Gelandangan - Ian Hasan

KONTRIBUTOR 5/01/2022

Gelandangan

Ian Hasan





Larik merasa hidupnya terlunta-lunta. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, ia seperti tak punya banyak pilihan menjalani kemalangan yang dideritanya. Selain menanggung tunggakan ongkos sewa kios cukur yang sudah berbulan-bulan tutup dan tak ada job manggung selama wabah menerjang, rumah tangganya berakhir di ujung kecamuk. Awalnya ia merasa akan baik-baik saja, tetapi kenyataan selanjutnya membuat segala mimpi hancur bersamaan makin menggilanya pandemi. Andai tiga bulan lalu istrinya tak mengusulkan satu ide: memasang Open BO di Twitter, tentu ia masih bisa berpikir jernih—yang anehnya pikiran itu muncul baru-baru ini—mengatasi keadaan serba sulit seperti sekarang.

“Ada solusi lain?” Terngiang pertanyaan istrinya menanggapi keberatan yang Larik ajukan.

Ia tahu, selama ini istrinya juga ikut menanggung kebutuhan keluarga dengan bekerja di agen perjalanan wisata. Larik juga merasa sudah sekuat tenaga meredam kemelut rumah tangganya dengan segala cara, termasuk melamar pekerjaan ke perusahaan-perusahaan yang ia rasa ada kenalan. Tetapi sayang, sebelum datang kabar lamarannya diterima, bisnis wisata bangkrut dan istrinya di-PHK. Untuk selekasnya mengatasi persoalan, perempuan itu lebih memilih meninggalkan selembar gugatan cerai tepat pada hari di mana Larik menjual satu-satunya barang berharga miliknya, laptop yang biasa ia pakai mengetik tulisan-tulisan untuk media. Saat itu ia benar-benar buntu dan nyaris gila mengingat banyaknya penulis—yang jumlahnya bisa ribuan—dengan rubrik yang hanya muncul seminggu sekali, kalaupun ada honor biasanya akan habis sekali jajan, dan pembacanya—ia sadari—cukup dia dan teman-teman sendiri. Ia pikir dengan menjual laptop akan bisa dipakai untuk modal merintis usaha, sekalipun kenyataannya tak berwujud bisnis apapun sejak istrinya purik, pulang ke rumah orangtuanya.

Dua pekan berselang dan kini Larik sedang merutuki nasib, duduk termangu menatap rerumputan hijau di alun-alun yang lengang, berharap mendapat satu pemikiran benderang. Ia merasa harus mulai banyak mencerna kembali keadaan sekitar, agar tumbuh keyakinan bahwa derita pandemi tidak hanya ia alami sendiri. Larik teringat dengan kebiasaannya di waktu lalu, saat masih banyak orang berjualan di seputar alun-alun. Kala itu ia seringkali nongkrong di angkringan, memperhatikan tingkah orang-orang berebut senja atau menghabiskan malam.  Syukur-syukur ada ide yang nyangkut dan bisa ia tuangkan ke dalam tulisan.

Belum usai ia melanjutkan pikiran itu, seorang gelandangan tua datang lalu berdiri tak jauh di sebelahnya. Embusan angin membuat hidungnya seperti menghidu bau got mampat dari tubuh lelaki itu. Selain pakaian kumal dan rambut acak-acakan, Larik juga melihat perangai ganjil yang mengganggu pikiran. Sebetulnya bukan baru kali ini saja ia melihat gelandangan yang bertingkah kurang waras, tetapi bukan di tengah kesuntukan seperti sekarang. Dari sudut mata, ia melihat pemilik tubuh dekil itu dengan santainya menyalakan sepuntung rokok yang entah ia dapatkan dari mana. Gelandangan itu lalu menari-nari sembari mulutnya tak henti-henti meracau, seperti sedang melantunkan bait-bait sajak.


Jiwaku karam ke dasar lautan

Dari puing-puingnya seketika tumbuh

Delapan bait lagu merasuk ke jantung

Menghibur senja digelayuti mendung


Ah, serumit apapun persoalan mendera, Larik berusaha menepis kemungkinan ia menderita sakit jiwa. Meski begitu ia merasa tersindir, membuatnya kembali menyadari keberadaan yang masih lebih baik daripada lelaki yang kini berdiri beberapa langkah di depannya. Ia berusaha tak pedulikan lagi gelandangan itu berteriak-teriak kesetanan sembari menghadapkan wajahnya ke matahari, memperagakan dua-tiga gerakan yang diulang-ulang. Seolah tak acuh, Larik berusaha mengalihkan pandangan ke satu sudut lain di alun-alun. Tempat di mana ia kerap membeli koran minggu di hari-hari biasa, sebelum ada pembatasan oleh pemerintah yang membuat para penjual kaki lima urung menggelar dagangannya. 

Larik tahu, pekerjaan menulis memang tak membuatnya kaya dan bisa mempertahankan usia pernikahannya lebih lama. Ia pun sadar, penghasilan dari menulis bukan untuk mencukupi kebutuhan setiap saat, alih-alih berguna di saat-saat genting belaka. Sedangkan derita pandemi rupanya lebih awet, membuat kegentingan seakan memanjang tak kunjung reda. Tetapi selama ini ia merasa, setiap masalah ataupun kerisauan dapat tumpah lewat tulisan, terurai menjadi butir-butir penyelesaian atas sengkarut pikiran. Tidak hanya terkait problematika hidup, ia dapat pula mengutuk kebobrokan sistem, termasuk ketidak-beresan pemerintah yang menurutnya perlu diperingatkan. Bagaimana tidak? Ia pernah menyaksikan sendiri ketidak-beresan itu, setelah beberapa waktu lalu ada seorang temannya pulang kerja—mungkin karena capek—mampir di warung kopi. Sedangkan waktu itu masih berlaku masa pembatasan kegiatan masyarakat, yang membuat temannya itu kesulitan untuk sekadar mencari tempat istirahat. Celakanya, ada orang lain yang kemungkinan merekam diam-diam lalu menyebarkan videonya ke media sosial, dan tak lama kemudian berakhir dengan pemecatan.

“Sesederhana itu karier berakhir di tengah pandemi,” desis temannya lirih menahan geram pada Larik di pertemuan berikutnya.

Larik menyadari, tidak banyak persoalan dapat terpecahkan lewat tulisan, karena kenyataannya selama ini tulisannya pun tak dapat menghidupi keluarga, apalagi mengentaskan nasib orang-orang di sekitarnya. Tetapi ia meyakini dengan begitu kebenaran akan abadi, dan jejak tulisan kelak akan menjumpai momentumnya sendiri. Selain istrinya sudah tak betah hidup miskin, sepuluh tahun pernikahan tak memberinya kesempatan menimang seorang anak pun. Dan untuk hal-hal yang demikian, apa daya sebuah tulisan bekerja?

“Coba kau lihat, Anak Muda!” Teriakan gelandangan itu mengagetkan Larik, membuyarkan pikiran yang sedang ia bangun. Ia melihat lelaki itu berjalan mendekat sembari terkekeh dan sesekali tangannya menunjuk baliho peringatan Hari Anak Nasional yang terpasang di depan Kantor Sekda.

Lelaki yang telanjur dianggapnya berkelainan jiwa itu meneruskan kata-kata, “Dua puluh tahun silam, mereka, anak-anak itu, memaksa seorang presiden turun demi memuaskan berahi masa kanak-kanaknya. Kau tahu?” Merasa ditanya sekaligus tak mau berlama-lama, sedikit heran Larik membalas dengan kening mengerut dan gelengan kepala pelan. Ia melihat dengan jelas ketajaman sorot mata itu mengarah padanya. Ia jadi teringat, tatapan seperti itu terang berbeda dengan cara memandang seorang tetangganya yang kerap bicara sembari matanya tak henti melirik ke mana-mana.

“Kau ini siapa sebenarnya?”  Sedikit ragu, Larik bertanya setelah sorot mata lelaki itu makin mendekat ke wajahnya. Ia pikir, jangan-jangan lelaki itu dulunya bekas mahasiswa frustasi atau mantan aktivis yang dihilangkan paksa.

“Apa perlunya kau tahu, ha?” Kumis lelaki itu terlihat bergerak-gerak lalu pecah menjadi tawa, membuat Larik harus menahan sebentar napas, membuyarkan prasangka di benaknya. Ia tersadar, kewarasan hanya bisa diperoleh sejak dari pikiran.

“Ya sudah. Kau pulanglah temui ibumu, dan minta maaflah selagi ada kesempatan menjadi waras di tengah zaman yang sudah telanjur gila ini.” Lelaki itu mengakhiri kalimatnya sembari menggeleng-gelengkan kepala, kemudian berlalu dengan syair-syair yang terus ia teriakkan.


Matahari besok akan terbit mengembangkan senyummu

lalu dilanjutkan oleh bibir bayi-bayi yang baru lahir

Merekalah nanti yang akan bangkit membetulkan arah sejarah*


Suara gelandangan itu berangsur-angsur menghilang diterpa angin, bersamaan dengan langkah kaki yang semakin menjauh. Larik bungkam, terkenang kampung halaman. Ia mendadak tercenung, benaknya sibuk mengingat tujuan kedatangannya ke tempat ini. ***


*Penggalan puisi berjudul ‘Ode Buat Gus Dur,’ karya Zawawi Imron

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »