda.

“Kenapa tiba-tiba tanya itu, Waq?” Nasib bertanya balik.

“Tidak tahu. Penasaran saja. Saya dengar sejak banyak yang kehilangan uang para tetua meminta orang-orang meronda, tapi kok saya lihat orangnya itu-itu saja.”

Nasip tertawa. Ia pun menjelaskan tentang keempat kawannya. Burak, Cobok, Dodot, dan Robok sedang tidak punya kerjaan. Karena tidak punya kerja, mereka minum tiap hari. Daripada mereka minum-minum tidak jelas, para tetua mengangkat mereka jadi juru keamanan kampung. Cukup sediakan tuak dan mereka akan datang. Kalau tuak yang diberikan tetua habis, Dodot yang baru pulang merantau akan lanjut mentraktir kawan-kawannya. Uang Dodot banyak.

Oplok mengangguk-angguk dan kembali mencatat.

“Nasip. Mampir sini!” ajak Robok.

Nasip menoleh ke arah gardu.

“Kalau kamu mau gabung, gabung saja. Saya tinggal sedikit, kok.”

“Benar tidak apa, Waq?”

Oplok mengangguk.

“Tapi jangan bilang ke para Tetua, ya. Nanti istri saya tahu.”

“Aman,” balas Oplok.

Nasip pun dengan girangnya melangkah ke gardu, bergabung bersama kawan-kawannya.

“Jadi bagaimana perkembangan penyelidikanmu, Pak Detektif?” tanya Cobok mengolok-olok.

Keempat sahabat itu kemudian tertawa. Nasip diam saja, ia tidak mengerti di mana letak lucunya.

“Tapi benar. Penasaran kita. Coba cerita dulu,” lanjut Robok.

“Sudah-sudah, biarkan kawan kita ini minum dulu,” kata Dodot.

Burak pun menyerahkan segelas cairan berwarna merah muda. Setelah Nasip meneguk habis minumannya, Dodot memintanya cerita. Nasip menolak, ia berkata diminta menjaga rahasia sampai penyelidikan selesai. Namun, setelah gelas demi gelas terus disodorkan oleh Dodot, Nasip tidak bisa lagi menahan mulutnya.

“Kemungkinan besar pelakunya tuyul,” kata Nasip.

“Tuyul!” ujar keempatnya terperanjat.

“Iya, tuyul.”

“Aduh, mana ada tuyul di zaman yang sudah maju kayak begini,” kata Burak.

Setelah itu Dodot menyodorkan segelas minuman lagi untuk Nasip, yang tanpa menunda, langsung saja meneguknya.

Dalam awut-awutan pikirannya yang diterpa badai tuak, Nasip memikirkan lagi percakapannya dengan Oplok kemarin sore. Orang pintar itu berkata ada yang pelihara tuyul di kampungnya.

“Tuyul? Siapa yang pelihara, Waq?”

“Saya masih menyelidikinya!”

 “Bagaimana Waq Oplok bisa tahu?”

“Kamu pikir karena apa orang-orang menyebut saya orang pintar?”

“Karena apa memangnya?”

“Karena saya memang pintar,” jawab Oplok.

Nasip bingung mendengar jawaban Oplok. Tetapi sebagai orang bodoh, ia terima saja apa yang dikatakan orang pintar.

Seperti juga teman-temannya, Nasip awalnya tidak percaya kata-kata Oplok. Apalagi perkataan Oplok semakin aneh saja.

“Terus apa yang akan Waq Oplok lakuin sekarang?”

“Saya akan curi tuyulnya.”

Nasip terperangah.

Pemiliknya sudah keterlaluan. Dia sudah melanggar hukum tak tertulis di dunia kami.”

Nasip sama sekali tak mengerti apa yang dikatakan Oplok. Mendengar rencana mencuri tuyul saja sudah membuatnya bingung, apa pula itu hukum tak tertulis dunia mereka. Nasip pun mengutarakan keheranannya.

“Dalam hukum tak tertulis di dunia kami, kami dibolehkan mencuri sedikit dari mereka yang beruang, tetapi tidak mencuri dengan rakus dari orang miskin.”

“Terus dari mana orang itu bisa dapat tuyul?”

“Bisa jadi hasil diburu di hutan-hutan tak berpenghuni, atau di tempat-tempat yang kamu pikir tidak pernah ada dan berharap tidak pernah ke sana. Tapi ada juga tuyul yang dipelihara untuk dijual.”

“Dipelihara!” Nasip lagi-lagi terkesiap. “Kayak ternak?”

“Kurang lebih seperti itu.”

“Terus siapa yang menjualnya?”

Ya, dukun kapitalis.”

“Dukun kapitalis?”

“Iya.”

Nasip terkesiap mendengar kata kapitalis. Kata yang terasa asing di telinganya. Sesekali ia pernah mendengar kata kapitalis dari TV atau obrolan warung kopi; tetapi tidak dengan dukun kapitalis. Makhluk apa pula itu? Ia yang bodoh dan tidak bisa membaca, semakin bingung mendengar penjelasan Oplok. Kemudian ia berpikir, mungkinkah orang-orang kaya itu juga memelihara tuyul untuk mencuri uang? Soalnya uang mereka kan tidak pernah habis. Tetapi dia kembali ragu, istrinya cukup kaya, dan istrinya tidak pernah mencuri, apalagi sampai memelihara tuyul. Nasip yakin akan hal itu, ia tidak pernah melihat istrinya mencuri uang.

“Sebentar Waq. Saya mau tanya, apa orang-orang kaya di kota sana, yang disebut kapitalis itu, juga melihara tuyul untuk curi uang?”

“Oh, mereka itu tidak pelihara tuyul seperti yang dimiliki orang ini. Tuyul mereka jauh lebih canggih. Tidak ada hukum, baik yang tertulis maupun tidak, yang bisa melarang mereka mencuri uang. Tuyul mereka bebas mencuri uang, dan hebatnya lagi, orang-orang tetap memuja mereka, bahkan bergantung pada mereka.”

“Siapa orang-orang ini?”

“Namanya Bank. Pernah dengar?”

Setelah menceritakan percakapan dengan Oplok itu kepada teman-temannya, kepala Nasip semakin pusing saja. Ia kembali meminta segelas tuak dari Dodot. Tetapi wajah Dodot malah berubah pucat. (*)

Kertas Gorengan - Muhammad Faisal Akbar

@kontributor 5/19/2024

Kertas Gorengan

Muhammad Faisal Akbar

 


Seorang mahasiswa tengah menenteng skripsi yang hendak ditunjukkan kepada orang tuanya. Setelah melewati fase revisi yang alot dan adu argumen yang bertele-tele dengan dosen penguji, pelajar itu lulus dengan nilai ala kadarnya. Malbari, sang mahasiswa yang meluapkan raut muka sekenanya, tak benar-benar mencintai karyanya itu lantaran isinya yang menggelikan. Tapi, mengingat bapak ibunya yang senantiasa menyuruh kawin, toh ia selesaikan juga agar bisa lekas berkarier dan menabung.

Semasa kuliah, Malbari mempunyai kebiasaan unik, yakni menghabiskan waktu di belakang perpustakaan kampus, lokasi di mana tumpukan kertas skripsi dikumpulkan sebelum dipindahkan ke tempat pembuangan sampah. Di situ, Malbari larut dalam kesenangannya mengais dan memilah kertas-kertas yang tidak lecek alias masih layak pakai. Meski terdengar muskil untuk dimengerti, Malbari sesungguhnya memiliki tujuan mulia: agar seluruh kertas skripsi yang hendak dibakar itu tetap dapat dimanfaatkan.

Maka dengan bantuan Bang Sambul, si tukang sampah kampus, Malbari menyebarkan kertas-kertas tersebut ke kawasan sekitar. Tiap dirinya menemukan kertas skripsi dengan kualitas tekstur yang mulus, tampak sekilas senyum lirih di bibir mahasiswa itu. Malbari bergumam, “Syukurlah. Bila memang isinya tak sebagus itu, paling tidak, skripsi-skripsi ini tak akan dibuang dan dibakar sebagaimana ribuan lainnya.”

***

“Menurut kalian, mana yang lebih dulu: perut atau peradaban?” tanya seorang mahasiswa senior kepada sekelompok juniornya. Carut-marut pun terjadi.

“Perut! Memangnya siapa yang bisa membangun peradaban dengan perut keroncongan?” Gelak tawa pun mengerubungi forum, “teori Maslow mencatat bahwa aktualisasi diri itu berada di pucuk piramida hierarki kebutuhan.”

Lho, peradaban dulu dong,” bantah mahasiswa lain.

“Kenapa begitu? Tidak make sense….”

“Mengurus perut itu lebih mahal, bisa triliunan. Coba hitung, ada berapa BLT saat ini? Belum lagi penyediaan lapangan kerja. Untung-untung menteri perekonomian dan stafnya jago mengatur duit.”

“Bung, perut itu menyangkut kebutuhan dasar manusia. Kenyang dulu, baru bisa beradab!”

“Orang miskin, kan, sudah tahu adab tanpa perlu diajari. Jadi, peradaban mesti didahulukan.”

Idihalah, dasar komprador penyembah kapitalis!”

Arslim mendengar celotehan itu baru-baru ini, tepatnya ketika sedang mengantar tiga bungkus gorengan ke pelataran kampus. Tiap Jumat sore, para mahasiswa secara rutin menggelar kajian sembari duduk melingkar, berbincang-bincang serius dan sesekali bergurau. Tiap Jumat itu pula, Arslim nimbrung untuk menyimak. Hanya mengangguk-angguk, berlagak mengerti. Alasannya sederhana: ia ingin sekali mengenyam pendidikan tinggi.

Saking cekaknya wawasan Arslim, ketika ada mahasiswa yang menyebut nama seperti Proudhon atau Heidegger, yang timbul di benaknya adalah jenis tanaman langka. Ketika keluar istilah Watergate, Arslim malah membayangkan sebuah pompa air mahal impor yang berseliweran di iklan-iklan.

Maklum, sejak kecil, Arslim sudah dituntut untuk bekerja dan ilmunya mentok di jenjang SMP. Setelah itu, gedung sekolahnya adalah proyek pembangunan apartemen, tempat ia biasa mengaduk semen. Kendati demikian, Arslim tak patah arang dan tetap konsisten mengikuti kegiatan akademis ini. Mumpung ada pendidikan gratis, bisiknya dalam hati.

Selama ini, Arslim beberapa kali menghadiri diskusi dengan tema ekonomi, politik, seni, dan hukum. Dari semua itu, obrolan soal filsafatlah yang paling berbelit sekaligus mengasyikkan. Banyak yang bersangkut paut! Ini disambung ke situ, yang itu memanjang ke sini, yang di sana berkaitan dengan yang di sini, dan seterusnya. Ibarat tali-temali yang membujur, tak tahu di mana pangkalnya. Pokoknya, cukup untuk membuat Arslim betah melamun lama-lama.

Arslim memang gemar sekali melamun. Bila diadakan lomba melamun, dialah juaranya. Tokoh kita ini berprinsip bahwa lamunan itu tak terbatas. Akibat hobinya itu, para tetangga di kampung bahkan sanak saudara kerap menakut-nakutinya soal masa depan yang suram: karier abu-abu dan pasangan pun ogah dipinang. Kegiatan ini seakan-akan bergelimang dosa, apalagi jika dilakukan di perkotaan yang serbacepat. Intinya, sesuatu yang nirguna.

Tapi, apalah arti hujatan itu? Di sela-sela kesibukan, Arslim masih saja suka berdiam diri dan memandangi langit sore. Setiap hari tanpa jeda. Baginya, bengong saat petang menyambar langit adalah mukjizat yang tak mampu disangkal. Tatkala helm-helm berhamburan di sepanjang aspal dan burit dihabiskan sambil menatap lampu merah, Arslim justru menikmati angkasa yang bergulir dari biru ke merah, lalu menghitam. Murah, tapi tidak untuk semua kalangan.

Azan magrib berkumandang, dan Arslim masih menerka-nerka kata filsafat yang mondar-mandir di pelataran kampus itu. Ia berandai-andai, bukankah sudah seharusnya filsafat lebih sering terjun ke bawah dan menengok kehidupan jelata? Misalnya, dunia para tukang gorengan.

***

Arslim bersikeras bahwa gerobak gorengan tidak melulu melambangkan kemelaratan. Tanpa keraguan, jutaan gerobak yang terhampar di berbagai daerah telah menjadi saksi bisu atas beragam peristiwa: kisah asmara, tabrakan, pencopetan, demonstrasi dekat istana, sampai aksi terorisme. Benda ini juga tidak hanya menandakan harapan bagi orang pinggiran. Buktinya, gerobak reyot sekalipun sanggup menghidupi para konglomerat beserta kerabatnya apabila jumlahnya bejibun.

Bersama kotak besar beroda dua itu, Arslim kerap disambangi pejalan kaki, pengendara motor dan mobil, hingga para manusia silver serta badut jalanan yang tengah beristirahat mencari rezeki. Adakalanya sepasang debt collector bolak-balik membeli, untuk kemudian dimakan di tempat sambil minum es teh manis. Pernah juga ada orang asing yang meminta bantuan untuk menyelundupkan barang jadah untuk selanjutnya diambil orang asing yang lain. Serba-serbi aktivitas ini tak luput dari perhatiannya.

“Mas, beli 20 ribu ya. Dicampur saja, tahu isi, tempe dan molen,” tutur seorang perempuan. Arslim lantas menciduk rincian pesanan dengan sebuah food tongs yang gagangnya hampir berkarat.

“Bakwannya masih ada? Boleh deh bungkus 10 ribu. Rawitnya banyakkan, ya. Oh, boleh pinjam korek?” ucap pelanggan lain seraya mengeluarkan bungkus rokok.

Pembeli tak kunjung reda petang itu. Tapi, Arslim malah merasa gelisah. Kertas pembungkus gorengan mendekati penghabisan. Seribu celaka, umpatnya dalam hati. Ini adalah masalah. Sebab, berdasarkan pengakuan orang-orang, gorengan harus dilapisi kertas. Jika tidak, rasanya tak lagi sama.

“Eh Mas Arslim, saya beli 15 ribu, ye. Digabung saja semuanya kecuali gandasturi,” ujar lelaki yang singgah belakangan.

“Aduh, maaf, kertas pembungkusnya kosong. Belum ada lagi! Mau pakai kantong plastik saja?”

“Ya sudah, tidak apa-apa. Lain kali mesti persiapanlah, Mas.”

Sang pelanggan pun pergi dengan wajah agak dongkol. Arslim membuka laci, menaruh uang, lalu merogoh ke bagian dalam. Bundelan kertas itu masih ada, dan memang sengaja ia amankan.

***

Melalui kenalannya, tukang sampah yang bekerja di kampus negeri seberang, Arslim biasa memperoleh tumpukan kertas bekas yang nantinya digunakan untuk menyerap minyak pada gorengan. Saking menumpuknya, ia terkadang boleh mencomot dan memilih sendiri. Adegan inilah yang sangat ditunggu-tunggu.

Tiap akhir semester, lazimnya sebelum liburan tiba, kertas dengan judul dan lambang kampus selalu Arslim simpan baik-baik di laci gerobak sebagai persediaan. Keterangan tahun penulisannya pun tertera rapi. Sebut saja dari 2015, 2016, 2017, 2018, terus sampai 2023. Puluhan skripsi yang selamat dari tong sampah besar itu memiliki dua fungsi. Pertama, sebagai kertas gorengan. Dan kedua, sebagai bahan bacaan.

Skripsi-skripsi tebal lumayan banyak dijumpai. Arslim pernah melihat pembahasan soal perang fisik dan ideologi, penelitian mengenai hutan lindung, mazhab-mazhab abad belasan, serta komparasi gaji Ronaldo dan Messi. Bahkan, Arslim juga sempat mendapati skripsi perihal pedagang kaki lima yang menyelamatkan negara saat krisis ekonomi tahun 1998 pecah.

Di samping skripsi, Arslim kadangkala menemukan gundukan kertas berupa buletin berisi agitasi, berkas makalah, hingga Surat Keputusan Dekan yang terselip. Ada pula selebaran yang memuat hasutan untuk menurunkan rektor, kaderisasi berkedok ajakan seminar, sampai surat cinta berbasis teori Alexandre Dumas. Ia menganggap seluruhnya sebagai bonus belaka.

Akan tetapi, yang paling menarik justru datang kemarin siang, tepatnya ketika Arslim ikut membereskan kertas skripsi yang berserakan di belakang perpustakaan kampus bersama Bang Sambul, sebelum membawanya untuk stok kertas gorengan.

“Bang, kenapa baru sekarang saya diajak kemari?” tanya Arslim pada rekannya.

“Jadi begini, Slim. Bukannya gua gak mau ngajak lu. Selama ini, gua selalu dibantu satu mahasiswa untuk memilah-milah kertas ini. Nah, sekarang orangnya sudah lulus. Tapi dia berpesan: tumpukan kertas yang masih pantas digunakan harus terus dipertahankan, jangan sampai dibakar.”

“Mahasiswa itu sedang dihukum dosen? Atau memang dibayar?”

“Anaknya rajin minta ampun, suwer dah. Mau dihukum gimana? Dari tampangnya, sepertinya bukan orang susah.”

“Kalau baru saja lulus, berarti kertas skripsinya masih ada di sini dong, Bang?”

Hmmm, ada kok. Yang paling pojok itu, langsung angkut saja.”

***

Sembari menata gerobak, Arslim membaca skripsi kepunyaan Malbari, berjudul Data Kemiskinan dan Upaya Pengentasan Ketimpangan di Negara X Tahun 2019. Matanya bergerak dari huruf ke huruf, baris ke baris. Bab satu sampai tiga masih terbilang seru. Loncat ke bab empat, kepala Arslim seketika pusing kala angka-angka menyeruak dari segenap penjuru halaman. Renungannya menjelma getas sekaligus khidmat.

“Tingkat kemiskinan di Negara X yakni sebesar 6,01% dari seluruh wilayah....”

Arslim cepat-cepat melumat kopi, masih dengan kehampaan yang sama, kemudian menyalakan batang rokok. Lembar berikutnya makin membingungkan.

“Dari data yang dihimpun, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Negara X (Rasio Gini) pada September 2022 tercatat sebesar 0,217, menurun 0,003 poin dari Maret 2022 lalu….”

Arslim berkumur untuk membuang sisa tembakau yang menyelip di antara gigi yang menguning. Ternyata cuma ampas kopi yang memenuhi rongga mulut. Hawa kian panas. Serbet sebentar-sebentar ia kibaskan. Arslim tiba-tiba merindukan gerimis di kaki cakrawala. Hujan belum lagi turun.

“Jumlah penduduk miskin berkurang 1,22 juta orang menjadi 19,38 juta. Maka, berdasarkan teori yang diimplementasikan, pemerataan ekonomi akan terwujud dalam 2-3 tahun ke depan, dan….”

Bacaannya rampung. Arslim mengernyitkan dahi. Sebagai lulusan SMP, tulisan itu tentu terlampau berat. Oleh sebab itu, agar tidak salah paham, Arslim menelaah ulang.

“Woi, napa melongo gitu? Lagi baca apa, nih?” suara Bang Sambul—yang muncul entah dari mana—menggelegar di telinga.

“Oh, begini Bang, isi skripsi ini cukup aneh, khususnya di halaman 65. Disebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi negara akan menempati posisi lima teratas di dunia. Kalau dibandingkan dengan situasi sekitar, saya cuma tahu bahwa beberapa pekan lalu, harga minyak, gas LPG, dan tepung terigu justru melambung.”

Heh, itu mah lumrah. Satu-satunya hal yang tidak melonjak itu, ya, penghasilan kita ini. Hohoho!”

“Nah, tengok ini, halaman 74. Jika kemiskinan betul-betul sudah diberantas, mustahil mantan kekasih saya rela menjual diri ke lintah darat demi melunasi utangnya yang menggunung, bukan?”

“Terkait pemberantasan ini, mending kita ngomongin Kali Brantas aja, lebih kentara juntrungannya!”

“Coba dengar dulu, Bang. Pada halaman 108, dijelaskan pula, ekonomi negeri ini akan lepas landas! Kalau ini benar, bapak saya semestinya tak lagi berpura-pura jadi dukun sakti untuk membayar tunggakan biaya pengobatan ibu.”

Bang Sambul menutup mulut rapat-rapat. Tangannya menepuk-nepuk pundak Arslim tanpa berkata-kata.

“Andai saja saya berpeluang menjadi dosen pembimbing, kertas-kertas ini sudah pasti dipenuhi goresan tinta merah,” sergah Arslim menyambung percakapan.

Lu ini mengada-ada. Ayo, bakar rokok lagi biar otak jernih.”

“Mana mungkin skripsi model gini lolos begitu saja ke ruang sidang dan meluluskan pengarangnya?”

“Pengarang? Maksud lu, skripsi ini karangan bebas, gitu?”

Bukaaan,” Arslim buru-buru menjumput spidol merah yang terletak di dalam saku. Bang Sambul mengamati gerak-gerik tukang gorengan kritis itu.

Untuk permulaan, Arslim menorehkan lingkaran pada judul dan membubuhkan komentar: Dapat dari mana datanya? Dasar pembual!

Langkah berikutnya, ia coret seluruh daftar pustaka di bagian akhir seraya menambahkan nasihat: Sumbernya sesumbar semua, harusnya diperiksa dulu!

Terakhir, Arslim yang sedari tadi merengut pun menyulap bab kesimpulan menjadi arena pelampiasan kekesalannya. Ia menulis persis di sebelah kanan kalimat penutup: Negara X itu ada di bumi bagian mana?

Bang Sambul menggeleng-gelengkan kepala, lalu memecah aksi brutal tersebut, “Di zaman edan ini, angka-angka, mah, emang bisa bohong. Jadi, gak usah dipikirin! Daripada dibuang, kertas-kertas itu toh ada manfaatnya, kan? Bisa dibaca atau dipakai buat ngebungkus gorengan lu.”

Arslim sepintas melirik kawan seperjuangannya itu dan merasa tidak enak hati atas perilakunya yang sembrono. Asap rokok menggumpal di sekeliling mereka.