Limbuk - Yuditeha

KONTRIBUTOR 9/25/2022

Limbuk

Yuditeha

 


Bulan April hampir habis, seharusnya musim penghujan sudah berhenti, dan masanya menuju kemarau, tapi senyatanya hujan terkadang masih turun. Bahkan dua hari ini, setiap menjelang sore hujan sangat deras. Karenanya udara dingin masih tersisa di sepanjang pagi ini, terlebih ketika angin sedang berembus kencang menerpa pepohonan di sekitar makam. Awan di langit saat ini pun sudah kembali gelap, tampaknya sebentar lagi hujan akan jatuh. Seperti biasa, dari pagi hingga menjelang malam nanti aku harus menjadi tukang parkir di Taman Pekuburan Umum Karet Bivak. Telah lama aku kerja di sini, karena itu sedikit banyak aku hafal keadaan. Dan entah mengapa sejak dua hari yang lalu aku merasa akan ada yang spesial di pemakaman ini..

Sebelum sampai di tempat ini, aku tadi mampir di warung kopi. Di sana aku mendengar, hari ini ada jenazah yang akan dikubur di tempat pemakaman ini. Seperti yang sudah-sudah, aku tidak pernah tahu jati diri orang yang mati, pun kali ini. Tapi karena perbincangan orang-orang di warung kopi itu, aku menjadi tahu siapa orang yang akan dimakamkan itu. Kabarnya dia penyair. Dari percakapan mereka juga, aku tahu apa itu penyair, yaitu orang yang kerjanya membuat puisi.

Selama perjalanan dari warung ke tempat ini, setiap kali aku berpapasan dengan orang, selalu menampakkan wajah muram. Mungkinkah efek meninggalnya sang penyair? Ketika sampai di tempat ini semakin banyak orang yang berwajah sedih. Termasuk orang-orang yang baru datang, bergerombol memasuki makam dengan wajah murung. Sesekali melakukan perbincangan kecil, seperti sedang berbisik-bisik. Hal itu serasa semakin memilukan tempat ini.

Namun sebenarnya yang ingin kubicarakan bukan hal itu, tapi tentang perempuan yang sejak pagi sudah berada di parkiran ini, bahkan dia sudah di sini sebelum aku datang. Jika orang-orang terlihat susah, tidak demikian dengan dia. Oleh karena itu aku penasaran, dan ingin mengajaknya bercakap.

“Saya Limbuk, Mas.” Dia menjawab cepat ketika aku tanya namanya. Karena sikapnya ramah hingga membuatku nyaman. Dengan sukacita gegas aku menyebutkan namaku sebagai imbangan atas sikapnya.

Sebelum aku bertanya, perempuan itu telah bercerita bahwa dia berasal dari desa, bahkan dia sempat menyebut nama desa itu, tapi karena aku masih terkesan dengan sikapnya, hingga tidak ingat nama desanya.

Pada awalnya aku mengira, Limbuk tidak ada hubungannya dengan orang yang mati itu, tapi perkiraanku salah. Dia datang jauh-jauh hanya untuk melepas kepergian sang penyair. Bahkan jika merujuk atas apa yang dia ceritakan, kedekatannya dengan sang penyair lebih besar dari siapa pun, termasuk orang-orang yang datang di pemakaman itu. Pengakuan Limbuk, sang penyair memang dekat dengan banyak perempuan, tapi dirinyalah kekasih yang sebenarnya kekasih bagi sang penyair.

Terkait sang penyair yang punya hubungan dengan banyak perempuan juga menjadi gunjingan di warung kopi tadi. Dari sekian nama perempuan yang mereka sebut, sekilas nama-nama yang bagus. Sangat berbeda dengan nama perempuan ini. Limbuk, menurutku nama yang jauh dari kesan bagus. Bahkan setahuku, Limbuk adalah nama anak dari mbok emban di cerita wayang, yang berwajah buruk dan bertubuh gendut.

Sementara Limbuk ini, meski wajahnya bukan istimewa, namun setidaknya tidak buruk seperti dalam gambaran Limbuk di pewayangan. Demikian juga dengan tubuhnya, memang tidak langsing, tapi juga tidak gembrot, mungkin lebih tepatnya disebut semok. Meski begitu, entah kenapa ketika aku mendengar Limbuk mengatakan bahwa dari sekian perempuan, dirinyalah yang sebenarnya paling dekat dengan sang penyair, tidak membuatku menyangsikan ucapannya.

Ketika aku memikirkannya, menurutku mungkin hal itu tidak terlepas dari apa yang sudah Limbuk katakan kepadaku perihal alasannya mengapa dia orang terdekat sang penyair. Sebelumnya Limbuk menyatakan bahwa dia benar-benar mencintai penyair itu, tetapi dia menyadari bahwa lelaki itu tidak bisa dia miliki sepenuhnya. Limbuk tahu bahwa hidup lelaki itu hanya untuk sajak-sajak yang dihasilkan. Kata Limbuk, tidak ada yang dicintai lelaki itu dengan sepenuh jiwa selain puisi-puisinya. Meski begitu, kata Limbuk sesungguhnya siapa pun bisa jadi inspirasi bagi sang penyair.

“Berarti kau juga pernah jadi inspirasinya?” tanyaku.

“Sering,” sahutnya cepat dengan logat manja.

“Apakah namamu pernah diabadikan dalam puisinya?”

Limbuk tersenyum sipu, seperti malu-malu. Tak lama kemudian dia mengeluarkan beberapa kertas dari dalam tasnya. Dia menunjukkan beberapa puisi, sembari mengatakan bahwa sang penyair menyebut nama Ida di dalam puisinya. Spontan aku heran, karena yang kupikirkan dia akan menunjukkan namanya yang tertera di puisi ciptaan sang penyair. Namun dia justru menyebut Ida, menurut gunjingan di warung kopi adalah salah satu perempuan yang disukai sang penyair. “Kau kenal dia?” tanyaku.

Limbuk menggeleng. “Dan saya tidak ingin tahu,” katanya kemudian. “Tapi kabarnya dia perempuan hebat yang punya pemikiran kritis,” tambahnya.

Dia kemudian menunjukkan dua kertas lain, sambil mengatakan bahwa kedua puisi itu diperuntukkan kepada perempuan bernama Sri. Sama dengan sebelumnya, aku langsung bertanya, apakah dia mengenal Sri itu. Kembali dia menggeleng.

“Tapi aku pernah dengar, katanya dia gadis ningrat yang tidak beda-bedakan orang. Mau berteman dengan siapa saja, bahkan sudi main teater bersama seniman jalanan,” ujar Limbuk.

Kuperhatikan, ketika Limbuk menceritakan semua itu dengan wajah biasa, artinya tanpa sedikit pun ada kesan tidak suka, atau sesuatu yang bisa menunjukkan dia cemburu. Bahkan sesekali aku melihat ujung bibirnya sedikit naik, dan terlihat tulus.

Limbuk meletakkan kertas yang dikeluarkan tadi, lalu mengambil kertas lain, juga dari tasnya. “Puisi berjudul Sajak Putih ini untuk Mirat,” kata Limbuk.

“Sajak Putih, apakah itu sama dengan sajak suci?” tanyaku spontan. Limbuk menatapku dengan senyum menawan. “Mungkin begitu,” jawabnya singkat. “Saya dengar, dia perempuan terdidik yang lincah. Kabarnya cintanya kepada perempuan itu sedahsyat puisinya,” tambah Limbuk sembari kembali tersenyum.

Sebenarnya aku ingin bertanya kepada Limbuk, dan apa yang aku tanyakan ini juga atas apa yang aku peroleh dari percakapan di warung kopi. Salah satu dari mereka bilang bahwa dari sekian puisi yang dibuat, justru tidak ada puisi yang ditujukan kepada istrinya. Namun Limbuk seperti tahu apa yang sedang aku pikirkan hingga belum sempat pertanyaan itu aku sampaikan, dia telah lebih dulu menunjukkan sebuah kertas yang lain lagi.

“Puisi ini untuk H, saya pikir puisi ini untuk istrinya,” ujar Limbuk.

“Kau tahu nama istrinya?”

“Hapsah,” jawab Limbuk “Menurutku, dia perempuan yang berani mengambil risiko. Perempuan hebat, bahkan dia memberinya anak,” sambungnya.

Sebenarnya heranku semakin besar, perempuan ini mengatakan dekat dengan sang penyair tapi mengapa justru dengan ringannya membicarakan perempuan-perempuan lain.

Aku berada kembali di kamar, bersama buku seperti sebelum bersamamu dulu. Saya pikir kata-kata puisi ini menunjukkan dia sedang rindu pada istrinya,” terang Limbuk.

Mengapa dia tidak berpikir bahwa kata-kata itu untuknya? Setelah itu, Limbuk dengan sayu memandangku lekat. Aku menduga, mungkin karena baru saja aku memikirkan sesuatu tentang dirinya. Aku salah tingkah, lalu mengalihkan penglihatanku ke pemakaman. Di sana sudah banyak orang berkumpul. Sepertinya jenazah sang penyair segera dikebumikan. Untuk mengalihkan perhatiannya, aku bertanya. “Kau tidak ke sana?”

Limbuk menggeleng. “Saya tidak ingin mengotori cinta,” tambahnya.

Meski begitu, penasaranku belum putus, mengapa namanya tidak pernah disebut dalam puisi sang penyair, terlebih karena adanya pernyataan dia yang dengan percaya diri mengaku bahwa dari sekian perempuan, dialah yang paling dekat dengan sang penyair. Karena itu, sekali lagi aku memberanikan diri bertanya. “Lantas mengapa kau tidak pernah dibuatkan puisi olehnya?”

“Kamu salah. Sebagian besar puisinya sebenarnya dipersembahkan untukku. Hanya saja namaku memang tidak pernah ada. Dari awal aku sudah bilang padanya, namaku tak usah disebut,” jawab Limbuk sembari tersenyum manis.***

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »