Musik dan Resiliensi Cinta - S. Prasetyo Utomo

@kontributor 3/31/2024

Musik dan Resiliensi Cinta

S. Prasetyo Utomo



DUA puisi yang ditulis Hilmi Faiq menjadi menarik untuk saya analisis dalam esai ini setelah digubah Ananda Sukarlan dalam musik Tembang Puitik Volume 8. Saya mengenal Ananda Sukarlan sebagai satu-satunya orang Indonesia yang tercatat dalam buku The 2000 Outstanding Musician of the 20th Century, yang berisi riwayat hidup 2.000 orang yang berdedikasi di dunia musik. Musik-musiknya menggunakan elemen-elemen etnik Indonesia. Ia seorang komponis yang produktif, karyanya mencakup hampir semua instrumen. Tahun 2020 ia dilantik menjadi Presiden Dewan Juri Queen Sofia Prize di Spanyol, sebuah ajang penghargaan tertinggi musik klasik di Eropa.

            Bagi Ananda Sukarlan, “puisi itu musik, dan musik itu puitis”. Karena itu, wajar bila melalui puisi lahirlah berbagai inspirasi untuk mencipta musik. Ia merasa berterimakasih terhadap para penyair besar yang telah memberi inspirasi untuk menulis banyak sekali musik. Ia menerbitkan buku Tembang Puitik Volume 8. Lagu-lagunya diangkat dari berbagai puisi karya penyair ternama Indonesia, dengan beragam tema.

Dua puisi yang saya bicarakan dalam esai ini adalah karya Hilmi Faiq berjudul “Kapokmu Kapan” dan “Beda Keyakinan”. Eksplorasi kedua puisi karya penyair ini memiliki napas tematik yang sama, yakni tentang upaya melakukan resiliensi cinta. Dua puisi itu menghamparkan sugesti bagi manusia untuk membuka cakrawala cinta. Hilmi Faiq merupakan penyair yang memanfaatkan kekuatan kalbu, dan menemukan ketajaman diksi untuk menyampaikan satire, paradoks, dan bahkan sarkasme. Ia melakukan eksplorasi pada empati humanisme.

 ***

KEKUATAN puisi Hilmi Faiq terletak pada konstruksi pilihan kata untuk mencapai permainan makna. Saya merasakan benar bahwa ia sengaja bermain-main dengan pilihan kata yang komunikatif untuk mencapai ungkapan-ungkapan paradoks, simulakra, dan kesadaran akan nilai keilahian. Ia memasuki problematika kehidupan mutakhir dan menuangkannya dalam ungkapan-ungkapan yang dikemas melalui satire.

            Dalam puisi “Kapokmu Kapan”, Hilmi Faiq bermain-main dengan paradoks dan sindiran mengenai penyimpangan norma agama pelaku bom bunuh diri. Perilaku radikal ini menyebabkan keluarga pelaku bom bunuh diri dikucilkan masyarakat. Mereka diposisikan sebagai musuh negara. Pelaku bom bunuh diri menduga kekerasan yang dilakukan terhadap korban merupakan jalan suci religiositas untuk mencapai surga. Akan tetapi, dalam pandangan penyair, jalan yang ditempuh itu justru menyesatkan rohnya tak bisa kembali ke hadapan Tuhan: Tuhan mana yang membangun surga/ di atas tetesan darah dan jerit tangis manusia?// Di rumah Tuhan, tempat doa-doa menjalari hati/ mewujud helai-helai damai/ berbalik menakutkan karena ledakan//.

Kata-kata yang dimanfaatkan Hilmi Faiq diambil dari komunikasi sehari-hari manusia untuk mengembalikan kepekaan cinta pada sesama dan Sang Pencipta. Kata-kata tidak lagi dikemas dalam simbol. Dengan kata-kata lugas, penyair menyingkap realitas palsu yang disembunyikan dalam kesakralan religiositas. Penyair mempertanyakan peran akhlak, yang membawanya pada hasrat untuk membinasakan manusia dengan kekerasan bom atas nama cinta pada Sang Pencipta. Telah tercipta kritik penyair pada manusia yang mestinya mengekspresikan cinta pada sesama dan Sang Pencipta, tetapi justru melakukan tindakan radikal. Karena itu, diperlukan kata-kata lugas untuk mencapai katarsis mengenai perilaku anarkhis terhadap ketersesatan keyakinan cinta pada Sang Pencipta itu.

            Membaca puisi Hilmi Faiq, saya menemukan berbagai diksi yang terkesan menghadirkan guncangan spiritual. Penyair menghadirkan puisi sebagai sindiran, bahkan paradoks, menampilkan penyimpangan religiositas. Puisi yang diciptakannya menyentuh kedalaman rasa, kesadaran keilahian, dan membuka cakrawala cinta pada sesama yang didasari dengan toleransi beragama.

Dalam puisi “Beda Keyakinan”, saya sampai pada suatu renungan bahwa empati penyair menyentuh perasaan cinta pada seorang kekasih. Penyair menyingkap gelora api cinta platonis yang mengguncang jiwa seseorang, dikemas dengan paradoks: Tuhan/ Pekan lalu hamba berjumpa dia/ Kami kenalan dengan berjabat tangan/ Dia sungguh makhluk menawan// Tuhan/ Hamba yakin sedang jatuh cinta/ Tapi dokter yakin hamba terkena corona//. Dalam kesederhanaan diksi, penyair menulis peristiwa-peristiwa paradoksal mengenai kerinduan yang menjelma perbedaan tafsir. Kita dibiarkan dalam ambiguitas tafsir, mana yang lebih benar: sedang jatuh cinta, atau sakit corona?

            Penyair menyembunyikan teka-teki mengenai perasaan cinta pada sesama. Ia menghadirkan peristiwa-peristiwa keseharian dalam berbagai tafsir makna. Dalam diksi yang lugas, ia mengalirkan guncangan jiwa di akhir puisi. Dengan cara ini penyair melakukan solilokui, untuk mengantarkan katarsis. Puisi “Kapokmu Kapan” dan “Perbedaan Keyakinan” tercantum dalam Perkara-Perkara Nyaris Puitis (Penerbit Gramedia Pustala Utama, 2023). Kedua puisi itu memberi warna tema yang berbeda dalam Tembang Puitik Volume 8. Ananda Sukarlan yang mengemas kedua puisi itu mengekspresikannya dalam musik yang menyentuh indera telinga. Ia mesti menghadirkan nuansa resiliensi cinta itu dalam nuansa musik yang puitis.

 ***

YANG menjadi pertanyaan kita kini: mengapa puisi Hilmi Faiq memberikan inspirasi pada Ananda Sukarlan untuk mencipta musik? Saya menyingkap tiga hal sebagai latar belakang terpilihnya puisi Hilmi Faiq. Pertama, makna puisinya menyentuh perilaku rawan mengenai cinta yang bermakna (a) transenden, dan (b) kasih sayang pada kekasih. Dengan bahasa yang komunikatif, Hilmi Faiq menyingkap empati cinta. Dalam puisinya, cinta memiliki jangkauan melebihi batas-batas dunia fisik dan menciptakan ikatan batin yang mendalam. Cinta menjadi fokus utama sebagaimana kaum sufi, pencari kebenaran dan keindahan spiritual. Sebagaimana Jalaludin Rumi, penyair menyampaikan pesan “setiap waktu yang berlalu tanpa cinta akan menjelma menjadi wajah memilukan di hadapan Tuhan”.

            Kedua, puisi Hilmi Faiq dicipta sebagai katarsis untuk mengembalikan kesadaran pada pembaca akan kegelapan pemahaman cinta secara transenden. Dalam puisi “Kapokmu Kapan”, penyair bermain dalam ranah religiositas yang bersentuhan dengan radikalisme. Ia mencipta kritik terhadap akhlak manusia. Ia memanfaatkan tema, suasana, dan pesan moral yang menyentuh akhlak manusia beragama untuk terbebas dari pandangan oposisi biner: benar-salah, kawan-lawan, surga-neraka. Ia berobsesi pada kejernihan kalbu manusia untuk meluruskan sesat pikir kaum radikal.

Ketiga, dalam praktik sosial, puisi “Kapokmu Kapan” menyusupkan kesadaran untuk mengekspresikan solidaritas, menjadi penawar bagi “luka jiwa”. Puisi ini dicipta Hilmi Faiq untuk menawarkan dialektika antara cara pandang cinta secara transenden dan kepentingan politik. Kesan saya, penyair telah berproses dengan pencarian estetika dan makna pengorbanan jiwa yang sia-sia. Penyair membuka horizon pemahaman mengenai penyimpangan religiositas. Luka religiositas menjadi obsesi penciptaannya, diekspresikan melalui bahasa satire. Ia memasuki dunia spiritual untuk menyingkap kesadaran manusia dengan ungkapan rasa sayang dan kepedulian: kapokmu kapan. Tanpa bahasa simbol, ia mencari keindahan yang melampaui kata-kata biasa dan memasuki ranah menuju hakikat keberadaan manusia. Ia menyusupkan resiliensi cinta terhadap kerakusan manusia akan keterbatasan, kekuasaan dan religiositas. Estetika serupa inilah yang menggetarkan intuisi Ananda Sukarlan untuk mengubah puisi sebagai musik. ***

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »