Musik dan Penguatan Puisi ala Ananda Sukarlan - Emi Suy

KONTRIBUTOR 12/25/2022

Musik dan Penguatan Puisi ala Ananda Sukarlan

Emi Suy



Puisi itu dahsyat, dia adalah agen perubahan dengan cara menginspirasi terjadinya perubahan. Puisi memang tidak menciptakan perubahan secara langsung, namun melalui daya gugah yang tinggi sehingga dapat memicu terjadinya perubahan. Namun syaratnya harus ditulis oleh penyair yang tepat serta diperkuat (empowered) oleh pihak yang tepat pula. Demikian kesimpulan yang saya peroleh sepanjang mendengarkan paparan dan diskusi dengan Ananda Sukarlan, seorang komponis dan pianis yang memiliki reputasi internasional. Walaupun seorang musisi, namun Ananda Sukarlan memiliki peranan besar terhadap penguatan atau empowerment kepada puisi sehingga menjadi lebih menggugah dan berfungsi sebagai agen perubahan. Inilah yang akan saya bahas pada tulisan ini, bagaimana proses pemberdayaan itu dilakukan oleh seorang musisi terhadap puisi, sehingga puisi menemukan jalan yang lebih baik dan lebih dahsyat sebagai agen perubahan.

Puisi memiliki nasibnya sendiri dan seringkali tak terprediksi. Bahkan perjalanannya sampai mampu mengubah nasib penulisnya, setidaknya nasib perjalanan kepenyairan si penciptanya. Puisi saya yang berjudul “Kukusan” adalah sebuah contoh dari hal tersebut. Puisi yang saya tulis pada tahun 2021 ini bukanlah sebuah puisi yang terbit dari ambisi besar, seperti mendedahkan masalah politik demi perubahan sosial berskala bangsa. Ada beberapa kalangan yang menyebut “Kukusan” sebagai puisi domestik, atau ndeso.

Bila memang ada yang demikian, saya tak hendak menyanggah. Apalagi meledak marah-marah. Nyatanya, dari judulnya saja, “Kukusan”, meruap aroma ndeso. Bahan dasar benda berbentuk kerucut tersebut adalah bambu, yaitu jenis bambu yang dagingnya dan terutama kulitnya liat. Jenis ini di tanah Sunda disebut awi tali ini hanya tumbuh umumnya di desa-desa pegunungan. Orang yang menjadikannya kukusan, dengan meraut dan menganyamnya, seperti orang yang membuatnya menjadi caping, umumnya adalah orang yang lahir dan bermukim di desa. Kemudian kukusan memang tak seperti monumen, lokasinya bukan di ranah publik, melainkan di ranah domestik.

Namun, apa mungkin ada monumen tanpa kukusan? Apa mungkin ada laku monumental tanpa benda domestik dan ndeso itu? Saya tidak tahu. Saya hanya merasa kami, saya dan saudara-saudara saya, merasa akrab benar dengan kukusan. Dengan itulah setiap hari ibu kami antara lain mengubah beras menjadi nasi. Dengan nasi yang dimasak ibu kami, hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun, kami pun bertumbuh. Bertumbuh sebagai individu-individu dan sekaligus anggota keluarga, bagian dari kampung, bagian dari desa, bagian dari lingkungan-lingkungan lain lagi, yang sebagiannya lebih besar dari itu.

Dalam proses pertumbuhan ini, saya, mungkin juga saudara-saudara saya, melihat dan merasakan betapa dekat ibu dengan kukusan. Kadang ibu tampak memperlakukan kukusan bukan sebagai benda, tapi mahluk yang berjiwa, yang bertabiat, sehingga kadang tampak pulalah bahwa yang menanak nasi itu ibu bekerja sama dengan kukusan. Jadi, entah bagaimana proses persisnya, munculah “Kukusan”, sebuah puisi yang terdiri dari tiga bait, dengan setiap bait terdiri dari tiga baris, yang bait pertamanya seperti ini:


“di kukusan bambu, menghitam

dibakar bara dan doa, begitu tenang

ibu menanak usia kami, hingga matang” .

 

Puisi yang bait pertamanya demikian itu barangkali lebih sebagai manifestasi bauran cinta, rasa hormat, rasa terima kasih, dan rasa kagum saya akan ibu kami, juga dengan derajat berbeda akan kukusan. Namun, itu hanyalah tafsir saya atas “Kukusan”. Meskipun memang saya yang menulis puisi sembilan baris dengan baris-baris yang panjangnya tidak sama itu, tetaplah tafsir saya atasnya hanyalah salah satu tafsir. Dan ini tentu tak mengharamkan hadirnya tafsir-tafsir para pembaca lain.

Masyarakat, suku bangsa, bangsa, dan bahkan negara mustahil ada tanpa keluarga. Sementara keluarga mustahil pula tumbuh sejahtera tanpa rumah. Charles Toto, chef asal Papua yang jawara dalam hal masakan hutan, berkata bahwa setiap arsitektur selalu dirancang dengan mulai dari merancang dapur. Adapun jantung dapur di mana pun adalah memasak bahan mentah menjadi makanan (pokok) matang. Jika memang demikian, kabur atau tak jelaslah batas antara ranah publik dan ranah domestik.Kedua ranah itu lebih saling merasuki, saling melengkapi. Namun, terlepas dari itu, puisi itu barangkali juga sebagai kukusan, sebagai teks yang terbuka, teks yang memiliki banyak celah untuk dimasuki, yang karenanya menjadi menyediakan banyak kemungkinan bagi terjalinnya berbagai koneksi.

Barangkali karena itulah “Kukusan” kemudian sampai ke tangan Ananda Sukarlan. Pada tahun 2021, Ananda Sukarlan menggubah puisi “Kukusan” menjadi sebuah partitur musik klasik. Ketika dinyanyikan oleh penyanyi sopran Vetalia Pribadi diiringi oleh dentingan piano Ananda Sukarlan, terasa sekali ada roh baru yang sangat kuat masuk ke dalam puisi ini. Ananda Sukarlan sudah memberikan penguatan atau empowerment kepada puisi ini, bersama dengan Vetalia Pribadi. Pesan yang disampaikan juga terasa semakin dahsyat. Ananda Sukarlan melakukan transformasi dari teks menjadi notasi musik. Begitulah cara Ananda sukarlan meniupkan roh tambahan kepada puisi.

Kebanyakan orang Indonesia yang mengenal Ananda Sukarlan sebagai seorang yang berkecimpung di panggung musik klasik sebagai pianis. Sebagai pianis musik klasik, Ananda Sukarlan  memang layak dikata memiliki reputasi, bukan saja di Indonesia, melainkan dunia. Dalam setahun, ia sering berkeliling untuk memenuhi undangan konser di berbagai negara, terutama di Eropa dan Amerika Utara. Dia lulus dengan predikat summa cum laude pada 1993 dari Royal Conservatory of Den Haag, Belanda.

Ananda Sukarlan juga memiliki kisah tersendiri tentang Phillis Wheatley, seorang perempuan penyair kulit hitam pertrama di Amerika Serikat. Puisi-puisi penyair Afrika-Amerika pertama itu yang terutama menghubungkan mereka. Sampai akhir hayatanya dalam usia 31 tahun, pada 5 Desember 1784, dia terus memperjuangkan kebebasan serta kesetaraan dengan menulis puisi dan surat untuk orang-orang yang dianggapnya memiliki kekuasaan.

Cerita tentang Phillis Wheatley ini sangat menggugah. Ananda Sukarlan menceritakannya ketika malam konser bertajuk Magical Noted Consert di Hall @America di Pacific Place, Jakarta, pada Selasa 20/12/2022. Saya menyimak dengan seksama. Phillis Wheatley datang ke Amerika bukan karena kehendaknya. Dia diculik oleh para pedagang budak pada usia tujuh tahun dari kampung tempatnya lahir pada 18 Mei 1753, di Gambia, Afrika. Para penculiknya membawanya dengan paksa ke Schooner Phillis. Kapal pengangkut budak tersebut membawanya dan para budak lainnya mengarungi transatlantik, sebuah pelayaran yang bagi mereka yang tetiba dijadikan budak berarti pelayaran berbulan-bulan dengan makan dan minum yang sangat tidak memadai, tanpa kamar mandi dan tempat buang air, penyiksaan semaunya yang bisa disebut rutin, bahkan pembunuhan dan dibuang ke laut. Budak perempuan masih ditambah dengan pelecehan seksual dan pemerkosaan.

 Namun ketika Schooner Philils berlabuh di dermaga Boston, Massachusett, pada Juli 1761, ia masih hidup meskipun dengan tubuh kurus digerogoti asma. Dan para penculiknya berkeras mencuci otaknya, menghapus sejarahnya, termasuk menghapus nama dari orang tuanya. Dan lagi kemudian, di tempat pelelangan budak, yang masih dalam lingkungan dermaga Boston, yang ketika itu masih merupakan koloni Inggris, agen budak menjajakannya. Ia dipaksa berdiri dalam udara panas terik, dengan tubuh kurus hampir telanjang, dan lehernya digantungi tulisan “Phillis for Sale”.

Johan Wheatley yang sudah memiliki beberapa budah membelinya. Ia dipekerjakan untuk membantu segala macam pekerjaan istri Johan. Sang istri mengajarinya bahasa Inggris lebih untuk memungkinkan ia bekerja maksimal. Dalam tempo hanya delapan belas bulan, dia sudah lancar bahasa majikannya. Majikan perempuan itu pun memberinya Alkitab, dan ia menjadi kecanduan membaca. Lalu dia diberi bacaan klasik Yunani dan Latin serta sastra Inggris yang biasa mereka baca oleh majikan perempuan. Pasokan bacaan seperti karya-karya Ovid, Virgil, Ternce, dan Homer menjadikan batinnya bergolak.

Dia, yang sudah diberi nama baru menjadi Phillis Wheatley, menjadi gelisah ingin mengungkapkan pergolakan batinnya. Pada usia 14 tahun, Philis sudah menerbitkan puisi pertamanya, “To the University of Cambridge”.” Puisi ini bukan pantun singkat atau syair remaja yang acak-acakan, tetapi tiga puluh dua baris” yang koheren.

Puisi seperti itu tentulah menimpakan beban tambahan ke bahu Phillis. Sastra Amerika abad ke-18 adalah dunia maskulin-putih. Berbagai reaksi negatif terhadap karyanya malah menjadikan kian beremangat. Perjuangannya tentulah tak selalu lancar. Adakala Phillis merasa terjegal. Ketika demikian, seperti dalam puisi On Virtue”, dia (seperti) mengingatkan dirinya sendiri:

 

 “hei, jiwaku, jangan tenggelam dalam keputusasaan,

 Kebajikan ada di dekatmu, dan dengan tangan yang lembut

 Sekarang akan memelukmu, melayang di atas kepalamu.”   

 

Pada usia yang masih remaja juga, Phillis mengkodisikan dirinya untuk dapat terus menulis puisi-puisi yang menyoalkan perbudakan dan berbagai akibat buruknya. Salah satunya adalah salah satu puisinya yang masyhur “On Being Brought from Afrika to America”. Puisi delapan baris ini jauh dari puisi merah jambu. Kedua baris akhirnya seperti ini:

 

 “... Remember, Christians, Negroes, black is Cain

               May be refin’d, and join the angelic train.”

 

Ananda Sukarlan kembali menampilkan komposisi tersebut ditampilkan pada 14 November 2022, bersama Pasuan Suara Hati Suci di Nusa Dua, Bali, dalam KTT G20. Untuk menyanyikan puisi tersebut Ananda mengundang Pepita Salim, salah satu solois lulusan New England Conservatory di Boston, AS.

Melalui kedua kisah ini, “Kukusan” dan “On Being Brought from Africa to America”, Ananda Sukarlan meniupkan roh tambahan kepada kedua puisi tersebut melalui komposisi musik berupa partitur piano klasik. Menurut saya, ini bukanlah sebuah alih wahana biasa, melainkan sebuah rekonstruksi dengan menambahkan roh terhadap puisi tersebut, dan mungkin bahkan meniupkan roh baru.

Saya bisa mengibaratkan puisi bagaikan bola, dan Ananda Sukarlan adalah Lionel Messi yang meliuk-meliuk di lapangan seolah memberikan roh kepada bola lalu mencetak gol. Ananda mengatakan bahwa dia dan Messi sama-sama pengidap Asperger Syndrome. “Kukusan” dan “On Being Brought from Africa to America” adalah dua puisi yang dibuat dengan latar belakang yang berbeda. Namun di tangan seorang Ananda Sukarlan, dia menjadi sangat bernyawa, semakin dahsyat, untuk menyampaikan pesan-pesannya sebagai agen perubahan. Ananda mengatakan bahwa puisi itu adalah musik, dan musik itu puitis.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »