Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

Membaca Seratus Tahun Kesunyian Marquez - Juli Prasetya

@kontributor 6/09/2024

Membaca Seratus Tahun Kesunyian Marquez

Juli Prasetya

 


Diawali dengan “Bertahun-tahun kemudian, saat menghadapi regu tembak yang akan mengeksekusinya, Kolonel Aureliano Buendia jadi teringat suatu sore, dulu sekali, ketika diajak ayahnya melihat es” (hlm.9)

Dan diakhiri dengan “Sebab sudah diramalkan bahwa kota penuh cermin (atau khayalan) akan dienyahkan angin dan terhapus dari ingatan manusia tepat ketika Aureliano Babilonia selesai membaca perkamennya dan bahwa apa yang tertulis takkan bisa diulang sejak awal waktu sampai selamanya. Sebab bangsa yang dikutuk seratus tahun kesunyian tak akan memperoleh kesempatan kedua di bumi ini.” (hlm.482)

Begitulah sepenggal cerita awal dan akhir dari novel Cien Anos De Soledad atau One Hundred Years of Solitude atau Seratus Tahun Kesunyian (Terj. Djokolelono, Gramedia Pustaka Utama, 2018) karangan Gabriel Garcia Marquez, seorang penulis dan peraih nobel sastra dari Aracataca, Colombia.

Dalam Macondo, Para Raksasa, dan Lain-lain Hal karangan Ronny Agustinus, Gabo (panggilan akrab Marquez) sendiri mengaku bahwa Novel Seratus Tahun Kesunyian ini adalah novel pertama yang ia tulis saat usianya 16 tahun, hal ini terungkap dalam wawancara bersama sahabatnya Vargas Llosa saat membahas tentang proses kreatif Gabo

Gabo : Begini aku mulai menulis Seratus Tahun Kesunyian ketika berusia enam belas tahun

Vargas: Mengapa kita tidak mulai dari buku pertamamu? Yang paling pertama

Gabo  : Yang pertama justru Seratus Tahun Kesunyian […] aku sendiri tidak percaya akan apa yang akan aku ceritakan, maka aku pun menyadari bahwa kesulitan itu semata-mata teknis,  yakni aku tidak memiliki unsur-unsur teknis dan bahasa untuk membuatnya kredibel, bisa dipercaya. Aku pun pergi menggarap empat buku lain sementara waktu itu. Kesulitan besarku selalu adalah menemukan nada dan bahasa agar bisa dipercaya (hlm. 68)

Seratus Tahun Kesunyian berkisah tentang takdir yang telah selesai keluarga Buendia selama tujuh turunan yang telah diramalkan dan ditulis dengan bahasa Sansekerta oleh seorang Gipsi pengembara, mistikus (saya menyebutnya mistikus karena ia berani menembus batas ilmu pengetahuan manusia), sekaligus seorang penemu bernama Melquiades. Semua tokoh di dalam cerita ini mendapatkan porsi yang berbeda namun tidak kehilangan bobot penceritaannya, seperti Jose Arcadio Buendia sang petualang, ilmuwan, dan gila karena gagal menjadi alkemis lalu diikat di pohon Kastanye dan mati di sana. Lalu Ursula Iguaran seorang perempuan tangguh, pembuat permen berbentuk hewan warna-warni, yang menjadi kepala keluarga Buendia selama berpuluh-puluh tahun menggantikan suaminya dan tidak pernah menyerah dengan usia tua, kebutaannya, dan hanya mengumpat satu kali pada dunia yang brengsek dan takdir keluarganya yang memukau, sampai pada kematiannya yang ia ramalkan setelah hujan selama 4 tahun 11 bulan dan 2 hari di Macondo mereda.

Dan tentu saja sang tokoh utama di novel ini adalah Kolonel Aureliano Buendia yang tak pernah memenangkan 32 pertempuran dalam perang-perang yang dilaluinya bersama 21 kawan seperjuangannya, dan memilih melupakan semua kenangannya dan melakukan terapi seumur hidupnya di kamar kerjanya untuk meredakan guncangan jiwa akibat perang dan kepahitan hidup dengan menulis berjilid-jilid puisi dan membuat kerajinan ikan hias dari logam. Yang ketika kerajinan ikan hias itu telah selesai ia akan meleburkannya kembali dan mengulang pekerjaannya dari awal.

Pertama kali saya membeli novel ini pada tahun 2019 di Toko Buku Gramedia di Jakarta. Saat pertama membacanya tentu saja merasa bingung dan aneh, ada ya cerita tentang keluarga turun temurun dengan nama yang berulang, selain itu tentu saja saya merasa banyak keanehan dan kemustahilan yang disajikan di dalam novel ini, sehingga pelan-pelan saya membaca, dan lambat laun saya takjub sendiri dengan ceritanya yang magis, tapi juga begitu tampak nyata. Saya seperti dipaksa untuk menuntaskan novel ini. Lalu pembacaan kedua saya lakukan beberapa hari yang lalu, dan saya memulai untuk menuliskan ulasan ini dengan nuansa dan daya baca yang tentu saja berbeda dari saat pertama kali saya membacanya. 

Kita bisa belajar proses kreatif dan kepengrajinan Marquez dari novelnya ini, bagaimana ia menyelipkan satu potongan cerita di satu bab, yang nanti akan juga kita temukan di bab berikutnya dan kita menjadi penasaran memang apa yang akan terjadi selanjutnya, jadi Marquez memainkan suspense cerita untuk menarik rasa penasaran pembaca. Lalu kemudian bagaimana ia mencampuradukan antara masa lalu masa kini dan masa depan. Bagaiamana ia membaurkan antara yang terjadi, mungkin terjadi, dan kemustahilan. Hal-hal biasa di tangan Marquez menjadi tampak luar biasa, hal ini tidak lepas dari pengaruh neneknya yang suka mendongeng dengan melebih-lebihkan ceritanya. Dan teknik inilah yang kemudian digunakan oleh Marquez dalam novel Seratus Tahun Kesunyian-nya.

Cerita pertama pada novel ini sebenarnya menceritakan tentang perkembangan peradaban dunia, dari mistik ke ilmu pengetahuan bagaimana penemuan-penemuan magnet, kaca pembesar, gramofon, pianola, Daguerrortype, listrik dan kereta api di Macondo yang dianggap luar biasa di masa itu. Kemudian bagaimana setiap suku memiliki kekhasannya sendiri dalam melakukan perjalanan, adat istiadat, mitos dan kepercayaan-kepercayaan tentang leluhur, dan tentu saja ada satu pantangan tentang pernikahan sedarah yang akan melahirkan anak dengan ekor babi, ini adalah satu pantangan yang paling terkenal di keluarga Buendia namun lambat laun dilupakan.

 Keluarga Buendia dari generasi ke generasi memiliki takdirnya sendiri-sendiri yang terjalin begitu kompleks, rumit, dan aneh. Cerita-cerita unik aneh dan luar biasa ini tentu saja menjadi hiburan tersendiri bagi pembaca. Selain itu di sini Marquez menulis secara sembarang saja, semau dan sebebas dia mau memulai dari mana, mencampuradukan antara masa lalu dan masa kini, namun hal itu tidak memisahkan jalinan cerita yang tampak menyebar dan ngawur, tapi cerita itu malah tetap bisa dinikmati menjadi satu kesatuan karena kesemrawutannya itu, tetap bisa dinikmati meskipun penceritaan dan teknik berceritanya sebebas dan seelastis itu.   

Di dalam novel ini cerita yang paling menarik menurut saya adalah saat Macondo terkena wabah penyakit tak bisa tidur. Sebuah penyakit yang mengakibatkan orang-orang Macondo tak bisa tidur dan terjaga selama berbulan-bulan, dan akibat atau efek dari penyakit ini selain tak bisa tidur adalah perlahan mereka akan melupakan segalanya. Pertama-tama lupa akan nama suatu benda, kemudian fungsinya, kemudian mereka akan lupa pada kenangannya sendiri, dan melupakan siapa diri mereka, dan melupakan orang lain. Namun penyakit wabah tak bisa tidur ini kemudian berhasil diatasi saat Melquiades yang telah dilupakan datang. Ia yang dikira telah mati terkena demam di Pantai Singapura dan jasadnya dilarung di Laut Jawa secara ajaib tiba-tiba datang ke kediaman Buendia, dan tersinggung karena orang-orang melupakannya, tapi kemudian ia tahu bahwa memang ada yang tidak beres di Macondo sehingga ia membuka peti bersisi ramuan ajaib yang dibawanya dan membebaskan Macondo dari penyakit tak bisa tidur dan tentu saja dari lupa. 

Di sini kita tidak akan menemukan perasaan sentimentil dan rasa aneh dengan cerita-cerita yang sebenarnya luar biasa dan aneh itu, Marquez akan menuntun kita untuk menerima semua ceritanya yang meyakinkan bahwa cerita tentang pembantaian 3000 orang pekerja buruh perkebunan pisang, laki-laki, perempuan dan anak-anak yang ditembaki dengan senapan mesin oleh tentara di dekat stasiun itu benar-benar terjadi dan pernah ada.

Seratus tahun kesunyian tidak hanya menjadi sebuah cerita tentang sebuah keluarga yang sudah diramal takdirnya akan berakhir dengan kutukan seratus tahun kesunyian, yang dialami oleh keturunan Buendia dari generasi ke generasi, tapi secara simbolis juga menjadi pelajaran bahwa kehidupan, sejarah, dan takdir manusia itu tidak berjalan dengan linier tapi sirkular, berputar, dan berulang. Serta sebagai pengingat agar kita tidak melakukan hal-hal yang di luar batas perikemanusiaan, bahwa pernah ada sebuah bangsa yang pernah ada di muka bumi ini namun karena melakukan hal-hal yang di luar batas, maka kemudian sebuah bencana menghancurkannya, sebagaimana angin tornado datang meluluhlantakan Macondo dan tidak memberikan kesempatan kedua di bumi ini, hilang dari sejarah, hilang dari peta, namun tetap tersimpan dan mengendap dalam ingatan dan hati pembaca.

Membicarakan “Terlambat di Djalan” Kumpulan Puisi Abdul Hadi WM yang Jarang Dibicarakan - Khanafi

@kontributor 6/02/2024

Membicarakan “Terlambat di Djalan” Kumpulan Puisi Abdul Hadi WM yang Jarang Dibicarakan

Khanafi




Di antara penyair besar Indonesia, nama Abdul Hadi W.M (lahir, Sumenep, 24 Juni 1946) tidak mungkin disisihkan. Sebagai penyair, Abdul Hadi sangat produktif (prolifik), terutama dilihat pada masa-masa awal kepenyairannya. Produktivitasnya dalam menulis sajak cukup layak untuk dibicarakan lebih jauh dan mendalam. Sebab menurut saya masih banyak segi yang belum dibicarakan dari sosok Abdul Hadi WM ini, terutama mengenai karya-karya awalnya yang sedikit banyak membawa nuansa impresionist dan surealis yang berbeda daripada penyair lainnya, misalnya seperti Sapardi Djoko Damono yang terkenal dengan sajak suasana, atau Goenawan Mohamad yang sajak-sajaknya dianggap “gelap”.

Beberapa kumpulan sajak Abdul Hadi WM yang pernah diterbitkan, antara lain: Riwayat (1967), Terlambat di Ujung Jalan (1968), Laut Belum Pasang (1972), Cermin (1975), Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975), Meditasi (1976, 1982), Tergantung pada Angin (1977), dan Anak Laut Anak Angin (1983).

Di antara kumpulan sajak yang terbit itu, tentu ada banyak sajak yang kuat (selain Tuhan Kita Begitu Dekat, sajak yang terkenal itu) tetapi kurang mendapat perhatian (kurang dibicarakan). Sebab mungkin beberapa kumpulan sajak itu selain sukar didapatkan di toko-toko buku bekas atau di perpustakaan di kota-kota besar, juga tidak pernah dicetak banyak apalagi cetak ulang. Hal demikian itu membuat kesulitan untuk melacak sajak-sajak awal atau sajak-sajak yang tidak terkenal tapi kuat, dan sajak-sajak lain yang jarang dibicarakan. Saya akan coba membicarakan salah satu kumpulan sajak yang jarang dibicarakan itu, yaitu kumpulan sajak Terlambat di Djalan yang berbentuk stensilan kemudian terbit ulang dengan judul Terlambat di Ujung Jalan.

Selain menulis sajak, Abdul Hadi juga banyak menulis ulasan, kritik, telaah, dan sebagainya, dan ia juga menerjemahkan karya sastra dari luar negeri, baik dari Asia, Eropa, dan Timur Tengah. Abdul Hadi bisa dikatakan mengikuti perkembangan sastra ketika itu, bahkan turut mewarnai khazanah sastra Indonesia dengan nafas sastra yang sebelumnya belum terhirup keterpengaruhannya, yaitu sajak impresionis-surealis, sufistik “pencarian Tuhan”, dan sajak pemikiran yang lebih akrab tinimbang sajak Subagio Sastrowardojo, misalnya, yang referensinya cukup sukar dan struktur kata-katanya cukup sulit.

Kumpulan sajak Terlambat di Djalan berisi sajak-sajak yang ditulis Abdul Hadi antara tahun 1967 – 1968 ketika ia berada dan berkisar antara Yogya, Solo, Madura, Surabaya, Medan. Tetapi kebanyakan sajak sebenarnya bertitimangsa Yogya (letaknya di awal dan di tengah-tengah), karena beliau berkuliah di UGM ketika itu. Bisa dikatakan sajak-sajak dalam kumpulan ini adalah sajak-sajak awal Abdul Hadi WM meniti jalan kepenyairannya, ejaannya pun masih menggunakan ejaan lama. Terasa sekali nuansa impresionistik dan sedikit campuran surealistik yang kuat dalam kumpulan sajak Terlambat di Djalan ini (saya tidak akan berbicara aspek impresionistik atau surealistik di dalam tulisan pendek ini), yang kemudian berkembang lebih kuat pada kumpulan sajak berikutnya seperti Laut Belum Pasang dan Cermin, pada yang disebut terakhir pengaruh haiku juga kental (karena beliau sedang kuliah di Iowa dan tekun menerjemahkan sajak-sajak Jepang).

Stensilan Terlambat di Djalan karya Abdul Hadi WM ini tidak tebal, tidak sampai 50 halaman, hanya 30-an halaman. Buku stensilan ini dipengantari oleh penyair Darmanto Jatman, dan diberi catatan singkat tentang siapa Abdul Hadi WM oleh Kuntowijoyo. Agaknya di bagian belakang terdapat keterangan bahwa stensilan ini digunakan sebagai bahan diskusi di UGM pada tanggal 10 Agustus 1968. Copyright STUDIOGRUP MANTIKA, Jogjakarta, dan diterbitkan kembali oleh Lingkaran Sastra & Budaja Mahasiswa Fakultas Sastra & Kebudajaan Universitas Gadjah Mada. Dengan redaksi penyelenggara antara lain; Kuntowijoyo, Raf’an Jusuf, Sumardi, Suharno, Siti Fiestana, sampul kulit buku dibuat oleh Tarfi Abdullah. Agaknya tradisi diskusi ini masih terus berlanjut di UGM mungkin setiap bulan bahasa, yaitu mendiskusikan puisi, meskipun belakangan lebih ditekankan pembahasan melalui esai kritik, bukan menyajikan karya atau kumpulan secara utuh seperti dulu.

Alangkah unik stensilan itu dan sungguh menarik ketika membayangkan diskusi sastra kala itu, apalagi ada beberapa nama besar yang hingga kini masih bersinar dalam bidang sastra dan ilmu sejarah, seperti Kuntowijoyo. Bisa dibayangkan lingkaran sastra ketika itu di UGM diisi oleh mereka yang benar-benar intelektuil, dan dalam ruang-ruang yang lain ada PSK, ada perkumpulan dan komunitas lainnya, dan sebagainya, sehingga tidak heran masa-masa itu di Yogya juga memiliki sumbu-sumbu yang membuat sastra kian bersinar walaupun dalam ruang yang benar-benar sunyi.

Dalam pengantarnya penyair Darmanto Jatman menyebut kumpulan ini sebagai sajak-sajak “impresionis”, kendati begitu kecenderungan surealistik dan suasana sublim seperti pada sajak-sajak Goenawan Mohamad bercampur dengan Sapardi Djoko Damono kentara sekali di dalam kumpulan Terlambat di Djalan ini. Keterpengaruhan itu pun sedikit disinggung Darmanto Jatman di pengantarnya yang pendek itu. Tetapi meski ada keterpengaruhan coraknya lain sama sekali dengan sajak-sajak yang memengaruhi itu.

Puisi-puisi dalam Terlambat di Djalan sangat unik, tidak hanya sajak pendek, tetapi justru sajak-sajak yang relatif agak panjang. Beberapa sajak menghadirkan citraan alam yang sungguh memikat (sebagaimana kekhasan Abdul Hadi WM), pelan-pelan tetapi membangkitkan jiwa pada suasana kontemplatif. Meski kebanyakan sajak berkisar dari tahun 1967 – 1968 tetapi pokok bahasannya tidak melulu sama.

Kumpulan sajak ini amat tipis (berisi kurang lebih 20-an sajak, 30 halaman) diawali dengan sajak Senja Susut dan Wadjahku, sajak yang membawa napas sajak Goenawan Mohamad dan Sapardi Djoko Damono.

 

SENDJA SUSUT DAN WADJAHKU

 

Lewat djendela

Sendja susut dalam ruang

Kau saksikan

Aku sendiri sajang

Dan wadjah jang tenggelam dalam sangsai ini

Dan ketika kudengar gaung pandjang

Bersahutan

Bersama bajang jang berhenti

 

Ketika itupun

Kau disana

Dimuka jendela, tertegun

Dan mentjari kerdip tjaja pada mataku

Serta sisa debu pada kakimu, perdjalanan djauh

Jang kau tempuh

Alangkah gersangnja djalanan

Saatpun bulan dan gerimis bergetaran

 

Ketika itu aku tak tahu

Saat djampun melontjat kebumi

Dan malam jang berdjedjalpun

Menjapu wadjahmu, menjapu kakimu

Menjapu bajangmu jang kelabu

Dan teramangu pada sendat gerimis lalu.

 

                                                Jogja 1967

             Ada frasa-frasa yang akrab dengan stylistik milik Goenawan Mohamad, seperti; susut dalam ruang, di muka jendela, dan ketika kudengar gaung pandjang, ketika itu aku tak tahu, dan seterusnya. Kemudian yang mirip dengan Sapardi Djoko Damono; menjapu wadjahmu, menjapu bajangmu jang kelabu, saat djam pun, dan malam jang berdjedjalpun, melontjat kebumi, dan seterusnya. Terlihat bahwa Abdul Hadi membaca dengan baik sajak-sajak penyair besar Indonesia sebelum dia, bukan hanya itu, Abdul Hadi membawa pelukisan yang terasa lebih “mencari” daripada melankoli seperti sajak GM atau terlalu sublim dan suasana penuh teka teki seperti SDD. Abdul Hadi memasukkan “pribadi” atau subjektivitasnya ke dalam sajaknya yang terpengaruh itu, sehingga terasa bahwa sajak ini benar-benar mewakili Abdul Hadi sendiri daripada mewakili dua penyair yang disebut tadi.

            Puisi-puisi Jogjanya sebenarnya terasa lebih merenung ketimbang puisi-puisi yang bertitimangsa kampung halamannya; Madura. Seperti pada sajak-sajak terakhir dalam kumpulan Terlambat di Djalan; Serenade, Di Muka Rumah, Gelisah Telah Menunggu, atau yang Udjung Ke Kamal (Surabaya). Citraan laut kembali menguat pada sajak-sajak kampung halamannya itu, berbeda dengan sajak yang dikutip utuh di atas tadi, terasa digambarkan suatu tempat seperti gurun, perjalanan yang gersang, walaupun muncul juga kata-kata alam; senja, tetapi lebih digambarkan suatu ruang, seperti jendela, jalan, bukan lagi laut, ombak, dst. Agaknya Abdul Hadi mencoba melukiskan pengalaman merantaunya di Jogja melalui sajak Sendja Susut dan Wadjahku.

            Pada sajak yang bertitimangsa Jogja, juga muncul kata-kata seperti kembara, lampu, ruang, jalan, jendela, kamar, dst. Seperti pada sajak Dan Angin di Luar Jendela;

DAN ANGIN DILUAR DJENDELA

 

Lampu padam

malam mati

dan angin diluar djendela jg sayuppun

                 terhenti

ruang jang berkemas kumandang hilang

lebih dingin, Tuhan

dan desakan langit dalam udara

dan kemarau jang berbagi sisa

padaku

 

Pada bajangan mengetjil

pada bajangan jang tak terdengar sentuhan

terbisik djuga sadjak dan tjeritera

tapi tak tahu detikpun djam

bersama musim turun perlahan

 

Tuhan, sadjak jang kini termangu, dingin

                        abadi

terhenti sebelum djadi

diluar, angin, didjendela dan bulan kian biru

pudar diatas bahuku

 

Tuhan, Selamat malam.

 

Jogjakarta 1967

            Dalam perantauan dan kembaranya, Abdul Hadi merasa kedekatan dengan Tuhan, bahkan penyair menyapa dan mengucapkan; selamat malam. Di sajak ini muncul gambaran ruang yang jelas, meski diksi-diksi alam kembali menyusup dengan pelan dan tenang, membantu melukiskan suasana yang “sunyi”. Dalam sunyi itu penyair seolah bercakap-cakap dengan Tuhan begitu akrab, bertanya tentang sajak yang abadi tetapi terhenti sebelum djadi. Ada kegelisahan tetapi juga tanya yang disimpan dan terus bergerak mencari jawabnya, sampai akhirnya kembali lagi atau dikembalikan lagi ke alam; diluar, angin, didjendela dan bulan kian biru/pudar diatas bahuku.

            Menghadapi sajak-sajak abdul hadi kita seolah dibawa menuju suatu ruang yang “solitude”, ruang yang mungkin amat penyair sukai atau teralami (terus menerus) dirasakan. Meskipun aku lirik di dalam sajak-sajaknya terasa kuat, walaupun tidak bermakna sebagai aku-si-penyair, tetapi “jejak” penyair masih terasa di sana. Mungkin ketika Abdul Hadi menulis tentang Madura, subjek aku lirik itu bisa diasosiasikan dengan kenyataan diri penyair itu sendiri (sebagai anak Madura), walaupun sebenarnya ada “pesan” penting yang lebih menarik untuk ditelisik daripada sekedar mengulik soal aku lirik itu.

            Sajak-sajak Abdul Hadi adalah sajak-sajak yang “akrab”, dan keakraban itulah yang selalu coba menyentuh sanubari setiap pembaca sajak-sajaknya, dan menurut saya memang pribadi beliau sendiri amat akrab dengan kemanusiaan universal. Meski Abdul Hadi adalah seorang intelektual, tetapi ia seolah ingin sajak-sajaknya tidak terkesan sulit dan abstrak, alih-alih rumit justru sajak-sajaknya sedari awal kepenyariannya ingin dekat dengan kehidupan kita, kehidupan keseharian kita, kehidupan kejiwaan kita, kehidupan spiritual kita.

Dengan bahasa yang lugas tetapi tegas, Abdul Hadi WM mengarahkan kita dan menggelitik akal kita untuk kemudian tidak hanya hanyut tetapi turut mempertanyakan hakikat kehidupan dari pengalaman keseharian kita. Ternyata memang benar, Abdul Hadi yang mengakrabi alam membawa kita turut juga menghayati alam, maka citraan-citraan alam itulah sebagai “kail” untuk memancing perhatian kita agar bertanya “hakikat” kehidupan dan bagaimana memaknai keseharian kita.

            Diksi-diksi seperti angin, ombak, cuaca, senja, angin, matahari, bulan, langit, kabut, dan sederet benda-benda alami sering muncul dalam sajak-sajak Abdul Hadi WM, bahkan pada sajak-sajaknya tentang kota, beliau menggambarkan suasana itu dengan membandingkan dengan sifat-sifat alam; seperti gersang, kemarau, bayang, dan seterusnya.

Sudah jelas, Abdul Hadi amat terpesona dengan unsur-unsur alam, hingga unsur-unsur itu dipakainya sebagai alat pembanun imaji atau citra dalam sajak-sajaknya. Khasanah alam yang gemar ia mainkan membuat suasana terasa dekat, akrab, dan kita diajaknya berasyik masuk dengan alam itu untuk menghayati makna-makna kata-katanya yang “menyapa” dan “ramah” itu.

Pada sajak-sajak perantauan di kumpulan Terlambat di Djalan agaknya menjadi tanda bahwa Abdul Hadi WM masih merasa bahwa alam begitu penting, dan sepertinya itulah tempat atau “rumah” yang menjadikannya tentram dan damai. Kendati demikian, perhatiannya kepada alam tidak membuatnya gagap membicarakan nasib dan kehidupan perkotaan. Justru diksi-diksi alam yang tadi dicontohkan dalam kedua sajak yang saya kutip utuh di atas terasa padu dan tepat, tidak terasa hal-hal janggal malah begitu akrab.

            Terlambat di Djalan menjadi titik awal yang cukup kuat, sekaligus pintu masuknya untuk keluar dari sajak-sajak penyair terdahulu yang digandrungi Abdul Hadi WM kepada sajak-sajak lain yang menjadi miliknya di kemudian hari, menjadi karakternya yang benar-benar khas. Sekarang sepeninggal Abdul Hadi WM belum lama ini, terbukti apa yang dikatakan alm. Darmanto Jatman, bahwa beliau Abdul Hadi telah menemukan kepenyairannya yang paripurna (sejati). Wassalam.

Membaca Proust: Waktu dan Rupa - Retna Ariastuti

@kontributor 5/26/2024

Membaca Proust: Waktu dan Rupa

Retna Ariastuti

 


Proust membangun novel In Search of Lost Time dengan menyampaikan gagasan atau pemikirannya secara bertahap satu persatu dan setiapnya akan diberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Setiap gagasan berawal di buku pertama dan diperluas di buku berikutnya dengan tetap menggunakan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan di Pencerita sampai kemudian mencapai kesimpulan atau pemahaman akan seluruh peristiwa sebagai satu kesatuan pada buku terakhir, buku ketujuh.

Salah satu gagasan atau pemikiran awal yang terdapat dalam buku pertama Swann’s Way adalah mengenai bagaimana kita memandang dunia di sekitar kita. Pernyataannya adalah bahwa masing-masing orang akan memahami atau mengamati dunia sekitarnya berdasarkan indranya sendiri. Tetapi pernyataan ini oleh si Pencerita dijelaskan menggunakan peristiwa sebaliknya, yaitu (catatan: karena saya mengutip hanya bagian-bagian yang terkait langsung dengan yang akan dibahas, beberapa kutipan tersebut mungkin terasa tidak lengkap atau kejadiannya seperti melompat-lompat, sehingga saya kemudian memutuskan menambahkan keterangan yang tidak lengkap tersebut ke dalam terjemahan saya hanya agar terbaca lebih runut. Dengan kata lain, saya berusaha menerjemahkan makna dan tidak semata-mata menerjemahkan kata per kata),

Our social personality is the creation of the minds of other.

Tampilan kita di depan umum adalah berdasarkan pendapat atau pikiran orang lain terhadap kita.

Selanjutnya,

But even with respect to the most significant things in life, none of us constitutes a material whole, identical for everyone, which a person has only to go look up as though we were a book of specification or a last testament.

Bahkan untuk hal-hal yang penting pun, tampilan kita tidak pernah utuh dan setiap orang akan melihat kita secara berbeda, seolah-olah setiap kita adalah seperti buku katalog dimana orang lain dapat membukanya hanya pada bagian tertentu untuk mengetahui atau memahami kita.

Lebih jauh,

We fill the physical appearance of the individual we see with all the notions we have about him, and of the total picture that we form for ourselves, these notions certainly occupy the greater part.

Kita selalu mengiringi tampilan lahiriah seseorang dengan segala sesuatu yang kita ketahui tentang mereka, dan yang kita ketahui tentang seseorang ini tentu saja selalu mencakup bagian terbesar kesan kita terhadap seseorang itu.

Pemikiran ini dijelaskan dengan bagaimana sewaktu si Pencerita masih kecil, dia mendengar dan mengamati bibinya bersikap terhadap Mr. Swann: kesan bibinya secara keseluruhan terhadap Mr. Swann maupun tingkah lakunya ketika Mr. Swann berkunjung ke tempat mereka di Combray. Penampilan Mr. Swann sederhana, seperti penduduk Combray lainnya, meski sehari-harinya Mr. Swann menetap di Paris, dan berkunjung ke Combray hanya pada waktu-waktu tertentu.

Keluarga Swann dan si Pencerita berhubungan baik karena ayah Mr. Swann, seorang pengacara terkenal pada masanya, berteman baik dengan kakek si Pencerita. Tetapi nama baik ayahnya tersebut, menurut si Bibi, tidaklah dijaga oleh Mr. Swann, karena dia menikahi perempuan tidak baik-baik di Paris; oleh sebab itu juga, menurut si Bibi, Mr. Swann tidak pernah mengenalkan istri dan putrinya secara terbuka ke keluarga si Pencerita.

Dengan hanya mengenal Mr. Swann ketika dia di Combray, si Bibi menganggap remeh Mr. Swann. Sementara dia tidak tahu bagaimana kehidupan Mr. Swann di Paris, seorang terpandang yang terkenal di lingkaran klub elit dan bangsawan Perancis. Dan suatu hari ketika Mr. Swann dan kegiatannya diberitakan di sebuah surat kabar, si Bibi tidak mempercayainya dan tidak mau percaya. Apalagi kegiatannya tersebut berhubungan dengan keterlibatannya dalam sebuah perolehan lukisan untuk sebuah museum dan juga berita bahwa setelah itu Mr. Swann diundang makan malam oleh seorang putri bangsawan dan keluarganya.

Kesan yang sama terhadap Mr. Swann dianut oleh si Pencerita sampai kemudian dia sendiri berhubungan langsung dengan Mr. Swann di Paris sewaktu sudah beranjak remaja dan ketika itu Mr. Swann adalah ayah dari gadis yang dicintainya, Gilberte. Si Pencerita menyadari terjadinya perubahan cara pandang ini hanya setelah sekian tahun, dan hanya disadarinya ketika dia menilas baik. Peristiwa ini digambarkan oleh si Pencerita,

The corporeal envelope of our friend had been so well stuffed with all this, as well as with a few memories relating to his parents, that this particular Swann had become a complete and living being, and I have the impression of leaving one person to go to another distinct from him, when, in my memory, I pass from the Swann I knew later with accuracy to that first Swann—to that first Swann in whom I rediscover the charming mistakes of my youth and who in fact resembles less the other Swann than he resembles the other people I knew at the time, as though one’s life were like a museum in which all the portraits from one period have a family look about them, a single tonality—to that first Swann abounding in leisure, fragrant with the smell of the tall chestnut tree, the basket of raspberries, and a sprig of tarragon.

Lahiriah teman kita yang telah dipenuhi oleh hal-hal ini (catatan: kesan dan pendapat si Bibi) ditambah dengan beberapa kenangan terkait orangtuanya membentuk gambaran lengkap dan utuh Mr. Swann, dan aku kemudian merasa telah berpindah dari satu orang ke satu orang lainnya yang berbeda ketika aku bertemu Mr. Swann beberapa tahun berselang dan membandingkannya dengan Mr. Swann dalam ingatanku—Mr. Swann yang pertama kali aku jumpai dulu yang sama sekali berbeda, seolah-olah kehidupan seseorang itu seperti museum, dimana setiap potret pada masa tertentu diharapkan memiliki kesamaan, satu bentuk dan rupa—Mr. Swann yang aku jumpai dulu, yang selalu santai dan wangi seperti wangi pohon chestnut dan sekeranjang buah raspberry and sejumput tarragon yang selalu dibawanya ketika berkunjung.

Menjelaskan gagasan dan pemikiran dengan menggunakan contoh dari kehidupan nyata yang cukup sederhana adalah cara Proust memperkenalkan gagasan tersebut kepada pembaca. Konsep gagasan yang sama selanjutnya digunakan untuk menjelaskan peristiwa yang lebih kompleks atau mengembangkan gagasan ke tingkat yang lebih tinggi.

Gagasan atau pemikiran dasar pada awal essay ini yang menyatakan bahwa kita memandang dunia sekitar dengan menggunakan indra kita sendiri adalah gagasan yang menjadi benang merah pertama dari keseluruhan In Search of Lost Time (ISOLT). Proust akan kembali dengan pemikiran ini di buku-buku berikutnya tetapi dengan memperluas cakupan dengan menambahkan bagaimana ingatan terlibat di dalamnya, yang secara sederhananya telah diperlihatkan pada pengalaman si Pencerita dengan Mr. Swann.

Selain itu, ISOLT adalah rangkaian dan penjelasan panjang mengenai filosofi Proust tentang kehidupan, dan untuk menjelaskannya Proust memilih menggunakan bentuk novel. Alasan pemilihannya tersebut juga dijelaskan dalam bentuk cerita, melalui peristiwa dimana di Pencerita, yang suka membaca dan berkeinginan untuk menjadi penulis, takjub dengan kemampuan penulis novel yang sedang dibacanya, yang telah membawanya untuk memahami berbagai gejolak perasaan, sedih dan bahagia, tokoh-tokoh dalam novel tersebut. Secara teknik penulisan sastra, kegiatan membaca dimana si Pencerita dapat “membaca” perasaan tokoh-tokohnya adalah serupa dengan bagaimana si Bibi “menilai” Mr. Swann hanya dari pandangan atau pendapatnya ketika Mr. Swann berada di Combray.

But all the feelings we are made to experience by the joy or the misfortune of a real person are produced in us only through the intermediary of an image of that joy or that misfortune.

Semua perasaan sedih atau bahagia seseorang akan kita rasakan juga hanya melalui gambaran tak langsung dari perasaan sedih atau bahagia tersebut.

The ingeniousness of the first novelist consisted in understanding that in the apparatus of our emotions, the image being the only essential element, the simplification that would consist in purely and simply abolishing real people would be a decisive improvement.

Keunggulan seorang novelis adalah dalam pemahaman bahwa penggambaran bagian pembentuk emosi adalah hal yang terpenting, dan dalam penyederhanaan bagian tersebut, memutuskan hanya menggunakan penggambarannya dan menghapus penggunaan wujud nyata seseorang yang mengalaminya adalah suatu langkah kemajuan yang menentukan.

A real human being, however profoundly we sympathize with him, is in large part perceived by our senses, that is to say, remains opaque to us, presents a dead weight which our sensibility cannot lift. If a calamity should strike him, it is only in a small part of the total notions we have of him that we will be able to be moved by this; even more, it is only in a part of the total notion he has of himself that he will be able to be moved by himself.

Seberapa besarpun kepedulian kita terhadap seseorang, tetaplah kita melihatnya dari sudut pandang kita, dengan kata lain, mereka sebenarnya tidak pernah menjadi tembus pandang, dan menjadi sebuah beban mati yang tidak pernah bisa diangkat oleh kepekaan kita. Jika seseorang itu ditimpa bencana, sebenarnya hanya sebagian kecil dari seluruh kepedulian kita yang tersentuh olehnya. Bahkan sebaliknya, hanya sebagian kecil pandangan dia terhadap dirinya sendiri yang tergerak karenanya.

The novelist’s happy discovery was to have the idea of replacing these parts, that is to say, parts which our soul can assimilate. What does it matter thenceforth if the actions, and the emotions, of this new order of creatures seem to us true, since we have made them ours, since it is within us that they occur, that they hold within their control, as we feverishly turn the pages of the book, the rapidity of our breathing and the intensity of our gaze.

Tujuan dan harapan seorang novelis adalah untuk dapat menemukan bagian yang tidak terjangkau tersebut dan menggantikannya dengan sesuatu yang bisa membaur dengan jiwa kita, pembaca. Dan yang menjadi penting setelah itu adalah jika aksi dan emosi dari sesuatu yang menggantikannya itu terlihat dan terasa asli, karena kita serasa memilikinya dan semua kejadian serasa terjadi dalam diri kita, meski mereka, novelis, masih memegang kendali dengan membuat kita tidak sabar membaca halaman berikutnya, dengan jantung berdebar-debar dan mata yang tidak bisa lepas dari halaman buku.

Proust juga berpendapat bahwa dengan menggunakan bentuk novel, dia dapat menjelaskan konsep waktu yang diinginkannya dengan lebih sederhana, karena novel dapat menggambarkan perjalanan waktu yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Tidak seperti pengalaman si Pencerita dengan Mr. Swann dimana perubahan cara pandangnya baru disadari setelah sekian tahun, dengan menuliskan gagasan dan pemikiran dalam bentuk novel, perubahan dapat digambarkan dan kemudian dirasakan seketika atau dalam kurun waktu yang singkat, sesingkat atau selama waktu pembacaan saja.

And once the novelist has put us in that state, in which, as in all purely internal states, every emotions is multiplied tenfold, in which his book will disturb us as might a dream but a dream more lucid than those we have while sleeping and whose memory will last longer, then see how he provokes in us within one hour all possible happiness and all possible unhappiness just a few of which we could spend years of our lives coming to know and the most intense of which would never be revealed to us because the slowness with which they occur prevents us from perceiving them (thus our heart changes, in life, and it is the worst pain; but we know it only through reading, through our imagination: in reality it changes, as certain natural phenomena occur, slowly enough so that, if we are able to observe successively each of its different states, in return we are spared the actual sensation of change).

Dan ketika seorang novelis berhasil membawa kita dalam keadaan demikian, ketika semuanya berada dalam diri, maka kekuatan emosi akan meningkat sepuluh kali lipat. Bukunya akan mempengaruhi kita seolah-olah mimpi, tetapi mimpi yang lebih nyata dibandingkan mimpi ketika kita sedang tidur, dan ingatan terhadapnya akan bertahan lebih lama. Lihatlah kemudian bagaimana dia membangkitkan dalam diri kita, hanya dalam satu jam saja, segala kebahagiaan dan kesedihan yang mungkin, yang beberapa diantaranya bahkan membutuhkan beberapa tahun jika kita yang akan mengalaminya sendiri, atau pengalaman yang sangat mendalam itu tidak akan pernah kita rasakan, karena dalam kehidupan nyata, kejadian itu akan berlangsung dengan sangat lambat sehingga kita tidak bisa merasakannya (perubahan perasaan, yang kalau dalam kehidupan nyata, akan sangat menyakitkan; kita hanya tahu dari bacaan, dari khayalan: dalam kenyataannya, telah terjadi perubahan yang sangat lambat, sebagaimana fenomena alam tertentu, sehingga jika kita amati dengan seksama setiap perbedaan keadaan yang terjadi, kita tidak akan merasakan perubahan yang berarti).

Konsep dasar bahwa setiap kita memandang dunia sekitar berdasarkan indra tidak hanya berlaku dalam hubungan antar pribadi tetapi juga pada cara kita memandang keadaan atau masalah yang kita hadapi. Keterbatasan indra akan membatasi informasi yang dapat kita peroleh dari sekitar. Tetapi dengan berjalannya waktu dan semakin banyak dan lengkap informasi yang bisa dihimpun dalam rentang waktu tertentu, akan mempengaruhi atau memperbaiki pendapat dan pemahaman kita tentang dunia. Dan kata kunci bahwa perjalanan waktu akan memperbaiki wawasan atau pemahaman akan dunia adalah benang merah kedua yang dibahas dan didalami oleh Proust dalam ISOLT pada buku-buku berikutnya.

Khalwat Puisi: Menjenguk Diri - Agus Manaji

@kontributor 5/19/2024

Khalwat Puisi: Menjenguk Diri

Agus Manaji

  


“Puncak-puncak puisi Islam klasik sebagian besar bertalian dengan tasawuf, terutama karena ia ditulis oleh para sufi atau yang berkecenderungan sufistik dan punya hubungan erat dengan tasawuf.”

(Pesantren, Santri, dan Puisi, esai Acep Zamzam Noor)

 Kita mudah bersepakat dengan pendapat Acep Zamzam Noor, tasawuf terbukti telah menyuguhkan sastra bermakna. Tak sekadar indah, sastra sufistik menawarkan alternatif spiritualisme di tengah kehidupan yang materialis dan hedonis. Tak Cuma ulama, para penyair juga penafsir ajaran agama. Para penyair, penghayat hidup, hadir sekaligus berjarak, di tengah (kehidupan) masyarakat.

              Sastra religious bernapaskan Islam dan sastra sufistik memiliki jejak panjang di Indonesia. Meski mulai era 70-an, nyala sastra ini tampak lebih benderang, bersama gagasan/temuan sastra lain yang muncul ketika itu, seperti puisi mbeling dan puisi konkret. Seolah ikut merayakan “kemerdekaan” pasca polemik antara kelompok manifest kebudayaan dan kelompok lembaga kebudayaan rakyat dengan realisme sosialisme-nya yang terjadi pada tahun 60-an. Selain itu, karya-karya sastra sufistik dari Taufik Ismail, Emha Ainun Nadib, Danarto, Kuntowijoyo, M Fudoli Zaini, maupun Abdul Hadi W.M. menjadi suara lain dari gemuruh pembangunan pemerintahan orde baru yang berdampak pada ausnya spiritualitas.

              Sedikit perihal Abdul Hadi WM yang belum lama ini meninggalkan kita, beliau berkontribusi besar mengenalkan kita kepada karya-karya sastra sufi dari Rumi, Iqbal, Omar Khayyam, al Hujwiri, dan bahkan Faust Goethe. Puisinya Tuhan, Kita Begitu Dekat telah menjadi setetes embun bening dalam perpuisian kita. Bukunya Sastra Sufi barangkali menjadi buku kompilasi paling kaya dan telah menjadi klasik yang diterjemahkan dan disusun secara serius oleh penulis Indonesia. Buku ini menghimpun puisi maupun prosa dari sastrawan sufi, dari khazanah peradaban Islam baik luar negeri maupun Indonesia. Terakhir, karyanya Tasawuf yang Tertindas yang diangkat dari disertasi Abdul Hadi W.M. adalah tafsir paling kritis dan otoritatif hingga saat ini atas puisi dan pemikiran Hamzah Fansuri.

              Di tahun 90-an hingga 2000-an sastra sufistik diteruskan generasi Acep Zamzam Noor, Abidah el Khalieqy, Hamdy Salad, Ahmad Syubbanuddin Alwi, Kuswaidie Syafie, dan Abdul Wachid BS, Bernando J Sujibto. Gambaran periodisasi di atas sebetulnya tidak saklek atau ketat mengingat jenis ini berumur panjang. Puisi-puisi bernapaskan Islam dan sufistik terus ditulis, bahkan banyak nama dari era-era lampau itu masih menulis hingga hari ini. Kita masih membaca karya-karya baru Emha Ainun Nadjib, D. Zawawi Imron, Sutardji Calzoum Bachri, hingga di hari-hari ini.

              Sofyan RH. Zaid, penyair asal Madura, pulau yang sama melahirkan penyair ampuh seperti Abdul Hadi W.M., D. Zawawi Imron, Jamal D Rahman, M. Faizi, Raedu Basha, dan Mahwi Air Tawar, baru saja menerbitkan Khalwat. Di bagian Pintu Buku, Tasawuf, Filsafat, dan Puisi Sofyan menceritakan sejarah hidup kepenyairannya. Sejak menempuh pendidikan tingkat SD, MTs, kemudian Pondok Pesantren Annuqayah, Sofyan sudah menunjukkan ketertarikan pada puisi, filsafat dan tawasuf. Ia menulis, “buku Khalwat sebagai buku puisi kedua setelah Pagar Kenabian (2015) ini, berisi sepilihan puisi yang mewakili perjalanan hidup saya tersebut.”

Struktur dan Labirin Doa Pembuka

              Pemilihan judul Khalwat serta kata pengantar yang sarat nuansa tasawuf membantu pembaca dalam memahami buku. Kata “khalwat” atau “khalwah” merupakan salah satu istilah khas dalam khazanah tasawuf yang bermakna penarikan diri dan penyendirian spiritual. Pada tahapan awal, laku khalwat dilakukan secara fisik dengan menarik diri dari gangguan-gangguan luar yang berpotensi menyimpangkan seseorang dalam kontemplasi atas Nama-nama dan Sifat-sifat Allah. Pada tahap selanjutnya, khalwat dapat menjadi semata-mata spiritual ketika hati senantiasa hadir terus-menerus bersama Allah di mana pun setiap saat. Pada titik ini kemudian khalwat menjelma menjadi perbincangan mesra di relung kesadaran seseorang dengan Allah. Syaikhul Akbar Ibnu Arabi menimbang penting khalwat hingga merasa perlu menuliskan Rilalah al-Anwar fi maa Yumnah Shabib al-Khalwah min al-Asrar, sebuah panduan praktik menjalani khalwat.

              Sofyan dengan pertimbangan terukur mengatur puisi-puisinya ke dalam 5 bagian seperti struktur sebuah risalah tasawuf, yakni Mukadimah (1 puisi), Khalwat Pertama (12 puisi), Khalwat Kedua (12 puisi), Khalwat Ketiga (12 puisi), dan Khatimah (1 puisi). Demikian, kita mafhum Sofyan menggunakan kata “mukadimah” dan “khatimah” yang telah terserap ke dalam perbendaharaan bahasa Indonesia, dan tidak memilih kata “pembukaan” dan “penutupan” misalnya, demi menebalkan nuansa kitab klasik Islam.

              Puisi pertama buku ini langsung membuat saya tertegun diam. Tiga bait saja, diksinya sederhana, bergema panjang dan membentangkan banyak hal. Terpaksa saya mengingat dan memanggil beberapa ingatan bacaan, dan sedikit tafsir.


DOA PEMBUKA DIRI

 

maha pemaksa

yang pengasih

maha penyiksa

yang penyayang

 

aku bergantung

dan berlindung kepadamu

dari bujuk iblis yang terkutuk!

bahkan mungkin

dari diriku sendiri

 

dengan menangis

aku kini mengemis padamu:

apa yang pernah diminta musa

tapi kau berikan pada muhammad

 

2013-2024

 

             Puisi Doa Pembuka Diri, pada bagian Mukadimah seolah berperan sebagai bacaan ta’awudz bagi seorang muslim yang akan mengaji Al-Qur’an. Melalui puisi ini Si Aku Penyair menyatakan pengakuan kehambaannya, memuja sekaligus menyadari Sifat-sifat Allah yang seolah bertentangan, tapi sesungguhnya saling melengkapi, dan kita bisa menyebutnya sebagai kesempurnaan: maha pemaksa/ yang pengasih/ maha penyiksa/ yang penyayang. Selanjutnya, pada bait kedua, Si Aku menyatakan kebergantungannya seraya memohon perlindungan Allah dari bujuk iblis yang terkutuk dan dari (nafsu) diri sendiri. Si Aku melanjutkan doanya pada bait ketiga, seraya menangis mengemis kepada Tuhan Apa yang pernah diminta Musa tapi kau berikan pada Muhammad.

              Puisi ini menggambarkan pengakuan posisi kehambaan insan di hadapan Allah. Lebih dari perannya sebagaimana bacaan Ta’awudz, penyebutan iblis di bait kedua, menurut saya, melengkapi kesadaran kehadiran -dan kemudian tentu menentukan orientasi dan tujuan- manusia dalam hidup. Bukankah soal penciptaan dan keunggulan manusia dalam Al Quran selalu bersanding dengan kisah pengingkaran Iblis atas perintah Tuhan untuk bersujud kepada manusia? Iblis kemudian meminta penangguhan pada Tuhan untuk hidup di dunia, untuk menggoda dan menjerumuskan manusia agar mengingkari kebenaran dan perintah Tuhan.

              Bait ketiga meneruskan doa sebelumnya, sekaligus menegaskan orientasi tujuan Si Aku selaku manusia: apa yang pernah diminta musa/ tapi kau berikan pada muhammad. Nabi Musa seorang nabi Istimewa, salah seorang nabi ulul azmi, dihormati oleh umat Yahudi, pembebas Bani Israel dari penindasan Firaun. Meski seorang nabi dan rasul, namun Nabi musa kerap menunjukkan karakter yang manusiawi. Misal, ia mulanya menolak menyampaikan risalah karena merasa lemah, tak fasih berbicara dan berdiplomasi. Ia pun meminta Tuhan agar diberi seorang pembantu Nabi Musa Kalimullah sebagai juru bicara. Kali lain, ia merasa sombong sebagai hamba Allah yang paling saleh, hingga ditegur oleh Tuhan. Akhirnya, Musa harus berguru kepada hamba Allah misterius anonym, mungkin bukan seorang nabi, dan kita mengenalnya sebagai Khidir. Konon kata “khidir” bermakna hijau, menghidupkan. Demikian kemudian Nabi Musa mengalami pencerahan.

              Apa yang dituturkan bait ketiga puisi ini bertalian dengan 2 peristiwa/kisah penting kedua nabi yang tersebut. Frase pertama, Apa yang pernah diminta musa, merujuk kepada permintaan Nabi Musa Agar Allah menampakkan diri agar Musa dapat melihatnya. Permintaan ini tidak dikabulkan, Musa hanya menyaksikan gunung hancur luluh. Kisah ini tertuang dalam surat al a’raf ayat143. Frase kedua, tapi kau berikan pada Muhammad, bertalian dengan Peristiwa isra mi’raj, peristiwa perjalanan Nabi Muhammad dalam satu malam dari kota Makkah ke kota Yerusalem, dan kemudian Mi’raj naik ke langit, hingga ke Sidratul Muntaha. Rasulullah kemudian bertemu Allah dan menerima perintah sholat 5 waktu. Menurut salah sebuah hadits, semula perintah sholat berjumlah 50 waktu, tapi atas saran Nabi Musa, yang dijumpai Rasulullah di langit bawah, Rasulullah menawarnya hingga tersisa hanya 5 waktu saja. Peristiwa Isra Mi’raj tersurat dalam Al Quran surat Al Isra ayat 1 dan An Najm ayat 13 – 18.

              Bagi saya, puisi Doa Pembuka Diri begitu apik, dengan diksi sederhana namun terukur, mampu menyajikan lipatan-lipatan dan labirin makna dengan pas. Tidak kurang, tidak berlebih. Pengaturan komposisi baris-baris puisi yang memusat mengisyaratkan keseimbangan dan ketenangan batin. Pernyataan tersirat akan perjumpaan dengan Allah Sang Kekasih dalam khazanah tasawuf tentu menjadi tujuan. Dan demikian, puisi ini telah berhasil merangkum isi dan memberi arah pembacaan buku khalwat.

 Khalwat Pertama: Munajat

            Selayaknya seorang muslim hendak mengaji, sehabis membaca ta’awudz, kemudian membaca basmalah. Sofyan menempatkan puisi Bismillah! sebagai puisi pertama dari bagian Khalwat Pertama. Di awali dengan menyatakan kefakiran diri, puisi ini kemudian mengungkap kesadaran akan pentingnya tawakal manusia kepada Allah. Tampak pada puisi ini ikhtiar Si Aku untuk menafikan, melawan egonya dan dirinya sendiri. Ia berseru lirih, bawa ke mana kau hendak/ tak akan aku berontak. Hidup adalah perjalanan yang disimbolkan dengan sungai dan alirannya menuju ke segara/laut. Kaum sufi menghayati hidup, melawan ego, dan menghidupkan kesadaran akan kedaifan sehingga mampu selaras dengan kehendak Tuhan.

Bagi yang akrab dengan kitab klasik tasawuf semisal Risalatul Qusyairiyah, At Ta’aruf al Kalabadzi, Al Luma Abu Nashr As Sarraj, tentu mafhum jika kaum sufi adalah penghayat agama yang original dan sahih. Konsep tauhid, misalnya, dipahami secara khas oleh setiap sufi, dalam kata-kata mereka sendiri sebagai buah dari pengalaman. Pendapat-pendapat tersebut sering tampak beda bahkan bertentangan tapi sesungguhnya mengandung spririt (arti) yang sama atau setidaknya beririsan satu sama lain. Dalam konteks inilah rasanya kita lebih mudah membaca puisi Tasawuf III. Diksi “sungai” kembali muncul pada puisi ini.

 

TASAWUF III

 

sungai terpanjang setelah nil

adalah rinduku

 

Annuqayah, 2007

 

            Judul puisi dan badan puisi berkait erat, satu kesatuan. Dengan diksi “sungai”, “nil”, dan “rindu”, hanya 2 larik saja, Sofyan berhasil mendefinisikan ulang tasawuf dalam relasi cinta seorang hamba kepada Tuhannya. Sungai Nil, kita tahu, diakui sebagai sungai terpanjang di dunia, dan bagi Penyair, rasa rindunya kepada Kekasih menjadi sungai terpanjang berikutnya. Ada kerendahan hati di sini dengan tidak menyebut “yang paling panjang”. Puisi ringkas ini juga mengisyaratkan sebuah perjalanan panjang, disinggung pula dalam puisi Bismillah!, yang membutuhkan perjuangan mujahadah melawan hawa nafsu dan pe-nafi-an diri.

            Dengan pola ungkap seperti puisi Tasawuf III, puisi terakhir bagian Khalwat Pertama, berjudul Tuhan, hanya berisi 1 kata: tahan! Bagian judul dengan bagian isi puisi seolah dua sisi dari sekeping mata uang logam. Rima “han” menautkan judul dengan isi, kemudian menggemakannya dalam semesta tafsir di benak pembaca. Bukankah Tuhan Mahasegalanya, Mahapengasih, Mahasuci, dan seterusnya, sementara manusia betapapun memiliki tubuh sehat dan rasionalitas yang kuat, dengan capaian ilmu pengetahuan dan teknologi, ternyata tetap saja berlumur keterbatasan dan lumpur dosa. Kedaifan manusia, atau salik, jatuh bangun, hadir dan tenggelam, dalam menempuh jalan panjang pencarian, berhadapan dengan samudera kemahaan Tuhan, tak ayal membangkitkan perasaan patah, gusar, sekaligus pasrah. Puisi Tuhan seolah meringkas seluruh ikhtiar dan munajat dari 11 puisi lain di bagian Khalwat Pertama. Dalam soal keringkasan puisi ini mengingatkan kita pada puisi Sutardji Calzoum Bachri, Kalian. Selengkapnya kita nikmati puisi Tuhan:

 

                        TUHAN

 

                        tahan!


                       2023

 

Khalwat Pertama, bagian pertama buku, menyajikan puisi-puisi intim, munajat perbincangan antara Sang Pencinta (Si Aku) dengan Sang Kekasih (Sang Khalik), kesaksian penghambaan, serta monolog perenungan diri. Khalwat pertama inilah yang selaras dengan definisi khalwat pada tahap awal, yakni penarikan diri dari (pergaulan) dan maslahat dunia.

Khalwat Kedua: Sendiri Bersama

            Khalwat Kedua, bagian kedua buku ini, menampilkan 12 puisi dari tahap khalwat selanjutnya. Pada tahap ini khalwat dapat menjadi semata-mata spiritual ketika hati senantiasa hadir terus-menerus bersama Allah dimana pun setiap saat. Puisi-puisi pada ruang ini tidak eksklusif, ada kehadiran orang lain, mungkin kawan, semisal pada puisi Pintar, Tapi Tolol Seperti Gawai dan puisi Simulakrum, atau ada tokoh Gus Dur (?) seperti pada puisi Songkem. Atau Ibu pada puisi Bunda Doa. Tempatnya pun bisa berbeda-beda, seperti sepanjang jalan, kafe, puncak, tepi sungai Wilmington. Kita juga membaca waktu pagi yang hablur, siang hari atau kapan pun.

            Ikhtiar untuk hadir terus bersama Allah tidak mungkin tanpa hambatan seperti kita berkendara di jalan tol. Kemajuan peradaban menawarkan aneka pilihan (semu) menggoda. Silaturahim kepada tokoh spiritual/ulama bisa menjadi pelipur dan pengingat. Hanya ruhani-ruhani sefrekuensi bisa bergetar dalam resonansi. Puisi Songkem, yang tampaknya diperuntukkan buat Gus Dur, merekam hal ini. Penyair mencatat: ruhku pada ruhmu bersalam/ di antara riuh orang-orang/ yang pura-pura mencari berkah.

Perenungan Sofyan atas fenomena kehadiran gawai menghenyak kesadaran kita. Alih-alih berfungsi memudahkan kerja dan komunikasi manusia, gawai dalam banyak kasus justru berakibat dehumanisasi, manusia kehilangan focus dan orientasi. Pada puisi Simulakrum Penyair menggambarkan pertemuannya dengan seorang kawan di sebuah kafe. Mereka saling kangen. Ironisnya pertemuan itu hanya berlangsung beberapa menit saja dan mungkin sia-sia karena kemudian perpisahan terjadi begitu mereka asyik dengan gawai masing-masing. Kita cuplik 2 bait puisi ini:

 

                                   beberapa menit kemudian

perpisahan tiba lebih awal

sebelum lambai selamat tinggal

dan ikrar untuk bertemu lagi

 

saat tangan sam-sama meraih gawai

dan mulai saling abai!


Khalwat Ketiga: Pulang

              Bagian Khalwat Ketiga, masih kelanjutan Khalwat Kedua. Pengenalan manusia akan Tuhannya mensyaratkan pengenalan diri. Sebuah hadis masyhur di kalangan kaum sufi berbunyi, man arafa nafsanu, arafa rabbahu, siapa yang mengenal dirinya (akan) mengenal Tuhannya. Syaikh Imam Abdullah Al Haddad menafsirkan hadis tersebut dengan mengaitkannya kepada Al Fushilat ayat 53 yang berbunyi Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di cakrawala dan pada diri mereka sendiri sehingga menjadi jelaslah bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Jagat besar, alam semesta (makrokosmos) dan jagat alit, diri manusia (mikrokosmos), bertaut serupa cermin satu sama lain. Mereka yang mengetahui (kekurangan dan kelebihan) dirinya akan dapat mengenali Tuhannya saat berhadapan dengan alam. Proses pengenalan diri setiap insan berbeda-beda, amat personal.

              Puisi-puisi pada bagian ini menggambarkan proses penyair untuk pulang, melacak asal usul, untuk kemudian menera ulang orientasi hidup, dalam bahasa Abdul Hadi W.M., “kembali akar, kembali sumber”. Akar atau sumber tidaklah tunggal, dapat berupa filsafat, spiritualitas nilai agama, tradisi, asal usul leluhur.

              Filsafat menjadi salah satu jazirah pencarian diri yang menggoda, tampak akan dapat memuaskan akal rasional. Penyair Sofyan pun bergulat dengan filsafat, bertemu Eric Fromm, Sartre, maupun Karl Marx. Sayang, tampaknya pencarian kurang memuaskan. Dalam puisi Alien, si Aku mendapati kenyataan, kopi dalam gelas kemanusiaan tinggal ampas, lalu Erich Fromm dan Sartre memanggilnya: “alien… alien... alien…”. Akhirnya Sofyan insaf dan berseru: sebab akulah kesepian itu!

              Pencarian diri membawa penyair pulang kampung untuk menyaksikan bulan, tanda kebesaran Allah di ufuk (ingat surat Al Fushilat ayat 53 tadi!). Bulan yang sama disaksikan di perantauan sesungguhnya, tapi dari sudut berbeda, dari tanah kelahiran, dekat hulu kehadiran, hingga tampak lain beda. Dalam puisi Bulan Batang-Batang, Sofyan menemukan bulan yang putih perak kemerahan cahayanya ternyata seperti bibirmu berkilau memaksa orang-orang bersaman. Ikhwal tujuan penciptaan manusia juga membawa penyair melakukan perenungan hari ‘alastu, hari perjanjian primordial di alam ruh, di mana ruh manusia mengakui Tuhannya sebagaimana tertuang dalam surat al A’raf ayat 172 (puisi Alastu). Bagi kaum sufi, hari itu adalah hari persaksian bahwa Tuhan-lah Sang Kekasih. Hari Alastu adalah “hari awal” sekaligus menjadi simbol “hari akhir” pertemuan dengan Sang Kekasih di akhirat kelak.

              Keluarga menjadi rujukan manusia dalam mengenali diri. Jalan takdir kehadiran manusia di dunia adalah hubungan cinta ayah dan ibu. Di sini, kasih sayang Tuhan mewujud dalam kasih sayang orang tua kepada anak-anak mereka. Betapa penting peran dan makna orang tua, khususnya Ibu. Seorang manusia sampai kapan pun tetaplah seorang anak dari Ibunya. Kasih sayang dan pendidikan Ibu akan terus menjadi suluh dalam kehidupan seorang anak. Kita simak petikan puisi Dadaisme Ibu:

 

kemana pergi

sejauh menjadi

aku tetap kanakmu, ibu

 

dunia ini masih dadamu

dan segala waktu

adalah masa kecilku

             Sekali lagi, puisi-puisi pada bagian Khalwat Ketiga, menggambarkan fase khalwat kedua, di mana manusia tak sekadar menarik diri, tapi berusaha memutus ikatan-ikatan keduniawian. Bukan memutusnya sama sekali, karena toh manusia harus hidup di tengah masyarakat, namun untuk menemukan nilai hidup. Demikian, manusia menepi sejenak, menjalin dan mengayam kembali simpul dan ikatan primordial.

            Spirit puasa, terutama di 10 hari akhir bulan Ramadhan, di mana seorang muslim disarankan oleh Nabi untuk mengencangkan ikat pinggang dan beri’tikaf, sejatinya sama dengan spirit khalwat. Lailatul Qadar atau malam kemuliaan sesungguhnya karunia Tuhan atas hambanya yang terpilih, yang meronda dan bersiap diri sepanjang hari dengan laku ibadah penghambaan penuh penghayatan. Mereka yang sukses beribadah dan beri’tikaf, mereka yang berhasil menjalani khalwat, sama-sama mendapat karunia Lailatul Qadar, yakni pencerahan ruhani yang kelak menjadi spirit dan energi dalam kehidupan manusia selanjutnya.

            Puisi-puisi Sofyan RH Zaid tampak bening, buah dari perenungan hati yang jernih. Dengan diksi yang padat, beberapa tampil prismatik, menyuguhkan aneka warna dan lipatan tafsir. Sofyan RH. Zaid, lewat buku terbarunya, mengajak pembaca untuk berkhalwat lewat puisi. Tidak harus meninggalkan kehidupan sehari-hari, tapi dengan sedikit-sedikit memutus ketergantungan kita pada (kepalsuan) dunia, seraya mengaktifkan sensor hati demi merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan.

Demikian. Semoga.

Muntilan, 4 Mei 2024

 

Rujukan dan Bacaan

1: Pesantren, Santri, dan Puisi, esai Acep Zamzam Noor, dalam Majalah Horison no. 4, tahun XXXI, April 1997.

2: Buku esai Kembali ke Akar Kembali ke Sumber, kumpulan esai Abdul Hadi WM, penerbit pustaka firdaus, terutama pada esai berjudul sama dengan judul buku, hal 3 -20, juga esai sastra Transendental dan Kecenderungan Sufistik Kepengarangan di Indonesia, halaman 21- 41.

3: Sastra Sufi, Penyusun, Penyunting, Penerjemah Abdul Hadi WM, Pustaka Firdaus, Juni 1996

4: Tasawuf yang Tertindas, diangkat dari disertasi Abdul Hadi WM, Penerbit Paramadina

5: Kunci Memasuki Dunia Tasawuf, Khazanah Istilah Sufi, Amatullah Armstrong, penerbit Mizan, cetakan 1, Desember 1996

6 : Risalah Kemesraan, terjemahan atas kitab Rilalah al-Anwar fi maa Yumnah Shabib al-Khalwah min al-Asrar, karya Ibnu Arabi, bersi Indonesia, Penerbit Serambi, th 2005.

7 : Puisi Kalian, dalam buku O Amuk Kapak, karya Sutardji Calzoum Bachri, Sinar Harapan, Cet pertama, th 1981, halaman 98.

8 : Pemuas Kalbu, terjemahan atas Al Nafais al Ulwiyyah fi Al Masail al Shufiyah, penerbit IIMaN dan Penerbit Hikmah, tahun 2003, hal 114 - 116