Mencuri Tuyul - Aliurridha

@kontributor 5/26/2024

Mencuri Tuyul

Aliurridha

 


Sudah satu bulan sejak orang-orang di kampung itu mengalami kehilangan uang. Uang yang hilang memang tidak banyak, hanya selembar atau dua lembar sepuluh ribuan; kadang dua puluh ribuan, dan tak pernah lebih besar dari itu. Hanya saja kehilangan itu terjadi terus menerus, tanpa henti, setiap hari, dan nyaris setiap warga mengalaminya. Awalnya mereka pikir mereka hanya khilaf atau sekadar lupa menaruh di mana. Namun kejadian itu terus berulang, dan uang itu tidak juga ditemukan. Hal itu membuat mereka mulai berpikir bahwa memang ada yang mencuri uang mereka.

Karena kejadian itu, empat orang telah menjadi korban salah tangkap. Mereka digebuk sampai nyaris mati karena disangka maling. Padahal keempatnya sama sekali bukan maling, hanya orang sial yang kebetulan mencurigakan. Setelah babak belur dihajar, barulah diketahui bahwa korban pertama adalah pedagang barang bekas keliling; korban kedua adalah seorang pemulung; korban ketiga hanyalah orang yang numpang lewat; sedangkan korban terakhir cuma seorang tua yang bahkan tidak ingat namanya sendiri.

Keributan tidak berhenti di sana, banyak rumah tangga yang kemudian nyaris pecah kongsi karena saling curiga. Nasip adalah satu dari sekian orang yang dicurigai istri sendiri.

“Kamu curi uang saya pakai judi lagi?” tuduh Romlah pada Nasip di teras rumahnya.

Mana saya pernah begitu,” balas Nasip.

“Kamu sudah yang curi uang saya, ngaku saja! Pasti kamu pakai main bola adil lagi, kan?”

Nasip terus saja membantah.

“Iya, mana dia berani Romlah,” timpal Robok.

Saat itu Robok sedang minum tuak bersama teman-temannya di gazebo depan rumah Nasip. Dodot, kawan Robok, yang baru pulang dari tanah rantau mentraktir teman-temannya. Nasip juga ikut minum di sana sebelum istrinya berteriak memanggil namanya.

“Eh, anak setan. Jangan ikut-ikutan kamu. Saya hantem mukamu nanti!” ancam Romlah.

Wajah Robok langsung pucat karenanya.

“Kamu sudah yang curi. Ayo ngaku!” Romlah terus saja menuduh suaminya. Bahkan ia sampai merasa perlu menunjuk-nunjuk wajah Nasip. Merasa tidak terima direndahkan di depan teman-temannya, Nasip mengumpat. “Dasar gembrot!” Mendengar itu, Romlah lebih tidak terima lagi, ia langsung menggampar Nasip. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali. Teman-teman Nasip pura-pura tidak melihat. Pun dengan kondisi mabuk, mereka tetap takut pada istri Nasip yang sebesar gajah dan seberingas harimau.

Romlah memang terkenal galak. Nasip berkali-kali menjadi bulan-bulanan sumpah serapahnya. Hari ini tidak hanya mulut Romlah yang merobek-robek harga diri Nasip, kaki dan tangan pun jadi penyambung penderitaan. Bibir Nasip hampir robek digampar Romlah, dan ia didorong hingga tergelincir jatuh ke tanah depan teras rumahnya. Setelah puas, Romlah meninggalkan tubuh kurus Nasip yang kini berkalang tanah.

“Nasip ... Nasip ... kok nasibmu sial betul?” kata Burak geleng-geleng kepala.

Dengan tertatih-tatih, Nasip berjalan dan menyelipkan umpatan pada istrinya. Namun umpatan itu teramat pelan.

“KDRT nih, ye,” ejek Cobok.

Nasip memasang muka masam. Teman-temannya yang lain pun ikut nimbrung.

“Laporin sudah ke polisi. Kalau nanti divisium, ini ada buktinya!” kata Robok menunjuk-nunjuk bagian tubuh Nasip yang lebam.

“Tidak dong. Yang begini sudah biasa. Saya bisa balas, tapi saya tidak mau. Saya ini laki-laki; laki-laki tidak pukul perempuan,” kata Nasip membela diri.

Teman-temannya tertawa mendengar jawaban Nasip. Mereka tertawa karena tahu semua itu bohong belaka. Nasip selalu takut pada istrinya. Nasip takut bukan karena istrinya galak, melainkan karena tanpa istrinya, Nasip tidak bisa hidup. Nasip hanyalah seorang kuli panjat miskin. Tanpa istrinya yang pandai mencari uang, ia tidak mungkin bisa bertahan. Nasip tidak punya pengetahuan apa-apa untuk hidup di dunia, sedangkan Romlah adalah seorang saudagar yang setiap harinya meminjamkan uang kepada mereka yang ingin memulai usaha atau sekadar untuk kebutuhan rumah tangga, dan saat mereka mengembalikan, orang-orang itu harus membayarnya dengan bunga. Orang-orang menyebut Romlah rentenir. Romlah tidak suka itu, ia lebih senang disebut bank berjalan, terdengar lebih dermawan.

“Kemarin saya juga hampir diusir istri karena dituduh curi uangnya buat beli nomor,” kata Burak mengalihkan pembicaraan.

“Ah, iya di rumah saya juga begitu. Uang selalu hilang.”

“Kamu kan memang tidak pernah pegang uang, Robok,” ejek Cobok.

“Tapi benar juga kata Robok, akhir-akhir ini orang kampung banyak kehilangan uang,” Dodot menengahi.

“Itu kan karena kalian semua bodoh, minjem uang di Romlah.”

“Bajingan Cobok, jangan bawa-bawa istri saya!” kata Nasip marah.

“Santai. Minum dulu.” Cobok memberikan segelas tuak pada Nasip.

“Betul kata Dodot. Kalian tahu, sudah empat orang digebuk karena disangka maling.”

“Lima, Pak Burak. Lima,” potong Cobok sambil menunjuk Nasip dan mereka pun tertawa. Nasip pun ikut tertawa.

***

Bagai wabah yang menyebar tiada terbendung dan tiada diketahui penyebabnya, kehilangan uang yang menimpa warga kampung juga tiada terbendung. Orang-orang mulai saling tuduh, mereka menuduh tetangga mereka maling. Bahkan ada yang dicurigai sebagai babi ngepet, ada juga yang dituduh memelihara tuyul. Keributan nyaris tak terhindarkan jika para tetua tak segera turun tangan. Para tetua memanggil orang pintar yang dianggap bisa jadi solusi. Mereka memanggil Oplok, seorang yang pernah mengenyam bangku kuliah di kota, tetapi memilih tidak menyelesaikannya. Ketika pulang ke kampungnya, Oplok bukannya bergelar sarjana pendidikan, malah bergelar orang pintar; lalu dengan gelar itu ia membuka praktik perdukunan.

“Jadi apa benar cerita itu, setiap rumah kehilangan uang?” tanya Oplok kepada kepala kampung.

“Iya. Bapak bisa mulai dari rumahnya Nasip. Dia yang paling sering dituduh karena uangnya tidak habis-habis,” saran kepala kampung.

***

“Enak saja mereka tuduh saya pelihara tuyul. Buat apa saya mencuri, uang saya banyak!” kata Romlah pada suaminya. Suara bariton Romlah menerobos bilik-bilik kayu, menuju ruang tamu hingga tertangkap telinga Oplok. Lelaki itu sama sekali tidak marah, ia dengan tenang menunggu tuan rumahnya keluar. Romlah tidak terima, ia tidak mau menyambut tamunya. Bahkan untuk sekadar menghidangkan teh dan kue, ia tidak sudi.

Nasip keluar dengan wajah masam. Ia mengajak Oplok berbicara sambil jalan-jalan karena istrinya tidak berhenti sewot. Oplok tersenyum menyetujui ajakannya. Nasip pun menemani Oplok berkeliling kampung, mengunjungi rumah-rumah korban. Dalam perjalanannya, Nasib melihat keempat temannya tengah minum-minum di pos ronda. Burak memanggilnya, memintanya mampir. Nasip menolak. Dengan gagahnya ia berkata ada tugas negara. Teman-temannya tertawa terbahak-bahak, Nasip tidak peduli; ia terus saja berjalan, membersamai Oplok mengunjungi rumah para korban.

 Oplok berkeliling di seputar TKP, menyentuh benda-benda, bertanya kepada korban-korbannya. Ia dengan serius mendengar setiap penuturan korban dan mencatat setiap jawaban mereka dalam sebuah buku catatan yang tidak lebih besar daripada bungkus rokok. Nasip memperhatikan setiap tindakan Oplok sambil mengangguk-angguk.

“Berapa uang Ibu yang hilang?” tanya Oplok.

“O, Banyak. Mungkin lebih sepuluh juta.”

Oplok terkejut.

“Benar sepuluh juta?”

“Masak saya bohong.”

“Ini benar semalam hilangnya?”

Tuminah memiringkan kepalanya sekitar lima kedipan mata sebelum mengangguk. Oplok baru saja berpikir ini kasus besar yang belum pernah ia tangani sebelumnya. Itu sebelum si menantu korban menyela.

“Maaf, Waq. Ini ibu mertua saya sudah pikun. Uang tidak hilang sebanyak itu.”

“Pikun, pikun. Enak saja kamu bilang aku pikun, Yun.” Wanita tua itu mendorong pelipis menantunya dengan telunjuknya. “Kamu pasti kerja sama dengan perempuan gendut itu untuk habisin uang saya.”

“Eh, Tua Bangka, jangan sembarangan kamu tuduh-tuduh istri saya,” kata Nasip ikut campur.

“O, rupanya kamu yang bawa orang ini. Sudah sana, saya tidak percaya kalian. Kalian bukan mau bantu saya. Kalian pasti mau curi uang saya lagi.”

Tuminah mengusir Oplok dan Nasip. Yuyun, menantunya, berkali-kali meminta maaf atas perlakukan kasar mertuanya. Sudah beberapa tahun terakhir mertuanya kurang sehat ingatannya. Wanita tua itu tidak lagi mengingat apa-apa yang baru saja ia kerjakan, ia malah mengingat peristiwa-peristiwa yang sudah lama terjadi. Lalu dari Yuyun juga Oplok tahu bahwa uang yang hilang hanya selembar dua puluh ribu. Namun kehilangan itu terjadi berkali-kali. Nyaris setiap hari. Oplok kembali mencatat. Nasip kembali menganguk-angguk.

***

Keesokan harinya, Nasip menemani lagi Oplok mengunjungi rumah korban lainnya. Peristiwa itu terus berulang setiap hari. Dan setiap mereka lewat pos ronda, Oplok melihat orang-orang di pos ronda selalu sama. Oplok pun bertanya ke Nasip apakah orang-orang itu saja yang meronda.

“Kenapa tiba-tiba tanya itu, Waq?” Nasib bertanya balik.

“Tidak tahu. Penasaran saja. Saya dengar sejak banyak yang kehilangan uang para tetua meminta orang-orang meronda, tapi kok saya lihat orangnya itu-itu saja.”

Nasip tertawa. Ia pun menjelaskan tentang keempat kawannya. Burak, Cobok, Dodot, dan Robok sedang tidak punya kerjaan. Karena tidak punya kerja, mereka minum tiap hari. Daripada mereka minum-minum tidak jelas, para tetua mengangkat mereka jadi juru keamanan kampung. Cukup sediakan tuak dan mereka akan datang. Kalau tuak yang diberikan tetua habis, Dodot yang baru pulang merantau akan lanjut mentraktir kawan-kawannya. Uang Dodot banyak.

Oplok mengangguk-angguk dan kembali mencatat.

“Nasip. Mampir sini!” ajak Robok.

Nasip menoleh ke arah gardu.

“Kalau kamu mau gabung, gabung saja. Saya tinggal sedikit, kok.”

“Benar tidak apa, Waq?”

Oplok mengangguk.

“Tapi jangan bilang ke para Tetua, ya. Nanti istri saya tahu.”

“Aman,” balas Oplok.

Nasip pun dengan girangnya melangkah ke gardu, bergabung bersama kawan-kawannya.

“Jadi bagaimana perkembangan penyelidikanmu, Pak Detektif?” tanya Cobok mengolok-olok.

Keempat sahabat itu kemudian tertawa. Nasip diam saja, ia tidak mengerti di mana letak lucunya.

“Tapi benar. Penasaran kita. Coba cerita dulu,” lanjut Robok.

“Sudah-sudah, biarkan kawan kita ini minum dulu,” kata Dodot.

Burak pun menyerahkan segelas cairan berwarna merah muda. Setelah Nasip meneguk habis minumannya, Dodot memintanya cerita. Nasip menolak, ia berkata diminta menjaga rahasia sampai penyelidikan selesai. Namun, setelah gelas demi gelas terus disodorkan oleh Dodot, Nasip tidak bisa lagi menahan mulutnya.

“Kemungkinan besar pelakunya tuyul,” kata Nasip.

“Tuyul!” ujar keempatnya terperanjat.

“Iya, tuyul.”

“Aduh, mana ada tuyul di zaman yang sudah maju kayak begini,” kata Burak.

Setelah itu Dodot menyodorkan segelas minuman lagi untuk Nasip, yang tanpa menunda, langsung saja meneguknya.

Dalam awut-awutan pikirannya yang diterpa badai tuak, Nasip memikirkan lagi percakapannya dengan Oplok kemarin sore. Orang pintar itu berkata ada yang pelihara tuyul di kampungnya.

“Tuyul? Siapa yang pelihara, Waq?”

“Saya masih menyelidikinya!”

 “Bagaimana Waq Oplok bisa tahu?”

“Kamu pikir karena apa orang-orang menyebut saya orang pintar?”

“Karena apa memangnya?”

“Karena saya memang pintar,” jawab Oplok.

Nasip bingung mendengar jawaban Oplok. Tetapi sebagai orang bodoh, ia terima saja apa yang dikatakan orang pintar.

Seperti juga teman-temannya, Nasip awalnya tidak percaya kata-kata Oplok. Apalagi perkataan Oplok semakin aneh saja.

“Terus apa yang akan Waq Oplok lakuin sekarang?”

“Saya akan curi tuyulnya.”

Nasip terperangah.

Pemiliknya sudah keterlaluan. Dia sudah melanggar hukum tak tertulis di dunia kami.”

Nasip sama sekali tak mengerti apa yang dikatakan Oplok. Mendengar rencana mencuri tuyul saja sudah membuatnya bingung, apa pula itu hukum tak tertulis dunia mereka. Nasip pun mengutarakan keheranannya.

“Dalam hukum tak tertulis di dunia kami, kami dibolehkan mencuri sedikit dari mereka yang beruang, tetapi tidak mencuri dengan rakus dari orang miskin.”

“Terus dari mana orang itu bisa dapat tuyul?”

“Bisa jadi hasil diburu di hutan-hutan tak berpenghuni, atau di tempat-tempat yang kamu pikir tidak pernah ada dan berharap tidak pernah ke sana. Tapi ada juga tuyul yang dipelihara untuk dijual.”

“Dipelihara!” Nasip lagi-lagi terkesiap. “Kayak ternak?”

“Kurang lebih seperti itu.”

“Terus siapa yang menjualnya?”

Ya, dukun kapitalis.”

“Dukun kapitalis?”

“Iya.”

Nasip terkesiap mendengar kata kapitalis. Kata yang terasa asing di telinganya. Sesekali ia pernah mendengar kata kapitalis dari TV atau obrolan warung kopi; tetapi tidak dengan dukun kapitalis. Makhluk apa pula itu? Ia yang bodoh dan tidak bisa membaca, semakin bingung mendengar penjelasan Oplok. Kemudian ia berpikir, mungkinkah orang-orang kaya itu juga memelihara tuyul untuk mencuri uang? Soalnya uang mereka kan tidak pernah habis. Tetapi dia kembali ragu, istrinya cukup kaya, dan istrinya tidak pernah mencuri, apalagi sampai memelihara tuyul. Nasip yakin akan hal itu, ia tidak pernah melihat istrinya mencuri uang.

“Sebentar Waq. Saya mau tanya, apa orang-orang kaya di kota sana, yang disebut kapitalis itu, juga melihara tuyul untuk curi uang?”

“Oh, mereka itu tidak pelihara tuyul seperti yang dimiliki orang ini. Tuyul mereka jauh lebih canggih. Tidak ada hukum, baik yang tertulis maupun tidak, yang bisa melarang mereka mencuri uang. Tuyul mereka bebas mencuri uang, dan hebatnya lagi, orang-orang tetap memuja mereka, bahkan bergantung pada mereka.”

“Siapa orang-orang ini?”

“Namanya Bank. Pernah dengar?”

Setelah menceritakan percakapan dengan Oplok itu kepada teman-temannya, kepala Nasip semakin pusing saja. Ia kembali meminta segelas tuak dari Dodot. Tetapi wajah Dodot malah berubah pucat. (*)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »