Kin - Fahrul Rozi

KONTRIBUTOR 5/15/2022

Kin

Fahrul Rozi



Aku melihat Dullah dan Juleha memiliki sepasang sayap. Mereka mengepakkan sayap seperti feniks—kaki mereka melayang, dan sekali kepakan mereka telah berada di cakrawala. Mereka tersenyum seraya melambai perpisahan.

***

Terdengar suara Dullah samar-samar, tapi mataku tidak melihat apa pun selain gelap. Apa aku sudah mati? Suara Dullah makin terdengar jelas dan menggema di telingaku. Mungkin itu suara malaikat, bukan Dullah tapi tubuhku terasa dingin dan ada jarum kecil yang menusuk tubuhku. Aku menggigil. Barangkali kematian adalah laut, di mana tubuh mahluk tenggelam di sana. Basah. Dingin.

Guntur membangunkanku dari mimpi buruk. Ternyata hujan dan tubuhku basah kuyup. Aku tidak tahu nasib Dullah dan Juleha bagaimana tapi aku sungguh melihat mereka memiliki sayap serupa malaikat. 

Aku bangkit berjalan pelan mencari tempat teduh. Ada sebuah gubuk yang jaraknya tidak jauh dari tempatku. Aku masuk lewat jendela. Terdapat bayang-bayang bergoyang, tapi aku tidak mendapati siapa-siapa di dalam. Aku mengeringkan tubuhku di atas karpet; berguling-guling, tengkurap lantas tertidur dan bermimpi Dullah dan Juleha kembali. Mereka tidak lagi memiliki sayap, kini mereka mendekatiku dan mengelus-elus punggungku. Mereka memelukku dan aku tenggelam dalam kehangatan tubuh mereka.

***

“Apakah kau lihat anjing lewat sini?”

“Aku melihatnya berlari ke arah sana,”

“Baiklah. Kau sebaiknya berhati-hati, dan kuperingati segera pindah dari sini.”

“Emangnya kenapa jika aku tidak mau?”

“Di sini ada macan kumbang. Kemarin kami diserang hewan buas itu ketika kami bertemu anjing liar,”

“Hahaha.”

“Kenapa kau kewata?”

“Lucu”

“Tidak ada yang lucu, goblok!”

“Hahahaha.”

“Percuma saja bicara dengan perempuan goblok,”

“Hahaha.”

*** 

Tubuku diselimuti kain tebal seperti kulit domba tapi lebih halus. Hari sudah terang ketika aku bangun. Tidak ada suara bising di luar sana. Aku hanya mendengar embik kambing dan suara unggas. Barangkali Dullah dan Juleha menemukanku di gubuk ini dan mereka tidak meninggalkanku lagi.

Pintu kayu terbuka seorang laki-laki bertubuh kecil kumis tebal dan rambut cepak—sepertinya bukan Dullah—masuk. Dia mendekat. Aku tetap tidak bergerak dan memperhatikannya. Dia duduk dan menaruh tangannya di atas kepalaku.

“Ternyata kau sudah bangun, kawan,”

Aku ingin bangun, tetapi tangannya tidak membolehkanku bergerak.

“Tetaplah di sini. Aku akan segera membawakanmu makan dan minum.”

Aku melihat tangannya diangkat dan dia keluar meninggalkanku. Aku menggonggong kecil dan dia menoleh padaku. “Tunggulah, aku hanya sebentar.”

Terdengar di luar ada percakapan antara laki-laki dan perempuan. Apa Dullah dan Juleha menitipkanku pada mereka? Kali ini perempuan masuk membawa makan dan air lalu laki-laki itu datang juga dan mereka duduk di bawah, di atas lantai kayu.

“Kemari kawan. Kami bawakan kau makan,” aku mencium bau daging sedap. Aku bangkit dan turun dari tempatku. Mengendus daging lalu menatap mereka satu-persatu; meminta izin. Ternyata mereka tidak jauh berbeda dengan Dullah dan Juleha. Mereka sama-sama baik. Setelah mendapat anggukan mereka, aku pun makan daging sedap. Aku meminum air yang ada di mangkuk. Rasanya nikmat seperti berada di Firdaus. Setelah makan aku menggonggong, menjilati kaki, tangan, dan wajah mereka. Rasanya tidak jauh berbeda dengan Dullah dan Juleha. 

“Kita beri nama dia Kina,”

“Bagaimana dengan Kin?” si perempuan menganjurkan nama.

“Bagus. Jadi namamu adalah Kin, kawan,” Aku pun mengerti. Kini namaku bukan Kain, melainkan Kin. Ah, mereka jadi mengingatkanku pada Dullah dan Juleha. 

Tiap hari aku menjaga kambing dan ayam mereka. Tak jarang aku melihat macan kumbang yang menyelamatiku dari kejaran pemburu tempo lalu. Dia tersenyum dan aku pun tersenyum. Laki-laki dan perempuan itu tidak pernah keluar rumah dalam waktu lama. Dalam hitungan menit mereka datang membawa sayur, buah, dan ikan segar. Kupikir mereka memiliki taman seperti Fidaus yang dapat tumbuh apa saja yang diinginkan.

Laki-laki itu sering memanggil si perempuan dengan sebutan Siti, dan Siti memanggil si laki-laki dengan Saiful. Kulit mereka tidak seperti Dullah dan Juleha. Kulit mereka cokelat dan memakai pakaian aneh. Pakaian mereka memiliki corak dan warna gelap. Apalagi Saiful sering memakai topi kerucut sambil menyandang sebuah tali. Siti kerap kali memakai kerudung persegi kecil menutupi rambutnya.

Terkadang aku menemukan topi Saiful tergantung pada paku di balik pintu. Aku suka memandangnya jika Saiful dan Siti pergi. Aku akan menggonggong, meloncat, dan menggonggong lagi. 

Satu hari Saiful mengambil topinya dan dia jelaskan bahwa topi itu terlalu besar untukku. Aku mengerti, topi hanya cocok untuk Saiful. Keesokan harinya dia telah membawa topi kecil dengan tali simpul. Dia letakkan topi berwarna merah di atas kepalaku dan mengikat talinya. Aku menggonggong. Dia mengangguk. Aku berlari ke luar, meloncat, dan menghampiri Siti di dekat kandang domba. 

“Topi yang bagus, Kin,” Siti mengusirku dan aku menjilati tubuhnya.

Hari ini cerah, aku dibawa mereka berjalan-jalan. Tidak ada rumah di sekitar gubuk. Banyak pepohonan dan padang rumput. Domba-domba mereka kerap dilepas di sana dan aku akan menjaganya. Jika melewati padang rumput aku akan melewati jembatan kayu yang terdapat sungai di bawahnya. Aku berjalan di samping Saiful dan Siti. Mereka memberitahuku bahwa di depan sana ada sebuah Dukuh Anyar. Di sanalah dulu mereka tinggal, ungkap Saiful. Tapi kemudian mereka berbelok dan bertemu seorang laki-laki dengan raut muka ketakutan sambil menunjuk ke arahku. Aku menggonggong.

“Jangan takut. Kin tidak akan menggigitmu. Anjing ini yang telah menjaga domba-domba kami dari macan kumbang.” kata Saiful. 

Laki-laki di depan Saiful meraih sesuatu di dalam saku celananya. Dia memberi beberapa lembar uang pada Saiful dan tanpa berkata-kata meninggalkan kami. Laki-laki yang aneh, pikirku.

“Ayo, kita pulang Kin,” ucap Siti sambil berbalik.

“Orang-orang di sana tidak asik,” lanjutnya.

Saiful tiba-tiba berjongkok di depanku. “Kin, kami menyayangimu. Tapi kami tidak bisa membawamu jalan-jalan lebih jauh. Apa yang dikatakan Siti benar, orang-orang di sana tidak asik. Makanya, kami pindah dari sana dan mendirikan gubuk di tengah-tengah hutan, tapi apakah kau senang tinggal bersama kami?”

Aku duduk dengan bertumpu pada kaki belakangku, menatap Saiful lekat-lekat lalu berganti pandang pada Siti. Mereka berdua mengingatkanku pada Dullah dan Juleha. Aku menggonggong pelan. Tidak ada yang nyaman dan hangat kecuali bersama mereka. Aku menggonggong lagi sambil menatap Saiful. Dia menciumku. Kemudian kami pulang ke gubuk. 

Malam itu kami tidur lebih awal. Biasanya Saiful tidur tengah malam, tapi malam ini dia ikut tidur bersama Siti dan aku. Tapi tidak lama aku bangun ketika mendengar ketukan pintu dan mencium bau yang tak asing. Laki-laki di sampingku bangkit dan menuju pintu. Siti ikut bangun dan melihat lakinya membuka pintu. Tiba-tiba suara tembakan terdengar, Saiful terkapar, sontak aku meloncat ke arahnya dan menggonggong. Lelaki yang kutemui tadi pagi masuk bersama beberapa warga. Aku menggonggong lagi, dan Siti berteriak histeris. Ujung senapan diarahkan ke arahku, Siti meloncat dan menahan lelaki itu. 

“Cepat lari, Kin, larilah.”

Aku tidak mengerti mengapa dia mengusirku. Aku tidak berbuat salah tapi Siti berteriak lagi menyuruhku lari. Aku pun lari, dan tidak lama terdengar suara ledakan. Gubuk itu terbakar. Aku melihat bayang-bayang seperti sosok Dullah dan Juleha yang mengepakkan sayap. Mereka layaknya malaikat yang membawa sosok Saiful dan Siti dari ledakan. Aku melolong pilu.


Kranji, 07-04-2020


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »