Bakat Alam dan Intelektualisme - Subagio Sastrowardoyo

ADMIN SASTRAMEDIA 9/30/2020
Bakat Alam dan Intelektualisme 
oleh Subagio Sastrowardoyo
SASTRAMEDIA.COM -Kata intelektual di dalam bahasa kita telah meminjam pengertiannya yang umum dari bahasa Belanda. Sebutan kaum intelektual atau intelek ditujukan kepada golongan cerdik pandai yang telah berhasil mencapai pendidikan yang menurut perbandingannya dengan masyarakat luas tinggi tingkatannya. Kecuali itu, didorong oleh keadaan khusus di dalam masyarakat kolonial sewaktu kesempatan pendidikan terbatas pada lapisan yang tipis saja, pengertian kata "intelektual" itu memperoleh batas lingkup yang lebih luas, sehingga setiap orang yang berkesempatan menempuh pelajaran di sekolah-sekolah, apa pun tingkatnya dan jurusannya disebut intelek. Orang intelektual lalu identik dengan orang terpelajar. 

Di dalam bahasa Inggris kata intelektual dikenakan kepada sejenis pribadi tersendiri yang telah mengalami kecerdasan dan kehalusan budi lewat pendidikan budaya. Orang boleh tinggi tingkat kesarjanaan dan sangat ahli di dalam lapangan pekerjaannya, tetapi selama ia tidak punya minat ataupun peka kepada rangsang-rangsang budaya, ia belumlah berhak dinamakan intelektual. Di dalam masyarakat berbahasa Inggris orang akan tercengang mendengar sebutan "intellectual” ditunjukkan kepada orang yang sama sekali tidak menaruh perhatian kepada perkembangan budaya bangsanya sendiri. 

Tentu di sini boleh dijadikan bahan berbincang yang tidak ada habis habisnya tentang definisi budaya. Menurut A.L. Kroeber dan Clyde Kluckhohn, yang telah menghimpun batasan-batasan pengertian budaya dari berbagai metode dan sudut peninjauan ilmu antropologi, linguistik, sosiologi, psikologi, sejarah bahkan ilmu kimia terdapat tidak kurang dari seratus enampuluh empat definisi yang berbedabeda tanggapan dan rumusannya.1)

Di dalam pertalian subyek karangan ini kami hendak menempatkan pengertian budaya pada fungsi kemasyarakatan serta kemanusiaannya yang luas, dengan tidak mengikatkan diri pada jaringan definisi yang ketat. Di samping itu pengertian budaya ini kami sandarkan pada tanggapan yang telah diyakini kebenarannya oleh intuisi manusia pada umumnya. 

Menurut intuisi itu seni merupakan unsur ekspresi yang paling penting di dalam budaya, bahkan sering juga seni disamakan belaka dengan budaya, seperti yang terbukti misalnya pada penamaan "Misi Kebudayaan" bagi pengiriman rombongan penaripenari ke negeri tetangga, ataupun pada pertukaran pertunjukan kesenian antara Uni Sovyet dan Amerika Serikat yang dilakukan di dalam rangka ”Cultural Exchange", 

Tanggapan populer demikian, sekalipun menunjukkan unsur yang tidak teliti dalam memisahkan pengertianpengertian, mengandung juga inti kebenaran. Budaya memang lebih luas bidang lingkupnya daripada seni belaka, tetapi dalam fungsinya mengucapkan pengalaman kemasyarakatan dan kemanusiaan, senilah yang paling sanggup menyuarakan pengalaman itu dengan lebih langsung, menyeluruh dan lengkap. Ekspresi seni, apa pun bentuk dan gayanya, adalah total, sekaligus dan tan pa sisa. Kehidupan budaya menemukan pada seni alat ekspresinya yang paling tepat dan utuh. Karena itu tidaklah amat jauh dari kebenaran, kalau timbul kecenderungan pada masyarakat ramai untuk mengidentikkan budaya dan seni. 

Yang diharapkan dari kaum intelektual adalah perhatian kepada seni sebagai ekspresi budaya bangsanya. Di samping itu, seperti sudah sewajarnya, dituntut dari kehidupan intelektual perhatian kepada iklim pikiran jamannya. Dengan perkataan lain, seorang intelektual harus punya perhatian kepada, apa yang disebut secara teknis ilmiah, filsafat. 

Filsafat amat erat pertaliannya dengan seni, sekalipun kedudukannya berhadap-hadapan, seperti pada dua kutub yang bertentangan. Jika seni hendak mengucapkan pengalaman budaya dengan sepenuhnya dan se tandasnya, maka filsafat hendak menggali pikiran tentang pengalaman budaya sampai ke asas-asasnya yang paling dalam. Seni berada pada segi ekspresi budaya, sedang filsafat berada pada segi perenungannya. 

Perhatian dan pengertian terhadap seni dan filsafat yang diharapkan ada pada kaum intelektual tidaklah mutlak harus diperoleh melalui pen didikan yang formal dan metodis di sekolah-sekolah dan akademi-akademi. Pendidikan formal dan metodis di sekolah-sekolah dan kepada jurusan-jurusan di fakultas dan akademi bahkan mengandung bahaya spesialisasi yang mengaburkan penglihatan kepada kebulatan dan keutuhan hidup budaya. Sedang seni dan filsafat justru merupakan pancaran dari pengalaman kemasyarakatan dan kemanusiaan yang masih bulat dan utuh itu. Seorang intelektual yang telah mengalami spesialisasi apakah itu berupa pengajaran yang menuju kepada Keahlian ilmuilmu budaya, seperti linguistik, antropologi, psikologi, se jarah, ataupun yang menjurus kepada keahlian ilmu eksakta, seperti il mu pasti, kimia, teknik, kedokteran harus sanggup mempertahankan penglihatannya terhadap kehidupan dan pengalaman kemasyarakatan dan kemanusiaan yang belum lagi terbagi-bagi dan terpisah-pisahkan oleh sudut kejuruan itu. Boleh dikata ia harus dapat mempertahankan daya pesona yang dimilikinya waktu pertama kali mengamati dunia sekelilingnya yang tampak bulat dan utuh. Dengan membukakan diri pada rangsang-rangsang kehidupan yang masih kongkrit dan mentah demikian kaum intelektual dapat memelihara dan mengembangkan per hatiannya kepada seni dan filsafat yang memancarkan pengalaman budaya bangsa dan jamannya.

*

Di dalam masyarakat modern kerdil dan subur perkembangan budaya buat sebagian besar ditentukan oleh perhatian dan sambutan dari kaum intelektual itu. Seniman sadar akan hal itu. Pelukis seperti Popo Iskan dar, But Mochtar atau Sidharta dengan lukisan dan patung abstraknya mempamerkan hasilnya tidak lain daripada kepada kaum intelektual itu. Keadaannya tidaklah amat berbeda dengan jaman-jaman yang lain, yaitu ketika seniman memahatkan arca Budha buat Candi Borobudur atau mengarang cerita wayang yang mengandung keyakinan mistik seperti lakon Dewaruci. Publiknya adalah kaum intelektual pada zamannya yang diharapkan memiliki kepekaan terhadap rangsang-rangsang estetik karya seni serta bisa meresapkan iklim pikiran religius yang menguasai kurun sejarahnya. Demikian juga keadaannya dengan pahatan tokoh-tokoh manusia dan binatang secara metris dan abstrak di tengah huruf-huruf hieroglyph pada dinding-dinding kuil Mesir Kuno. Yang mendukung perkembangan lukisan dinding demikian adalah pendeta-pendeta juru tenung, anak-anak raja dan orangorang kebanyakan yang menaruh pengertian kepada filsafat jamannya. Hanya bedanya barangkali terdapat pada lebih luas meresapnya iklim pikiran jaman itu ke dalam segala lapisan masyarakat pada waktu itu sehingga tercapai pengertian gejala-gejala ekspresi seni yang lebih mendalam dari pada sekarang. Hal itu bertalian dengan keadaan di dalam masyarakat lama yang lebih padu sikap dan semangat hidupnya, karena perkembangan budaya yang lebih lamban sehingga cukup punya waktu untuk meresap dan dihayati di semua lapisan. Kecuali itu keyakinan religi lebih mudah mendapatkan pengertian di dalam penganutan ajarannya oleh barang siapa yang mau daripada peresapan iklim pikiran jaman modern yang lazimnya harus ditempuh lewat pengajaran yang lebih bersifat abstrak dan teoritis. Sekalipun terdengar agak berlawanan dengan per sangkaan umum, sebenarnya di dalam lingkungan masyarakat lama lebih banyak terdapat orang-orang intelektual, yang mengerti dan menghayati iklim pikiran jamannya yang mencapai ekspresinya di dalam seni, daripada di dalam masyarakat yang sudah modern. 

Tetapi justru karena sulitnya mencapai tingkatan peresapan iklim pikiran jaman ini karena sifat abstrak dan teoritisnya, dan juga karena lekas susutnya oleh desakan pengaruh iklim pikiran baru seniman dewasa ini berada di dalam suatu dilema. Dilema ini sangat kentara di dalam kalangan sastrawan, khususnya pada penyairpenyair. 

Sajak adalah buah karya sastra yang nilai seninya sangat tergantung dari kekuatan ekspresinya. Karangan prosa dalam bentuk roman atau cerita pendek lebih banyak menyandarkan suksesnya pada ''pesan”nya yang mengandung bobot psikologi atau filsafatnya. Menurut bobot pikiran-pikiran ini roman atau cerita pendek akan dinilai berhasil sebagai karya sastra atau tidak. Sudut ekspresi dengan demikian tergeser ke papan penilaian nomor dua. Boleh dikata setiap orang yang sanggup meresapkan iklim pikiran jamannya, setiap orang intelektual, dengan sekedar bakat untuk bercerita dan kadar yang lebih besar lagi untuk menemukan gaya khas sendiri, akan mampu menghasilkan karya prosa yang baik. Sebaliknya, untuk mencapai hasil sajak yang baik, di sam ping oleh bobot-bobot pikiran, nilainya ditentukan dengan sangat berat nya oleh daya ekspresinya ''Nilai puitik”nya terletak pada kepelikan pikirannya tentang dunia dan hidup, tetapi tidak kalah beratnya ber gantung pada caranya penyair mengucapkan diri. 

Pada berbagai periode sastra timbul bakat-bakat yang sangat peka kepada gaya kepenyairan. Seperti di dalam sastra lama banyak pula yang pandai menangkap suasana dan bentuk ucapan pantun, misalnya, dan cakap juga menghasilkan yang baru, demikianlah di dalam sastra modern, di dalam bentuk ekspresi yang lebih rumit, bakat-bakat penyair itu telah sanggup menyuarakan pengalamannya, yang lahir dan batin, ke dalam bentuk sajak yang bernilai puitik. Lahirnya mereka sebagai penyair tidaklah melalui peresapan iklim pikiran dewasa ini serta pengalaman kemasyarakatan dan kemanusiaan secara intens, melainkan dengan mempersenyawakan diri kepada gaya dan semangat ekspresi persajakan yang sedang menguasai jamannya. Oleh H.B. Jassin penyair penyair demikian pernah disebutnya di dalam percakapan sebagai "'bakat-bakat alam". Bakat-bakat alam demikian banyak lahir di sekitar tahun 1955 yang mengisi Generasi Kisah (penamaan generasi yang patut diberikan ke pada mereka, karena periode itu dikuasai oleh semangat dan gaya majalah sastra Kisah yang memuat sajak-sajak mereka). Di antara mereka yang penting pada waktu itu adalah Ajip Rosidi, W.S. Rendra, Mansur Samin, Kirdjomuljo. Karena umur, kesempatan studi dan pengalaman hidup yang masih singkat, alam pikiran mereka terbatas kepada yang dapat disimpulkan dari bacaan sajak-sajak generasi sastra terdahulu, buah karya Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Toto Sudarto Bachtiar, di samping yang dapat diikutinya, dalam bentuk terjemahan atau aslinya, dari hasil sastra asing, sajaksajak Garcia Lorca atau Carl Sandburg. Kebanyakan dari generasi ini, karena tingkat serta sistem pendidikan pada masa itu, tidak begitu menguasai bahasa asing, yang akan me mungkinkan mereka memasuki dunia perenungan yang lebih berseluk beluk dan serbaneka tentang masyarakat dan manusia. Ilham yang mereka temukan buat bahan berita sajak-sajaknya didapatnya dari peristiwa-peristiwa sederhana yang berlangsung di kampung, seperti tindakan kekerasan dan perkosaan yang menggemparkan, keakraban dengan alam raya, ataupun hanya kesan kemurungan yang tak menentu yang tak menemukan pemecahan. Berbeda dengan Angkatan 45 yang bertolak dari penyelaman jiwa serta sikap hidup yang mendapatkan ekspresinya dalam berbagai bayangan dunia yang kongkrit, Generasi Kisah bergerak pada bidang pengalaman yang mendatar yang di sana sini memperoleh kesan kedalamannya oleh suasana murung yang acap kali terasa dibuat-buat. Juga bentuk balada yang amat disukai pada periode itu hanya memungkinkan pemberitaan peristiwa lahir yang datar saja. Penyair-penyair Generasi Kisah daya tariknya berada pada segi ekspresinya yang umumnya meneruskan serta memperkembangkan gaya ucap Angkatan 45. Oleh dunia intelektual pada masa itu sukarlah diperoleh dari sajaksajak mereka pandangan dunia serta sikap hidup yang tentu bentuknya dan yang telah dimatangkan oleh pengalaman yang tekun. Kalau ada filsafat yang meresapi sajaksajak mereka, maka filsafat itu dipungut mereka dari rasa hidup Angkatan 45 yang berciri eksistensialisme. Tetapi eksistensialisme di dalam sajaksajak Generasi Kisah, karena ditangkap dari beritaberita selintas sehingga tidak mungkin dimengerti dan dihayati sampai kepada segisegi pikirannya yang lebih halus, pada umumnya hanya sanggup membayangkan herois me dan bravour yang ditekankan pada asas tanggungjawab perseorangan di dalam filsafat itu. 

Kelemahan segi filsafat itu di dalam kerja persajakan rupanya diinsafi oleh penyair-penyairnya dengan menyadari bahwa untuk menjajak tidak cukup hanya berbekal bakat alam belaka. Keinsafan itu terbukti misal nya pada usaha Ajip Rosidi untuk memperdalam pengertian serta penga lamannya dalam masalah-masalah masyarakat dan politik dengan me nerjunkan diri ke dalam dunia kewartawanan. Majalah Sunda yang di pimpinnya memancarkan ketajamannya mengupas dan mengkritik kebobrokan-kebobrokan yang dihasilkan oleh resim Sukarno. Mansur Samin juga berusaha ke arah itu dengan ikut serta dengan demonstrasi demonstasi kesatuan aksi melawan politik orde lama. Juga W.S. Rendra waktu berada di Amerika Serikat berusaha untuk mendapatkan kesem patan mengikuti kuliah sosiologi. Semua itu mempertandakan kebutuhan yang besar dalam diri mereka untuk mencapai pendirian kemasyarakatan dan kemanusiaan yang bertaraf filsafat yang mungkin bisa melengkapi segi ekspresi kerja persajakan mereka. 

Mereka yang mengandalkan diri pada bakat alam saja ternyata teng gelam dalam kelupaan karena habis daya untuk memberikan kepada dunia intelektualitas pemikiran yang matang tentang dunia dan kehidupan. 

Bakat alam dapat dibandingkan di dalam seni lukis sebagai taraf kepandaian mencampur warna dan menggambar tokoh-tokoh tanpa ada konsepsi tentang hidup dan manusia yang mendukung warna-warni coretannya. Paling jauh yang dapat dicapai oleh bakat alam adalah kemulusan diri dan tanggapan hidup yang simpel kekanakan. Popularitas karya seni yang sebentar gemerlapnya demikian bolehlah di bandingkan dengan daya pesona yang dibangkitkan oleh lukisan Grandma Moses yang telah sanggup menarik perhatian dunia seni di Amerika Serikat beberapa tahun yang lalu. Hanya berdasarkan bakat alamnya belaka wanita tua itu telah menghasilkan berbagai lukisan yang wajar yang secara tulusnya memancarkan jiwanya yang mulus dan sahaja seperti kanak-kanak. Tetapi setelah meninggal pelukisnya, daya pesona itu telah surut karena goresan lukisannya tidak mendukung renungan hidup yang cukup arif dan dewasa. 

Karena kelemahan dalam segi filsafat itu juga, di bidang cerita pendek bakat-bakat alam itu tidak dapat mencapai hasil yang lebih tinggi daripada penulisan anekdot-anekdot, yakni kisahkisah pendek tentang sesuatu kejadian yang menarik di dalam kehidupan sehari-hari. Cerita yang mendatar demikian isi pengalaman hidupnya dari lingkungan pergaulan yang terbatas pula tingkatan sosialnya banyak mengisi lembaran lembaran lama majalah Kisah dan Sastra. 

Dunia intelektualitas di Indonesia di dalam abad ini dimatangkan oleh pengamatan serta pengalaman yang beraneka segi dan dalamnya. Pengenalannya kepada manusia, alam dan dunia lewat ketekunan studi, kebebasan pergaulan dan bentrokan-bentrokan masalah yang berdimensi internasional menerbitkan selera intelektualitas yang tidak lagi puas kepada permukaan yang menarik dan gaya yang luwes belaka. Puteri bangsawan lama yang menjadi idam-idaman orang intelektual pada masanya tidak lagi menarik kaum intelektual zaman sekarang, sebab yang diharapkan kini bukan kemanisan ekspresi belaka, melainkan juga, bahkan lebih daripada itu, unsur kepribadian yang dinamakan sophisti cation, kearifan. Sajak-sajak penyair bakat alam tingkat penjelmaannya baru sampai pada taraf putri bangsawan lama itu. 

Dilema antara filsafat dan seni itu di dalam sajak rupanya mendapat pemecahan di dalam Generasi Horison. Sajak-sajak yang bertema ''perlawanan" oleh Taufiq Ismail yang termuat di dalam majalah Horison, dan oleh penyair-penyair lain di luar majalah itu berupa penerbitan himpunan-himpunan sajak, dan bahkan yang telah dimulai lama sebelumnya, pada permulaan tahun-tahun kemerdekaan lewat berkala berkala yang terbit di "pusat revolusi” Jogya, merupakan jenis-jenis sa jak yang cenderung menyisihkan perhatian kepada segi eskpresi seninya untuk kepentingan semangat hidup dan ideologi pikirannya. Rupanya ada perasaan tidak sabar yang mendesakdesak untuk meledakkan semangat dan pikirannya keluar sehingga tidak ada waktu lagi untuk memperhatikan caranya menyatakan diri. Khususnya pada Taufiq Ismail ada kadar pengekangan diri sehingga pikiranpikiran "perlawanan"nya dapat mencapai arah ke dalam, sedang nilai puitiknya pada eks presi tidak diporak-porandakan oleh semangat dan semboyan-semboyan. 

Tetapi di dalam pertalian subyek karangan ini tidak akan dibicarakan secara khusus jenis sajak perlawanan yang banyak mengisi udara kesusastraan Generasi Horison pada tahap permulaannya. Sajak-sajak perlawanan, bahkan yang lahir dari tangan Taufiq Ismail, umumnya tidak mengandung bobot pikiran tentang dunia dan hidup yang cukup bernilai yang dapat menggerakkan perhatian intelektualitas masyarakat kita dengan agak intens dan kekal. Tetapi sajak-sajak perlawanan itu penting dalam membuka perkembangan sajak-sajak yang memberi per hatian yang lebih banyak kepada segi pikiran filsafatnya. Gejala-gejala perkembangan sajaksajak yang lebih mengandung kearifan tampak pada karya Goenawan Mohamad, Arifin C. Noer, Toety Heraty. Sajak-sajak mereka lebih langsung bicara tentang hidup dan dunia lewat kesankesan yang ditangkap di dalam perbuatan sehari hari. Pengalaman hidup telah mencapai kesimpulan-kesimpulan renung an yang berinti filsfat yang dicoba mendapatkan pembayangannya pada refleksi garis-garis kebumian yang kongkrit. Acapkali ekspresinya sama abstraknya seperti kandungan pikirannya dengan mempergunakan kalimat-kalimat yang diskursif, yang membayangkan gerak pikiran dengan langsung dan tegas, sehingga berkesan meninggalkan dengan sengaja ciri-ciri ekspresinya yang puitis. Bahwa hal itu disadari oleh penyairnya sendiri, dapat dicari buktinya pada judul "Puisi-puisi yang kehilangan puisi" bagi kumpulan sajak Arifin C. Noer. Di bidang cerita pendek, kebutuhan akan kelengkapan segi filsafat di balik ekspresi telah lama terasa, dan sebenarnya juga telah lama ter penuhi, hanya saja cerita-cerita yang membayangkan garapan intelektuilitas itu di zaman Kisah cenderung terkubur di bawah limpahan cerita anekdot. Cerita-cerita hantu Rijono Pratikto dari Generasi Kisah boleh lah dipandang sebagai permulaan usaha untuk meningkatkan dasar cerita pendek dari realisme keinderaan yang rata gerak kejadiannya ke tingkat pengalaman yang lebih sanggup mengatasi penglihatan dunia yang umum dan (yang disebut oleh Iwan Simatupang:) "vulgair”. Hasilnya adalah gambaran gerak kejadian yang melampaui batasbatas kemungkinan yang dipagari oleh realisme keinderaan, dan cara berpikir yang melewati batas kemungkinan yang ditentuan oleh logika umum, seperti di dalam cerita-cerita hantu Rijono Pratikto, dan bahkan pertimbangan-pertimbangan tindakan yang melanggar asasasas umum, seperti yang mendasari cerita-cerita absurd Iwan Simatupang (''Tunggu aku di pojok jalan itu”, Sastra, tahun I, no. 7, Nop. 1961; "Tegak lurus dengan langit'' Sastra, th. II no. 5, 1962). Cerita-cerita absurd demikian dengan pandangan dunia yang melampaui realisme umum, hukum hukum berpikir yang menyalahi logika umum serta pertimbangan-pertimbangan perbuatan di luar moral umum mendapatkan penerus penerusnya di dalam Generasi Horison pada Danarto (''Godlob”, Horison, th. III no. 1, 1968,"Rintrik”, Horison, th. III 2, 1968,"San diwara atas sandiwara' Horsion, th III no. 10, 1968), juga pada cerpen Taufiq Ismail "Garong, garong'', dan pada sketsa-sketsa Satyagraha Hoerip yang termuat di dalam majalah Horison juga. 

Segi filsafat di balik ekspresi sajak dan cerita pendek Generasi Horison telah mengembangkan benih intelektualitas yang belum dapat udara hidup yang baik selama Generasi Kisah. Tetapi perkembangan sastra, justru karena nilainya tergantung dari kedua ukuran intelektualitas, yakni perhatian pada filsafat dan seni, selalu berada dalam situasi labil. Perhatian itu tidak selalu dapat seimbang. Kerawanan Generasi Horison kini terdapat pada segi ekspresinya. Terlalu banyak kadar filsafat cenderung mengawangkan pikiran pada pengucapan yang abstrak dalam garisgaris penglihatan dunia yang terlalu skematis dan dibesar-besarkan, seperti sudah tampak gejala-gejalanya pada ekspresi sajaksajak Arifin C. Noer dan cerpen Taufiq Ismail di majalah Horison. Jika telah sampai pada pengutamaan pikiran belaka, segi ekspresi tidak merupakan keharusan lagi, dan yang paling banyak kita capai hanya seni karikatur dari masyarakat dan manusia. 

Aktivitas intelektual di dalam kreasi adalah sama seperti yang dikerjakan oleh Baron von Munchhausen yang menarik ujung rambutnya sendiri supaya ia bisa terangkat dari lumpur tempat ia terperosok. Kita menjaga intelektualitas di dalam kreasi seni dan sastra untuk mengangkat kehidupan intelektual ke taraf yang lebih tinggi. Karena nilai intelektualitas di dalam kreasi, publik yang intelektual akan menaruh minat dan sementara itu intelektualisme masyarakat sendiri dengan demikian akan terangkat pula. Semua inisiatif dan usaha budaya adalah demi meluas dan meningkatnya intelektualisme itu.


Note:
1) A.L. Kroeber dan Clyde Kluckhohn: Culture, New York 1963.

Share this

Related Posts

Latest
Previous
Next Post »