Celah Dimensi - Candrika Adhiyasa

@kontributor 7/17/2022

CELAH DIMENSI

Candrika Adhiyasa





Lelaki itu memandangi langit-langit dengan perasaan rawan. Perasaan itu tidak dapat ia mengerti, apalagi ia jelaskan. Namun, ia menghayati betul perasaan itu sebagai sesuatu yang beresonansi dalam desir darahnya.

            Lampu kamar masih padam, dan satu-satunya sumber cahaya samar adalah dari balik jendela yang tertutup gorden tipis. Cahaya samar yang menyembul dari balik jendela itu merupakan komposisi yang disusun oleh sinar bulan, lampu-lampu kota, dan juga bintang-bintang yang jauh. Langit tentu cerah, dan betapa biru penampakannya apabila penampakan ini muncul di siang hari.

            Lelaki itu merasakan dadanya berdenyut. Ada debar jantung yang senantiasa berdetak sejak kali pertama ia dilahirkan. Selama tiga puluh tahun, ia larut dalam kewajaran mekanisme itu, dan baru kali ini ia memikirkannya: betapa jantung tak pernah berhenti barang sejenak untuk memompa darahnya, yang artinya juga menjadi bagian dari penggerak daya hidupnya. Lelaki itu mengira-ngira kapan terakhir kali ia memikirkan persoalan semacam ini. Persoalan yang lebih sering dilupakan karena “sudah dianggap wajar”. Penerimaan akan kewajaran, menurutnya, merupakan sesuatu yang sering membuat orang kehilangan kesadaran akan sesuatu hal yang barangkali kecil, tetapi begitu menentukan.

            Ia menghela napas dengan berat, dan mencoba bangkit dari ranjang dengan susah payah. Tubuhnya seolah menjadi dua kali lebih berat, atau barangkali gravitas yang menjadi dua kali lebih kuat. Ia tidak tahu mana yang benar. Namun ia bersikeras bangkit, dan dengan perlahan telapak kakinya menyentuh lantai yang dingin. Bahunya terasa dibebani oleh kayu keras yang berat, ia menghitung usianya, dan merasa kondisi ini tidak terlalu wajar.

            Setelah berjalan ke dapur dan mengambil minum, ia memandangi wajahnya yang pucat di cermin dekat wastafel. Untuk sejenak ia merasa asing dengan wajahnya sendiri, seperti sosok yang bukan-dirinya. Namun perasaan itu baginya tidak masuk akal, dan ia mulai membasuh wajahnya dengan air, mengelapnya dengan handuk, dan menyadari bahwa tubuhnya telanjang. Ia pun mengambil kemeja dari lemari pakaian dari besi yang di beberapa ujungnya tampak berkarat. Setelah memakai kemeja biru tua tanpa dikancingkan, ia mengenakan celana dalam dan lantas membungkusnya dengan celana pendek berwarna abu-abu. Ia menuju kulkas dan mengambil gin, menuangkannya pada gelas kecil dan mengambil es batu di freezer, meminumnya sambil berdiri dan tercenung.

            “Sudah berapa waktu yang lewat?” ia bertanya pada dirinya. Tidak jelas apa yang telah terlewat. Ia sendiri tidak memikirkannya dengan jelas. Hanya saja, ia menyadari sesuatu yang tak bisa dijelaskannya, bahwa sesuatu telah terlewati. Dan sesuatu itu bukanlah hal yang sederhana. Ia kembali ke kamarnya, menyalakan lampu, lantas memandangi langit-langit yang pertama ia lihat saat membuka mata. Langit-langit itu ditempeli bercak-bercak kecokelatan karena rembesan air hujan. Sebuah bola lampu menempel di sana dengan tidak mencolok. Matanya kini mengarah pada lemari kecil di depan, barangkali, meja kerjanya. Berderet beberapa buku dengan sembarang. Tidak tersusun sama sekali; warnanya, ketebalannya, atau kategori lainnya. Barangkali ia sembarang menaruh buku-buku itu di sana, ia juga tidak ingat pernah membaca buku-buku itu. Kini ia ragu, jangan-jangan buku-buku itu sebenarnya bukan miliknya.

            Ia menyeret kursi, duduk di depan meja kerja itu, kemudian memandangi buku-buku itu dengan saksama. Sebagian adalah buku-buku lama yang rata-rata ditulis di abad pertengahan, tentu sudah dicetak ulang di tahun, barangkali, 2000-an ke sini. Tidak ada tanda-tanda bahwa buku itu adalah cetakan lama. Sampulnya masih utuh, bahkan bagus, tidak ada tanda pernah dibaca, tidak ada debu, dan lain-lain. Kini ia melihat alat pemutar musik yang lebih mirip radio, lantas memerhatikannya sebentar. Beberapa keping kaset blues berserak di bagian belakang alat pemutar musik itu. Ia ambil satu, kaset Jimmy Dawkins. Tangannya dengan saksama memasukan kaset itu ke alat pemutar musik, dan Kold Actions mengalun. Ia heran dengan kecakapan tangannya dalam mengoperasikan alat pemutar musik ini. Perasaan asing dengan benda itu menyembul, tetapi ada keramahan samar yang hinggap. Benda ini miliknya, ia meyakini itu.

            Udara terasa lembap dan pengap, ia membuka jendela setelah menggeser gordennya. Terhampar lanskap perkotaan yang bisu. Kebisuan itu bukanlah sesuatu yang lahir dari ketiadaan bunyi—bebunyian timbul dengan banal—tetapi kebisuan itu seperti sensasi yang lahir dari pertautan antara mata yang memandang lukisan Picasso dan “realitas” dalam lukisan itu—yang tak bisa dijangkau oleh pikiran. Lanskap itu tampak aneh di matanya. Tidak ada keakraban yang timbul dari pertautan matanya dengan lanskap itu. Ia merasa tinggal di suatu sudut tersembunyi dunia ini, dan lanskap kota yang tampak itu adalah wilayah yang menghuni cakrawala. Begitu jauh dan tak tersentuh, meski ia ada.

            Ketika ia memutar kursinya pelan ke arah ranjangnya, ia dapati selimut yang tadi ia gunakan ketika tidur. Di dalamnya seperti ada sesuatu—atau seseorang—yang kemudian mengundang rasa penasarannya. Tiba-tiba ia dihinggapi rasa cemas yang halus karena tarikan rasa penasaran tentang apa (atau siapa) yang ada di balik selimut itu dan rasa enggan untuk mengetahuinya—yang tidak ia ketahui kenapa. Rasa enggan itu juga bukanlah rasa takut. Namun rasa penasaran yang menghinggapinya lebih kuat, dan ia bangkit dari kursi, menuju ke sana dengan langkah ragu-ragu.

            Angin masuk ke sudut-sudut ruang melalui jendela yang terbuka, kemudian membelai tengkuknya. Ia rasakan angin itu sebagai angin yang asing. Dingin, bukan sejuk. Meski ia merasa gerah tetapi ia tidak merasa nyaman dengan belaian angin itu. Ia terpikir untuk menutup jendela, tetapi ia memilih untuk menuntaskan hasrat ingintahunya lebih dulu. Tangannya mulai menyentuh ujung selimut dan menyingkapnya secara perlahan dengan emosional, seolah-olah ia sedang membuka kotak Pandora yang akan menampakkan sesuatu yang bisa jadi mengerikan dan begitu berpengaruh pada peradaban.

            Helaian rambut yang halus itu mulai tampak dari balik selimut, disusul dengan wajah tidur seorang perempuan yang polos. Ketika selimut itu sepenuhnya disingkap, ia dapati seorang perempuan tanpa pakaian itu tertidur menyamping ke kanan dan membelakanginya. Tulang punggung perempuan itu timbul, sebuah kalung berwarna perak menggantung di lehernya. Lelaki itu berjalan mundur dan mencari-cari kursi, lantas ia pun duduk. Ia merasa lega sekaligus merasa aneh.

            “Siapa dia?” batin lelaki itu. Dalam benaknya, ia tidak menemukan suatu apa pun yang menyimpan ingatan tentang perempuan ini, atau situasi ini, atau apa pun. Ia mengorek kembali kedalaman memorinya dan hanya menemukan dasar tanpa ingatan yang ia cari. Seperti mimpi, ujarnya pelan. Kini lagu berpindah pada Little Angel Child. Lelaki itu tidak menemukan kecocokan intro musik ini dengan situasi yang dia alami. Kata “situasi” juga baginya terkesan berlebihan. “Terlalu dramatis. Aku bukan pemeran film-film Hollywood.” Kebingungan menyergap kepalanya, dan ia memutuskan mengambil botol gin di kulkas, dan meminumnya langsung dari botolnya.

            Saat kembali ke kursi itu, ia masih mendapati perempuan di ranjangnya. Tubuhnya kecil, ramping, tetapi tidak cukup sensual untuk menarik minat seksualnya. Pemandangan ini lebih seperti pemandangan “keluarga” ketimbang pemandangan erotis. Namun, ia tidak bisa memastikan apa pun. Ia tidak bisa menemukan ingatan apa pun mengenai “aktivitas macam apa” yang telah ia lalui bersama perempuan ini sebelum tidur. Kini lelaki itu tersadar, bahwa ia sama sekali tidak punya ingatan tentang hari kemarin. Seolah-olah ia terlempar begitu saja ke dalam realitas ini, realitas yang baginya ambigu tetapi tidak terlalu menggetarkan. Realitas ini hanya membingungkannya, dan kebingungan itu sekadar berkelindan dengan wajar.

Lelaki itu berpikir, barangkali ia hanya harus menunggu perempuan itu bangun dan menanyakan beberapa hal padanya. Dengan begitu, barangkali, kebingungan yang ia alami akan terobati.

            Lagu berpindah pada Tired of Krying. Lelaki itu memutuskan untuk membaca sambil menunggu. Ia memilih buku paling tipis, sebuah buku mengenai seseorang yang meminta kapal pada seorang raja untuk mencari “pulau tak dikenal”. O Conto da Ilha Desconhecida yang ditulis José Saramago yang ternyata tidak ditulis di abad pertengahan, melainkan tahun 1998. Kesadarannya kini beralih pada dunia-di-dalam-teks tersebut.

            Dua puluh menit berlalu, perempuan itu tak kunjung bangun. Lelaki itu merasa pinggangnya pegal, dan menyimpan kembali buku yang telah selesai ia baca. “Buku yang menarik,” ujarnya. Ia tersenyum samar. Setelah mengarungi “realitas lain” dalam buku itu, kini ia terlempar kembali pada realitas dalam hidupnya. Kecemasannya kini kembali, menjadi sedikit lebih pejal. Ia berpikir beberapa saat, mempertimbangkan apakah baik apabila ia membangunkan perempuan itu. Ada ketidaksabaran dalam dirinya, dan ia merasa harus segera melakukan sesuatu untuk menyudahi kecemasan yang lahir dari kebingungannya. Ia pun bergerak ke ranjang.

            Saat memandangi kembali tubuh perempuan itu, ia menyondongkan wajahnya ke wajah perempuan itu, tetapi ia cemas. Ia memang tidak percaya pada hantu, meski ia percaya pada hal-hal mistik. Hantu hanyalah karakter fiksi yang dibuat oleh masyarakat, batinnya, dan ia tidak memiliki kehawatiran awam semacam itu ketika hendak memandang wajah si perempuan. “Tentu ia bukan hantu, dan tentunya wajahnya tidak akan memiliki bentuk yang aneh.”

            Ketika hendak memandang wajahnya, perempuan itu berbalik dan mendengus. Matanya masih terpejam sambil sesekali berkedut, dan lelaki itu cukup kaget. Dengan posisi perempuan itu yang menghadap padanya, kini ia lebih leluasa untuk mengamati wajahnya. Lelaki itu mencoba meredam rasa kagetnya dan mulai mengamati wajah perempuan itu.

            “Yah, wajahnya cukup menarik. Tidak terlalu cantik menurutku, tetapi ia menarik. Ada sesuatu semacam itu yang ia miliki. Intinya, wajahnya normal. Itu wajah manusia. Tetapi … siapa dia?” Lelaki itu memandangi payudaranya yang terbuka. Payudaranya tidak terlalu besar, tetapi memiliki kepadatan yang cenderung menggoda. Namun, tidak ada rangsangan yang dirasakan si lelaki. “Ini agak aneh.” Lelaki itu kini mengkhawatirkan dirinya sendiri sambil memijat pelan dahinya.

            Detak jam dinding menguasai ruang, seolah-olah bebunyian kota padam dan tersapu olehnya. Setelah lega karena wajahnya tidak memiliki bentuk yang aneh, ia tiba-tiba memiliki kekhawatiran lain. Untuk memastikan, kini ia menyentuh dahi perempuan itu dengan hati-hati. “Bisa kusentuh. Ia pasti manusia. Bukan hantu,” ujarnya. Meski ia tidak percaya pada hantu, hal ini tetap membuatnya lega. Ia tidak terlalu siap dengan hal-hal yang tidak terduga. Sambil mengeluarkan napas yang semula ditahannya, ia mundur beberapa langkah, dan mulai mengamati perempuan itu dari sudut yang lain.

            Perempuan itu membuka matanya perlahan. Lelaki itu agak terperanjat, tetapi tidak sampai melompat atau berteriak. Ia hanya mendesah sedikit karena terkejut. Mata mereka saling adu, pandangan si perempuan seperti sedang melakukan penyesuaian sensorik, dan lelaki itu merasakan semacam getaran aneh yang tak dapat dijelaskan. Ia tidak dapat berkata-kata. Getaran aneh itu juga lebih seperti rasa iba, tetapi ia tidak mengerti kenapa perasaan semacam itu yang ia rasakan. Lagu berpindah ke Roc-Kin-Sole. Perempuan itu menghampirinya dengan tatapan yang hendak memastikan sesuatu. Lelaki itu tidak bisa bereaksi dan semakin kebingungan, mulutnya terkunci. “Dia kenapa?” batinnya lagi. Perempuan itu terus mendekat, dan lantas memeluknya dengan erat. Napasnya yang hangat menempel di leher si lelaki, dan lelaki itu salah tingkah. Ia tidak bergerak, tetapi isi kepalanya gemuruh. Situasi ini benar-benar tidak dapat ia pahami. Perempuan itu kini terisak.

            “Terima kasih sudah hadir dalam mimpi,” ucap perempuan itu dengan lembut. Getaran suaranya yang memancarkan perpaduan antara kesedihan dan kegembiraan tertangkap oleh benak si lelaki itu. Setelah berpikir beberapa saat kebingungannya mencapai klimas, dan ia pun mendapat suatu kesimpulan sederhana. Lelaki itu mengerti, bahwa ia kini bukan penghuni dari realitas yang ia tahu. Ia sudah bukan milik bumi, ia sudah bukan menjadi bagian dari kehidupan. Ia tak lebih dari karakter dalam bunga tidur seseorang yang mencintainya di kehidupan sebelumnya.

Alat pemutar musik itu berhenti. Come Back Baby menyusut. Lanskap kota mati. Realitas menguap. Mereka berdua lenyap.

Kuningan, 25 Januari 2022

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »