Puisi Smart 5.0 - Teddy Mantoro

KONTRIBUTOR 3/27/2022

Puisi Smart 5.0

 Prof. Ir. Teddy Mantoro, MSc., PhD, SMIEEE



 

 

Saat fajar Smart Society (masyarakat cerdas) merekah, kemanusiaan bangun. Ketika berjalan ke pedesaan yang menghijau di sela-sela nyiur yang melambai, pemandangan yang khas di negeri tropika, yang anginnya semilir khatulistiwa, jika penduduk ditanya, apa itu Smart Society (masyarakat cerdas) mungkin sedikit yang dapat menggambarkannya dengan tepat.

 

Dari sudut pandang rentang panjang sejarah, Smart Society (masyarakat cerdas) 5.0 dapat diurutkan secara singkat sebagai berikut:

 

o   Society 1.0 sebagai kelompok masyarakat yang berburu dan berkumpul dalam ko-eksistensi yang harmonis dengan alam.

o   Society 2.0 sebagai pembentuk kelompok berdasarkan kemampuan budidaya pertanian, meningkatkan organisasi dan pembangunan bangsa.

o   Society 3.0 adalah masyarakat yang mempromosikan industrialisasi melalui Revolusi Industri sehingga memungkinkan produksi massal.

o   Society 4.0 sebagai masyarakat informasi yang menyadari peningkatan nilai tambah dengan menghubungkan aset tidak berwujud sebagai jaringan informasi.

o   Society 5.0 adalah masyarakat cerdas yang dibangun di atas Society 4.0, yang bertujuan untuk masyarakat yang berpusat pada kemakmuran umat manusia.

 

Lalu, untuk apa Smart Society 5.0 dan apa ultimate goal-nya? Tujuan akhirnya adalah peningkatan kualitas hidup masyarakat dengan memobilisasi potensi produktif dan teknologi Industri 4.0 berupa masyarakat super cerdas yang ditandai, sebagai berikut:

 

Masyarakat di mana berbagai kebutuhannya dipenuhi dengan menyediakan layanan berikut produknya, yang diperlukan dalam jumlah masif kepada masyarakat sesuai kebutuhan dan di mana semua orang dapat menerima layanan berkualitas tinggi dan nyaman dalam kehidupan sehari-harinya tanpa perbedaan termasuk warna kulit, usia, jenis kelamin, wilayah, atau bahasa. Tentu teknologi tinggi berperan besar dibalik layanan berkualitas tinggi ini.

 

Tujuan akhir Smart Society 5.0 adalah batas akhir yang tidak dapat dihindari baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan profesional, untuk merevolusi masyarakat dalam meningkatkan cara hidup dan kehidupan yang berkualitas terbaik (prima) bagi seluruh umat manusia tanpa seorang pun tertinggal (no-one left behind).

 

Smart society cenderung menjadikan masyarakat yang individualistis, memikirkan sendiri, kering, dan dingin seperti dikelilingi alumunium, berkilat, walau bisa dibuat wangi, tapi kaku luar biasa. Resah akan masa depan. Melalui kumpulan puisi Smart 5.0 ini diharapkan rasa kering, individualistik, dingin dan kaku yg luar biasa ini, dapat dilunakkan menjadi super modern, tapi indah, ramah, tanpa kehilangan budaya timur, budaya nusantara.

 

Puisi tidak mengenal zaman, apapun masanya, ada cara dan cirinya. Puisi adalah susunan kata puitis, bermakna, kadang dibarengi unsur musikal. Hanya dalam beberapa kata, sebuah puisi bisa mengatakan banyak hal. Kata-kata pendek yang mengungkapkan pikiran dan perasaan pribadi yang mendalam, menyampaikan suasana hati: senang atau sedih, sederhana atau kompleks. Kata-kata pada puisi ini kadang menginspirasi, membuat kagum, dan menjadi sesuatu yang benar-benar indah dan benar-benar menakjubkan. Puisi di era Smart Society 5.0 turut memberi nuansa puisi Indonesia, Puisi Smart 5.0, cirinya dapat dilihat melalui kumpulan kata-kata baru yang mewarnai genre baru ini, yang di generasi masa perjuangan kemerdekaan untaian kata-kata baru ini tidak ada: alexa, cortana, drone, ebook, game online, gawai, gojek, google, hashtag, kuota, layar-monitor, medsos, metaverse, mobil-tanpa-awak, netizen, robot, siber, siri, unboxing, WiFi, zoom, dll. Kata-kata baru ini manifestasi rasa baru di era baru, era Smart Society 5.0 muncul di dalam puisi, prosa, dan sajak dalam buku ini. Ekspresi perasaan individu di era ini: kecerdasan dan kreativitas.

 

Individu-individu dibentuk di rumah dan kantor. Kantor adalah tempat produksi sedang rumah adalah tempat istirahat, rileks, dan bergembira. Rumah di era Smart Society 5.0 berbentuk rumah biasa, kantor pun demikian, tetapi teknologi cerdas hidup di baliknya. Rumah cerdas dibangun dan kesepian dienyahkan oleh teknologi sejenis Alexa, Siri, Cortana, dan dilink ke Google. Dengannya, tidak ada pertanyaan yang tidak dapat dijawab dan ikut membentuk individu-individu era Smart Society 5.0.

 

Rumah Pintar

 

Rumah bukan lagi terang oleh pelita, tapi pijaran bak petir

Pintunya dibuka oleh suara, tepukan, atau siulan bibir

Mekanis tak beda di musim kering atau di musim bunga

hidup, menyala, tapi tak bernyawa.

 

Rumah masih seperti dulu, tempat menghimpun bahagia

tempat rileks, kegembiraan, dan kesenangan.

Kantor adalah tempat berproduksi, cari hidup.

 

Tapi di era digital ini, Rumah di pilah

ada zone produksi dan ada zona menabur bahagia

 

Di era new normal ini, kebahagiaan menyatu: tinggal di rumah, cuci tangan, pakai masker dan tetap produktif.

 

(Jatiwaringin, TM, 23/09/2021)

 

Tantangan di Era Smart Society 5.0 sama dengan Era sebelumnya dan perlu diatasi bersama, wabah, perang, dan kelaparan. Namun hal-hal ini bisa diatasi, dan teknologi menjadi garda terdepan penyelesaiannya. Walau budaya tradisional lama kadang masih sampai di era ini, lihat saja, orang masih mudah percaya pada peri, hantu, jin, dan kuntilanak, tapi mereka tidak bisa percaya ada sepercik air, terbang di udara, membawa satu armada predator yang mematikan. Varian Delta dan Omicron dari Covid-19. Sampai Tuhan berkehendak menunjukkan lewat korban-korbannya di sekitar kita. Lalu new normal pun mewarnai Era Smart Society yang hampir matang ini.

 

Sebagai epilog pada buku puisi ini, izinkan saya tutup dengan puisi berikut:

 

Smart Society 5.0

 

SS-I

 

Mengembara dibatasi jarak makanan

Sampai Garam datang

Gunung pun mampu menjenguk bibir pantai

 

Masa dimana kerja dibayar Garam

Setiap Gudang banyak Garam, emas putihnya

 

Sampai rudder perahu ditemukan

Pergilah ke seberang pulau, ombak dilawan, dan kembali ke bibir pantai di sebelah rumah

 

SS-II

 

Pabrik mekanik melawan kekuatan kegelapan

Padi-padi kuning emas digiling jadi beras merah-putih

Roda kemajuan dunia diputar peradaban

 

SS-III

 

Roda2 kereta jalan sejajar, uap di atasnya

stasiun kota berjarak pendek

stasiun desa berjarak jauh

kerja tidak dibatasi siang-malam ataupun terang-gelap

 

SS-IV

 

Komunikasi didominasi WA

Kirim berita dari satu benua ke benua lain hanya dalam hitungan detik

Manusia hanya dibatasi oleh pikirannya sendiri

Era dimana hadir dan tidak hadir ditentukan di monitor bukan ruang meeting.

 

SS-V

 

Di era dimana ide tidak masuk akal dihargai

Benar salah kata bisa dimanipulasi

Rumus disulap jadi algoritma pintar yang dieksekusi menjadi string puisi

lalu malam fisiknya sendiri di ruang sepi,

 namun di Metaverse penuh keriuhan, tanpa batas imajinasi

 

(Pejaten, TM, 26/11/2021)

 

Mungkin sudah kita harus menyambut Smart Society 5.0 di hijaunya pedesaan kita yang nyiurnya melambai, tetapi di bawahnya super otomatisasi terjadi, dari drone kecil berkekuatan raksasa hingga mobil yang berjalan tanpa awak dengan energi rendah karbon, meliak-liuk menambah keindahan desa-desa nusantara.

 

Mari jaga Indonesia, apa pun musimnya, apa pun eranya.

Indonesia tanah airku, aku jadi pandumu.

 

 Jatiwaringin, 8 Maret 2022


 

 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »