Rasa Hormat Maksimal Terhadap Puisi - Sutardji Calzoum Bachri

ADMIN SASTRAMEDIA 8/17/2019
oleh Sutardji Calzoum Bachri



SASTRAMEDIA.COM - Sejauh pengamatan saya, upaya meningkatkan apresiasi puisi sering terfokuskan pada segi keindahan sajak. Perhatian terutama ditekankan pada bagaimana menikmati keindahan sebuah puisi dan dengan kemampuan menikmati puisi bisalah timbul kesegaran jiwa atau kesegaran dalam menghadapi kehidupan. Dengan demikian sebagai sesuatu yang bisa menyegarkan jiwa, puisi dapat dikelompokkan dalam bidang-bidang lain seperti bidang hiburan, lawak misalnya. Karena lawak juga bisa menyegarkan jiwa. Jojon, Asmuni, Tarzan, Basuki adalah para pelawak dan tontonan mereka bisa menghibur jiwa. Rendra, Taufig Ismail, Goenawan Mohamad, Hamid Jabbar adalah sebagian dari para penyair kita. Tak heran kalau tak jarang di kalangan masyarakat dan para penguasa tidak membedakan kesenimanan para penyair dengan kesenimanan para penghibur tadi.

Karena sama-sama penghibur, maka dianggap kesenimanannya sama, tanpa memedulikan "genre"-nya. Lagipula dalam pembicaraan-pembicaraan tentang puisi di sekolah-sekolah maupun di hadapan masyarakat umum, tak jarang—mungkin untuk menghilangkan rasa kantuk hadirin— sastrawan atau penyair serta "presenter"-nya yang tampil sering memamerkan "lawak", sehingga penyair atau sastrawan dengan citra badut dan lawak itu semakin tertanam di kalangan masyarakat sejak mereka di sekolah lanjutan.

Sebenarnya para sastrawan atau penyair bisa juga dikelompokkan sebagai olahragawan, karena olahraga di samping menyehatkan badan, juga bisa menghibur dan menyegarkan jiwa. Namun masyarakat tidak pernah memasukkan penyair dalam kelompok olahragawan, mungkin karena biasanya penyair hanya - kuat pikiran dan imajinasi sedangkan ototnya sering kelihatan lembek dibanding olahragawan.

Di sisi lain penyair dikenal masyarakat luas sebagai tukang kritik, terutama terhadap masalah sosial dan politik. Citra sebagai tukang kritik inilah yang membikin para penyair dengan sajak-sajak kritik sosialnya, dan bahkan juga dengan kelakuan pembangkangannya sering menimbulkan citra "hero" di kalangan masyarakat banyak. Ini tentu saja menaikkan citra penyair dan sajaknya di kalangan masyarakat. Sedangkan di kalangan rezim yang berkuasa timbul sikap paranoid terhadap puisi.

Puisi adalah suatu dunia tersendiri, dunia imajinasi yang diciptakan lewat kata-kata. Itulah hakikat yang lazim ada pada sebuah puisi. Pada puisi yang mengemban hakikat ini secara ekstrem, atau katakanlah yang ideal, kemandiriannya sebagai dunia tersendiri begitu menonjol, sehingga tidak perlu merujuk pada realitas, termasuk pada realitas sumber atau rangsangan yang menimbulkan terciptanya puisi itu. Dalam kualitas seperti itu puisi menjadi sebuah dunia tersendiri, dunia imajinasi yang terdiri dari kata-kata, dari ungkapan, dari metafora. Karena itu tidaklah pantas untuk merujuknya pada realitas, tetapi lebih tepat atau lebih layak untuk dijadikan bandingan (komparasi) bagi realitas.

Dengan melakukan perbandingan antara dunia sana (dunia dari sebuah puisi) dengan dunia sini, yaitu realitas tertentu, orang bisa mengambil hikmah dari puisi tersebut. Tentu saja ada puisi yang tidak sepenuhnya merupakan dunia tersendiri. Sering ia bukan hanya sekedar merujuk pada realitas atau peristiwa-peristiwa tertentu, tetapi bahkan melakukan reaksi langsung terhadap realitas. Kata-kata dalam sajak dijadikan tangan untuk masuk pada dunia realitas, berupaya menuding, mendukung, membenahi atau memperbaiki realitas. Sebagian besar sajak-sajak protes atau kritik sosial adalah jenis puisi semacam ini. Mungkin karena tidak sabar dengan bobroknya realitas, banyak para penyair yang merelakan sajaknya menjadi tangan untuk menguak realitas dan berupaya menuding atau memperbaikinya. Puisi semacam ini cenderung reaktif terhadap realitas atau merupakan reaksi terhadap realitas, dan kurang cenderung merupakan puisi yang inspiratif bagi realitas atau terhadap keadaan.

Pada puisi yang reaktif, para penyair membiarkan sajaknya memainkan bola yang dilemparkan realitas, sebagaimana halnya kebanyakan sajak-sajak protes (kritik) sosial-politik. Mereka tidak membiarkan sajaknya menciptakan permainannya
sendiri atau dunianya sendiri. Sedangkan para penyair yang menciptakan sajak-sajak yang lebih otonom, yang membiarkan sajak-sajaknya sebagai sebuah dunia tersendiri, tidak membiarkan sajaknya ikut terpancing memainkan bola yang dilemparkan realitas. Sajak-sajak semacam ini membuat permainannya sendiri, karena itu cenderung dianggap sebagai sajak yang asyik (dengan permainannya) sendiri dan tidak mengacuhkan realitas.

Karena menciptakan dunia tersendiri atau permainannya sendiri, sajak semacam ini tak bisa dirujuk pada realitas yang sedang main. Sebagai sebuah dunia imajinasi yang otonom dengan permainannya sendiri, ia tidak langsung terkesan sebagai upaya untuk mengkritik, mendukung atau menegur, memperbaiki realitas. Namun sajak semacam ini bisa menjadi bandingan terhadap realitas. Sebagai bandingan terhadap realitas bisa menjadi tandingan terhadap realitas. Para pembaca yang terpesona dan terinspirasi oleh sajak semacam ini pada gilirannya akan menciptakan imajinasi dalam dan dari dunia puisi itu menjadi suatu realitas dalam kenyataan sehari-hari. 

Dalam masyarakat luas, sajak-sajak yang merujuk pada realitas—terutama sajak-sajak sosial politik—lebih dikenal dan mendapatkan apresiasi luas dibanding dengan sajak-sajak yang otonom itu. Ini dapat dipahami karena seorang penyair tentulah lebih artikulatif dan retorikal dalam menuangkan snegwoeg dan eupbora masyarakat dibandingkan dengan masyarakat umum. Sebagai ventilasi derita dan kegembiraan masyarakat, tak heran kalau sajak-sajak semacam ini mudah populer. Bahkan popularitas puisi semacam ini sangat luas di kalangan masyarakat. Boleh dikata apresiasi masyarakat berputar sekitar puisi yang bisa dirujukkan pada realitas dan terutama realitas sosial-politik.

Bahkan dalam anggapan orang banyak, puisi menjadi benar-benar berarti bila dalam perannya sebagai sesuatu yang memberikan kritik terhadap situasi sosial atau politik. Atau dengan kata lain terhadap sajak sajak yang merujuk pada realitas sosial politik. Irilah faktor utama yang menimbulkan rasa hormat dan terimakasih (apresiasi puisi) masyarakat terhadap sajak dan juga penyairnya.

Apresiasi semacam ini tertanam luas dan dalam di kita. Kritikus legendaris H.B. Jassin selalu menciptakan angkatan sastra (puisi) dengan meletakkan karya sastra dalam kaitan peristiwa besar sosial-politik. Angkatan 45 diletakkan dalam peristiwa sosial-politik tahun sekitar itu. Begitu pula Angkatan 66 dalam peristiwa sosial-politik sekitar tahun 66. Maka semakin tertanam pandangan di kalangan masyarakat bahwa puisi hanya sekedar mengikuti sejarah, mengelu-elukannya atau, walaupun melakukan kritik, masih tetap dalam konteks "paradigma" dari realitas peristiwa yang dikritiknya itu. Dengan kata lain puisi, baik mengelu-elukan atau mengkritik realitas sosial-politik, ia dapat dipandang sebagai budak sejarah dari peristiwa sosial politik yang terjadi dalam sejarah yang juga membuat sejarah. Bukan menjadi sesuatu yang memberikan inspirasi bagi sejarah. Bukan sesuatu yang berada di luar sejarah, di depan sejarah atau berhadap-hadapan dengan sejarah. Puisi sekedar menjadi budak sejarah. Dalam konteks ini dapat saya katakan, meskipun menganut paham humanisme universal dengan visi kebebasan kreatif, para penyair serta kritikusnya tetap berada dalam paham (peristiwa sosial) politik menjadi panglima.

Sikap semacam inilah yang menyebabkan rasa hormat terhadap puisi, atau apresiasi terhadap puisi kurang bisa maksimal. Sehebat-hebatnya puisi semacam ini masih lebih hebat sejarah yang menciptakannya. Puisi yang otonom sebagai dunia imajinasi yang melepaskan diri dari rujukan realitas, cenderung bisa membebaskan diri sebagai budak sejarah atau budak dari peristiwa realitas sosial-politik. Ia malahan bisa menjadi bandingan untuk sejarah yang sedang terjadi, menjadi inspirasi bagi sejarah dan memengaruhinya. Atau dengan kata lain bisa memegang peranan untuk membentuk realitas (sejarah) baru, merangsang dalam terbentuknya sebuah paradigma baru. Dalam posisi pencapaian begitu, bisa diberikan rasa hormat yang maksimal terhadap puisi.

Berlanjut: Rasa Hormat Maksimal Terhadap Puisi (2)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »