Bulan Angka 11

ADMIN SASTRAMEDIA 5/24/2019

Oleh Arie MP Tamba

WWW.SASTRAMEDIA.COM | Bulan itu seperti orang tertawa-tawa, tetapi kedinginan. Karena seorang lainnya di langit sana telah mengumpulkan segenap tenaganya dan meniupkan badai angin berkepanjangan. Dan Jakarta, seperti biasanya, bergetar dan berkeriut seperti sebuah rumah di kampung: dengan bangunan atas yang gemuk namun dengan tiang-tiang fondasi yang kurus.

Tukang parkir itu menggelengkan kepala memikirkan semua itu. Jalanan lengang sepanjang satu kilometer itu adalah kerajaannya. Jalanan itu lengang antara deru angin dan lampu yang temaram. Dan beberapa pedagang rokok yang meringkuk di kiosnya masing-masing sana adalah para rakyatnya yang perlu dilindungi dari gangguan berandal yang terkadang tersesat ke jalanan itu. Dan para pemilik mobil yang masih besuk atau berjaga di rumah sakit yang berada di tengah kerajaannya adalah tamu-tamu yang perlu dilayani. Untuk pelayanan itu ia memperoleh penghasilan.

Tukang parkir itu telah tua namun masih kekar. Ketika melangkah mendekati kios salah seorang rakyatnya, ia sedang menyusun kata-kata bijak di benaknya. Aku sudah tua, tetapi masih memiliki semangat melanjutkan hidup yang lucu ini. Itulah kata-kata bijak yang berhasil diejanya di dalam hati.

"Bagaimana? Sudah mimpi?” tanya si Tukang parkir.
“Sudah. Tetapi saya ragu," jawab si Pemilik kios.
“Kenapa?”
"Tak beraturan. Sambung-menyambung. Mimpi saya nonstop sampai pagi. Jadi banyak yang lupa...."
"Ah, pasti ada yang teringat. Paling berkesan!" kata si Tukang parkir. Tangannya dengan ringan menyambar sebungkus kacang dari plastik yang tergantung di dinding depan kios rokok itu.

Dari dalam kios, si Pemilik menyadari kedudukannya sebagai rakyat tukang parkir. Di bawah cahaya lampu gas, ia tersenyum kecut dan mengalihkan ekor matanya dari tangan si Tukang parkir yang kini menyobek bungkus kacang.

Si Tukang parkir kemudian mengupas kacang dengan cara meremukkan di antara dua jempol dan dua telunjuk.

"Saya langsung terbangun," kata si Pemilik kios dengan suara serak. Sekilas ia merasa baru saja dikoyak dan diremukkan.
"Terbangun?" tanya si Tukang parkir.
"Ya. Padahal plat mobil yang ngebut di dalam mimpi saya terlihat jelas meskipun sebentar!”
"Apa mimpimu?"
"Saya ketabrak mobil seorang pengunjung rumah sakit!" kata si Pemilik kios dengan suara bergetar. Mimpinya tiba-tiba menderas dan terbentang di hadapannya .... Ia baru saja menyerahkan sebungkus rokok kepada seorang pembeli di dalam mobil di depan kiosnya ketika sebuah mobil lain dari arah rumah sakit datang mengebut bagai memburu dan diburu setan ... lalu menabrak mobil yang terparkir di depan kiosnya, menghantam kiosnya, serta melemparkan tubuhnya yang segera mengalami kesakitan luar biasa dengan napas ngos-ngosan ketakutan! Lalu, ia terbangun dengan tubuh berkeringat dingin terbungkus kain sarung di lantai kiosnya beberapa malam yang lalu...

Sungguh suatu malam dengan mimpi yang menakutkan! Maka, rasa kurang senang di dada si Pemilik kios pun berganti dengan rasa nyaman karena mendapat: teman ngobrol di antara deru angin menjelang pukul delapan di jalan itu. Malam begitu sunyi dan lengang. Pikirnya, sebungkus kacang toh bisa terbayar dari keuntungan sebungkus rokok. Dan si Tukang parkir yang berdiri bagai raksasa di luar kiosnya itu, tak pernah: mengambil rokok dengan gratis. Itulah bedanya si Tukang parkir dengan "jeger” mana pun di Jakarta ini.

"Si Rambo mimpi kawin lagi,” kata si Pemilik kios tertawa sumbang ketika melihat si Tukang parkir memandang ke arah kios rokok seberang.

Si Tukang parkir membayangkan wajah Rambo. Si Kerempeng dari Tegal itu akhir-akhir ini sering mimpi kawin lagi. Seolah ia belum puas juga dengan dua istri, yang harus dijenguknya tiap bulan dengan menumpang truk-truk yang berpangkalan di ujung jalan sana.

“Jadi kemungkinan angka kembar ya," kata si Tukang parkir.
"Ya, kembar!" si Pemilik kios menyahut bersemangat. Si Tukang parkir mengangguk dan segera meninggalkan kios rokok itu. Ia melihat seorang keluar dari rumah sakit yang tidak memiliki halaman parkir itu, melangkah menuju sebuah mobil yang terparkir di tepi jalan. Seorang tamu kembali pulang dan mobil yang perlu dijaga berkurang satu: satu, dua, tiga, lima, delapan, sebelas, ya, masih sebelas mobil lagi yang perlu diamankan di kerajaannya itu.

Sebelas. Sebelas. Sebelas. Astaga! Si Tukang parkir tersenyum riang. Satu-satu. Angka kembar. Ia harus berani memasang angka sebelas untuk putaran togel besok. Si Tukang parkir memandang lampu-lampu jalan yang temaram di antara badai angin berkepanjangan, seraya angannya menghadirkan sosok si Rambo yang sering menjadi sumber angka, tetapi tak berani membeli lembaran togel itu.

Si Tukang parkir menoleh ke ujung jalan di utara, di mana si Tamu barusan berbelok di tikungan dengan meninggalkan kerjap-kerjap kemerahan dari lampu belakang mobilnya. Lalu ia menoleh ke selatan, tempat kios-kios rokok para rakyatnya terdapat, sampai ke pangkalan truk di ujung sana. Sepanjang jalan itu adalah kerajaannya yang telah menghidupi dan ia hidupi sepanjang hari, minggu, bulan, tahun, dari muda sampai ia tua seperti sekarang. Berapa tahun sudah? Pertanyaan itu berdenyut sekilas lalu terlupakan begitu saja dari benaknya. Ia bergegas meninggalkan depan rumah sakit itu karena melihat beberapa pemuda yang boleh jadi berandalan sedang memasuki kerajaannya dan telah bergerombol di depan kios yang paling dekat pangkalan truk sana.

Namun, ketika melalui kios rakyatnya yang tadi mengisahkan mimpi ketabrak mobil itu, si Tukang parkir melambatkan langkah.
"Jadi angka kembar ya!” kata si Tukang parkir.
"Kembar. Ganda. Kalau ngikutin mimpi si Rambo Tegal, ya, iya!” kata si Pemilik kios sambil melangkah keluar. Ia mengira si Tukang parkir akan mengajaknya melanjutkan membahas angka-angka yang akan diumumkan besok. Akan tetapi, si Pemilik kios kemudian melihat bahwa si Tukang parkir yang sudah tua, tetapi masih kekar bagai raksasa itu sedang memandang lurus ke kios paling ujung sana. Lalu, menoleh dan mengangguk serius ke arahnya. Dan di bawah penerangan lampu gas, keduanya kemudian saling tatap dengan banyak makna yang tak perlu diperbincangkan.

“Siap?” tanya si Tukang parkir.
"Ah, ya, ya siap, siap. Saya akan siap!” kata si Pemilik kios tergeragap dan kembali ke dalam kios. Lalu membungkuk dan meraih sesuatu dari lantai kios. Dan selanjutnya, ia telah mencekal sebatang linggis dengan wajah yang tiba-tiba saja dibanjiri keringat karena tegang.
"Tenang. Jangan langsung gentar .... Ajak si Rambo!” kata si Tukang parkir, lalu melanjutkan langkah.

Barangkali lebih dari satu orang. Jadi banyak orang. Ya. Banyak orang di langit Jakarta telah mengumpulkan segenap tenaga, lalu meniupkan badai angin berkepanjangan di antara pukul tujuh dan sembilan pada malam yang lengang itu. Maka, Jakarta, dengan bagian atas yang gemuk dan tiang-tiang fondasi yang kurus, lebih bergetar dan berkeriut dari biasanya.

Dan kerajaannya pun lebih senyap dari biasanya. Hampir tak ada kendaraan melintas. Padahal jalanan yang menjadi kerajaannya itu sering dipakai para pelintas mempersingkat perjalanan, ataupun sekadar menghindari kemacetan yang sering terjadi di ruas jalan blok sebelah. Dan jalanan itu adalah lokasi yang ramai oleh rumah penduduk dan dihuni rumah sakit yang cukup terkenal dan laris di Jakarta ini. Akan tetapi, malam itu yang terasa aneh lagi adalah bahwa ia sekilas menyadari telah menghabiskan tiga perempat usianya yang hampir enam puluh tahun hanya di jalanan itu.

Ya. Itulah kerajaannya. Dan kali ini agak sunyi di antara deru angin, di bawah bulan yang sedang tertawa, tetapi kedinginan di atas sana. Ketika mendekati kios rokok yang paling ujung, ia semakin merasa kurang puas atas kehadiran para pemuda itu. la melihat mereka telah menarik si Pemilik kios keluar dari kiosnya: keluar dari sumber hidup dan kerajaannya. Lalu, tampak para pemuda itu mencecar si Pemilik kios dengan pertanyaan dan tudingan. Akan tetapi, yang mengejutkan adalah si
Pemilik kios terlihat memberikan penjelasan dan bantahan dengan berani. Jadi, ada kemungkinan rakyatnya itu saling kenal dengan para pemuda berandal yang menganggunya?

"Ada apa ini?" tanya tukang parkir begitu tiba di antara para pemuda itu. Ia berusaha mengatur napasnya sedemikian rupa hingga tampak wajar, tanpa rasa takut, dan jauh dari tanda-tanda ketuaan.

Si Pemilik kios dan para pemuda itu memperlihatkan sikap sudah mengetahui kedatangannya. Hingga, tanda tanya bagi si Tukang parkir bahwa kehadirannya ternyata mendatangkan rasa kikuk pada wajah si Pemilik kios, sebaliknya menimbulkan pengharapan dan dukungan pada wajah pemuda-pemuda itu. Sementara, barusan ia membayangkan bahwa kedatangannya akan disambut tatapan lega dari rakyatnya dan tatapan keder dari para pemuda berandal itu.

Agak memicingkan tatapan karena biasnya cahaya lampu gas, si Tukang parkir mengulangi pertanyaan. Kini bukan lagi basa-basi untuk sebuah perlindungan atas keselamatan rakyatnya: tetapi benar-benar rasa ingin tahu atas persoalan yang dihadapi “orang-orang muda" di depannya. Sementara ketika menoleh sekilas ke belakang, ia melihat rakyatnya yang lain telah datang menghampiri dengan masing-masing senjata darurat mereka. Si Rambo bersarung dan bertelanjang dada, tampak mencekal botol bir yang masih berisi di tangan kanannya.

“Dia kawin lagi, Pak!" kata seorang pemuda itu tajam.
“Tak benar itu, Pak!" kata si Pemilik kios serak.
“Dia tak pernah pulang lagi ke rumah mbak saya!” kata si Pemuda seraya menoleh ke arah seorang pemuda lainnya. Si Pemuda yang ditoleh mengangguk ke arah si Tukang parkir. "Benar, Pak. Dia tak pernah pulang lagi ke rumah mbak saya. Saya iparnya ....Ada yang melihatnya bersama perempuan lain. Banyak yang melihatnya!” katanya sambil memandang sinis si Pemilik kios yang wajahnya kini memerah di bawah sorotan cahaya lampu gas.

“Tak benar itu .... Mereka mengada-ada karena prasangka, Pak!” katanya ke arah si Tukang parkir.
“Saya melihat sendiri!” kata seorang pemuda menampilkan diri dekat si Pemuda yang mengaku sebagai ipar si Pemilik kios.

Begitulah. Dengan sabar si Tukang parkir kemudian kembali bertanya dan bertanya kepada si Pemilik kios dan kepada para pemuda itu agar mengetahui persoalan mereka secara jelas. Dan kemudian, ia memberikan saran ini itu untuk meredakan suasana dan ketegangan. Sampai kemudian, ia harus berbalik dan berlari-lari kecil ke arah rumah sakit sana karena si Rambo Tegal mengingatkan adanya seorang pengunjung yang keluar dari rumah sakit dan sedang menghampiri sebuah mobil.

Selama berlari itu, pikiran si Tukang parkir kembali menampak jalan buntu untuk angka togel yang akan keluar besok. Loket penjualan togel di blok sebelah akan tutup puluhan menit lagi, sedangkan mimpi si Rambo Tegal boleh jadi ingin menjelaskan kehidupan baru salah seorang dari rakyatnya, yang kini masih saling berbantahan dengan ipar-iparnya di belakang sana.

Agak susah bagi si Tukang parkir ketika sambil berlari itu menengadah ke atas sana, dan melihat bulan yang tadi tertawa-tawa kedinginan kini terbungkus awan. Pikirnya, sebentar lagi seseorang di langit sana akan menumpahkan berkubik-kubik hujan untuk mengguyur malam Jakarta yang panas!

_____
Sumber: Cerpen Pilihan Kompas 2000 Dua Tengkorak Kepala (2000)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »