Langit Ebiet - Agus Manaji

KONTRIBUTOR 5/01/2022
Agus Manaji 
Langit Ebiet




Tidaklah naif rajutan anganmu, meski musykil menangkap jala api 
di langit terluka. Aku tak melihat jala-jala itu. 
Tapi cahaya kota-kota berpendaran lebih terik dari sorot matahari 
di atmosfer, mengurung mimpi angkuh manusia, menggaris tanah 
dan udara. Kusaksikan burung-burung melayangi peradaban asap
dan pohon-pohon terkapar letih memikul luka dan doa. 
Jejak air pudar pada aspal leleh dan atap gedung tinggi, 
meski kadang membandang tanpa kabar sebelumnya. 
Mata air tersengal mengirim isyarat perjalanan 
kepada sungai dan muara. 

Sebuah lagu tak cukup untuk melunasi basah airmata.
Bumi menari melupakan pedih tumbukan dengan meteor 
milyaran tahun lalu, melirik matahari di kebun tata surya. 
Saban pagi kuputar lagumu, sembari memulangkan 
cuwilan sayur dan cangkang telur ke pokok pohon pisang 
di halaman rumah. Aku juga menanam cabai, tomat, dan jahe 
dalam pot. Biarkan awan terbakar. Lubang langit itu 
kosong, bukan jalan mudik. Kita telah menggunting daur air, 
menarik jejak karbon dan fluor hingga jazirah es kutub. 

Orang utan tertegun di depan lubang tambang, 
berlarian di antara pepohonan sawit. Napasku 
memakmumi angin menuruni jurang suhu, 
bergetaran antara nafsu menderu dan rindu.
Bila matahari bangkit, suaramu gema antara sunyi 
dan bayang-bayang tubuhku yang unduk jaga.
Matahari, titik api kesadaran bumi. 

Maret 2022.
puisi ini terinspirasi dan sekaligus merespon Lagu Langit Terluka yang dinyanyikan oleh penciptanya sendiri yakni Ebiet G. Ade

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »