Mengunjungi Dua Dunia dalam Diri Seorang Penyair - Jusiman Dessirua

KONTRIBUTOR 4/24/2022

Mengunjungi Dua Dunia dalam Diri Seorang Penyair

Jusiman Dessirua



Pada malam berkabut tahun 2018, ke kota Banjarbaru, aku pergi mengunjungi suatu acara sastra. Selama dua jam aku berangkat dari kota Makassar, menuju kota yang konon adalah perkampungan tua suku Banjar di masa lalu. Kota Banjarbaru yang di sekujur tubuhnya dibaluri air mata dan keringat para buruh penambang intan Kalimantan.

Aku terbangun dan mendapati penginapan sepi. Pagi masih kelabu, dan orang-orang tetap terperangkap dalam mimpi. Acara belum dimulai. Tak lama berselang, beberapa peserta acara sastra tersebut —penulis cerpen dan penyair—keluar dari kamar dan mulai hilir-mudik. Ada yang ke balkon lalu memulai diskusi, beberapa menonton di ruang tunggu. Ada juga yang mulai bosan, lalu memutuskan berjalan-jalan ke Mingguraya. Sebuah taman di tengah kota yang dipenuhi barisan panjang penjual makanan dan minuman khas Banjar.

Aku mengikuti para peserta yang bosan dan duduk membaca kumpulan puisi pada salah satu bangku di Mingguraya. Kopi hangat yang diantar pelayan perempuan menggangguku. Aku menutup buku puisi, dan melempar pandang ke sekeliling. Tak lama kemudian, seorang lelaki bercelana ripstok pendek dengan kaus oblong bergambar naga berusaha menyebrangi jalan, dan duduk di meja para penulis cerpen serta penyair ternama itu.

 Itulah saat pertama kali aku bertemu dengan Riri Satria. Suaranya terdengar pelan ketika separuh mendengarkan pembicaraan penting terkait pembahasan sastra. Namun suaranya tiba-tiba meninggi dan tawanya pecah, ketika membicarakan sesuatu yang nyeleneh. Tawa Riri Satria yang menggema, selalu berhasil mengusik Mingguraya yang tenang, pada suatu pagi yang kelabu.

***

Apa yang kuketahui tentang Riri Satria, awalnya hanya lelaki bercelana ripstok pendek dengan kaus oblong bergambar naga, yang ‘kebetulan’ menyukai puisi, tidak lebih. Setelah pertama kali melepas tangkap dan berjabat tangan dengannya, kini aku tahu bahwa Riri Satria seorang analis ekonomi, dan dosen pembimbing mahasiswa S2 bidang manajemen dan teknologi informasi, Universitas Indonesia. Kehadirannya dalam kegiatan sastra seperti ini membuatku terkejut.

Apakah seorang dengan pola berpikir matematis dan analisis di bidang ekonomi tertarik pada dunia kontemplatif? Puisi, semesta falsafah yang mengingkari banyak hukum demi mencari kemungkinan lain dari sisi terdalam jiwa manusia. Pertanyaan yang lebih penting, apakah Riri Satria memang hidup di dua dunia? Apakah ada seorang penyair dalam dirinya?

Di akhir pertemuan kami di Banjarbaru, Riri Satria menghadiahiku, juga beberapa teman lain, sebuah buku puisi berjudul Winter In The Paris.  Buku puisi tunggalnya yang dia tulis di kota Paris selama musim dingin.

Puisi adalah semesta di mana dunia diciptakan terus-menerus dan memerangkap kita pada banyak sekali kenyataan. Kalkulasi dari kenyataan natural, kenyataan sosial, maupun kenyataan bahasa menghasilkan apa yang sering kita sebut, ‘semesta imajinatif’. Kepandaian seorang penyairlah yang membuat kita bolak-balik pada pelbagai kenyataan itu.

Aku memulai membaca antologi puisi Riri Satria dan terjebak pada semesta imajnatifnya yang manis sekaligus kelabu. Malam putih, laut biru, serta tempat-tempat yang belum pernah kukunjungi seperti sungai Seine.

 

 

 

White Night

 

I am lost

no questions

no memories

just with rain of words

 

Seperti yang ia tuliskan pada baris pertama puisi ini, aku tersesat, pada White NightRiri. Meski entah yang dimaksud adalah malam dengan sapuan kabut putih, atau malam bersalju. Aku tetap terkesan pada penggambaran malam putih ini. Aku membuka halaman buku lagi dan mendapati dua puisi tentang sungai.

 

River Seine

I see the river

– where poems last forever

 

River Seine (2)

An orchestra, waves of melody.

Word and word, for poetry.

Whispering a love story!

 

Aku mencintai setiap baris dari puisi Riri Satria saat ia menggambarkan tempat, seperti pada dua bait puisi River Seine di atas.  Baris-baris puisi itu seakan membuatku berada di sungai Seine. Duduk dan merasakan tiap kisah cinta yang berdesir, serta melodi dan kata yang diucapkan setiap penyair yang berada di sungai tersebut.

Suatu malam, ketika aku mengunjungi weblog-nya, aku membaca beberapa artikel dan berhenti pada satu artikel yang berjudul Aku dan Puisi. Sebuah artikel di mana Riri ingin menjelaskan tentang riwayat pertemuannya dengan puisi. Di dalam tulisan itu, ia berkata bahwa ia berada di dua dunia sekaligus. Di satu sisi, beliau hidup dalam dunia sains dan teknologi, tetapi di sisi lain, ia hidup dalam dunia puisi. Riri menutup dengan mengatakan;

‘Pengalaman yang nyata ini membuat saya merasakan bagaimana keduanya berada di dalam diri saya, yaitu menulis ilmiah dan menulis puisi.’

 

***

Kekurangan dari penyair di masa sekarang, adalah mereka hanya fokus pada kekuatan imaji dan kontemplatif yang ada di dalam diri mereka, tetapi cenderung melupakan kekuatan kebahasaan serta penggunaannya dalam teknik penulisan. Puisi bukan selalu ‘tentang apa yang diceritakan,’ tetapi juga tentang ‘bagaimana menceritakannya.’ Dalam bercerita kita membutuhkan teknik, kita butuh unsur matematis, kita butuh unsur keilmiahan, dan Riri Satria telah memiliki hal itu.

Ada satu puisi yang ingin kuceritakan kepada siapa pun yang membaca tulisan ini. Puisi tersebut mungkin akan coba membuktikan dua dunia dalam diri Riri Satria.

  

The Old Wall Inside Me

 

There is an old wall

– deep inside me

 

It was there to call

– try to kill me

 

The wall of timeline

The wall of stories

The wall of happiness

The wall of sadness

The wall of craziness

The wall of emptiness

The wall of fear

The wall of tears

 

The wall of energy

The wall of graffiti

The wall of bravery

The wall of consistency

The wall of hypocrisy

The wall of heart tyranny

 

The wall of spirit

The wall of scream

The wall of love

The wall of you and me

 

Some people dare

Used to write there

Just like a nightmare

 

They leaved all kind

– things behind

Things made me blind

 

Deep inside me

All inside me

– but never really hurt me

 

There is an old wall

But never old enough to stall

– to hold the stories of all

 

There was a dark sky

– above the wall

 

There were lots of tears

– streaming on the wall

 

There was a love

– in front of the wall

 

It is nothing

Although you see something

The bell is ringing

The words are calling

From the wall to the ceiling

My heart keeps on rocking

The wall prevent me from falling

 

There is an old wall

Deep inside me

All about me

 

(Ubud, Bali – 26/10/2016)

 

Aku membaca puisi ini dari awal dan terkagum dengan struktur penulisan puisi yang runut dan sistematis ini.  Aku yakin, Riri Satria tahu menyicil informasi lalu meremas seluruh informasi itu dalam satu hentakan. Pada bagian awal, ia menjelaskan bahwa ada satu dinding tua dalam diri yang berkali-kali memanggil dan mencoba membunuhnya.

 

the old wall inside me

There is an old wall

– deep inside me

 

It was there to call

– try to kill me

 

Pada bait selanjutnya, aku dihadapkan pada dinding-dinding yang terdiri dari banyak sekali lapisan struktur yang mengepung kehidupan. Dinding waktu, dinding kisah, dinding kebahagiaan, dinding kehampaan, dinding ketakutan, dinding air mata serta berbagai dinding perasaan manusia lainnya. Sampai pada bait ini. Bait yang dengan cermat dipilah katanya untuk melengkapi tiap frasa dalam baris. Aku mulai menghirup aroma seorang analis yang turut andil dalam membuat puisi tersebut.

 

The wall of timeline

The wall of stories

The wall of happiness

The wall of sadness

The wall of craziness

The wall of emptiness

The wall of fear

The wall of tears

 

The wall of energy

The wall of graffiti

The wall of bravery

The wall of consistency

The wall of hypocrisy

The wall of heart tyranny

 

Di bait selanjutnya Riri Satria mempertemukanku dengan apa dan siapa saja yang berada di kaki dinding-dinding itu. Cinta, air mata, langit gelap, serta orang-orang yang dengan begitu berani menulis di sana. Meski seperti mimpi buruk, lagi-lagi, uraian dari penjelasan tentang ‘dinding yang terdiri dari berbagai lapisan,’ sampai ke ‘apa dan siapa yang berada di depan dinding terbut’ sangat rapi ibarat sebuah rumus tertentu. Hal itu membuktikan kecermatan analisis saat mengurai dua hal penting ini. Kau mungkin terkejut, betapa rapi dan sistematisnya bait-bait dari penggalan puisi ‘The Old Wall Inside Me’ yang disusun di bawah ini.

 

Some people dare

Used to write there

Just like a nightmare

 

They leaved all kind

– things behind

Things made me blind

 

Deep inside me

All inside me

– but never really hurt me

 

There is an old wall

But never old enough to stall

– to hold the stories of all

 

There was a dark sky

– above the wall

 

There were lots of tears

– streaming on the wall

 

There was a love

– in front of the wall

 

Akan tetapi setelah uraian analisis tentang dinding-dinding tua yang mempunyai banyak lapisan struktur dan apa saja yang berada di hadapan dinding itu. Aku kembali bertemu dengan jiwa kepenyairan Riri Satria. Di bait selanjutnya, dinding-dinding itu dijelaskan tak menghalangi dan menyakiti si penyair. Tidak cukup memberi penyair alasan untuk tidak menuliskan seluruh kisah. Sebab ada cinta dan air mata di sana, seperti lonceng yang berdentang memanggilnya berulang, dan kita tahu bahwa hanya penyair yang bisa memenuhi panggilan tersebut.

 

 Although you see something

The bell is ringing

The words are calling

From the wall to the ceiling

 

Terakhir, si penyair menutup puisi ‘The Old Wall Inside Me’ ini dengan bait yang kontradiktif. Penyair dalam puisi tersebut seperti seorang samurai. Seakan ingin mengakhiri seluruh penjelasan panjang di atas, dengan satu tarian pedang. Menghunus makna dengan cepat. ‘Seluruh dinding itu adalah bukan bagian sekaligus bagian dari dirinya.’ Sialnya, aku juga ikut terhunus oleh bait terakhir ini.

 

 

 

There is an old wall

Deep inside me

All about me

 

 Membaca Puisi di atas, membuatku pelesiran dan bolak balik pada dua dunia. Dunia matematis serta dunia penyair. Riri Satria tahu menyicil serta memanjangkan informasi dengan kecakapan matematis, sekaligus ia tahu cara mengentak dan mengakhiri penceritaan dengan kecakapan puitik. Jika kelak seorang membaca buku puisi Winter in The Paris, dan bertanya padaku tentang apa yang membuat Riri Satria, kuat dalam kepenyairan? Aku akan jawab; karena dia punya dua dunia dalam dirinya!

 

April 2022.

 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »