Ahmad Nurullah

ADMIN SASTRAMEDIA 5/31/2019

Lahir di Sumenep, Madura, 10 November 1964. Menulis puisi, cerpen, esai dan kritik sastra. Karya-karyanya dimuat di berbagai media massa nasional, seperti: Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo, Sinar Harapan, Republika, Jawa Pos, Surabaya Pos, Pikiran Rakyat, Majalah Horison, Ulumul Quran, Jurnal Kalam, dan dalam beberapa bunga rampai, antara lain: Mimbar Penyair Abad 21 (DKJ, 1992), Angkatan 2000 (ed. Korrie Layun Rampan, 2001), Horison Sastra Indonesia (2002), Bisikan Kata, Teriakan Kota (DKJ dan Bentang, 2003).

Nurullah bukan penyair yang produktif. Namun karya-karyanya selalu mengusung perenungan yang mendalam dan sublim. Raudal Tanjung Banua menyebut puisi-puisinya “mengandung“ makna yang luas, tetapi dengan ungkapan yang segar”. Peristiwa kecil keseharian bisa dibangkitkan menjadi dunia penuh dimensi. Sebaliknya, kejadian besar semisal hiruk-pikuk politik atau fenomena sosial yang aktual bisa diredamnya untuk tidak tampil bawel, tapi tetap elegan. 

Bagi Nurullah, proses kreatif dalam berkarya adalah kematangan. Ia merasa tidak perlu tergesa-gesa melahirkan karya. “Puisi adalah sari bahasa dan sari pemikiran. Bahkan, satu puisi saja seringkali harus lewat proses pergulatan kreatif yang panjang. Menulis puisi betul-betul perlu kesabaran.” 

Setelah Hari Keenam (2011) merupakan buku kumpulan puisi tunggalnya yang pertama setelah 24 tahun proses perjalanan kepenyairannya, tepatnya sejak 1987. Nurullah bukan sosok yang mudah dijumpai di forum pergaulan dan kegiatan sastra. Namun kapan berjumpa dengannya, terasa ia adalah pribadi yang hangat. Menurut Radhar Panca Dahana -di buku tersebut-: "Ahmad Nurullah salah satu yang memiliki keberanian untuk merenungkan hal-hal mendasar tentang manusia, cinta, Tuhan, kesemestaan, dan hidup. Hidup itu sendiri ialah kerja suci kebudayaan.

Mantan redaktur Jurnal Nasional ini banyak menghabiskan waktunya dengan membaca dan berolahraga. Ia tinggal di kawasan Munjul, Cipayung, Jakarta Timur.

___
Baca juga: 
Sajak-Sajak Ahmad Nurullah
Di Bawah Bayang-bayang Kosmologi Penciptaan 
Gadis Kecil di Tengah Hujan 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »