Rumah di Tengah Sawah - Adi Zamzam

KONTRIBUTOR 1/15/2023

Rumah di Tengah Sawah

Adi Zamzam



Sebenarnya Naryo tak pernah menginginkan tinggal dalam rumah di tengah sawah itu. Dulu, yang dibayangkannya adalah ia akan memboyong putri pilihannya ke sebuah istana sederhana, nyaman, dan yang terpenting adalah dari hasil keringatnya sendiri.

“Kalau nebeng bahu mertua, kamu akan kehilangan wibawa sebagai lanangan,” jawab bapakmu ketika itu. Bapakmu begitu getol menyuruh rajin bekerja. Padahal menurutmu, sekeras apa pun seorang kuli memeras keringat, yang kaya tetaplah majikan. “Dan terutama agar kau tak sering dikata-katai istrimu cuma modal isi kolor,” tambah bapakmu, tanpa risi.

Oh, jadi begitu, batinmu saat menemukan simpul kalimat bapakmu dengan kenyataan hidupnya. Kau memang pernah mendapati si mbokmu yang mengata-ngatai bapakmu dengan sebutan “tukang nggandul 1)”, “cuma modal isi kolor”, bahkan “pemalas”. Padahal kau sering melihat, saat bapakmu bekerja kadang sampai lupa waktu dan batas kekuatan. Hingga akhirnya kaki kirinya termakan reumatik dan tulang belakang melengkung di batas umur senjanya.

Kau pun kemudian menjadi pemilih sekali terhadap gadis-gadis yang masuk dalam pandangan. Sebelum kemudian menemukan dia yang hari ini tinggal bersamamu, di dalam rumah di tengah sawah itu.

*           *           *

 

Di dalam kamar mandi, istrimu berteriak-teriak macam anak kambing. Nasi harus sudah disiapkan, lantai nanti harus disapu, piring-piring kotor, kotoran ayam di teras samping rumah, dan satu lagi—sepulangnya dari kerja, semua pekerjaan rumah harus beres. Sementara dia, setelah bangun tidur hanya disibukkan dengan mandi, dandan, dan tentu saja teriak-teriak, sebelum kemudian lenyap di ujung jalan menuju pabrik sepatu di pinggiran kota Jepara. Sejak pernah kaudengar presiden berujar “Kerja! Kerja! Kerja!” banyak pabrik bermunculan, yang menelan puluhan ribu orang tiap harinya di sana.

Tapi pagi ini kau tidak ingin kalah lagi. Kau menemukan tiga batang bambu di samping rumah yang bisa dijadikan alasan untuk tidak menuruti perintah-perintah membosankan itu. Ada kandang ayam yang harus segera diselesaikan, agar ayam piaraan tak habis dimangsa werok 2) juga ular.

“Bukankah itu bisa dikerjakan nanti?” kepala perempuan itu melongok dari belahan pintu dapur.

Kau tak memedulikannya.

“Kau benar-benar tak mau mengerjakan pekerjaan rumah?”

Kau masih tak memedulikan suara yang penuh emosi itu.

“Awas nanti malam ya!” terdengar sebuah umpatan. Dan selanjutnya memang terdengar bunyi pintu lemari terbentur keras.

Malam harinya ternyata perempuan itu benar-benar menepati ancamannya. Punggungnya anteng membelakangimu—tanpa dengkur. Hingga kauyakin, bahwa perempuan itu tak benar-benar pulas. Sudah empat tahun kalian hidup bersama. Dan kau sudah hafal  kebiasaannya.

Hukuman itu berjalan hampir satu pekan. Hingga ayam-ayam peliharaan kalian mulai terbiasa menjadi makhluk dalam kandang. Sementara kau mulai tak betah dengan perlakuan itu. Ada hasrat yang mulai meronta-ronta di dalam tubuhmu. Dan kautahu sumbernya berasal dari dalam celana kolormu.

Sialan! batinmu.

Hal pertama yang harus kaulawan adalah rasa malumu. Malu, bahwa ternyata kau memang butuh itu. Menyalurkan hasrat sebagaimana mestinya, sebagaimana yang sering kau bayangkan ketika masih hidup sendirian dahulu.

“Apa?!” sentil perempuan itu saat menanggapi tarikan halusmu di bahu. “Kalau butuh saja kelakuannya kayak kucing!”

Hanya dengan satu suara itu, semuanya tiba-tiba berubah. Bukan hanya hasratmu yang tiba-tiba lenyap, tapi wajahmu juga memanas. Tanpa pikir panjang kau langsung bangkit dari pembaringan, dan meninggalkan perempuan itu dengan gerutuan panjang pendeknya.

“Lelaki kok maunya enaknya doang!” suara yang terakhir kaudengar.

Di dalam kamar yang pernah direncanakan sebagai kamar anak kalian, dadamu masih terasa panas. Dalam hati, kau pun lantas mengikrarkan balas dendam!

*           *           *

 

Hanya selang sehari pascaikrar balas dendam, kejadian yang kautunggu-tunggu akhirnya mengada juga.

“Ada ular! Ada ular, Kang!” malam yang hening pecah oleh teriakan perempuan itu. Kau yakin bahwa suaranya berasal dari kamar mandi. Hari-hari sehabis musim panen padi biasanya memang banyak ular naik ke atas, mencari tempat aman.

“Ada ular…!” perempuan itu masih terdengar berteriak-teriak dan ribut, entah mengambil apa.

Sementara di sudut bibirmu terbentuk senyum kecil. Semoga kobra! batinmu mengalkulasi. Sebab jika hanya ular air, ular kadut, ular dumung, atau hanya ular hijau, rasa takut itu takkan mampu menghukumnya. Dan lebih baik kau terus meringkuk di pembaringan.

“Itu ular kobra!” suara terbata nan serak itu tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu kamar. Mengagetkanmu.

Kau coba bertahan dalam posisimu. Meringkuk. Memeluk nasib malangmu. Memeluk egomu. Mengenang keberadaanmu di rumah ini yang jelas atas paksaan. Kalau orang tua punya harta lebih, buat apa kalau tidak diberikan kepada anaknya? Alasan mertua lelakimu—sembari bilang kalau kau tak mau, boleh saja akhiri hubungan pernikahan yang baru satu tahun itu. Tentu saja kaupaham alasan tersembunyinya. Kebiasaan orang tua yang tak ingin ditinggal jauh-jauh si anak—apalagi anak tunggal. Meskipun rumah mereka berada di dalam kampung—sementara kalian menjadi pelopor rumah di tengah sawah.

“Kamu itu manusia enggak sih?!” sembur perempuan itu dan lalu berlalu. Suara itu terdengar menahan tangis.

Panas itu kembali bergulung-gulung di dalam dadamu. Kau mulai menimbang dan menghitung-hitung. Apakah perempuan itu sudah bisa memetik pelajarannya?

Menit berikutnya kau sudah memegang sebatang kayu dan melihat perempuan itu kepayahan memukuli ular kobra yang berdiri garang dan membandel tak mau pergi dari kamar mandi. Perempuan itu menangis seperti anak kecil.

*           *           *

 

Makan malam yang ganjil setelah seharian kalian saling mendiamkan. Pagi tadi perempuan itu memasak. Pepes teri bakar dengan sambal tomat kesukaanmu. Bau harumnya mengusik ketenanganmu seharian, apakah kau yang akan memulai duluan, atau biarlah dia yang memulainya duluan?

Semua makanan itu sudah tersaji lengkap di meja makan. Tapi tak ada suara panggilan buatmu ke sana. Hanya bau harumnya.

Kau hampir saja duduk di kursi makan saat tahu bahwa dapur sudah sepi dari segala bunyi perabot rumah tangga. Tapi kemudian kau malah teringat seekor tikus yang tadi pagi masuk perangkapmu. Padahal kau hanya memasang kepala ikan pada kail perangkap.

Apakah kau hendak dipersamakan dengan tikus? Yang setelah kena perangkap, lantas, “Nah kan, kau ternyata tak bisa hidup tanpa diriku?” Padahal di luar ada warungnya Parni yang sedari jam enam pagi tak pernah sepi dari pembeli.

Warung Parni terletak di ujung deretan rumah warga kampung dan paling dekat jaraknya dengan rumah kalian. Dan kau memang biasa mangkal ke situ saat kondisi darurat—ketika istrimu sakit, ketika istrimu dapat jam kerja malam, atau ketika istrimu malas memasak. Hanya saja belakangan kau risi menyambangi warung itu—tepatnya sejak beredar gurauan bahwa seharusnya Parnilah yang layak jadi istrimu. Kau menulikan telinga. Kau bahkan sering berdoa semoga pabrik yang telah mengubah segala tatanan kehidupan itu pergi entah ke mana, meski banyak orang—utamanya para perempuan, kini telah bergantung padanya. Bukan hanya mengubah tatanan kehidupan, tetapi juga tabiat mereka.

Kau memang kadang merasa tak sepenuhnya mencintai istrimu—terutama sejak tumbuh kecerewetannya yang hampir selalu menelanmu bulat-bulat itu. Apalagi ketika menyadari perlakuan Parni—yang bisa kau rasakan sinyal-sinyalnya. Janda gatal?

Kau merasa tertolong ketika ada Jarwo yang tiba-tiba saja menawarimu kerja jadi kenek tukang bangunan, meskipun biasanya kau juga seorang tukang. Kau menyanggupi tawaran itu. Upah lebih rendah dari biasanya tak mengapa, setidaknya bisa menghindarkanmu dari ketajaman lidah yang merajam hampir tiap hari. Kehormatan lelaki terletak juga pada kemampuannya cari penghasilan.

Tapi kau sungguh tak menyangka jika ternyata saat kerja Jarwo selalu mencecarmu perihal Parni. Kau hampir tertawa saat menerima tuduhan bahwa kau ada main dengan janda beranak satu itu. Ah, tentu saja tak susah menghubungkan Jarwo dengan Parni. Meski kau melihat sinyal penolakan perempuan itu, dan sempat mendapati kesalahpahaman ketika mula percakapan kaubilang ada seseorang yang ingin bicara serius dengannya.

“Kamu, Kang? Soal istrimu yang suka marah-marah?” tanya Parni, membuatmu sedikit terkejut. Bagaimana dia bisa tahu?

“Perempuan, kalau sudah pegang uang banyak, apalagi hasil kerja sendiri, memang begitu, Kang. Suka merendahkan laki. Susah memang, cari yang bisa menghargai suami. Aku, dulu, kalau mantan suamiku bukan tukang mabuk dan pemburu biduan orkes, harusnya hidupnya enak. Enggak pernah nagih uang belanja, tahunya semua kebutuhan rumah tercukupi. Eh, lha kok masih juga main perempuan di luar. Apa enggak mending cari lelaki lain? Hidup cuma sekali. Buat apa bertahan dengan orang yang betah menyiksa kita, ya ta?”

Hatimu berdesir. Ucapan itu sepertinya juga diarahkan kepadamu. Kau pun urung melontarkan tanya dari mana Parni mendapatkan rahasia dalam kamarnya. Dan kau sudah mantap mengajukan permintaan Jarwo.

Jarwo menepuk bahumu, tanda terima kasih. Meski akhirnya ditolak. Dan kau malah menjadi tempat curhat dua orang yang telah gagal mempertahankan ikatan rumah tangga. Ah, setidaknya Jarwo jadi senang mempekerjakanmu. Dan sekali lagi, kau bisa terbebas dari lidah yang kerap merajam mentah-mentah.

Sebulan, membangun satu rumah. Tambah sebulan membangun rumah lain lagi. Tambah dua bulan lagi membangun rumah lainnya lagi. Hingga entah bagaimana kau sering didera perasaan sunyi. Saat libur kerja, kadang kau melihat bayang-bayang istrimu berseliweran di rumah. Teriakannya juga. Sesekali wajah Parni juga muncul.

Sejak kembali rutin kerja, kau memang jadi jarang bertemu istri. Kalaupun bertemu, kebetulan dia sedang tidur (setelah dapat jam kerja malam), atau terlihat terlalu lelah, atau terburu-buru, atau malah marah-marah. Waktu bergulir begitu saja. Tanpa arti. Tanpa rasa.

Malam itu kau merasa dadamu sudah penuh dengan muatan. Istrimu terlihat lelap. Tapi kau yakin dia pasti akan dengar, lantaran sering membolak-balikkan tubuh.

“Apakah kita akan begini terus?” suara beratmu. Tak ada sahutan. Hanya suara jangkrik.

“Kalau cuma begini terus, tanpa dibeli bapakmu dengan rumah ini pun aku sanggup membuat rumah di lain tempat…”

Saat itulah kau melihat mata istrimu sudah nyala, dan terasa tajam.

Lantaran tak tahan lagi, kau pun memaksa. Hingga terjadilah apa yang telah empat bulan kau inginkan. Meskipun perempuan itu kemudian tersedu sambil berkali-kali menyebut nama Tuhan—lantaran merasa kalah.

Ah, biarlah. Toh tak ada siapa pun di sini, selain kami berdua, batinmu menenangkan kegelisahan.*

 

Demak, 30 Juni 2022.

 

Note

1)      Parasit

2)    Tikus sawah berukuran besar.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »