Musim Dingin di Stratford - Irfan Hawary

KONTRIBUTOR 7/10/2022

MUSIM DINGIN DI STRATFORD

Irfan Hawary



Aku rasa hari ini bukan waktu yang tepat untuk  bekerja. Salju bertebaran di mana-mana, terlebih di Stratford.  Angin menebarkan hawa   dingin, menjalar hingga ke ruangan tempatku berada.  Dingin merembes ke dalam kulit  bahkan benar-benar menusuk tulang.  Saat kulirik termometer ruangan suhu menunjukkan angka 5 derajat.

Kemarin waktu aku menggunakan penghangat ruangan  sepertinya masih baik-baik saja. Tapi kenapa suhu terasa  begitu dingin? Apa perasaanku saja?

Namun badanku terasa baik. Begitu kuperiksa penghangat ruangan,  ternyata di situ masalahnya. Aku lupa menyalakannya.

Sebaiknya aku kembali memejamkan  mata. Berharap  saat bangun, suhu di luar nanti tidak terlalu dingin. Jika seperti itu aku bisa memulai beraktivitas lagi.  Tapi saat hendak memejamkan mata lagi,   suara bayi kecil  menangis begitu menggangguku. Hal itu membuatku tidak bisa tidur kembali.  Hingga kepalaku sakit mendengar jeritannya.

Apa yang dilakukan ibunya?  Kenapa  ia tidak mengurus bayinya? Oh sial! Suara rengekannya tidak juga berhenti. Ini malah suaranya makin memekakkan.  Hingga aku berharap bisa  menenggelamkan suara itu.

Mungkin aku sedikit butuh aspirin.  Tapi seorang  editor  bawel, selalu mengingatkanku agar berhenti  memakan obat-obatan. Katanya demi kesehatan. Baiklah  aku akan ikuti sarannya kali ini.

"Mana tulisanmu, kenapa lama sekali? " ujar editor lewat telepon.

Komplit sudah siang ini.  Padahal kemarin editor ini sudah menghubungiku.  Apa ia tidak punya pekerjaan lain selain meneror penulis?

"Maaf, aku belum merampungkan tulisanku," kataku langsung ke inti.

"Iya, tapi kapan?  Jika kamu belum segera merampungkannya aku khawatir pembacamu berhenti mengikuti tulisanmu," ungkapnya setelah mendesah panjang.

Sudah beberapa hari aku belum update tulisanku.  Biasanya  aku menulis tiap hari.   Ada tiga tulisanku yang tengah on going di platform online.  Tapi aku malah kepayahan melanjutkannya.

"Iya, aku mengerti!  Terima kasih sudah mengingatkan," ujarku berharap tidak mendengar lagi ocehannya tentang  integritas serta nasihat yang sudah diucapkannya hampir tiap hari.  Aku sudah kenyang tentang itu.

Semenjak tadi sebenarnya aku ingin berkata pedas . Tapi aku tahan-tahan karena editor bawel ini ada benarnya.

"Ada masalah apa?" ungkap editor itu sedikit melunak.

"Aku  tengah buntu,"  jelasku.

Editor itu kembali menghembuskan napas. Malah terpikirku ia tengah megap-megap.

"Kenapa kamu tidak menulis di luar ruangan? Mungkin idemu akan datang jika kamu melakukannya,"  kata lelaki di seberang jalan sana.

"Baiklah, Aku akan ke kafe, Tapi nanti setelah badai salju mereda," kataku meredakan  kebawelannya untuk sementara.

“Cobalah kamu datangi Nora Cafe di sana. Suasana nyaman mungkin akan membantu mood-mu kembali. Kafe itu sangat terkenal juga di kota ini,” lanjutnya ia menawariku sebelum menyudahi sambungan itu.

“Baiklah, akan kucoba datang ke sana!”

Setelah itu, aku memutuskan sambungan telepon.

Sebenarnya selain itu aku malas keluar karena dingin.  Kantongku juga tengah megap-megap. Karena bulan ini terlalu banyak pengeluaran. Pergi ke kafe atas tawaran editor itu adalah pilihan terakhirku.

Namun saat aku ingin beranjak dari tempat tidur. Seseorang mengetuk pintu depan apartemenku. Dari ketukannya aku yakin lelaki itu adalah karyawan di mini market ujung blok yang juga adalah tetanggaku.

"Ada apa?" tanyaku sambil sedikit membuka pintu.

Aku takut  lelaki yang selalu memakai penutup kepala itu membawa virus mematikan.  Aku yakin lelaki yang ada di hadapanku saat ini, meskipun masih muda sudah tidak tumbuh rambutnya. Buktinya ia selalu memakai penutup kepala.

"Maaf, Jacob,  sudah tiga hari ini aku tidak melihatmu ke luar dari apartemenmu. Aku khawatir terjadi sesuatu  denganmu," ujarnya.

Diperhatikan oleh seseorang yang tidak diharapkan terasa aneh. Apalagi aku bukan siapa-siapanya. "Oh, ya aku baik-baik saja! Aku tengah mencoba menyelesaikan pekerjaanku," ungkapku.

"Baiklah jika ada apa-apa kamu bisa menghubungiku."

"Oh, tentu saja," kataku menutup percakapan.  Sesuatu yang tidak akan aku lakukan seperti sebelum-sebelumnya.

Saat lelaki muda itu hendak pergi aku ingat butuh sesuatu. Aku pun langsung menghentikan langkahnya.

"Bolehkan aku meminta tolong agar membelikan sebotol vodka?" kataku.

"Maaf di mini market tempatku  bekerja tidak menyediakan minuman beralkohol, mungkin kamu butuh yang lainnya?"

Aku menggeleng.  Aku lupa mini market tempat ia bekerja tidak menjual vodka.  Bukankah musim dingin seperti ini akan sangat dibutuhkan?  Lalu jualan apa mini market itu? Aku baru ingat hal itulah yang membuatku tidak pernah membeli ke mini market itu.

Gegara kedatangan lelaki muda sok akrab itu. Aku jadi tidak bisa tidur. Maksudku sejak tadi aku memang tidak bisa tidur. Begitu banyak gangguan, salah satunya lelaki itulah penambah gangguan. Aku tahu di belakangku ia juga sering mendatangi wanita yang memiliki seorang bayi yang suka merengek.  Tapi aku  tak tahu hubungan apa yang mereka miliki tanpa sepengetahuanku. Bisa jadi mereka punya hubungan intim. Bahkan mungkin bayi yang sering merengek itu adalah anak lelaki itu.

***

Sial! Sial! saat aku akan membuka website berlangganan, websitenya tidak bisa diakses. Aku lupa membayar tagihan bulanannya.  Padahal biasanya ideku mengalir saat menonton film berlangganan.

Lalu apa yang bisa aku lakukan? Benar-benar tidak ada yang bisa dilakukan. Mungkinkah harus  pergi ke perpustakaan?

Mungkin sebaiknya seperti itu. Tapi suara angin di luar meraung-raung. Badai salju makin menggila. Bukan waktu yang tepat untuk  pergi ke luar.  Tapi bagusnya seperti itu,  setidaknya menghilangkan suara rengekan bayi berisik.

Begitu aku memperhatikan kembali termometer  suhu tengah berada di angka minus  lima derajat.  Gila! Tapi bagaimana ini aku belum mendapatkan ide untuk merampungkan tulisanku.  Editor itu pasti akan kembali  menghubungiku. Aku bosan mendengar pepatahnya.

Aku menunggu beberapa menit lagi. Sudah begitu perutku berbunyi.  Aku lupa belum makan sejak pagi.  Isi lemari pendingin hanya ada sayuran busuk yang lupa aku masak.   Saat aku buka dompet tersisa hanya 5 poundsterling.  Cukup untuk memesan makanan siap saji dan sedikit persediaan makanan.  Sambil menunggu badai salju reda sebaiknya aku memesannya.

Begitu aku menghubungi langganan resto siap saji, suara khas perempuan yang  aku kenal mengangkat telepon. Tapi aku harus kecewa perempuan yang menjawab telepon bilang  bisnis makanan sajinya sudah tutup.  Pandemi membunuh bisnisnya. Kasihan sekali perempuan itu. Padahal makanannya tidak kalah dengan resto kelas atas.

Saat aku hendak menutup telepon, perempuan itu malah hendak bercerita tentang kesedihannya. Tapi aku tidak tertarik.  aku langsung menutup telepon.  Aku tidak butuh tambahan pikiran.

***

Ini sudah terlalu lama. aku sudah tidak bisa menunggu lagi. Kalau tidak keluar sekarang dan mendapatkan makanan mungkin aku akan mati kalau tidak kelaparan mungkin kedinginan.

Akhirnya aku membuka pintu  apartemen. Seusai itu, astaga, aku menemukan  perempuan  yang memiliki bayi berisik sudah berdiri di depan apartemenku.

"Ada apa?" kataku.  Perempuan itu berdiri  menghalangi jalanku.

"Maafkan aku Jacob  aku membutuhkan  uang untuk susu anakku. Bisakah kamu meminjamkan aku uang?" katanya memelas.

Perempuan ini bukan siapa-siapaku.  Lagi pula aku juga tengah kebingungan masalah keuangan.

"Kenapa kamu tidak meminta pada ayahnya?" kataku malah membuatnya terlihat bingung.

Perempuan itu terdiam. Masih menghalangi  jalan. Aku hanya bisa berdiri saja dan ingin ia menyingkir.

"Sebenarnya aku malu untuk meminjamnya. Tapi aku tidak tahu lagi harus minta bantuan pada siapa," tambahnya lagi.

"Mungkin kamu bisa meminta pada orang lain yang memiliki uang," kataku, "bulan ini aku tengah kesusahan,"

"Bukankah kamu penulis yang tengah naik daun?" katanya lagi.

Perempuan ini benar, aku tengah naik daun. Tapi aku harus memikirkan masa depanku. Aku harus menyimpan sebagian  uangku di tempat aman serta sebagiannya untuk sehari-hari.

"Memang,  tapi aku harus  bayar cicilan dan aku harus makan," jelasku membuatnya  bungkam.

Sebenarnya apa yang dipikirkan perempuan ini? Kenapa ia berpikir aku akan membantunya?

Akhirnya perempuan itu pergi juga tanpa mengucapkan permisi. Padahal ia sudah menghabiskan waktuku.

***

Musim dingin mencengkeram lebih dalam.  Semenjak salju turun pertama aku sibuk menulis. Ah, sudah tiga hari berlalu sejak saat itu. Aku benar-benar sibuk mengejar target tulisanku  dan aku lupa jika pasokan makanan habis.  Hingga aku terpaksa menerobos badai menuju toko siap saji terdekat hanya untuk mengganjal perut.

Tapi saat sampai di sana aku harus kecewa karena tokohnya sudah tutup. Aku sudah lemas. Kepalaku pusing dan kakiku gemetar.  Sial! Sial, bahkan pandanganku mengabur.

***

Bau obat-obatan menusuk hidung. Kepala  terasa berat. Saat kusadari aku tengah berada di kamar rumah sakit.  Siapa yang membawaku kemari?  Aku benar-benar tidak ingat apapun.

Lelaki berpenutup kepala—tetanggaku tengah menunggu di kursi. Lelaki itu menungguiku?

"Apa yang telah terjadi?" tanyaku dengan susah payah.  Sepertinya aku belum sembuh benar. Ucapanku pun terasa  susah keluar.

"Jacob, kamu sudah sadar rupanya," kata lelaki itu sambil mengucapkan  bahasa yang tidak aku pahami maknanya. Sepertinya ucapan syukur kepada tuhannya.

"Sepertinya begitu.  Apa yang terjadi?" tanyaku kembali bertanya.

"Aku menemukanmu pingsan di pinggir jalan. Untung saja aku tidak terlambat membawamu ke rumah  sakit. Kamu pingsan di luar saat badai salju," jawabnya.

Ucapnya membuatku kaget.  Aku tidak mau membayangkan bagian tubuhku diamputasi  gara-gara  tidak bisa diselamatkan karena beku.

"Aku lapar,"  kataku, perutku perih. Berapa lama aku tidak makan?

"Makanlah! Kebetulan Sarah yang memasakan makanan untukmu. Ini dia buat juga  terkhusus bagi yang sedang berulang tahun hari ini."

"Sarah?" tanyaku. “Siapa yang berulang tahun?” cecar aku.

"Tetangga apartemen, seorang  single parent. Dia bernama Sarah," ujar lelaki itu. “Lalu kenapa aku tahu hari ini adalah hari ulang tahunmu. Maaf kemarin sebelum masuk ke rumah sakit ini. Pihak rumah sakit meminta kartu identitas pasien. Maka aku membuka dompetmu di saku celanamu. Sekali lagi maaf jika aku terlalu lancang,” lanjutnya sambil memohon.

"Ah,ternyata perempuan itu," kataku. “Oya, soal kamu mengambil kartu identitasku itu kuanggap tidak bermasalah. Ini aku yang seharusnya berterima kasih padamu,” dan aku pun menjelaskan pula tentang apa yang ia lakukan, tidak lain mengambil kartu identitasku.  Itu tidak membuatku menjadi sebuah perkara melainkan tindakan yang tepat.

Akhirnya kumakan makanan istimewa yang dibuat oleh perempuan itu. Perempuan yang memiliki bayi berisik, maksudku Sarah. Aku merasa malu, Karena beberapa waktu lalu tidak membantunya.  Tapi ia malah memasak  makanan untukku apalagi bertepatan di mana hari ulang tahunku. Bukan itu saja ia juga ikut memberikan kejutan pula berupa memberikan kartu ucapan yang diselipkan di makanan.

"Oya, aku pergi dulu!"

"Kamu mau ke mana? Tolong bantu aku hingga sembuh,  aku..., aku akan membayarmu! Aku punya uang di tabungan," bujukku.

Aku tidak bisa melakukan apapun dalam kondisi seperti ini.  Aku butuh bantuan.

"Simpan uangmu Jacob! Aku membantumu bukan karena butuh uangmu. Aku membantu semata-mata karena agamaku mengajarkan agar saling menolong dan membantu tetangga. Kamu tidak perlu khawatir. Sekarang aku hanya mau pergi ke toilet saja untuk mengambil air wudhu."

"Bukankah ini masih dingin?  Kamu bisa melakukannya di waktu lain,"  ucapku.

Aku khawatir  ia mati karena kedinginan.

"Tidak apa-apa Jacob.  Aku sudah sering melakukannya," jawabnya  sambil berlalu.

Ternyata lelaki berpenutup kepala itu orang yang baik. Aku malu sendiri karena menganggapnya sok kenal dan sok peduli. Tapi ia memang peduli.

Tidak berapa lama  lelaki bertutup kepala itu kembali mengerjakan sesuatu gerakan -gerakan yang lelaki itu sebut salat.

***

Selama lelaki penutup kepala itu mengerjakan salatnya. Aku sadar selama ini hanya fokus pada pekerjaanku. Pekerjaan yang selalu saja menumpuk dan tidak pernah selesai.

Hingga hal itu membuatku tidak memedulikan orang di sekitarku. Bahkan aku baru tahu bahwa lelaki itu memiliki nama yang hampir sama denganku.  Lelaki yang selalu memakai penutup kepala itu bernama Yakub pula. Lima tahun bertetangga ternyata tidak membuatku akrab dengannya.

Oh, bukan itu saja! Bahkan aku baru tahu nama perempuan yang memiliki bayi itu bernama Sarah—dan sudah hampir setahun single parent. Sungguh aku tiada peka selama ini terhadap sesama terlebih sesama tinggal satu apartemen denganku.

Baiklah aku berjanji untuk lebih peka dan peduli pada sekitar dan bertepatan di hari ulang tahunku. Aku akan lebih banyak selalu berbuat kebaikan.  Aku juga nanti akan banyak bertanya tentang agama yang diikuti dan diyakini Yakub. Tapi nanti saat aku sudah sembuh.[]


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »