Parasit - Rici Swanjaya

@kontributor 3/17/2024

Parasit

Rici Swanjaya

 


“Pernahkah kau melihat darah di bawah bulan purnama, Will? Ia terlihat agak gelap.”

−Hannibal Lecter –

 

Hasrat ini menggelora, membutakan nalar; sesuatu yang aku pun tidak tahu bagaimana ia bersemi dalam diri. Pada malam-malam tertentu, seperti di bawah siraman hujan lebat sekarang ini, dorongan untuk mencari mangsa muncul-tenggelam tiada pernah bisa diatur. Sudah satu jam dua puluh empat menit aku menunggu. Tubuhku menggigil tanpa jeda, semacam mekanisme pertahanan tubuh terhadap dingin atau lapar, tapi sekarang aku tidak kedinginan.

Oke, itu awalan yang buruk. Coba aku ulang:

Kenapa aku di sini, berdiri dan duduk dan berdiri lagi di bawah kanopi teras bangunan lama bekas bioskop samping halte bus?

Seperti yang sudah aku bilang, ada dorongan misterius yang mengambil alih kemudi tubuh untuk kelayapan bak pengembara putus asa, dan rahang itu penyebabnya. Tentu bukan rahangku, tapi rahang yang lain, yang bersembunyi tanpa suara dan mengintai dalam gelap. Ia merupakan nuansa kemarahan dan nafsu menggebu, menyebar gigil dan keringat dingin, dan tubuh bergegas menjawab, tersebab oleh rasa takut: jangan sampai rahang itu mulai menyerang induk semangnya sendiri; alangkah tidak nyaman rasanya bila itu terjadi. Aku tahu, karena itu pernah terjadi satu kali; hanya satu kali, karena dengan penuh determinasi aku bersumpah tidak bakal membiarkan itu terjadi lagi, dan berusaha mencari solusi di balik semak belukar, lubang sarang belut, atau semburan air kumur seorang Habib. Semua gagal, itu jelas, karena bila sebaliknya aku tidak bakal ada di sini dan bicara sendiri layaknya orang ketiban wahyu dari Imam Mahdi.  

Aku ingat sumpah itu. Waktu itu hari Senin, hari di mana keengganan menyambut kenyataan sama besarnya dengan keinginan membunuh ibu mertua. Pagi menemukanku dengan perasaan seperti itu tertambat di pelupuk mata, bertengger bersama kantuk dan residu mimpi buruk. Burung-burung pergi dari singgasananya di cabang pohon trembesi, membawa serta kicaunya yang mewartakan kabar baik, diusir paksa oleh asap hitam bakaran sampah dan daun kering yang berusaha mengganti langit biru menjadi kelabu…

Ahh, ada yang berteduh. Lupakan. Bukan yang ia cari. Dalam balutan gelap dan hujan, sangatlah sukar membedakan mana laki-laki dan mana wanita, apalagi kalau dia tidak berbau. Sebentar, kenapa aku mesti berhenti? Aku harus lebih fokus. Sampai mana ceritaku tadi? Oh ya, langit menjadi kelabu…

Keriangan cahaya matahari menipis sedikit demi sedikit, diganti oleh sesuatu yang murung – atau itu cuma perasaanku saja? Aku tidak tahu. Mungkin tirai kusam jendela pelakunya: dekomposisi bahan tua bersama partikel-partikel asing dari putaran kipas angin mendominasi aroma dan nuansa dalam kamar, basi dan kumal, membangunkan rahang yang lapar dan marah, dan mulai menggerogotiku dengan semangat beroktan tinggi. Aku bergeming menahan perih. Bumi berputar kacau dan aku terombang-ambing oleh arusnya yang berpilin, menghilangkan kesadaran akan ruang. Dan rahang itu berhasil menguasai tubuh. Setiap jengkal kulit diselimuti keringat basin yang bekerja layaknya anestesi kedaluarsa karena ia menebal tepat di mana rasa sakit itu bakal muncul dan tidak banyak yang dapat ia lakukan. Akhirnya, dalam kepungan rasa sakit dan jengah, aku melakukan hal yang aku pikir tidak mungkin bisa aku lakukan pada tubuhku sendiri: aku mulai…

Orang lain datang, berpasangan. Kenapa harus berpasangan?

Insting rahang ini begitu menakjubkan, terutama perkara seksualitas, mirip kucing jantan yang tahu kapan sang betina berahi dan siap kawin. Kecuali rambut, segala spesifikasi wanita itu memancarkan ruap layaknya masakan yang baru saja matang, lengkap dengan kepulan asapnya, menandakan kelezatan yang terperam sempurna. Dan gadis itu siap diperas intisarinya.

Aroma libido gadis itu sedikit luntur dibilas hujan, tapi tidak milik pasangannya yang busuk. Memang yang busuk-busuk selalu lebih liat untuk dihilangkan, seperti halnya kebiasaan buruk: kita bisa berusaha semampu kita dengan mencatat apa-apa yang dibutuhkan dan meniatkannya dengan semangat resolusi awal tahun, tapi makin lama makin terasa seperti tugas yang mustahil dilakukan, dan kebanyakan memang demikian. Aku rasa cuma keberuntungan yang bisa memberi kemewahan buat manusia untuk menjauh dari kebiasaan buruk, selain, tentu saja, kematian. Dan aku sudah berusaha semampuku membasmi kebiasaan itu, tapi rahang jahanam ini tetap tinggal, menunggu dengan sabar dan lapar.

Sialan! Ceritaku terputus lagi. Ayolah, aku pasti bisa. Oke…

Semenjak hari Senin pagi itu, darah jadi obat penawar bagi kemarahannya, dan kemudian menjadi jelas setelah berbulan-bulan kemudian: itu adalah tujuan kehadirannya. Tidak, aku bukan vampir, juga bukan Drakula, karena aku tidak menikmati cairan itu mengalir di tenggorokan – amis dan asin, bukan kesukaanku. Aku cuma seorang Gemini dengan cap pecundang di dahi.

Dua wanita pertama adalah yang terburuk. Bukan cuma karena rasa jijik usai rahang itu pamit ke peraduannya setelah kenyang, tapi juga betapa repot menghilangkan jejak mereka. Empat puluh sembilan hari kemudian mayat korban kedua ditemukan. Meski serampangan dan ceroboh, aku heran kenapa polisi belum juga menggedor pintu rumah dan menyeretku ke balik jeruji. Beruntung aku berlangganan Netflix, dan dari sana aku mulai menyempurnakan metode penghilangan jejak sedikit demi sedikit. Tidak heran kenapa banyak sekali kejahatan rapi terjadi di Amerika. Mungkin, Korea Selatan perlu belajar kesalahan itu dari mereka, karena seturut pengetahuanku, film kriminal negara itu jauh lebih baik dan menarik dari Hollywood beberapa tahun belakangan.

Satu-satunya yang hampir membongkar identitasku adalah ibu mertuaku. Ah, si nenek sihir pembaca injil yang selalu mengingatkanku pada ibuku; bukan cuma penampilannya, tapi juga sikapnya. Nenek sihir itu tidak pernah menebas dan menusukkan lidah tajamnya padaku, tapi ke istriku. Dia tidak pernah bosan merendahkan anaknya sendiri, selalu mengingatkan bagaimana nasib anaknya itu sangatlah bergantung pada kebaikannya, pada kemurahan hatinya, dan itu mendidihkan dadaku. Kalau saja kami masih terus hidup serumah sampai aku sudah tidak lagi mual dan demam tiga hari tiga malam karena melihat mayat yang berkubang darahnya sendiri – kalau ingatanku tidak berkhianat, itu tercapai setelah wanita kelima − aku bakal mengubur potongan tubuhnya jauh lebih dalam dari pondasi Tunjungan Plaza dan bernasib sama dengan korban pertama. Untungnya kami tidak pernah bertemu lagi setelah aku dan istriku bercerai, dan untungnya lagi, ibu dari istri keduaku tidak seperti dirinya.

Dari pernikahan pertama aku belajar sat…

Tunggu. Satu mangsa potensial datang. Oh, bukan kriteria si rahang: terlalu kurus, tidak banyak darah yang bisa dinikmati. Ditambah lagi, dari perawakannya, wanita ini terlihat punya modal atletisme tinggi, minimal salah satu jenis bela diri, dan orang macam ini susah didominasi. Soal begini, si rahang tidak pernah salah.

Kenapa darah? Mungkin karena itu simbol penaklukan, bendera putih yang terlampau berat dikibarkan, pakta damai yang terlalu hina untuk diakui. Semerepotkan apa pun rahang itu menuntut, ia tidak terlalu ambil pusing dari bagian mana cairan itu berasal: leher berbuku-buku, lipatan ketiak berambut, payudara mampat berputing kismis, atau telapak kaki kenyal beraroma ikan tim jahe. Terbaik dari semuanya: vagina yang menyemburkan darah tanpa perlu diapa-apakan. Ahh, membayangkan itu saja rahang ini mulai menggeliat hebat, layaknya ombak besar yang terperangkap gua karang.

Dari mana tadi? Ah, aku lupa lagi.

Memang Dokter Aprillia bilang lebih baik ditulis saja, seperti catatan harian – dia menyebutnya sebagai “Buku Perlawanan”, betapa konyol, apalagi kalau isinya justru cerita tentang hal yang dilawan, hanya agar aku mengenalnya dulu sebelum bisa menguasainya − tapi aku tidak suka menulis, apalagi kalau tanganku gemetar dan sering punya inisiatifnya sendiri, patuh pada si jahanam. Dan lagi, kenapa mesti menunggu ia muncul? Kenapa tidak setiap hari? Bukannya mencegah lebih baik daripada mengobati? Lama-lama aku ragu cara ini bisa membungkam si rahang sialan. Atau mungkin aku perlu bertaruh semuanya, all-in, dan mengosongkan peti rahasiaku padanya, karena mungkin “rahang itu memaksaku masturbasi di tempat publik” tidak cukup dia anggap sebagai gangguan jiwa yang serius. Lagipula, toh hasil akhirnya cuma ada dua, dipenjara atau sembuh.

Goblok! Harusnya aku mikir begini sewaktu ia tidur, bukan sekarang. Sial. Pengalih perhatian… Cari pengalih perhatian… Cerita masa lalu, tapi yang mana? Oh ya, menggambar suasana…

Hujan masih mengguyur deras. Butir-butir air yang jatuh ke aspal berlompat riang layaknya jutaan ikan kecil yang merayakan hari baru atau datangnya nubuat perihal kemujuran dan umur panjang. Tanpa cahaya lampu jalan, gemericik itu terlihat berlangsung di atas kolam berair gelap. Hanya paparan sinar mobil dan sepeda motor yang mampu memberi sedikit petunjuk adanya marka jalan, putih pucat terputus-putus, mirip jejak bayangan hantu-hantu penunggunya.

Bus TransSurabaya tiba, memancar silau dari dua lampu depan. Bulir air hujan terlihat berkilau saat melintasinya. Raung mesinnya kalah oleh hantaman berkubik-kubik air pada genting, seng, dan tubuhnya sendiri. Kami berlima mematung, terperangkap dalam gemuruh kebisingan, begitu pun bus itu: ia mematung jauh lebih baik daripada kami, lebih solid dan tenang, seperti menemukan kenyamanan dalam guyuran hujan. Lalu bus itu pergi, mencari tempat lebih nyaman, sebelum sebuah suara berusaha keras menembus tirai hujan, memanggil-manggil bus itu bagai kawan lama. Setelah beberapa percobaan, suara itu berhasil menemukan titik tertingginya, tapi terlambat.

Segaris air liur lolos dari jerat bibir. Sesungging senyum iblis terukir di wajah. Oh, nasib buruk, kenapa kau selalu saja punya cara untuk hadir?

“Hah? Apa, Mbak? Oh, iya, ada, Mbak. Bisnya ada terus kok, 24 jam.”

            Kebohongan pertama. Sial, ia sudah menguasaiku. Aku tahu itu, karena aku benci berbohong, sedangkan ia bernafas dengan kebohongan. Sulur nadiku ia genggam dan mulai memperlakukanku bak marionette lapar. Layaknya seorang Don Juan, ia punya mulut manis nan sopan: kami berbincang santai soal profesi, hujan yang tak kunjung reda, kenaikan harga BBM, suka-duka kerja kantoran − basa-basi standar pertemuan pertama. Pengalih perhatian… Atau… Jadi pria menyebalkan, jadi pria membosankan, biarkan wanitu itu per…

Terlambat. Leher bagian belakang terasa nyeri, lalu merambat ke punggung, masuk ke sumsum, menguras rasa dan makna dari segala yang menegaskan diriku eksis. Meskipun begitu, aku berhasil menyamarkan beban itu dengan keceriaan palsu yang mengancam melumpuhkanku sebagai pertahanan terakhir.

Rintik hujan ditempa lampu jalan membantuku memandang wajah tirus tanpa riasan berkacamata baca yang berembun. Bibirnya gemetar tak karuan, seperti sedang bicara pada diri sendiri soal nasib buruk, atau sekadar membaca mantra pengusir dingin. Selain itu, kegelapan menguasainya; tak ada lagi pencitraan lain yang aku tangkap agar bisa berkompromi dengan rahang jahanam ini: bukan yang berhidung pesek, wajah tanpa keriput, dan tanpa cacat: juling, bibir sumbing, atau codet. Aroma yang keluar darinya dan siluet tubuh sintalnya semakin meningkatkan rasa lapar. Untungnya keberadaan empat orang lain mampu menahannya sebentar.

Aku berselimut keringat dingin. Kesuraman pikiran dan pandangan menjelaskan penaklukanku akan segera tiba. Kepalaku penuh pertimbangan, perutku diserang gelombang amuk, lenganku kebas oleh tusukan jarum tak terlihat; tak lama lagi aku bakal jadi seorang kriminal menyedihkan. Tarik paksa? Jangan, masih ada orang, ada saksi. Persetan mereka? Tidak. Aku tidak mau masuk penjara. Aku masih mau menghirup udara bebas, mencecap rupa-rupa rasa manis dunia, juga teriakan dan erangan dan permohonan ampun. Aku masih ingin merasakan kekuatan itu, dominasi itu…

Teriakan? Dominasi? Ngomong apa aku ini? Ini bukan aku, ini buk…

Aku berbalik, bergerak lekas dan menjauh, melintasi guyuran hujan dan meninggalkan jejak darah dari telapak tangan di tiap kubangan yang aku lewati. Bersama geram, aku menahan rasa sakit dan pahit darahku sendiri. Sial. Padahal aku sudah bersumpah tidak bakal membiarkan ini terjadi lagi.

Masih ada waktu, masih banyak mangsa. Lain kali, darah yang mengalir harus milik seseorang yang berteriak pasrah dan tak berdaya, yang melihat malaikat maut mendekat dari mata berlinang dan mengatup. Kali ini aku setuju denganmu: lebih baik kesakitan ini berasal dari jiwa orang lain, dan cuma kenikmatan bagi jiwaku. Dan yang paling penting adalah melakukannya dengan rapi seperti sebelum-sebelumnya; tanpa saksi mata, tanpa belas kasihan.

Ingat-ingat itu: tanpa saksi mata, tanpa belas kasihan. Harusnya kau sudah paham itu sekarang, bukan malah “persetan mereka semua” dan bertindak seperti baru pertama kali melakukannya. Seandainya kau belum tahu, cuma ada jakun dan pelir di penjara, dan darahnya hitam dan getir, hambar dan banyak parasit, dan yang paling penting: aku tidak mau anusku tercemar oleh batang kaku penuh kuman mematikan. Intinya: di sana kau tidak bakal pernah bangun, dan cuma aku yang menjalani hidup dalam neraka. Jadi, jangan bersikap gegabah seperti itu lagi.

Aku mesti bilang apa nanti soal tangan ini? Digigit anjing? Tidak sengaja menjatuhkan es teh jumboku? Habis melawan begal bersenjata parang? Sialan. Aku payah dalam berbohong, terlebih lagi kalau di hadapan istriku: aku pasti gagal, aku selalu gagal. Cuih! Psikiater tai kucing. Sudah menghabiskan banyak uang, tapi ucapannya tidak lebih bermanfaat ketimbang kentut.

Baiklah rahang jahanam, bagaimana kalau begini: kalau kau mau aku belajar menerimamu, aku mau kau juga belajar sesuatu, yaitu kurangi standar persyaratan manismu sedikit saja, dan coba biasakan dirimu dengan rasa pahit, karena kalau sudah berumur lebih dari empat puluh tahun, cuma rasa pahit yang semakin kuat, mungkin kecut juga, persis seperti fermentasi tebu, seperti ciu, tapi pahit yang paling kentara. Tenang saja, rasa manis masih ada dan melebur di antaranya. Sudahlah, tidak usah kau tanya aku tahu dari mana, pokoknya aku tahu. Bagaimana? Deal?

Oke. Besok kita datangi dokter gadungan itu buat percobaan pertama.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »