Menjaga Ibu - M. Rosyid H.W.

KONTRIBUTOR 6/26/2022

MENJAGA IBU

M. Rosyid H.W.





“Wardah! Sakit apa ini, Dah!?”

Mak Yah berteriak-teriak memanggil nama anaknya seperti sedang memanggil Tuhan. Ia membolak-balik badannya ke kanan dan ke kiri. Selang infusnya bergoyang-goyang. Dipan berderit-derit. Seutas selang kecil mengalirkan darah dari kepala Mak Yah yang berbalut kain, kapas dan kasa. 

“Bu, tidur, Bu! Sudah jam berapa ini!?” ucap Dwi dari bawah samping dipan. Fajar subuh sudah hampir menjelang. Mak Yah belum menutup matanya sedetik pun. Dwi pun juga tak mampu memicingkan mata sepanjang malam karena mendengar rengekan-rengekan ibunya. 

“Itu anak siapa yang nangis? Anakmu tah?” tanya Mak Yah.

“Tidurlah, Bu. Gak ada anak nangis malam-malam begini. Aku belum punya anak. Ya gitu kalau tak tidur, pikirannya ke mana-mana,” jawab Dwi. Semalam ini, sudah seratus lima puluh lima kali ia menyuruh ibunya untuk memejamkan mata. 

“Dah! Aku sudah gak kuat, Dah! Sakiit. Tolong ibumu ini, Dah!” rengek Mak Yah seperti pendosa di neraka yang meminta ampunan Tuhan. Pada mulanya, Dwi merasa dadanya terluka karena ibunya lebih memanggil kakaknya daripada dirinya yang dua puluh empat jam menjaganya. Tapi, mengingat kakaknya adalah seorang dokter, Dwi maklum. Mak Yah mungkin mengenangnya tidak hanya sebagai anak, tetapi sebagai Dewi Kesehatan.

Dengan mata merah yang berat, Dwi berdiri sambil berpegangan pada besi dipan. Ia menarik ujung selimut demi menutupi badan ibunya yang semakin ringkih, ringkih dan ringkih. Ia memijit-mijit kaki ibunya. Detik-detik terus melaju. Malam hampir berlalu. 

“Wardah gak ke sini tah? Kapan dia mengobati ibunya ini?” tanya Mak Yah dengan mata mengerjap-ngerjap.

“Mbak Wardah masih bertugas, Bu. Kalau sudah selesai, nanti ia akan ke sini,” jawab Dwi berbohong. 

“Tidur, Bu! Sini sambil Dwi pijit kakinya. Kalau Ibu tidur, badannya akan jauh lebih enak.”

Malam menjelang dini hari seolah-olah waktu perang bagi Dwi. Saat malam, ibunya akan berteriak mengerang-ngerang karena kesakitan, merengek-rengek memanggil Wardah berkali-kali, dan membolak-balikkan badannya dengan derit dipan yang berisik. Baru tiga detik mata Dwi terpejam, ibunya mengerang. Hanya sekejap mata Dwi mengatup, mulut ibunya berteriak tak tertutup. Dwi berpikir jika ia mengikuti pola ibunya yang berhari-hari tak dapat memejamkan mata, bisa-bisa ia akan jatuh sakit pula. 

Sudah lima hari pasca operasi, ibunya tak dapat menutup mata lebih dari lima menit. Bahkan obat tidur pun tak mampu membuatnya pulas. Memang, operasi batok kepala telah membangunkan ibunya dari koma panjang, tetapi sekarang ibunya malah tak dapat tertidur lagi. Dwi membayangkan gulungan-gulungan ingatan pada otak ibunya sedang diputar kembali hingga pikirannya tak dapat istirahat sejenak. Atau rasa sakit yang tak tertahankan mengganggu saraf-saraf memorinya.

Pembicaraannya melompat-lompat tak beraturan dari satu topik ke topik lainnya. Kadang ia bertanya tentang Bapak, Wardah atau Arif. Dwi ingin menyanggah bahwa Bapak telah tiada. Wardah dan Arif, anak-anak kesayangannya, juga belum punya waktu untuk menjenguk. Tetapi, Dwi mengurungkannya saat melihat kondisi ibunya yang tak berdaya. Ia hanya menjawab hal-hal yang menyenangkan ibunya, meskipun dengan luka menganga di dadanya. Karena ibunya tak hanya mempertanyakan masakan sayur lodeh dan nasib Andin di sinetron Ikatan Cinta, tetapi juga ikan-ikan akuarium milik Arif dan taman rindang di belakang rumah Wardah di Jakarta. 

Dwi kerapkali bertanya pada dirinya sendiri: apakah Ibu mengharapkan kehadiranku. Namun, ia lekas menghapusnya saat melihat ibunya meronta-ronta kesakitan seperti pendosa jahanam yang tersiksa. Entah apa yang Mak Yah rasakan: nyeri, perih atau ngilu. 

Pada mulanya adalah keteledoran, pikir Dwi. Mak Yah terjatuh di kamar mandi tiga minggu yang lalu. Ia bercerita kalau kepalanya sempat membentur tembok. Dua hari kemudian, ia mengeluh kepalanya terus-menerus terasa sakit dan sedikit pusing. Satu minggu setelah terjatuh, Mak Yah tiba-tiba terkulai tak berdaya di halaman dengan tulang-belulang lembek. Kakinya tak dapat berdiri tegak. Tubuhnya tak dapat bergerak. Dan kedua matanya nyaris tak dapat terbuka. 

“Ia kena stroke dan harus dirawat di sini sampai membaik. Jika kondisinya baik, kita akan lakukan CT scan untuk mengetahui seberat apa luka di dalam kepalanya. Kemungkinan, akan kita lakukan operasi,” titah dokter pada Dwi. 

“Seharusnya kau lekas memeriksakannya ke dokter setelah terjatuh. Orang tua itu, jika ada apa-apa, dampaknya bisa fatal,” kata Wardah, kakak perempuannya, saat Dwi menelepon kedua kakaknya lewat sambungan video.

“Kenapa kau tak kabari kami lekas-lekas? Kau tak becus mengurus ibumu,” ucap kakaknya, Arif, di seberang.

Dwi mengakui memang ia bersalah, tetapi bukan berarti ia dapat dituduh sewenang-wenang sebagai kambing hitam. Ingin rasanya ia membantah ucapan-ucapan kakaknya dan melontarkan protes-protesnya. Kenapa hanya aku yang disalahkan? Bukannya anak Ibu ada tiga? Kenapa Mbak Wardah dan Mas Arif tak sudi tinggal bersama Ibu? Bukankah sebagai dokter, Mbak Wardah akan jauh lebih pandai merawat kesehatan Ibu? Bukannya Mas Arif dengan usaha restorannya mampu menyediakan makanan terbaik untuk Ibu? Apakah karena aku berhutang budi pada mereka yang telah membiayaiku kuliah? Kenapa hanya aku yang harus berada di sisi Ibu dan merawatnya siang malam? Bahkan ketika Ibu sakit seperti ini, mereka tak cepat-cepat menjenguk.

“Dah! Penyakit apa ini, Dah!?”

Dwi tergeragap bangun saat tangannya terjatuh dari sandaran dipan. Ia tak sadar telah tertidur saat memijit kaki ibunya. Tangannya terasa nyeri karena menahan kepalanya cukup lama. Lamat-lamat, ia mencium bau tak sedap dari kaki ibunya. 

“Bu, habis berak tah?” tanya Dwi dengan kepala berat menahan kantuk.

“Heh, Dwi! Dengarkan ibumu! Kapan Arif pulang? Dia anak yang baik. Waktu kecil selalu membantu Ibu: menyapu rumah, mencuci baju dan memasak. Kau tahu kan dia pintar memasak? Pantas restorannya ramai. Dia tak pernah telat kirim uang kepada Ibu. Kau cepat hubungi dia agar segera pulang.”

“Bu, habis berak tah?” Dwi bertanya sekali lagi dengan jarum-jarum luka menancap pada ulu hatinya. Ibunya mengangguk dua kali.

Dwi mengintip isi popok ibunya. Ada tinja kuning cair bersemayam di sana. Dwi lalu menyiapkan peralatan bedah tinja: masker, sarung tangan medis, kresek hitam, tisu basah dan popok bersih. Pelan-pelan, ia membuka popok kotor. Bau tahi jahanam menyengat kuat. Kepala Dwi berkunang-kunang. Isi perutnya seperti teraduk-aduk hendak keluar. Dwi berusaha bertahan sambil mengingat bahwa ibunya dulu merawat tahinya dua tahun lebih. 

“Bu, miring dulu!”

Dwi lantas mengusap-usapkan tisu basah ke pantat dan pangkal paha ibunya tanpa menyisakan segores warna kuning di sana. Ia memasukkan popok penuh tahi ke dalam kresek dan dengan sigap dan cepat ia memasangkan popok baru yang bersih. Dwi menghela nafas panjang saat operasi tinja berhasil dengan gemilang lalu merebahkan diri di atas tikar di bawah dipan. 

“Permisi! Makan pagi,” ucap petugas memasuki kamar. Dwi mendadak bangun meski baru tertidur sejenak. 

“Bu, makan ya!” tawar Dwi. Mak Yah harus makan dan minum obat tepat waktu.

“Kapan aku jalan-jalan? ke rumah Arif? Melihat ikan warna-warni di akuarium,” tanya Mak Yah polos.

“Setelah operasi, kondisi Ibu ini makin baik. Kemarin minumnya pakai pipet, sekarang bisa pakai sedotan. Kemarin hanya makan bubur, sekarang bisa makan nasi lembut, bisa makan roti dan buah. Nanti kalau sudah makin membaik, Ibu bisa ke Jakarta. Ayo makan dulu sekarang!” jawab Dwi dengan menjulurkan sendok dengan nasi bubur. Mata Dwi masih memerah sayu.

“Cuuh!” Mak Yah membuang makanan dari mulutnya. Tangannya menampar piring di tangan Dwi hingga jatuh pecah berantakan.

“Jangan keras-keras!” protes Mak Yah. 

Dwi memunguti pecah-pecah piring sambil menangis terisak. Dwi teringat percakapan semalam via telepon video dengan kakak-kakaknya. “Aku belum bisa ke sana. Ini sedang persiapan pembukaan cabang baru,” kata Arif beralasan. Wardah juga tak bisa datang, “Rumah sakit sedang penuh-penuhnya. Aku tak bisa sewaktu-waktu meninggalkan rumah sakit.” 

 “Wardah! Sakit apa ini, Dah!?” Mak Yah tiba-tiba berteriak. Dwi harus kembali izin tak mengajar pagi ini. 


Sidoarjo, 22 Februari 2022

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »