Dongeng Singkat dalam Bahasa Indonesia - Beri Hanna

KONTRIBUTOR 9/18/2022

Dongeng Singkat dalam Bahasa Indonesia

Beri Hanna

 


Bertahun-tahun yang lalu, di sebuah hutan pinus pada sore berhujan, Amanda dibunuh Mario—yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Waktu itu Nikolai masih kanak-kanak. Ia diberi tugas menjaga rumah sementara papa dan mamanya pergi ke suatu tempat yang dirahasiakan. Sebagai anak, Nikolai patuh berdiam di rumah hingga tertidur; bahkan tidak tahu Mario pulang sendirian. Amanda yang telah mati, hidup lagi lalu berjalan pulang; mengetuk pintu rumah dengan wajah pucat dan tubuh sedingin es. “Aku tertidur panjang di luar sana,” kata Amanda malam itu. “Mana Nikolai?” tanyanya. 

Mario bergeming dengan jantung yang berdebar. Tanpa ada hal lain yang ingin disampaikan, Amanda beranjak ke kamar dan tertidur di ranjang. Di dalam tidur itu ia bermimpi: suaminya, telah membunuhnya sore hari sebelumnya.

            “Itu mimpi paling buruk yang pernah singgah dalam hidupku,” kata Amanda, di meja makan saat berdua dengan Mario.

            Bukan sebuah keajaiban bila Amanda dapat hidup lagi karena Mario yakin betul, bisikan yang didengar olehnya untuk membunuh si istri, adalah suara Tuhan yang mengatakan: Amanda tidak akan mati meski luka tikam di tubuhnya mengalir darah. Tetapi, yang merupakan keajaiban bagi Mario ialah kepulangan Amanda dalam waktu semalam. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Amanda menyeret kaki dengan betis kecilnya di sepanjang jalan dari hutan pinus yang bahkan ia sendiri lupa di mana.

            “Aku hanya berjalan dan sampai di rumah,” tutur Amanda. “Seperti dari taman belakang rumah. Mana Nikolai?”

            Mario ingin menjawab Nikolai sedang bermain dengan teman-temannya. Tetapi suaranya tidak keluar karena masih takjub seolah anak kecil yang terkesan akan sesuatu peristiwa. Karena masih tidak percaya dengan yang terjadi, Mario bahkan lupa dengan gelas berisi racun yang sedang digenggamnya. Ia sudah menyiapkan kematian untuk dirinya sendiri dengan cara menenggak racun lewat anggur paling luhur. 

Amanda yang melihat suaminya bersikap aneh, berusaha mencairkan suasana dengan meminta setenggak anggur luhur. Mario bingung dan merasa takut telah memberi gelas yang keliru. Di sore panas itu, sebelum Nikolai pulang dari bertualang menjelajah jalan sesuai imajinasi bersama teman-temannya, Amanda telah mati untuk kedua kali.

            Mario duduk menunggu si istri bangkit dan berteriak bahwa ia lagi-lagi tertidur. Tetapi, sejak saat itu si istri tidak pernah bangkit. Sampai Nikolai pulang dan mendapati tubuh mamanya telah dingin, ia menangis berhari-hari sampai tubuh mamanya membusuk seperti bangkai, dikerumuni lalat-lalat yang berdengung. 

Tengah malam berikutnya ketika orang-orang kampung hendak tidur, bau busuk mengganggu dan mereka baru menyadari suatu hal akan keganjilan di kampung; bau bangkai belakangan telah mendatangkan ratusan hingga ribuan lalat, melengkapi suara tangisan Nikolai tiada henti. 

Satu per satu orang-orang berkumpul dan berbisik-bisik di rumah Mario untuk memindahkan mayat Amanda ke dalam peti. Sementara itu Mario masih duduk menunggu—tanpa berbuat sesuatu—si istri kembali hidup dan berteriak bahwa ia hanya tertidur. Mario sudah membayangkan itu terjadi sejak Amanda menenggak anggur luhur. Tetapi, sampai ketika peti dimasukkan ke dalam tanah, bayangannya tentang kebangkitan Amanda tidak terjadi untuk kali ini.

            “Tuhan tidak datang dua kali,” gumam Mario di suatu subuh ketika ia masih duduk menunggu dengan tubuh yang telah mengurus. Itulah kali pertama ia berbicara.

            Dari jendela kamar yang menghadap ke kursi tempat Mario menunggu, Nikolai yang akhirnya ikhlas setelah bertahun-tahun kepergian mamanya serta pasrah menghadapi laki-laki tua yang memilih jadi bisu, akhirnya terkejut, merasa seperti sedang bermimpi. 

Nikolai bangkit dan melihat kebodohan Mario yang menghabiskan waktu untuk sesuatu yang sia-sia. Ia telah menghitung berapa lama dan, melihat kebodohan terus membuat tubuh Mario semakin kurus seperti tiang-tiang rumah tak terawat yang digerogoti rayap. Saat dirasanya tiang itu akan roboh, seperti pula tubuh Mario yang semakin rentan, ia beranjak dan mendekati Mario.

            “Apa yang kau katakan tadi, Papa?” 

Mario Kembali diam dengan matanya menyimpan kosong abadi atau serupa warna gelap tak berujung.

“Apa kau sudah gila, Papa?”

Mario bergumam dengan terbata-bata, hampir tidak terdengar.

“Kau sudah terlalu tua untuk tidak tidur, Papa. Harusnya sejak dulu kau tidur.”

            Mario berdiri seperti tidak memiliki mata. Ia menatap ke sekeliling seolah semua yang dilihatnya begitu gelap. Ia dituntun untuk beranjak ke kamar dan merebahkan tubuhnya, setelah perjalanan penantian panjang yang dirasa cukup. 

Mario pura-pura tidur sampai memastikan Nikolai tertidur di kamar berebeda. Saat itulah Nikolai bermimpi, ketika tidak ada suara-suara kehidupan manusia, Mario mendapatkan kembali penglihatannya. 

Diam-diam Mario melangkah ke makam. Menyenteri satu per satu gundukan tanah dan memastikan kuburan Amanda. Dengan peralatan seadanya, Mario menggali kuburan istrinya dengan sisa tenaga dari tubuh tuanya. Hingga matahari meninggi di langit, Mario berteriak senang, “Sudah kuduga! Kau masih hidup,” katanya kepada Amanda yang lemah dan bersusah payah bernapas.

            “Apa-apaan ini?”

            “Ini hanya kekeliruan,” kata Mario sambil memeluk Amanda.

            Kejadian itu terjadi bertahun-tahun lalu, ketika Mario mendengar bisikan Tuhan lewat sore sunyi yang berdebu. Waktu itu Nikolai masih bermimpi menjelajahi jalan-jalan desa dengan membawa tongkat kayu sebagai senjata imajinatif. Bersama temannya, Nikolai menembak burung-burung di pohon dan orang-orang jahat di jalanan. 

            “Sudah sore,” kata teman Nikolai. “Ayo kita pulang!”

            “Nanti dulu,” pinta Nikolai.

            “Kenapa lagi? Sudah hampir gelap. Nanti kita dimarahi!”

            “Lebih baik dimarahi daripada kita biarkan orang-orang jahat berkeliaran.”

            “Orang jahat seperti apa yang kau cari, Nikolai?”

            Nikolai diam memandang langit. Ia arahkan senapannya ke awan sambil matanya memejam satu seperti membidik sesuatu. 

Seperti papaku, katanya kepada temannya dengan suara datar serta lugu. Teman Nikolai sontak bertanya mengapa Nikolai berkata demikian. Nikolai pun menjawab karena memang papanya jahat sudah pernah membunuh mamanya atas perintah Tuhan.

            “Nikolai, papamu tidak jahat. Tuhan-lah yang jahat karena meminta papamu melakukan itu. Ayo kita tembak Tuhan sebelum malam.”

            “Itu tidak mungkin,” kata Nikolai.

            “Mengapa?”

            Nikolai diam tidak menjawab. Ia menatap mata temannya. Lalu teman Nikolai yang sudah gelisah hendak pulang, bertanya cepat apa yang mungkin mereka lakukan saat itu. Nikolai menjawab menembak papanya. Mereka sepakat dan menjelang gelap, mereka berangkat ke rumah Nikolai. Begitu ada di depan rumah, Nikolai langsung menodongkan senjata ke Mario.

            “Mampus kau penjahat!” teriak Nikolai sambil menggerak-gerakkan tongkat dan meniru bunyi ledakan dari mulutnya.

            “Nikolai, tidak begitu caranya,” kata teman Nikolai. Ia maju dan menodongkan pistol lalu meledakkannya begitu saja.

Tidak ada yang terjadi saat Nikolai bangun dari tidur dengan jantung yang hampir putus. Ia menyesal tidak memastikan Mario mati di dalam mimpi buruk yang terasa nyata baginya. Tidak ada yang lebih buruk dari itu meski ia juga pernah berkeyakinan tidak percaya adanya Tuhan. Suatu ketika jika pun Tuhan memang ada, bagi Nikolai itu tak berarti hidupnya akan terpengaruh oleh mukjizatnya. 

Nikolai pernah berdoa saat tersesat di dalam hutan, ditinggal oleh teman-temannya. Namun, alih-alih ia mendapat petunjuk, justru pikirannya sendirilah yang menuntun menemukan jalan keluar dari arah sungai mengalir. 

“Teman-teman kampret,” desis Nikolai begitu keluar dari hutan. Sejak saat itu ia yakin, Tuhan tidak ada di dalam hutan. Begitu juga di tempat-tempat lain, karena tak sekali ia pernah melihat wujud Tuhan, bahkan ketika ia membutuhkannya. “Tentu saja Tuhan tidak akan membunuh papa kecuali kulakukan sendiri,” desis Nikolai.

Ketika Nikolai melihat Mario membawa Amanda pulang, menjamunya dengan wine dan roti bakar selai kacang, Nikolai diam-diam mengawini istri Mario hanya untuk membuktikan bahwa dia manusia biasa seperti sebelum dia dikuburkan.

            “Kau pikir aku setan, anak kurang ajar! Mau dikutuk?!”

            “Kutuklah, Mama. Kutuklah aku seperti suamimu mengutukmu untuk mati tapi tidak terjadi!”

            Amanda marah dan menampar Nikolai saat itu. “Berapa usiamu sekarang, Nikolai? Merasa sudah bisa jadi pembangkang?!” teriak Amanda. 

Beberapa hari setelah itu, ketika Nikolai tertidur dan tidak pernah berpikir bahwa ia tidak akan bangkit lagi, Mario telah mengendarai mobil bersama Amanda. Di sepanjang jalan ke luar dari hutan pinus mereka bercanda seperti pasangan yang baru dipertemukan. Mereka bersumpah mengikat cinta, sehidup semati, apa pun yang terjadi.

            “Apakah dia akan datang nanti malam?” tanya Amanda dengan nada cemas.

            “Tidak ada yang tahu, Sayang.”

            “Kalau dia datang seperti aku dulu?”

            “Aku tembak kepalanya.”

            “Hus.”

            “Supaya dia tidak memperkosa kamu lagi!”***

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »