Simian Line - Hubbi S. Hilmi

KONTRIBUTOR 9/11/2022

Simian Line

Hubbi S. Hilmi

 


“Lalu bagaimana ceritanya?” Wajahnya terlihat tak cukup sabar menungguiku yang masih memilah kata-kata.

“Apa kau pernah berencana membunuh seseorang pada usiamu yang sangat muda?” Tanya balikku padanya.

“Maksudmu?”

“Maksudku..., benar-benar membunuh. Menghabisi nyawa seseorang dengan rencana yang sangat matang.”

“Haaa...?!”

“Aku pernah..., saat itu usiaku masih sangat belia. Menggunakan bambu runcing yang kutajamkan sendiri.” Lanjutku padanya yang masih duduk bengong di hadapanku. Rautnya masih tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari seorang perempuan yang baru saja dilamarnya. Ronanya berubah drastis menjadi sangat ketat nun kecut.

“Apa kau masih ingat sewaktu sekolah dasar dahulu?”

Wajahnya yang kecut kini gusar, matanya mencari tiap inci ingatan, menggali tiap kejadian yang sudah tertimbun puluhan tahun dalam ingatannya.

“Biar kuingatkan,” aku merampas kebimbangannya, menuntunnya ke satu kejadian yang hingga kini dan entah sampai kapanpun akan selalu kuingat.

“Bukankah kau dahulu yang selalu mengejekku?” Todongku padanya dengan senyum tipis termanis yang kupunya. “Masih ingat kan?”

“Aku perempuan kecil yang sedang basah kuyup kemudian menanggalkan celana dan bajunya itu. Saat itu kau tengok si perempuan kecil telanjang itu dan kau ejek selama beberapa hari di sekolah.” Aku meraih air dingin dalam gelas untuk yang kedua kalinya. Embun pada gelas telah hilang, berpindah ke tanganku dan kulanjutkan ceritaku padanya yang masih menanti tiap kata yang akan keluar dari mulutku, “saat itu aku telah bosan mendengar kau mengejekku. Sepulang sekolah, aku meminta pada ayahku untuk dicarikan sebatang bambu kecil. Kurajut ujungnya menjadi runcing ditemani ibuku yang juga sedang menyuapiku makanan.” Aku menghela napas dan melanjutkan, “sampai sini, kurasa kau telah temukan ingatan tentang itu.” Aku berharap dia telah menemukan ingatan-ingatan kecil yang sengaja dilupakannya.  

Dia datang padaku, memintaku menjadi istrinya setelah puluhan tahun kami tak bersemuka. Ketika itu ayahku menetapkan kami harus menjadi sepasang suami istri. Bukan aku tak mampu menggaet mata para lelaki di luar sana, namun sebagai anak yang sangat takut durhaka kepada orang tua dan tentunya aku sangat tak sudi dikutuk sebagai batu semisal Malin Kundang, kuterima saja tawaran ayahku itu suatu sore. Tepatnya paksaannya. Meninggalkan seseorang yang juga pernah berkomitmen denganku. Sebelumnya, aku sempat menjalin hubungan dengan seorang pria yang kukenal semasa di bangku kuliah. Dia tampan dan rupawan, namun karena perbedaan persepsi tentang ketuhanan, kupaksa diriku meninggalkannya. Bukannya ia tak mau berkorban untukku, ia pernah berucap siap masuk dan mengikuti tiap ibadahku, namun aku menolaknya, sebab ia tak mampu menjawab pertanyaanku padanya. Saat itu kukatakan padanya, Tuhan kau saja kau tinggalkan, bagaimana denganku kelak? Jika tak cantik lagi? Jika kau sudah merasa bosan denganku? Ia diam saja, bengong dengan wajah ketat nun kecut sebagaimana pria yang kini hendak melamarku.

Laki-laki yang kini hendak menjadi suamiku ini datang dari keluarga yang cukup dekat dengan ayahku. Bukan hanya tampan dan rupawan, ia juga dari kalangan yang berada. Kini, wajahnya masih ketat nun kecut saat aku mulai mengingatkan beberapa hal padanya, yang mungkin sengaja ia lupa.

“Kau masih ingat sewaktu sekolah dasar dahulu?”

Wajahnya yang kecut kini gusar, matanya mencari tiap inci ingatan, menggali tiap kejadian yang sudah tertimbun puluhan tahun dalam ingatannya.

“Biar kuingatkan,” aku merampas kebimbangannya menuntunnya ke satu kejadian yang hingga kini dan entah sampai kapanpun akan selalu kuingat.

“Bukankah kau dahulu yang selalu mengejekku?” Todongku padanya dengan senyum tipis termanis yang kupunya. “Masih ingat kan?”

“Bekas luka di lehermu itu. Kau masih ingat?” Sambungku sekali lagi merampas kebimbangannya. Tangannya yang sebelumnya menyodorkan kotak kecil terbuka berwarna putih berisi cincin yang cukup indah itu berpindah meraba lehernya yang masih meninggalkan bekas luka sobek. Kotak kecil berwarna putih itu tertutup otomatis dan melenyapkan cincin yang cukup indah dan mahal itu dari penglihatanku.

“Iya aku ingat sekarang.”

“Jadi, masih yakin kau ingin menikah denganku?” Hentakku padanya.

***

“Ruang BK penuh dengan para guru yang sangat heran dan ada juga yang sangat marah padaku kala itu. Untuk pertama kalinya, seorang ketua OSIS, seorang murid yang sangat berprestasi, meraih juara dalam sejumlah lomba ini itu dan di sana di sini, harus meringkuk di ruang BK, siap diskor dan mungkin masuk penjara. Aku saat itu memukul kepala Arhan yang juga pacarku dengan kursi kayu hingga ia pingsan dengan wajah berlumur darah. Ia terlalu posesif padaku, cemburu ke beberapa kawanku. Ia datang di hari yang sial itu, menarikku dari ruangan di hadapan seluruh anggota OSIS, saat itu kami sedang melakukan rapat paripurna untuk menentukan jadwal perlombaan antarkelas di akhir semester. Aku tak terima dengan perlakuannya, berusaha melepaskan diri dari cengkaramannya lalu kuraih satu kursi yang sengaja diperuntukkan mengganjal pintu kelas agar tetap terbuka, mengangkat dan mengayunkannya keras ke kepala Arhan. Arhan tak siap, ia pingsan berlumur darah dan dilarikan ke rumah sakit terdekat. Orang tuaku dan orang tua Arhan datang dan berdiskusi di ruang guru, mencari solusi untuk menyelamatkan masa depanku. Orang tua Arhan yang pemaaf pada akhirnya memaafkan kelakuanku dan meminta kedua orang tuaku membayar seluruh biaya perawatan Arhan di rumah sakit. Sejak saat itu, aku tak lagi menjadi ketua OSIS, pun Arhan tak pernah siap bertemu denganku hingga hari ini. Sementara pihak sekolah memintaku tak masuk selama satu minggu penuh dan memohon pada orang tuaku untuk selalu intens mengajakku ke psikiater terdekat.”

“Informasi dari hasil tes psikisku, hampir sembilan puluh persen aku psikopat. Psikiater terdekat yang pernah kutemui juga mengatakan bahwa aku tergolong manusia istimewa, hanya sekitar empat belas persen jumlah spesiesku di dunia dan di asia, jumlah golongan kami hanya sepuluh persen. Katanya aku termasuk dalam sapiens yang memiliki simian line. Ia menjelaskan itu setelah melihat garis tanganku yang tak putus-putus sebagaimana garis tangannya. Kedua garis pada telapak tanganku tebal, jelas, dan panjang, berbeda dengan garis tangan si psikiater itu, yang putus-putus dan tak begitu terang. Ia juga menjelaskan padaku, bahwa apa yang kualami selama ini juga terpengaruh karena garis tanganku yang tak putus-putus itu. Emosiku sangat labil namun tak meledak-ledak tuturnya. Ketika aku merasa terancam dan tak nyaman karena perlakuan orang padaku, marahku tak meledak namun aku akan berusaha membalas hingga ingin menghilangkan orang yang membuatku seperti itu. Hal itu satu-satunya yang membuatku merasa puas. Setelah itu, saat aku masih duduk di bangku sekolah menengah atas itulah aku mengetahui dengan pasti kenapa aku begitu sangat sadis dan dingin dalam dua kejadian besar di hidupku yang mengancam nyawa orang lain.”

“Itu yang dapat kuceritakan padamu tentang masa laluku,” aku meraih gelas yang telah berembun, meneguk air dingin di dalamnya. Melewati sebuah kotak kecil berwarna putih yang telah terbuka berisi cincin yang cukup indah dan disodorkannya padaku sebagai tanda keinginannya menjadi suamiku. Wajahnya cerah penuh dengan harap. Ia sepertinya tak peduli dengan ceritaku. Baginya itu hanyalah kenakalan anak-anak sekolah yang cukup wajar dilakukan seusianya. Bahkan ia menganggapku sedang berbual, menguji keimanan cintanya.  

“Lalu apalagi?”

Aku menarik napas cukup dalam. Mengusap air yang menodai lipstikku. “Aku masih ada dendam dengan seseorang.”

“Buat apa memelihara dendam?” potongnya cepat mencoba menjadi bijak.

“Aku juga tak ingin.”

“Lalu?”

“Karena garis tanganku simian line.” Tegasku padanya. Matanya lekat padaku. Memintaku cepat menceritakannya.

Gerimis malam itu telah lelah jatuh satu-satu. Telah lelah menyaksikan adegan di warung pinggir kota itu. Adegan seorang lelaki meminta seorang perempuan menjadi ibu bagi anak-anaknya. Adegan tangan seorang pria di atas meja yang masih menyodorkan kotak putih berisi sebuah cincin yang cukup indah dan mahal.

“Lalu bagaimana ceritanya?” Wajahnya terlihat tak cukup sabar menungguiku yang masih memilah kata-kata.

“Apa kau pernah berencana membunuh seseorang pada usiamu yang sangat muda?” Tanya balikku padanya.

“Maksudmu?”

“Maksudku..., benar-benar membunuh. Menghabisi nyawa seseorang dengan rencana yang sangat matang.”

“Haaa...?!”

“Aku pernah..., saat itu usiaku masih sangat belia. Menggunakan bambu runcing yang kutajamkan sendiri.” Lanjutku padanya yang masih duduk bengong di hadapanku. Rautnya masih tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari seorang perempuan yang baru saja dilamarnya. Ronanya berubah drastis menjadi sangat ketat nun kecut.

“Apa kau masih ingat sewaktu sekolah dasar dahulu?”

Wajahnya yang kecut kini gusar, matanya mencari tiap inci ingatan, menggali tiap kejadian yang telah tertimbun puluhan tahun dalam ingatannya.

“Biar kuingatkan,” aku merampas kebimbangannya, menuntunnya ke satu kejadian yang hingga kini dan entah sampai kapanpun akan selalu kuingat.

“Bukankah kau dahulu yang selalu mengejekku?” Todongku padanya dengan senyum tipis termanis yang kupunya. “Masih ingat kan?”

“Aku perempuan kecil yang sedang basah kuyup kemudian menanggalkan celana dan bajunya itu. Saat itu kau tengok si perempuan kecil telanjang itu dan kau ejek selama beberapa hari di sekolah.” Aku meraih air dingin dalam gelas untuk yang kedua kalinya. Embun pada gelas telah hilang, berpindah ke tanganku dan kulanjutkan ceritaku padanya yang masih menanti tiap kata yang akan keluar dari mulutku, “saat itu aku telah bosan mendengar kau mengejekku. Sepulang sekolah, aku meminta pada ayahku untuk dicarikan sebatang bambu kecil. Kurajut ujungnya menjadi runcing ditemani ibuku yang juga sedang menyuapiku makanan.” Aku menghela napas dan melanjutkan, “sampai sini, kurasa kau telah temukan ingatan tentang itu.” Aku berharap dia telah menemukan ingatan-ingatan kecil yang sengaja dilupakannya. 

“Bekas luka di lehermu itu. Kau masih ingat?” Sambungku sekali lagi merampas kebimbangannya. Tangannya yang sebelumnya menyodorkan kotak kecil terbuka berwarna putih berisi cincin yang cukup indah itu berpindah meraba lehernya yang masih meninggalkan bekas luka sobek. Kotak kecil berwarana putih itu tertutup otomatis dan melenyapkan cincin yang cukup indah dan mahal itu dari penglihatanku.

“Iya aku ingat sekarang.”

“Jadi, masih yakin kau ingin menikah denganku?” Hentakku padanya.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »