Determinasi, Puisi, (Laku) Sunyi - Ilham Rabbani

KONTRIBUTOR 9/25/2022

Determinasi, Puisi, (Laku) Sunyi

Ilham Rabbani

 


“Di sebuah meja pertemuan atau perbincangan TV, tidak jarang semua pembicara bersuara bersamaan dan dengan suara keras pula. Maka jelaslah mereka tidak berniat membahas dan membicarakan sesuatu. Tepatnya, tidak ingin berdialog. Pada saat semacam itu, sebaris keheningan adalah surga.” (Agus R. Sarjono)

 

Saya bukan pembaca (babak-babak) sejarah yang baik, dan “sunyi”[1] dalam puisi-puisi hari ini, sukar saya rangka-simpulkan sebab-sebabnya secara pasti. Seringkas catatan ini, boleh dikata ialah rupa-rupa kemungkinan yang muncul di kepala saya, tatkala berhadapan dengan puisi-puisi Jemi Ilham dalam Di Mana-mana Kesedihan akan Menemukanmu (2021) dan puisi-puisi Afaf L.K. dalam Tak Ada Aydne di Kota Ini (2022). Kedua kumpulan puisi dari para penyair muda itu, diterbitkan dan disebarluaskan dengan gaya stensilan oleh Pendjajaboekoe.

Terkait keterbatasan wawasan tadi, kecenderungan saya selanjutnya ialah bersepakat dengan paparan-paparan sastrawan atau pengamat sastra semacam H.B. Jassin, Ajip Rosidi, Goenawan Mohamad, Agus R. Sarjono, Bandung Mawardi, dan Martin Suryajaya,[2] yang menyatakan bahwasanya tonggak tema sunyi dalam perpuisian modern–setelah munculnya kesadaran–Indonesia ialah kisaran kelahiran Nyanyi Sunyi (1937) sebagai buah-batin dan buah-pikir dari Amir Hamzah. Sunyi kemudian menjadi motif[3] yang direpetisi hingga hari ini–tentunya, lika-liku perjalanan motif sunyi itu mengalami pasang surut lantaran sejumlah sebab, baik sebab-sebab ekstra-tekstual (sosio-politik, atau budaya dalam definisi yang luas) maupun sebab-sebab tekstual (semisal eksperimentasi bentuk dan bahasan tema), yang keduanya berkait-kelindan satu sama lain.

Bandung Mawardi menyebut, setelah Duka-Mu Abadi (1969) karya Sapardi Djoko Damono–dalam posisinya sebagai Nyanyi Sunyi kedua–terbit, penyair Indonesia yang dalam kiprah kepenyairannya tetap konsisten mengolah sunyi ialah Acep Zamzam Noor.[4] Adapun Joko Pinurbo, melihat teks-teks Emi Suy juga intens menggumuli sunyi.[5] Di luar kedua nama itu, barangkali ada ribuan nama lagi yang memilih berkarib dengan sunyi sebagai konten puisi pribadi–apa yang dilakukan Jemi dalam Di Mana-mana, Kesedihan akan Menemukanmu, dan Afaf L.K. dalam Tak Ada Aydine di Kota Ini, bagi saya termasuk ke dalam serpih dari ribuan nama barusan, yang masih luput jadi pembicaraan.

Saya menandai sejumlah diksi dan metafora, baik yang bermakna harfiah maupun sekonotasi dengan “sunyi”, dalam hampir keseluruhan puisi kedua penulis.[6] Tetapi sebelum menyelami teks, saya ingin memunculkan asumsi-asumsi penyebab di sekitar (kelahiran) puisi-puisi keduanya terlebih dahulu.

Pertama, kendati dalam dinamika sosio-kultural Indonesia terjadi pergeseran dan perubahan episteme akibat pergantian tampuk kekuasaan atau rezim (bahkan sejak Belanda masih mendominasi), lantaran “puisi-puisi telah menjejak di atas kertas”, sunyi sejak tonggak kelahirannya bagi saya tetap “terbaca” dan mempengaruhi Jemi dan Afaf. Sebagai penulis puisi yang baik, sudah mestinya mereka mencerna teks-teks yang lahir serentang sejarah sastra Indonesia “berjingkrak dan tersungkur”. Artinya, ada unsur determinasi di sini.

Kedua, lagi-lagi, asumsi ini mengarah pada determinasi: keterpengaruhan oleh kultur berpuisi orang-orang Yogya. Akan saya sematkan nukilan catatan dari Mustofa W. Hasyim[7]:

 

Saya jadi ingat cerita Mbah Nun yang waktu mudanya lebih dikenal dengan nama Emha Ainun Najib dan Umbu memanggilnya Em. Sering diceritakan bagaimana dalam perguruan silat kehidupan yang diajarkan oleh Umbu Landu Paranggi adalah belajar bagaimana murid bisa sabar dan bertahan terhadap sunyi yang ekstrem.

Berjalan mengelilingi kota Yogya dengan membisu. Mirip-mirip tapa mbisu keliling Beteng Kraton. Tidak boleh ada yang tergoda untuk berbicara, apalagi orasi. Ini bukan demonstrasi. …

Serombongan anak muda berjalan mengelilingi kota tanpa berbicara. Umbu Landu Paranggi diam, para murid perguruan silat kehidupan ini juga diam, mungkin ada yang bingung dan bertanya-tanya untuk apa semua ini dilakukan? Mengapa hatiku dengan diam kalau ingin memahami kehidupan, mengapa tidak dengan diskusi gaduh karena peserta pamer keunggulan pikirannya sendiri sendiri?

 

Laku demikian, konon, dalam rangka mencari “sarang angin”,[8] dan poin penting di sini ialah didikan agar seorang penulis puisi “bisa sabar dan bertahan terhadap sunyi yang ekstrem”. Jemi dan Afaf berproses di Yogya, dan saya mencermati, ada gejala-gejala yang mengarah ke sana dalam diri Aku-lirik yang ditampilkan puisi-puisi mereka.

Aku-lirik itulah yang bakal menarik kita ke asumsi ketiga: bagaimana mereka[9] bertahan di hadapan gempuran apa-apa yang berada di luar diri, tetapi seluruhnya mungkin–dan hampir–mengarah pada nonsens. “Barangkali kita akan selalu seperti ini, sayangku/membicarakan rindu di antara gedung-gedung tua/juga cuaca yang kerap membuat sesak isi kepala//lalu akankah kita masih percaya pada sepi/jika tak ada perjumpaan yang dapat kita/catat dalam baris-baris puisi?//…//karena membayangkanmu adalah/pekerjaan paling mulia/di tengah dunia yang kacau ini.” kata (Aku-lirik) Afaf dalam “Epigram”, juga yang lainnya–hampir senada–dalam “Tak Ada Aydine di Kota Ini”:

 

tak ada Aydne di kota ini

aku kembali memeluk diri

di antara ruang kosong dan

hari-hari yang mulai darurat

di kepala

 

tempat ini kembali asing dan sunyi

ingatan tentangmu hanya

remang lampu kota

sementara perpisahan kita

adalah wajah musim

dan nasib yang getir

 

di kota ini tak ada

yang perlu dibicarakan lagi

kenyataan waktu menghimpit

harapan di antara

gedung-gedung menjulang

adalah ketaksanggupanku mengucap

selamat tinggal pada benda-benda

yang pernah kita anggap sebagai

simbol kebahagiaan

 

tak ada Aydne di kota ini

hidup penuh kesangsian

cinta tinggallah kenang

sementara kota ini tercipta dari

rindu, kenangan, dan kesedihan yang berulang

 

Suara-suara yang bermiripan juga masih terang saya rasakan dalam dua puisi lainnya: “Tahun Baru” dan “Aku yang Kalah”.

Adapun (Aku-lirik) Jemi dalam “Rekah Sebuah Kota” berkata: “dalam rimba raya/udara sepi dan tiba-tiba merasa asing/…//…/kita menepi dari sejarah yang riuh/membabat sunyi, …//tanah ini ditandai/dengan pilu dan nyeri/rindu-dendam terpendam/sejarah yang rumpang/merekahkan sebuah kota/tumbuh dari rel kereta api,/kebun tebu, dan pabrik gula.” Sebagaimana (Aku-lirik) Afaf, terbaca pula kemarutan musim dalam larik-larik: “... sesekali sunyi menyergap/membuat dada terasa berat/tetapi kita tak tahu itu apa” (“Kutukan Bagi yang Hidup”); “... kau sadari,/hidup adalah kekosongan,/kecuali di dalam puisi” (“Museum Kehilangan”); dan “... biji-bijian gagal berkecambah/musim begitu sulit dan/kemarau tak mampu dihalau/rindu menjelma api/dan aku ilalang kering/yang habis dilalapnya” (“Membaca Kota Menerjemahkan Musim”).

Gelagat-gelagat dalam sejumlah larik yang saya kutipkan, seakan makin mengentarakan upaya Aku-lirik untuk bertahan di hadapan sunyi ekstrem yang datang dari luar diri. Konteks hari ini, barangkali bisa kita jadikan rujukan bagi pembicaraan, “Apakah sebenarnya yang berada di luar diri itu?”

“Mata” penyair dan Aku-lirik di sini, mungkin adalah “mata” yang sama–“mata” yang setidaknya lebih mampu menukik ke kedalaman. Kemampuan untuk menukik ke arah sunyi, yang sebenarnya menjadi fondasi dari keriuhan, semestinya dimiliki oleh tiap-tiap penyair, sebab ketika dirinya memutuskan menulis puisi, ia menjadi (ambil) bagian dalam kerja ke-sastrawan-an.[10] Penyair adalah mereka yang mesti cermat dalam urusan tak hanya membaca teks, tetapi juga konteks. “Membaca” di sini, bermakna bukan sekadar dilarutkan oleh objek, melainkan ada dialektika antara objek tersebut (bacaan) dengan kesadaran (dari subjek).

Sebagaimana mata Aku-lirik dalam puisi-puisi yang saya kutipkan, yang mampu melihat sunyi dalam situasi, barangkali yang tercerap sebagai apa-apa di luar diri adalah konteks kekinian kita yang berputar dan berada dalam penjara hiper-realitas. Aku-lirik, secara subtil, meminta kita merenungkan dulu, bahwa sejatinya ada yang lebih esensial dari segala yang merupa jadi citra tersebut. Kebahagiaan (seakan-akan)–karena dipantik rentetan iklan di televisi dan media sosial misalnya–ditemukan oleh orang-orang di luar Aku-lirik (liyan) dari entitas-entitas yang terpisah dari diri, yang berada dalam “penjara” penanda-penanda. Orang-orang berkompetisi, saling sikut, dan bersaing dalam perburuan yang demikian, sehingga imbasnya ialah ada, dan banyak, yang tersisih. Itulah realitas yang–dalam bahasa Jemi dan Afaf– “membuat dada terasa berat” dan “membuat sesak isi kepala”. “Sesak” sejatinya identik dengan dada, namun dibenturkan dengan kepala, sehingga seakan-akan sang liyan dalam tatanan telah kesulitan membedakan tuntutan hasrat dan rasionalitas dalam urusan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan.

Kondisi ini hampir selaras dengan kutipan dari Agus R. Sarjono yang saya sematkan di muka tulisan: dalam keriuhan semacam itu, tak ada dialog, dan yang dibutuhkan adalah sebaris keheningan. Katakanlah sebaris keheningan itu sebagai titik “jeda”. Pengambilan “jeda” dalam sunyi, untuk menolak–atau setidak-tidaknya berjarak–dengan gempita suasana sebagaimana diambil Aku-lirik Jemi dan Aku-lirik Afaf, adalah bentuk permenungan, bahwa sebenarnya kebahagiaan adalah perkara penerimaan–setamsil kehadiran “jarak” di tengah kejauhan dalam ungkapan Joko Pinurbo yang masyhur. Kebahagiaan berbeda dengan benda-benda, tak terbahasakan, ia immateril.

Pada jeda dan sunyi itulah, para Aku-lirik terlebih dahulu mendengarkan panggilan lebih intim. Harapannya, akan ada jalan untuk menjauh dari mainstream-itas dan kebanalan. Namun celaka, ketika mesti memulai perjalanan lagi, mereka tak menemukan jalan lainnya: memang ada simpang, tetapi satu mengarah ke keriuhan, dan satunya lagi hanya memutar ke arah kembali–dan mungkin, kembali bukanlah pilihan yang baik. Lahirlah kemudian suara-suara sumbang yang makin mengentalkan sunyi, dan tersebab itulah, kebanyakan suara-suara yang muncul dalam larik-bait puisi Jemi-Afaf adalah kekalahan–yang hampir–telak dari (gerak) dunia mereka. Kekalahan, adalah kerabat karib dari sunyi.

Dalam puisi-puisi yang dibentangkan, baik oleh Jemi maupun Afaf, terlihat bahwa sunyi makin jadi. Sunyi itu “dinyaringkan” oleh kenyataan bahwa kita berada di simpang jalan: antara masuk dan terlibat dalam ingar, atau mengelak dan terasingkan.



[1] setali dengan sepi, sendiri, ratapan, kekalahan, keterasingan, dan hal-hal yang segugus dengan itu.

[2] masing-masing dalam catatan pengantar untuk buku Amir Hamzah: Raja Penyair Pujangga Baru (H.B. Jassin), Ikhtisar Sejarah Sastera Indonesia (Ajip Rosidi), beberapa esai dalam Di Sekitar Sajak (Goenawan Mohamad), catatan editorial untuk Jurnal Sajak Edisi ke-10: Puisi dan Keheningan (Agus R. Sarjono), esai “Acep Zamzam Noor: Gairah Sunyi Mencari Arti Abadi” di laman Sastra-Indonesia.com (Bandung Mawardi), dan video berjudul “Motif Kesunyian dalam Puisi Indonesia” di saluran Youtube pribadi Martin Suryajaya.

[3] sesuatu yang berulang, simtomatik, atau menggejala dalam teks-teks sastra–khususnya puisi–pengarang Indonesia.

[4] dalam esai “Acep Zamzam Noor: Gairah Sunyi Mencari Arti Abadi” di laman Sastra-Indonesia.com.

[5] dalam esai “Sunyi Adalah Kunci” di laman Sastramedia.com.

[6] silakan akses berkas-berkas hasil penandaan (underline) saya di Google Drive: https://drive.google.com/drive/folders/13cOxjDk0jX6c7TDoY8JWN6LNjTSTG7wo

[7] baca lebih lengkap dalam esai “Belajar Kepada Sunyi” dan “Belajar di Jalan Sunyi Bersama Raja Angin” di laman Caknun.com.

[8] Mustofa W. Hasyim mencernanya sebagai sunyi yang tak terpahami, tetapi sangat bisa dinikmati, yang mengarahkan diri kepada hal-hal yang transenden.

[9] saya menyebut “mereka” karena Aku-lirik Jemi dan Aku-Lirik Afaf adalah dua subjek berbeda, atau bahkan dalam tiap-tiap puisi keduanya, Aku-lirik adalah subjek yang satu sama lain cukup berlainan, yang hanya diikat oleh keberadaan (bersama) dalam satu stensilan belaka. Saya juga tidak memungkiri, generalisasi sebagaimana saya lakukan ini, amat punya potensi membentuk pemahaman yang distorsif. Tetapi apa boleh buat, amat sukar dibayangkan untuk membahas sejumlah puisi dalam beberapa halaman kertas saja.

[10] terma “sastrawan” pada mulanya berpadanan dengan terma “cendekiawan”, “intelektual”, “jauhari”, dan “sarjana”, yang artinya mesti ada kejembaran wawasan pada subjek terkait. Lihat Endarmoko, Eko. 2009. TESAMOKO: Tesaurus Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia, hlm. 619.

 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »