Aku Ayahmu dan Kau Anakku - Nurillah Achmad

KONTRIBUTOR 1/08/2023

Aku Ayahmu dan Kau Anakku

Nurillah Achmad



Tak mengapa, air mataku surut oleh usia yang parau. Namun setidaknya, kapal yang kutumpangi menepi di daratan, dan tak lagi berada di laut lepas di antara takdir yang retas. Bahkan Sangkal yang sesekali melempar pandang ke arah buih laut tak berujung, memandang gusar.

   Sejak kapal tersapu angin hingga keluar jalur berlayar, sampai-sampai kehabisan bahan bakar sejak lima hari lalu, ia tak segundah sekarang. Dari sorot matanya yang tajam, aku tahu ia hendak menyampaikan apa-apa yang menjadi keresahan orang-orang. Namun aku tak mengindahkan bahasa tubuhnya itu, dan terus meronta guna merebut ransel kusam.

   “Lepaslah apa-apa yang mesti kau lepas,” katanya. “Tak baik terus-menerus menyimpan sembilu.”

   Tak aku gubris ucapan lelaki yang terpaut lima tahun ini. Biarlah dia terus mengoceh tentang apa-apa yang ia ingin utarakan, dan aku akan melakukan apa-apa yang sepatutnya kulakukan.

   Terlebih matahari berada di garis lurus kepala. Entah ke mana angin membawa kapal ini menepi, aku pasrah pada Lah Ta’ala. Bahkan aku tidak tahu, apakah kapal yang kutumpangi tengah menuju Bali, Muncar, Lombok atau justru tersesat dan terbawa ke tanah leluhur di Sulawesi sana. Seluruh pengetahuanku tentang membaca arah alam telah luruh bersama isi ransel yang mereka rebut dari pangkuan.

   “Bahkan aku tidak tahu, di mana letak kampung kita yang tengah kisruh itu,” kata Sangkal lagi. Kali ini, ia menatap tajam. Sembari memungut sebatang rokok klobotnya yang terakhir, ia cerita kalau ibunya tengah sakit di Pagerungan Kecil.

   Barangkali di ujung laut itulah, letak Pagerungan Kecil berada. Pulau yang kami huni sejak buyut kami menetap di sana. Saat kecil dulu, aku dan Sangkal kerap menyisiri selatan Pagerungan Kecil pada pagi hari. Saat laut masih tenang, dan angin sepoi-sepoi menyapa deretan pohon kelapa, samar-samar Pulau Bali tampak dari penglihatan kanak-kanak kami yang berdiri di ujung dermaga.

   “Kau tak rindu Hayati, Sam?”

   Mendengarnya begitu, aku ingin menerjang Sangkal kuat-kuat. Tapi mendadak aku tak kuasa menahan linang air mata. Sejenak aku teringat perempuan yang aku nikahi dua puluh lima tahun silam—yang paling gigih menolak keberangkatanku ke Jangkar.

***

   “Tidakkah kau lihat anak kita dikurung dalam tahanan, dan kau tetap menyeberang?” kata Hayati sembari menuding-nuding. Kubiarkan ia mengeluarkan amuk serapah. Keteguhanku pergi ke Jangkar takkan berubah.

   “Apa yang hendak kau temui di sana? Kau hendak lihat tulang-belulang?” ujarnya lagi.

   Justru karena telah tinggal tulang, aku ingin menepati janji, batinku. Aku kira, dua puluh lima tahun bersama, ia memahami seluk beluk suaminya. Nyatanya aku keliru. Hayati tak paham, betapa Jangkar adalah aroma hujan yang selalu turun dalam usiaku yang kian kemarau.

   “Esok aku ke Sumenep. Kapal yang menyeberang ke Jangkar juga esok pagi. Terserah engkau memilih yang mana.”

   Ketika Hayati berujar begitu, keteguhanku mulai goyah. Keinginanku menyambangi Jangkar dan kekhawatiranku soal Randu yang dibawa petugas, seolah tanda seru yang dikirim Tuhan agar aku berhati-hati menentukan pilihan. Lekas-lekas aku mengajak Sangkal menemui kepala desa. Padanya kutanyakan soal perbuatan Randu.

   Untunglah lelaki itu membentangkan harap. Ia berujar akan membantuku melepaskan Randu dari jerat hukum. Akhir-akhir ini, suasana Pagerungan Kecil mulai memanas. Sebagian warga dan kepala desa, bersama-sama mendesak pemerintah memperhatikan kami. Terlebih kami teramat jauh dari pusat kota Sumenep padahal secara jarak, kami lebih dekat dengan Situbondo dan Bali.

   Belum lagi pemasok gas terbesar di provinsi dikeruk dari Pagerungan, tapi kami hanya menikmati listrik sejam sehari. Randu yang ikut dalam konvoi barangkali terbawa emosi sampai-sampai melakukan pengrusakan dan diamankan petugas. Bukan aku tak memahami perasaan Hayati. Selaku ibu yang mengandung dan melahirkan, tentu ia merisaukan keberadaan Randu. Tapi aku mesti pergi ke Jangkar.

Keesokan harinya, saat kami sama-sama berada di pelabuhan, Hayati tak berujar sepatah kata. Ia terus melangkah menaiki kapal feri yang akan membawanya ke Sapeken guna menyeberang ke Kangean, dan menyeberang kembali ke Kalianget. Ia tak membalikkan badan barang sedetik pun padahal aku menunggu di tepi dermaga.

Aku terpaksa mendongak pada langit. Pada semesta aku sebut namanya sebab perjalanan Hayati menuju Sumenep, jauh lebih lama daripada perjalananku menuju Jangkar, Situbondo.

“Tak hendak istirahat dulu, Kak?” kata seorang pemuda yang menurunkan kelapa saat kapal bersandar di Jangkar.

Aku tersenyum padanya. Kira-kira, usianya tak jauh beda denganku saat dulu pertama kali menyeberang bersama Sangkal dari Pagerungan Kecil, membawa kelapa-kelapa ke Situbondo untuk ditukar dengan sembako lalu dibawa pulang ke Pagerungan.

“Kami ke selatan dulu,” sahutku.

Aku tak bisa berleha-leha. Jarak yang makin dekat dengan rumah-rumah nelayan membuatku tak tenang.

Bagiku, Jangkar bukan sekadar pelabuhan. Bagiku, Jangkar adalah separuh ruh yang belum bersatu dengan tubuh. Dulu, setahun sebelum aku menikahi Hayati, saat aku dan Sangkal tengah menikmati alunan musik dari radio yang sinyalnya tertangkap dari Situbondo, sementara kelapa-kelapa yang aku bawa dari Pagerungan Kecil ratusan jumlahnya, mendadak kapal hilang kendali. Ombak menghantam seluruh lekuk tubuh. Seluruh isi kapal terburai. Beruntunglah sebuah sampan tengah melintas dan menyelamatkan aku dan Sangkal.

Lelaki pemilik sampan yang menangkap ikan bersama sang anak membawa kami ke rumahnya. Di sanalah aku dan Sangkal tinggal sementara waktu. Di sana pula aku mendapati cerita getir kalau istri lelaki itu baru meninggal, dan terpaksa melaut bersama anaknya yang masih berusia sembilan tahun.

Sepekan usai tenggelamnya kapal yang aku tumpangi dan bersamaan dengan jadwal kapal berangkat ke Sapeken, Sangkal mengajak pulang. Aku bergeming. Lelaki yang menolong kami tengah sakit. Aku meminta Sangkal saja yang kembali sementara aku ingin berbalas budi.

Kawanku itu setuju. Ia balik ke Pagerungan sementara aku di Jangkar. Agaknya, keputusanku direstui semesta. Malam saat Sangkal balik, lelaki yang menolongku itu kejang-kejang. Rindi, anaknya, kalang-kabut menyebut nama bapaknya. Aku tak kalah takut saat keluar rumah, berteriak meminta tolong pada orang-orang, dan tak lama kemudian, lelaki itu meninggal.

“Kau tak mau balik ke Pagerungan?” kata Sangkal kala kembali. “Bagaimana dengan Hayati? Ia bakal marah melihatmu begini.”

“Untuk itu aku butuh bantuanmu, Sangkal. Jelaskan pada Hayati apa-apa yang terjadi. Kau lihat sendiri, anak ini tak mau lepas dari pangkuanku. Kalau bukan aku, siapa yang mau merawat?”

Sangkal bersikukuh tak mau bantu. Ia menginginkan aku membawa Rindi ke Pagerungan Kecil alih-alih menetap di Jangkar.

“Ayah ibunya di tanah ini. Tak mungkin aku memisahkan anak dan orang tuanya.”

“Kau gila, Sam. Gila!” katanya. “Anak orang kau asuh, tapi tunangan sendiri kau lepas.”

“Aku tak melepas Hayati. Kalau dia memang memahami, aku yakin dia pasti menunggu. Beri aku waktu, barangkali anak ini bisa aku bawa ke Pagerungan sebagaimana saranmu.”

Akhirnya, Sangkal luluh. Ia kembali ke Pagerungan Kecil sementara aku merawat Rindi. Sesekali aku bercerita pada Rindi tentang keindahan Pagerungan Kecil. Salah satu pulau di Madura yang masyarakatnya sebagian besar Suku Bajo.

“Kau mau ke Sulawesi?” tanyaku suatu malam. “Aku ingin melihat tanah leluhurku yang berlayar sampai Pagerungan.”

Rindi menggeleng. Justru dia mendekapku seraya berkata, “Aku tak ingin ke mana-mana. Aku hanya ingin dekat denganmu, Ayah.”

Aku tak kuasa menitikkan air mata saat mendengar Rindi memanggilku ayah. Aku berjanji akan membawanya ke mana pun aku pergi. Sialnya, itu sekadar janji. Berbulan-bulan kami hidup bersama, mendadak Rindi sakit serupa sakit bapaknya. Demam, kejang-kejang. Aku gelagapan meminta pertolongan, tapi Rindi tak berhasil diselamatkan.

“Di sana jalannya, Sam,” seru Sangkal kala melihatku tak banyak bicara di sepanjang langkah.

Ah, Sangkal. Kalau bukan kawanku ini, aku tak bakal tahu kalau makam Rindi akan digusur. Dua Minggu lalu, saat ke Situbondo, ia mendengar kabar kalau ada proyek pelebaran jalan dan sebagian rumah, makam serta bangunan mesti digusur.

Kami terus berjalan melewati deretan rumah yang tak lagi tampak menjemur ikan. Agaknya, orang-orang telah beralih lahan. Terik matahari terasa menyengat saat aku melewati jalan setapak. Tampak beberapa kendaraan berjejer mengantre. Sontak aku bergegas menuju area bukit dan betapa terjengkangnya aku kala mendapati apa yang tersaji di depan mata. Pohon kamboja yang dulu aku tanam di ujung nisan, baru saja tumbang. Bahkan sebagian kecil makam Rindi telah dikeruk.

“Biarkan saya ke sana,” kataku pada mandor. Lelaki berhelm kuning itu menolak. Ia memintaku menjauh lantaran tak baik berada di dekat alat berat.

“Saya ingin melihat makam anak saya,” kataku. Namun mandor itu tak menggubris.

“Bapak punya anak di rumah, bukan?” kali ini, si mandor terdiam. Ia manatapku yang mulai berkaca-kaca. “Biarkan saya membawanya pulang.”

Lelaki itu meminta pengemudi beckhoe berhenti. Ia membiarkan aku dan Sangkal mendekati area makam. Aku percaya, tak ada seorang ayah yang bisa melupakan letak makam anaknya. Meski dua puluh lima tahun tak berjumpa, aku masih hafal makam Rindi berada. Di sana, di bawah ilalang setinggi lutut, dan nama di nisan telah pudar oleh usia, aku tersedu-sedu.

Sangkal mengingatkan kalau waktu yang aku punya tak begitu banyak. Segera aku menggali makam Rindi menggunakan tongkang besi yang aku pinjam dari mandor tadi. Ah, Rindi, anakku. Maafkan aku kembali dalam keadaan begini.

Aku berusaha menguatkan diri saat kain kafan yang tak termakan tanah tampak dari permukaan. Segera aku pungut kain yang menyisakan tulang belulang anakku itu. Kukeluarkan sarung dari ransel kusam, aku bungkus menggunakan sarung, lalu kubawa ke Pagerungan Kecil untuk dikubur di sana.

***

“Lepaslah apa-apa yang mesti kau lepas,” kata Sangkal lagi. “Tak baik terus-menerus menyimpan sembilu.”

Aku tahu, orang-orang menginginkan hal yang sama. Mereka percaya, apa yang ada dalam tas ini menjadi musabab kapal kehilangan arah. Lima hari kapal yang aku tumpangi berjalan tak tentu arah. Salah seorang berinisiatif menggeledah isi tas penumpang. Ia yakin, ada barang bawaan yang menjadi sebab kapal tak tak bisa menepi berhari-hari.

Saat seluruh penumpang selesai digeledah, dan tersisa tas yang terus-menerus kudekap, aku duduk tersudut di dek atas. Aku menolak menyerahkan tas ini. Tak mungkin aku menyerahkan tulang-belulang Rindi. Tapi tiga penumpang memegangi tubuhku dan satu orang lagi merampas ransel. Sontak aku meraung-raung menyebut nama Rindi.

“Kembalikan tas itu! Kembalikan!” teriakku.

“Kita bukan umat Nabi Yunus yang memintamu terjun ke laut. Kita hanya memintamu melarung tulang-belulang Rindi. Itu saja, Sam,” kata Sangkal.

Makin Sangkal berujar begitu, aku makin meronta-ronta. Biar bagaimanapun, Rindi anakku, dan aku ayahnya. Telah cukup dua puluh lima tahun aku terpenjara sepi lantaran tak menepati janji. Telah cukup dua puluh lima tahun aku menghargai perasaan Hayati selaku istri. Kini, aku akan tepati janji seorang ayah pada anaknya. Akan aku bawa tas ini ke mana pun kaki pergi, meski Rindi telah tinggal tulang belulang.

“Lepaskan, Sam, lepaskan tulang belulang Rindi ke lautan. Dia tetap anakmu dan kau tetap ayahnya.”

“Aku takkan mengikuti perintahmu!”

Sangkal mendekat dan berbisik di telinga, “Leluhur kita pelaut ulung, Sam. Mestinya kau paham, kalau hakikat kebersamaan letaknya itu di hati, bukan kedekatan badan apalagi jarak yang memisahkan.”

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »