Sajak-Sajak Ahmad Nurullah

ADMIN SASTRAMEDIA 5/31/2019
____
AHMAD NURULLAH

Lahir di Sumenep, Madura, 10 November 1964. Menulis puisi, cerpen, esai dan kritik sastra. Karya-karyanya dimuat di berbagai media massa nasional, seperti: Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo, Sinar Harapan, Republika, Jawa Pos, Surabaya Pos, Pikiran Rakyat, Majalah Horison, Ulumul Quran, Jurnal Kalam, dan dalam beberapa bunga rampai, antara lain: Mimbar Penyair Abad 21 (DKJ, 1992), Angkatan 2000 (ed. Korrie Layun Rampan, 2001), Horison Sastra Indonesia (2002), Bisikan Kata, Teriakan Kota (DKJ dan Bentang, 2003).
Selengkapnya tentang penyair bisa dibaca di sini: Ahmad Nurullah

Di Tebing Waktu: Meditasi

Sebelum jagat raya diciptakan,
apa yang dilakukan Tuhan?

Sunyi. Di teras: waktu merayap
Malam mengalir. Aku duduk
tapi melayang. Di langit berkeriap bintang-bintang.
Di jalan-jalan berkecipak perang. Seperti di hatiku
Mungkin juga di hatimu

Aku teringat Stephen. Ia melompat dari
bulatan asap rokok:
Membetulkan punggungnya pada kursi roda
Merogoh lubang hitam
Mengemas lagi bangkai bintang-bintang
yang berkerumun
di bawah bulu alisnya.

“Sebelum jagat raya diciptakan,
apa yang dilakukan Tuhan, Stephen?
Membangun Surga?
Merancang Neraka?
Jauh sebelum ayah dan ibumu berpengantin,
di mana kau ada?”

Ia menyeringai. Dari bibirnya terbit
sekerumun matahari. Mengajarku
tentang cara menjinakkan bumi.
“Pertanyaan Anda waras,
untuk seorang yang berani gila,” katanya.

2
Ia lalu mengajakku pergi. Jauh melayang:
melompat dari bintang ke bintang. Berguling-guling
dari galaksi ke galaksi. Mengintip lubang cacing.
Membayangkan serbuk tubuh presiden yang terguling.

Di bawah telapak kakiku berhambur
bermiliar galaksi. Bagai butiran biji kedelai. Seperti
pecahan biji gunduk yang membercaki ruang
Laksana kepingan biji mutiara bersemai
di sudut-sudut waktu.

“Lihat,” katanya, menunjuk sebuah titik yang berdesak
di setumpuk cahaya. “Apa arti kau ada?”

Lalu ia pun bercerita: Dulu, di sebuah celah titik
yang jauh itu, ada pertengkaran:
di dekat Tanah Nod,
jauh sebelum Zaman Es terakhir,
sebelum Colombus merajang Benua India. Sebelum
Pizarro menemukan Inca. Sebelum Bolivar
menyembul di Tanah Caracas.

3
Menginjak sebutir detik yang nanar,
aku mendadak kembali terlempar
ke satu celah di titik yang jauh itu:
ke bumi.

Ada bom meledak di masjid-masjid. Menggelegar
di gereja-gereja. Bergema ke dalam ruang sejarah –
menyeretku lagi pada sebuah cerita:
Tentang pertengkaran,
jauh di sebuah celah bumi yang tua.

“Ketika bumi masih sebercak Kata,
apa yang dilakukan Tuhan, Stephen?
Merakit algojo?
Merancang pendeta?
Anda tahu: siapa
presiden pemenang lomba,
besok, di negeri saya?"

Ia, dituntun oleh wataknya,
kembali menyeringai.
Lalu kembali mengajakku berputar:
Berdiri di tebing waktu,
menyapu kemahaluasan ruang:
Meluncur di tanah masa depan yang berkabut
menjelajah kota-kota masa silam yang berasap.

“Stephen, saya lelah jadi manusia”

Jakarta, 1999


Homo Textualis

Telah kulayari laut, sungai. Telah kuceburi kali,
selokan, parit-parit, yang mengalir
dalam tubuhmu. Kupelajari segala jenis kerikil,
batu-batu; biji-biji emas, dan ikan-ikannya

Tetapi, sungguh engkaukah itu
Sungguh kaukah yang berdiri tersenyum di dalam waktu?

Mungkin bukan. Mungkin kau cuma bayang-bayang
pikiranku. Kususun dari rasa-rasaku – 
Kau hasil rajutan sebuah pikiran
Kau percik perasaan.

“Hallo! Kaukah itu. Sungguh kaukah yang berdiri
di depan pintu?” Kau yang baik, kau yang dungu?
Kau yang suci, yang berdebu? Mungkin bukan.

Kau angin yang berdesir, air yang bergerak,
kau batu yang berjalan
dalam diam: Kau tak bulat. Kau tak selesai.

Telah kulayari laut, sungai. Telah kuceburi danau,
rawa-rawa, parit-parit, yang bergericik
dalam tubuhmu.

Tapi, kadang kau tak ada
Kau cuma jejak.

Jakarta, 2005


Menimang Sejarah, Menangisi Airmata
—Kepada Orang Lain

1
Sungguh adakah cinta, jika perang adalah fakta,
dan darah adalah sejarah?

Kadang aku berpikir:
Mungkin kita tercipta
dari keisengan. Kala bumi kuyup
Udara menggigil. Dan malam
sesaat jadi biru.

Di bawah hujan, kota-kota lelap
Dan, seperti di hari-hari kemarin,
sepasang api purba bertumbuk, meledak,
dan terbakar. Dan kau:
di luar keinginanmu, jatuh
pada seliang rahim yang basah
dengan kepala kuyup oleh api
dengan kening basah
oleh mimpi.

2
Di bangku dasar kaureguk pengetahuan pertama:
Perang meletus sejak di sebuah lembah
di rahim: Ketika bermiliar ekor serangga berenang
dan berburu mahkota
di kepala putik bunga
Ketika kau cuma seharga anak nyamuk
tersisip di tengah gelombang massa.
Dan kau saling menikam
Dan kita terlibat di dalamnya
Dan kitalah pemenang. Kitalah pembunuh
Dan hidup bermula dari pembunuhan.

3
Lalu ibumu mengerang
Dan kau: sang pemenang itu
melompat ke dalam waktu. Debu tumbuh,
dan berbunga. Tanah berbuah: sejarah – 

Tentang Kain yang tangannya kuyup darah
Tentang Hitler yang mengamuk di Eropa
Tentang pesta peluru di Lebanon,
Afghanistan – Timur Tengah
Tentang perang etnik di Yugoslavia
Tentang pembantaian massal di Tiananmen
Tentang Semanggi, Ambon, Aceh, Irian Jaya,
Timor Leste. Tentang kita. Tentang kita.

4
Sungguh adakah cinta, jika perang
adalah fakta, dan darah
adalah sejarah?

Kau meludah: “Campakkan saja mimpimu
tentang cinta. Mari, perang yang lain
kita mulai. Seperti dulu. Ketika kita
berebut mahkota di kepala putik bunga
Sebelum kita sendiri mengerti
asamnya darah
pedasnya airmata.”

(Lalu kau terisak:
“Ibu, maafkanlah atas kelancanganku.”)

Jakarta, 1999


Nota Bulan Desember
– Catatan  Akhir Tahun

Tak perlu kuucapkan “selamat tinggal” pada detik terakhir
bulan Desember, dan “selamat datang” untuk detik
awal Januari. Untuk apa? Segala waktu sama. Waktu
adalah sumbu semua sejarah, ibu segala kepedihan.

Almanak pun jatuh. Telungkup. Tahun bersalin. Tapi,
di antara detik-detik yang gugur, bulan-bulan membusuk,
hari-hari berkarat, dan jam yang menguning, banyak hal yang
masih lengket—berkecamuk dalam kenangan:

Tanah meledak, kota-kota terbakar; AIDS, flu burung,
demam berdarah, busung lapar; BBM melonjak,
harga-harga menjerat leher, juga laut yang mendadak gila,
menghancurkan jadwal-jadwal—
menculik seluruh isi kota.

Tapi waktu tak peduli. Waktu terus berjalan, mengusung
detak-detaknya, diam-diam—
menyembunyikan wajahnya di balik
paras bulan merekah, atau matahari bersinar
Membungkus rahasianya dengan siang, dengan malam:
Waktu adalah siluman yang pandai menyamar.

“Selamat Tahun Baru,” katamu, menyeringai.
Selamat tahun baru? Untuk apa?

Seperti waktu, aku pun terus berjalan: gelisah oleh tatapan
mata bulan. Gemetar di bawah kerling
matahari. Sebab, gara-gara waktu,
banyak hal berdesak untuk diingat,
dan aku berjuang untuk lupa—sebagai jalan
pembebasanku.

Jakarta, 2006

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »