Sajak-Sajak Subagio Sastrowardoyo

ADMIN SASTRAMEDIA 4/16/2020
Sajak-Sajak Subagio Sastrowardoyo
Mengapa Saya Menulis Sajak - Subagio Sastrowardoyo

Kubu

Bagaimana akan bergembira kalau pada detik ini
ada bayi mati kelaparan atau seorang istri
bunuh diri karena sepi atau setengah rakyat terserang
wabah sakit - barangkali di dekat sini
atau jauh di kampung orang
Tak ada alasan untuk bergembira selama masih
ada orang menangis di hati atau berteriak serak
minta merdeka sebagai manusia yang terhormat dan berpribadi-
barangkali di dekat sini atau jauh di kampung orang.
Inilah saatnya untuk berdiam diri dan berdoa
untuk dunia yang lebih bahagia atau menyiapkan senjata
dekat dinding kubu dan menanti.


Daerah Perbatasan

I
Kita selalu berada di daerah perbatasan
antara menang dan mati. Tak boleh lagi
ada kebimbangan memilih keputusan:
Adakah kita mau merdeka atau dijajah lagi.
Kemerdekaan berarti keselamatan dan bahagia,
Juga kehormatan bagi manusia
dan keturunan. Atau kita menyerah saja
kepada kehinaan dan hidup tak berarti.
Lebih baik mati. Mati lebih mulia
dan kekal daripada seribu tahun
terbelenggu dalam penyesalan.
Karena itu kita tetap di pos penjagaan
atau menyusup di lorong-lorong kota pedalaman
dengan pistol di pinggang dan bedil di tangan.
(Sepagi tadi sudah jatuh korban.) Hidup
menuntut pertaruhan, dan kematian hanya
menjamin kita menang. Tetapkan hati.
Tak boleh lagi ada kebimbangan
di tengah kelaliman terus mengancam.
Taruhannya hanya mati.

II
Kita telah banyak kehilangan:
waktu dan harta, kenangan dan teman setia
selama perjuangan ini. Apa yang kita capai:
Kemerdekaan buat bangsa, harga diri dan
hilangnya ketakutan kepada kesulitan.
Kita telah tahu apa artinya menderita
di tengah kelaparan dan putus asa. Kematian
hanya tantangan terakhir yang sedia kita hadapi
demi kemenangan ini. Percayalah:
Buat kebahagiaan bersama
tak ada korban yang cukup berharga. Tapi
dalam kebebasan ini masih tinggal keresahan
yang tak kunjung berhenti: apa yang menanti
di hari esok: kedamaian atau pembunuhan
lagi. Begitu banyak kita mengalami kegagalan
dalam membangun hari depan: pendidikan
tak selesai, cita-cita pribadi hancur
dalam kekacauan bertempur, cinta yang putus
hanya oleh hilangnya pertalian. Tak ada yang terus
bisa berlangsung. Tak ada kepastian yang bertahan
Kita telah kehilangan kepercayaan kepada keabadian.
Semua hanya sementara: cinta kita, kesetiaan kita.
Kita hidup di tengah kesementaraan segala. Di luar
rumah terus menunggu seekor serigala.

III
Waktu peluru pertama meledak
Tak ada lagi hari minggu atau malam istirahat.
Tangan penuh kerja dan mata berjaga
mengawasi pantai dan langit yang hamil oleh kianat.
Mulut dan bumi berdiam diri. Satunya suara
hanya teriak nyawa yang lepas dari tubuh luka,
atau jerit hati mendendam mau membalas
kematian.
Harap berjaga. Kita memasuki daerah perang.
Kalau peluru pertama meledak
Kita harus paling dulu menyerang
dan mati atau menang.
Mintalah pamit kepada anak dan keluarga
dan bilang: Tak ada lagi waktu buat cinta
dan bersenang. Kita simpan kesenian dan
budaya di hari tua. Kita mengangkat senjata
selagi muda
dan mati atau menang.


Pembersihan

Kita adalah angkatan yang sedang menghadapi kematian.
Jika genderang sudah ditabuh, kita tahu, di hari subuh
Kita akan digiring ke luar pagar dan rapat ke ujung tembok
Kita menghadapi moncong maut
menyergap. Tinggal menanti perintah tembak. Kita sudah tahu.
Kita akan rebah satu persatu, diam terkulai, tanpa pekik atau keluh.
Demikian kita berakhir. Angkatan yang mengabaikan janji
bagi bangsa dan tanah air. Kita sudah tahu akan kejadian ini.
Kematian kita menerima kutuk dari darah pahlawan yang melekat
di tangan bekas mencekik. Kita bergelimang dalam dosa,
dalam tipu dan khianat, dalam dengki dan mimpi sia.
Kita telah membinasakan saudara sendiri dan menikam
kawan kita yang paling setia. Kita telah menodai
darah murni dengan dendam dan kebohongan. Kita tahu.
Kematian kita akan menyeret seluruh angkatan tenggelam.
Kita tahu
Istri kita yang hamil tua sudah kita kirimkan mengungsi
ke daerah pedalaman. Di sana mudahan lahir keturunan pria
dengan tubuh perkasa dan mata pahlawan. Jika ia tanya
akan bapak, katakan, bahwa ia anak dewa yang mencecerkan
benihnya ke pangkuan bunda. Ia tak boleh tahu akan nasib bapaknya
yang menjumpai mati di subuh hari.


Pembicaraan

1
Di mana berakhir pembicaraan? Di ruang
dalam atau jauh di larut malam atau
waktu duduk belunjur menanti api mati di tepi tungku
Apakah tanda pembicaraan? Puntung
rokok yang belum habis diisap atau sisa kopi di cangkir atau
suara tamu terakhir yang meninggalkan ambang pintu
Apakah hasil pembicaraan? Pertengkaran
mulut atau bual sombong sekedar membenarkan perbuatan atau
omong kosong mengisi waktu tak menentu
Ah, baik diam dan merasakan keramahan
pada tangan yang menjabat dan mata merindu
Dalam keheningan
detik waktu adalah pilu yang
menggores dalam kalbu

II
Kau harus memberi lagi
sebuah cermin dari kaca
di mana aku bisa melihat muka

atau bawa aku ke tepi kolam di kebun belakang

atau cukup matahari
yang menjatuhkan bayang hitamku di atas pasir

kau lantas berpaling dan bilang:
kita berdua di halaman

Sungguh, aku membutuhkan kawan
pada subuh hari
dan melalui kabut
menyambut tangan:
jangan takut!

atau suara
yang meyakinkan diri

aku tak sendiri

III
Kita berhenti di pinggir danau
dan membasuh luka-luka
pisau belatimu menggores kulit dada -
Melihat kau berkerumuk
seperti memandang bayangku sendiri:
Mengapa kita di sini?

Besok kita bangkit lagi berkelahi

Ketika terban hari
Aku memeluk dan mencium di ubun
Beri aku ampun, beri aku ampun
Kau menangis tersedu

Angin teduh sejak pagi
Angin dari hutan cendana

IV
Berdiri di balik dinding
kau menanti
tapi tak perawan lagi
tapi sebagai bidadari
bersayap
Aku bertiarap dengan tubuh luka
dari berkelahi. Mukamu tua.
Kau menyambut tanganku dan berkata:
Kita telah banyak melihat dan mengalami,
Lewat dosa hanya kita bisa dewasa -
Dan kauantar aku ke kamar penganten
dengan hiasan bunga di kelambu
dan tilam biru bau kenanga
Kita capek dan bergulingan
sehingga lupa penyesalan
Hari mekar dan bercahaya:
Yang ada hanya sorga. Neraka
adalah rasa pahit di mulut
waktu bangun pagi

V
Kita membayangkannya serupa
seperti yang pernah dialami.
Seperti potret, hitam-putih:
ini pusat kota, itu gunung
dan di atas itu langit yang sama,
dengan meganya. Gambar
kenangan yang dibawa di kantong
yang setiap waktu dikeluarkan
dan dipandangi lama: dulu
aku pernah lewat lorong itu
bersepeda - hari panas -
dengan Sita membonceng di belakang.
Kehidupan begitu susah tetapi senang.
Dan ada pula potret keluarga
bersama istri dan mertua
dan Sita duduk di pangkuan.
Gambar lama ditempelkan hati-hati
di halaman album kenangan.
Jangan koyak! Aku bisa gila
terbangun dari mimpi. Di kamar baca
dinding yang menghadang makin dingin
dan ngeri.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »