Darah yang Tercecer di Nabunage - Boni Chandra

@kontributor 3/31/2024

Darah yang Tercecer di Nabunage

Boni Chandra


 

Kami berhadap-hadapan dan membentuk lingkaran seperti tiang-tiang pada honai. Di depan kami ada setumpuk pinang, seikat sirih, dan segenggam kapur di telapak tangan Pace David. Udara dingin di Nabunage membuatku tak kuasa untuk menunda. Aku mengambil sebiji pinang, menempatkannya di antara taring dan geraham lalu mendengar gertak pinang muda dari mulutku. Kulit pinang kulemparkan tanpa peduli. Seraya mengunyah, kuambil sirih dan kucocolkan pada kapur di genggaman Pace David.

Ko su tak bisa sabar kah?” gurau Pace David.

Sa su kedinginan, Pace,” kataku, berusaha berbahasa dengan dialek orang-orang di Kabupaten Tolikara seperti Pace David yang berusaha bicara dengan dialek yang kami gunakan.

“Ah, ko mau sa carikan mace kah apa?”

“Ah, tidak! Untuk Pace dulu toh ....” kataku, seraya meludahkan ampas pinang yang ... “seperti darah.”

“Itu sudah. Seperti darah yang pernah tercecer di Nabunage,” timpalnya.

Ah, Pace David. Lelaki ringkih itu tampak senang karena aku sudah mulai bisa menikmati pinang. Di Distrik Nabunage, pinang sudah menjadi camilan adat dan pergaulan. Kendati batuknya tak kunjung sembuh, aku masih bisa melihat raut bahagia pada mata Pace David. Baginya, sebuah kebanggaan ketika mengetahui pendatang sepertiku memakan apa yang ia makan, meminum dari sumber air yang ia minum.

Sebagai empat orang yang dikirimkan takdir ke Papua, kami—aku, Musa, Od, dan Enek—masih cukup beruntung karena dipertemukan Tuhan dengan Pace David. Sore itu, kami nyaris putus asa setelah sebulan tanpa kerja di Wamena. Aku membeli sebungkus nasi dari uang terakhir yang kami miliki. Musa baru saja membagi nasi itu menjadi empat bagian ketika lelaki ringkih berdiri di belakangnya dan bertanya: kamorang tara punya uang kah?

Sejak saat itu, Pace David sudah menganggap kami sebagai anak sendiri. Kami tinggal bersamanya di Distrik Nabunage. Setiap hari, kami akan membantunya menjual pinang di Kabupaten Tolikara dan kembali ke Wamena seminggu sekali—menemaninya berbelanja. Lelaki ringkih itu juga membagi rata keuntungan yang didapat dari hasil menjual pinang dengan kami.

Matahari tak kunjung tiba. Berada di puncak Papua, menunggu pagi kembali alangkah lama. Semuanya tertutup kabut, seperti sedang tinggal di sebuah negeri yang selalu berselimut awan. Aku kembali mengambil sebiji pinang dan kembali mencocolkan sirih ke kapur di genggamannya.

“Kau ganas sekali ee!

“Enak jadi ....”

Pace David yang menggenggam kapur, baru saja mengunyah pinang dan baru saja akan mengambil sirih ketika ia batuk dan meludah. Tanah seketika merah. Batu-batu kecil seketika merah. Dan rumput kuning yang tumbuh sejengkal darinya seketika merah.

“Itu darah kah apa?” tanya Musa.

“Ah, tidak. Itu ludah pinang toh!” kilahnya.

Pace David kembali berusaha memakan kapur di ujung sirih ketika ia kembali batuk dan segenggam kapur di telapak tangannya seketika tumpah saat ia berusaha menutup mulut. “Sa pu batuk ....” Ia kembali batuk. “Sa pu batuk tara bisa stop!

“Sudah sebulan ini batuknya tak berhenti,” bisik Od.

“Pace David sakit kah?” tanya Enek.

“Sepertinya Pace David TBC,” kataku dengan cepat, secepat aku menyesalinya.

Musa seketika berdiri dan melangkah mundur. “Itu sakit menular,” katanya, lalu Od dan Enek pun serentak berdiri. “Sungguh, itu sakit menular,” ulangnya, lantas mereka bertiga bergegas meninggalkan Pace David yang memandangiku penuh tanya.

***

Waktu memang berjalan lebih cepat untukku yang mengerjakan segala sesuatunya seorang diri. Namun, bagi lelaki ringkih yang biasa berseloroh di Pasar Tolikara dan tiba-tiba mengurung diri di Nabunage, sungguh terasa lama. Terlebih ketika ia mengetahui bahwa Musa, Od, dan Enek menghianatinya. Ketiga sahabatku itu telah membawa lari modal kami lalu membuka kios pinang baru di Tolikara.

Bila ia masih muda, barangkali ia akan menyeret tiga orang itu dari Tolikara ke Nabunage, lalu menggorok leher ketiganya seperti para tentara yang pernah mencecerkan darah di tanah itu. Namun, ia sudah tua. Tubuhnya telah ringkih. Lengannya selalu gemetar setiap kali mesti menggenggam parang.

Sa su lama tara makan pinang,” katanya.

Ya, tiga bulan sudah ia tak memakan pinang. Baginya, pinang seperti udara. Buah itu dan sirih dan kapurnya sudah seperti napas tambahan untuk melanjutkan hidup. Sore itu, aku pamit ke Wamena. Aku masih memiliki sedikit uang, lebih dari cukup untuk membayar ongkos mobil lajur ke Wamena dan membeli sekarung pinang lalu kembali berjualan.

Aku masih mengingatnya dengan jelas. Pagi itu, aku dan Pace David telah tiba di Tolikara. Kami kembali berjualan dengan membuka lapak di depan kios kenalannya. Kendati Musa, Od, dan Enek memiliki kios pinang dan menjualnya dengan harga yang lebih murah, masih ada satu-dua orang yang membelinya dari kami. Seorang Mace yang datang dengan dua anaknya, membeli setumpuk pinang lalu memakannya dengan kapur di genggamanku. Tak lama, lelaki berambut sebahu yang memiliki suara besar, memaksaku agar menjualnya semurah harga di kios pinang. Namun, Pace David berkata, “Ambil sudah!” dan setelah menerima uangnya, Pace David memberi setumpuk pinang lagi sebagai bonus.

Dorang bernama Tolly,” bisik Pace David.

Tolly adalah orang yang paling disegani sekaligus ditakuti di Tolikara. Ia kebal senapan dan senjata tajam. Konon, ia pernah berselisih dengan KKB yang datang dari Puncak Jaya. Enggan orang-orangnya diganggu dan wilayahnya dikuasai oleh orang luar, Tolly memenggal kepala mereka satu persatu. Tolly memang diadili dan berkali-kali ditangkap dan berkali-kali meloloskan diri. Secepat apa ia ditangkap, secepat itu pula ia berhasil menembus jeruji.

“Dia bisa berkeliaran begitu saja?” tanyaku.

“Ah, dorang su jadi tawanan luar. Dorang banyak membantu juga jadi. Tentarakah, polisikah, semua hormat dorang.”

Aku baru saja ingin bertanya ketika Tolly telah berdiri di hadapanku. Aku melangkah mundur dan punggungku merasakan dingin tembok.

“Setumpuk lagi kah apa?” Pace David mendekatinya.

“Ah, tidak!” katanya, seraya memandangiku.

“Itu sa pu anak. Ko ambil setumpuk sudah!”

Tolly mengambil setumpuk pinang lagi dan pergi meninggalkan kami. Tapi tak lama, ia kembali datang membawa beberapa orang. Di depanku, ia berkata, “Kalian beli pinang di sini sudah!”

Seorang yang barangkali seusiaku, mengambil setumpuk pinang lalu membayarnya. Lalu lelaki yang tampak lebih tua dari Pace David minta diambilkan dua tumpuk pinang, dua ikat sirih, dan dua genggam kapur. Pace David terburu-buru mengambilkan kapur lalu kembali dengan cepat dan memberikannya dan kembali mengambilkannya. Lelaki tua itu tampak tak keberatan membayar mahal. Begitu pula dengan beberapa orang yang membeli sesudahnya.

Sejak saat itu, Tolly selalu datang ke lapak kami. Ia dibiarkan memakan pinang sepuasnya dan kami selalu merasa diuntungkan. Selama ia duduk di lapak kami, selama itu pula ada beberapa orang yang datang untuk membeli. Entah karena menyeganinya. Entah menakutinya. Namun, aku selalu meyakini bahwa orang-orang yang datang hanya karena ingin mengenalnya atau ada keperluan dengannya.

Seminggu sekali, aku dan Pace David pergi ke Wamena untuk belanja pinang sekaligus membeli obat. Kendati tubuhnya kian ringkih dan batuknya tak kunjung berkurang, ia sungguh memiliki keinginan untuk sembuh. Ia tak pernah sungkan meminum obat. Delapan sampai sepuluh pil dalam sekali telan, bagiku, alangkah menyedihkan. Namun, ia tetap bertahan. Ia masih meyakinkanku bahwa kami bisa kembali membeli pinang dalam jumlah besar lalu menyewa kios lalu menjualnya dengan harga yang lebih murah.

Namun, itu hari adalah hari yang membuatku menaruh dendam. Pace David dan Tolly sedang duduk menikmati pinang; aku melayani pembeli; dan di saat itulah Musa berdiri di belakang orang-orang yang berkumpul untuk membeli.

“Hormat, Pace-Mace!” Seingatku, suaranya terdengar lebih besar dari suara Tolly. “Lelaki itu berpenyakit menular,” katanya seraya menuding Pace David. “Dan orang ini,” tudingannya berpindah ke depan mukaku, “telah tertular penyakit dan siapa pun yang dekat dengan mereka, akan tertular juga!”

Aku melihat Tolly telah mencengkeram bajunya dan bersiap melemparkannya. Namun, aku mengenal Musa dari siapa pun. Ia mahir bicara dan terlalu pintar menggiring orang-orang.

“Hormat, Kaka. Saya tidak bohong toh. Pace David sakit TBC. Itu penyakit menular dan ...” di saat bersamaan, batuk Pace David kembali kambuh, “Nah, Kaka dengar toh. Penyakitnya sudah parah. Kita semua bisa tertular bila tidak mengusirnya.”

Pundakku terasa berat. Pandanganku seketika buram. Seingatku, Tolly melepaskan cengkeramannya; seseorang pergi sebelum membayar; beberapa orang pergi meninggalkan lapak kami; dan beberapa lainnya bertanya-tanya di sela suara batuk Pace David yang kian lama kian keras.

***

Malam itu, Nabunage lebih dingin dari rasa dingin di ingatanku. Suara batuk Pace David tertelan hujan lebat yang menghajar atap dan dinding honai. Aku merasa, honai kami akan roboh seperti robohnya usaha kami. Tolly tak lagi datang. Tak seorang pun yang membeli pinang kami selama berhari-hari. Dan sebelum hujan turun menenggelamkan suara-suara dari kerongkongan lelaki ringkih di sebelahku, kenalan Pace David yang mengizinkan kami membuka lapak di depan kiosnya, telah mengusir kami karena ia pun takut tertular.

Kilat seketika menerobos celah honai dan aku sempat melihat Pace David tersenyum seraya memegangi dada. Aku menutup telinga sesaat petir menggelegar dan barangkali, di saat itulah Pace David mengejan batuknya dengan lebih keras agar tak mengganggu pendengaranku. Barangkali, ia juga sempat tertawa sebelum berdiri dan melangkah menuju pintu. Barangkali, ia ingin meludah. Meludahkan darah dan membiarkan hujan menghapus bekasnya.

Aku baru saja ingin menyusulnya ketika ia berbalik lalu duduk memunggungiku. Ia mulai bicara. Berbicara sekeras yang ia mampu. Sungguh, aku tak bisa mendengarnya dengan jelas. Suaranya dan bunyi hujan seperti musik yang diputar secara bersamaan di terminal mobil lajur di Wamena. Barangkali, ia mengatakan: dulu, ia mulai menjual pinang dengan menitipkan beberapa tumpuk pinang di kios-kios, lalu membuka lapak, lalu menyewa kios yang ia gunakan khusus menjual pinang. Barangkali ia mengatakan itu atau hanya pendengaranku.

Akan tetapi, pendengaran itu membuatku berpikir untuk mulai meninggalkannya. Aku mesti kembali ke Wamena dan mesti memulainya kembali dari awal. Aku akan membeli sekarung pinang, sekantong sirih, sekantong kapur. Aku juga mesti membeli plastik-plastik kecil untuk mengemas kapur dengan takaran setumpuk pinang dan seikat sirih lalu menitipkannya di kios-kios kecil. Kami membutuhkan uang. Pace David harus berobat dan mesti sembuh!

Dan setelah hujan reda, kukatakan padanya, “Mulai besok, Pace David istirahat saja. Aku akan ke Wamena dan mencoba menitipkan pinang di kios-kios kecil di Tolikara. Kita masih membutuhkan uang untuk berobat.”

Aku tak mendengar balasan. Barangkali, ia sedang berusaha menahan batuknya. Barangkali, bibirnya sedang bertaut karena mengulum senyuman di dalam gelap. Aku tak tahu pasti. Mungkin juga ia telah tertidur dan sedang bermimpi: ada seseorang yang berniat mengobati sakitnya sampai sembuh, seperti ia pernah menyembuhkan rasa lapar di perut kami.

 

(Pekanbaru, 2023)

 

Catatan:

Sa                       : saya

Pu                      : punya

Sa pu                  : saya punya. Misal: sa pu anak; saya punya anak; anak saya

Ko                      : kamu

Tara                    : tidak

Kamorang          : kalian

Dorang               : dia

Su                      : sudah

Sudah                : -lah. Misal: bakar sudah; bakarlah

Kah                    : atau

Pace                   : laki-laki muda

Mace                  : perempuan muda

Honai                 : rumah adat papua yang sering dijadikan sebagai tempat tinggal

Toh                    : dalam dialek Papua, kata ini digunakan untuk mempertegas sesuatu

  yang sudah dikatakan sebelumnya, entah itu dalam bentuk pertanyaan

  maupun pernyataan.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »