Puisi-Puisi dan Semangat Revolusi - Tjahjono Widarmanto

@kontributor 9/03/2023

Puisi-Puisi dan Semangat Revolusi

TjahjonoWidarmanto

 


Sastra tak hanya memiliki visi keindahan atau estetika belaka. Sastra juga harus berguna, seperti Horactio yang mengatakan deude et utile, indah dan berguna. Hal itu menunjukkan bahwa sastra memiliki dua fungsi yaitu fungsi artistik dan fungsi kemanfaatan. Kemanfaatan sastra bisa sebagai sarana pendidikan (edukatif), bisa sebagai wahana transformasi nilai-nilai dan budi pekerti, bisa sebagai sarana penanaman rasa religiusitas, memperhalus budi pekerti, menanamkan moralitas, menanamkan sikap luhur. Pendek kata, sastra adalah tontonan sekaligus tuntunan.

Kesusastraan Indonesia sangat dipengaruhi oleh perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Peristiwa-peritiwa kesejarahan, riwayat-riwayat yang muncul karena gelora perlawanan revolusi,  fakta-fakta kepahlawanan, dan bukti-bukti patriotisme memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan sastra Indonesia.

Keterkaitan revolusi sebagai unsur kesejarahan bangsa dengan sastra Indonesia sangat dimungkinkan karena dua hal. Pertama, setiap genre sastra selalu hadir sebagai sebuah sistem lambang budaya yang merupakan hasil kegiatan intelektual sastrawannya dalam merespon berbagai fenomena yang hadir di sekelilingnya, termasuk fenomena kesejarahan.

 Kedua,  teks sastra adalah sebuah fakta kemanusiaan, fakta kejiwaan, dan fakta kesadaran kolektif sosiokultural. Raoucel dan Warren  menyebutnya sebagai proyeksi kegelisahan manusia dengan segala macam persoalan kultural, sosial, sekaligus kejiwaan. Sastra Indonesia dan sastrawannya melihat wacana kebangsaan, historis, peristiwa kepahlawanan, heroisme, dan patriotisme sebagai fakta kemanusiaan, fakta kejiwaan, dan fakta kesadaran kolektif sosiokultural yang layak dan perlu diungkap dalam teks-teks sastra.

Puisi-Puisi Bernafas Kepahlawanan dan Revolusi

            Dalam paragfaf-paragraf di atas telah dibentangkan bagaimana keterkaitan sastra dengan peristiwa kepahlawanan, perjuangan revolusi, patriotisme, dan heroisme. Sejarah sastra kita pun sudah mencatat banyak sekali teks-teks sastra yang merefleksikan dan mengangkat tema kepahlawanan dan revolusi, baik teks-teks sastra yang berbentuk prosa maupun  puisi. Bahkan kecenderungan tema patriotisme oleh Ajip Rosidi, pernah dijadikan ciri penanda salah satu angkatan dalam sejarah kesusastraan Indonesia, yaitu angkatan 45.

            Tema kepahlawanan dan revolusi yang muncul dalam puisi-puisi Indonesia memiliki dua tipe kecenderungan. Yang pertama, mengacu pada sosok pahlawan tertentu atau didedikasikan khusus untuk seseorang pahlawan tertentu. Yang kedua, puisi tersebut tidak mengacu pada seseorang pahlawan tertentu secara riil namun rekaan atau nilai-nilai kepahlawanannya yang diungkapkan.

            Untuk yang tipe pertama, mari kita perhatikan puisi karya Sanusi Pane di bawah ini:

TERATAI

            Kepada Ki Hadjar Dewantara

 

Dalam kebun di tanah airku

            Tumbuh sekuntm bunga teratai:

            Tersembunyi kembang indah permai,

Tidak terlihat orang yang lalu.

 

Akar tumbuhnya di hati dunia

            Daun berseri Laksmi mengarang:

            Biarpun ia diabaikan orang

Seroja kembang gemilang mulia.

 

Teruslah, o Teratai bahagia

Berseri di kebun Indonesia

            Biar sedikit penjaga taman.

 

Biarpun engkau tidak dilihat

Biarpun engkau tidak diminat

            Engkaupun turut menjaga zaman

            Puisi di atas dengan jelas, terang-terangan ditujukkan untuk Ki Hadjar Dewantara. Puisi di atas termasuk jenis puisi ode, yaitu puisi yang dipersembahkan atau diperuntukkan kepada seseorang. Dengan sederhana, terang, dan mudah dipahami, Sanusi pane memyimbolkan Ki Hadjar sebagai sebuah teratai. Teratai dalam khazanaf filsafat Timur merupaka bunga yang sederhana namun indah dan bisa hidup dimana saja. Perjuangan pendidikan Ki Hadjar diibaratkan sebagai teratai yang akarnya kuat dan bisa tumbuh di mana saja.

            Chairil Anwar pernah menulis puisi ode seperti di atas. Judul puisinya Diponegoro,  jelas-jelas menunjukkan bahwa puisi ini mengacu pada sosok Pangeran Diponegoro yang dalam sejarah pernah melakukan perlawanan bersenjata terhadap kolonialisme Belanda. Namun, dalam puisi di atas, Chairil lebih mengedepankan nilai-nilai keberanian dan patriotisme Diponegoro. Mari kita simak puisi tersebut:

Diponegoro


Di masa pembangunan ini

Tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti

Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali

Pedang di kanan, keris di kiri

Berselempang semangat yang tak bisa mati

MAJU

Ini barisan tak bergenderang –berpalu

Kepercayaan tanda menyerbu

Sekali berarti

Sudah itu mati

MAJU

Bagimu negeri

Menyediakan api

Punah di atas menghamba

Binasa di atas ditindas

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai

Jika hidup harus merasaierbu,

Serang,

Terjang

 

            Dalam puisi yang lain Chairil Anwar menuliskan semangat revvolusi dengan menggetarkan berjudul, Persetujuan Dengan Bung Karno:

 

Ayo Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji

Aku sudah cukup lama dengar bicaramu,

Dipanggang atas apimu, digarami atas lautmu.

 

Dari mulai 17 Agustus 1945

Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu

Aku sekarang api aku sekarang laut.

 

Bung Karno! Kau dan aku satu zat, satu urat

Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar

Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak dan berlabuh.

 

1948

 

            Puisi Chairil Anwar di atas bertiti mangsa 1948, lima tahun setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta. Di tahun-tahun revolusi itu kita tahu, merupakan tahun-tahun yang penuh gejolak revolusi dan patriotisme yang membucah-buncah.

            Berbeda dengan Chairil, penyair lain, yaitu Toto Sudarto Bachtiar, menulis puisi kepahlawanan untuk mengenang para pahlawan tak dikenal yang gugur demi bangsanya dengan cara yang mengharukan dan sangat menyentuh dalam puisi panjangnya Pahlawan Tak Dikenal:

 

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring

Tapi bukan tidur, sayang

Sebuah lubang peluru bundar di dadanya

Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

 

Dia tidak ingat bilamana dia datang

Kedua lengannya memeluk senapan

Dia tidak tahu untuk siapa dia datang

Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

 

Wajah sunyi setengah tengadah

Menangkap sepi padang senja

Dunia tambah beku di tengah derap dan suara menderu

Dia masih sangat muda

 

Hari itu 10 November, hujanpun mulai turun

Orang-orang ingin kembali memandangnya

Sambil merangkai karangan bunga

Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri

yang tak dikenalnya

 

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring

Tetapi bukan tidur, sayang

Sebuah peluru bundar di dadanya

Senyum bekunya mau berkata:

Aku sangat muda.

 

            Tema revolusi tak hanya didominasi oleh para penyair angkatan 45 saja, generasi berikutnya pun melanjutkan tradisi menulis tema kepahlawanan tersebut. WS. Rendra sang ‘Burung Merak’ menggambarkan para pahlawan yang gugur itu dalam sebuah puisi yang memukau berjudul Gerilya: //tubuh biru/tatapan mata biru/lelaki terguling di jalan.//Angin tergantung/terkecap pahitnya tembakau/bendungan keluh dan bencana//Tubuh biru tatapan mata biru/lelaki terguling di jalan//dengan tujuh lubang pelor/diketuk gerbang langit/dan menyala mentari muda/melepas kesumatnya//Gadis berjalan di subuh merah/dengan sayur-mayur di panggung/melihatnya pertama//Ia beri jeritan manis/dan duka daun wortel//Tubuh biru/tatapan mata biru/lelaki terguling di jalan//orang-orang kampung mengenalnya/anak janda berambut ombak/ditimba air bergantang-gantang/disiram atas tubuhnya//Tubuh biru/tatapan mata biru/lelaki terguling di jalan//lewat gardu belanda dengan berani/berlindung warna malam/sendiri masuk kota/ingin ikut ngubur ibunya//.

            Puisi-puisi di atas hanyalah sebagian kecil dari teks-teks puisi bertema revolusi dan kepahlawan yang sebenarnya bertebaran dalam konstelasi sastra Indonesia. Masih banyak penyair Indonesia lainnya, seperti Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohammad, Asrul Sani, Rivai Apin, Amal Hamzah, Hartoyo Andangjaya, Piek Ardiyanto, Kriapur, dan lain sebagainya. Melalui puisi-puisi mereka mengagungkan para para pahlawan, menghidmati pengorbanan mereka, dan memuliakannya.Mendampingi sejarah, puisi-puisi itu akan terus mengingatkan para generasi muda betapa memperjuangkan eksistensi bangsa adalah sebuah proses. Proses yangberdarah-darah, penuh riwayat haru sekaligus heroik. Para penyair itu selalu mengingatkan kita bahwa para pahlawan itu, baik yang dikenal maupun tak dikenal, baik yang tercatat maupun tak tercatat, telah menyumbangkan seluruh jiwa dan raganya kepada proses memerdekaan bangsanya.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »