Renta - Puspa Seruni

KONTRIBUTOR 7/31/2022

RENTA

Puspa Seruni






Lelaki berusia 95 tahun itu, yang sedang duduk di atas kursi roda, memandangi beberapa anak, lelaki dan perempuan, berusia antara enam hingga sembilan tahun, yang tangannya menunjuk-nunjuk, yang mulutnya tertawa-tawa, yang memaki kepadanya dari luar pagar rumah. Kedua tangannya tergolek di pangkuan dan terlihat gemetar. Bibirnya tampak bergerak-gerak dan berkerut dan mengerucut maju dan seperti sedang mendesiskan sesuatu dan seperti sedang menahan marah, tetapi tak memiliki kuasa untuk melawan bocah-bocah seusia cicitnya. Dia renta, tak berdaya, dan itu menyebabkan anak-anak kecil itu bebas saja menertawakannya. 

“Dia gemetar ... dia gemetar. Lihat tangannya,” ujar anak lelaki berkaos biru dari atas sepedanya, yang disambut gelak tawa ke empat anak lainnya.

“Bibirnya juga gemetar, seperti dubur ayam,” ucap bocah perempuan yang rambutnya di kuncir dua, sambil berusaha menirukan bentuk bibir si lelaki tua. Ucapan mereka sahut menyahut, seperti sengaja memancing kemarahan si lelaki renta. Suara gelak tawa mereka terdengar hingga ke dapur.

“Heh, pergi ... pergi.”

Mina datang tergopoh-gopoh dari dalam rumah sambil membawa sapu dan mengacungkannya kepada kelima anak itu. Anak-anak itu kembali tertawa, melambaikan tangan kepada Mina kemudian mengayuh sepedanya, pergi menjauhi rumah bercat putih itu. 

Hampir setiap pagi, saat si lelaki tua duduk di teras dan menikmati udara pagi, anak-anak itu akan berhenti di depan pagar setiap kali melihat lelaki tua dan mulai meledeknya dari atas sepeda dan mulai menertawainya. Sebenarnya, lelaki tua itu ingin menangis, miris rasanya melihat dirinya ditertawakan oleh bocah-bocah sambil disebut-sebut sebagai ‘Kakek dubur ayam’. 

Lelaki tua itu meringis, jemari tangannya terangkat pelan-pelan kemudian meraba bibirnya. Dubur ayam adalah bagian dari ayam yang sangat dia tidak sukai setelah leher, usus dan juga ampela. Dia merasa jijik jika ada orang yang mau memakan tempat keluarnya kotoran itu. Dan sekarang, anak-anak ingusan itu menjulukinya kakek dubur ayam. Betapa malangnya.

Setelah anak-anak itu pergi, Mina menghampiri dan memutar kursi roda, membawa lelaki itu masuk ke dalam rumah. Mina menghentikan kursi roda di depan tivi di ruang tengah. Dia menyalakan televisi dan memilih saluran sembarang semaunya. Lelaki tua itu tak protes, dia menurut saja pada pilihan Mina. Mina meninggalkannya, melanjutkan memasak di dapur dan membiarkan drama rumah tangga menenani si lelaki tua.

Dia sudah sangat lama tidak punya acara televisi favorit, tidak seperti enam puluh tahun lalu saat dirinya masih muda dan sangat menyukai acara yang berbau hukum dan politik. Bahkan, saat karirnya sedang moncer, dia beberapa kali menjadi narasumber di acara bincang-bincang pakar, menjadi pembahas topik yang sedang jadi sorotan publik, menjadi pengamat kebijakan hukum pemerintah ataupun menjadi pembicara dengan tema lain yang tak kalah pentingnya. Dia tidak pernah tampil mengecewakan, ulasan-ulasannya selalu tepat sasaran, analisisnya tajam dan penyampaiannya selalu santun dan tegas. 

Tapi itu dulu, saat tubuhnya masih tegap dan gagah, saat otaknya masih sempurna dan saat predikat pengacara terbaik disandangnya. Akan tetapi sekarang ini, dia hanyalah pria renta tak berdaya, yang duduk di atas kursi roda, menatap layar kaca, menyaksikan dua orang wanita berbantah berebut suami mereka. Wanita bergincu merah, yang tubuhnya lebih padat berisi, tampak sibuk mencecar wanita lain yang lebih kurus dengan pakaian yang sederhana. Wanita bergincu merah mempertanyakan apa alasan suaminya berbagi cinta dengan wanita kurus itu, yang menurutnya tidak lebih menarik dibanding dirinya. Katanya, dia akan lebih bisa menerima jika wanita itu jauh lebih cantik darinya. Bibir lelaki tua itu tersungging, miris. 

Jaman berganti ternyata kebohongan wanita tetap sama, ucapnya dalam hati. Dia ingat, dulu, saat usia pernikahannya baru lima tahun dan mereka belum dikaruniai seorang anak, istrinya juga mengatakan hal yang sama kepadanya. Dia mencerca partner kerja si lelaki tua, yang dituduh menjadi selingkuhannya.

“Kalau selingkuhanmu lebih berkelas dari aku, nggak masalah. Aku masih bisa terima,” ucap istrinya dengan nada marah.

Istrinya seorang dokter di sebuah rumah sakit swasta, dia mandiri, tegas, suka memerintah, menguasai dan tidak bisa menerima penolakan. Sedangkan si “wanita lain” itu, hanya seorang admin di sebuah kantor hukum tempatnya bekerja-waktu itu si lelaki tua baru menapaki karirnya dengan bergabung di sebuah firma hukum-penampilannya sederhana, tutur katanya sopan, lembut, penuh perhatian dan tentu saja manis.

Lelaki tua, yang kala itu penghasilannya masih dibawa istrinya, menuruti saran istrinya sepuluh tahun kemudian. Saat karirnya sebagai pengacara mulai menanjak, seorang klien perempuan, yang memiliki masalah dalam rumah tangganya, memiliki harta dua kali lipat dari istrinya, terpesona pada si lelaki tua. Perempuan itu akhirnya bercerai dan lelaki tua itu yang mengurus perceraiannya dan mereka kemudian berkasih-kasihan dan akhirnya si istri tahu bahwa suaminya bermain gila dan dia kembali marah dan tentu saja tidak terima meski wanita baru ini jelas lebih cantik dan lebih segalanya dari si istri. Tidak seperti apa yang dia ucapkan sepuluh tahun lalu.

Pertengkaran dua wanita dalam drama televisi itu mengingatkannya kepada sang istri. Dia tersenyum, sambil membayangkan istrinya yang sedang cemberut marah. 

“Makan dulu, Kek.”

Mina menghampiri dan memutar kursi rodanya lalu mendorongnya ke meja makan. Adegan pertengkaran dua orang wanita terdengar semakin panas. Kali ini dia tak bisa lagi menonton karena Mina menghadapkan kursi roda ke arah meja, membelakangi televisi. Padahal dia sangat ingin menonton, sekadar untuk membasuh kerinduannya kepada istrinya yang sudah meninggal tiga puluh tahun lalu. 

Sambil menyuapinya, pandangan Mina melotot memperhatikan layar televisi yang semakin seru. Meski mata Mina mengarah pada yang lain, tetapi tangannya seakan sudah hapal di mana letak mulut si lelaki tua. Persis setelah makanan di piring habis, drama rumah tangga di televisi juga berakhir. Mina mengusap mulut si lelaki, memberinya minum, kemudian kembali memutar kursi roda dan mendorongnya hingga ke depan televisi. 

Kali ini, Mina memilih saluran masak memasak-sepertinya siaran ulang-yang sedang menayangkan masakan berbahan dasar kerang, makanan yang dulu paling digemarinya. Lelaki tua itu berasal dari pesisir dan sudah akrab dengan laut sejak masih kanak-kanak. Siaran televisi mengantarnya ke masa lalu, mengingatkannya pada perjuangan sang ayah, hanya seorang nelayan tetapi berhasil mengantar dirinya hingga lulus sebagai sarjana hukum. Sayangnya, saat karirnya baru dimulai, sang ayah meninggal.

Setelah mencuci piring, membereskan dapur, menjemur pakaian, Mina mendekati si lelaki tua. Mina mematikan televisi kemudian memutar kursi roda. Dering ponsel membuat langkah Mina terhenti. 

“Halo,” suara cempreng Mina memenuhi ruang tengah. Beberapa saat dia tampak terdiam, mendengarkan suara dari si penelepon.

“Tapi, Mbak. Minggu depan itu acara penting, adik bungsu saya menikah. Saya tidak ....”

Kalimat Mina terhenti, rupanya si penelepon menyelanya. Sekali lagi Mina tampak terdiam, mendengarkan dengan wajah menahan geram. 

Tak berapa lama, telepon terputus. Mina menoleh pada si lelaki tua yang sedang memandangnya. Lelaki tua itu bisa menduga, si penelepon adalah Agnes, cucunya. Dan seperti biasa, Agnes akan melarang Mina cuti dengan alasan dia sedang sibuk dan tak bisa menjaga si lelaki tua. Ini bukan kali pertama dan tentu bukan kali terakhir. 

Agnes adalah anak dari Omar, anak sulungnya, yang meninggal lima belas tahun lalu. Lelaki tua itu hanya memiliki dua anak, yaitu Omar dan Zayid. Zayid tinggal di luar kota bersama kedua anaknya dan telah berusia enam puluh tahun dan sering sakit-sakitan dan sudah tak pernah datang lagi menjenguknya. 

Si lelaki tua kini hanya tinggal bersama Mina, perempuan tambun yang disewa Agnes untuk merawatnya. Si lelaki tua memang tak pernah mau tinggal di panti Jompo. Dalam surat pembagian harta warisnya, si lelaki tua menulis bahwa siapa saja yang merawatnya di masa tua akan mendapatkan pembagian sepersepuluh lebih banyak daripada yang lain. Waktu itu Omar menyanggupinya. Namun, hingga Omar meninggal, si lelaki tua masih hidup sehingga kewajiban mengurusnya diberikan kepada Agnes sebagai anak tertua dari Omar. Agnes berbeda dengan Omar, dia tidak mau merawat si lelaki tua di rumahnya dan memilih membelikannya sebuah rumah sederhana berukuran 40 meter persegi, yang jauh lebih kecil dibanding rumahnya dulu. 

Mina menoleh dan memandang si lelaki tua. Dia menghela napas panjang. Mina menghampiri si lelaki tua dan menggenggam tangannya dan membisikkan sesuatu kepadanya dan berdiri melanglah menuju kamarnya. Lelaki tua tidak membantah, tidak juga mencegah. Hanya air mata yang kemudian luruh satu persatu dari sudut matanya, mengalir ke pipi, menetes ke dada hingga berjatuhan ke punggung tangannya.

Mina keluar dengan membawa sebuah tas besar dan melambaikan tangan kepada si lelaki tua. Lelaki tua hanya memandang Mina tanpa berkedip. Dia tak mau Mina melihat air matanya yang berjatuhan. Terkadang lelaki tua itu menyesali doa yang selalu meminta umur panjang. Teman-teman yang seusia dengannya sudah lama meninggal, bahkan istri dan anak sulungnya. Dia kini hidup sendirian, menyaksikan bagaimana orang-orang yang masih ada ikatan darah ataupun yang tidak, berbuat semena-mena kepadanya yang sudah tanpa daya.

Jembrana, 17 Juli 2022

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »