Surat untuk-mu Ibu, dari Anak yang Belum Bisa Mencium Tangan dan Kening-mu - Akhmad Idris

KONTRIBUTOR 5/01/2022

Surat untuk-mu Ibu, dari Anak yang Belum Bisa Mencium Tangan dan Kening-mu

Akhmad Idris

***



Assalamualaikum, Ibu-ku. perempuan paling cantik di dunia ini, meski rambut kian memutih dan punggung yang sudah tak tegap lagi. Perempuan paling anggun di muka bumi, meski tubuh dan baju-mu sudah jarang bisa diajak kompromi. Perempuan paling memesona di jagat raya, meski yang terlihat kini hanyalah rasa lelah. 

Namun tak ada belaian selembut tanganmu, Ibu. Tak ada kecupan sehangat bibirmu, Ibu. Tak ada panggilan semerdu suaramu, Ibu. Tak ada pandangan seteduh matamu, Ibu. Tak ada ayunan senyaman gendonganmu, Ibu. Tak ada perhatian sebesar kepedulianmu, Ibu. Tak ada janji setepat ucapmu, Ibu. Tak ada dekapan setulus pelukmu, Ibu. Tak ada nasi selezat suapanmu, Ibu. Tak ada baju senyaman jahitanmu, Ibu. Tak ada teh semanis buatanmu, Ibu. Tak ada tangis, semurni air matamu, Ibu. Tak ada kata seindah tuturmu, Ibu. Tak ada berlian sebening hatimu, Ibu. 

Tak ada satupun, Ibu. Sungguh. Kuawali surat ini dengan memujimu, agar anakmu ini tak pernah lupa bahwa engkau adalah sumber daya cinta. Setelah memujimu, anakmu ini ingin meminta maaf atas khilaf yang sering melampaui batas dan atas cinta-mu yang tak akan pernah sanggup terbalas.

Maafkan anak ‘nakal-mu’ ini, Bu. Yang sering lupa bertanya ihwal kesehatanmu yang semakin tak menentu. Yang sering abai memberikanmu kabar hanya karena merasa kesibukan menjadi lebih besar. Yang sering acuh atas cerita-ceritamu tentang hama-hama di sawah yang membuat gaduh. Yang sering lalai untuk berpamitan sebelum pergi gegara merasa tak lama akan segera kembali, padahal kekhawatiranmu tak pernah memandang cepat atau lama. Yang sering cuek terhadap impian-impian sederhanamu tentang menantu yang patuh beserta cucu yang lucu-lucu.

 Ibu, maafkan anakmu ini yang lupa berterima kasih atas kasih tanpa pamrih, atas air susu yang telah menjadi tubuh segagah ini, atas nyanyian nina bobok yang selalu menjadi musik pengantar tidur di tengah rasa kantukmu yang terus beralur, atas peluh keringat yang kau usap kala menggendongku sembari merunduk menabur benih padi, atas nasi hangat yang kau sajikan ketika pagi mulai merambat, atas air hangat yang selalu kau siapkan ketika jam menunjukkan waktu tentang kepulanganku dari pekerjaan, dan atas ‘kebohongan-kebohongan halal’ demi mengutamakan senyumanku hingga mengabaikan kebutuhanmu. 

Maafkan anak ‘manja-mu’ ini, Bu. Seorang anak yang lebih senang bermain dengan teman sebaya, namun enggan menyuapimu semangkuk sup kacang merah. Seorang anak yang lebih menikmati nongkrong di warung kopi sembari bercerita tentang kekasih, daripada duduk di samping ranjang tuamu, melihatmu menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong yang katanya wujud rindu pada yang telah dahulu. Seorang anak yang masih tetap ingin diperhatikan, padahal dirinya sendiri abai memberikan perhatian. Seorang anak yang lebih menikmati mengelilingi gunung-gunung indah di pelosok nusantara, daripada mengajakmu jalan-jalan mengelilingi taman yang katamu lebih indah dari pemberian lembaran kertas yang disebut uang. Seorang anak yang rela mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi memberi hadiah kepada sang kekasih sebuah mawar berwarna merah, namun ‘berpura-pura lupa’ bahwa engkau pun juga ingin diberi sekotak martabak manis dengan selai strawberry sebagai pelengkap rasanya. Seorang anak yang lebih sering berada di luar rumah dengan dalih kesibukan kerja daripada duduk takzim sejenak di sebelahmu sembari memijat tanganmu ala kadarnya, yang katamu merasa sedikit lelah dan sudah mereda saat melihatku pulang seraya menyapa. Seorang anak yang telah menyia-nyiakan hal yang tak bisa dicari dan diputar kembali, hanya untuk mengejar kasih sayang semu, dan mengabaikan kasih sayang yang selalu mengharu biru.

Kini, anakmu ini mulai takut; jika kau mendadak pergi menyusul ayah sebelum sempat kucium tangan dan kening-mu. Takut jika lebaran fitri tahun ini adalah lebaran terakhir-mu, sementara anakmu ini tak bisa berada di samping-mu. Takut jika tangismu di setiap sepertiga malam yang terakhir akan menjadi tangisan yang terakhir kudengar. Takut jika sehelai selimut yang biasa kau gunakan untuk melindungi tubuhmu dari dinginnya malam akan menjadi selimut tanpa ada yang memakainya lagi. Takut jika tanganmu yang kian keriput itu tak bisa lagi kucium. Takut jika tubuh yang semakin ringkih itu tak dapat lagi kutuntun, kepeluk, dan kugendong seperti yang kau lakukan kala anakmu ini masih mungil. Jika kehilangan ayah saja dunia menjadi sepi, maka bagaimana sunyinya dunia ketika kehilangan-mu, Ibu?

Sebelum ketakutan itu menjelma nyata; Ibu, terimalah ini: sepucuk surat dan sebingkai foto yang menampilkan gambar-mu sedang menggendong anakmu ini kala masih bayi. Di belakang foto tertulis sebuah kalimat, “Aku dan segala ketulusan dalam hidup.”

Surabaya, Semasa Corona


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »