Upaya Memaknai “Dewa Telah Mati” Sajak Subagio Sastrowardoyo- Rahmat Wahyudi

KONTRIBUTOR 6/05/2022

Upaya Memaknai “Dewa Telah Mati” Sajak Subagio Sastrowardoyo

Rahmat Wahyudi




H.B. Jassin pernah mengomentari kumpulan sajak Subagio Sastrowardoyo yang berjudul Simfoni:

Kumpulan sajak ini dibuka dengan sajak yang pesimistis "Dewa telah mati", yang jadi nada dasar bagi seluruh kumpulan ini. Tidak mengherankan, kalau kita ingat dalam keadaan bagaimana masyarakat sekarang ini. "Dewa telah mati, hanya ular yang mendesir dekat sumber, lalu minum dari mulut pelacur yang tersenyum dengan bayangan sendiri". Pesimistis karena penyair tak ada jalan keluar dari "rawa-rawa mesum", kecuali sikap kepenyairan cari kepuasan dalam diri sendiri. Bahkan kepuasan ini pun tidak menetap, diganggu kesepian yang senantiasa datang berulang. Semua serba krisis. Krisis moral, krisis agama, krisis ideal, krisis kepercayaan, semua makin samar (1967:95)

Perkataan H.B. Jassin tersebut mengandung unsur ad hominem, dimana ia menuding Subagio secara kepribadian atas dasar sajaknya yang menyenggol unsur pornografi. Padahal, Subagio sendiri tak menulis yang aneh-aneh, hanya dengan "pelacur yang tersenyum dengan bayang sendiri" dan “rawa-rawa mesum”. Tak ada kesan krisis seperti yang dikatakan H.B. Jassin itu. Kalimat itu terasa wajar-wajar saja bagi orang dewasa. Barangkali intuisi yang agamis merasa tersinggung.

Subagio Sastrowardoyo juga pernah menuliskan dalam Bakat Alam dan Intelektualisme:

Tugas yang menyulitkan di dalam menghadapi pornografi adalah menunjukkan batas batas yang tegas antara pornografi dan bukan pornografi. Sebab unsur yang sama, yakni pelukisan perbuatan seks secara visual dalam gambar atau secara verbal di dalam uraian penjelasan, ataupun di dalam hubungan cerita, kecuali di dalam karangan yang kita sebut pornografi, dapat kita temukan pula di dalam kitab-kitab ilmiah mengenai hubungan seks, di dalam film-film yang berkualitas seni dan di dalam karya-karya sastra yang tergolong klasik. (1971:21)

Pada sajaknya yang berjudul "Dewa Telah Mati”, setidaknya bukan serta merta melecehkan kepada agama yang mempercayai dewa. Akan tetapi, ia menggunakan dewa sebagai eponim, dan mencoba memetaforkan "bumi adalah pelacur", telah ia tunjukkan dalam sajaknya, di bawah ini:


DEWA TELAH MATI

 

Tak ada dewa di rawa-rawa ini

Hanya gagak yang mengakak malam hari

Dan siang terbang mengitari bangkai

pertapa yang terbunuh dekat kuil.

Dewa telah mati di tepi-tepi ini

Hanya ular yang mendesir dekat sumber

Lalu minum dari mulut

pelacur yang tersenyum dengan bayang sendiri

Bumi ini perempuan jalang

yang menarik laki-laki jantan dan pertapa

ke rawa-rawa mesum ini

dan membunuhnya pagi hari.


Kesan dalam Sajak

Dewa dalam sajak Subagio, memiliki kesan eponim pada situasi di dalamnya. Penyair meminjam sifat suci pada dewa sebagai penggambaran situasi. Tak ada dewa; tak ada kesucian. Sehingga sudut pandang penyair merasa cemas, bingung ingin mengadu ke siapa, sedangkan di rawa hanya ada gagak. Selain itu, gagak juga memiliki kesan yang suram dan kelam, didukung dengan kuatnya cerita-cerita lama yang mengisahkan gagak sebagai simbol kegelapan hidup.

Memang kelihatannya sinis pada judul sajak itu, namun dapat kita hubungkan dengan sudut pandang penyair yang cemas, khawatir dan bingung. Kalau dalam istilah spiritualnya low vibration, barangkali semacam itu.

Pada bait ketiga, larik awal, mengingatkan saya kepada Chairil Anwar pada sajaknya yang berjudul Aku. Terasa betul pengaruh Chairil pada sajak ini. Kalau Subagio Sastrowardoyo: bumi ini perempuan jalang, sedang Chairil Anwar: Aku ini binatang jalang. Metafora tersebut telah menjadikan sajak semakin kuat. Tidak bisa kalimat itu ditelan mentah-mentah.

Ada pula penggunaan alusi ‘pertapa’. Sebagaimana yang sering kita baca, dengar, atau lihat kisahnya di film, selalu laki-laki yang bertapa di hutan. Pada bagian ini, Subagio juga memanfaatkan kesan 'pertapa' untuk kebutuhan alusi pada sisi spiritual sajak. Permainan alusi sering menunjukkan luasnya wawasan baca seseorang, idealisme, intelektual, dan kultur budaya.

Perbedaan eponim dan alusi: eponim menggunakan kesan sifat dari nama/tokoh yang sudah banyak diketahui masyarakat, untuk menegaskan atau sebaliknya menyembunyikan makna dalam sajak. Sedangkan alusi menggunakan kesan peristiwa dari nama tokoh untuk menyeret ingatan pembaca kepada kisah yang sudah banyak diketahui. Sederhananya, terletak pada sifat dan peristiwa.

Selain itu, terkait dengan judul sajak, Dewa Telah Mati, barangkali penyair dalam sajaknya ada pengaruh dari Nietzsche yang pernah menulis "Tuhan telah mati". Konon frasa tersebut untuk menegaskan bahwa masa pencerahan sudah mestinya dihapuskan. Nah, barangkali Subagio juga demikian. "Sudah saatnya menghapus kata 'kemajuan'", kalau kata Pram. Ya, sudah semestinya hidup kita terhindar dari segala penindasan yang tercipta sebab selalu mengejar kemajuan.


Sisi Dualisme Sajak

Dalam sajak di atas, penyair menuliskan kedua gender: laki-laki dan perempuan. Hal itu lalu memunculkan pertanyaan dalam diri kita. Apakah yang dimaksud 'dewa' pada sajak tersebut yang mencantumkan kedua gender? Apakah dewa yang dipuja? Apakah kasih sayang lawan jenis? Atau segala hal yang baik? Atau segala yang dipuja?

Tentu saja pembaca memiliki interpretasi, kesan dan pertanyaan yang mengganjal masing-masing. Akan tetapi, setidaknya dapat dipahami melalui upaya pemaknaan saya di atas terkait eponim. Dan dapat kita pahami juga bahwa dewa tidak melulu merujuk kepada hal-hal spiritual. Misalnya di sebuah tongkrongan gamers, ada julukan 'dewa' bagi dia yang mahir dan lincah dalam permainan. Tentu, itu biasa saja, dan tak ada unsur spiritualitas di dalamnya. Hanya ada kesan berbeda dari gamers lainnya.

Selain dari dualisme gender, ada pula dualisme pada latar waktu: siang dan malam, di dalam bait pertama:

Hanya gagak yang mengakak malam hari

Dan siang terbang mengitari bangkai

Dualisme latar waktu ini memiliki kesan gelap dan terang, tak menutup kemungkinan juga sebagai simbol sedih dan bahagia pada diri manusia.

Umumnya yang kita ketahui, gagak ialah pemakan bangkai. Tapi, mengapa penyair menuliskan gagak hanya mengitari bangkai? Hal ini kiranya menimbulkan kesan kesedihan. Bangkai yang mestinya dimakan, hanya cukup diitari, seolah-olah bangkai tersebut adalah sosok yang dikasihi, disayangi, disedihi atas kematian sosok (barangkali pertapa yang terbunuh di dekat kuil).

Tak jarang Subagio memainkan dualisme dalam sajak. Kadang terlihat, kadang samar. Misalnya pada sajaknya yang berjudul Sodom dan Gomora. Terdapat bunyi “surat pajak” dan “pembagian untung” pada bait pertama. Kedua frasa tersebut bersifat dualis. Pada sajaknya yang lain juga terlihat dualisme semacam itu jika kita perhatikan. Dengan dualisme inilah pembaca banyak yang kesulitan menangkap paradoks dan antitesis yang ditawarkan Subagio.

Kembali lagi ke sajak di atas. Jika ditilik latar tempat, sudut pandang penyair dalam sajak berada di alam liar, yaitu rawa-rawa. Maka pantaslah penyair menuliskan "bumi ini perempuan jalang", karena penyair masih konsisten dengan metaforanya, bumi adalah pelacur. Dan dilanjutkan dengan sisi emosional yang dibangun penyair, seperti di larik akhir "dan membunuhnya pagi hari".

Sajak-sajak Subagio seperti juga yang dikatakan A. Teew:

Subagio Sastrowardoyo, muncul pada tahun 1957, dengan sekumpulan kecil sajak yang berjudul Simfoni. Sajak-sajak itu agak sukar, sinis, liar, kadang-kadang menggemparkan pula. Sajak-sajak tersebut, nampaknya ditulis sewaktu dia melakukan kunjungan yang lama ke Amerika Serikat untuk melanjutkan pelajaran. (1979:241)

Simfoni memuat sembilan sajak Subagio, antara lain: Dewa Telah Mati, Burung, Setasion, Sajak, Adam di Firdaus, Bulan Ruwah, Afrika Selatan, Sodom dan Gomora, Kampung. Kesembilan sajak tersebut, memiliki tema yang bervariasi. Penyair seperti tidak pernah kehabisan topik, sebab luas wawasan serta banyak pengalaman dapat ia tulis dalam sajak-sajaknya.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »