Nun, Anggrek, Nun - Wendy Fermana

KONTRIBUTOR 8/07/2022

Nun, Anggrek, Nun

Wendy Fermana


 

Masnun urung berkebun, pagi itu.

Lipatan pakaian dan kain-kain yang biasanya tersusun rapi di bilik-bilik lemari, kini menumpuk di atas dipan. Masnun memeriksa kembali rak-rak lemari, mengaduk-aduk isi laci meja tulis, serta menyelidiki setiap sudut kamar. Ia yakin benda itu pasti ada di sekitar sini. Tadi pagi, saat ia hendak merapikan rambut dan tengah mencari-cari sisir, ia masih melihat bros anggrek itu tergeletak di antara benda-benda di dalam laci. Ia tilik sejenak benda mungil itu dan lekatkan di blusnya, lalu mematut-matut diri di depan cermin, kemudian seingatnya ia letakkan lagi, tapi di mana benda itu sekarang?

Masnun susah hati. Tidak saja karena bros anggrek itu mahal harganya (dan ia tak akan dapat memilikinya lagi sebab aksesori itu dibawa dari Jepang), tetapi benda itu juga amatlah berharga bagi si empunya terdahulu. Bros itu mulanya oleh-oleh akung untuk uti (begitulah ia menyapa kedua ndoro), dari lawatannya ke beberapa negara Asia Timur (akung pejabat teras di Deplu, sebelum akhirnya tersingkir dan balik ke Bulaksumur). Mata Masnun berbinar-binar saat melihat hadiah itu berbentuk anggrek dan iri hendak memiliki sebab ia amat gandrung dengan segala macam benda terkait anggrek (kecintaan uti pada anggrek membuatnya ikut-ikutan kesengsem pada sang puspa penuh pesona itu). Tapi mustahil untuk memiliki. Ia hanya dapat mengagumi keindahan bros itu saat uti mengenakannya.

Segala bayangan ketidakmungkinan memiliki itu sirna selepas kematian uti. Belum empat puluh hari akung mangkat, ndoro perempuannya menyusul wafat. Tidak, Masnun tidak mendapat waris, meski ia sudah seperti keluarga, meski ia sudah menemani uti sejak belia, meski ia sudah membersamai segala macam suka-duka masa remaja, masa nikah, masa uti melahirkan tiga orang anak, hingga ia turut mengasuh dan membesarkan dan sampai ketiga anak itu menikah dan beranak pinak pula, ia telah mengabdikan dirinya untuk tiga generasi keluarga itu, tapi tak ada bagian buatnya di surat wasiat uti.

Hatinya sakit saat anak-cucu keluarga besar akung-uti memutuskan untuk menitipkannya ke rumah jompo. Ia sempat protes dan meminta agar diizinkan ikut salah seorang dari mereka. Ia masih bisa bantu-bantu melakukan kerja rumah tangga. Semuanya menggeleng. Tidak ada tempat buatnya. Yang sulung akan kembali kerja ke Hamburg, yang nomor dua pulang ke New York, dan yang bungsu menerima tawaran mengajar di Connecticut. Duhai Gusti, inikah semua ganjaran atas segala pengabdian hamba?

Ia mengajukan permohonan agar diperkenankan membawa beberapa pot tanaman anggrek milik uti. Setidaknya dengan merawat anggrek kesayangan itu dapat menjadi pengingatnya pada keluarga besar akung-uti. Silakan, silakan, Mbah Nun, karena rumah ini juga akan tinggal saja, kata sang anak perempuan, si nomor dua. Sebelum diantar ramai-ramai ke panti wreda Rumah Kasih, dengan gemetar Masnun menyelinap ke kamar uti, kemudian menilap bros anggrek itu ke dalam sakunya. Tak pernah ia melakukan tindakan tak patut semacam itu sepanjang umurnya. “Maafkan aku kalau Uti tidak berkenan,” lirih Masnun menyesali dosa kecil mengutil itu. “Anggaplah itu hadiah buatku di tempat menjemukan ini, Uti.”

Rumah Kasih ini betul-betul membosankan, ada orang-orang tua ringkih yang menyenangkan, tapi tak lagi memiliki banyak energi (seperti Rohana, Hamidah, dan Marianne, kawan barunya yang ikut keranjingan merawat tanaman), sementara orang-orang tua menyebalkan yang gairah hidupnya bak remaja mengalami pubertas, tingkah mereka ganjen, sesama tua bangka saling menggoda (misal Ashadi, Indraswari, Rahardjo, atau Sedyawati), membikin Masnun jeri. Ditambah lagi kebiasaan sebagian besar penghuni yang kerap menabung jatah sabun dan pasta gigi mereka (lantaran tak lagi merasa perlu berwangi-wangi dan tak lagi punya gigi), barang-barang itu dikumpulkan dan pada hari-hari tertentu, diam-diam dibawa ke penadah di pasar terdekat yang siap menukarnya dengan barang yang amat terlarang, seperti rokok, kopi, gula pasir, dan bumbu penyedap. Masnun tak ikut-ikutan aksi penyelundupan itu.

Ia merasa beruntung telah membawa tanaman anggrek uti sehingga setiap hari ia punya kesempatan untuk melarikan diri dari kejenuhan rumah jompo. Ia bungah saban kali memperhatikan rupa bunga yang serupa kepak kupu-kupu, meneliti bintik-bintik di kelopak, dan menghidu harum anggrek yang tengah mekar. Merawat anggrek membuatnya tetap terjaga dalam kewarasan. Ia tetap dapat melatih ketelatenan kerja dengan berkebun, selama ini sepanjang hidupnya ia mengerjakan segala macam hal. Ia ingin terus beraktivitas. Siksaan yang sesungguhnya ialah tatkala ia hanya uring-uringan tanpa gerak di pembaringan.

Sadar kegiatan itu semacam terapi mengatasi kebosanan masa tua, Masnun ajak penghuni lain untuk ikut bertanam. Beberapa tertarik membantu, beberapa mencemooh. Setiap kali Masnun bersama Rohana tengah berkutat dengan media tanam dan batang anggrek, dan Ashadi melihat, ia pasti mulai mendekat, pura-pura memperhatikan, dengan harapan diajak bercakap-cakap, tetapi kemudian menggerutu panjang-pendek karena Masnun pura-pura mengganggap lelaki itu tak ada (Masnun enggan meladeninya lagi dan kini justru menjaga jarak karena awal-awal ia pindah kemari, Ashadi berusaha menggodanya, dan Masnun yang tak tahu apa-apa justru dilabrak Indraswari yang cemburu dan mengamuk, menuduh Masnun mau merebut kekasihnya. Masnun nyaris tergelak, dituding ingin merampas lelaki peyot, apa lagi yang hendak diharapkan dari kerentaan? Ia tak butuh asmara masa tua, ia hanya ingin hidup tenang dan bahagia, dan karena itulah ia tak mau terlibat dalam hubungan kasih yang ruwet antara Ashadi si jelalatan dan Indraswari si mulut besar).

***

Sepanjang makan siang, Masnun tak banyak bersuara. Ia kehilangan selera untuk menyantap hidangan. “Nun, Nun, kenapa kamu tak berkebun tadi pagi?” Berkali-kali dipanggil, Masnun akhirnya sadar. Hamidah ternyata telah menghampiri, meletakkan baki makanan, dan duduk di sebelahnya. Sejak tadi, Idah menyapa, tapi Masnun tak menanggapi, pikirannya tengah berlayar menjaring ingatan. Di mana bros anggrek uti? Atau jangan-jangan ada yang mencurinya?

Idah menyuapkan sayur bening bayam ke mulut seraya terus memperhatikan kawannya. “Nun, Nun, kenapa kamu? Sedih?”

Masnun masih membisu.

“Nun, Nun, kenapa kamu sedih? Kamu menyesal ya sudah menjual anggrekmu?”

Masnun terperanjat.

“Kenapa kamu menjual anggrekmu?”

Masnun tidak mengerti dan meminta penjelasan.

“Lho, kamu jangan marah ke aku, Nun. Aku kan hanya tanya. Aku tidak melihatmu di pekarangan belakang pagi tadi. Pot-pot anggrekmu yang sedang mekar juga tak ada, kupikir kau pergi ke pasar untuk menjualnya.”

Masnun bangkit, meninggalkan Idah yang terperangah tidak mengerti mengapa Masnun marah padanya. Ia tak enak hati dan jadi kehilangan nafsu makan.

Sesampai di taman belakang, Masnun tak lagi menemukan tiga pot anggrek uti. Pondokan teduh tempat anggrek itu biasanya bertengger kosong melompong. Ke mana kembang kupu-kupu itu raib?

“Aku pikir kamu membawanya ke pasar,” kata Idah yang menyusulnya.

Di pekarangan itu, seperti anak kecil kehilangan mainan, Masnun menangis sampai terduduk, membuat dasternya kotor oleh tanah. Idah merangkulnya dan menuntunnya ke bangku taman sembari membersihkan bercak tanah di pakaian Masnun. Tapi amarah Masnun masih tegak. Ia curiga semua ini ulah Ashadi! Ia bangkit dan hendak mendamprat si lelaki jelalatan.

Belum tiba di kamar Ashadi, di selasar ia berpapasan dengan Rohana yang tengah menghitung lembaran uang lima puluh ribuan. Masnun tertegun. Sekejap kemudian pandangannya gelap, ia muntab, ia menghardik-hardik Rohana yang seketika terperanjat menyaksikan Masnun yang selama ini dikenalnya santun berubah menjadi berangasan. Dirampasnya uang dari tangan Rohana dengan kasar. Rohana panik dan dengan terbata-bata meminta Masnun tenang sehingga dia dapat menerangkan, tetapi Masnun tak memberikan kesempatan, malah kemudian ia dorong tubuh Rohana hingga perempuan itu jatuh terjengkang. Rohana terkaing-kaing kesakitan.

Masnun tak menyangka kawan baiknya justru berkhianat demi uang.

Di kamar, ia tersenggut-senggut, ia kecewa mendapati tak ada orang-orang baik di dunia ini. “Pasti si Rohana juga yang sudah mencuri bros anggrekku itu!” tuduhnya. “Awas saja kamu!” Ia buka genggaman tangannya, uang kertas itu telah renyuk. Masnun buang gumpalan uang itu. Ia tak lagi rela tinggal di rumah jompo, tinggal bersama orang-orang tua busuk yang rusak kelakuannya. Aku harus kabur dan keluar dari sini, pikirnya.

Masnun berhenti memasukkan pakaian ke dalam tas saat mendengar repetan Indraswari yang meluap-luap. Ia menjenguk lewat jendela kamar yang terbentang. Indraswari mengamuk sambil memukul-mukulkan gagang sapu ke punggung seorang lelaki. “Kurang ajar kamu! Ini aku pacarmu! Aku yang suruh kamu angkut dan jual anggrek itu, tapi malah kamu berikan uangnya pada si Rohana! Siapa Rohana itu? Pacar barumu! Awas kau ya! Awas kau ya!”

Ashadi! Indraswari!

Masnun tecengang.

Dan, Masnun makin tercengang saat ia berbalik ke belakang. Di tembok, tergantung blus yang ia kenakan pagi tadi dan di bagian dadanya masih melekat bros anggrek uti. Ia tak ingat telah bersalin pakaian!

Mata Masnun memerah.

“Rohana! Rohana!”

Bersamaan dengan teriakan Masnun, suara sirine ambulans terdengar meraung-raung memasuki pelataran Rumah Kasih.

 Lubuklinggau, Oktober 2021

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »