Sejarah Ritual - Iswadi Bahardur

KONTRIBUTOR 6/12/2022

Sejarah Ritual

Iswadi Bahardur



Aku Intan, si gila yang dipasung sepanjang waktu. Konon, kata ibu, jiwaku berada di bawah pengaruh ilmu hitam yang dikirimkan lelaki keturunan tukang baruak(1). Untuk menghapus pengaruh ilmu hitam itu, setiap senja aku harus menjalani ritual yang dilakukan oleh dukun berperut buncit seperti gentong. Dukun itu menyembur-nyemburkan air sirih dari dalam mulutnya ke seluruh bagian wajahku. Daun sirih yang telah lumat dalam kunyahannya bercampur dengan ludah memercik ke seluruh bagian wajahku. Terasa asin meleleh ke sudut bibirku. 

“Berhenti! Sudah!” dua kata yang selalu kulontarkan setiap kali ritual berlangsung.

 “Jangan berhenti, Gaek!(2). Terus sembur! Keluarkan pengaruh jahat itu dari badan anak gadisku!” setiap kali aku melawan, selalu ucapan itu yang diteriakkan ibu untuk menyemangati si dukun buncit suruhannya.

Aku menangis setiap kali usaha melakukan perlawanan gagal. Sebaliknya, mata ibuku semakin bersinar cerah bila melihat tubuhku gemetar dalam kekalahan. 

 “Nah, itu! Kena setan itu, Gaek! Itu dia kesakitan! Terus lanjutkan, Gaek!” sorak ibu terdengar demikian jumawa bila aku telah meraung terkena semburan dukun buncit yang dipanggilnya gaek

“Pfuaah…Pfuah! Tenanglah, kau, Piak!(3). Anakmu dalam perlindunganku! Pikat hitam itu tak akan lagi dapat mengganggunya!” begitulah kalimat penutup yang akan selalu disuarakan dukun buncit setiap kali ritual penyemburan wajahku dengan air sirih telah diakhirinya. Tidak lupa ia menyodorkan tangan, menyentuh pipiku disertai tatapan gatal seorang lelaki tua kesepian sebelum akhirnya ritual disudahi. 

Tak dapat kuhitung sudah berapa ratus kali dukun tua itu melakukan ritual busuknya. Saking tak terhitung kalinya, tidak jarang rasa ngeri yang ditumbuhkannya dalam perasaan terpaksa kumanipulasi menjadi sebuah kemanisan. Kubayangkan tubuhku sedang menari di atas panggung besar nan  megah, meliuk-liuk dalam iringan musik yang mendengung jauh ke dalam sanubari. Ribuan tangan menggapai-gapai hendak menyentuh tiap lekuk tubuhku yang basah dikucuri keringat. Di antara dentang suara musik, suara penonton yang demikian riuh juga semakin tak henti menyoraki agar tubuhku terus menari, agar jiwaku terus bergelora mengikuti alun musik yang melolong tinggi. Sampai pada titik gerakan yang tak mampu kukendalikan lagi, tubuhku seperti terbang begitu lesat ke sebuah lorong hitam, lantas terjatuh di pangkuan seorang lelaki yang sangat kukenali. Namun tak berselang lama, tubuh lelaki itu lenyap, diseret oleh segerombolan sosok bertopeng hitam.

**

Ritual penyemburan laknat itu berawal dari pertengkaran dengan saudara laki-lakiku yang bernama Iman. Uda(4) man berdiri di depan pintu kamarku. Wajahnya tegang seperti kulit udang baru dijilat api pemanggangan. Bibirnya bergerak-gerak seperti menggumam beribu kalimat yang siap diluahkan ke hadapanku. Aku tahu dia akan menyambung perdebatan yang tidak selesai kemarin malam. Aku rasa di kepalanya yang kini mendongak juga bersarang kesimpulan buruk; adik perempuannya harus segera dimandikan dengan ramuan tujuh rupa sebelum terlanjur gila. 

 “Bagaimana? Kau masih tidak nurut perintah uda?” benar saja dugaanku, kalimat pertamanya sudah membombardir nyaliku. 

“Tetap seperti kemarin, Uda. Tak ada yang harus Intan ubah, karena memang tak ada yang keliru,” jawabku tegas.  

Mata uda Iman melotot mendengar jawabanku. Seperti tidak yakin dengan apa yang didengarnya, didekatkan posisi berdirinya ke hadapanku menjadi sangat dekat. Dalam posisi berdiri yang hanya berjarak beberapa senti, dapat kutangkap, matanya sangat mewakili mata ibu bila menatapku; tajam dan menguliti setiap inci rahasia yang kusembunyikan. 

“Kau jawab begitu, apakah kau ingin kena kutuk?” intonasi uda Iman berubah menjadi tinggi. Wajahnya memerah. Aku tahu, ia menahan amarah, tetapi aku tidak ingin mengubah apa pun keputusan tentang lelakiku yang dibencinya.

“Uda,  ini tidak masuk akal. Mana mungkin Intan kena kutuk hanya karena mencintai seorang lelaki yang tidak melakukan kesalahan apa-apa?”

“Jangan sangkal ucapan saudaramu ini. Lidah lelaki tanah gonjong itu sakti, Intan! Kau hanya besar di bangku sekolah, tapi tidak mengerti dunia kutuk!” 

“Dunia kutuk apa sih? Uda jangan aneh-aneh. Ini kota besar lho, kota modern,”   sangkalku mencoba menjernihkan pikiran Iman yang seperti sedang dikuasai kemarahan. 

Sungguh aku tidak ingin melanjutkan perdebatan menjadi berlarut-larut. Aku ingin menyudahi dengan cara berlalu dari hadapan  uda Iman. Sayangnya rencanaku terlambat. Dia memegang tanganku dengan kuat saat berniat beranjak. 

“Lelaki itu tidak bersalah, katamu? Kau sangat naif, Dik. Ini pesan terakhir uda, tinggalkan dia sebelum kau menyesal kalau nanti akhirnya tahu dia berasal dari negeri mana!” 

“Tidak akan kutinggalkan sekalipun dia berasal dari negeri hantu!”

 “Jangan kau rusak kesucian darah bangsawan rantau pesisir yang mengalir dalam keluarga kita karena mencintai laki-laki dari keturunan tukang baruak!”

Keturunan tukang baruak? Dahsyat sekali sebutan itu! Sedahsyat hempasan daun pintu kamarku oleh tangan kekar uda Iman setelah berkata begitu. Dia pergi menenteng kemarahan membludak. Sebelum menghilang, masih dapat kusaksikan uda Iman mengepalkan tangan kanannya sekali lagi.

Belum lepas rasa terkejutku, dari luar kamar telah muncul Hera, kakak iparku. Saat ia berdiri di ambang pintu kamar tak kutatap wajahnya. Jika perempuan ini yang telah muncul, sebaiknya jangan beraksi lagi. Itulah pelajaran yang kudapatkan sejak tinggal di rumah ini; rumah yang menurut pengakuan Hera dibangun dari hasil  kerja kerasnya sendirian selama belasan tahun.

“Kuizinkan kau numpang di sini, tetapi kau harus tahu, rumah ini milikku, bukan dibeli dari hasil bisnis saudaramu. Kau paham, kan maksudku?” ceramah Hera dulu, tepat di hari kedua aku bermalam di sini. 

Ucapannya mengandung racun yang menyakiti perasaanku. Aku mengerti apa maksudnya—dia adalah ratu, sang penguasa rumah megah ini, sedangkan kakakku diperlakukan tak ubahnya seorang asisten rumah tangga lantaran bisnis rumah makannya tak bisa menghasilkan cuan lebih banyak dari hasil bisnis berlian milik Hera. 

Aku tersentak dari lamunan ketika Hera mengetukkan jarinya ke daun pintu. Bibirnya menyungging senyum sinis. 

“Makanya jangan jadi perempuan gata(5) di negeri orang,”  

Belum sempat kujawab ejekannya, Hera telah beranjak dari depan kamar. 

Aku sekarang mengerti mengapa uda Iman begitu ngotot memerintahku untuk mengakhiri hubungan dengan Ronald. Berat dugaanku, istrinya yang mirip macan betina itu ikut nimbrung menyuntikkan racun kebencian ke dalam hati suaminya. Besar kemungkinan juga Hera berharap, dengan cara itu dia bisa mengusirku dari tempat ini. Kalau bukan alasan itu, lantas alasan apa lagi? 

Setahuku Ronald bukan lawan yang sepantaran dengan Iman atau Hera, sebab dia bukan pebisnis rumah makan atau pebisnis emas berlian. Ronald masih berstatus mahasiswa, sama seperti aku. Bedanya, Ronald adalah ketua organisasi mahasiswa di universitas tempatku belajar, sedangkan aku hanya aktivis pemula, tak ubahnya sebagai daun-daunnya saja di sebatang pohon beringin yang kokoh. Atau kalau kupikir lebih, juga tidak masuk akal kalau uda Iman dan Hera membenci Ronald hanya karena mereka berdua adalah pemasok dana partai yang anti terhadap aksi demonstrasi mahasiswa. Lha, makin tidak lucu juga kalau alasan keduanya membenci hubunganku dengan Ronald karena orang tua Ronald adalah rival bisnis mereka. Makin tidak waras dong kalau itu alasannya, sedangkan ayah dan ibu lelaki yang kucintai itu hanya petani jagung di kampung halamannya. 

Hingga sore menjelang tak kutemukan alasan yang masuk akal atas kebencian uda Iman terhadap Ronald. Lelah berpikir sendiri membawaku ke dalam kantuk sehingga tertidur di kursi. Belum lama berselang, getaran berulang dari gawai yang tergeletak di meja akhirnya membangunkanku. Kukucek mata, ada pesan masuk dari Ronald. 

“Besok jangan lupa terjun ke lapangan, sayang. Aksi kita berpusat di depan gedung istana.” Bunyi pesan tersebut. 

Entah mengapa aku ragu membalas pesan Ronald. Kututup layar gawai dengan perasaan gelisah.   

**

Bundaran di depan gedung pusat pemerintahan itu telah dipadati massa sejak tadi pagi. Ada ratusan aparat keamanan yang berkumpul Ada ribuan rekan-rekan aktivis mahasiswa berkumpul membentuk lingkaran. Aku dan Ronald ada di antara mereka. Ronald menyampaikan orasinya, mewakili rekan-rekan mahasiswa dari berbagai kampus, menyuarakan penolakan terhadap putusan politik yang merugikan masyarakat.    

“Intan, kamu jangan jauh-jauh dari tempat aku berdiri ya. Kalau ada apa-apa cepat pegang tanganku,” pesan Ronald sebelum rombongan kami berangkat ke lapangan lokasi aksi demo tadi pagi. Entah kenapa aku merasa gemetar saat mendengar pesannya itu. Bukan sekali dua kali aku mengikuti aksi-aksi demo. Selama ini sesama teman aktivis mengenalku sebagai cewek yang kuat. Tapi hari ini aku mendadak merasa sangat melankolis. Hatiku dikerubungi rasa gelisah dan cemas.

“Jangan khawatir. Kamu kan tahu aku udah sering ikut aksi seperti ini. Aku nggak akan kenapa-kenapa. Percaya sama aku, ya” aku berbohong untuk menguatkan Ronald. Saat Ronald memegang tanganku, saat itu aku menangkap di matanya melintas tatapan  kecemasan. 

Menjelang siang, aksi orasi semakin menggebu. Ronald dan perwakilan mahasiswa dari berbagai kampus lain masih kukuh menyampaikan aspirasi. Ketika Ronald baru selesai berorasi dan hendak menyerahkan pelantang kepada rekan aktivis di sebelahnya, dari arah belakang barisan terdengar suara letusan-letusan senjata. Aksi orasi lanjutan belum dimulai ketika tiba-tiba ada tembakan gas air mata ke arah kami. 

Rombongan rekanku menjadi riuh. Semburan gas air mata kini mengarah ke titik lokasi aku dan Ronald berada. Begitu cepat, tanpa sempat menghindar, aku terkena semburan gas air mata. 

“Intan! Pegang tanganku! Cepat!”

Aku masih mendengar teriakan Ronald dari barisan tengah ketika mataku memerih. Ronald yang semula hendak maju ke barisan depan, berbalik menuju ke arahku. Dengan gerakan cepat dia berusaha menerobos massa yang mulai panik. Belum sempat aku meraih tangannya, dari arah belakang Ronald nampak puluhan orang dengan pakaian seragam dan penutup wajah melesat begitu cepat ke arah kami. Orang-orang berseragam hitam itu menarik kasar tubuh kekasihku dan tubuh rekanku yang lain. Jeritan kesakitan, teriakan perlawanan berbaur dengan suara tembakan senjata api dan semburan gas air mata. Rasa panikku seperti memicu rasa nyeri di mata semakin menjadi parah. Aku tidak bisa lagi menangkap bayangan Ronald. 

Seperti de javu, suara Ronald mendadak tidak kudengar lagi. Kugapai sekeliling untuk mencari, sekiranya di sekitarku masih ada dia. Tetapi tidak kutemukan. Ronald yang kucari malah berganti dengan dua pasang tangan kekar, begitu sembrono menarikku dari arah belakang. Aku berusaha menoleh untuk mengenali wajah pemilik kedua pasangan tangan itu. Namun tidak bisa kutangkap raut wajahnya lantaran pandanganku mengabur. Kini hanya gerakannya yang cepat menarik tanganku meninggalkan kerumunan pendemo yang bisa kurasakan. Sebelum dapat memastikan kemana gerangan akan diseret, rasa pusing telah lebih cepat memakan kesadaranku.  

**

Sejak aku dibawa pulang oleh uda Iman ke kampung halaman ibu, tubuhku dipasung dalam kamar di bagian belakang rumah. Katanya aku gila, walau aku tidak merasa telah menjadi perempuan gila. Kata ibu, aku telah gila karena ilmu hitam kiriman lelaki keturunan tukang baruak.  Uda Iman dan ibu meyakini, obat penyakit gila yang kuidap hanyalah ritual semburan ilmu milik dukun bucit suruhan mereka berdua. Sejak itulah tidak dapat kuhitung sudah berapa ratus kali dukun keparat itu melakukan ritual busuknya dengan disaksikan oleh ibu. Dan usai ritual semburan ludah si dukun pada senja kali ini, aku merasakan lebih terguncang dari sejna-senja sebelumnya. Dadaku sesak. Tidak sengaja aku telah mendengar percakapan Ibu dan uda Iman dari balik pintu kamar.

“Kau yakin si Ronald anak Upiak Banun itu tak bisa lagi kembali pulang, kan?”

“Yakin Bu. Sudah kubereskan dia dengan baik.”

“Iya. Jangan sampai anak si Banun itu melakukan apa yang dilakukan ibunya dulu. Ibu tak sudi anak janda gatal itu menikahi adikmu. Kamu jangan sampai lupa, Iman. Dulu Upiak Banun itu pernah merebut ayahmu dari ibu dan mereka menikah di Jakarta!”

Kurapatkan badan ke dinding kamar serapat-rapatnya. Percakapan mereka membuatku ingin lebur ke dalam dinding kamar sehingga esok hari tidak ada lagi ritual busuk itu. 

**

Padang, 2022


Catatan


(1)Tukang baruak: panggilan/julukan khas untuk laki-laki di Minangkabau  yang bekerja sebagai pemanjat pohon kelapa

(2)Gaek : tua; lelaki tua

(3)Piak:upiak; perempuan; panggilan khas perempuan di Minangkabau

(4)Uda:abang; kakak; panggilan akrab untuk laki-laki yang lebih tua di Minangkabau

(5)Gata gatal; genit; ganjen; nakal 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »