Mengapa Saya Menulis Sajak - Subagio Sastrowardoyo

ADMIN SASTRAMEDIA 4/12/2020
Mengapa Saya Menulis Sajak
oleh Subagio Sastrowardoyo
Mengapa Saya Menulis Sajak - Subagio Sastrowardoyo

SASTRAMEDIA.COM - Bagi sementara penulis amat sukarlah untuk berbicara tentang diri sendiri, baik mengenai perkembangan tugasnya menulis maupun tentang alasan-alasan di balik tulisannya. Sebab kesukaran itu harus dicari pada keseganan untuk memperlihatkan terlalu banyak kelemahan sendiri, yakni perjuangan yang hampir sia-sia hendak menyelesaikan sesuatu dengan baik. Dan saya tergolong pada penulis-penulis demikian itu. Mungkin belum cukup matang waktunya bagi saya untuk melakukan perbuatan semacam menjual tampang ini. 

Kecuali sebab itu, saya pun ingat bahwa maksud-maksud di balik tulisan tidak selalu menentukan tinggi mutu karya. Saya boleh saja menerangkan betapa hebat angan-angan yang mendorong saya menulis sesuatu sajak atau cerita pendek, tetapi akhirnya hasil karangan-karangan itu juga yang akan menentukan apakah angan-angan itu cukup berharga untuk diucapkan dalam bentuk sastra ataupun dibicarakan di dalam sidang ini. Saya tidak bisa bicara banyak tentang nilai karangan-karangan saya. Semuanya telah dimulai dengan itikad yang baik, dan kalau boleh saya terus terang, saya tidak akan pernah menerbitkannya kalau pada ketika itu saya tidak merasa bahwa karangan-karangan saya itu sekurang-kurangnya cukup baik untuk dibaca. Tetapi di zaman modern ini, di mana sikap rendah diri masih merupakan kebajikan sosial, saya harus selalu hati-hati dalam menilai. Karena penilaian selalu adalah cermin yang memantulkan bayangan diri saya sendiri.

Tetapi saya tidak akan datang ke seminar ini kalau saya terlalu terikat oleh kekusutan pertimbangan moral itu. Kehadiran saya di sini justru terdesak oleh alasan utama yang terdapat juga di balik kegiatan sastra saya, yakni keriaan yang begitu jamak pada manusia. Keriaan itulah yang mendorong seniman hendak menelanjangi diri di muka publik yang tidak peduli dan acuh tak acuh. Saya di sini sedang melakukan semacam striptease batin. 

Kita tidak perlu malu mengakui adanya kecenderungan asasi dan alamiah pada pertokohan seniman itu. Peran-peran lain dalam komidi hidup ini tidak dapat disangkal lagi memiliki kecondongan yang sama. Apakah orang ini mencapai kemasyhuran dan kehormatan menteri di dalam kabinet, jenderal angkatan perang atau mahaguru universitas, keinginan-keinginan itu dijangkitkan oleh keriaan yang sama juga. Hanya dengan sedikit perbedaan; pada seniman keriaan itu mempunyai corak yang khusus yang ditentukan oleh cita-cita hendak mencapai nilai yang kekal. Cita-cita itu tidaklah terutama bersangkutan dengan keadaan dirinya sendiri sebagai manusia seniman yang abadi namanya, melainkan dengan karya seninya. Seniman hendak menciptakan nilai-nilai seni yang kekal yang sanggup bertahan menghadapi pertimbangan-pertimbangan estetik yang berubah-ubah menurut perbedaan waktu. Inilah perbedaan yang pokok, dan setelah tercapai, seniman rela mengundurkan diri dari pentas dunia. Kita mungkin pernah berjumpa dengan kisah, khayal atau pun nyata, tentang seniman yang mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan patung-patung atau lukisan-lukisannya yang hampir musnah dilanda api atau banjir. Cintanya kepada hasil ciptaannya lebih besar daripada kekhawatirannya akan kebinasaan diri.

Pikirannya yang terlibat pada nilai-nilai kekal itu cenderung membatasi daerah perhatian seniman sehingga menciut dan menunggal. Kemampuannya memusatkan pikiran menyanggupkan dia mencangkup secara intuitif intipati-intipati, baik pada kenyataan batin maupun lahir. Tetapi sebaliknya, gerak geriknya kelihatan seperti kikuk dalam menyesuaikan diri dengan tata cara pergaulan. la tidak bergerak secara lancar di tengah orang-orang yang tidak dikenalnya, atau ia tidak sanggup turut serta dengan baik di dalam olahraga, main kartu atau "omong kosong" saja, karena ia cenderung memandang kesibukan-kesibukan demikian hanya sekadar pengisi waktu luang dan tidak mempunyai nilai yang kekal. 

Hasrat akan kelanggengan itu juga yang mendorong saya menulis. Sebenarnya hasrat demikian terdapat pada semua orang, sekalipun kita umumnya tidak menyadarinya. Hasrat itu ada ketika kita hendak menangkap suatu pemandangan yang menarik dengan alat potret kita. Dengan melekatkan pemandangan itu kepada kertas potret, kita renggut pengalaman itu dari perlahapan waktu dan dengan demikian kita mengekalkannya. Secara demikian juga saya menjadikan kekal pengalaman-pengalaman perasaan, pikiran dan penginderaan saya yang menarik hati saya dengan mencatatnya dalam bentuk sajak atau kisah. 

Kita tinggal memilih jalan dalam mengatasi waktu itu. Saya dapat bertanya pada diri sendiri: mengapa saya telah memilih kesusastraan sebagai jalan untuk mengabadikan pengalaman saya? Mengapa saya tidak berpuas diri dengan mengambil gambar-gambar saja dengan alat potret? 

Seperti kebanyakan orang yang bekerja di lapangan seni, saya menaruh perhatian juga pada bidang-bidang seni yang lain daripada sastra. Waktu muda saya ingin menempuh jalan musik, tetapi kemudian hari saya merasa bahwa bunyi begitu lemah menghadapi landa waktu. Bunyi begitu mudah menguap tanpa meninggalkan kumandang di udara dan yang tinggal hanya lambang-lambang mati di atas kertas musik. Ini boleh jadi pendapat yang bodoh, tetapi itulah yang saya rasakan pada sarana musik, begitu cepat musnah, setiap nada hilang begitu saja seperti terlahap oleh waktu. 

Kemudian saya berkecimpung selama beberapa waktu di bidang seni lukis. Tetapi saya rasakan seni ini sebagai seni bisu. Ini adalah seni manusia tanpa lidah dan saya tidak puas dengan seni lukis. Menurut perasaan saya, sarana lukisan tidak cukup lembut untuk mengucapkan gerak perasaan dan pikiran. Di dalam lukisan nyawa masih terus bergulat hendak mengucapkan diri seakan-akan terkungkung dalam tubuh yang tak dianugerahi bahasa. Maka akhirnya saya menyambut bidang kesusastraan, sebab di sini saya dapat mengucapkan diri secara penuh sebagai manusia, sekalipun saya insaf bahwa bayangan yang terlukis lebih kekal dan universal daripada bahasa sebagai sarana sastra. Kita tahu lebih banyak bahasa-bahasa mati di dunia, dan betapa di samping bahasa-bahasa mati itu masih berdiri dan berbicara hasil seni rupa dari zaman lama. 

Di dalam kesusastraan pengalaman estetik tidak hanya melibatkan saat-saat jasmaniah, penginderaan dan perasaan dari kehidupan kita sebagai insan, tetapi bersangkutan juga dengan masalah-masalah, pertimbangan-pertimbangan dan keputusan keputusan yang menjadi ciri khas kehidupan manusiawi. Di dalam sastra kita mengucap dan terbayang sebagai manusia yang penuh.  

Tetapi mengapa memilih menulis sajak? Saya pernah menulis cerita pendek dan satu kumpulan telah terbit. Tetapi sajak lebih sanggup memenuhi kebutuhan saya menyatakan pengalaman estetik secara langsung tanpa berpaling pada rencana-rencana yang disengaja mengenai pembentukan watak tokoh-tokoh, kejadian-kejadian dan plot-plot (kalau kita mengadakan plot di dalam cerita). Saya sekarang tidak begitu sabar lagi menulis kisah. Saya kira, saya tidak akan lagi menulis cerita prosa, sekalipun ada saat-saatnya saya merasa dorongan-dorongan yang kuat untuk mengarang sebuah roman yang punya bobot. Saya tidak yakin apa yang saya masih bisa sekalipun saya ingin. 

Menurut pandangan saya, meminta dari seorang penyair untuk menulis kisah dalam prosa hampirlah sama dengan meminta dari seorang pelukis kubisme, surealisme atau abstrak untuk melukis dalam gaya naturalisme. Hanya sedikit saja pelukis yang sanggup memenuhi permintaan itu, karena pergantian gaya itu boleh dikata sama dengan memaksa diri kembali pada tingkat realismenya yang dahulu, yaitu waktu kebanyakan penulis memulai perkembangan kerja melukis mereka dengan meniru alam. Roman dan cerita pendek, apa pun gayanya, bersendi pada realisme dan sekali kita telah mengatasi tahap penyuguhan itu dan bergerak dalam penulisan sajak yang merupakan alam bayangan angan-angan yang tidak terikat pada norma-norma objektivitas, "akal sehat" dan kewajaran logika, maka sukarlah kita hendak berpaling lagi. 

Di dalam penulisan sajak keterpurukan saya pada nilai-nilai keindahan yang kekal tidak saja merupakan desakan sajak-sajak saya, seperti tema kesepian, cinta jasmaniah atau nasib yang tak menentu. 

Perkenankanlah saya membaca beberapa sajak saya untuk menjelaskan tema-tema itu (dan juga memperlihatkan keruwetan-keruwetan batin apa yang masih merepotkan saya) 

Tema kesepian dan cinta jasmaniah:

ADAM DI FIRDAUS



Tuhan telah meniupkan napasnya

Ke dalam hidung dan paruku
Dan aku berdiri sebagai adam
Di samping sungai dua bertemu


Aku telah mengaca diri

Kedalam air berkilau. Tiba aku terbangun
Dari bayanganku beku.


Aku ini mahluk perkasa dengan dada berbulu.

Aku telanjangkan perut dan teriak:
"Beri aku perempuan!" Dan suaraku
Pecah pada tebing tebing tak berhuni
Dan malam Tuhan mematahkan
Tulang dari igaku kering dan menghembus
Napas di bibir berembun. Dan
Subuh aku habiskan sepiku pada tubuh bernapsu


Ah, perempuan!

Sudah beratus kali kuhancurkan badanmu di ranjang
Tetapi kesepian ini, kesepian ini datang berulang

Tema kesepian:

Kau harus memberi lagi

Sebuah cermin dari kaca
Di mana aku bisa melihat muka
Atau bawa aku ke tepi kolam di kebun belakang


Atau cukup matahari

Yang menjatuhkan bayang hitamku di atas pasir


Kau lantas berpaling dan bilang:

Kita berdua di halaman


Sungguh aku membutuhkan kawan

Pada subuh hari
Dan melalui kabut
Menyambut tangan:
Jangan takut!
Atau suara
Yang meyakinkan diri


Aku tak sendiri



Tema cinta:

DI ATAS RANJANG



Aku ingin muda

Seperti buku terbuka
(yang tertinggal di meja
Tak terbaca)


Telagaku yang lelah, amboi

Tecurah
Di pinggir pagi


Pada jerit terakhir

Terbelah bumi
Dan darahmu, darahku
Mengembang
Di kelopak musim semi


Tema nasib tak menentu:



Kalau aku kembali ke kamarmu – mencumbu

Adalah karena aku rindu kepastian-kepastian
Pernahkah kau merasakan keinginan
Untuk menggosokkan tubuhmu ke bumi
Dan menciumnya lagi dan lagi?
Sebab tinggal hanya pasir ini dan pohon
Dan perempuan (yang di ranjang menanti)
Yang mengandung kepastian-kepastian
Keadaan jagat makin gawat;
Kau dengar semalam geretak gugusan bintang
Bertabrakan? Itu
Adalah tanda permulaan kehancuran
Bukalah kamar dan
Jangan aku tolak!
Aduh, dan beri aku kepastian-kepastian

Tetapi berulang ulang saya kembali kepada kemasygulan yang paling mengganggu diri saya. Kerisauan ini telah menerbitkan tema yang berulang-ulang di dalam persajakan saya yang menyangkut rohani, perasaan nyawa dan kematian. Berulang-ulang tentang kematian, karena ketakutan kepada maut rupanya timbul seiring dengan hasrat kepada keabadian dan kekekalan. Makin kuat kita berpegang pada keinginan akan kehadiran yang langgeng, makin mengerikan hantu kebinasaan tampak merundung kita. Saya seperti mengalami semacam katarsis, semacam pembersihan batin yang meredakan ketakutan itu, kalau saya sedang menulis tentang kematian. Sajak-sajak saya yang bertemakan kematian itu bolehlah dipandang sebagai karangan seorang pengecut yang beringsut-ingsut kengerian menyaksikan kegagalan diri hendak mencapai keabadian. 

Sajak ini, berjudul "Di Ujung Ranjang", membayangkan kengerian itu:

Waktu tidur

Tak ada yang bisa menjamin
Kau bisa bangun lagi


Tidur

Adalah persiapan
Buat tidur lebih lelap


Di ujung ranjang

Menjaga bidadari
Menyanyi nina-bobo


Pada saat-saat mengalami kecerahan penglihatan filsafat, saya sanggup mengatasi ketakutan itu dengan menangkap secara intuitif bahwa kelanggengan meniadakan batas yang nyata antara hidup dan mati, seperti yang terucapkan dalam sajak ini:

DAN KEMATIAN MAKIN AKRAB

(sebuah rekwim)


Di muka pintu masih

Bergantung tanda kabung
Seakan ia tak akan kembali


Memang ia tak akan kembali

Tapi tak ada yang mereka tak
Mengerti – mengapa ia tinggal diam
Waktu berpisah. Bahkan tak
Ada kesan kesedihan
Pada muka
Dan mata itu, yang terus
Memandang, seakan mau bilang
Dengan bangga: matiku muda –
Ada baiknya -
Mati muda dan mengikut
Mereka yang gugur sebelum waktunya
Di ujung musim yang mati dulu
Bukan yang dirongrong penyakit
Tua, melainkan dia
Yang berdiri menentang angin
Di atas bukit atau dekap pantai
Di mana badai mengancam nyawa
Sebelum umur pahlawan ditanam
Di gigir gunung atau di taman-taman
Di kota
Tempat anak-anak main
Layang layang di jamlarut
Daun ketapang makin lebat berguguran
Di luar rencana
Dan kematian jadi akrab, seakan kawan
Berkelakar
Yang mengajak
Tertawa itu – itu bahasa
Semesta yang dimengerti
Berhadapan muka
Seperti lewat kaca
Bening
Masih dikenal raut muka
Bahkan kelihatan bekas luka
Dekat kening
la menggapai tangan
Di jari melekat cincin
-lihat, tak ada batas
Antara kita. Aku masih
Terikat pada dunia
Karena janji karena kenangan
Kematian hanya selaput
Gagasan yang gampang diseberangi tak ada yang hilang dalam
Perpisahan, semua
Pulih
Juga angan-angan dan selera
Keisengan
Di ujung musim
Dinding batas bertumbangan
Dan


Kematian makin akrab

Sekali waktu bocah
Cilik tak lagi
Sedih karena layang-layangnya
Robek atau hilang
-Lihat, bu, aku tak menangis
Sebab aku bisa terbang sendiri
Dengan sayap
Ke langit –


Kerapkali saya tekan perasaan takut di bawah sikap menerima nasib seperti yang saya lahirkan di dalam sajak ini:



PASRAH



Demi malam yang ramah



Aku berjanji akan menyerah

Kepada angin
Yang menyisir tepi hari


Di pinggir lembah

Aku akan diam terbaring


Yang membuat aku takut

Hanya di sela ranting
Yang memperdalam hening

Kemasygulan tentang nilai-nilai kekal yang memberikan ilham kepada saya untuk menulis sajak, tetapi di samping itu telah mendatangkan rasa hidup yang sedih, tidaklah selalu menyuruki pikiran saya. Kebanyakan waktu saya "normal" (seperti hari ini) dan dapat menikmati hidup dengan tinggal pada permukaan dan pinggiran kehidupan. Di dalam Saat-saat demikian saya tidak mempunyai suatu ilham dan jiwaku tergolek kosong dan kering seperti tanah gurun. Pada waktu demikian saya seakan-akan telah keluar dari malam pemikiran puitis dan berdiri di siang bolong dan menyaksikan diri sendiri dan dunia sekeliling saya secara objektif dan kritis. Inilah saat-saat yang terbaik bagi saya untuk menulis esai dan kritik tentang sastra. 

Saat-saat yang tak produktif itu merupakan kerugian tetapi juga keuntungan. Kerugian, karena saya tidak sanggup menulis satu baris sajak pun yang terbit dari ilham yang sejati. Keuntungan, karena tanpa perhentian yang panjang tanpa mencipta itu saya sudah lama akan jadi seseorang yang penyendiri serta perenung, yang kurang cocok bagi kehidupan di dunia ini, disebabkan oleh penatapan yang terus-menerus ke dalam bayangan batin.

Sebab sajak ditulis dari penglihatan bayangan-bayangan batin itu. Bayangan itu tampak hilang di luar rencana yang kita sengaja. Kita tidak dapat mengatakan kepada diri kita: Sekarang saya mau menulis sajak tentang hal ini dan itu (yang mungkin dapat kita lakukan kalau kita hendak menulis roman), dan kemudian menghasilkan karangan pada hari itu atau keesokan harinya. Bayangan-bayangan itu timbul pada waktu saya terlibat secara emosional pada sesuatu atau pada waktu jiwa saya sedang tenang dan hening. 

Keadaan jiwa yang pertama telah menerbitkan sajak-sajak saya yang dilandasi nafsu asmara dan kesadaran kesepian. Di dalam keadaan jiwa saya yang hening dan bening saya telah menulis sajak-sajak saya yang bersemangat keagamaan dan kerohanian. 

Ketika saya mendapat ilham, kata-kata dengan sendirinya menetes dari batin saya dan menyusun sendiri sajak. Kerapkali saya merasa seperti mabuk kata-kata, dan pedoman yang saya pakai dalam menguasai aliran kata-kata itu adalah irama yang melekat padanya. 

Waktu menerima luapan ilham, saya tidak amat peduli adakah apa yang saya katakan di dalam sajak dapat dimengerti oleh pembaca atau pun dapat diterima oleh ukuran, aturan atau teori-teori sastra yang ada. Saya hanya percaya dan yakin akan kejernihan dan kesejatian bayangan batin saya dan menyatakannya dalam sajak. Acapkali sajak-sajak saya, saya rasa sebagai monolog, bicara sendiri, yang tercatat dalam tulisan pada saat kecerahan dan ketenangan jiwa. Bayangan bayangan batin timbul hanya selama sekilas-sekilas, maka harus ditangkap dengan cepat dan dikekalkan dalam tulisan sebelum terlepas dan hilang dari ingatan.

Saya pergunakan kata "bayangan batin", karena saya tidak sanggup menemukan kata lain yang lebih tepat untuk menyebut pengalaman batin yang merupakan ilham. Bayangan itu dapat merupakan sesuatu yang tampak sebagai gambaran, tetapi dapat juga berupa aliran kata-kata, suatu bayangan verbal. 

Saya sependapat dengan Colin Wilson yang pernah menyatakan bahwa pengalaman mistik adalah sama dengan pengalaman estetik karena kedua-duanya menimbulkan peluasan pengalaman-pengalaman sehari-hari.[1] Proses penciptaan membuka segi-segi kenyataan yang lebih dalam seperti di dalam pengalaman mistik. Penglihatan bayangan batin itu bagi saya adalah sama nyatanya, atau lebih nyata bagi Colin Wilson, dengan penyaksian alam lahir. Sajak tercipta pada saat-saat estetis atau saat-saat puitis yang sekilas-sekilas, dan pada saat-saat itulah berkilat bayangan-bayangan batin. Pada saat-saat itu juga segala sesuatu menjelaskan pertaliannya yang asasi dengan tugas-tugas serta makna-maknanya yang pokok. Pertalian-pertalian itu juga tertangkap dengan sekaligus secara intuitif dan dengan itu imagery atau gatra, yang merupakan unsur yang inti pada bangunan sajak, menjelma dalam batin. 

Untuk menjelaskan kelahiran gatra sajak itu pada saat-saat puitis saya ingin membacakan sajak yang kebetulan saya temukan di dalam surat kabar The Australian (tanggal 16 September 1972), karangan penyair Australia, Grace Perry

LEPERS



Close up befoe the battle

No stigma showed
No erosion of facial cartilage
Of joint of hands
There must have been
A silent wasting
A progressive loss
A numbness without pain
At least thet illness
We could understand
For centuries the ony cure
Was the need to kill
To bathe in the blood of children
To be saved
We saw the fighting distantly
On television
Forked tongues blackening
Defoliated hills
It must have happended something like past
It must have been
Rank on rank returing regiment file past
No lesion visible
The boots in step protest


Unclean, unclcan


Saya tidak bermaksud mengupas dengan mendalam sajak yang indah ini. Yang ingin saya coba adalah mendapati gatra yang tertangkap saat-saat puitis itu. Gatra orang-orang kusta rupanya direnggut dari kilatan ilham yang sejenak itu. Kalau tidak, gatra itu tidak sanggup membuka dimensi-dimensi yang lebih dalam pada pertaliannya dengan kusta batin manusia, penyakit yang tidak mungkin sembuh yang meninggalkan bekas-bekas kekejaman serta kerusakan di mana ia hinggap. 

Gatra baik secara visual maupun verbal (yang tampak dan terdengar sebagai kata) yang terbit sebagai bayangan batin, mengandung intipati kebenaran yang terbuka bagi mata penyair pada saat-saat rahmat itu. Makin dalam perenungan ke dalam bayangan-bayangan batin itu, makin bersegi seluk-beluk pertalian gatra, yang berakibat pada utuh serta kukuhnya tubuh sajak. 

Dengan sajak orang lain saya hanya dapat menduga-duga terjadinya saat-saat puitis itu. Saya hanya bisa mengharap dugaan itu betul adanya. Saya lebih pasti pada kelahiran sajak-sajak sendiri. Pada suatu ketika saya berada di kamar mandi dan tiba-tiba saya merasa tertarik pada tangan saya. Terbit kesadaran yang segar bahwa di dalam hubungan kesusilaan tugas utama saya adalah menutup malu saya. Dari kilatan kesadaran itu telah lahir dengan serta-merta sajak yang mempunyai pertalian dengan "kejatuhan" Adam dan Hawa ini.

KEJATUHAN



Di daerah mimpi

Nyawaku berdiri sebagai pohon hitam
Dengan buah – buah getir yang bergantung di dahan
Hanya ular yang menjaga tahu akan rasanya
Perempuan yang telah kehilangan selera:
Jangan masuk taman terlarang
Atau akan bangun aku tersentak
Menyaksikan diri telanjang atau cukup lebarkah tangamu
Untuk menutup lubang mau?



Pada ketika yang lain penglihatan api lilin mengingatkan saya kepada nyawa yang menyala

dengan abadi setelah tubuh hilang, dan sajak ini terlahir, yang saya beri judul "genesis"


Pembuat boneka

Yang jarang bicara
Dan yang tinggal agak jauh dari kampung
Telah membuat patung
Dari lilin
Serupa dia sendiri
Dengan tubuh, tangan dan kaki dua
Ketika diembuskanya nafas di ubun
Telah menyala api
Tidak di kepala
Tapi di dada
-aku cinta kata pembuat boneka
Baru itu ia mengeluarkan kata
Dan api itu
Telah membikin ciptaan itu abadi
Ketika habis terbakar lilin
Lihat, api itu terus menyala

Seperti kentara pada sajak-sajak ini, saya telah meminjam drama sajak ini dari kitab Injil. Saya bukan seorang Kristen, tetapi soalnya saya selalu merasa tertarik pada kisah – kisah dari zaman-zaman kuno, dongeng dan hikayat lama, kitab-kitab suci. Tokoh-tokoh di dalam kisah demikian tetap dekat pada sumber kehidupannya yang purba, manusia yang masih bebas dari halangan kalangan batin, prasangka-prasangka, tanggapan-tanggapan rasional dan pertimbangan-pertimbangan yang membimbangkan seperti yang terdapat di dalam masyarakat modern. Mereka berbicara dan berlaku sesuai dengan desakan yang sejati yang lebih mula dan tua, yang seperti dia hendak menyaksikan dunia dalam keperawanannya, sebelum diwarnai pandangannya oleh kategori dan metode berpikir yang kini ada. Tokoh-tokoh purba itu dengan langsung menyentuh hakikat yang ada. 

Pernah saya mengambil dasar bagi tema sajak dari alam mitologi Indonesia, misalnya sajak "Nawang Wulan". Nawang Wulan adalah seorang bidadari yang tanpa dikehendaki sendiri telah kawin dengan manusia biasa di bumi. Ketika ia mendapat kesempatan untuk kembali ke kayangan, ia mempercayakan anaknya pada suaminya dan berjanji akan kembali ke bumi sekali-kali untuk mengasuh anaknya kalau menangis. Sajak ini berkembang dari gatra inti pada sajak, yakni bunga yang merupakan darah yang mengalir dari duka dan cinta.

NAWANG WULAN

(Yang melindungi bumi dan padi)


Jangan bicara denganku dengan bahasa dunia

Aku dari sorga
Jangan sentuh tubuhku dengan tubuh berdosa
Aku dari sorga


Sambut aku dengan bunga

Itu dasar dari duka dan cinta
Bunga buat bayi yang baru lahir dari rahim ibu


Bunga buat kekasih yang manis merindu

Tapi jaga anak yang merindu tengah malam minta susu
Tapi jaga ladang yang baru sehari digaruk
Anak minta ditimang
Ladang minta digenang
Lalu panggil aku turun di teratakmu


Dengan bunga, itu darah yang mengalir

Dari duka dan cinta.


Pada saat-saat lain saya menyarankan kepada kejadian serta tokoh-tokoh yang saya temukan dalam Quran dan di dalam agama Hindu. Tetapi setiap kali saya berusaha memberikan belokan yang lain kepada peristiwa-peristiwa serta menyesuaikannya dengan kecenderungan angan-angan saya. Perubahan perubahan yang tidak saya sengaja itu tidaklah terdorong oleh hasrat saya yang hendak orisinal. Apakah ciri keaslian serta kepribadian sendiri pada karya akan timbul sendiri selama kita menggantungkan diri serta percaya kepada bayangan batin yang menjelma dengan jernih di dalam diri kita? Tidak, kebaruan dan kesegaran yang hendak saya berikan pada drama sajak-sajak saya dasarkan pada kisah-kisah lama berpangkal pada keseganan saya pada banalitas, pada keboyakan. Segala sesuatu yang pernah diperkatakan oleh pengarang lain atau oleh saya sendiri tampak banal pada saya, dan menurut penglihatan saya aktivitas sastra yang benar ditandai oleh usaha mengatasi kebanyakan karangan-karangan yang pernah ada, baik mengenai apa yang pernah ditulis maupun bagaimana menulisnya. Saya ingin meninggalkan dan melampaui gagasan serta gaya yang ada dalam sastra, sekalipun saya insaf betapa sia-sianya usaha demikian itu karena mustahil menghindarkan diri dari pengaruh jiwa-jiwa yang besar di dalam dunia sastra. 

Pikiran serta perkataan mereka terus merayap ke dalam jiwa saya, kebanyakan dengan tidak saya sadari sendiri mula-mula. Tetapi bagaimanapun juga, tanpa sekadar rasa segan untuk mengulang apa dan bagaimana yang pernah ditulis di dalam kesusastraan, maka kegiatan sastra kita tidak banyak nilainya dan pentingnya, karena dengan demikian kita sanggup turut serta dalam membangun Menara Babel yang baru berupa kesusastraan yang multilingual. 

Usaha saya menghindari pengulangan tulisan orang lain maupun saya sendiri di masa yang sudah merupakan unsur yang sadar di dalam proses penciptaan. Di situlah jiwa saya yang jaga memainkan peranannya dengan mengatur mengalirnya bayangan yang visual dan verbal. Tetapi sebagai keseluruhan timbul serta berkembangnya bayangan batin mungkin terjadi di luar kemauan saya. 

Bayangan batin itu juga mungkin merupakan buah dari perenungan yang lama tentang tujuan-tujuan terakhir serta nilai-nilai kekal di dalam hidup yang pada suatu hari-hari tiba-tiba mekar ke tengah cahaya batin, seperti kuncup bunga yang telah matang lalu kembang dan meriap. Ada saat-saat puitis dengan kilatan-kilatan bayangan yang hampir setiap hari dan berlangsung selama berminggu tanpa putus-putusnya. Di dalam periode periode yang subur itu saya biasanya terbagun pagi hari dengan sajak yang selesai dengan kata-kata bergumulan di dalam kepala saya, yang harus saya catat dengan cepat di kertas sebelum tenggelam lagi ke dalam bawah sadar saya. Kata-kata itu begitu saja mengalir dari relung-relung gelap jiwa saya. 

Terdapat juga saatnya saya merasakan semacam dosa kalau angan-angan saya menyentuh batas-batas pengertian keagamaan. Bayangan-bayangan batin seakan-akan menyedot saya ke lapisan-lapisan kesadaran rohani yang lebih dalam. Tetapi sampai kepada kesadaran itu saya merasa seperti hendak memasuki taman Tuhan dan makan buah khuldi yang terlarang. Sajak saya mengenai Rangda, perupaan dewata di Bali dengan muka yang mengerikan adalah hasil penyusupan ke daerah keagamaan yang tertutup itu:

Rangda! Dewa bermata galak dan napsu membusa

Datanglah sebagai pengertian atau sebagai nama
Jangan sebagai ujud
Karena semua ujud menakutkan
Biarlah aku membayangkan kau
Sebagai kekosongan
Atau sebagai kata, asal segala mula
Barangkali boleh kutangkap sebagai sedih kenangan
atau suara
yang belum mencapai makna
tapi jangan sekali berujud
sebab segala ujud menakutkan


dipandang dari alam halus kerohanian semua bentuk kebumian kelihatan jelek serta mengerikan. Bahkan roh yang tertinggi akan berubah menjadi perupaan yang kasar jika menyambut bentuk jasmani. Di dalam keadaan hening ketika penglihatan batin saya cerah saya menjadi sadar betapa menjijikkan serta mengerikan tampaknya wajah manusia:

Muka terbentuk dari gurat jari angan-angan

Yang mengurut pelipis dan sudut kening
Seorang badut yang tak dikenal di Saat-saat gila
Telah menanamkan hidung di akar mata
Dan getar kegugupan menyembulkan bibir
Di sekeliling mulut. Tapi ah, ini.
Kegagalan dari semua penciptaan
lubang gelap yang mengingatkan kepada moncong moncong gua di hutan
atau gerbang neraka dengan pagar gigi.
Dan lidah bercabang menjilat sebagai api.
Bagian muka ini merendahkan nilai kemanusiaan
Sebab di sini bermula kelobaan
Sebaiknya hanya ada kening saja dan mata
Yang memandang tanpa kepentingan
Lantas manusia bisa melangkah tanpa suara
Sebagai mega dan angin pagi
Atau barangkali hanya bibir saja
-menguncup tubuh hari

Kalau saya telah menulis sajak-sajak demikian saya merasa seperti telah melanggar batas-batas kepatutan yang boleh dicapkan tentang alam kerohanian. Saya merasa bahwa saya telah terlalu dalam menjenguk ke dalam asas-asas kebenaran yang harus dirahasiakan. Rasa dosa itu biasanya diiringi oleh ketakutan seperti ketika saya menuliskan sajak ini:

BINTANG



Malam dengan sayapnya hitam

Melindungi diriku dari marah bintang
Yang aku berani
Hanya berbisik di bayang malam
Membuka rahasia bintang


Makin larut malam

Aku makin takut
Aku buta mataku

Kalau saya telah sampai pada perasaan kecut demikian ini, saya dengan sengaja menghentikan timbulnya bayangan-bayangan batin dan saya tidak lanjut menulis lagi sementara itu. Selaku seorang pelompat tinggi yang tahu bahwa ia tidak boleh melompat terlalu tinggi setiap kali dan bahwa ia butuh waktu untuk melemaskan otot-ototnya, demikianlah saya insaf juga bahwa kemampuan jiwa ada batas-batasnya dan memerlukan selingan serta mengaso. Saya sanggup menghentikan ilham yang datang dengan jalan menghamburkan diri ke dalam rutin kerja sehari-hari serta dengan tidak lagi berpikir terlalu dalam tentang akar-akar kehidupan. Selama perhentian-perhentian tanpa daya cipta itu tentu saat saya dengan diam-diam berharap bahwa pada suatu hari akan menyembul lagi bayangan batin yang baru dan segar dari jiwa yang bersemangat, meskipun saya tidak pernah bisa memastikan kapan saat puitis itu akan tiba lagi. 

Perhentian-perhentian itu telah mendatangkan kemasygulan juga pada saya seperti pada pengarang-pengarang lain. Saya menginginkan benar bahwa sangguplah saya menulis selama 365 hari setiap tahun terus-menerus tanpa saat-saat mengaso dan periode-periode kemandulan. Rimbaud dan Baudelaire berusaha memanggil dengan sengaja bayangan-bayangan batin itu dengan minum hashish. Juga Aldous Huxley mempergunakan meskali di dalam eksperimennya hendak melebarkan horizon angan-angannya. Pemakaian obat itu adalah tanda ketaksabaran. 

Saya lebih sabar dan lebih suka menantikan saat-saat puitis itu tiba dengan sendiri. Saya berusaha tinggal dengan sepenuhnya di tengah-tengah gelora kehidupan dan membiarkan diri terlibat, tidak hanya dengan daya pikiran saja, tetapi dengan sepenuh hati sehingga hati itu berbicara. Sementara itu saya latih jiwa saya untuk mencapai keheningan serta kecerahan, yaitu saat-saat keadaan batin yang paling baik buat ilham timbul. Proses memperkembangkan daya cipta ini lebih lambat daripada perangsangan dengan obat, tetapi lebih wajar serta sehat untuk menjaga keutuhan kepribadian kita, kesempurnaan kemanusiaan kita yang akhirnya akan terpencar pada segala sesuatu yang kita nyatakan, juga di dalam sajak. 

Saya kira saya cukup banyak berbicara tentang diri saya sendiri. Saya benar-benar telah membuka diri saya dengan terlalu bulat sehingga terlalu rawan menghadapi mata Saudara yang mengecam. Saya telah menelanjangi diri saya dari dalam sampai luar. Tetapi saya tidak menyesal telah melakukan hal ini, sebab saya insaf bahwa pembicaraan tantang maksud-maksud serta alasan-alasan di balik karangan sastra tidaklah tanpa keuntungan bagi pengetahuan serta teori sastra. Di dalam hal ini saya teringat kepada penganut-penganut yang tegang pada teori Kritik Baru (The New Criticism) yang ingin memandang sah hanya kritik pada karya belaka dan yang cenderung menolak pertimbangan-pertimbangan tentang maksud-maksud di balik penulisan karya sastra sebagai intentional fallacy,[2]  sebagai kesalahan pertimbangan kritik dengan mengikutsertakan unsur maksud di dalam penelaahan. 

Tentu saja karya itu sendirilah yang akhirnya menentukan apakah yang terkandung nilai-nilai sastra atau estetik. Tetapi menurut pandangan saya, penilaian tentang karya sastra tidak dapat dilakukan dengan memuaskan dan sebagai kritik sastra tanpa memahami dasar-dasar alasan penulisan sesuatu sajak, kisah atau lakon. Kritik sastra hendaknya jangan hanya berupa pengupasan sesuatu karya yang terlepas dari pengetahuan apa yang disebut tentang karya Herry James 'gerak idea', benih gagasan, yang ada pada pengarangnya. Sebaliknya justru kritik sastra harus menuju ke arah pengertian tentang kesusastraan sebagai laku budaya, dan untuk tujuan itu pembicara serta pengetahuan tentang maksud dan alasan-alasan perlu sekali. 

Seperti yang saya katakan, kesusastraan adalah laku budaya, suatu perbuatan. Saya harus menulis, tidak bicara saja. Oleh karena itulah saya harus berhenti bicara sekarang. Hal ini mengingatkan saya kepada reklame gambar di TV Amerika yang pernah saya lihat. Tampak serombongan anak-anak kecil berbaris di muka layar, masing-masing memuji sesuatu merek keripik jagung, betapa enak rasanya. Tetapi anak yang terkecil di buritan barisan itu, setelah mendengar omongan itu menjadi tak sabar dan berteriak: "omong, omong, omong terus. Kapan kita mulai makan!" 

Nah, saya kira sudah waktunya saya berhenti ngomong, dan mulai makan. 

Catatan Kaki:
[1] Colin Wilson, Introduction to the New Existentialim, Hutchinson of London,1966 h.104
[2] Lihat misalnya W.K Wimsatt, The verbal Icon, methuen, 1970, h 2 -18


___
Sumber: Keroncong Motinggo: dua kumpulan sajak Subagio Sastrowardoyo, Jakarta: Balai Pustaka, 1992

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »