Merantau Cino - Sunlie Thomas Alexander

KONTRIBUTOR 1/22/2023

Merantau Cino

Sunlie Thomas Alexander


 

AKU tercenung menatap isi paket Mama. Sebetulnya tanpa membukanya pun aku sudah bisa memastikan apa isinya. Karena begitulah setiap tahun. Tentu, selain kemplang dan getas yang merupakan produk asli kampungku, beragam kue kering dalam toples-toples plastik bening itu dengan mudah bisa kuperoleh di toko dan supermarket.

Sudah berkali-kali kukatakan pada Mama, agar jangan lagi mengirimi kami kue-kue kering. Buat apa ia menghabiskan uang membeli kue-kue yang tak murah itu, toh kami bisa membeli sendiri kalau mau. Tetapi setiap tahun menjelang Ko Ngian1, lagi-lagi Mama—yang tidak membantah tapi juga tidak mengiyakan—kembali mengirimkannya. Seolah-olah ia takut kami akan merayakan Tahun Baru China tanpa penganan, bahkan seakan takut kami lupa merayakannya!

Mungkin bakal lain ceritanya jika kue-kue di hadapanku ini bukanlah kue toko. Namun sudah tiga tahun ini ibuku nyaris tidak lagi turun ke dapur. “Maaf Hiung, tak tahan lagi Mama berlama-lama di muka tungku,” demikian katanya tiga tahun silam saat pertama kali mengirimiku kue toko. Ketika itu aku hanya tertawa kecil.

Akhirnya aku meraih salah satu toples berisi kue sempret dan memperhatikannya. Kue-kue itu sesaat tampak mengundang. Tetapi entahlah, aku merasa tidak berselera. Ya, lain halnya dengan sempret bikinan Mama sendiri, yang hanya membayangkannya saja sudah menerbitkan air liurku. Tentu saja aku tidak cuma kangen pada kue-kue buatan Mama, tetapi juga pada beliau. Bayangkan, lima tahun sudah kami—ibu dan anak—tidak bersua. Kendati tiga minggu atau paling tidak sebulan sekali, kami selalu saling berkabar lewat telepon dan video call.

Adakah aku sudah menjadi anak durhaka? Entahlah. Yang pasti bukanlah kemauanku tidak pulang menjenguk ibuku. Minimal setahun sekali pada hari raya. Persoalannya, aku selalu tidak punya cukup uang. Ya, ini sebuah masalah klise. Dengan gaji papasan sebagai karyawan percetakan, setiap bulan aku selalu ngos-ngosan menghidupi keluargaku dengan tiga orang anak. Seringkali harus “gali lubang-tutup lubang dengan berhutang ke sana-kemari. Dan kau tahu, menjelang Ko Ngian, bukan saja semua kebutuhan pokok dipastikan melonjak, tetapi tiket pesawat juga tiba-tiba nyaris tidak terjangkau.

“Kenapa tidak pulang pada hari biasa?” usul Beni, tetanggaku. Aku tertawa mendengar usulan itu. Memangnya kapan aku punya waktu kalau bukan pada hari raya? Batinku keki. Lagi pula, Pak Alex tampaknya belum puas kalau belum melempariku dengan setumpuk pekerjaan. Bahkan kerapkali terpaksa aku menginap di percetakan untuk menyelesaikan layout buku-majalah atau desain leaflet sialan itu. Ai, kalau saja tidak merasa berhutang budi karena ia membantu biaya operasi cesar istriku saat melahirkan si bungsu, rasanya aku ingin keluar saja dan mencari pekerjaan yang lebih manusiawi. Jujur, aku sering merasa iri dengan Beni yang setiap lebaran bisa memboyong seluruh keluarganya mudik ke Bukit Tinggi.

Ah, seraya termangu menatap toples-toples kue kiriman Mama, tiba-tiba aku terkenang pada sebuah ungkapan orang Minang: Merantau Cino. Dan itu sungguh menohok, tepat menghujam ke dadaku dan menimbulkan rasa nyeri yang menjalar ke sekujur badan.

***

ADALAH Toni, temanku dari Solok yang sehari-hari bekerja sebagai tukang reparasi arloji di emperan toko pakaian ayahku, yang dulu mengenalkanku pada ungkapan ini; bertahun-tahun yang lewat sebelum aku merantau ke Jawa untuk melanjutkan kuliah.

Syahdan, begitulah olok-olok di kampung halamannya bagi para perantau yang tak kunjung pulang. “Ibarat bangau lupa pada kubangan, bagai kapal tak lagi berbalik haluan. Ya seperti kakekmu itulah,” katanya sok puitis dengan raut muka seperti meringis. Kala itu aku cuma tersenyum mafhum. Ah, tidakkah ia sendiri yang terkenang pada seorang gadis nan rancak menunggu di tepian? Pikirku geli. Maklumlah, tiga tahun sudah ia tidak pulang kampung saat itu. Entah apa alasannya. Karena kukira uang bukanlah masalah yang terlalu ruwet buat seorang bujangan seperti dirinya. Apalagi dari pengamatanku, reparasi arlojinya juga cukup laris. Lagi pula Bangka ke Sumatera Barat bukan jarak yang terlampau jauh: ia tinggal naik bus ke Muntok dan menumpang kapal cepat ke Boom Baru, lalu dari Palembang meneruskan perjalanan darat ke kampung halamannya. Jadi aneh rasanya bagiku kalau ia tidak punya ongkos untuk pulang kampung setahun sekali dan lebih memilih menghabiskan hari-hari lebaran di kontrakannya berteman gitar tua dan novel stensilan.

Namun kepenasaranku itu baru terjawab suatu hari ketika Dedek, adik laki-lakinya datang. Bukan dari kampung, tetapi dari Jambi. Seperti Toni, Dedek juga putus sekolah. Hanya sampai kelas dua STM. Oleh Toni, ia kemudian dimodali berjualan pakaian bekas di muka pasar ikan.

            “Aku sudah tiga tahun di Jambi ikut kakak sepupuku,” katanya setelah kami cukup akrab. “Sekarang di kampung cuma tinggal ibu kami. Ayah kami sudah sepuluh tahun tak pulang sejak merantau ke Malaysia. Uda Toni marah sekali waktu ibu menikah lagi.”

Aku cuma manggut-manggut mendengar ceritanya. Kendati kami berteman begitu karib, Toni orangnya memang rada tertutup jika menyangkut persoalan keluarganya. Ia hanya pernah bercerita kalau adik perempuannya menikah muda dengan orang Riau. Itu saja. Selebihnya dan sebaliknya, ia bisa berceloteh panjang lebar tentang kawan-kawannya dan mantan-mantan pacarnya.

            Bagaimana kabar temanku yang satu itu? Belasan tahun sudah kami tidak saling berkabar. Apakah kini ia masih menetap di kota kecilku? Sebab kudengar terakhir kali dari seorang kawan lain, Toni telah menikah dengan seorang gadis Belinyu. Ya, setelah Dedek meninggal muda akibat serangan tipus, dua tahun selepas aku merantau. Tanpa sadar mataku terasa panas. Ai, malang nian nasib kawanku itu. Alangkah celaka badan mesti berkubur di tanah jauh. Hm, barangkali nasibnya tidaklah jauh berbeda dengan kakekku.

***

NAMUN kukira ungkapan “Merantau Cino” tak sepenuhnya tepat-sepadan sebagai umpama, sebagai amsal. Sebab—seperti yang pernah kudengar dari Kakek—sesungguhnya sejauh apapun mereka pergi, orang China selalu teguh membawa prinsip “luo ye gue gen2 yang artinya “daun jatuh kembali ke akar”.

“Betapa durhakanya mereka mengabaikan orangtua dan sanak-keluarga, betapa kualatnya mereka yang melupakan makam leluhur!” begitulah tradisi Konghu Cu yang diwarisi secara turun-temurun.

“Itu sebabnya waktu heboh-heboh soal dwi-kewarganegaraan dulu lebih banyak orang kita yang memilih tetap bersetia pada China,” kata kakekku berkaca-kaca. Tentu aku tak banyak tahu soal itu. Peristiwa itu sudah begitu lama, jauh sebelum aku lahir. Tetapi yang aku tahu, setiap hari raya Chin Min3, Chit Ngiat Pan4, atau Ko Ngian, tak pernah lalai Akung—begitulah aku memanggil beliau—membakar dupa untuk nenek buyutku yang dimakamkan nun jauh di Guangdong, China Daratan sana. Kurasa sampai akhir hayatnya, beliau tak pernah sanggup melupakan kampung halamannya di Jiaying Zhou. Akung baru berumur 12 tahun ketika kapal uap Jerman membawa ia dan kakek buyutku berlayar dari Swatow menuju Muntok.

“Itu bulan lima tahun 1937, dua bulan sebelum terjadi Insiden Jembatan Marco Polo,” kenangnya. Hanyalah sekali ia pernah pulang, yakni saat melamar nenekku.

“Tapi nyaris saja kita sekeluarga kembali ke China tahun 60-an,” timpal ayahku lalu menjelaskan tentang PP 10 tahun 1959 yang melarang orang-orang China asing berdagang di wilayah kecamatan dan desa-desa.

“Katanya itu demi menyelamatkan perekonomian Indonesia,” Akung terkekeh lalu menghisap rokok kreteknya.

            Papa dan semua paman-bibiku kemudian menjadi WNI pada tahun 1980. Segalanya mendadak dipermudah saat itu, terutama bagi mereka yang dilahirkan di Indonesia. Tetapi dengan syarat: mereka harus memilih pohon beringin saat pemilu. Toh, Akung tetap bertahan dengan KTP merahnya yang bertuliskan Warga Negara Asing. Walau sebagai konsekuensinya, ia tak ubahnya seperti katak dalam tempurung. Tidak bisa ke mana-mana, tidak bisa membuat paspor, harus membayar pajak usaha dua kali lipat, tidak bisa membeli rumah atas nama sendiri, dan mesti melaporkan diri secara rutin.

Dan di Tahun Baru China kali itu, dalam usia hampir 80 tahun, tak sengaja kutangkap setitik air matanya bergulir jatuh saat membakar kimci1 di pekarangan selepas sembahyang Sam Sip Am Pu2. Ah, bergegas disekanya pipinya yang keriput saat ibuku melangkah keluar dari dalam rumah.

***

YA, sekali lagi kukira tidaklah tepat anggapan bahwa orang China ibarat Malin Kundang yang enggan menoleh ke buritan. Justru sebaliknya, sejauh apapun orang China pergi, takkan sekali-kali mereka melupakan tanah kelahiran, sanak-keluarga, bahkan sebujur makam!

Itulah mengapa, semasa jayanya Akung tak pernah lalai mengirim uang untuk sanak-saudaranya di China, kendati itu hanyalah saudara jauh. Bahkan dikirimnya pula kedua adik laki-lakinya pulang untuk bersekolah. Dan keduanya tak pernah kembali. Yang satu menetap di Chongqing (dulu sering dieja Chungking) dan menjadi dosen pertanian, yang lain menyeberang ke Taiwan bersama pasukan Chiang Kai-sek ketika satu persatu wilayah China mulai jatuh ke tangan Mao.

Papa kemudian menunjukkan padaku selembar kertas usang yang tercetak dalam dua bahasa, China dan Prancis. “Surat Kepulangan” demikian jika diterjemahkan. Ditandatangani di Jakarta, 7 Juni 1960 oleh Duta Besar RRC. Semua nama keluargaku terdaftar di sana. Tertulis: Kapal mereka nantinya akan merapat di Shun Chun.

“Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika kami benar-benar pulang,” kata Papa dengan pandangan sayu. Ah, aku juga tak bisa membayangkannya. Yang jelas jika mereka jadi pulang, aku tak pernah lahir karena Papa bertemu Mama jauh setelah itu. Pemerintah Indonesia kemudian meminta Peking menghentikan himbauan “kembali ke pangkuan pertiwi” dan pengiriman kapal-kapal pengangkut lantaran perekonomian di kota-kota kecil nyaris lumpuh total setelah toko-toko ditinggalkan.

Ya, setiapkali mengenang Akung, aku pun teringat pada ungkapan “Merantau Cino” yang diperkenalkan oleh Toni padaku. Orang China dan orang Minang memang sama-sama perantau ulung. “Di ujung bumi pun bisa kau temukan Rumah Makan Padang dan Restoran China,” demikian katanya sambil membongkar sebuah arloji. Aku tertawa seraya memperhatikan jari-jarinya yang begitu cekatan memainkan obeng kecil.

Konon bagi lelaki Minang, selain mencari harta dan menuntut ilmu, merantau kerap dimaknai sebagai batu ujian dalam melakoni hidup, untuk menempah diri. Begitulah yang kubaca bertahun-tahun kemudian. Karena itu merantau pun seolah menjadi semacam keharusan, jika bukan kewajiban. Inilah bedanya dengan orang China yang bermigrasi karena keterpaksaan!

           “Pilihannya pergi atau mati kelaparan!” kuingat lagi kata Akung. Kekuasaan Dinasti Manchu yang korup, perang saudara nyaris tanpa henti, kegagalan panen, dan ancaman invasi Jepang membuat orang China menyebar ke seluruh dunia dan terus beranak-pinak seperti babi.

Namun jika orang Minang bisa mudik kapan saja selama ada uang, tidak begitu dengan Akung. Ada begitu banyak persoalan, terutama politik, yang membuat mereka akhirnya menjadi perantau abadi di negeri orang dan terpaksa mengubah prinsip “luo ye gui gen” menjadi “luo di seng gen” atau “bibit berakar di tempat jatuh”.

“Ah, sudah berapa lama aku tak berziarah ke kubur beliau?” batinku gundah. Tanpa sadar aku membuka penutup toples di tanganku dan memasukkan sebuah kue semprit ke dalam mulutku lalu mengunyahnya perlahan.

“Lho, kok sudah dimakan kuenya sekarang? Biasanya tidak suka?” tegur istriku yang mendadak muncul dari dalam kamar. Aku tidak menjawab. Aku merasa mulutku begitu keruh saat teringat pada sedikit tabungan buat sekolah anak-anak.[]

 

Yogyakarta, 2016 / 2022

Untuk kakekku Thong Sit Jung

 

Catatan Kaki:

 

1.      Ko Ngian (bahasa Hakka; Mandarin: Guo Nian [過年]): Tahun Baru China.

2.      Luo ye gue gen ([落葉歸根] ungkapan dalam bahasa Mandarin).

3.      Chin Min (bahasa Hakka, Mandarin: Qing Ming [清明]: Festival Bersih Terang, dilaksanakan pada hari ke-104 setelah titik balik matahari pada musim dingin (atau hari ke-15 pada hari persamaan panjang siang dan malam di musim semi). Pada umumnya dirayakan pada tanggal 5 atau 4 April pada tahun kabisat.

4.      Chit Ngiat Pan (bahasa Hakka, Mandarin: Qi Yue Ban [七月半]: dikenal luas sebagai Ghost Festival.

5.      Kimci (bahasa Hakka, Mandarin: Jinzhi [金紙]): uang arwah.

6.      Sam Sip Am Pu (istilah dalam bahasa Hakka): malam sebelum Tahun Baru China, hari ke-30 bulan 12 lunar.

7.       Luo di seng gen ([落地生根] ungkapan dalam bahasa Mandarin).

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »