Sajak-Sajak Iwan Simatupang

ADMIN SASTRAMEDIA 5/01/2019

Iwan Simatupang lahir di Sibolga, Sumatera Utara pada 18 Januari 1928 dan meninggal 4 Agustus 1970 di Jakarta. Tahun 1949 pernah menjadi komandan pasukan TRIP di Sumatera Utara, tahun 1950-1953 bekerja sebagai guru di Surabaya. Tahun 1977 Iwan Simatupang menerima Hadiah Sastra ASEAN. Dramanya: Bulan Bujur Sangkar (1957), Taman (1958), RT Nol/RW Nol (1966), Petang di Taman (1966) dan Cactus dan Kemerdekaan (1969). Novelnya: Merahnya Merah (1968), Ziarah (1969), dan Kering (1972). Cerpen-cerpennya dibukukan oleh Dami N. Toda dengan judul Tegak Lurus denga Langit (1982).

Merah Jambu Di Melati
Kepada Sitor Situmorang

Ada darah tiris

Dari hati atas melati
Satu satu

Ada melati tumbuh

Diciuman segara dengan gurun
Jauh jauh

Darah beku

Melati layu
Tapal sayu

Ada murai atas cactus

Ada cactus dalam hati
Ada kicau berduri

Sunyi sunyi



Bintang tak Bermalam

(nocturne untuk Nany Jasodiningrat)

Bertengger atas risau lembayung

Bintang tak tahu
Ke mana pijar hendak dipenjar

(Siang telah reguk segala warna

Bahkan kelam
Tak lagi bagi malam)

Dan pada pelangi

(Yang hanya di siang)
Tak ada berwakil

Warna bintang jatuh




Apa Kata Bintang di Laut
Cerita buat Bayu Suseno, bayi Bu Tono

Jauh di pulau

ada seorang lanun
penguasa dari suatu selat
tak berbatas tak bertepi
tak bernama tak bersebut

Ia tuan tak bernobat

dari daerah tak berpunya
di mana kesunyian dan kegemuruhan
bersipongah dalam suatu kisah
tak berawal tak berakhir

Siap dekat siapa rapat

tujuh kali tiarap ditimba ruang
siapa lupa siapa alpa
nakhoda, pala dan janda-janda
kena angin pusaran
atau pitam

Ia panglima dari suatu pasukan

tak berbilang tak bernegeri
ia sekutu dari segala hantu
datu badai pengasuh pelangi

Ia berasal dari pegunungan

dari puncak mengabut selalu
- di mana jurang, tebing dan bukit
berkisah seharian dalam sepi menggelepar
tentang bayang mengejar sinar
tentang redup memagut cuaca

- di mana air terjun dari tinggi menjulang

menghempas diri dalam suatu hisak
tentang titik yang demi titik
tiada jemu cari butir perhentian

- di mana bulbul sayu berseru

menghari siamang sepi kerinduan
dan angin lautan swara-swara
di suatu swarga tiada bidari

Ah, ini semua ia telah tinggalkan

ketika ia pada suatu hari
dapati orang pantai depan pintunya
bawa kabar:
“Ibumu tiada akan pulang lagi, kawan,
ia telah dibawa pergi oleh orang-orang
datang merompak ke pekan nelayan
dan bawa segala gadis dan janda
dalam kapal layar berpanji hitam
berlambang tengkorak”

Sejak itu –

ia telah tempuh
jalan curam menungging pantai
yang ia selama ini hanya pandangi
bila ia terdiri curam atas tebing menghunjam
memagut sinar-sinar terakhir
dari mentari membenam diri
- yang ia selama ini tiada berani jalani
takut bertemu bota-bota
dari dongeng-dongeng ibunya

Sejak itu –

ia telah tinggalkan puncak kelabu
dan pergi ke laut lepas
segala selat ia telah harungi
segala teluk ia telah masuki
segala nakhoda ia telah tanya
segala nelayan ia telah sapa
tiada berita
tiada ibu

Sejak itu –

ia telah tetapkan
menjadi pencari larut
dari suatu pencarian tak berkedapatan
dalam suatu bumi tak bermentari
- menjadi pelalu sunyi
dari suatu jalan tak berkeakhiran
dalam suatu gurun tak berkelengangan

Sejak itu –

ia telah putuskan
jadi ahli waris dari
ayah tiri yang ia tak kenal
pembawa lari ibunya dari pantai
dalam kapal layar berpanji hitam
berlambang tengkorak

Jauh di pulau

ada seorang lanun
anak orang utas di pegunungan
pencari kesunyian dalam kegemuruhan
pencari kegemuruhan dalam kesunyian

BAGIKAN:

TERKAIT

Previous
Next Post »